AL-AZHAR Masjid dan Pusat Pendidikan Tinggi Islam

AL-AZHAR Masjid dan Pusat Pendidikan Tinggi Islam

A. Sejarah berdirinya al-Azhar.

AL-AZHAR Masjid dan Pusat Pendidikan Tinggi Islam – Setelah Dinasti Fatimiyyah menguasai Mesir, maka keinginan untuk menancapkan kekuasaanya dan menyebarkan madhabnya menjadi keinginan pertamanya. Apalagi masyarakat muslim Mesir saat itu adalah Muslim Sunni, sedang Dinasti Fatimiyyah bermadhab Syi’ah Ismailiyyah. Maka perlu suatu pusat dakwah untuk tujuan politiknya tersebut. Maka perlu didirikan pusat-pusat pendidikan , yang disitu akan berkumpul banyak orang dan berguna untuk menyelenggarakan ta’lim menyebarkan ilmu. Kemudian menentukan para syeh untuk tinggal disitu dan mengajarkan ilmu,membimbing mereka, maka didirikanlah Jami’ al-Azhar.[1]

Pendirian al-Azhar ini dimulai pada 29 jumadal ula 359 H.(970 M.) oleh panglima jauhar Ash-shiqili lalu dibuka resmi dan shalat jum’at bersama pada 7 Ramadhan 361 H.[2] Yang pada saat itu dinasti Fathimiyyah dipimpin oleh khalifah Mu’iz li Dinillah Ma’ad bin al Manshur (341-365 H/953-975 M), khalifah keempat dari daulah Fathimiyah.[3]

Nama pertama masjid ini adalah Jami’ al-Qa>hirah, yang dinisbahkan kepada nama Ibukota tempat masjid itu didirikan. Terakhir masjid ini diberi nama Masjid al-Azhar. Sebutan Al-Azhar mengambil dari nama SayyidahFatimah az-Zahra, putri Nabi Muhammad.[4]

Pelajaran dimulai di Al-Azhar pada Ramadan Oktober 975, ketika ketua Mahkamah Agung Abul Hasan Ali bin Al-Nu’man mulai mengajar dari buku “Al-Ikhtisar” mengenai topik yurisprudensi Syi’ahMadrasah, tempat pendidikan agama, yang terhubung dengan masjid ini dibangun pada tahun988. Belakangan, tempat ini menjadi sekolah bagi kaum Sunni menjelang abad pertengahan, dan terus terpelihara hingga saat ini.[5]

Al-Azhar dijadikan sebagai pusat penyebaran ajaran Syi’ah Ismailiyyah. Dalam pada itu Khalifah al-Aziz telah memperluas aspek pengajian Islam di al-azhar, karena beliau sendiri merupakan seorang khalifah yang sangat gemar akan ilmu pengetahuan; suatu peruntukan khas disediakan bagi membiayai institusi al-Azhar.[6]

B. AL-AZHAR Sebagai Masjid

AL-AZHAR Masjid dan Pusat Pendidikan Tinggi Islam – Al-Azhar sebenarnya tidak bisa dipisahkan dari peran gandanya sebagai masjid dan universitas. Tetapi di sini akan digambarkan al-Azhar sebagai institusi tempat ibadah. Al-Azhar sebagai masjid Jami’. Setelah dibangun masjid ini mulai digunakan untuk mendirikan sholat berjamaah. Sholat jama’ah pertama kali didirikan di masjid itu pada 7 Ramadantahun 361 H.

Di Masjid tersebut didirikan sholat jum’at dengan dua adzan dan dua khutbah, seperti yang terjadi di masjid al-‘Atiq dan masjid Ibn Tulun. Yang telah berdiri lama sebelumnya, hingga keadaan itu sampai pada datangnya Mu’iz lidinillah dan di Kairo dan mendirikan masjid al-Azhar.[7]

Pada masa Dinasti Fatimiyyah, Jauhar al-Siqilli menginstruksikan para khatib untuk tidak menyebut-nyebut Bani Abbas dalam setiap khotbah jumat dan juga mengharamkan pemakaian jubah hitam serta atribut Bani Abbas lainnya. Pakaian yang dipakai untuk khutbah jumat adalah pakaian putih. Azan ditambah dengan ucapan “Hayya ‘ala khair al-‘amal”, dan dalam khotbah jumat diucapkan, “Ya, Allah, ucapkanlah selawat atas Nabi Muhammad Salla Allah ‘alaih wa sallam, manusia yang terpilih, kepada Ali, manusia yang diridai, Kepada Fatimah dan kepada Hasan dan Husein, cucu Rasulullah salla Allah ‘alaih wa sallam. Mereka itu disingkirkan Allah subhanah wa ta’ala dari kekotoran dan disucikan. Salawat atas diri imam-imam yang suci dan atas diri amirul-mikminin, al-Mu’iz lidinillah”.[8]

Namun ketika Sholahuddin al-Ayyubi berhasil menaklukkan Dinasti Fatimiyyah, al-Azhar ditutup dan dilarang dipakai untuk kegiatan apapun selama hampir satu abad lamanya. Hal itu dilakukan untuk membersihkan pengaruh-pengaruh Syiah. Sebagai gantinya, Sholahuddin mendirikan madrasah-madrasah di sekitar al-Azhar yang mengajarkan Islam dengan empat madzhab Sunny. Dan ketika Dinasti al-Ayyuby berkuasa al-Azhar dibuka kembali, kemudian pada Dinasti Mamluky, al-Azhar diadakan perbaikan dan perluasan. Pada tahun 665 H / 1266-1267 M, khutbah di Masjid al-Azhar diperbolehkan.[9]

Tradisi wakaf yang sudah dimulai sejak dinasti Fatimiyah dilanjutkan kembali oleh para sultan Dinasti al-Mamluky. Beberapa diantaranya Sultan Qanshuh Al-Ghury membangun menara yang mempunyai dua kepala yang merupakan menara masjid Al-Azhar yang paling tinggi pada tahun 1190 H / 1776 M. Menara ini merupakan menara yang unik yang menjadi ciri khas Dinasti Mamluky. Pangeran Izzuddin Aidmar melakukan renovasi bangunan-bangunan yang sudah retak. Serta dilanjutkan oleh sultan-sultan sesudahnya. Tidak hanya itu, peran dinasti Mamluky untuk menjaga keamanan dan menjaga eksistensi al-Azhar menjadikan lembaga ini magnet bagi para ulama dan penuntut ilmu dari berbagai belahan dunia. Walhasil al-Azhar telah menjadi kiblat keilmuan umat Islam.[10]

C. Al-Azhar sebagai Lembaga Pusat Pendidikan Tinggi Islam[11]

AL-AZHAR Masjid dan Pusat Pendidikan Tinggi Islam – Tradisi wakaf telah mengantarkan masjid al-Azhar tidak hanya tempat sholat, lebih dari juga tempat para pencari ilmu. Hal ini dapat dilihat dari bagian-bagian dan ruwaq-ruwaq masjid yang diberi nama dengan asal tepat pencari ilmu tersebut misalnya; at-Turk (untuk orang Turki), As-Syawaam (untuk orang Syam), Al-Kurd (untuk orang Kurdi), Al-Maghoribah (untuk orang Afrika Utara), Al-Bukharaa (untuk orang Asia Tengah), As-Sho’aayidah (untuk penduduk Sho’id, Mesir), Ar-Riyaafah (untuk penduduk Delta, Mesir), atau Al-Manaayifah (untuk penduduk Manoufiyah, Mesir), atau Syaikh Syanwaty, Al-Bahaawiroh (untuk penduduk Buhayroh),

As-Syaikh Al-Baajuury, Al-Madrasah Al-Ibtighowiyah, Al-Falaatsah (untuk orang Afrika Tengah), As-Syaikh Tsu’aylib, Ad-Danaasyiroh (untuk orang Danusyiroh dan sekitarnya),  Ibnu Mu’ammar, Al-Madrasah At-Thibirosiyyah, As-Syarqowy (untuk penduduk Syarqiyyah, Mesir), As-Syabrokhity, Al-Hunud (untuk orang India), Al-Baghdadiyyah (untuk orang Baghdad dan sekitarnya), Ad-Damanhury, (untuk penduduk Damanhur, Mesir), Al-Basyabisyah (untuk orang Basyisy dan sekitarnya), Ad-Dakaarinah atau As-Shulayhiyyah, Darfour, Al-Yamaniyyah, Al-Baraabiroh (untuk orang Barbar), Al-Jawa (untuk penduduk Jawa dan sekitarnya), Al-Imaroh Al-Jadidah atau Muhammad Al-Maghrobil,  As-Sulaymaniyyah, Isa Affandi, Al-Jabartiyyah.

Pengajaran di al-Azhar ada empat tahap, yaitu: Ibtidai. Lamanya empat tahun. Tsanawy. Lamanya lima tahun. ‘Aali. Lamanya empat tahun dan terbagi kepada empat fakultas ; Fakultas Bahasa Arab, Fakultas Syariah, Fakultas Ushuluddin, Spesialisasi. Terbagi menjadi dua : Spesialisasi Profesi dan Spesialisasi Materi. Untuk setiap tingkatan diberikan ijazah yang sesuai selain itu, al-Azhar juga mengeluarkan ijazah untuk  Ijazah Al-’Alamiyah. Diberikan kepada mereka yang menamatkan pelajaran spesialisasi pada profesi pengajaran, atau pengadilan agama, atau memberi nasehat dan petunjuk.

Mereka yang mendapatkan ijazah ini pada spesialisasi pengajaran bisa mengajar di lembaga-lembaga pendidikan agama atau sekolah-sekolah pemerintah. Bagi yang mendapatkan ijazah ini pada spesialisasi peradilan bisa bekerja di peradilan agama, lembaga fatwa, advokasi pada peradilan syariah, Majelis Hisbah.Ijazah Al-’Alamiyah dengan gelar Ustadz (Profesor). Diberikan kepada mereka yang spesialis dalam salah satu materi. Bagi mereka yang memegangnya bisa mengajar di fakultas-fakultas dan di bagian spesialisasi.

Dalam segi organisasi dibentuk Al-Majlis Al-A’laa li Al-Azhar (Dewan Tertinggi Al-Azhar). Badan Judikatif yang mempunyai hak untuk meninjau aturan-aturan dan undang-undang yang diberlakukan untuk berjalannya pengajaran dan manajemen di Al-Azhar dan lembaga-lembaga pendidikan agama. Badan ini disebut Al-Majlis Al-Azhar Al-A’laa, yang terdiri dari : Syaikh Jami’ Al-Azhar, Deputi (Wakil) Al-Jami’ Al-Azhar dan lembaga-lembaga pendidikan Islam. Ia berhak memegang kepemimpinan majelis jika Syaikh Jami’ Al-Azhar berhalangan.

, Mufti Diyar Al-Mishriyyah, Syaikh-syaikh tiga fakultas tersebut,  Deputi Departemen Al-Haqqoniyyah, Deputi Departemen Waqaf, Deputi Departemen Hubungan Sosial,  Deputi Departemen Keuangan, Dua orang anggota Lembaga Tokoh Agama yang ditetapkan dengan mandat raja selama dua tahun, Dua orang yang keberadaannya bermanfaat bagi kepentingan pengajaran di Al-Azhar dan lembaga-lembaga pendidikan Islam, yang ditetapkan dengan mandat raja selama dua tahun.

D. Perkembangan dan Dinamika Universitas al-Azhar[12]
AL-AZHAR Masjid dan Pusat Pendidikan Tinggi Islam – Sudah menjadi semacam perjanjian tak tertulis, pada setiap khalifah Daulah Fathimiyah selalu diadakan restorasi bangunan jami’ Al-azhar. Hingga ketika gempa hebat sempat merusak al-azhar pada tahun 1303 M., Sultan An-Nashir yang memerintah saat itu segera merehab kembali bangunan masjid yang rusak. Ciri spesifik pemugaran bangunan mulai nampak pada masa Qansouh al-Ghouri (1509 M.)yang merestorasi satu menara Al-azhar nan indah dengan dua puncak (Manaratul Azhar Dzatu ar-Ra’sain).

Penyempurnaan jami’ al-azhar kembali dilanjutkan pada periode daulah Utsmani, dengan kegiatan renofasi yang tak jauh berbeda seperti sebelumnya. Puncaknya dicapai pada masa Amir Abdurrahman Katakhda (wafat 1776 M.) dengan menambah dua buah menara, mengganti mihrab dan mimbar baru, membuka lokal belajar bagi yatim piatu, membangun ruaq sebagai pemondokan mahasiswa dan pelajar asing, membuat pendopo ruang tamu, terasa tak beratap dalam masjid, dan tangki air tempat berwudhu’. singkat kata, hampir seluruh bangunan tua yang masih tersisa di masjid azhar kini adalah hasil karya Amir tersebut.

1. Fase Peralihan

AL-AZHAR Masjid dan Pusat Pendidikan Tinggi Islam – Seiring gelombang pasang surut sejarah, berbagai bentuk pemerintahan silih berganti memainkan perannya dilembaga tertua ini. Selain sebagai masjid, proses penyebaran paham syi’ah turut mewarnai aktivitas awal yang dilakukan Dinasti Fhatimiyah. Khususnya dipenghujung masa Khalifah al-Mu’iz li dinillah ketika Qadhi Qudhah Abul Hasan Ali bin Nu’man Al-Qairuwani mengajarkan fiqh madzhab syi’ah dari kitab mukhtasar yang merupakan pelajaran agama pertama di masjid al-azhar pada bulan Shafar365 Hijriah(Oktober975M.).

Sesudah itu proses belajar terus berlanjut dengan penekanan utama pada ilmu-ilmu agama dan bahasa, walaupun tanpa mengurangi perhatian terhadap ilmu manthiq, filsafat, kedokteran, dan ilmu falak sebagai tambahan yang diikutsertakan. Namun semenjak Shalahuddin al-Ayyubi memegang pemerintahan Mesir (tahun 567 H/1171 M.), Al-azhar sempat diistirahatkan sementara waktu sambil dibentuk lembaga pendidikan alternatif guna mengikis pengaruh syi’ah. Disinilah mulai dimasukan perubahan orientasi besar-besaran dari mazdhab syi’ah ke mazdhab sunni yang berlaku hingga sekarang. Penutupan sementara al-Azhar dilakukan pada jangka waktu yang cukup lama, kurang lebih 98 tahun, yaitu sejak masa Shalahuddin al-Ayyubi hingga pemerintahanDinastiMamalik.

2.Fase Reformasi Pembaharuan

AL-AZHAR Masjid dan Pusat Pendidikan Tinggi Islam – Administrasi pertama al-Azhar dimulai pada masa pemerintahan sultan Ad-Dhahir Barquq (784 H. / 1382 M.) dimana ia mengangkat sultan Bahadir At-Thawasyi sebagai direktur pertama, ini terjadi dalam masa kekuasaan Mamalik si Mesir. Upaya ini merupakan usaha awal untuk menjadikan Al-azhar sebagai yayasan keagamaan yang mengikuti pemerintah. Sistem ini terus berjalan hingga pemerintahan Utsmani menguasai Mesir di penghujung abad 11 H. Ditandai dengan pengangkataan “Syaikh Umumy” yang digelar dengan Syaikh Al-Azhar sebagai figur yang mengatur berbagai keperluan pendidikan, pengajaran, keuangan, fatwa, hukum, termasuk tempat mengadukan segala persoalan.

pada fase ini terpilih syaikh Muhammad Al-khurasyi (1010-1101) H.) sebagai syaikh Al-azhar pertama. Secara keseluruhan ada 40 syaikh yang telah memimpin Al-azhar selama 43 periode, hingga kini dipegang oleh mantan mufti, Syaikh Muhammad Thantawi. Masa keemasan Al-azhar terjadi pada abad 9 H.(15 M.) banyak ilmuan dan ulama islam bermunculan di Al-azhar saat itu, seperti ibnu Khaldun, Al-farisi , As-suyuti, Al-‘Aini, Al-Khawi, Abdul Latif AL-bagdadi, Ibnu Khalikqan, Al-Maqrizi dan lainnya yang telah mewariskan banyak ensiklopedi Arab.

Iklim kemunduran kembali hadir ketika dinasti Utsmani berkuasa di Mesir (1517-1798 M.) Al-azhar mulai kurang berfungsi disertai kepulangan para ulama dan mahasiswa yang berangsur-angsur meninggalkan cairo. meski begitu tambahan berbagai bangunan tetap diupayakan atas prakarsa amir-amir Utsmani dan kaum muslimin sedunia.

Kepemimpinan Muhammad Ali Pasha di Mesir pada tahap selanjutnya telah membentuk sistem pendidikan yang paralel tapi terpisah, yaitu pendidikan tradisional dan pendidikan modern sekuler. Ia juga berusaha menciutkan peranan Al-azhar sebagai lembaga yang berpengaruh sepanjang sejarah, antara lain dengan menguasai badan waqaf Al-azhar yang merupakan urat nadinya. seterusnya, pada masa pemerintahan Khedive Ismail Pasha (1863- 1874) mulai diusahakan reorganisasi pendidikan, dan dari sinilah pendidikan tradisional mulai bersaing dengan pendidikan modern sekuler. Serangan terhadap pendidikan tradisional sering tampak dari usaha yang menginginkan perbaikan Al-azhar sebagai pusat pendidikan islam terpenting.Sejak awal abad 19, sistim pendidikan barat mulai diterapkan di sekolah-sekolah Mesir. Sementara Al-azhar masih saja menggunakan sistim tradisional. dari sini mulai muncul suara pembaharuan.

Diantara pembaharuan yang menonjol adalah dicantumkannya sistem ujian untuk mendapatkan ijazah al-‘alamiyah (kesarjanaan) Al-azhar pada februari 1872. juga pada tahun 1896, buat pertama kali dibentuk Idarah Al-azhar (dewan administrasi). Usaha pertama dari dewan ini adalah mengeluarkan peraturan yang membagi masa belajar di Al-azhar menjadi dua periode: pendidikan dasar 8 tahun serta pendidikan menengah dan tinggi 12 tahun, kurikulum Al-azhar ikut diklasifikasikan dalam dua kelas: Al-‘ulum al-manqulah (bidang studi agama)dan al-‘ulum al-ma’qulah(studi umum). Menyebut pembaharuan di Al-azhar, kita perlu mengingat Muhammad Abduh (1849-1905). Ia mengusulkan perbaikan sistem pendidikan Al-azhar dengan memasukan ilmu-ilmu modern kedalam kurikulumnya. Gagasan terssebut mulanya kurang disepakati oleh syaikh Muhammad Al-Anbabi.

Baru ketika syaikh An-Nawawi memimpin Al-azhar, ide Muhammad Abduh bisa berpengaruh, berangsur-angsur mulai diadakan pengaturan masa libur dan masa belajar. Uraian pelajaran yang bertele-tele yang dikenal syarah al- hawasyi disederhanakan. Sementara itu kurikulum modern seperti fisika, ilmu pasti, filsafat, sosiologi, dan sejarah. telah menerobos Al-azhar, berbarengan dengan ini pula di renovasi ruaq Al-azhar sebagai pemondokan bagi guru dan maha siswa.

3. Al-Azhar Kini

AL-AZHAR Masjid dan Pusat Pendidikan Tinggi Islam – Pada abad XXI ini, Al-Azhar mulai memandang perlunya mempelajari sistem penelitian yang dilakukan universitas di barat, dan mengirim alumni terbaiknya untuk belajar ke eropa dan amerika. tujuan pengiriman itu adalah untuk mengikuti perkembangan ilmiyah di tingkat international sekaligus upaya perbandingan dan pengukuhan pemahaman islam yang benar. Cukup banyak duta Al-Azhar yang berhasil yang berhasil meraih gelar Ph.D dari universitas luar tersebut, diantaranya adalah syaikh DR. Abdul Halim Mahmud, syaikh DR. Muhammad AL-bahy, dan masih banyak lagi yang lainnya. Sebelumnya, pada tahun 1930, keluar undang-undang nomor 49 yang mengatur Al-azhar mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi dan membagi universitas Al-azhar menjadi 3 fakultas, yaitu: Syari’ah, ushuluddin, dan bahasa arab.

Fakultas induk Ayari’ah wal Qanun (hukum international) di cairo merupakan bangunan pertama yang berdiri pada tahun 1930. semula bernama fakultas Syari’ah , lalu pada tahun 1961 dirubah menjadi nama seperti sekarang. Fakultas induk ushuluddin dan bahasa arab di cairo juga didirikan pada tahun 1930, penjurusannya diatur kembali pada tahun 1961. fakultas Da’wah islamiyah didirikan dengan keputusan presiden (keppres) nomor 380 tahun 1978 yang di keluarkan pada 16 Ramadhan 1398 H. bertepatan dengan 20 agustus 1978).

Fakultas Dirasat islamiyah wal Arabiyah memulai kuliahnya tahun 1965 sebagai salah satu jurusan dari faklultas Syari’ah. pada tahun 1972 keluar keppres nomor 7 yang menjadikan fakultas ini sebagai lembaga tersendiri dengan nama (Ma’had Dirasat Al-islamiyah wal Arabiyah (Institute of Islamic and Arabic Studies ). Namun, pada 1976 keluar keppres No: 299 yang kembali menjadikan institut ini sebagai fakultas tersendiri, dengan jurusan :Ushuluddin, Syari’ah islamiyah, Bahasa arab dan Sastra arab. AL-AZHAR Masjid dan Pusat Pendidikan Tinggi Islam

Angin pembaharuan kembali berhembus di Al-azhar pada 5 Mei 1961 dimasa kepemimpinan syaikh Mahmud Syaltout. Peran Syaikh Al-azhar di ciutkan menjadi jembatan simbolis sehingga kurang mempunyai pengaruh langsung terhadap lembaga pendidikan yang berada di bawah pimpinanya. Undang-undang revolusi Mesir no:103 tahun 1961. undang-undang ini memberikan kemungkinan besar perubahan srtukturil pendidikan di Al-azhar, sehingga di antaranya membolehkan lulusan SD atau SMP Al-azhar untuk melanjutkan studinya ke SMP atau SMA milik departemaen pendidikan, atau sebaliknya. dalam ruang lingkup pendidikan tinggi, disamping fakultas-fakultas keislaman, ditambahkan lagi fakultas baru seperti: Tarbiyah, Kedokteran, Perdagangan, / ekonomi, sains, pertanian, teknik, farmasi, dan sebagainya. Juga dibangun khusus fakultas untuk mahasiswi (kuliyatul banat) dengan berbagai jurusan.

Al-Azhar mempunyai 3 Rumah Sakit Universitas: Husain Hospital, Zahra’ Hosppital dan Bab el-Syari’ah Hospital. Sementara itu, Nasser Islamic Mission City untuk orang asing dibuka pada bulan september 1959.Universitas (jami’ah) al-azhar hanyalah sala satu lembaga resmi yang dimiliki Al-azhar, masih ada lembaga lain yang sempat terbentuk, seperti:
a. Lembaga pendidikan dasar dan menengah (Al-Ma’ahid Al-Azhariyah)
b. Biro kebudayaan dan missi Islam (Idarah Ast-Tsaqafah wal Bu’uts Islamiy

c.Majlis tinggi Al-azhar (Majlis Al-a’la lil azhar)

d.Lembaga riset islam (Majma’ Al-buhuts Al-islamiyah)

e.Hai’ah Ighatsah Al-islamiyah

Sejak mula berdirinya, studi di Al-azhar selalu terbuka untuk semua pelajar dari seluruh dunia, Hingga kini Universitas Al-azhar memiliki lebih dari 50 fakultas yang tersebar di seluruh pelosok Mesir.

Demikian ulasan AL-AZHAR Masjid dan Pusat Pendidikan Tinggi Islam, semoga bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

 Ardiansyah , Asrori, Muhammad, Universitas al-Azhar asy-Syarif, Telaah kritis karya terbesar Dinasti Fatimiyyah di Mesir, dalam http://alumnigontor.blogspot.com/2008/04/universitas-al-azhar-asy-syarif.html diakses 3 April 2012.

Asrori, Saifudin, Sejarah Sosial Universitas Al-Azhar Mesir dalam http://tabloidmasjidnus.wordpress.com/edisi/tamara-edisi-iii-mei-2009/sejarah-sosial-universitas-al-azhar-mesir/

H}asan, Ibra>hi>m, H}asan, Ta>ri>kh al-Daulah al-Fa>t}imiyyah Fi> al-Maqribi, wa Mis}r, wa Su>riyyah, wa Bila>d al-‘Arab, al-Qa>hira: —–; 1958.

Madya, Mahayudin, Yahaya, Ahmad Jelani Halimi, Sejarah Islam, Selangor: Fajar Bakti Sdn. Bhd.; 1995.

Syalabiyy , Ahmad, al-Tarbiyyah al-Islamiyyah, Nuz}umuha> -falsafatuha>-Ta>ri>khiha>, al-Qo>hirah:Maktabah al-Nahd}oh al-Mis}riyyah, 1982.

——, Ensiklopedia Islam, Jakarta: PT. Intermasa; 205.

—–,Universitas Al-Azhar dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_Al-Azhar, (3 April 2012).

[1]Ahmad Syalabiyy, al-Tarbiyyah al-Islamiyyah, Nuz}umuha> -falsafatuha>-Ta>ri>khiha>, (al-Qo>hirah:Maktabah al-Nahd}oh al-Mis}riyyah, 1982). 394.

[2]H}asan Ibra>hi>m H}asan, Ta>ri>kh al-Daulah al-Fa>t}imiyyah Fi> al-Maqribi, wa Mis}r, wa Su>riyyah, wa Bila>d al-‘Arab, (al-Qa>hira: —–; 1958). 377.

[3]——, Ensiklopedia Islam, (Jakarta: PT. Intermasa; 205). 245.

[4] Ibid, 245.

[5] —–,Universitas Al-Azhar dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_Al-Azhar,(3 April 2012),

 [6]Madya, Mahayudin, Yahaya, Ahmad Jelani Halimi, Sejarah Islam, ( Selangor: Fajar Bakti Sdn. Bhd.; 1995). 336.

[7]H}asan Ibra>hi>m H}asan, Ta>ri>kh al-Daulah al-Fa>t}imiyyah Fi> al-Maqribi, wa Mis}r, wa Su>riyyah, wa Bila>d al-‘Arab, (al-Qa>hira: —–; 1958). 377-378.

[8]——, Ensiklopedia Islam, (Jakarta: PT. Intermasa; 205). 245.

 [9]Saifudin Asrori, Sejarah Sosial Universitas Al-Azhar Mesir dalam http://tabloidmasjidnus.wordpress.com/edisi/tamara-edisi-iii-mei-2009/sejarah-sosial-universitas-al-azhar-mesir/

 [10]Ibid,

[11]Saifudin Asrori, Sejarah Sosial Universitas Al-Azhar Mesir dalam http://tabloidmasjidnus.wordpress.com/edisi/tamara-edisi-iii-mei-2009/sejarah-sosial-universitas-al-azhar-mesir/

[12]Muhammad Asrori Ardiansyah, Universitas al-Azhar asy-Syarif, Telaah kritis karya terbesar Dinasti Fatimiyyah di Mesir, dalam http://alumnigontor.blogspot.com/2008/04/universitas-al-azhar-asy-syarif.html diakses 3 April 2012.

Share This:

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *