SEJARAH ALIRAN JABARIYAH DAN QADARIYAH

aliran jabariyah dan qadariyah

aliran jabariyah dan qadariyah

Kata Jabariyah berasal dari kata jabara yang berarti memaksa. Di dalam Al-Munjid, dijelaskan bahwa namajabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu.[1])Selanjutnya, kata jabara (bentuk pertama), setelah ditarik menjadi jabariyah (dengan menambah ya nisbah), memiliki arti suatu kelompok atau aliran (isme).Lebih lanjut Asy-Syahratsan menegaskan bahwa paham al-jabr berarti menghilangkan perbuatan manusia dalam arti yang sesungguhnya dan menyandarkannya kepada Allah.[2])Dengan kata lain, manusia mengerjakan perbuatannya dalam keadaan terpaksa. Dalam bahasa Inggris, Jabariyah disebut fatalism atau predestination, yaitu faham yang menyebutkan bahwa perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh qadha dan qadar Tuhan.[3])

Mengenai kemunculan faham al-jabar ini, para ahli sejarah pemikiran mengkajinya melalui pendekatan geokultural bangsa Arab.Diantara ahli yang dimaksud adalah Ahmad Amin.Ia menggambarkan bahwa kehidupan bangsa Arab yang dikungkung oleh gurun pasir Sahara memberikan pengaruh besar ke dalam cara hidup mereka.[4])Ketergantungan mereka kepada alam Sahara yang ganas telah memunculkan sikap penyerahan diri terhadap alam. 

Lebih lanjut, Harun Nasution menjelaskan bahwa dalam situasi demikian, masyarakat Arab tidak melihat jalan untuk mengubah keadaan sekeliling mereka sesuai dengan keinginannya sendiri.Mereka merasa lemah dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup.Akhirnya, mereka banyak bergantung pada kehendak alam.Hal ini membawa mereka kepada sikap fatalism.[5]) (makalah)

Sebenarnya benih-benih faham al-jabar suah muncul jauh sebelum kedua tokoh di atas. Benih-benih itu terlihat dalam peristiwa sejarah berikut ini : 

  1. Suatu ketika Nabi menjumpai sahabatnya yang sedang bertengkar dalam masalah takdir Tuhan. Nabi melarang mereka untuk memperdebatkan persoalan tersebut, agar terhindar dari kekeliruan penafsiran tentang ayat-ayat Tuhan mengenai takdir.[6]
  2. Khalifah Umar bin Khaththab pernah menangkap seseorang yang ketahuan mencuri. Ketika diinterogasi, pencuri itu berkata “Tuhan telah menentukan aku mencuri. Mendengar ucapan itu, Umar marah sekali dan menganggap orang itu telah berdusta kepada Tuhan. Oleh karena itu, Umar memberikan dua jenis hukuman kepada pencuri itu. Pertama, hukuman potong tangan karena mencuri. Kedua, hukuman dera karena menggunakan dalil takdir Tuhan.[7]) 
  3. Khalifah Ali bin Abi Thalib seusai Perang Shiffin ditanya oleh seorang tua tentang qadar (ketentuan) Tuhan dalam kaitannya dengan pahala dan siksa. Orang tua itu bertanya, “Bila perjalanan (menuju Perang Shiffin) itu terjadi dengan qadha dan qadar Tuhan, tak ada pahala sebagai balasannya.” Ali menjelaskan bahwa qadha dan qadar bukanlah paksaan Tuhan. Ada pahala dan siksa sebagai balasan amal perbuatan manusia. Sekiranya qadha dan qadar itu merupakan paksaan, batallah pahala siksa, gugur pulalah makna janji dan ancaman Tuhan, serta tidak ada celaan Allah atas pelaku dosa dan pujian-Nya bagi orang-orang yang baik.[8]) 
  4. Pada pemerintahan Daulah Bani Umayah, pandangan tentang al-jabar semakin mencuat ke permukaan. Abdullah bin Abbas, melalui suratnya, memberikan reaksi keras kepada penduduk Syiria yang diduga berfaham Jabariyah.[9]) 

Paparan di atas menjelaskan bahwa bibit faham al-jabar telah muncul sejak awal periode Islam.Namun, al-jabar sebagai suatu pola pikir atau aliran yang dianut, dipelajari dan dikembangkan, baru terjadi pada masa pemerintahan Daulah Bani Umayah. 

Berkaitan dengan kemunculan aliran Jabariyah, ada yang mengatakan bahwa kemunculannya diakibatkan oleh pengaruh pemikiran asing, yaitu pengaruh agama Yahudi bermazhab Qurra dan agama Kristen bermazhab Yacobit.[10])

  1. Perkembangan Jabariyah

Faham Jabariyah secara nyata menjadi aliran yang disebarkan kepada orang lain pada masa pemerintahan bani Umayah. Dan yang dianggap sebagai pendiri utama adalah Al-Ja’d bin Dirham. Diperoleh berita bahwa pemahaman Ja’ad didapat dari Banan bin Sam’an dari Talut bin Ukhtu Lubaid bin A’sam tukang sihir dan memusuhi nabi SAW. [11])

Ja’d semula tinggal di Damsyik, tetapi karena pendapatnya bahwa Al-Qur’an itu makhluk, maka ia selalu dikejar-kejar oleh penguasa bani Umayah, karena itu ia lari ke Kufah dan ia bertemu dengan Jaham bin Sofwan.

Kemudian faham ini disebarkan dengan gigih  oleh Jahm bin Shafwan dari Khurasan yang merupakan murid Ja’d bin Dirham. Dalam sejarah teologi Islam, Jahm tercatat sebagai tokoh yang mendirikan aliran Jahmiyah dalam kalangan Murji’ah.Ia adalah sekretaris Suraih bin Al-Haris dan selalu menemaninya dalam gerakan melawan kekuasaan Bani Umayah.Dalamperlawanan itu Jahm sendiri dapat ditangkap dan kemudian dihukum bunuh di tahun 131 H.[12]) 

Namun, dalam perkembangannya, faham al-jabar juga dikembangkan oleh tokoh lainnya diantaranya Al-Husain bin Muhammad An-Najjar dan Ja’d bin Dirrar.

  1. Para Pemuka Jabariyah dan Doktrin-doktrinnya

Menurut Asy-Syahratsani, Jabariyah dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, ekstrim dan moderat.[13]) Di antara doktrin Jabariyah ekstrim adalah pendapatnya bahwa segala perbuatan manusia bukan merupakan perbuatan yang timbul dari kemauannya sendiri, tetapi perbuatan yang dipaksakan atas dirinya.Di antara pemuka Jabariyah ekstrim adalah berikut ini : 

a)      Jahm bin Shofwan

Nama lengkapnya adalah Abu Mahrus Jaham bin Shafwan. Ia berasal dari Khurasan, bertempat tinggal di Khufah; ia menjabat sebagai sekretaris Harits bin Surais, ia seorang da’i yang fasih dan lincah (orator), ia seorang mawali (budak) yang menentang pemerintah bani Umayah di Khurasan. Ia dibunuh secara politis tanpa ada kaitannya dengan agama.[14])

Sebagai seorang penganut dan penyebar faham Jabariyah, banyak usaha yang dilakukan Jahm yang tersebar ke berbagai tempat, seperti ke Tirmidz dan Balk. Pendapatnya yang berkaitan dengan Teologi adalah :

1)      Manusia tidak mampu untuk berbuat apa-apa.

2)      Surga dan neraka tidak kekal.

3)      Iman adalah ma’rifat atau membenarkan dalam hati.

4)      Kalam Tuhan adalah makhluk.

5)      Akal sebagai ukuran baik dn buruk.

b)      Ja’d bin Dirham

Al-Ja’d adalah seorang Maulana Bani Hakim, tinggal di Damaskus. Ia dibesarkan di dalam lingkungan orang Kristen yang senang membicarakan teologi. Semula ia dipercaya untuk mengajar di lingkungan pemerintah Bani Umayah, tetapi setelah tampak pikiran-pikirannya yang kontroversial, Bani Umayah menolaknya. Kemudian Al-Ja’d lari ke Kufah dan di sana ia bertemu dengan Jahm, serta mentransfer pikirannya kepada Jahm untuk dikembangkan dan disebarluaskan. 

Doktrin pokok Ja’d secara umum sama dengan pikiran Jahm. Al-Ghuraby menjelaskannya sebagai berikut :[15]) 

1)      Al-Qur’an itu adalah makhluk.

2)      Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk.

3)      Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala-galanya.

Berbeda dengan Jabariyah ekstrim.Jabariyah moderat mengatakan bahwa Tuhan memang menciptakan perbuatan manusia, baik perbuatan yang jahat maupun perbuatan yang baik, tetapi manusia mempunyai bagian di dalamnya.Tenaga yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya.Inilah yang dimaksud dengan kasab (acquisitin).[16])Menurut faham kasab, manusia tidaklah majbur (dipaksa oleh Tuhan).Yang termasuk tokoh Jabariyah moderat adalah berikut ini  : 

a)      An-Najjar

Nama lengkapnya adalah Husain bin Muhammad An-Najjar (wafat 210 H). Para pengikutnya disebut An-Najjariyah atau Al-Husainiyah. Di antara pendapat-pendapatnya adalah : 

1)      Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia, tetapi manusia mengambil bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu.

2)      Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat.

b)      Adh-Dhirar

Nama lengkapnya adalah Dhirar bin Amr. Di antara pendapat-pendapatnya adalah :

1)      Pendapatnya tentang perbuatan manusia sama dengan Husain bin Muhammad An-Najjar, yakni manusia mempunyai bagian dalam perwujudan dari perbuatannya dan tidak semata-mata dipaksa dalam melakukan perbuatannya. 

2)      Mengenai ma’rifat Tuhan di akhirat, Dhirar mengatakan bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat melalui indera keenam. 

3)      Hujjah yang dapat diterima setelah nabi adalah Ijtihad. Hadits ahad tidak dapat dijadikan sumber dalam menetapkan hukum.[17])

  1. Dalil-dalil Jabariyah

Ayat-ayat yang membawa kepada faham Jabariyah, umpamanya :

Artinya:

“niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki”

(Q.S. Al-An’am [6] : 111)

Artinya:“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.

(Q.S. Ash-Shaffat [37] : 96)

 Artinya :

“dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar (musuh), tetapi Allah-lah yang melempar”

(Q.S. Al-Anfal [8] : 17)

Artinya :

“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah”

(Q.S. Al-Insan [76] : 30)

Artinya :

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan Telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya.Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”

(Q.S. Al-Hadid [57] : 22)

Ayat-ayat tersebut terkesan membawa seseorang pada alam pikiran Jabariyah.Mungkin inilah yang menyebabkan pola pikir Jabariyah masih tetap ada di kalangan umat Islam kini walaupun anjurannya telah tiada.

B.     QADARIYAH

  1. Sejarah Munculnya Qadariyah

Qadariyah berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata qadara yang artinya kemampuan dan kekuatan.[18])Adapun menurut pengertian terminologi, Qadariyah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan. Aliran ini berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya; Ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri.[19]) Berdasarkan pengertian tersebut, dapat difahami bahwa Qadariyah dipakai untuk nama suatu aliran yang memberi penekanan atas kebebasan dan kekuatan manusia dalam mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Dalam hal ini, Harun Nasution menegaskan bahwa kaum Qadariyah berasal dari pengertian bahwa manusia mempunyai qudrah atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan.[20]) 

Latar belakang timbulnya Qadariyah ini sebagai isyarat menentang kebijaksanaan politik Bani Umayyah yang dianggapnya kejam.

Tak dapat diketahui dengan pasti kapan faham ini timbul dalam sejarah perkembangan teologi Islam.Tetapi menurut keterangan ahli-ahli teologi Islam, faham Qadariyah pertama kali dikenalkan oleh Ma’bad Al-Juhani dan temannya Ghailan Al-Dimasyqi.Keduanya memperoleh pahamnya dari orang Kristen yang masuk Islam di Irak.Sedangkan menurut Ali Sami’ bahwa Ma’bad Al-Juhani sebagian besar hidupnya tinggal di Madinah, kemudian menjelang akhir hayatnya baru pindah ke Basrah.Dia adalah murid Abu Dzar Al-Ghiffari, musuh Utsman dan Bani Umayyah.Sementara Ghailan Al-Dimasyqi adalah seorang Murji’ah yang pernah berguru kepada Hasan ibn Muhammad ibn Hanafiyah.[21]) 

Ma’bad Al-Juhani adalah seorang Tabi’i yang baik.Tetapi ia memasuki lapangan politik dan memihak Abd Al-Rahman Ibn Al-Asy’ari, Gubernur Sajistan, dalam menentang kekuasaan Bani Umayyah.Dalam pertempuran dengan Al-Hajjaj, Ma’bad mati terbunuh dalam tahun 80 H. 

  1. Perkembangan Qadariyah

Setelah Ma’bad mati, Ghailan terus menyiarkan faham Qadariyah-nya di Damaskus, tetapi mendapat tantangan dari Khalifah Umar Ibn Abd Al-Aziz. Setelah Umar wafat, ia meneruskan kegiatannya yang lama, sehingga akhirnya ia mati dihukum bunuh oleh Hisyam Abd Al-Malik (724 – 743 M). Sebelum dijatuhi hukum bunuh diadakan perdebatan antara Ghailan dan Al-Awza’I yang dihadiri oleh Hisyam sendiri.[22]) 

  1. Para Pemuka Qadariyah dan Doktrin-doktrinnya

a)      Ajaran Ma’bad Al-Juhani

Perbuatan manusia diciptakan atas kehendaknya sendiri, oleh karena itu ia bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Tuhan samasekali tidak ikut berperan serta dalam perbuatan manusia, bahkan Tuhan tidak tahu sebelumnya apa yang akan dilakukan oleh manusia kecuali setelah perbuatan itu dilakukan, barulah Tuhan mengetahuinya.

b)      Ajaran Ghailan Al-Dimasyqi

1)      Manusia menentukan perbuatannya dengan kemauannya dan mampu berbuat baik dan buruk tanpa campur tangan Tuhan. Iman ialah mengetahui dan mengakui Allah dan Rasul-Nya, sedangkan amal perbuatan tidak mempengaruhi iman.

2)      Al-Qur’an itu makhluk.

3)      Allah tidak memiliki sifat.

4)      Iman adalah hak semua orang, bukan dominasi Quraisy, asal cakap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.[23]) 

c)      Ajaran An-Nazzam

Manusia mempunyai kemampuan untuk mewujudkan tindakan tanpa campur tangan Tuhan.

  1. Dalil-dalil Qadariyah

Banyak ayat-ayat yang dapat mendukung kepada faham Qadariyah umpamanya :

Artinya :“Dan Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir”.”

(Q.S. Al-Kahfi [18] : 29)

Artinya :

“Dan Mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu Telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”

(Q.S. Ali Imron [3] : 165)

Artinya :

“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan”[768]

[768]Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.

(Q.S. Ar-Ra’d [13] : 11)

Artinya :“Barangsiapa yang mengerjakan dosa, Maka Sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri”

(Q.S. An-Nisa [4] : 111)

situs: www.rangkumanmakalah.com

DAFTAR PUSTAKA

Nasution, Harun. 1986. Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Jakarta: UI Press

Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel. 2011. Ilmu Kalam. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press

Sahilun, Nasir. 2010. Pemikiran kalam (teologi islam) sejarah, ajaran, dan perkembangannya. Jakarta: Rajawali Press

 


[1])  Luwis Ma’luf, Al-Munjid fi Al-Lughah wa Al-Alam, Beirut, Dar Al-Masyriq, 1998, hlm. 78.

[2] )  Asy-Syahratnasy, Al-Milal wa An-Nihal, Darul Fikr, Beirut, hlm. 85.

[3])  Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, UI, Press, cet. V, Jakarta, 1986, hlm.  31.

[4] )  Ahmad Amin, Fajr Al-Islam, Maktabah An-Nahdhah Al-Misriyah li Ashhabiba Hasan Muhammad wa Auladihi, kairo, 1924, hlm. 45.

[5])  Nasution, loc, cit.

[6])  Aziz Dahlan, Sejarah Perkembangan Pemikiran dalam Islam, Beuneuubi Cipta, Jakarta, 1987, hlm. 27-29.

[7])  Ali Musthafa Al-Ghurabi, Tarikh Al-Firaq Al-Islamiyah, Kairo, 1958, hlm. 15.

[8]Ibid., hlm. 28.

[9] )  Huwaidhy, Dirasat fi Ilmi Al-Kalam wa Al-Falsafah Al-Islamiyah, Dar Ats-Tsaqafah, Kairo, 1980, hlm. 98.

[10])  Sahiludin A. Nasir, Pengantar Ilmu Kalam, Rajawali, 1991, Jakarta, hlm. 133.

[11] ) Muhammad Abu Zahrah, Tarikh al-Mazahib al-Islamiyah,

[12]) Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, UI, Press, cet. V, Jakarta, 1986, hlm.  33.

[13]) Asy-Syahratsani, op. cit., hlm. 85.

[14]) Amin, Fajar . . ., hlm. 286-287.

[15] ) Al-Ghuraby, op., cit,.hlm. 28-29.

[16]) Nasution, op. cit., hlm. 35.

[17]) Asy-Syahratsani, Al-Mila …, hlm. 74.

[18]) Luwis Ma’luf Al-Yusu’I, Al-Munjid, Al-Khatahulikiyah, Beirut, 1945, hlm.436; lihat juga Hans Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic, Wlesbanden, 1971, hlm. 745.

[19]) Al-Yusu’I, op. cit., hlm. 436.

[20]) Nasution, Teologi Islam . . . hlm. 31.

[21] ) Ali Sami’ Nasyr, Nasy’ah al-Fikr al-Falsafi fi al-Islam jilid 1, (Kairo:Dar al-Ma’arif, 1977), hlm. 317.

[22]) untuk teks perdebatan itu lihat al-Mazahib, hlm. 190 dst. Lihat juga Ahmad Amin, Fajar…, hlm. 33

[23] ) Ali Musthafa al-Ghurabi, Tarikh al-firaq al-Islamiyah, (Mesir:Maktabah wa Mathba’ah Muhammad Ali Shabih wa Auladih, t.t), 34-35.

Share This:

Comments
  1. adam agung

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *