RAHASIA BELAJAR EPISTEMOLOGI

epistemologiwww.rangkumanmakalah.com

Pengertian epistemologi

Istilah Epistemologi dipakai pertama kali oleh J.F.Feriere yang dimaksudkan untuk membedakan antasa dua cabang filsafat, yaitu epistemology dan ontology (metafisika umum)[1]. Dalam bahasa Inggris epistemology dikenal sebagai istilah “Theory of Knowledge”. 

Epistemologi berasal dari Yunani yaitu kata “episteme” dan “logos”. Episteme berarti pengetahuan[2] dan logos berarti teori, pikiran, atau ilmu[3]. Dalam rumusan yang lebih rinci disebutkan bahwa epistemology merupakan salah satu cabang filsafat yang mengkaji secara mendalam dan radikal tentang asal mula pengetahuan, struktur, metode, dan validitas pengetahuan[4].

Menurut Poedjiadi epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang pengetahuan, adapun yang dibahas antara lain adalah asal mula, bentuk dan struktur, dinamika, validitas, dan metodologi, yang bersama-sama membentuk perbuatan manusia.[5]

The Encyclopedia of Philosophy mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang bersangkutan dengan sifat dasar dari ruang lingkup pengetahuan, praanggapan-praanggapan dan dasar-dasarnya serta realitas umum dari tuntutan akan pengetahuan[6]

Epistemologi atau filsafat pengetahuan pada dasarnya juga merupakan suatu upaya rasional untuk menimbang dan menentukan nilai kognitif pengalaman manusia dalam interaksinya dengan diri lingkungan social dan alam sekitarnya. Maka epistemologi adalah suatu disiplin yang bersifat evaluative, normative, dan kritis.[7] 

Yang dimaksud sifat diatas adalah:

  1. Evaluative berarti bersifat menilai, ia menilai apakah suatu keyakinan, sikap, pernyataan pendapat, teori pengetahuan, dapat dibenarkan, dijamin kebenarannya, atau memiliki dasar yang dapat dipertanggung jawabkan secara nalar.
  2. Normative berarti menentukan norma atau tolak ukur dan dalam hal ini tolak ukur kenalaran bagi kebenaran pengetahuan. 
  3. Kritis berarti banyak mempertanyakan dan menguji kenalaran cara maupun hasil kegiatan manusia mengetahui.

Istilah-istilah lain yang setara maksudnya dengan epistemologi ialah:

Logika material

Istilah logika material sudah mengandaikan adanya Ilmu pengetahuan yang lain disebut logika formal.

Apabila logika formal menyangkut dengan bentuk pemikiran maka logika material menyangkut isi pemikiran[8].

  1. Gnosiologi

Gnosiologi berarti suatu ilmu pengetahuan atau cabang filsafat yang berusaha untuk memperoleh pengetahuan mengenai hakikat pengetahuan, khususnya mengenai pengetahuan yang bersifat keilahian[9]

  1. Criteriologi

Criteriologi merupakan cabang filsafat yang berusaha untuk menetapkan benar atau tidaknya suatu pikiran atau pengetahuan berdasarkan ukuran tentang kebenaran[10].

Terjadinya pengetahuan

Proses terjadinya pengetahuan adalah masalah yang amat penting dalam epistemologi karena jawaban terhadap terjadinya pengetahuan akan membuat seseorang paham filsafatnya. Jawaban yang sederhana adalah berfilsafat a priori, yaitu ilmu yang terjadi tanpa melalui pengalaman, baik indera maupun batin, atau a posteriori yaitu ilmu yang terjadi karena adanya pengalaman. Dengan demikian pengetahuan ini bertumpu pada kenyataan objektif. 

Ada enam hal yang merupakan alat untuk mengetahui proses terjadinya pengetahuan, yaitu[11]:

Pengalaman Indera (Sense Experience)

Dalam filsafat, paham yang menekankan pada kenyataan disebut realisme, yaitu paham yang berpendapat bahwa semua yang dapat diketahui adalah hanya kenyataan. Jadi ilmu berawal mula dari kenyataan yang dalam diserap oleh indera. Aristoteles adalah tokoh yang pertama mengemukakan pandangan ini, yang berpendapat bahwa ilmu terjadi bila subjek diubah dibawah pengaruh objek. Objek masuk dalam diri subjek melalui persepsi indera (sensasi). 

Nalar (Reason)

Nalar adalah salah satu corak berpikir dengan menggabungkan dua pemikiran atau lebih dengan maksud untuk mendapatkan pengetahuan baru. Hal yang perlu diperhatikan dalam telaah ini adalah tentang asas pemikiran berikut:

  1. Principium Identitas, disebut juga asas kesamaan.
  2. Principium Contradictionis, disebut juga asas pertentangan.
  3. Principium Tertii Exclusi, disebut sebagai asas tidak adanya kemungkinan ketiga. 
  4. Otoritas (Authority)

Otoritas adalah kekuasaan yang sah yang dimiliki oleh seseorang dan diakui oleh kelompoknya. Otoritas menjadi salah satu sumber ilmu karena keompoknya memiliki pengetahuan melalui seseorang yang memiliki kewibawaan dalam pengetahuannya. Jadi ilmu pengetahuan yang terjadi karena adanya otoritas adalah ilmu yang terjadi melalui wibawa seseorang hingga orang lain mempunyai pengetahuan. 

Intuisi (Intuition)

Intuisi adalah kemampuan yang ada pada diri manusia yang berupa proses kejiwaan tanpa suatu rangsangan atau stimulus mampu membuat pernyataan yang berupa ilmu. Karena ilmu yang diperoleh melalui intuisi muncul tanpa adanya pengetahuan lebih dahulu, maka tidak dapat dibuktikan seketika atau melalui kenyataan. 

Wahyu (Revelation)

Wahyu adalah berita yang disampaikan oleh Tuhan kepada nabi-Nya untuk kepentingan umatnya. Seseorang yang mempunyai pengetahuan melalui wahyu secara dogmatik akan melaksanakan dengan baik. Wahyu dapat dikatakan sebagai salah satu sumber pengetahuan, karena manusia mengenal sesuatu melalui kepercayaannya. 

Keyakinan (Faith)

Keyakinan adalah suatu kemampuan yang ada pada diri manusia yang diperoleh melalui kepercayaan. Sesungguhnya antara wahyu dan keyakinan hampir tidak dapat dibedakan karena keduanya menggunakan kepercayaan, perbedaannya adalah bahwa keyakinan terhadap wahyu yang secara dogmatic diikutinya adalah peraturan berupa agama, sedang keyakinan adalah kemampuan jiwa manusia yang merupakan pematangan (maturation) dari kepercayaan. 

ARTI PENGETAHUAN

Pengetahuan adalah suatu istilah yang digunakan untuk menuturkan apabila seseorang mengenal tentang  sesuatu[12]. Sesuatu yang menjadi pengetahuanya adalah yang terdiri dari unsur yang mengetahui dan yang diketahui serta kesadaran mengenai hal yang ingin diketahuinya. Maka pengetahuan selalu menuntut adanya subyek yang mempunyai kesadaran untuk ingin mengetahui tentang sesuatu dan objek sebagai hal yang ingin diketahuinya. Jadi pengetahuan adalah hasil usaha manusia untuk memahami suatu objek tertentu. 

Semua pengetahuan hanya dikenal dan ada dalam pikiran manusia, tanpa pikiran pengetahuan tidak bisa eksis. Jadi keterkaitan antara pengetahuan dengan pikiran merupakan sesuatu yang kodrati. Menurut John Hospers dalam bukunya An Introduction to Philosophical Analysis mengemukakan ada enam alat untuk memperoleh pengetahuan[13], yaitu:

Mengamati (observes)

Pikiran berperan dalam mengamati obyek-obyek. Dalam melaksanakan pengamatan terhadap objek itu maka pikiran haruslah mengandung kesadaran. Oleh karena itu, disini pikiran merupakan suatu bentuk kesadaran.

  1. Menyelidiki (inquires)

Dalam penyelidikan minatlah yang membimbing seseorang secara alamiah untuk terlibat kedalam pemahaman pada obyek-obyek

Percaya (believes)

Manakala suatu objek muncul dalam kesadaran, biasanya objek itu diterima sebagai objek yang menampak. Sikap menerima sesuatu yang menampak  sebagai pengertian yang memadai setelah keraguan, dinamakan kepercayaan.

Hasrat (desires)

Tanpa pikiran tidak mungkin ada hasrat. Beberapa hasrat muncul dari kebutuhan jasmani (nahfsu makan, minum, istirahat, tidur) hasrat diri (keinginan pada obyek, kesenangan). 

Maksud (intends)

Kendatipun memiliki maksud ketika akan mengobservasi, menyelidiki, mempercayai, dan berhasrat, namun sekaligus perasaanya tidak berbeda atau bahkan terdorong ketika melakukannya.

Mengatur (organizes)

Setiap pikiran adalah suatu organism yang teratur dalam diri seseorang. 

Menyesuaikan (adaps)

Menyesuaikan pikiran sekaligus melakukan pembatasan-pembatasan yang dibebankan pada pikiran melalui kondisi keberadaan yang tercakup dalam otak dan tubuh didalam fisik, biologis, lingkungan social, dan cultural dan keuntungan yang terlihat padda tindakan, hasrat dan kepuasan. 

menikmati  (enjoys)

Pikiran-pikiran mendatangkan keasyikan. Orang yang asyik dalam menekuni suatu persoalan, ia akan merasakan itu dalam pikirannya.

D.      Jenis-jenis pengetahuan – epistemologi

Pengetahuan menurut Soejono Soemargono yang dikutip oleh Surajio dalam buku ilmu filsafat suatu pengantar dapat dibagi menjadi dua,[14] yaitu: 

  1. Pengetahuan nonilmiah
  2. Pengetahuan ilmiah

Pengetahuan nonilmiah adalah pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan cara-cara yang tidak termasuk dalam kategori metode ilmiah. Secara umum pengetahuan nonilmiah ialahsegenap hasil pemahaman manusia atas sesuatu atau objek tertentu dalam kehidupan sehari-hari

Sedangkan pengetahuan ilmiah adalahsegenap hasilpemahaman manusia yang diperoleh dengan menggunakan metode-metode ilmiah. 

Pengetahuan ilmiah mempunyai 5(lima) ciri pokok sebagai berikut:

  1. Empiris. Pengetahuan itu diperoleh berdasarkan pengamatan dan percobaan
  2. Sistematis. Berbagai keterangan dan datayang tersusun sebagai kumpulan pengetahuanini mempunyai hubungan ketergantungan dan teratur
  3. Objektif. Ilmu berarti pengetahuan itu bebas dari prasangka perseorangan dan kesukaan pribadi
  4. Analitis. Pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya kedalam bagia-bagian yang terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan, dan peranan dari bagian-bagian itu.
  5. Verifikatif. Dapat diperiksa kebenarannya oleh siapapun itu[15].

E.       Teori kebenaran

Pada umumnya ada beberapa teori kebenaran [16]yaitu:

Teori kebenaran saling berhubungan

Teori ini berpandangan bahwa suatu proposisi itu benar apabila berhubungan dengan ide-ide dari proposisi yang telah ada atau benar, atau juga apabila proposisi itu berhubungan dengan proposisi terdahulu yang benar

Teri kebenaran saling berkesesuaian

Teori ini berpandangan bahwa suatu bernilai apabila saling berkesesuaian dengan dunia kenyataan. 

Teori kebenaran inherensi

Teori ini pandangannya adalah suatu proposisi bernilai benar apabila mempunyai konsekuensi yang dapat dipergunakan atau bermanfaat. 

Teori kebenaran berdasarkan arti

Teori ini berpandangan bahwa proposisi itu ditinjau dari segi arti atau maknanya. 

Teori kebenaran sintaksis

Teori ini berpandangan bahwa suatu pernyataanmemiliki nilai benar apabila pernyataan itu mengikuti aturan sintaksis yang baku. Atau dengan kata lain apabila proposisi itu tidak mengikuti syarat atau keluar dari hal yang diisyaratkan maka proposisi itu tidak mempunyai arti. 

Teori kebenaran nondeskripsi

Teori kebenaran ini pada dasarnya suatu statemen atau pernyataan akan mempunyai nilai benar yang amat tergantung peran dan fungsi dari pada pernyataan itu. 

Teori kebenaran logis yang berlebihan

Pada dasarnya menurut teori kebenaran ini , bahwa problema kebenaran hanya merupakan kekacauan bahasa saja dan berakibat suatu pemborosan. 

demikian ulasan singkat seputar rahasia belajar epistemologi, semoga bermanfaat.

situs: www.rangkumanmakalah.com

Daftar Pustaka

Anshari,Endang Saifuddin, Ilmu Filsafat dan Agama, Surabaya: Bina Ilmu, 1991

Aziz, Abdul, Filsafat Pendidikan Islam, Surabaya: Elkaf, 2006

Dardiri, Humaniora, Filsafat, dan Logika, Jakarta: Rajawali,1985

Kattsoff, O Louis, Pengantar Filsafat, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya,1989

Muthahhari, Ayatullah Murtadha, Pengantar Epirtemologi Islam, Jakarta: Shadra press,2010

Poedjawijatna, Tahu dan Pengetahuan Pengantar ke Ilmu dan Filsafat, Jakarta: Bina aksara, 1987

Surajiyo, Filsafat ilmu dan Perkembangannya diIndonesia, Jakarta: Bumi Aksara,2010

Surajiyo, Ilmu Filsafat suatu Pengantar, Jakarta: Bumi Aksara, 2005

Susanto, Filsafat Ilmu Suatu Kajian, dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologi, Jakarta: Bumi aksara 2011


[1] Surajiyo, Filsafat ilmu dan Perkembangannya diIndonesia,(Jakarta: Bumi Aksara, 2010)

[2] Sudarsono, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1993) 137

[3] Susanto, Filsafat Ilmu Suatu Kajian, dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologi, (Jakarta: Bumi aksara 2011)136

[4] Surajiyo, Filsafat ilmu dan Perkembangannya diIndonesia……………..

[5] Susanto, Filsafat Ilmu Suatu Kajian, dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologi,……

[6] Dardiri, Humaniora, Filsafat, dan Logika, (Jakarta: Rajawali,1985) 18

[7] Aziz, Filsafat Pendidikan Islam,(Surabaya: Elkaf, 2006)72

[8] Surajiyo,Ilmu Filsafat Suatu Pengantar,…………

[9] Dardiri, Humaniora, Filsafat, dan Logika,……………………..

[10] Surajiyo,Ilmu Filsafat Suatu Pengantar,…………………

[11] Surajiyo,Ilmu Filsafat Suatu Pengantar,……………………

[12]Surajiyo, Filsafat ilmu dan Perkembangannya diIndonesia………………………..

[13] Surajiyo, Filsafat ilmu dan Perkembangannya diIndonesia………

[14] Surajiyo,Ilmu Filsafat Suatu Pengantar,………………..

[15] Surajiyo,Ilmu Filsafat Suatu Pengantar,……………..

[16] Surajiyo,Ilmu Filsafat Suatu Pengantar,…………………

Share This:

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *