Arti Anggapan Dasar dalam Penelitian

arti anggapan dasar dalam penelitianSetelah peneliti memilih masalah, lalu melakukan studi pendahuluan, kemudian merumuskan masalah, maka langkah berikutnya adalah merumuskan anggapan dasar. Menurut Suharsimi Arikunto, anggapan dasar adalah asumsi yang harus diberikan terhadap rumusan masalah, sehingga anggapan dasar bisa dikatakan sebagai asumsi dasar. Selanjutnya anggapan dasar nantinya  digunakan sebagai landasan teori dalam penyusunan laporan hasil penelitian. Menurut Winarno Surakhmad dalam Suharsimi Arikunto dinyatakan bahwa anggapan dasar atau postulat harus didasarkan pada kebenaran yang telah diyakini oleh peneliti.3 Jadi anggapan dasar atau postulat  merupakan asumsi dasar yang telah diyakini kebenarannya oleh peneliti dan digunakan sebagai landasan teori dalam menyusun laporan hasil penelitian.

Sebagai contoh dalam kegiatan pertanian dipercayai bahwa tanaman padi yang diberi pupuk secara cukup akan memberikan hasil yang tinggi. Hal ini bisa terjadi bilamana ada anggapan bahwa pupuk yang merupakan makanan tanaman padi setelah diserap akan mengefektifkan proses fisiologis dalam tubuh tanaman padi, sehingga menghasilkan biji yang banyak dan berkualitas.

Contoh lain adalah seseorang naik pesawat terbang bermesin jet dari Surabaya menuju Jakarta akan menempuh waktu sekitar satu jam perjalanan. Pendapat ini akan terjadi karena ada anggapan bahwa kecepatan pesawat terbang bermesin jet adalah 800 km/jam, dan jarak Surabaya-Jakarta berkisar 800 km.

Sebelum peneliti melakukan proses pengumpulan data, anggapan-anggapan seperti contoh di atas yang merupakan anggapan dasar, postulat atau asumsi dasar sangat perlu untuk dirumuskan terlebih dahulu. Mengapa demikian? Ada beberapa alasan yang mendasari hal ini, yaitu sebagai berikut.

  1. Sebagai dasar pijakan bagi masalah yang sedang diteliti.
  2. Agar variabel penelitian bisa lebih dipertegas.
  3. Sebagai dasar perumusan hipotesis.3

Cara Menentukan Anggapan Dasar

Sikap awal peneliti sebelum menentukan anggapan dasar adalah tidak boleh ragu-ragu terhadap sesuatu hal, karena akan mengakibatkan ketidakpastian anggapan. Sebagai contoh peneliti tidak memahami suatu daerah. Sedangkan peneliti tersebut akan mengadakan penelitian terhadap mahasiswa. Maka peneliti tersebut tidak dapat menentukan anggapan bahwa daerah tersebut banyak dihuni oleh mahasiswa.3[1]

Peneliti seyogyanya melakukan studi literatur dari buku-buku, jurnal penelitian atau jurnal ilmiah, mendengarkan informasi dari berbagai sumber, serta mengunjungi tempat untuk memperkuat anggapan dasar yang telah disusun.4 Hal ini akan mempermudah langkah selanjutnya dalam penyusunan hipotesis.

Pemikiran, renungan yang mendalam, serta analisis yang tajam terhadap suatu masalah, diperlukan oleh peneliti dalam merumuskan anggapan dasar. Kesulitan atau kesukaran dalam merumuskan anggapan dasar bisa diatasi dengan banyak latihan dan mencermati beberapa contoh.

Suharsimi Arikunto memberikan beberapa contoh dalam merumuskan anggapan dasar, sebagai berikut.5[2]

Contoh 1:

       Judul Penelitian:’

Studi tentang Peranan Orang Tua terhadap Pilihan Profesi Anak SMA se-Daerah Istimewa Yogyakarta.

Anggapan dasar yang dapat dirumuskan antara lain:

  1. Adanya hubungan yang harmonis antara anak dan orang tua
  2. Orang tua memahami keinginan atau cita-cita anak
  3. Anak SMA sudah paham berbagai jenis profesi

Contoh 2:

       Dikutip dari penelitian yang diadakan oleh Dra. Aswarni Sudjud dengan judul:

Studi tentang Murid Mengulang Kelas di Kelas III Sekolah Dasar di Kecamatan Depok Kabupaten Sleman, Daerah Isimewa Yogyakarta, 1979-1980.

Anggapan dasar yang dapat dirumuskan antara lain:

  1. Ada murid Sekolah Dasar di Kecamatan Depok Kabupaten Sleman, Daerah Isimewa Yogyakarta yang tidak naik ke Kelas IV
  2. Ada perbedaan kecerdasan murid sekolah dasar
  3. Ada perbedaan kompetensi guru sekolah dasar
  4. Ada perbedaan latar belakang ekonomi dan sosial pada keluarga murid sekolah dasar

Contoh 3:

Dikutip dari usulan penelitian yang diajukan oleh Abraham Brure Mapandin dengan judul:

       Pola Penggunaan Lahan pada Berbagai Tingkat Lereng di Pedesaan Pulau Jawa6[3]

Anggapan dasar yang dapat dirumuskan antara lain:

  1. Ada daerah perbukitan di pedesaan Pulau Jawa yang dijadikan lahan bercocok tanam
  2. Ada beberapa pola bercocok tanam terkait dengan perbedaan ketinggian lereng
  3. Ada beberapa komoditas pertanian yang dibudidayakan pada lereng yang berbeda ketinggian

baca:

 problematika pendidikan agama islam

pengertian filsafat yunani dan sejarah masuknya ke dunia islam

 

3 Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, 65.

4 Ibid, 66

 5Ibid, 67

6 Suparmoko. Metode Penelitian Praktis untuk Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi dan Bisnis, edisi empat (Yogyakarta:BPFE-YOGYAKARTA, 1999), 134.

7Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, 71.

Share This:

Comments
  1. selltiket

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *