REVOLUSI IRAN DAN GERAKAN POLITIK SYIAH

gerakan politik syaiah dalam revolusi iran

revolusi iran

www.rangkumanmakalah.com

        A.     Latar Belakang

              Revolusi Iran adalah contoh paling spektakuler di dunia Islam, bagaimana agama mampu memberi kekuatan bagi gerakan revolusioner untuk menumbangkan kekuasaan tiranik dan despotik. Bahkan tidak sekedar menumbangkan kekuasaan, tetapi lebih mendasar dari itu, mengganti sistem politik lama (monarki) dengan sistem politik baru (wilâyah al-faqîh). Banyak kalangan menyebut revolusi ini sebagai “salah satu pemberontakan rakyat terbesar dalam sejarah umat Islam”. Kesuksesannya dapat disejajarkan dengan Revolusi Prancis (1789) atau Revolusi Bolshevik Rusia (1917).[1] 

           Revolusi yang telah berlangsung di Iran tahun 1978-1979 dan menghasilkan pemerintahan Islam yang berlangsung sampai hari ini, mengangkat banyak isu yang terkait dengan kebangkitan Islam kontemporer: keyakinan, kebudayaan, kekuasaan, dan politik dengan penekanan pada identitas bangsa, keaslian budaya, partisipasi politik, dan keadilan sosial disertai pula dengan penolakan terhadap pembaratan, otoriterisme kekuasaan, dan pembagian kekayaan yang tidak adil. Inilah “the real revolution” yang digerakkan oleh seluruh lapisan masyarakat dan dipimpin oleh para tokoh agama. 

             Keterlibatan para mullah dalam gerakan revolusioner menumbangkan Dinasti Pahlevi yang berkuasa di Iran mulai tahun 1925-1979, merupakan fenomena menarik dan unik jika dilihat dari perspektif sejarah sosial-politik Syi’ah. Syi’ah sebagai madzab resmi Iran sejak Dinasti Safavi menekankan artikulasi politik yang lebih akomodatif terhadap kekuasaan. Perilaku para pengikut Syi’ah sejak lama terpola dalam tradisi taqiyeh (dissimulation)[2] dan quietisme[3]. Apa yang telah ditampakkan oleh para mullah dan pengikutnya yang terlibat dalam gerakan revolusi adalah pergeseran orientasi sikap keberagamaan dari pasivisme menanti datangnya Imam Mahdi ke arah gerakan kongkret dan pro-aktif dalam melawan kesewenang-wenangan dan ketidakadilan. Di sinilah tampak peran para reformer ideologi Syi’ah kontemporer yang berhasil memperbaharui ajaran Syi’ah. 

C.    Genealogi dan Akar Gerakan revolusi iran

Tanda-tanda kejatuhan Dinasti Pahlevi mulai terlihat pada awal tahun 1977. Pada saat itu, President Amerika yang baru dilantik, Jimmy Charter, secara berlebihan memuji ‘kepemimpinan Shah yang hebat,’ yang menurutnya telah mengubah Iran menjadi pulau kestabilan di salah satu daerah yang lebih bermasalah di dunia’.[4] menjadikan isu Hak Asasi manusia sebagai arah dalam kebijakan luar negerinya. Iran sebagai salah satu sekutu Amerika harus menerima kebijakan itu kalau ingin bantuan Amerika kepada Iran pada sektor ekonomi dan militer tetap berlanjut. Dalam kondisi seperti ini, mau tidak mau, rezim Syah harus mengikuti kebijakan Amerika karena secara faktual Iran sangat tergantung kepada Amerika. Pada Pebruari 1977, Syah melepaskan 357 tahanan politik. Sayangnya, kebijakan yang cukup populer ini tidak diikuti dengan kesungguhan Syah untuk mengungkap segala penyiksaan dan penindasan yang telah ia lakukan terhadap para lawan politiknya. 

Pada sisi lain, isu HAM yang dihembuskan Amerika, memicu para jurnalis untuk menuntuk kebebasan berpendapat dan pers. Para pengacara juga menuntut dihapuskannya pengadilan militer yang biasa digunakan untuk mengadili para narapidana politik. Sebagian kelompok massa lain menggelar demonstrasi untuk menuntut diakhirnya rezim Syah yang menurut mereka telah melakukan pelanggaran HAM berat selama berkuasa. Massa demonstran pun bentrok dengan polisi yang mengakibatkan banyak peserta demonstrasi tertembak aparat. Kemudian, kelompok pengacara yang berjumlah 120 orang mempublikasikan kejadian tersebut yang diduga keras didalangi oleh SAVAK. Tim independen yang terdiri dari pada akademisi pun dibentuk untuk mengusut kasus itu sekaligus mengusut pula aneka kekejaman yang dilakukan oleh SAVAK pada masa-masa yang lalu. Atas perkembangan ini, Syah semakin keras menekan dan mengintimidasi baik para pengacara maupun anggota tim tersebut. 

Di akhir bulan Oktober 1977, di kota Najaf, putra Imam Khomenei, Mustafa, ditemukan tewas di tempat tidurnya. Pihak pemerintah melarang dilakukan otopsi terhadap jenazah Mustafa, sehingga siapa pembunuhnya menjadi misteri. Tetapi terdapat indikasi kuat bahwa yang membunuh adalah pihak SAVAK. Kejadian ini menjadikan para mahasiswa di Qum yang berjumlah 4000 orang melancarkan aksi demonstrasi pada Januari 1978. Para aparat kepolisian pun bertindak represif. Mereka menyerang para demonstran dengan senjata sehingga sejumlah tujuh puluh demonstran meninggal.[5] 

Demonstrasi yang dilancarkan para mahasiswa di Qum melawan aksi pembunuhan tanpa sebab yang dilakukan oleh pasukan SAVAK menjadi pemicu gerakan massa yang lebih revolusioner. Polisi sekali lagi bertindak represif dengan menembaki para demonstran sehingga memancing gelombang demonstrasi berikutnya yang lebih besar. Para demonstran itu mengutuk tindakan aparat keamanan rezim yang beringas sambil mengelukan para korban yang berguguran selama ini. 

Setiap hari dalam empat puluh hari terjadi gerakan protes dan demonstrasi dan skalanya semakin besar, hingga mencapai puncaknya pada 10 Muharram, bertepatan dengan 1 Desember 1978. Saat itu ratusan ribu orang turun ke jalan memperingati terbunuhnya Imam Husein di padang Karbala. Sambil berteriak “Allahu Akbar” terus menerus, dari masjid-masjid, rumah-rumah dan jalan-jalan di berbagai wilayah diiringi dengan tuntutan kepada Syah untuk mundur dari jabatannya. Demonstrasi yang sebenarnya adalah upacara ritual berubah menjadi kerusuhan setelah tentara memblokir jalan-jalan dan menembaki para demonstran. Versi pemerintah jumlah korban dalam kerusuhan itu hanya ratusan orang saja, tetapi menurut orang-orang Teheran, korban tewas mencapai 4000 orang lebih.[6] 

Hampir seluruh rakyat Iran yang terdiri dari berbagai latar belakang dan faksi politik bersatu dalam aksi-aksi demontrasi itu. Kelompok sekuler yang antara lain direpresentasikan oleh Front Nasional dan para anggota Partai Tudeh bersinergi dengan kelompok yang berorientasi Islam yang direpresentasikan oleh para pendukung Imam Khomenei maupun Ali Syari’ati. Para buruh dan pekerja profesional, guru dan siswa, dosen dan mahasiswa, petani dan nelayan, semuanya saling bahu-membahu tidak putus-putusnya selama tahun 1978 sampai Pebruari 1979 melancarakan aksi-aksi kolosal menentang Syah.

Imam Khomenei terus memompa semangat perlawanan di tempat pengasingannya di Paris. Ia secara rutin mengirim pidato-pidato politik yang berisi kecaman-kecaman terhadap Syah untuk membakar semangat massa dalam melakukan perlawanan terhadap rezim. Pidato-pidatonya itu dikirim dalam bentuk rekaman kaset maupun pamflet yang dibawa ke Iran oleh para agen Khomeini. Sang Imam memang saat itu benar-benar menjadi idola yang dielu-elukan pada demonstran, apalagi setelah tokoh muda pembakar semangat perlawanan, Ali Syari’ati meninggal dunia pada tahun 1977.  Sehingga praktis tinggal Khomenei yang menjadi tumpuhan harapan sebagai tokoh perlawanan.[7] 

Kelas pekerja atau buruh mempunyai peran yang cukup signifikan dalam serangkaian aksi menentang Syah tahun 1978-1979. Ekonomi Iran yang sangat sukses mendorong penguatan kolosal dari kaum pegawai dan buruh. Meningkatnya pendapatan minyak bumi mendorong suatu kemajuan yang menakjubkan dalam industri Iran, yang terakselerasi setelah lompatan harga minyak tahun 1973. Produksi Kotor Nasional (Gross National Product/GNP) naik hingga 33,9 persen pada tahun 1973 – 1974, dan pada tahun 1974 – 1975 adalah 41,6 persen jauh lebih tinggi. Industri juga meningkat dengan pesat, dan be rikut ukuran serta kekuatan dari kelas pekerjanya. Maka, dengan kemajuan kekuatan-kekuatan produktif, rezim dalam hal ini telah mempersiapkan lubang kuburnya sendiri dalam wujud munculnya kaum buruh Iran yang kuat. Bukan hanya karena kelas pekerja telah berkembang sedemi kian besar, tetapi juga karena mereka begitu segar dan muda. Akan tetapi, sejalan dengan luapan pertumbuhan industri yang pesat, segala kontradiksi sosial menjadi terus-menerus menajam. Inflasi melonjak cukup tinggi dan menjadi alasan bagi timbulnya peristiwa kerusuhan kolosal tahun 1977. Dalam kondisi kesulitan hidup masyarakat yang memuncak, pemerintah di tahun 1976 meng umumkan adanya program penghematan (pengen cangan ikat pinggang). Ketika Syah memutuskan un tuk menghentikan program pembangunan, proyek -proyek ekspansi industri dipotong hingga 40 persen. Kebijakan itu sendiri memiliki arti bahwa lebih dari 40 persen tenaga tidak terampil dan 20 persen tenaga te­rampil tergusur oleh pemutusan hubungan kerja. Seiring dengan membubungnya tingkat pengangguran, gaji pun merosot drastis dan pemerintah menarik kembali keuntungan yang sebelumnya telah diberikan kepada buruh. Reaksi dari kelas pekerja disalurkan dalam gerakan aksi mogok yang terus menguat terjadi di Abad an dan BehSyahr. Para buruh tekstil menuntut kenaikan upah dan insentif. 

Aksi buruh yang sangat memukul ekonomi Iran adalah aksi mogok kerja yang dilakukan oleh para pekerja di kilang minyak. Aksi ini menyebabkan kerugian sampai ratusan jutaan dollar. Pihak Syah sendiri mengancam akan menembak di tempak para pekerja jika mereka melakukan aksi serupa, tetapi ancaman ini tidak digubris para pekerja dan mereka terus melakukan aksi-aksinya. Aksi ini meluas diantara para pekerja yang berada di sektor lain, seperti sopir, buruh kasar, petugas transportasi, sampai akhirnya para dokter dan perawat ikut terlibat dalam aksi mogok. 

Secara detail aksi para buruh di atas dilandasi oleh peristiwa tanggal 8 September 1978 yang juga disebut sebagai Jumat Kelabu. Saat itu para aparat keamanan melakukan pembantaian atas ribuan demonstran di Teheran. Sebagai jawabannya, para buruh melakukan pemogokan. Pemogokan itu adalah percikan yang menyulut dinamit yang telah terpasang di seluruh pelosok negeri. Pada tanggal 9 September 1978, para pekerja kilang minyak di Teheran mengeluarkan seruan pemogokan untuk mengung kapkan solidaritas terhadap pembantaian yang dilakukan sehari sebelumnya dan menentang diber lakukannya undang-undang negara dalam keadaan ba haya. Tepat pada keesokan harinya, pemogokan telah menjalar luas seperti api yang tidak bisa dijinakkan ke Shiraz, Tabriz, Abdan dan Isfahan. Para buruh penyu lingan minyak melakukan mogok dimana-mana. Tuntutan ekonomi dari kaum buruh dengan cepat dirubah menjadi tuntutan politik: “Turunkan Syah!” “Bubarkan SAVAK!”, “Marg Ber, imperialis Amerika!” Kemudian pekerja minyak Ahwaz mengadakan mogok, diikuti oleh buruh non-minyak di Khuzistan yang ber gabung dengan pemogokan pada akhir September. Di atas segalanya, gerakan para buruh minyaklah yang kemudian disebut sebagai kelompok istimewa dari kelas pekerja di Iran, yang paling menentukan dalam peng gulingan rezim. Ketika ritme gerakan mogok diperhebat dan diperpanjang, karakternya juga mulai berubah. Semua bidang-bidang kerja baru pun ditarik ke dalam perjuangan: para pekerja dari sektor publik-guru, dokter, karyawan rumah sakit, pegawai kantor, pegawai di kantor pos, perusahaan telepon dan stasiun televisi, serta para pegawai dari perusahaan tansportasi, jalan kereta api, bandar udara domestik dan bank semua bergabung dengan gelombang raksasa yang tengah bergolak. [8]

Pemogokan di Bank Sentral Iran berdampak sangat efektif melumpuhkan ekonomi Iran. Hal ini diikuti dengan pembakaran ratusan bank oleh massa yang telah kalap oleh amarah. Ketika pegawai bank melakukan mogok, mereka mengungkapkan bahwa dalam tiga bulan terakhir, seribu juta dollar telah dilarikan ke luar negeri oleh 178 anggota elit pemerintahan, termasuk keluarga Syah. Syah yang sedang sibuk mengadakan persiapan untuk sebuah pengasingan yang nyaman, telah mengirimkan keluarganya ke luar negeri, dan mentransfer satu milyar dollar ke Amerika (ini adalah tambahan dari satu milyar dollar atau lebih yang disimpan di Bonn, Swiss dan di bagian dunia lainnya).[9] 

Sebagaimana telah di tulis di muka, gelombang pasang pemogokan telah melumpuhkan mesin kenegaraan; para pegawai negeri juga melakukan aksi mogok. Akan tetapi pemogokan buruh minyak yang hebat selama tiga puluh tiga hari lah yang hampir melumpuhkan segalanya. Fakta ini dengan sendirinya memperlihatkan kekuatan kolosal dari kaum proletar Iran: satu pemogokan tunggal barisan buruh minyak menyebabkan pemerintah menelan kerugian tidak kurang dari tujuh puluh empat juta dollar perhari berupa pendapatan yang hilang. Buruh minyak bumi telah memotong urat nadi utama penyalur pendapatan negara. 

(rangkuman)Ayatollah Khomeini mengatur dan memanfaatkan situasi sosial dan politik pada saat itu yaitu kemarahan revolusioner terhadap penguasa otokratis Iran, Reza Shah Pahlevi. Suasana ini menjadi starting point bagi Khomeini bersama para revoluisioner untuk melahirkan pemerintahan Islam yang pertama di era modern. Campuran semangat keagamaan dan nasionalisme yang sengit menjadi pintu yang terbuka bukan saja bagi munculnya Republik Islam Iran, tetapi juga menjadi produk sejarah gerakan politik yang paling terkenal dalam sistem Islam politik atau gerakan Islamisme. (Baxter dan Akbarzadeh,2009: 70).[10] 

 D.    Ajaran Gerakan Revolusi Iran .

Pada tanggal 7 Januari 1978, sebuah tulisa dalam surat kabar resmi yang berjudul “Iran da kaum rekasioner hitan dan putih” menuduh pemuka-pemuka keagamaa sebagai kaum reaksioner hitam yang bersekongkol dengan kaum komunis internasional. Selanjutnya tulisan itu juga menuduh bahwa Khumeini itu sesungguhnya orang asing yang pada masa mudanya menjadi spion Inggris da menjurus kepada kehidupan yang bejat. Artikel tersebut mendorong kepada mahasiswa dan pedagang di Qum untuk meningkatka demonstrasi mencela rezim Shah. Satuan antara pemerintah secara paksa membubarkan demostrasi  tersebut dan membunuh beberapa mahasiswa. Apa yang dikenal denga “Qum Massacre” (pembunuhan berkelanjutan menyerukan upacara kenangan secara damai atas peristiwa-peristiwa kesyahidan tersebut dengan menutup seluruh universitas dan seluruh pasar dan menghadiri kebaktian di masjid-masjid (Esposito, 1990: 269)[11] 

Selgi kebanyakan demonstrasi tetap berlangsung dengan damai, akan tetapi di Tibriz, (18 februari 1978) dan di Yazd (29 maret 1978) da sekali lagi Qum (10 mei 1978) demonstrasi-deninstrasi itu berubah menjadi kerusuhan umum selama berlangsung tembakan-tembakan dari pihak kepolisian, dari pasukan tank dan dari pesawat-pesawat helikopter. Kaum perusuh itu kemudian menyerang seluruh lambang-lambang keluarga kerajaan dan negara yang telah dimedernisasi ala Barat seperti kantor-kantor kepolisian, hotel-hotel mewah, gedung-gedung minuman keras, dan gedung-gedung pertujukan (Cleveland, 1994: 406).[12] 

Rangkaian peristiwa ini mencapai puncaknya di Teheran pada “Black Friday” (8 September 1978). Hari itu merupakan titik balik revolusi. Peristiwa itu menyatu padukan seluruh kekuatan oposisi-oposisi, baik sekuler ataupun tradisional keagamaan, tanpa memperhitungkan pandangan dan orientasi politik bersatu sampai tingkatan yang tak terdugakan dengan Khumeini sebagai lambang perjuangan. Dan pada bulan Desember bertepatan dengan bulan Muharram yang merupakan peringatan kematian imam Husain dalam tradisi ritual Syi’ah digunakan sebagai kesempatan untuk melakukan protes kuat anti Rezim. Mulai tanggal 2 Desember beribu-ribu massa menentang larangan demonstrasi dari pemerintah dan memeuhi jalan di Teheran. Dengan menggunkan kafan putih yang menandai kenangan mereka terhadap perjuangan ‘Ali dan Husain yang meninggal dalam perlawanan mereka terhadap kelaliman dimassanya. Barisan yang mencela Shah dan sekutunya dan meuntut kembalinya Khumeini. Lebih dari 700 demonstran  meninggal terbunuh pada tiga hari pertama bulan Muharram. Tetapi demonstrasi terus berlanjut dan memuncak dalam proses besar sekitar 2 juta manusia Taheran pada tanggal 12 Desember 1978 (Cleveland, 1994: 408).[13] 

Selama demonstrasi Muharram, fondasi militer yang mejadi sandaran rezim Shah mulai ambruk. Pasuka wajib militer tidak sampai hati terus menerus membunuh para mahasiswa yang tidak bersenjata, para penjaga toko, dan para pekerja. Mereka membelokan pasukannya bergabung dengan para demonstran dan bahkan mereka melemparkan tembakan pada komandan mereka. Akhirnya pada tanggal 16 Januari 1979, Reza Shah yag sudah tidak mampu lagi menghadapi tuntutan massa yang cukup besar, meninggalka Iran ke luar negeri. Jutaan rakyat berpeluk-pelukan dijalanan. Tanggal 1 februari ayatullah khumeii kembali ke Iran dan disambut oleh ribuan massa (Cleveland, 1994: 409).[14] Saat itu juga menandai berakhirnya dinasti Pahlevi di Iran.

Dari penjelasan di atas, dapat dinyatakan bahwa kronologi terjadinya revolusi di Iran tidak lepas dari ajaran Syi’ah. Ideologi bernafaskan Syi’ah. Warna ideologi revolusi Iran adalah teokratisme , yakni keyakinan bahwa kekuasaan bersumber pada Tuhan. Teokratisme bisa merupakan suatu ideologi revolusioner yang berakarkan sebuah agama, dalam hal ini adalah agama islam aliran Syi’ah yag terkenal militan dan anti kekuasaan. Ideologi ini berkeinginan menciptakan orde baru yang tegak di atas prinsip-prinsip yang dianggap mulia karena diberkahi Allah Swt. menurut ajaran Syi’ah. 

Sampai sekarang 10 Muharram dinyatakan dengan upacara penyakitan diri sendiri sebagai usaha membayangkan keberanian derita Husain. Keberanian mati, sikap siap menjadi martir amat hidup. Dari sini dapat kita jelaskan keberanian menghadapi maut rakyat Iran ketika ditembaki oleh tentara yang serba modern dalam demonstrasi-demonstrasi menggulingkan Shah. Ini salah satu kekuatan sumber utama dalam revolusi penggulingan Shah. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara rasional tetapi bisa dimengerti dilihat dari konteks agama, tradisi dan kebudayaan Iran. 

Demikian ulasan singkat seputar gerakan politik syaiah dalam revolusi iran, semoga bermanfaat.

situs: www.rangkumanmakalah.com

 G.     DAFTAR PUSAKA

  1. Noor Arif Maulana, Revolusi Islam Iran dan Realisasi Vilayat-i Faqih (Yogyakarta: Juxtapose Research & Kreasi Wacana, 2003),
  2. A. Rahman Zainuddin dan M. Hamdan Basyar , Syi’ah dan Politik di Indonesia: Sebuah Penelitian, (Bandung: Mizan, 2000),
  3. Muhammad.”Salam”. masyarakat muslim dalam sejarah: kajian gerakan revolusi iran, (Program Pascasarjana Universitas  Muhammadiyah  Malang Jl Bandung No; 01 Malang , volume 15, nomor 1, juni, 2012),
  4. The Iranian Revolution: King Pahlevi (the Shah) against Dissent”, dalam http://www.fsmitha.com/h2/ch29ir.html, diakses tanggal 24 april 2013.
  5. Tamara, Nasir. Revolusi Iran, Jakarta: Sinar Harapan, 1980. Hal. 189-190
  6. Ali Rahmena, “Ali Syari’ati : Guru, Penceramah Pemberontak”, dalam Ali Rahmena (ed.), Para Perintis Zaman Baru Islam, terj. Ilyas Hasan (Bandung: Mizan, 1996), hlm. 241-242.
  7. Zayar, Iranian Revolution: Past, Present and Future, dalam http://www..iranchamber.com/history/articles/pdfs/iranian_revolution_past_present_future.pdf, hlm.37, diakses tanggal 24 april 2013.

[1] Noor Arif Maulana, Revolusi Islam Iran dan Realisasi Vilayat-i Faqih (Yogyakarta: Juxtapose Research & Kreasi Wacana, 2003), hlm. 23-24

[2] A. Rahman Zainuddin dan M. Hamdan Basyar , Syi’ah dan Politik di Indonesia: Sebuah Penelitian, (Bandung: Mizan, 2000), hlm. 115

[3]  Noor Arif Maulana, Revolusi Islam Iran dan Realisasi Vilayat-i Faqih (Yogyakarta: Juxtapose Research & Kreasi Wacana, 2003), hlm. 23-24

[4] Muhammad.”Salam” masyarakat muslim dalam sejarah: kajian gerakan revolusi iran, (Program Pascasarjana Universitas  Mu hammad iyah  Malang Jl Band u ng No; 01 Malang , volume 15, nomor 1, juni, 2012),Hal. 163

[5] “The Iranian Revolution: King Pahlevi (the Shah) against Dissent”, dalam http://www.fsmitha.com/h2/ch29ir.html, diakses tanggal 24 april 2013

[6] Tamara, Nasir. Revolusi Iran, Jakarta: Sinar Harapan, 1980. Hal. 189-190

[7] Ali Rahmena, “Ali Syari’ati : Guru, Penceramah Pemberontak”, dalam Ali Rahmena (ed.), Para Perintis Zaman Baru Islam, terj. Ilyas Hasan (Bandung: Mizan, 1996), hlm. 241-242

[8] Zayar, Iranian Revolution: Past, Present and Future, dalam http://www..iranchamber.com/history/articles/pdfs/iranian_revolution_past_present_future.pdf, hlm.37, diakses tanggal 24 april 2013.

[9] “The Iranian Revolution: King Pahlevi (the Shah) against Dissent”, dalam http://www.fsmitha.com/h2/ch29ir.html, diakses tanggal 24 april 2013

[10] Muhammad.”Salam” masyarakat muslim dalam sejarah: kajian gerakan revolusi iran, (Program Pascasarjana Universitas  Mu hammad iyah  Malang Jl Band u ng No; 01 Malang , volume 15, nomor 1, juni, 2012),Hal. 157

[11] Luk luk Nur Mufida, “Episteme”, Revolusi Iran Dan Kebangkitan Islam, STAIN Tulungagung Ji. Mayor Sujadi Timur 46 Tulungagung, Volume 2, Nomor 1, Juni 2007. Hal. 93

[12] Luk luk Nur Mufida, “Episteme”, Revolusi Iran Dan Kebangkitan Islam, STAIN Tulungagung Ji. Mayor Sujadi Timur 46 Tulungagung, Volume 2, Nomor 1, Juni 2007. Hal. 93

[13] Luk luk Nur Mufida, “Episteme”, Revolusi Iran Dan Kebangkitan Islam, STAIN Tulungagung Ji. Mayor Sujadi Timur 46 Tulungagung, Volume 2, Nomor 1, Juni 2007. Hal. 94

[14] Luk luk Nur Mufida, “Episteme”, Revolusi Iran Dan Kebangkitan Islam, STAIN Tulungagung Ji. Mayor Sujadi Timur 46 Tulungagung, Volume 2, Nomor 1, Juni 2007. Hal. 95

Share This:

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *