ABU MANSUR AL MATURIDI DAN AJARANNYA

Abu mansur Al Maturudu dan Ajarannya

Abu mansur Al Maturudu

A.      Aliran al- Maturidi yah

Abu mansur Al Maturudu dan Ajarannya – Latar belakang lahirnya aliran ini, hampir sama dengan aliran Al-Asy’ariyah, yaitu sebagai reaksi penolakan terhadap ajaran dari aliran Mu’tazilah, walaupun sebenarnya pandangan keagamaan yang dianutnya hampir sama dengan pandangan Mu’tazilah yaitu lebih menonjolkan akal dalam sistem teologinya.

Pendiri dari aliran ini adalah Abu> Mansu>r Muhammad Ibn Muhammad Ibn Mahmu>d al-Matu>ridi yang lahir di Samarkand pada pertengahan kedua dari abad ke sembilan Masehi dan meninggal pada tahun 944 Masehi.[1] Ia adalah pengikut Abu> Hani>fah dan paham-pahamnya mempunyai banyak persamaan dengan paham-paham yang diajarkan oleh Abu Hanifah. Aliran teologi ini dikenal dengan nama Al-Maturidiyah, yang sesuai dengan nama pendirinya yaitu Al-Maturidi.[2] 

  1. Tokoh-tokoh al-Maturidiyah

Tokoh yang sangat penting dari aliran Al-Maturidiyah ini adalah Abu> al-Yusr Muhammad al-Bad}awi yang lahir pada tahun 421 Hijriyah dan meninggal pada tahun 493 Hijriyah. Ajaran-ajaran Al-Maturidi yang dikuasainya adalah karena neneknya adalah murid dari Al-Maturidi.

Al-Badzawi sendiri mempunyai beberapa orang murid, yang salah satunya adalah Najm al-Di>n Muhammad al-Nasa>fi (460-537 H), pengarang buku al-‘Aqa>’idal Nasa>fiah.[3] 

Abu mansur Al Maturudu dan Ajarannya – Seperti Al-Baqillani dan Al-Juwaini, Al-Bad}awi tidak pula selamanya sepaham dengan Al-Maturidi. Antara kedua pemuka aliran Maturidiyah ini, terdapat perbedaan paham sehingga boleh dikatakan bahwa dalam aliran Maturidiyah terdapat dua golongan, yaitu golongan Samarkand yang mengikuti paham-paham Al-Maturidi dan golongan Bukhara yang mengikuti paham-paham Al-Bad}awi.[4]

  1. Pandangan Pemikiran al-Maturidiyah
    1. Akal dan wahyu

Al – Maturidi dalam pemikiran teologinya berdasarkan pada Al-Qur’a>n dan akal, akal banyak digunakan di antaranya karena dipengaruhi oleh Madhab Imam Abu> Hanifah. Menurut Al-Maturidi, mengetahui Tuhan dan kewajiban mengetahui Tuhan dapat diketahui dengan akal. Hal tersebut sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur’a>n yang memerintahkan agar manusia menggunakan akalnya untuk memperoleh pengetahuan dan keimanannya terhadap Alla>h melalui pengamatan dan pemikiran yang mendalam tentang makhluk ciptaan-Nya. Jika akal tidak memiliki kemampuan tersebut, maka tentunya Alla>h tidak akan memerintahkan manusia untuk melakukannya dan orang yang tidak mau menggunakan akal untuk memperoleh iman dan pengetahuan mengenai Alla>h berarti ia telah meninggalkan kewajiban yang diperintahkan oleh ayat-ayat tersebut. Namun akal, menurut Al-Maturidi tidak mampu mengetahui kewajiban-kewajiban yang lain.[5] 

Dalam masalah amalan baik dan buruk, beliau berpendapat bahwa penentu baik dan buruknya sesuatu itu terletak pada sesuatu itu sendiri, sedangkan perintah atau larangan shari’ah hanyalah mengikuti kemampuan akal mengenai baik dan buruknya sesuatu, walau ia mengakui bahwa akal terkadang tidak mampu melakukannya. Dalam kondisi ini, wahyu dijadikan sebagai pembimbing.

Al-Maturidi membagi kaitan sesuatu dengan akal pada tiga macam, yaitu:

1)        Akal dengan sendirinya hanya mengetahui kebaikan sesuatu itu.

2)        Akal dengan sendirinya hanya mengetahui keburukan sesuatu itu.

3)   Akal tidak mengetahui kebaikan dan keburukan sesuatu, kecuali dengan petunjuk wahyu.

Tentang mengetahui kebaikan dan keburukan Maturidiyah memiliki kesamaan dengan Mu’tazilah, namun tentang kewajiban melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan Maturidiyah berpendapat bahwa ketentuan itu harus didasarkan pada wahyu.[6] 

  1. Perbuatan manusia

Abu mansur Al Maturudu dan Ajarannya – Perbuatan manusia adalah ciptaan Alla>h, karena segala sesuatu dalam wujud ini adalah ciptaan-Nya. Mengenai perbuatan manusia, kebijaksanaan dan keadilan kehendak Alla>h mengharuskan manusia untuk memiliki kemampuan untuk berbuat (ikhtiar) agar kewajiban yang dibebankan kepadanya dapat dilaksanakan. Dalam hal ini al-Maturidi mempertemukan antara ikhtiar manusia dengan qudrat Alla>h sebagai pencipta perbuatan manusia. Alla>h mencipta daya (kasb) dalam setiap diri manusia dan manusia bebas memakainya, dengan demikian tidak ada pertentangan sama sekali antara qudrat Alla>h dan ikhtiar manusia. 

Dalam masalah pemakaian daya ini Al-Maturidi memakai faham Imam Abu> Hanifah, yaitu adanya Masyiah (kehendak) dan rid}a (kerelaan). Kebebasan manusia dalam melakukan perbuatan baik atau buruk tetap berada dalam kehendak Alla>h, tetapi ia dapat memilih yang diridhai-Nya atau yang tidak diridhai-Nya. Manusia berbuat baik atas kehendak dan kerelaan Alla>h, dan Manusia berbuat baik atas kehendak dan kerelaan Alla>h, dan berbuat buruk pun dengan kehendak Alla>h, tetapi tidak dengan kerelaan-Nya

  1. Kekuasaan dan kehendak Tuhan

Penjelasan di atas menerangkan bahwa Alla>h memiliki kehendak dalam sesuatu yang baik atau buruk. Tetapi, pernyataan ini tidak berarti bahwa Alla>h berbuat sekehendak dan sewenang-wenang. Hal ini karena qudrat tidak sewenag-wenang (absolute), tetapi perbuatan dan kehendak-Nya itu berlangsung sesuai dengan hikmah dan keadilan yang sudah ditetapkan-Nya sendiri.

  1. Sifat Tuhan

Tuhan mempunyai sifat-sifat, seperti sama, bashar, kalam, dan sebagainya. Al-Maturidi berpendapat bahwa sifat itu tidak dikatakan sebagai esensi-Nya dan bukan pula lain dari esensi-Nya. Sifat-sifat Tuhan itu mulzamah (ada bersama/inheren) dha>t tanpa terpisah (innaha> lam takun ain al-dhat wa la> hiya ghairuhu). Sifat tidak berwujud tersendiri dari dha>t, sehingga berbilangnya sifat tidak akan membawa kepada bilangannya yang qadim (taa>dud al-qa>dama).[7] 

Tampaknya faham tentang makna sifat Tuhan ini cenderung mendekati faham Mu’tazilah, perbedaannya terletak pada pengakuan terhadap adanya sifat Tuhan.[8]

  1. Melihat Tuhan

Al-Maturidi mengatakan bahwa manusia dapat melihat Tuhan, hal ini diberitakan dalam Al-Qur’a>n, surat Al-Qiya>mah ayat 22 dan 23: 

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (makalah)

Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa Tuhan kelak di akhirat dapat dilihat dengan mata, karena Tuhan mempunyai wujud walaupun ia immaterial. Namun melihat Tuhan, kelak di akhirat tidak dalam bentuknya, karena keadaan di sana beda dengan dunia.[9] 

  1. Kalam Tuhan

Al-Maturidi membedakan antara kalam (baca:sabda) yang tersusun dengan huruf dan bersuara denagn kalam nafsi (sabda yang sebenarnya atau makna abstrak). Kalam nafsi adalah sifat qadim bagi Alla>h, sedangkan kalam yang tersusun dari huruf dan suara adalah baharu (hadith). Kalam nafsi tidak dapat kita ketahui hakikatnya dari bagaimana Alla>h bersifat dengannya, kecuali dengan suatu perantara. 

Maturidiyah menerima pendapat Mu’tazilah mengenai Al-qur’an sebagai makhluk Alla>h, tapi Al-Maturidi lebih suka menyebutnya hadits sebagai pengganti makhluk untuk sebutan Al-Qur’a>n.[10] 

  1. Perbuatan Tuhan

Semua yang terjadi atas kehendak-Nya, dan tidak ada yang memaksa atau membatasi kehendak Tuhan, kecuali karena da hikmah dan keadilan yang ditentukan oleh kehendak-Nya sendiri. Setiap perbuatan-Nya yang bersifat mencipta atau kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada manusia tidak lepas dari hikmah dan keadilan yang dikehendaki-Nya. Kewajiban-kewajiban tersebut antara lain:

Tuhan tidak akan membebankan kewajiban di luar kemampuan manusia, karena hal tersebut tidak sesuai dengan keadilan, dan manusia diberikan kebebasan oleh Alla>h dalam kemampuan dan perbuatannya, Hukuman atau ancaman dan janji terjadi karena merupakan tuntutan keadilan yang sudah ditetapkan-Nya. 

  1. Pengutusan Rasu>l

Abu mansur Al Maturudu dan Ajarannya – Pengutusan Rasu>l berfungsi sebagai sumber informasi, tanpa mengikuti ajaran wahyu yang disampaikan oleh rasul berarti manusia telah membebankan sesuatu yang berada di luar kemampuan akalnya. Pandangan ini tidak jauh dengan pandangan Mu’tazilah, yaitu bahwa pengutusan rasul kepada umat adalah kewajiban Tuhan agar manusia dapat berbuat baik bahkan terbaik dalam hidupnya.[11] 

  1. Pelaku dosa besar

Al-Maturidi berpendapat bahwa pelaku dosa besar tidak kafir dan tidak kekal di dalam neraka walaupun ia mati sebelum bertobat. Hal ini karena Tuhan telah menjanjikan akan memberikan balasan kepada manusia sesuai dengan perbuatannya. Kekal di dalam neraka adalah balasan untuk orang musyrik.

Menurut Al-Maturidi, iman itu cukup dengan tashdiq dan iqrar, sedangkan amal adalah penyempurnaan iman. Oleh karena itu amal tidak menambah atau mengurangi esensi iman, hanya menambah atau mengurangi sifatnya.[12] 

  1. Iman

Dalam masalah iman, aliran Maturidiyah Samarkand berpendapat bahwa iman adalah tashdiq bi al-qalb, bukan semata iqrar bi al-lisan. Al-Qur’a>n surat Al-Hujurat ayat 14:

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: ‘Kami telah beriman’. Katakanlah: ‘Kamu belum beriman, tapi Katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Alla>h dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; “Sesungguhnya Alla>h Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 

Ayat tersebut difahami sebagai penegasan bahwa iman tidak hanya iqrar bi al-lisan, tanpa diimani oleh qalbu. Lebih lanjut Al-Maturidi mendasarkan pendapatnya pada surat Al-Baqarah ayat 260: 

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Alla>h berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibra>him menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Alla>h berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Alla>h berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggilah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa Alla>h Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.[13]

Dalam ayat tersebut, bukan berarti bahwa Nabi Ibra>him belum beriman, tetapi beliau menginginkan agar keimanannya menjadi keimanan ma’rifah. Ma’rifah didapat melalui penalaran akal. Adapun pengertian iman menurut golongan Bukhara, adalah tashdi>q bi al-qalb dan iqra>r bi al-lisa>n, yaitu meyakini dan membenarkan dalam hati tentang keesaan Alla>h dan rasul-rasul yang diutus-Nya dengan membawa risalah serta mengakui segala pokok ajaran Isla>m secara verbal.[14] 

B.     Persamaan dan Perbedaan Abu mansur Al Maturudu dan Ajarannya dengan ajaran al-Ash’ariyah

Persamaannya

  1. Kedua aliran ini lahir akibat reaksi terhadap paham aliran Mu’tazilah.
  2. Mengenai sifat-sifat Tuhan, kedua aliran ini menyatakan bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat dan Tuhan mengetahui bukan dengan dhat-Nya tetapi mengetahui dengan pengetahuan-Nya. 
  3. Keduanya menentang ajaran Mu’tazilah yang beranggapan bahwa al-Qur’an adalah kalam Tuhan yang tidak diciptakan, tetapi bersifat qadim. 
  4. Al-Ash’ari dan Al-Maturidi juga berkeyakinan bahwa manusia dapat melihat Alla>h pada hari kiamat dengan petunjuk Tuhan dan hanya Alla>h pula yang tahu bagaimana keadaan sifat dan wujud-Nya. Hal ini mengingat nash al-Qur’a>n pada surat al-Qiya>mah: 23: 

“Wajah-wajah orang mukmin pada hari kiamat akan berseri-seri. Kepada Tuhannya mereka melihat.” 

Abu mansur Al Maturudu dan Ajarannya – Persamaan dari kedua aliran ini adalah karena keduanya sering menggunakan istilah ahlu sunnah wa al jama’ah. Dan dikalangan mereka kebanyakan mengatakan bahwa madzhab salaf ahlu sunnah wal jama’ah adalah apa yang dikatakan oleh Al-Ash’ari dan Al-Maturidi. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa ahlu sunnah wal jama’ah adalah Ash’ariyah, Maturidiyah dan Salaf.

 Perbedaanya Tentang fungsi akal. Akal bagi aliran Ash’ariyah tidak mampu untuk mengetahui kewajiban-kewajiban manusia sedangkan menurut pendapat Maturidiyah akal dapat mengetahui kewajiban-kewajiban manusia untuk berterima kasih kepada Tuhan.

Tentang Janji dan ancaman Tuhan. Al-Ash’ari berkeyakinan bahwa Alla>h bisa saja menyiksa orang yang taat, memberi pahala kepada orang yang durhaka, sedangkan Al-Maturidi beranggapan lain, bahwa orang yang taat akan mendapatkan pahala sedangkan orang yang durhaka akan mendapat siksa, karena Alla>h tidak akan salah karena Ia Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.

Demikian ulasan singkat seputar Abu mansur Al Maturudu dan Ajarannya, semoga bermanfaat.

situs: www.rangkumanmakalah.com

DAFTAR PUSTAKA

A<li, Yahya>. Pemikiran Theologi dan Filsafat Ilmu. Surabaya: Pena Mustika, 1990.

Hakim, Atang Abdul. Metodologi Studi Islam. (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1999.

Hanafi, A. Pengantar Theologi Islam. Jakarta: PT. Al husna Zikro, 1995.

Ima>rah, Muhammad. Tasha>rat Al-Fikr Al-Isla>mi. Beirut: Dar Asy-Syauruq, 1911.

Nasr, Seyyed Hossein. Intelektual Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.

Nasution, Harun. Theologi Islam. Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1986.

Zahrah, Ima>m  Muhammad  Abu>. Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam.  Jakarta: Logos, 1996.

———-Ta>ri>kh al-Madha>hib al-Isla>miyyah. Beirut: Dar al-Fikr, 1975.


[1] Seyyed Hossein Nasr, Intelektual Islam, (Yogjakarta: Pustaka Pelajar, 1996), 15

[2] Harun Nasution, Theologi Islam, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1986), 76

[3] A. Hanafi, Pengantar Theologi Islam, (Jakarta: PT. Al husna Zikro, 1995), 133

[4] Atang Abdul Hakim, Metodologi Studi Islam, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1999), 40.

[5] A. Hanafi, Pengantar Theologi Islam…, 134.

[6] Yahya Ali, Pemikiran Theologi dan Filsafat Ilmu, (Surabaya: Pena Mustika, 1990), 122.

[7] Muhammad Imarah, Tasha>rat Al-Fikr Al-Isla>mi, (Beirut: Dar Ash-Shauruq, 1911), 163.

[8] A. Hanafi, Pengantar Theologi Islam…, 135.

[9] Ibid., 136.

[10] Seyyed Hossein Nasr, Intelektual Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), 16.

[11] Imam Muhammad Abu Zahrah, Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam, (Jakarta: Logos, 1996), 183.

[12] Muhammad Imarah, Tasharat Al-Fikr Al-Isla>mi…, 170.

[13] Muhammad Abu Zahrah, Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1975), 239

[14] Harun Nasution, Theologi Islam, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1986), 77

Share This:

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *