Dilema Paradigma Scientific dan Pendidikan Islam, Lengkap!

Dilema Paradigma Scientific dan Pendidikan Islam

Dilema Paradigma Scientific dan Pendidikan Islam

Dilema Paradigma Scientific dan Pendidikan Islam – Penulis memulai pembahasan ini dengan topik kurikulum 2013 yang menggunakan paradigma scientific sebagai instrumen pencapaian kebenarannya. Semua ilmu pengetahuan diusahakan untuk memiliki barometer scientific ini dengan harapan peserta didik memahami sesuatu dengan berangkat dari hal-hal yang nampak untuk dilihat dan diamati. Karena inti dari pengetahuan modern adalah sesuatu yang dapat dibuktikan kebenarannya melalui panca indra.

              Sebelum masuk pada pokok bahasan paradigma scientific dalam kurikulum 2013 maka kita kaji terlebih dahulu kerangka historis dari penggalan kata tersebut. Hal ini bermula pada revolusi copernicus[1] yang dianggap sebagai pendobrak dan awal dari filsafat modern yang ditandai munculnya tokoh-tokoh Rene Descartes, Immanuel Kant, dll.

Namun pada generasi selanjut muncullah tokoh yang bernama Aguscomte dengan konsep positivisme. Konsep ini merupakan pengambangan dari pemikian fearback tentang materialisme. Dengan describsi bahwa suatu ilmu itu harus dapat dibuktikan, bebas nilai, dapat di ukur dan dapat dipertanggung jawabkan melalui akal pikiran. Dan bahkan agus comte ini pada akhir hidupnya mampu menelurkan suatu ilmu tentang masyarakat dengan metode ilmiahnya sehingga sejarah mencatat bahwa dia dapat dikatakan sebagai bapak sosiologi dunia.

Membangun paradigma Scientific

Kaum Positivist yang dipelopori Auguste Compte tersebut melakukan antithesis terhadap filsafat Modern seraya berusaha membuangnya jauh-jauh, sambil berusaha membangun paradigma Scientific. Ibarat sarang lebah, gerakan Positivisme inilah yang kemudian menjadi inspirasi dan basis bagi berkembangnya ilmu pengetahuan dan kebudayaan kontemporer hingga kini. Ilmu-ilmu humaniora yang meliputi Agama, Bahasa, Filsafat, Sastra, Budaya, Seni. Dianggap sebagai tidak scientific, oleh karena itu perlu diubah metodologinya dengan metode saint, seperti yang terjadi pada Kurikulum 2013.

                   Hemat penulis, perubahan metodologi itu merupakan hal yang positif demi menjadikan ilmu pengetahuan dewasa ini mengarah ke hal yang lebih positif. Dengan harapan peserta didik mampu lebih kreatif jika dihadapkan pada problem sosial dikala ketika dewasa kelak. Karena muhammad nuh menteri pendidikan sekarang juga pernah berujar bahwa kurikulum 2013 ini untuk menjadikan generasa selanjutnya agar lebih unggul, lebih kreatif, lebih terampil. Dan sampai optimisnya beliau sehingga berhayal 2045 kelak indonesia menjadi negara yang maju. Seperti negara – negara yang ada di eropa.

               Namun persoalan akan timbul jika paradigma scientific ini dihadapkan pada materi agama islam. Materi yang sebenarnya memiliki dua sisi objek kajian yaitu hal-hal yang nampak dan hal-hal yang tidak nampak. Hal-hal yang nampak ini lebih mengarah pada syariat islam dan hal-hal yang tidak nampak ini lebih mengarah kepada tauhid. Penulis beranggapan bahwa kelemahan dari paradigma scientific ini yaitu tidak mampu untuk mengkaji dan merasionalisasikan masalah tauhid. Sehingga menjadi problem mendasar apabila hal itu akan dipaksakan. Karena sebenarnya persoalan tauhid itu tidak perlu dirasionalisasikan.

Paradigma Scientific

             Analisa penulis bahwa, menteri pendidikan indonesia (2009-2014) adalah Muhammad Nuh yang merupakan mantan rektor institut teknologi surabaya. Dan dia menjadi gelar guru besar dibidang elektro. Jika dilihat dari biografi pendidikannya beliau menempuh pendidikan S1 di ITS dengan mengambil konsentasi elektro, kemudian pendidikan S2 dan S3 yang juga mengambil konsentrasi yang sama tetapi dia tempuh di luar negeri, yaitu perancis. Secara logika bahwa beliau mampu dan sangat mumpuni dalam bidang scient dan teknologi. Sehingga berimplikasi pada kebijakan yang dia telurkan dalam bidang pendidikan yaitu kurikulum 2013 yang menggunakan paradigma scientific dalam mencapai instrumen kebenaran.

              Hal di atas dapat dirunut karena sebenarnya tindakan seseorang itu dapat dipengaruhi oleh sejarah sosial sebenlumnya. Maka dari itu menjadi wajar jika bapak menteri pendidikan saat ini memberikan kebijakan seperti itu karena sesuai dengan latar belakang kemampuan pendidikannya. Dan sebagai analogi jika menteri pendidikan memiliki kemampuan dalam ilmu tafsir al qur’an dan bahkan menjadi guru besar dalam bidang tafsir al-qu’an. Maka bisa jadi, jika menelurkan suatu kebijakan dalam hal pendidikan maka akan berorientasi al-qur’an dan hadist sebagai instrumen kebenarannya. Bukan scientific lagi.

        [1] Revolusi copernikus ini memberikan dampak terhadap krisis akan kebenaran yang di legitimasi oleh pihak gereja karena dia mampu memberikan keyakinan kepada masyarakat bahwa pusat dari tatasurya itu matahari bukan bumi atau manusia. Yang sebelumnya pihak gereja menganggap bahwa pusat dari tatasurya adalah bumi.

Demikian ulasan singkat seputar Dilema Paradigma Scientific dan Pendidikan Islam, semoga bermanfaat.

web: http://jualfrutablendhwi.com

http://hwisurabaya.net

Share This:

Comments
  1. Pemikir Bangsa

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *