GERAKAN OPOSISI TERHADAP BANI UMAIYAH

Gerakan Oposisi terhadap bani umaiyah

Gerakan Oposisi terhadap bani umaiyah

www.rangkumanmakalah.com

Setelah berakhir masa Khulafa’  Rosidun, Dinasti Umayyah melanjutkan kekhalifahan dalam Islam, Khalifah pertama pada masa Dinasti Umayyah ini adalah Mu’awwiyah. Pada saat itu ibu kota kerajaan Islam berada di provinsi Suriah, Damaskus.Masa kekhalifahan Dinasti Umayyah ini berkisar selama 90 tahun(40 H. /660 M. – 130 H. /750 M.), dalam kurun waktu yang lama itu terjadi banyak perkembangan dalam kerajaan Islam, dari segi administrasi negara, ilmu pengetahuan, seni, budaya, sosial dan ekonomi dan pendidikan. 

   Suatu negara akan mengalami kejayaan apabila semua elemen yang ada di negara tersebut bersatu, baik dalam hal cita-cita yang mulya dan gerakan-gerakan yang mengarah kepada terwujudnya tatanan masyarakat yang ‘adil, aman, makmur dan sejahtera. Elemen suatu negara itu di antaranya; pemimpin, rakyat dan pasukan keamanan. Oleh sebab itu, persatuan merupakan salah satu point penting terwujudnya negara yang besar dan kuat.

   Para Khalifah(pemimpin) pada masa Dinasti Umayyah ini memiliki kemampuan dan akhlak yang berbeda-beda, misalnya Mu’awiyah yang pandai mengorganisir sehingga pada masanya terjadi ekspansi Islam yang luar biasa, Umar bin ‘Abdul Aziz yang terkenal kezuhudannya dan ketaqwaannya kepada Allah. Kemudian pada akhir-akhir kekuasaan Dinasti Umayyah ini, kemampuan dan akhlak khalifahnya kurang baik dibandingkan dengan khalifah-khalifah sebelumnya maka memicu ketidak nyamanan dan kekecewaan di masyarakat yang dipimpinnya, ditambah munculnya gerakan-gerakan oposisi terhadap pemerintahan, sehingga mengancam terhadap runtuhnya pemerintahan tersebut.

  Gerakan-gerakan oposisi terhadap Dinasti Umaiyyah ini di antaranya; syiah, sunni, keluarga ‘Abbas, para keturunan paman Nabi, al- ‘Abbas ibn ‘Abd al-Muththalib ibn Hasyim dan terbentuknya gerakan koalisi antara kekuasaan Syiah, Khurasan dan Abbasiyah. Gerakan koalisi ini mengobarkan semangat Islam revolusioner bangkit menentang tatanan pemerintahan yang ada dengan menawarkan gagasan teokrasi dan janji untuk kembali kepada tatanan ortodoksi.[1] 

B.       Gerakan – gerakan Oposisi terhadap Bani Umayyah

Pada akhir-akhir masa jatuhnya Bani Umayyah, telah muncul Gerakan Oposisi terhadap bani umaiyah ini, sehingga memperkeruh kondisi dinasti(kerajaan) ini pada saat itu. Di antaranya adalah gerakan-gerakan yang digencarkan oleh kelompok-kelompok sebagai berikut :[2]

  1. Kelompok Syi’ah, seperti yang kita ketahui bersama bahwa Syi’ah adalah orang-orang yang yang mendukung Sayidina Ali(pengikut Sayidina Ali). Mereka menganggap Dinasti Umayah ini perebut kekuasaan dari keturunan Sayidina Ali. Pengabdian dan ketaatan mereka yang tulus terhadap keturunan Nabi berhasil menarik simpati publik. Mereka mendapat dukungan dari orang-orang disekelilingnya yang tidak puas terhadap pemerintahan Dinasti Umayyah, baik dari sisi politik, ekonomi, maupun sosial. 
  2. Kelompok Sunni, Di kelompok Sunni, sekalipun orang yang paling Saleh di antara mereka, mengecam akhlak para Khalifah karena mereka mementingkan kehidupan duniawi, serta mengabaikan hukum Al-Qur’an dan Hadith, dimana-mana mereka telah siaga penuh untuk menjatuhkan sanksi keagamaan terhadap segala bentuk penentangan yang mungkin muncul.
  3. Keluarga ‘Abbas, para keturunan Paman Nabi, al-‘Abbas ibn ‘Abd al-Muththalib ibn Hasyim, mulai menegaskan tuntutan mereka untuk menduduki pemerintahan. 

 Di samping ada Gerakan Oposisi terhadap bani umaiyah ini, ada faktor utama yang melatar belakangi runtuhnya Dinasti ini. Faktor itu adalah munculnya perpecahan antara suku, etnis, dan kelompok politik yang tumbuh semakin kuat, sehigga terjadi gejolak politik dan kekacauan yang menganggu stabilitas negara. 

Ketika kita melihat ke belakang, sebenarnya para khalifah pada masa akhir periode Umayyah lebih merupakan pemimpin kelompok tertentu, bukan pemegang kedaulatan atas sebuah kerajaan yang utuh. Hal ini dapat dilihat dari putranya Mu’awiyah sebagai penerus menjadi khalifah, Yazid, yang telah lahir dari seorang Ibu yang berasal dari suku Kalb Yaman, yang bernama Maysun, menikah dengan seorang wanita suku Kalb. Suku Qays yang merasa iri tidak mau mengakui penerusnya, Muawiyah II, dan mengangkat baru, Ibn Zubayr. Kemenangan suku Kalb yang menentukan atas suku Qays di Marja Rahit (684) berhasil mengamankan kekuasaan Marwan, bapak keluarga Marwan dalam Dinasti Umayyah. Di bawah kepemimpinan al-Walid I, kekuasaan suku Qays mencapai puncak kejayaannya pada masa al-Hajjaj dan saudara sepupunya, Muhammad, penakluk India, dan pada masa Qutaybah, penakluk Asia Tengah. Saudara al-Walid, Sulayman, memberi dukungan kepada orang Yaman. Namun Yazid II, karena pengaruh Ibunya yang berasal dari keluarga Mudhar, mendukung orang Qays, seperti halnya al-Walid II; Yazid III mengandalkan pasukan Yaman untuk merebut kekuasaan dari tangan pendahulunya, al-Walid II.[3] 

Menurut analisis penulis, bahwa pada masa menjelang runtuhnya Dinasti Umayyah ini sudah terjadi perebutan kekuasaan, siapa yang kuat dan mempunyai pengaruh yang luas dihadapan rakyat maka itulah yang berpotensi menjadi khalifah. Jiwa persaudaraan dan persatuan pada saat itu sudah meluntur dibandingkan semangat para khalifah dan gubernur sebelum-belumnya. Inilah sekilas gambaran politik Dinasti Bani Umayyah pada saat itu. 

Faktor lain yang memicu runtuhnya Dinasti Umayyah ini adanya rasa kekecewaan dari orang Islam non Arab, karena mereka merasa dianak tirikan oleh penguasa. Mereka tidak memperoleh kesetaraan ekonomi dan sosial yang sama dengan orang Islam Arab, secara umum mereka diposisikan sebagai kalangan mawla(mantan budak), dan tidak selalu bebas dari kewajiban membayar pajak kepala yang biasa dikenakan terhadap nonmuslim. Hal lain yang semakin menegaskan kekecewaan mereka adalah kesadaran bahwa mereka memiliki budaya yang lebih tinggi dan lebih tua, kenyataan ini bahkan diakui oleh orang Arab sendiri. 

Adanya koalisi antara kekuatan Syiah, Khurasan, dan Abbasiyah, yang dimanfaatkan kelompok Abbasiyah untuk kepentingan mereka sendiri merupakan tanda-tanda semakin dekatnya jatuhnya Dinasti Umayyah. Koalisi ini dipimpin oleh Abu al-Abbas, cicit al-Abbas, paman Nabi. Di bawah kepemimpinannya, Islam revolusionar bangkit menentang tatanan yang ada dengan menawarkan gagasan teokrasi, dan janji untuk kembali kepada tatanan ortodoksi.Pemberontakan dimulai ketika seorang pendukung Abbasiyah, Abu Muslim, seorang budak Persia yang telah dimerdekakan, mengibarkan bendera hitam, yang pada awalnya merupakan warna bendera Muhammad, tapi kini menjadi lambang Abbasiyah.Peristiwa ini terjadi pada 9 Juni 747.

Di dalam referensi yang berbeda pada Gerakan Oposisi terhadap bani umaiyah, penyebab utama keruntuhan Dinasti Umayyah ini disebabkan dua faktor. Pertama, faktor intern, yaitu adanya persaingan dan perebutan kekuasaan di antara para keluarga khalifah. Kedua, faktor ekstern, yaitu adanya perselisihan dan perebutan pengaruh yang cenderung mengarah pada fanatisme golongan antara orang Arab Mudariyah di Utara dan Yamaniyah di Selatan. Begitu juga ketidaksenangan rakyat atas perilaku para khalifah dan keluarganya, terutama empat khalifah terakhir (al Walid II, Yazid III, Ibrahim dan Marwan II) yang cenderung mengabaikan nasib rakyat.Apalagi kaum Syi’ah dan pendukung keluarga Nabi dan keturunan Ali mulai bangkit menentang perlakuan Pemerintah yang selama ini menekan dan  menghinakan mereka.[4] 

C.      Perkembangan Gerakan Oposisi terhadap bani umaiyah dibidang Keagamaan

Pada masa Dinasti Umayyah, kita temukan cikal bakal gerakan-gerakan filosofis keagamaan yang berusaha menggoyahkan fondasi agama Islam. Pada paruh pertama abad ke-8, di Bashrah hidup seorang tokoh terkenal bernama Washil ibn Atha’ (w. 748), pendiri mazhab rasionalisme kondang yang disebut Muktazilah. Orang Muktazilah (pembelot, penentang) mendapat sebutan ini karenamendakwahkan ajaran bahwa siapa pun yang melakukan dosa besar dianggap telah keluar dari barisan orang beriman, tapi tidak menjadikannya kafir, dalam hal ini orang semacam itu berada dalam kondisi pertengahan antara kedua status itu.[5]

Muktazilah memiliki lima ajaran dasar yang disebut Al-Ushul Al-Khamsah, yaitu at-Tauhid (pengesaan Tuhan), al-‘adl (keadilan Tuhan), al-wa’ad wa al-wa’id (janji dan ancaman Tuhan), al-manzilah bain al-manzilatain (posisi di antara dua posisi), dan al-amr bi al-ma’ruf wa al- nahy an al-munkar (menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran).[6] 

Gerakan keagamaan lainnya adalah Qadariyah, orang Qadariyah ini adalah mazhab filsafat Islam paling awal, dan besarnya pengaruh pemikiran mereka bisa disimpulkan dari kenyataan bahwa dua khalifah Umayyah, Mu’awiyah II, dan Yazid III, merupakan pengikut Qadariyah. Qadariyah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan. Salah satu doktrin mazhab Qadariyah ini adalah percaya bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mewujudkan tindakan tanpa campur tangan Tuhan. Dalam hal ini dapat difahami bahwa segala tingkah laku manusia dilakukan atas dasar kehendaknya sendiri. Manusia mempunyai kewenangan untuk melakukan segala perbuatan atas kehendaknya sendiri, baik berbuat baik ataupun berbuat jahat. 

Sekte keagamaan lain yang tumbuh berkembang adalah Khawarij. Namun, jika Muktazilah memelopori gerakan rasionalisme, khawarij menjadi pendukung utama puritanisme Islam. Jika Qadariyah dikenal sebagai mazhab pemikiran filosofis paling awal dalam Islam, khawarij merupakan sekte politik keagamaan paling awal. Penentang ‘Ali yang paling berbahaya, berulang kali melancarkan pemberontakan bersenjata untuk menuntut hak istimewa orang Qurays untuk menduduki jabatan kekhalifahan.

Sekte lainnya, adalah Murji’ah, yang mengandung doktrin irja’, yaitu penagguhan hukuman terhadap orang beriman yang melakukan dosa, dan mereka tetap dianggap muslim. Secara umum, ajaran pokok Murji’ah berkisar pada toleransi. Representasi paling nyata dari sayap moderat mazhab ini adalah Abu Hanifah (w. 767), yang merupakan pendiri pertama dari empat mazhab hukum Islam sunni.

Kelompok lainnya, yaitu Syi’ah, merupakan salah satu kubu Islam pertama yang berbeda pendapat dalam persoalan kekhalifahan. Para pengikut Ali ini membentuk kelompok yang solid pada masa Dinasti Umayyah. Sistem Imamah menjadi unsur pembeda antara kaum Sunni dan kaum Syi’ah hingga saat ini. Kegigihan kaum Syi’ah dengan keyakinan utama mereka terhadap ‘Ali dan putra-putranya, yang diklaim sebagai imam sejati, yang berbeda dengan keyakinan Gereja Katolik Romawi tentang Peter dan para penerusnya. 

Jika pendiri Islam menjadikan wahyu, al-qur’an, sebagai media penghubung antara Tuhan dan manusia, maka orang Syiah menjadikan manusia, yaitu para imam sebagai penghubung. Orang Syiah menambahkan satu rukun iman yaitu “Saya percaya bahwa imam yang dipilih secara khusus oleh Allah sebagai pembawa ruh Tuhan adalah pemimpin yang akan membebaskan”

Institusi imamah merupakan bentuk penentangan teoritis terhadap konsep sekuler tentang kekuasaan. Menurut teori imamah, yang berbeda dengan pandangan sunni, seorang imam merupakan pemimpin komunitas Islam satu-satunya yang sah, dan ditunjuk oleh Tuhan untuk memegang kekuasaan tertinggi. Ia memiliki jalur keturunan langsung dari Muhammad melalui Fathimah dan ‘Ali. Seorang imam adalah pemimpin agama dan spiritual, sekaligus sebagai pemimpin dalam urusan dunia. Ia dianugerahi kekuatan terembunyi yang diwariskan oleh pendahulunya. Dengan demikian, kedudukannya jauh lebih tinggi daripada manusia biasa, dan terbebas dari kesalahan (‘ishmah). Kelompok ekstrem Syi’ah bahkan berpendapat dengan mengatakan bahwa para imam, karena memiliki hakikat Ilahi dan kecerdasan yang tinggi, merupakan inkarnasi Tuhan. Menurut mereka, ‘Ali, dan para imam keturunannya merupakan wahyu Tuhan yang turun dalam wujud manusia. Kelompok ultra Syi’ah pada masa belakangan bahkan berpandangan bahwa Jibril keliru menyampaikan wahyu kepada Muhammad, yang seharusnya kepada ‘Ali. Dalam semua ini, doktrin kelompok Syi’ah berseberangan dengan doktrin Sunni.[7] 

situs: www.rangkumanmakalah.com 

DAFTAR PUSTAKA

K. Hitti Philip, History Of The Arabs, terj. R. Cecep Lukman Yasin Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2013

 Rozak Abdul, Anwar Rosihon, Ilmu Kalam untuk UIN, STAIN, PTAIS Bandung: Pustaka Setia, 2007

Tim Penyusun Studi Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya, Pengantar Studi Islam Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, 2007


[1] Philip K. Hitti, History Of the Arabs, (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2013) hal. 351-357

[2]Ibid, 351-352

[3]  Ibid, 349-350

[4]Tim Penyusun Studi Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya, Pengantar Studi Islam (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, 2007), 134.

[5][5]Ibid, 306

[6][6]   Abdul Rozak, Rosihon Anwar, Ilmu Kalam untuk UIN, STAIN, PTAIS (Bandung: CV Pustaka Setia, 2007) 80.

[7]Philip K. Hitti, History Of the Arabs, (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2013) hal. 309-311.

Share This:

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *