FILSAFAT YUNANI DAN KEBANGKITAN FILSAFAT ISLAM

kebangkitan filsafat islam

kebangkitan filsafat islam

www.rangkumanmakalah.com

PENDAHULUAN

Al-Qur’an secara tegas telah memberi kemungkinan  bagi pemikiran-pemikiran filosofis di dalam Al-Qur’an terdapat sejumlah ayat yang menyuruh manusia untuk menggunakan daya nalarnya dengan menjadikan alam semesta sebagai obyek pikirannya. Ayat-ayat Al-Qur’an itu, disamping mendorong timbulnya ilmu pengetahuan yang amat berguna buat kemakmuran hidup manusia, juga merangsang munculnya pemikiran filosofis dalam islam, kebangkitan filsafat islam. meskipun demikian, sebagian kaum muslimin menolak filsafat, karena mereka beranggapan bahwa filsafat hanya akan membawa kepada kekufuran dan pengingkaran agama seperti kaum materialis.[1] 

Islam mengakui bahwa selain kebenaran hakiki yang berasal dari Tuhan, masih ada lagi kebenaran yang  tidak  bersifat absolute, yaitu kebenaran yang dicapai sebagai hasil akal budi manusia, maka wajar bila akal mampu pula mencapai kebenaran, walaupn kebenaran yang dicapainya itu hanyalah dalam taraf relative atau nisbi. Oleh sebab itu, apabila kebenaran yang nisbi itu tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan sunnah, maka kebenaran itu dapat saja dijadikan pegangan dan dapat digunakan dalam kehidupan ini, oleh karena itu pemikiran-pemikiran filosofis perlu digalakkan dalam setiap kehidupan. 

Tradisi filsafat pertama kali muncul didaratan yunani tepatnya dipesisir samudra miditerania. Beberapa abad lamanya tanah yunani inilah yang merupakan tempat bersemainya filsafat. Kalangan muslim mengenal filsafat pada awal abad ke-VIII kendatipun islam sudah dikenal didunia sejak awal abab ke-VII M. hal ini disebabkan karena pada abad pertama perkembangan islam tidak terdapat isme-isme atau faham-faham selain wahyu. Dikalangan kaum muslim filsafat dianggap berkembang dengan baik mulai abad ke-IX M hingga abad XII. Keberadaan filsafat pada masa ini juga menandai masa kegemilangan dunia islam yaitu selama masa daulah abbasiyah dibaqhdad (750-1258) dan daulah amawiyah dispayol (755-7492)[2].

Dalam pemaparan makalah ini penulis memfokuskan akar sejarah filsafat islam beserta kebangkitan-kebangkitan yang dihasilkannya, karena filsafat islam  merupakan pembahasan yang meliputi berbagai persoalan alam semesta serta berbagai hal terkait masalah manusia atas dasari ajaran-ajaran keagamaan yang turun bersama lahirnya agama Islam. Ketika filsafat muncul dalam kehidupan islam kemudian berkembang dan banyak dibicarakan oleh orang arab tampilah beberapa filosof seperti Al-kindi, al-Farobi, ibn sina ibn thufail dan ibn rusyd. Banyak  Kaum sejarawan banyak menulis buku tentang otobiogrfi kehidupannya, pendapat serta buah pemikiran mereka. 

Pemaparan selanjutnya  pada identifikasi penyebutan dan pengelompokan dari tiap tokoh-tokoh tersebut. Dari sini muncul berbagai pendapat yang berkembang. Ada yang menyebut dengan kaum filosof islam ada pula yang menamakan para filosof beragama islam karena mengingat mayoritas dari mereka adalah beragama islam. Berkembang pendapat lain yang menyebut dengan filosof arab walaupun tanpa mengesampingkan filosof yang berkebangsaan selain arab. Pendapat yang terakhir dengan mempertimbangkan berbagai alasan serta isu yang berkembang menamakan para filosof yang berada diwilayah islam karena dengan penamaan ini diasumsikan bahwa baik filosof yang berkebangsaan selain arab maupun beragama selain islam namun hidup dan berkarya pada pemerintahan islam dapat terakomodasi semuanya.

Oleh karena itu untuk menghindari simplikasi penulis akan mengurai akar sejarah filsafat islam, namun penulis terlebih dahulu memberikan definisi tentang filsafat.

  1. DEFINISI FILSAFAT

Kata filsafat atau falsafat dalam bahasa Arab, berasal dari bahasa yunani yaitu Philosophia yang berarti “cinta kepada pengetahuan” yang terdiri dari dua kata yaitu Philos yang berarti cinta (loving) dan shopia yang berarti pengetahuan (Wisdom, hikmah). Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut “Philosophos” atau “failasuf” dalam ucapan arabnya. Pecinta pengetahuan ialah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai usaha dan tujuan hidupnya, atau dengan perkataan lain, orang yang mengabdikan dirinya kepada pengetahuan.[3] 

Menurut Cicero, Penulis Romawi (106-43 SM), orang yang pertama-tama memakai kata-kata filsafat ialah Pytagoras (487 SM), sebagai reaksi terhadap orang-orang  cendikiawan pada masanya yang menamakan dirinya “Ahli pengetahuan”. Phytagoras mengatakan bahwa pengetahuan dalam artinya yang lengakp tidak sesuai untuk manusia. Tiap-tiap orang mengalami kesukaran-kesukaran dalam memperolehnya dan meskipun menghabiskan seluruh umurnya, namun ia tidak akan mencapai tepinya. Jadi pengetahuan adalah perkara yang kita cari dan kita ambil sebagian darinya tanpa mencakup keseluruhannya. Oleh karena itu, maka kita ini bukan ahli pengetahuan, melainkan pencari dan pecinta pengetahuan, yaitu filosof.[4]

Menurut prof. Pudja Wijatna, dia menerangkan makna Philos artinya cinta dalam arti yang seluas-luasnya yaitu, “ingin”. Dan karena ingin itu selalu berusaha mencapai yang diinginkannya. Sedangkan Shopia artinya kebijaksanaan yang berarti pandai, mengerti dengan mendalam, dengan mengacu pada konsepsi ini maka dipahami bahwa filsafat merupakan keinginan untuk mencapai pandai dan cinta kepada kebijaksanaan.[5]

Syekh Mustafa Abdurraziq, setelah meneliti pemakaian kata-kata “filsafat” dikalangan muslimin, maka ia berkesimpulan bahwa kata-kata “hikmah dan hakim” dalam bahasa arab dipakai dalam arti “filsafat dan Filosof” dan sebaliknya, mereka mengadakan hukamaul-islam atau Filasifatul-islam. Asal makna kata hikmah ialah “tali kendali” untuk kuda untuk mengekang kenakalannya. Dari sini, maka diambillah kata-kata hikmah dalam arti pengetahuan atau kebijaksanaan karena hikmah ini menghalangi orang yang memilikinya untuk melakukan perbuatan yang rendah dan hina.

Hikmah dapat dicapai manusia melalui kemampuan daya nalar dan metode berfikirnya. Datangnya hikmah bukan dari penglihatan mata kepala saja, tetapi juga melalui matahati dan pikiran yang bertuju kepada tanda-tanda kebesaran Tuhan yang ada dialam ini. oleh karena itu, Al-Qur’an banyak menjaga manusia untuk melihat dan berfikir. 

  1. FILSAFAT YUNANI

Orang Yunani yang hidup pada abad ke-6 SM mempunyai sistem kepercayaan bahwa segala sesuatunya harus diterima sebagai suatu kebenaran yang bersumber pada mitos atau dongeng-dongeng. Artinya, suatu kebenaran lewat akal pikir (logos) tidak berlaku, yang berlaku hanya suatu kebenaran yang bersumber pada mitos.

Setelah pada abad ke-6 SM muncul sejumlah ahli pikir yang menentang adanya mitos. Mereka menginginkan pertanyaan tentang misteri alam semesta ini jawabannya dapat diterima akal (Rasional). Keadaan yang demikian ini sebagai suatu demitologi, artinya suatu kebangkitan pemikiran untuk menggunakan akal pikir dan meninggalkan hal-hal yang sifatnya mitologi. Upaya para ahli pikir untuk mengarahkan kepada suatu kebebasan berpikir ini kemudiian banyak orang yang mencoba membuat suatu konsep yang dilandasi kekuatan akal pikir secara murni. Maka timbullah peristiwa ajaib The Greek Miracle yang artinya dapat dijadikan sebagai landasan peradaban dunia. 

Terdapat 3 faktor yang menjadikan filsafat Yunani lahir, yaitu :[6]

  1. Bangsa Yunani yang kaya akan mitos (dongeng), dimana mitos dianggap sebagai awal dari upaya orang untuk mengetahui atau mengerti. Mitos-mitos tersebut kemudian disusun secara sistenmatis yang untuk sementara kelihatan rasional sehingga muncul mitos selektif dan rasional, seperti karya Homerus, Orpheus dan lain-lain.
  2. Karya sastra Yunani yang dapat dianggap sebagai pendorong kelahiran filsafat Yunani, karya Homerus mempunyai kedudukan yang sangat penting untuk pedoman hidup orang-orang Yunani yang di dalamnya mengandung nilai-nilai edukatif.
  3. Pengaruh ilmu-ilmu pengetahuan yang berasal dari Babylonia (Mesir) di lembah Sungai Nil. Kemudian berkat kemampuan dan kecakapannya ilmu-ilmu tersebut dikembangkan sehingga mereka mempelajarinya tidak didasarkan pada aspek praktisnya saja, tetapi juga aspek teoritis kreatif.

Dengan adanya ketiga faktor tersebut, kedudukan mitos digeser oleh logos (akal), sehingga setelah pergeseran tersebut filsafat lahir.

Pengertian filsafat pada waktu itu masih berwujud ilmu pengetahuan yang masih global, sehingga nantinya satu demi satu berkembang dan memisahkan diri menjadi ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri.

Pada zaman Yunani ini terbagi menjadi dua periode, yaitu ; periode Yunani Kuno dan periode Yunani Klasik. Periode Yunani Kuno diisi oleh ahli pikir alam (Thales, Anaximandros, Pythagoras, Xenophones dan Democritos). Sedangkan pada periode Yunani Klasik diisi oleh ahli pikir seperti Socrates, Plato dan Aristoteles. 

  1. KONSEPSI FILSAFAT ISLAM ATAU FILSAFAT ARAB DAN KEBANGKITAN FILSAFAT ISLAM

Para pakar tidak sama dalam memberikan nama dalam filsafat islam, apakah filasafat islam, ataukah filsafat arab. Diantara para pakar dan penulis-penulis yang menamakan filsafat arab ialah Maurice de Wulf dalam bukunya histoire de la philosophie medievile (sejarah filsafat abad pertengahan- Lutfi As-sayyid) dari mesir juga memakai istilah tersebut dalam muqaddimah terjemahannya terhadap buku Aristoteles: etika untuk nikomakus. 

Para pakar dan penulis-penulis yang memakai istilah filsafat islam antara lain ialah Max Horten, sarjana jeman dalam soal-soal keislaman, dan Carra de Vaux dalam bukunya les penseur de I’islam (tokoh-tokoh pikir islam). 

Alasan golongan yang memakai istilah kebangkitan filsafat islam ialah karena kebanyakan tokoh-tokohnya bukan dari keturunan semit/bukan dari ummat arab. Oleh karena itu, maka filsafat tersebut dipertalikan kepada islam, kerana agama islam mempunyai pengaruh yang  jelas  sekali terhadapnya, lagipula hidup dan berkembangnya filsafat tersebut adalah dinegeri-negeri islam dan dibawah naungan islam.[7]

Dr. Ibrahim Madzkur mengatakan, filsafat arab bukanlah berarti bahwa ia adalah produk suatu rasa atau ummat tertentu, meskipun demikian saya mengutamakan menamakannya filsafat islam, karena islam bukanlah aqidah saja, tetapi juga sebagai peradaban. Setiap peradaban mempunyai peradaban sendiri dalam aspek moral, material, intelektual dan emosional. Dengan demikian mencakup seluruh study filosofis yang ditulis dibumi islam, apakah ia hasil karya orang-orang islam atau orang-orang nasrani ataupun orang-orang yahudi. 

Prof. Mu’in menyatakan jika filsafat itu disebut dengan filsafat arab, berarti mengeluarkan orang-orang iran, orang Afganistan orang Pakistan dan orang India. Oleh karena itu, lebih memilih tema Filsafat islam. Demikian pula orientalis perancis courbin, seorang ismolog dan kebudayaan iran, membela filsafat islam, sebagaimana dikatakannya, jika kita mengambil nama filsafat arab, pengertiannya sempit sekali bahkan keliru.

Sebenarnya perbedaan istilah tersebut hanya perbedaan nama saja, sebab bagaimanapun hidup dan suburnya pemikiran tersebut (filsafat) adalah dibawah naungan islam, dan kebanyakan karnyanya ditulis dalam bahasa arab, kalau yang dimaksud dengan filsafat arab ialah bahwa filsafat tersebut adalah hasil ummat arab semata-mata maka, tidak benar, sebab kenyataan menujukkan bahwa islam telah mempersatukan berbagai ummat, dan kesemuanya telah ikut serta dalam memberikan sumbangannya dalam filsafat tersebut.

Kalau yang dimaksud dengan filsafat islam ialah bahwa filsafat tersebut adalah hasil pemikiran kaum muslimin semata-mata, juga berlawanan dengan sejarah, karena mereka pertama-tama berguru pada aliran nistorius dan jacobrias dari golongan yahudi dan masehi dan kegiatan mereka dalam berilmu dan berfilsafat selalu berhubungan dengan orang-orang masehi dan yahudi yang ada pada masanya. 

Namun pemikiran-pemikiran filsafat pada kaum muslimin, lebih tepat disebut filsafat islam mengingat bahwa islam bukan saja sekedar agama tetapi juga kebudayaan. Pemikiran filsafat sudah barang tentu terpengaruh oleh kebudayaan islam tersebut. Meskipun demikian tersebut adalah islam baik yang problema-problemanya, motif pembinaannya maupun tujuannya, karena islam telah memadu dan menampang aneka kebudayaan serta pemikiran dalam satu kesatuan. Disisi yang ain pemakaian istilah filsafat islam lebih banyak dipakai dalam buku-buku filsafat, seperti An-nazat dan Asy-syifa dari Ibnu Sina dalam buku Al-Milal wannihal dari  As-syihrisani dan dalam buku Ahbar al-hukmah dari Al-qafi. 

  1.  DAMPAK FILSAFAT YUNANI TERHADAP KEBANGKITAN FILSAFAT  ISLAM

 Alexander agung menaklukkan Darius pada tahun 331 atau sekitar abad ke-IV sebelum masehi di arbella. Alaexander datang dengan membawa perdamaian ia sedikitpun tidak menghancurkan kebudayaan persia maupun kebudayaan daerah-derah yang dikuasainya dengan kebudayaan yunani sebagai sentralnya. Ini berimplikasi pada dibukanya pusat-pusat kebudayaan yunani timur seperti alexandrea dimesir, antokia di siria, jundishapur di Mesopotamia dan Bactra dipersia. Diwilayah barat dikenal atena dan roma sebagai pusat kebudayaan hal ini terkenal dengan hellenisme. setelah Alexander tutup usia maka tonggak estafet diwariskan kegenarasi selanjutnya  seperti ptolemius dan seleocus dengan peradaban-peradaban diwilayah lainnya[8].

Pemikiran filsafat mulai masuk kedunia islam melalui filsafat yunani yang dijumpai kaum muslimin pada abad ke-8 masehi atau abad ke-2 hijriyah di suriah, mesopotamia, Persia dan mesir, kebudayaan dan filsafat yunani masuk kedaerah-daerah itu melalui ekspansi Alexander Agung, raja masedonia (336-323 SM) setelah mengalahkan Darius pada abad ke-4 SM. Di Arbella (sebelah timur tinggris). Alexander datang dengan tidak menghancurkan kebudayaan dan peradaban Persia, bahkan sebaliknya ia berusaha menyatukan kebudayaan yunani dan Persia. Hal ini telah meninggalkan  bekas besar didaerah-daerah yang pernah dikuasainya sehingga timbullah pusat-pusat kebudayaan yunani ditimur, seperti Alexadria di mesir, antiokia di suriah, Jundisyapur di Mesopotamia dan Petra di Persia.[9] 

Para khalifah Dinasti Abbasiah pada mulanya hanya tertarik pada ilmu kedokteran yunani dengan system pengobatannya, tetapi kemudian mereka juga tertarik pada filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya. Perhatian pada filsafat meningkat zaman khalifah Al-Ma’un (813-833) dan Harun Ar-rasyid karena pada saat itu kitab-kitab filsafat khususnya kitab filsafat yunani sudah diterjemahkan kedalam bahasa arab, pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid utusan dikirim kerajaan Romawi dieropa untuk mencari manuskrip yang kemudian dibawa ke Bagdad untuk diterjemahkan kedalam bahasa arab.

Dalam kegiatan penerjemahan ini, sebagian besar karangan Aristoteles, plato, karena mengenai Neo-Platonisme, karangan Galen, buku-buku ilmu kedokteran dan filsafat berhasil diterjemahkan kedalam bahasa arab sehingga dapat dibaca oleh kaum muslimin dan para alim ulama’nya.[10] 

 Yang perlu digaris bawahi adalah para ilmuwan muslim tidak mengambil filsafat yunani secara keseluruhan tetapi mengadakan perubahan dengan disesuaikan kedalam ajaran islam, mengenai pengambilan filsafat yunani, Mont Gomerry Watt mengatakan bahwa filsafat tidak akan hidup dengan menterjemahkan dan mengulang-ulang pemikirannya orang lain. Tetapi menterjemahkan filsafat hanya bisa dilakukan kalau sudah ada dasar pemikiran dari bahasa itu.

Dari sini bisa dianalisa, bahwa pengambilan filsafat yunani dari proses penterjemahannya dijadikan perbandingan dan rujukan para filosof islam untuk menciptakan filsafat yang bernafas islam. Tetapi ada sebagian orang yang mengambil dan merobah sesuai dengan ajaran-ajaran agama islam.

Golongan yang banyak tertarik kedalam filsafat yunani adalah kaum mu’tazilah yang bercorak rasional dan liberal. Abu huzail Al-laf, Ibrahim An-nazam, Biisyr Al-mu’tamir, Al-juba’I, adapula golongan yang menamakan diri golongan rahasia (jamiatus sorriyah) yang dikomandani oleh Ihkwan As-syafa’ yang begerak dalam ilmu pengetahuan khususnya filsafat. Ihwanussyafa’ menyusun kitab Razal Ikhwanus-syafa’ yang terdiri dari 51 buku. Rasail ini memuat kumpulan filsafat islam yang meliputi Maujudad asal-usul alam, rahasia alam,  dan lain-lain. Kebanyakan anggota Ikhwanus syafa’ ini adalah aliran Mu’tazilah dan Syi’ah yang ekstrim. Tokohnya adalah Abul A’la Al-ma’ari dan Ibnu Hayyan At-taukidi dan Ibnu Zanji.[11] 

Para cendikiawan muslim pada umumnya tidak mengambil pemikiran filsafat yunani secara mentah-mentah akan tetapi mereka juga melakukan kreatifitas dalam beberapa segi dan menyesuaikannya  dengan corak pemikiran dan ajaran islam. Sehingga filsafat yang pada tahap awalnya ditegakkan atas dasar ilmu pengetahuan tentang matematika dan alam mulai berpindah bahasanya dan masuk pada beberapa khazanah keilmuan islam. Dari situ muncul pemikiran yang khas pada diri para pilosof islam. Pada waktu filsafat telah masuk kebeberapa keilmuan islam, seperti ilmu kalam yang mempersoalkan tentang Qodim dan barunya kalam Allah. Muktazilah adalah sebagai satu kelompok yang mempertahankan kebaharuan kalam. Sementara lawannya yaitu ibn hambal dan asyariyah berpandangan pada qodimnya kalam Allah. Diskusi-diskusi ini merambat pada isu-isu ketuhanan lainnya dan dalam keyataan praktisnya telah menggunakan dalil aqli melebihi dalil naqli. Pada ranah inilah filasafat masuk dan berperan sebagai penyokong argumentasi aqli atas dasar ini beberapa pakar memasukkan ilmu kalam dalam lingkup filsafat islam diantaranya ibn Kholdun dalam muqoddimah, Al-Iji dalam Al-Mawaqib dsb[12].

Kebangkitan filsafat islam melahirkan cendikiawan terkemuka dibidang filasafat yang populer diseluruh saentero dunia, mulai islam kawasan timur (Masyriqi) sampai islam kawasan barat (maghribi):

1. Filosof Islam dikalangan Timur.

a. Al-kindi

Nama lengkapnya adalah Abu yusuf bin Ishak Al-khindi (wafat 873 M), ia berasal dari kabilah kindah yaitu salah satu kabilah terpandang dikalangan masyarakat dan bermukin didaerah kalangan hijaz, akan tetapai al-kindi dilahirkan di kuffah sekitar tahun 79 M[13]. al-kindi menganut aliran mu’tazilah pada masa al-kindi merupakan masa penerjemahan naskah-naskah asing kedalam bahasa arab dan al-kindi disebut-sebut juga sebagai anggota penerjemah pada era tersebut. Al-kindi mempelajari berbagai bidang ilmu pengetahuan selain seorang filosof beliau juga mahir dalam bidang kedokteran, logika, ilmu hitung, astronomi, ilmu jiwa, politik, matematika, music optika dsb. Menurut keterangan Al-Nadzim buku-buku yang ia tulis berjumlah sekitar 241 yang mencakup karya-karya diatas. Bahkan karyanya tentang optika diterjemahkan dalam bahasa latin dan mempengaruhi   banyak tokoh  semisal Roger Bacon[14].

Al-kindi dikenal sebagai filosof arab yang memperkenalkan filsafat yunani dikalangan kaum muslimin, ajarannya tentang filsafat adalah antara agama dan filsafat sama-sama menghendaki kebenaran, agama menempuhnya lewat syariat sedangkan filsafat menempuhnya dengan bukti-bukti rasio.

b. Ibn sina atau avicenia

syeikhh Al-Rois Abu Ali Al-Husai Ibn Abdullah Ibnu Sina (Avicenia) lahir tahun 980 M di Buchoro’ beliau adalah seorang filosof Persia kenamaan yang sangat produktif dalam menuslis dan menghasilkan karya-karya. Beliau menulis karya-karya yang tidak hanya bersifat cabang akan juga pada persoalan ranting yang terperinci. Sehingga pada awal ke-V H masyarakat mengenal beliau dengan sebutan Al-Syeikh. salah satu pandangan ibn sina adalah bahwa tuhan wajibul wujud (Allah pasti ada) dan seluruh ala ini dan semua bagian-bagannya memiliki keterkaitan asal-usul dengan wajibul wujud[15].

 dalam ilmu filsafat beliau banyak mengarang buku diantaranya As-syifa’, Al-ti’su’ Rasail fil hikmah yang sebagian besar memuat hubungan agama dengan filsafat. Karya lainnya dalam bidang kedokteran Al-Qonun Fi Al-Tibb telah diterjemahkan kedalam bahasa latin sampai abad ke 17. 

c. Al-Farabi

Al-Farabi lahir diturkistan tahun 870 M beliau berguru dibaghdad untuk mempelajari sains dan filasafat banyak belajar dari guru Kristen, filsafat Al-farabi ini merupakan bentuk dari neo-platonisme yang disesuaikan dengan doktrin islam. Seperti halnya filsafat politiknya Al-farabi banyak mengambil dari republic dan law-nya plato. Orang arab menamaknnya sebagai guru kedua karena mereka berpandangan Aristotels sebagai guru pertama. Al-farabi mempelajari ilmu diantaranya ilmu pasti dan filsafat, ia belajar tentang semantik pada Abu Basr Matta Ibn Yunus di bagdad. Ia tinggal dibagdad selama duapuluh tahun dan mempelajari semantik samapi akhir atas dasar itulah mungkin ia dijuluki sebagai guru kedua yaitu sebagai cendekia yang pertama kali mengenalkan ilmu simantik kedalam budaya arab sementara ariestoteles sebagai orang yang pertama menciptakan ilmu simantik disebut sang guru pertama[16]. al-farobi berkeyakinan bahwa filsafat tidak boleh dibocorkan sampai ketanganorang awam ia juga berkeyakinan bahwa antara agama dengan filsafat tidak bertentangan akan tetapi keduanya sama-sama membawa kepada kebenaran. Karya al-farabi yang berjudul isha’AlUlum telah diterjemahkan kedalam bahasa latin dan mempengaruhi kehidupan barat pada abad pertengahan hingga dijadikan dasar dalam menetapkan penggolongan jenis pengetahuan[17].

2. Filosof Islam dikawasan Barat

a. Ibnu Rusyd (Averoush)

Ibn Rusyd memiliki nama lengkap  abu Al-Wahid Muhammad Ibn Ahmad Ibn Rusyd. beliau adalah seorang filosof kelahiran cordova dan beliau dibesarkan dalam keluarga ahli fiqih ayahnya seorang ahli hakim. Ia menaruh minat yang sangat besar pada berbagai bidang ilmu, diantaranya kedokteran dan fiqih karyanya dalam bidang kedokteran kulliyat Fi AlThibb yang dijadikan pedoman bahkan diterjemahkan kedalam bahasa latin[18], demikian pula fatwa dan pendapatnya dalam fiqih yang tarangkum dalam kitab Bidayah AlMujatahid, beliau terkenal dengan karya Tahafut Al-Tahufutyang merupakan counter terhadap karya al-gazali Tahafut Alfalasifah dn beliau wafat tahun 594 M.

b. Ibn Thufail

Nama lengkap beliau adalah Abu Bakar Muhammad Ibn Abdu Al-Malik Ibn Muhammad Ibn Thufail yang dalam istilah eropa dikenal dengan Abubacer berasal dari cordova. Ia dilahirkan dekat kota Granada Andalusia pada awalnya beliau menekuni dibidang kedokteran dan menjadi mashur dibidang itu.karya ibn Tufail tidak ada yang sampai ketangan kita kecuali Hayyu Ibn Yaqdzan. Risalah ini sesungguhnya berisikan berbagai rumusan filsafat yang beliau sampaikan dengan lambang. Hayyiu ibn yaqdzan adalah lambang akal fikiran, adapun teman-temannya melangbangkan selera syahwat, perasaan marah dan tabiat lainnya yang ada dalam diri manusia, diskusi yaqdzan dengan teman-temannya merupakan perlambangan pertenatang anatara akal dan selera sayhwat. Dalam muqoddimahnya ibn Tufail menjelaskan tujuan risalahnya tersebut yaitu menyaksikan kebenaran (Al-haq) menurut cara yang ditempu oleh Ahl AlDzauq dan mujahadah yang telah mencapai tingkat kewalian[19].

 F.     PENUTUP

Filsafat mulai merambah ke dunia islam pada abad ke 8 atau ke -2 H,yaitu melalui ekspansi Alexander agung  namun pengaruh pemikiran filsafat mulai Nampak ekpermukaan pada masa dinasti abbasiyah tepatnya pada pemerintahan kalifah a-ma’mun. pada masa pemerintahan khalifah tersebut ilmu pengetahuan yang berbahasa yunani, termasuk filsafat sudah mulai diterjemahkan ke dalam bahasa arab. 

Golongan-golongan yang tertarik pada filsfat adalah kaum mu’tazilah yang bercorak pemikiran rasionalis, Abu Huzail Al-Allaf, Ibrahim An-Nazzam,Bisyr Al-Mu’tamir dan Al-Juba’ie serta golongan yang menamakan diri dengan golongan rahasia (Jamiyatus sirriyah) yang dikomandani oleh ikhwanus safa. 

Dari kegitan penerjemahn itu melahirkan cendikiawan-cendikiawan muslim dan filosof-filosof muslim kenamaan seperti Al-Kindi. Ibn Sina,Al-Farabi.Ibn Rusyd dan Ibn Thufail.Sejarah telah membuktikan bahwa dunia muslim pernah menetaskan dan melahirkan cendikiawan-cendikiawan hebat dan filosof-filsof kenamaan yang mampu menghentakkan dunia dengan pemikiran dan gagasan yang brilian,maka seharusnya saat ini lahir Ibn Sina baru,Al-Kindi baru,Ibn Rusyd baru dan kita memiliki peluang seperti mereka jika diiringai dengan kesungguha hati untuk mencapai apa yang kita cita-citakan. Semoga.

*situs: www.rangkumanmakalah.com


DAFTAR PUSTAKA

 A. Mas’adi, Ghufron, Ensiklopedi islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1999

Al-Ahwani,Ahmad Fuad, Filsafat Islam. Jakarta:Pustaka Firdaus,1997.

Armando, M. Nina, ensiklopedi Islam ,Jakarta; Iktiar Baru Van Hoeve, 2005

Hanafi, Ahmad, Pengantar Filsafat Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1996

Maksum,ali. Pengantar Filsafat: dari masa Klasik hingga post modernism, Yogyakarta:Arruz Media, 2008

Muzairi, Filsafat Umum, Yogyakarta : Teras, 2009.

Nasution, Harun. Filsafat Dan Mistisisme Dalam Islam. Jakarta:Bulan Bintang,1999.

Nasution, Hasyimsyah. Filsafat Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999.

Sudarsono, Filsafat Islam. Jakarta: PT Rineka Cipta,1997

Susilo, Suko, Sejarah Peradaban Islam, Kajian Teks, reflektif dan Filosofis, Surabaya: Jenggala Pustaka Utama, 2003

Syaifuddin Anshori, Endang, Ilmu filsafat dan Agama, Bandung: Bina Ilmu 1981

Yudhira, Silvia, Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT Ikhtiar baru van Hoeve, 2000

.


[1] Nina M. Armanto, Ensiklopedi Islam (Jakarta: Ichtiar baru van hoeve, 2005) hlm. 178

[2] Ali Maksum, Pengantar Filsafat: dari masa Klasik hingga post modernism, (Yogyakarta:Arruz Media, 2008) hlm 100.

[3] Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1996)hlm. 3

[4] Ibid

[5] Endang saifuddin Anshori, Ilmu Filasafat Agama (Bandung:  Bina Imu, 1981) hlm. 2

[6] Muzairi. M.Ag, Filsafat Umum,(Yogyakarta : Teras, 2009), hlm. 41-43.

[7] Ahmad hanafi, Pengantar Filsafat Islam, hlm. 10

[8] .Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999) hlm 9

[9] Ghufron A. Mas’adi, Ensiklopedi IslamI,(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1999),hlm. 16

[10] Silvia yudhira, Ensiklopedi islam, (Jakarta: Ichtiar Baru  Van Hoeve, 2000)hlm.17

[11] Suko Susilo, Sejarah peradaban Islam, kajian teks, reflektif dan filosofis, (Surabaya: Jenggila Pustaka Utama, 2005) hlm. 130

[12] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, hlm 5

[13] Ahmad Fuad Al-Ahwani, filsafat islam (Jakarta: Pustaka Firdaus 1997) hlm 64.

[14] HArun Nasution, filsafat dan Mistisisme dalam islam (Jakarta:bulan bintang, 1999) hlm 7

[15] Ahmad Fuad Al-Ahwani,Filsafat Islam,hlm.88

[16] Ibd.hlm.69

[17] Ibid.hlm.74

[18] Ibid hlm.106

[19] Sudarsono, Filsafat Islam (Jakarta;PT Reneka Cipta 1997) hlm 81

Share This:

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *