PENGERTIAN ALENIA BAHASA

PENGERTIAN ALENIA BAHASA

PENGERTIAN ALENIA BAHASA

www.rangkumanmakalah.com

A.    Pengertian Alenia

“Alenia atau paragraf adalah satuan bentuk bahasa yang biasanya merupakan hasil penggabungan beberapa kalimat” (Lamuddin Finoza, 2004:149). “Alenia atau paragraf merupakan inti penuangan buah pikiran dalam sebuah karangan” (Sabarti Akhadiah, Maidar G. Arsjad, Sakura H. Ridwan, 1988 :144). ” Alenia tidak lain dari suatu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau luas dari kalimat…merupakan himpunan dari kalimat yang bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan (Gorys Keraf, 1979:62). 

B.     Jenis-jenis Alenia

  1. Jenis-Alenia menurut Posisi Kalimat Topiknya

Berdasarkan posisi kalimat topiknya, alenia dapat dibedakan atas empat macam, yaitu (a) alenia deduktif, (b) alenia induktif, (c) alenia deduktif-induktif, dan (d) alenia penuh kalimat topik. 

a)      Alenia Deduktif

“Alenia deduktif yaitu alenia yang menyajikan pokok permasalahan terlebih dahulu, lalu menyusul uraian yang terinci mengenai permasalahan atau gagasan alenia (urutan umum-khusus)” (Lamudin Finoza, 2004 : 159). 

Contoh Alenia Deduktif:

Diskusi kelompok sangat efektif ditetapkan untuk melatih berbicara. Siswa dapat meredam rasa malu jika mengemukakan pendapat, saran, atau pertanyaan kepada teman kelompoknya. Mereka akan terpancing berbicara untuk melakukan hal itu. Tanpa disadari, mereka melakukan interaksi dalam kelompok dengan topik yang terarah. 

b)      Alenia Induktif

“Alenia induktif yaitu alenia yang menganalisa penjelasan terlebih dahulu, barulah diakui dengan pokok pembicaraan (urutan khusus-umum)” (Lamudin finoza, 2004 :159). 

Contoh Alenia Induktif:

Ular, buaya, cecak, dan sebagainya termasuk jenis binatang melata. Sebagaimana jenis binatang lain, binatang-binatang tersebut memerlukan air. Begitu juga tumbuh-tumbuhan, misalnya bunga, kelapa, sawo, dan karet. Manusia juga sangat membutuhkan air. Manusia, tumbuh-tumbuhan, dan binatang sangat memerlukan air. (UAN 2001/2002) 

c)      Alenia Deduktif-Induktif

“Bila kalimat pokok ditempatkan pada bagian awal dan akhir alenia, terbentuklah alenia campuran deduktif-induktif” (Lamudin Finoza, 2004:160). 

Contoh Alenia Deduktif-Induktif:

Pemerintah menyadari bahwa rakyat indonesia memerlukan rumah murah, sehat dan kuat. Departemen PU sudah lama menyelidiki bahan rumah yang murah tetapi kuat. Agaknya bahan perlit yang diperoleh dari batu-batuan gunung berapi sangat menarik perhatian ahli. Bahan ini tahan api dan air. Lagi pula, bahan perlit dapat dicetak menurut keinginan sesorang. Usulan ini menunjukkan bahwa pemerintah berusaha membangun rumah murah, sehat dan kuat untuk memenuhi kebutuhan rakyat.

d)     Alenia Penuh Kalimat Topik

“Kalimat topik atau kalimat utama termuat dalam seluruh alenia. Dalam hal ini tidak terdapat kalimat yang khusus yang menjadi kalimat topik. Alenia semacam ini terutama dijumpai dalam uraian-uraian yang bersifat deskriptif atau deduktif. 

Contoh Alenia Deduktif-Induktif:

Pagi hari ini aku duduk di bangku panjang dalam taman di belakang rumah. Matahari belum tinggi benar, baru sepenggalah. Sinar matahari pagi menghangatkan badan. Didepanku bermekaran bunga beraneka warna. Kuhirup hawa pagi yang segar sepuas-puasku. 

  1. Jenis Alenia Menurut Sifat Isinya

Berdasarkan sifat isinya, alenia dapat digolongkan atas lima macam, yaitu (a) alenia persuatif, (b) alenia argumentatif, (c) alenia naratif, (d) alenia deskriptif, (e) alenia ekspositoris. 

a)      Alenia Persuatif

“Alenia persuatif, jika isi alenia mempromosikan sesuatu dengan cara mempengaruhi atau mengajak pembaca” (Lamuddin Finoza, 2004 :161). Paragraf persuatif berisi ajakan kepada pembaca dengan mengemukakan alasan, contoh, dan bukti supaya melakukan ajakan penulis. Persuatif selalu bertujuan untuk membujuk orang lain, agar melakukan yang kita inginkan. 

Menurut Nunung Yuli Eti, Anton Suparyanta, dan M.G. Hesti Puji Rastuti (2005:64), metode dalam pembentukan alenia persuatif adalah :

1)      Rasionalisasi

2)      Identifikasi

3)      Sugesti

4)      Komformitas

5)      Kompensasi

6)      Proyeksi

7)      Penggantian.

Dan bentuk-bentuk dari paragraf persuatif adalah propaganda, iklan dalam surat kabar, majalah, selebaran, dan kampanye lisan. 

Contoh paragraf Persuasif:

MLM (Multi Level Marketing) merupakan salah satu bisnis yang menjanjikan. Bisni ini biasanya bergerak dalam bidang penjualan suatu produk. Produk tersebut dapat berupa suplemen makanan hingga produk rumah tangga. Menjadi anggota MLM dapat dilakukan sebagai bisnis sampingan. Seseorang yang bergabung dalam bisnis tersebut harus pandai memperluas jaringan. Semakin luas jaringan yang diperoleh, semakin besar pula pemasukan yang akan diperoleh. Oleh karena itu, menjadi anggota bisnis MLM memberi keuntungan, karena dapat menambah pendapatan. Karena bisnis ini sangat menjanjikan, mari ikut bergabung dalam bisnis MLM ini. 

b)      Alenia Argumentatif

“Alenia argumentatif, jika isi alenia membahas satu masalah dengan bukti-bukti atau alasan yang mendukung” (Lamuddin Finoza, 2004:161). Agar dapat berargumentasi dengan baik, perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut : 

1)      Berfikir

2)      Menjauhkan emosi dan subjektivitas

3)      Mampu mencari, mengumpulkan, menilai dan memilih fakta yang sesuai dengan tujuan, serta menghubung-hubungkannya sehingga dapat ditarik kesimpulan yang sukar dibantah kebenarannya.

Bahan argumentasi yang berupa fakta, angka-angka, grafik, pendapat orang, dan sebagainya harus dikaji sungguh-sungguh sehingga dapat memperkuat argumen yang dikemukakan. 

Contoh alenia argurmentatif:

Menurut data lembaga Oceanologi Indonesia, 46% kondisi terumbu karang di Indonesia rusak berat, 14% kritis, 33% masih lumayan, dan hanya 17% yang kondisinya sangat bagus. Boleh disimpulkan, kerusakan gugusan karang di Indonesia saat ini sudah sangat parah dan mengenaskan. 

c)      Alenia Naratif

“Alenia naratif, jika isi alenia menuturkan peristiwa atau keadaan dalam bentuk cerita” (Lamuddin Finoza, 2004:161). Pada alenia naratif, pengarang berusaha mengisahkan suatu peristiwa sehingga pembaca seolah-olah melihat dan mengalami sendiri peristiwa itu.

Contoh alenia naratif:

Matahari sudah mulai condong ke barat. Aku membuang puntung sigaretku yang kesekian. Kemudian aku berdiri dan menepuk debu celanaku. “Engkau boleh senyum lega, Jon”, kataku kepada makam, “Tati sudah kelas 3 sekarang”. Dan aku berjalan menuruni bukit, disambut oleh bocah kecil yang lahir ketika Jon mati. Kepalanya bulat lucu. Dan ia tersenyum juga. Senyum teman yang penuh harapan. Sumber : “Senyum” dalam Hujan Kepagian, karya Nugroho Notosusanto

Pola pengembangan Alenia naratif menurut Tim Penyusun (2004:35), dibagi menjadi dua, yaitu :

1)      Pola Pengembangan Naratif dengan Titik Pandang

Titik pandang merupakan cara atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagaimana sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi maupun non fiksi kepada pembaca. Pada umumnya titik pandang dibedakan atas empat pola utama, yaitu : 

  • Titik Pandang (Sudut Pandang) orang pertama
  • Titik Pandang orang ketiga sebagai pengamat
  • Titik Pandang orang ketiga sebagai serba tahu
  • Titik Pandang campuran

2)      Pola Pengembangan Naratif dengan Tehnik (Akibat) Dramatik.

Pengembangan alenia naratif dengan tehnik dramatik disusun mirip dengan pengembangan cerita pada drama. Dalam hal ini pengarang tidak mendeskripsikan secara eksplisit sifat, sikap, dan tingkah laku tokoh. Hal ini dilakukan agar pembaca menjadi penasaran terhadap karakter tokoh cerita dan peristiwa-peristiwa yang terjadi. 

d)     Alenia Deskriptif

“Alenia deskriptif, jika isi alenia melukiskan atau menggambarkan sesuatu dengan bahasa” (Lamuddin Finoza, 2004:161). 

“Deskriptif merupakan jenis karangan yang isinya memberikan, melukiskan, atau menggambarkan sesuatu berdasarkan pengalaman semua panca indera” (Tim Penyusun, 2004:35). 

Alenia Deskriptif dapat dikembangkan dengan pola : 

  • Pola Pengembangan Observasi
  • Pola Pengembangan Fokus
  • Pola Pengambangan Seleksi

Contoh alenia deskriptif:

Gadis itu sedang berjalan-jalan seorang diri di tepi pantai Parangtritis. Baju berwarna biru laut dan rok hitam bersulamkan benang sutera menambah keanggunannya. Wajahnya yang putih bersih berubah menjadi kemerah-merahan terkena sengatan matahari pada sore hari. Matanya bersinar-sinar sunset sore itu. Rambutnya yang panjang terjuntai kebelakang melambai-lambai tertiup angin pantai. Bentuk badannya yang bagus itu semakin molek dengan pakaiannya yang sederhana. 

e)      Alenia Ekspositoris

“Alenia ekspositas, jika isi alenia memaparkan sesuatu fakta atau kejadian tertentu” (Lamuddin Finoza, 2004:161). 

Contoh alenia Ekspositoris:

 Rumah temanku terbentuk limasan. Berukuran panjang 11 meter dan lebar 9 meter. Rumah dibangun di atas tanah seluas 330 M2. Atapnya bergenting biasa, dindingnya dibuat dari tembok, dan lantainya dari keramik. Rumah ini terdiri atas lima kamar dengan perincian kamar tamu, kamar keluarga, dan tiga kamar tidur, sedangkan kamar mandi, water closed, dan dapur berada di luar rumah pokok. Ketiga kamar ini dihubungkan oleh pintu dari kamar keluarga, sehingga kelihatannya berada diluar. Tetapi berdampingan. 

  1. Jenis Alenia Menurut Fungsinya Dalam Karangan

Berdasarkan fungsinya, alenia dapat dibedakan atas tiga macam, yaitu: (a) alenia pembuka, (b) alenia pengembang, dan (c) alenia penutup. 

a)      Alenia Pembuka

Isi alenia pembuka bertujuan mengutarakan suatu aspek pokok pembicaraan dalam karangan. Sebagai bagian yang mengawali sebuah karangan, alenia pembuka harus dapat difungsikan untuk : 

  • Menghantarkan pokok pembicaraan;
  • Menarik minat dan perhatian pembaca;
  • Menyiapkan atau menata pikiran pembaca untuk mengetahui isi seluruh karangan.

b)      Alenia Pengembang

Alenia ini bertujuan mengembangkan pokok pembicaraan suatu karangan yang sebelumnya telah dirumuskan di dalam alenia pembuka. Alenia pengembang berfungsi untuk : 

  • Mengemukakan inti persoalan;
  • Memberi ilustrasi atau contoh;
  • Menjelaskan hal yang akan diuraikan pada alenia berikutnya;
  • Meringkas alenia sebelumnya;
  • Mempersiapkan dasar atau landasan bagi simpulan.

c)      Alenia Penutup

Alenia penutup adalah alenia yang dimaksudkan untuk mengakhiri sebuah karangan. Penyajian alenia penutup harus memperhatikan hal berikut ini: 

  • Alenia ini tidak boleh terlalu panjang
  • Isi alenia harus berisi simpulan sementara atau akhir, sebagai cerminan inti seluruh uraian.
  • Hendaknya alenia menimbulkan kesan yang dalam bagi pembacanya.
  • C.    Koreksi Kesalahan Kalimat
    1. Kesalahan Kalimat

a)      Kesalahan Internal

Kesalahan internal adalah kesalahan kalimat yang diukur dari unsur-unsur dalam kalimat. Kesalahan dari segi internal dapat dipilah menjadi beberapa tipe. Tipe pertama adalah kesalahan kandungan isi yang menyebabkan kalimat menjadi tidak logis sebagaimana tampak pada contoh berikut :

1)      Dengan pemakaian pupuk urea pil dapat menyuburkan tanaman dan meningkatkan produksi pertanian.

2)      Kepada semua informan mendapatkan dua macam instrumen yaitu angket dan catatan kegiatan. 

Kedua kalimat di atas merupakan kalimat yang tidak logis. Untuk membuktikan itu dapat digunakan pertanyaan-pertanyaan mengenai isi setiap kalimat itu.

Pada kalimat (1) dipertanyakan dengan kalimat “Apa yang menyuburkan tanaman?”, jawaban tidak dapat dicari dalam kalimat itu. Barulah jawaban dapat ditemukan jika frasa dengan pemakaian dihilangkan sehingga kalimatnya menjadi Pupuk Urea Pil dapat menyuburkan tanaman dan meningkatkan produksi pertanian.

Pada kalimat (2) jika dipertanyakan dengan kalimat “Siapa yang mendapatkan dua macam instrumen?”, maka jawaban tidak dapat dicari dalam kalimat itu. Jawaban terhadap kalimat itu baru dapat diarahkan ke semua informan jika kalimat diubah menjadi semua informan mendapatkan dua macam instumen, yaitu angket dan catatan kegiatan.

b)      Kesalahan Eksternal

Kesalahan eksternal adalah kesalahan yang diukur dari unsur luar kalimat yang bersangkutan. Di sini kesalahan eksternal diukur dari kalimat-kalimat lain yang menjadi konteks atau lingkungannya. Contoh:

Proyek lembah Dieng terletak di dukuh Sumberejo, desa Kalisungo yang termasuk dalam daerah Kabupaten Malang. Daerah Malang yang sejuk terdiri dari pegunungan-pegunungan kecil.

Paragraf di atas benar secara internalar, tetapi salah secara eksternal, karena tidak membentuk satu gagasan yang utuh dan padu dalam paragraf.

  1. Membetulkan kesalahan kalimat

Ada beberapa jenis kesalahan dalam menyusun kalimat, yaitu: 

a)      Kalimat tanpa Subjek

Dalam menyusun sebuah kalimat, sering kali menggunakan  kata depan atau preposisi, lalu verbanya menggunakan bentuk aktif atau berawalan me- baik dengan atau tanpa akhiran -kan. Dengan demikian dihasilkan kalimat-kalimat salah seperti di bawah ini:

1)      Bagi yang merasa kehilangan buku tersebut harap mengambilnya di kantor.

2)      Dengan beredarnya koran masuk desa bermanfaat sekali bagi masyarakat pedesaan.

 Untuk membetulkan kalimat di atas dapat dilakukan dengan

1)      menghilangkan kata depan pada masing-masing kalimat tersebut, atau

2)      mengubah verba pada kalimat tersebut, misalnya dari aktif menjadi pasif.

Jadi kemungkinan pembetulan kalimat di atas adalah:

1)      Yang merasa kehilangan buku tersebut harap mengambilnya di kantor.

2)      Beredarya koran masuk desa bermanfaat sekali bagi masyarakat pedesaan. 

 Dalam pembetulan kalimat di atas, maka subjeknya menjadi lebih jelas, yaitu berturut-turut adalah yang merasa kehilangan buku tersebut dan beredarnya koran masuk desa. 

b)      Kalimat dengan Objek Berkata Depan

 Kesalahan pemakaian kata depan juga sering ditemui pada objek. Sebagai contoh:

1)      Hari ini kita tidak akan membicarakan lagi mengenai soal harga, tetapi soal ada tidaknya barang itu.

2)      Dalam setiap kesempatan mereka tidak bosan-bosannya mendiskusikan tentang dampak positif pembuatan waduk itu.

Dua kalimat di atas dapat dibetulkan dengan menghilangkan kata mengenai pada kalimat (1) dan tentang pada kalimat (2). 

Perlu dicatat bahwa dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa verba dan kata depan yang sudah merupakan paduan, misalnya: bertentangan dengan, bergantung pada, berbicara tentang, menyesal atas, keluar dari, sesuai dengan, serupa dengan.

c)      Konstruksi Pemilik Kata Depan

Kesalahan pemakaian kata depan lain yang ditemui pada konstruksi frasa : termilik + pemilik. Secara berlebihan sering ditemui adanya kecenderungan mengeksplisitkan hubungan antara termilik dengan pemilik dengan memakai kata depan dari atau daripada, misalnya: 

1)      Kebersihan lingkungan adalah kebutuhan dari warga.

2)      Buku-buku daripada perpustakaan perlu ditambah.

Kontruksi frasa yang sejenis dengan kebutuhan dari warga dan buku-buku daripada perpustakaan ini sering kita dengar perlahan dalam pidato-pidato (umumnya tanpa teks), misalnya:

Biaya dari pembangunan jembatan ini; Kenaikan daripada harga-harga barang elektronik. 

Dalam karangan keilmuan konstruksi frasa yang tidak baku seperti di atas hendaknya dihindari karena dalam bahasa Indonesia hubungan termilik + pemilik bersifat implisit. 

d)     Kalimat yang Pelaku dan Verbanya tidak Bersesuaian

Dalam kalimat dasar, verba dapat dibedakan menjadi verba yang menuntut hadirnya satu ‘pelaku’ dan verba yang menuntut hadirnya lebih dari satu ‘pelaku’. Dalam pembentukan kalimat, kesalahan yang mungkin terjadi ialah yang penggunaan verba dua ‘pelaku’, namun salah satu ‘pelakunya’ tidak tercantumkan.

Contoh:

1)      Dalam perkelahian itu dia berpukul-pukulan dengan gencarnya.

2)      Dalam seminar itu dia mendiskusikan perubahan sosial masyarakat pedesaan sampai berjam-jam.

Dalam kalimat (1) verba berpukul-pukulan menuntut hadirnya dua pelaku, yaitu dia dan orang lain, misalnya Joni. 

1)      Dalam perkelahian itu dia berpukul-pukulan dengan Joni.

Demikian pula kalimat (2), disamping pelaku dia diperlukan hadirnya pelaku lain sebagai mitra diskusi, misalnya para pakar, sehingga kalimat (2) menjadi:

2)      Dalam seminar itu, dia mendiskusikan perubahan social masyarakat pedesaan dengan para pakar.

e)      Penempatan yang Salah Kata Aspek pada Kalimat Pasif Berpronomina

Menurut Laidah, konstruksi pasif berpronomina berpola aspek + pronomian + verba dasar. Jadi tempat kata aspek adalah di depan pronominal. Kesalahan yang sering terjadi adalah penempatan aspek diantara pronominal dengan verba atau dalam pola: “pronominal + aspek + verba dasar”. Contoh : 

  • Saya sudah katakan bahwa…

Bentuk seperti contoh di atas dapat dibetulkan dengan memindahkan kata aspek ke depan pronominal menjadi : 

  • Sudah saya katakan bahwa…

f)       Kesalahan Pemakaian Kata Sarana

Dalam menyusun kalirnat sering dipakai kata sarana. Kata sarana itu dapat berupa kata depan dan kata penghubung. Kata depan lazimnya terdapat dalam satu frasa depan, dan kata penghubung pada umumnya terdapat pada kalimat mejemuk baik yang setara maupun yang bertingkat.

Kesalahan pemakaian kata depan umumnya teradi pada pemakaian kata depan di, pada dan dalam, ketiga kata depan tersebut sering dikacaukan, misalnya : 

  • Di saat istirahat penyuluh mendatangi para petani. (pada saat)
  • Benih itu ditaburkan pada kolam yang baru. (ke dalam)
  • Dalam tahun 1965 terjadi pemberontakan G 30 S/PKI. (di)

DAFTAR PUSTAKA

Akhadiah, Sabarti, dkk. 1998. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga

Eti, Nunung Yuli, dkk. 2004. Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia 3 b. Klaten: PT. Intan Pariwara

Finoza, Lamuddin. 2004. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Dwasadasa Sarana Bersama

Keraf, Gorys. 1979. Komposisi. Jakarta: Nusa Indah

Tim Penyusun. 2004. Bahasa Indonesia 3 a. Klaten: PT. Intan Pariwara

Tim Penyusun. 2004. Bahasa Indonesia 3 b. Klaten: PT. Intan Pariwara

——-http://blogsais.blogspot.com/2009/02/alenia.html. diakses pada 15 September 2011

——-fusliyanto.wordpress.com/kumpulan-materi-bahasa-indonesia-3. diakses pada 16 September 2011

Share This:

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *