Kajian Epistemologi Iluminasi, Lengkap!

Epistemologi Iluminasi

Epistemologi Iluminasi

A. Riwayat Tokoh aliran iluminasi onis

Epistemologi Iluminasi – Suhrawardi, lengkapnya syihab al-Din Yahya Ibn habsy Ibn Amira’ suhrawrdi al-maqtul- istilah al-maqtul ntuk membedakan dengan tokoh suhrawardi yang lain –lahir didesa suhraward, sebuah desa kecil dekat kota zinjan di iran timur laut, tahun 545 H / 1153 M, Pada awalnya dia belajar di maraghah dengan majd al-din al-jili yang juga guru dari fahruddin al-razi dalam bidang filsafat dan teologi. Kemudian dia berkelana ke isfahan (mardin) untuk belajar dengan fahruddin al-mardini. Dimana orang ini diduga sebagai guru suhrawardi yang paling penting, selain itu dia juga belajar pada seorang logikawan,zahir al-farsi dibidang logika dalam kitab al-bashair al-nashiriyah, kitab karya imam ibnu sahlan al-sawi seorang ahli logika terkenal.

Seteleh kedatangannya ke aleppo, suhrawardi mulai mengabdi kepada pangeran al-malik al-zahir ghazi yang juga dikenal sebagai malik zhahir syah, putra sultan shalah al-din al-ayyubi. Dan beliau berhasil mengambil hati pangeran menjadi pembimbingnya dan hidup di istana. Dalam usianya yang masih muda beliau telah menguasai pengatahuan filsafat, tasawuf, ushul fiqh begitu mendalam, cerdas dan fasih ungkapannya. Kemudian beliau mengajarkan pada sang pangeran, sehingga dia mendapatkan posisi yang istimewa di istana. Hal inilah yang semangkin membuat iri para hakim, wazir dan fuqaha yang tidak berhsail mempengaruhi pangeran. Kemudian mereka mengirim surat langsung kepada sultan dan memperingatkan bahaya akan tersesatnya akidah sang pangeran jika terus bersahabat dengan suhrawardi. Sultan sendiri yang telah terpengaruhi surat tersebut segera memerintahkan putranya untuk menghukum mati suhrawardi. Akhirnya, pemikir yang sangat brilian itu harus mati di tiang gntungan pada tahun 1191 M dalam usia yang relatif muda, 38 tahun karena kedengkian lawan-lawannya.Meski perjalanan hidupnya terbilang pendek, suhrawardi banyak meninggalkan karya tulis. Ada sekitar 50 judul buku yang ditulisnya dalam bahasa arab dan parsia, meliputi berbagai bidang dan ditulis dalam metode yang berbeda.[1]

Suhrawardi menyusun kebanyakan risalah-risalah utamanya selama 10 tahun, waktu yang tidak cukup panjang baginya untuk mengembangkan dua gaya filsafatnya yang khas-gaya peripatetik yang kemudian disusul gaya Filsafat iluminasionis – seperti yang ditunjuklkan oleh beberapa sarjana. Sebenarnya antara risalah satu dengan risalah yang lain, suhrawardi membuat rujukan-rujukan yang jelas. Hal ini membuktikan bahwa tulisan-tulisan itu disusun kurang lebih dalam waktu yang bersamaan, atau bahwa mereka diperbaiki ketika diajarkan dengan mempertimbangkan karya-karya lain.

B. Makna ontologis iluminasionis (isyraqiyah)

Epistemologi Iluminasi – Kata isyraq yang mempunyai padanan llumination dalam bahasa inggrismempunyai arti cahaya atau penerangan. Dalam bahasa filsafat, iluminationismeberarti sumber kontemplasi atau perubahan bentuk dari kehidupan emosional untukmencapai tindakan dan harmoni. Bagi kaum isyraq apa yang disebut hikmahbukanlah sekedar teori yang diyakini melainkan perpindahan rohani secara praktisdari alam kegelapan yang didalamya pengetahuan dan kebahagiaan. Merupakansesuatu yang mustahill, kepada cahaya yang bersifat akali yang didalamnyapengetahuan dan kebahagiaan dicapai bersama-sama. Karena itu menurut kaumisyraqi sumber pengetahuan adalah penyinaran yang itu berupa semacam hads yangmenghubungkan dengan subsatansi cahaya.

Lebih jauh, cahaya adalah simbol utama dari filsafat isyraqi. Simbolisme cahaya digunakan untuk menetapkan suatu faktor yang menentukan wujud, bentuk, materi, hal-hal masuk akal yang primer dan sekunder, intelek, jiwa, zat individual dan tingkat-tingakat intensitas pengalaman mistik. Jelasnya penggunaan simbol-simbolcahaya merupakan karakter dari bangunan filsafat isyraqiah.Simbolisme cahaya digunakan oleh suhrawardi untuk menggambarkan masalah-masalah ontologis dan khususnya untuk memaparkan struktur-struktur kosmologis. Sebagai contoh wujud niscaya (swa ada) dalam peripatetik disebut cahaya dari segala cahaya (nur al-anwar), intelek-intelek terpisah disebut cahaya-cahaya abstrak (anwar mujarradah). Tampaknya simbolisme cahaya dinilai lebih cocok dan sesuai untuk menyampaikan prinsip ontologis wujud ekuivokal, karena lebih mudah dipahami bahwa cahaya mungkin mempunyai intensitas yang berbeda meskipun esensinya sama. Dan juga dianggap lebih dapat diterima untuk membahas kedekatan dan kejauhan dari sumber sebagai indikasi akan derajat kesempurnaan ketika simbolisme digunakan. Sebagai contoh semakin dekat suatu entitas dengan sumbernya yaitu cahaya dari segala cahaya, maka semakin terang cahaya entitas tersebut. Sedangkan ketidak adaan cahaya atau kegelapan mengidentikkan ketidak wujudan (non wujud). Hikmah yang didasarkan pada dualisme cahaya dan kegelapan yang ketimuran ini menurut suhrawardi merupakan warisan para guru mistis persia. Hikmah ini sebenarnya terwakili di barat seperti plato. Al-bhusthomi dan al-hallajj melanjutkan tradisi ini dan puncaknya ada pada diri suhrawardi sendiri.

Inti hikmah iluminasi bagi suhrawardi adalah ilmu cahaya yang membahas sifat dan cara pembiasannya. Cahaya ini menurutnya tidak dapat di definisikan karena ia merupakan realitas yang paling nyata sekaligus menampakkan sesuatu. Cahaya ini juga merupakan substansi yang masuk kedalam komposisi semua substansi yang lain-meteril maupun imateril. hubungannya dengan objek-objek dibawahnya cahaya ini memiliki dua bentuk yaitu, cahaya yang terang pada dirinya sendiri dan cahaya yang terang sekaligus menerangi lainnya. Cahaya yang terakhir ini menerangi sagala sesuatu, namun bagaimana statusnya, cahaya tetaplah sesuatu yang terang dan sebagaimana disebutkan ia merupakan sebab tampaknya sesuatu yang tidak bisa tidak beremanassi darinya.[2]

C. Gradasi esensial Epistemologi Iluminasi

Epistemologi Iluminasi – Bagi suhrawardi, apa yang disebut eksistensi hanya ada dalam pikiran. Gagasan umum maupun konsep tidak terdapat pada realitas. Sedang yang benar-benar ada atau realitas yang sesungguhnya hanyalah esensi-esensi yang tidak lain merupakan bentuk-bentuk cahaya. Cahaya-cahaya inilah sesuatu yang nyata dengan dirinya sendiri karena ketidak adaanya berarti kegelapan yang tidak dikenali, namun demikian cahaya mempunya hierarki- hierarki dari yang paling atas sampai terbawah. Hal ini sama dengan filsafat emanasi dalam peritatetisme. Hanya saja dalam emanasi heararki- heararki atau tingkatan-tingkatan itu diidentikkkan dengan intelek.

Dalam pemahaman tentang heararki- heararki wujud, semakin dekat pada sumber cahaya, maka intensitas cahaya suatu tingkatan wujud akan lebih banyak. Semakin jauh dari sumber cahaya maka akan lebih sedikit intensitas cahaya yang diterimanya. Yakni wujud yang lebih dekat kepada tuhan sebagai sumber cahaya akan lebih banyak menerima pancaran dari-nya, sementara wujud yang jauh darinya semekin lemah intensitas cahayanya. Dan dengan demikian makin rendah tingkatannya dalam heararki keberadaan.

Persoalannya, bagaimana realitas cahaya yang beragam tingkat intensitas penampakan tersebut keluar dari cahaya segala cahaya yang esa yang kuat kebenderangannya?. Gagasan suhrawardi memang hampir sama dengan emanasinya yang dikembangkan oleh kaum neo platonis, akan tetapi suhrawardi lebih mengkombinasikan dua proses sekaligus, hal inilah yeng menjadi ciri khas pemikiran suhrawardi. Pertama adanya emanasi dari masing-masing cahaya yang berada dibawah nur al-anwar. Cahaya – cahaya ini benar-benar ada dan diperoleh tetapi tidak berbeda dengan nur al-anwar, Hanya intensitasnya saja yang menjadi ukuran perbedaannya. Kedua, proses ganda iluminasi dan visi (pengelihatan) ketika cahaya pertama muncul, ia mempunyai visi langsung pada nur al-anwar tanpa durasi dan pada momen tersendiri, nur al-anwar menyinari sehingga menyalakan cahaya kedua dan zat serta kondisi yang dihubungkan dengan cahaya pertama. Cahaya kedua ini pada prosesnya menerima tiga cahaya, dari nur al-anwar secara langsung, dari cahaya pertama, dan dari nur al-anwar yang tembus melalui cahaya pertama, Sedang nur al-anwar itu sendiri bersifat tunggal karena, jika kita berasumsi tentang adanya dua cahaya primer, kita akan terlibat kontradiksi bahwa keduanya harus berasal dari cahaya ketiga yang mesti bersifat tunggal.[3]

Dari cahaya pertama, beremanasi cahaya – cahaya sekunder, benda-benda langit dan unsur-insur fisik yang membentuk alam fisik. Unsur-unsur inilah yang disebut oleh suhrawardi dengan barzakh. Objek-objek fisikal menurut suhrawardi muncul akibat perpaduan sifat-sifat yang berlawanan yang elemen utamanya adalah cahaya yang disebut isfandar mood. Inti kekuatan isfandar mood adalah tanah atau debu. Bentuk paling sempurna dari perpaduan elementer ini adalah manusia yang menerima kesempurnaan dari malaikat jibril. Inilah ruh suci yang menghembuskan ruh manusia kedalam diri manusia, ruh ini lalu disebutnya dengan isfahbad kemanusiaan, akan tetapi disamping cahaya manusia atau jiwa rasional ini terdapat dua daya lain dalam diri manusia, yaitu daya marah yang mewujud lewat penaklukkan dan birahi yang mewujud lewat cinta.

D. Epistemologi iluminasi dan metode mendapatkan pengetahuan

Epistemologi Iluminasi – Barang kali dampak filsafat-filsafat tadi yang paling luas mengena pada bidang epistomologi. Prinsip dasar iluminasionis adalah bahwa mengetahui sesuatu berarti memperooleh pengalaman tentangnya,serupa dengan intuisi primer terhadap determinan-determinan sesuatu. Pengetahuan tentang sesuatu berdasarkan pengalaman dianalisis hanya setelah pengalaman intuitif yang total dan langsung tentangnya. Adakah sesuatu dalam pengalaman seorang subjek, demikian barang kali seseorang bertanya yang menuntut agar apa yang diperolehnya diungkapkan dalam bahasa simbolik yang dikontruksi secara khusus? Jawaban bagi pertanyaan ini harus diuji dari berbagai sudut pandang, tetapi jelaslah, bahkan pada tahap ini, bahwa bahasa iluminasi suhrawardi dimaksudkan sebagai kosakata khusus yang melalui bahasa itu pengalaman pengalaman iluminasi mungkin dapat dilukiskan. Jelas pula bahwa interprestasi terhadap simbolisme iluminasi serta implikasinya sebagaimana yang dikemukakan secara terperinci didepan.

Sehubungan dengan hal itu, dia mengemukakan ke-empat tahap yang mesti di tempuh oleh setiap orang dalam proses mendapatkan pencerahan (isyraq). Pertama tahap persiapan untuk menerima pengetahuan iluminatif dimulai dengan kegiatan meninggalkan dunia setelah uzlah atau mengasingkan diri selama empat puluh hari tidak makan daging, bersiap diri untuk menerima nur ilahiah dan seterusnya, yang hampir sama dengan kegiatan asketik dan sufistik.hanya saja disni tidak ada konsep ahwal dan maqomat. Melalui aktivitas seperti ini dengan kekuatan intuitif yang ada pada dirinya yang disebut dengan cahaya tuhan (al-bariq al ilahi) seseorang mengetahui realitas eksistensi dirinya dan mengenal kebenaran intuitifmya melalui ilham dan visi (musyahadah wa mukasyafah) oleh karena itu hal ini terdiri dari

  1. aktivitas tertentu.
  2. kemampuan menyadari intuisinya sendiri sampai mendapatkan cahaya ilahiah.
  3. ilham.

Tahap pertama membawa seseorang ke tahap ke dua yaitu tahap penerimaan dimana cahaya tuhan memasuki wujud manusia.cahaya ini mengambil bentuk sebagai serangkaian cahaya apokaliptik (al-anwar al-saniah) dan melalui cahaya tersebut pengetauhan yang berfungsi sebagai fondasi ilmu sejati diperoleh. Tahap ketiga adalah mengkontruksi pengetahuan yang valid dengan menggunakan analisis diskursif. Disini pengalaman diuji dan dibuktikan dengan sistem berfikir yang digunakan dalam demontrasi (burhan) aristotelian dalam posterior analytics. Sehingga dari situ bisa dibentuik suatu sistem dimana pengalaman tersebut dapat didudukan dan diuji validitasnya, meskipun pengalaman itu sendiri sudah berakhir.hal yang sama dapat diterapkan pada data-data yang didapat dari penangkapan indrawi, jika berkaitan dengan pengetauan iluminatif.

Tahap ke empat adalah pen-dokumentasian dalam bentuk tulisan ataspengetauan atau struktur yang dibangun dari tahap-tahap sebelumnya,dan inilah yangbisa diakses oleh orang lain.Dengan demikian, pengetahuan dalam isyraqi tidak hanya mengandalkan kekuatan intuitif saja, melainkan juga kekuatan rasio. Ia menggabungkan keduanya, metode intuitif dan diskursif, dimana cara intuitif digunakan untuk meraih segala sesuatu yamg tidak tergapai oleh kekuatan rasio sehingga hasilnya merupakan pengetahuan yang tertinggi dan terpercaya.[4]

 DAFTAR PUSTAKA

Bagir, Haidar Buku Saku Filsafat Islam,Bandung, Mizan,2005,Cet 1

Fakhry, Majid, Sejarah Filsafat Islam; Sebuah Peta Kronologis , terj. Zainul AM,Bandung,Mizan,2006

Hossein Nasr, Sayyed, Oliver Leaman,Ensiklopedis Tematis Filsafat Islam, Buku Ke 1,terj. Tim penerjemah mizan,bandung, mizan, 2003

Soleh, A Khudori, Wacana Baru filsafat Islam, Yogyakarta, Pustaka Pelajar,2004, Cet1.

Ziai, Hossein, suhrawardi dan filsafat illuminasi, terj. Afif Muhammad, Munir,Bandung, Zaman wacana mulia, 1998, Cet 1

[1] Ziai, Hossein, suhrawardi dan filsafat illuminasi, terj. Afif Muhammad, Munir,Bandung, Zaman wacana mulia, 1998h22

[2] Soleh, A Khudori, Wacana Baru filsafat Islam, Yogyakarta, Pustaka Pelajar,2004,h

[3] Ziai, Hossein, suhrawardi dan filsafat ..,h 18

[4]Ibid..h 35 Epistemologi Iluminasi

Share This:

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *