Hubungan ilmu, teknologi dan kebudayaan, Lengkap!

ilmu, teknologi dan kebudayaan

ilmu, teknologi dan kebudayaan

www.rangkumanmakalah.com

Pengertian Ilmu

ilmu, teknologi dan kebudayaan – Menurut Imam Raghib didalam bukunya mufradat al quran ilmu adalah mengerti atau mengetahui sesuatu menurut hakekat dan kenyataannya.[5]

Dalam hal ini Ilmu dibagi menjadi dua macam : 

Pertama ialah sesuatu yang dihasilkan dari akal pikiran dengan tanpa ada putusan dan hukumnya. Ulama’ mantiq menamakannya dengan tasawwur (konsepsi atau ide).[6] Seperti membayangkan mobil, rumah, malaikat, dan wanita.

Kedua ialah sesuatu yang dihasilkan dari akal pikiran dengan disertai suatu putusan dan hukum, baik putusan itu bersifat positif ataupun negatif. Dalam pengertian ini Ulama’ mantiq  menamakannya dengan Tashdiq (justifikasi). Seperti mobil itu berwarna hitam, rumah mewah itu milikku, malaikat itu tidak ada dan wanita itu cantik.

Sedangkan tiap-tiap keduanya itu terbagi menjadi dua bagian, adakalanya dhlaruri (keharusan dan kepastian) dan adakalanya nadlari (pertimbangan dan perenungan). 

Pertama dhlaruri  ialah segala sesuatu yang tidak membutuhkan penalaran dan pengamatan. Sedangkan yang kedua nadlari  ialah sesuatu yang membutuhkan penalaran dan pengamatan.

Jadi dalam hal ini ilmu dibagi menjadi empat bagian :[7] 

  1. Tasawwur dhlaruri (konsepsi keharusan) ialah memperoleh dan mengetahui sesuatu tanpa adanya putusan dan juga tidak disertai dengan pertimbangan dan perenungan. Seperti panas dan dingin, manis dan pahit, ada dan tidak ada.
  2. Tasawwur nadlari (konsepsi perenungan) ialah memperoleh dan mengetahui sesuatu tanpa adanya putusan dan disertai dengan pertimbangan dan perenungan. Seperti mengimajinasikan malaikat dan jin. 
  3. Tashdiq dhlaruri (justifikasi keharusan) ialah memperoleh dan mengetahui sesuatu yang disertai dengan suatu putusan tanpa membutuhkan pada penalaran dan perenungan. Seperti memutuskan bahwa ada dan tidak ada tidak mungkin bisa berkumpul dalam satu waktu, Sesungguhnya Ayah lebih dahulu adannya daripada anak, dan kakak lebih tua daripada adik. 
  4. Tashdiq nadlari (justifikasi perenungan) ialah memperoleh dan mengetahui sesuatu yang disertai dengan suatu putusan yang mana hal itu membutuhkan penalaran dan perenungan. Seperti Allah itu esa, Muhammad adalah utusan Allah dan surga itu sudah ada sekarang.[8]

Akan tetapi Aristoteles membagi ilmu menjadi dua bagian, ialah :

  1.  IImu teoritis (theoretical science).
  2.  Ilmu praktis (practical science)

Sedangkan pengertian ilmu menurut para mutakallimin, seperti yang diutarakan Al Manawi dalam bukunya al tauqif ialah keyakinan yang menancap didalam hati yang sesuai dengan kenyataan dan bersumber pada dalil.[9]

ilmu, teknologi dan kebudayaan – Menurut The liang gie, ilmu adalah rangkaian aktifitas manusia yang rasional dan kognitif dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah, sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala kealaman, kemasyarakatan, atau keorangan untuk tujuan mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan ataupun melakukan penerapan.[10]

Joseph Haberer (dalam Politicalization in Science, 1972) mendefinisikan ilmu sebagai suatu aktivitas manusia yang beraneka ragam, bukan hanya sekumpulan pengetahuan atau teori, tetapi juga suatu metodologi, suatu kegiatan praktek, suatu jaringan pola-pola kebiasaan dan peranan yang melalui ilmu itu pengetahuan diperoleh, diuji dan dikembangkan.[11] 

Menurut Leonard Nash (dalam The Nature of Natural Sciences, 1963) ilmu pengetahuan adalah suatu institusi sosial (social institution), dan juga merupakan prestasi perseorangan (individual achievement) disamping itu ilmu merupakan suatu penemuan asli tentang dunia yang sebenarnya (genuine discovery of the real world). 

Denotasi (cakupan) ilmu menunjukkan entitas yang menunjuk pada suatu cabang ilmu khusus dalam rumpun ilmu atau pada iimu dalam pengertian yang umum sebagai suatu kebulatan yang utuh.

Konotasi (ciri penentu) ilmu menegaskan konsepsi ilmu dalam kegiatan penelitian, metode ilmiah, dan hasil pengetahuan.

Dimensi keluasan ilrnu mengandung perluasan makna terhadap pengertian ilmu sehingga meliputi permasalahan yang penting, kedudukan tertentu atau sifat tambahan yang melekat pada fenomena yang disebutkan itu. 

Pengertian teknologi dalam tinjauan ilmu, teknologi dan kebudayaan

           ilmu, teknologi dan kebudayaan – Istilah teknologi berasal dari perkataan Yunani technologia yang artinya pembahasan sistematik tentang seluruh seni dan kerajinan (systematic treatment of the arts and crafts). Perkataan tersebut mempunyai akar kata techne dan telah dikenal pada zaman Yunani kuno yang berarti seni (art), kerajinan (craft). Art atau seni pada permulaannya berarti sesuatu yang dibuat oleh manusia untuk dilawankan dengan kata benda alam, tetapi kemudian menunjuk pada ketrampilan (skill) dalam membuat barang itu.

Techne semula merupakan seni yang bersangkut paut dengan tukang kayu yaitu seseorang yang membuat barang-barang dari material kayu. Dengan demikian, kata itu mengandung arti pekerjaan tukang. Dari techne kemudian lahirlah perkataan technikos yang berarti seseorang yang memiliki suatu ketrampilan tertentu.[12] Dengan berkembangnya ketrampilan seseorang yang menjadi semakin mantap karena menunjukkan pola, langkah atau urutan yang pasti, ketrampilan itu lalu menjadi teknik (technique). Teknik sejak dahulu kala sudah dibedakan dari cara-cara manusia melakukan perbuatan yang lainnya, karena bersifat purposive, rational step-by step way of doing things (cara melakukan berbagai hal secara terarah rasional, langkah demi langkah). Selanjutnya teknik tidak lagi terbatas pada kerajinan tukang kayu saja, melainkan meluas ruang lingkupnya sehingga menyangkut semua hasil pekerjaan tangan sampai meliputi seluruh ketrampilan praktis (practical arts) dari perkayuan hingga pertanian, persenjataan hingga kendaraan, pengolahan material hingga pembuatan bangunan, dan terakhir sampai produksi barang-barang pabrik. Perkataan technologia sesuai dengan kedua akar katanya berarti pembicaraan atau ulasan mengenai berbagai seni dan kerajinan. Ketika dalam abad XVII, lahir perkataan Inggris, technology, arti semula itu masih dipakai, yaitu technology berarti a discussion of the applied arts (suatu pembahasan tentang seni terapan). Bahkan sampai awal abad berikutnya pengertian itu masih dianut misalnya pada buku yang berjudul “Technology, A Description of Arts especially, the Mechanical” dari tahun 1706. Baru kemudian secara berangsur-angsur mulai abad XVII technology tidak lagi semata-mata berarti suatu pembahasan sitematik, pembicaraan atau perbincangan mengenai the practical arts, melainkan berarti ketrampilan praktis itu sendiri. Oleh karena the practical arts itu meliputi aneka ragam benda, cara, kemahiran, prosedur sampai teknik, maka pengertian technology mengalami perluasan dalam denotasi maupun konotasinya. Dalam kepustakaan sampai abad XIX orang berbicara tentang teknologi sebagai study tentang ketrampilan praktis atau sebagai segenap practical arts sebagai kebulatan. Pada permulaan abad XX ini istilah teknologi telah dipakai secara umum dan merangkum suatu rangkaian sarana, proses, dan ide disamping alat-alat dan mesin-mesin. Perluasan arti itu berjalan terus sehingga sampai pertengahan abad ini muncul perumusan teknologi sebagai sarana atau aktivitas yang dipergunakan manusia untuk berusaha mengubah atau menangani lingkungannya. Ini merupakan suatu pengertian yang amat luas karena setiap sarana perlengkapan atau rumusan kegiatan manusia untuk menguasai lingkungannya yang alamiah maupun cultural tergolong sebagai teknologi. 

ilmu, teknologi dan kebudayaan – Dewasa ini teknologi sebagai suatu kebulatan sudah merupakan hal yang kompleks, sehingga tidak mengherankan bila dijumpai berbagai jenis difinisi mengenai pengertian teknologi. Istilah teknologi itu sendiri mengalami perubahan arti sesuai dengan konteks pemakaiannya untuk memperoleh gambaran tentang perbedaan konsepsi-konsepsi mengenai teknologi. Selanjutnya akan dikemukakan berbagai definisi teknologi untuk menunjukkan keanekaragaman konsepsi serta keluasan perkembangan yang telah dicapai sampai sekarang. 

Definisi-definisi tersebut antara lain dirumuskan sebagai berikut: 

For an appreciation of its social significance, howefer, technology should be defined, in its broadest and deepest terms, as the human employment of any aid-physical or intellectual-in generating structures, products or service that can increase man’s productivity throught better understanding, adaptation to and control of  his environment. Lioyd V. Berkner & Melwin Kranzberg, “Industry and Technology: introduction”. 1969. (Untuk menilai keseluruhan makan kemasyarakatannya, teknologi harus didefinisikan dalam istilah-istilah yang terluas dan terdalam sebagai usaha manusia dalam mempergunakan segala bantuan fisik atau jasa-jasa yang dapat memperbesar produktivitas manusia melalui pemahaman yang lebih baik, adaptasi dan control, terhadap lingkungannya). 

          Technology should mean the study of those activities directed to the satisfaction of human needs which product alterations in the material world. In the present work the meaning of the term is extended to include the result of those activities. V. Gordon Childe, “Individual, Society, and Technique., 1954. (Teknologi harus diartikan sebagai studi tentang aktivitas- aktivitas yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam dunia materi. Dalam karya ini arti istilah itu diperluas sehingga mencakup hasil-hasil dari aktivitas-aktivitas tersebut).

Technology: the organization of knowledge for the achievement of practical purpose. Richard C. Dori. Technology, Society and man, 1974. (Teknologi : pengorganisasian pengetahuan untuk mencapai tujuan-tujuan praktis). 

Technology: the use of devices and systematic patterns of thought and activity to control physical and biological phenomena in order to serve man’s desires with a minimum of effort and a maximum of efficiency. Richard C. Dort, sumber seperti di atas (Teknologi : penggunaan alat-alat dan pola-pola pikiran yang sistematis dan aktivitas untuk mengembalikan fenomena fisis dan biologis, agar dapat memenuhi keinginan-keinginan manusia dengan suatu usaha minimum dan suatu efisiensi maksimum). 

Technology:  The use of knowledge of natural phenomena for a specific social use. John Foster, Jr., Science Writer’s Guide, 1963. (Teknologi : penggunaan pengetahuan tentang fenomena alam untuk suatu kegunaan sosial yang spesifik). 

Technology: means the systematic application of scientific or other organized knowledge to practical tasks. J.K. Galbraith, The New Industrial State, 1974. (Teknologi berarti penerapan sistematik pengetahuan ilmiah atau pengetahuan lain yang teratur pada tugas-tugas praktis). 

Technology is not just machines And men, It is a complex, integrated organization of men and machines of ideas of procedures and of management. Charles F. Hoban “From Theory to Policy Decisions”, 1968. (Teknologi bukan hanya mesin-mesin dan manusia-manusia saja. Tetapi lebih dari itu Teknologi merupakan suatu pengorganisasian terpadu, yang kompleks terdiri atas manusia- manusia dan mesin-mesin, atas ide-ide, atas Prosedur-prosedur dan manajemen). 

Technology: The body of knowledge and the tools and machines available for the production and distribution of goods and services. Thomas Ford Hoult, Dictionary of Modern Sociology, 1974. (teknologi : kumpulan pengetahuan serta alat-alat dan mesin-mesin yang tersedia untuk keperfuan produksi dan distribusi barang-barang dan jasa-jasa). 

Technology, as we know it today, is the application of science and the result of scientific research to the solution of practical problems. Arnold H. Johnson & Martin S. Peterson, Encyclopedia of Food Technology, 1974. (Teknologi, sebagaimana yang kita kenal sekarang ini adalah penerapan ilmu dan hasil-hasil penelitian ilmiah dalam pemecahan masalah-masalah praktis).

Technology: human activity directed toward the satisfaction of human needs (real or imagined) by the more effective use of man’s environment, Robert Bruce Lindsay, The Role of Science in Civilization, 1963. (Teknologi : aktivitas manusia yang ditujukan kepada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan manusia (yang nyata atau yang diangankan) dengan menggunakan lingkungan hidup manusia secara lebih efektif).

Technology: It was in the United States that the concept achieved its fulfillment Here it come to include human organization as well as systematic knowledge; by the early nineteenth century it already meant “providing the physical means of achieving democratic objectives of political society and economic quality”. John D. Montgomery, Technology and Civic Life: Making and implementing Development Decisions, 1974. (Teknologi: Kenyataan menunjukkan bahwa konsep itu dapat terpenuhi di Amerika Serikat. Konsep itu mencakup pengorganisasian manusia dan juga pengetahuan secara sistematis; pada awal abad kesembilan belas konsep itu sudah diartikan sebagai menyediakan sarana-sarana fisik untuk mencapai sasaran-sasaran demokratis masyarakat politik dan kualitas kehidupan ekonomi).[13]

Dari berbagai definisi yang dikemukakan diatas dapat diambil suatu rumusan bahwa:

a)      Teknologi merupakan penerapan, oleh karena itu

b)      Teknologi berbeda dalam dimensi ruang dan waktu.

Berdasarkan keikutsertaan factor non teknis, teknologi mempunyai sasaran perbaikan benda fisik. Teknologi melangkah lebih jauh lagi yaitu mencakup perbaikan atau perubahan proses budaya, social dan psikologis. Konsep yang terakhir ini sebenarnya berisi pengakuan bahwa efektivitas, efisiensi, kecepatan dan kemampuan proses perkembangan teknologi sebenarnya terletak pada system budaya termasuk kelembagaannya. Oleh karena itu pendekatan terakhir ini disebut juga sosio-teknologi atau sosio-institusional. Selanjutnya penganut aliran ini berpendapat bahwa peradaban manusia pada hakekatnya merupakan hasil interaksi antara system teknologi, system social dan system ideology. Sosiologi, sebagai ilmu pengetahuan yang banyak memberikan perhatian pada masalah sekitar perubahan teknologi didalam masyarakat, antara lain berusaha untuk mencari jawaban atas pertanyaan: “apa peranan factor-faktor social-budaya dalam perkembangannya sebagai pranata social dalam perubahan teknologi?”

Pengertian kebudayaan dalam tinjauan ilmu, teknologi dan kebudayaan

ilmu, teknologi dan kebudayaan – Pada dasarnya kebudayaan didefinisikan pertama kali oleh E. B. taylor pada tahun 1871,[14]lebih dari seratus tahun yang lalu, dalam bukunya Primitive Culture. Kebudayaan sebagai tradisi, kepercayaan, perilaku dan benda-benda yang dipergunakan (antara lain) masyarakat-masyarakat tertentu, adalah apa yang memisahkan cara hidup manusia sejak dia berjalan pada permukaan bumi ini. Menurut hal-hal beraneka ragam yang berdampak pada cara hidup manusia seperti kepercayaan, pengalaman (pengetahuan umum yang diturunkan atau pengalaman religius), kondisi dan situasi lokal (penanaman, jenis tanah, bencana alam), setiap masyarakat akan dibentuk sesuai dengan bagaimana mereka memandang dunia dan dirinya sendiri.  Oleh karena itu, kebudayaan adalah bidang yang sudah lama diteliti oleh para ahli kemudian sudah banyak definisi diberikan akan kebudayaan, seperti:

‘Kebudayaan adalah keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat serta kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.’[15]

‘Kebudayaan adalah cara hidup manusia yang diturunkan dari satu generasi kepada yang berikutnya melalui pengetahuan (baik bahasa maupun media simbolik lain) dan pengalaman.[16]

‘Kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, di dalamnya terdapat ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat manusia sebagai anggota masyarakat.’ [17]

‘[Kebudayaan adalah jumlah] pola-pola perilaku berbeda yang berdasarkan pola-pola kepercayaan berbeda yang kemudian berdasarkan pola-pola nilai.’[18]

Apapun definisinya, kebudayaan ada dalam setiap masyarakat di dunia. Tanpa kebudayaan (dalam teori saja – tidak ada satu masyarakat tanpa kebudayaan) tidak mungkin ada identitas, struktur, makna atau cara hidup bagi masyarakat itu.[19] 

Karena kebudayaan terdiri atas banyak bagian, elemen atau hal berbeda berarti gagasan kebudayaan ini dapat dipisahkan menjadi seperti apa yang disebut oleh para ahli antropologi ‘unsur-unsur kebudayaan universal’ (cultural universals) [20] berdasarkan ciri-ciri umum antara masyarakat-masyarakat di dunia. Unsur universal ini terwujud dari tujuh sistem umum pada setiap masyarakat: sistem teknologi atau peralatan; sistem mata pencaharian (ekonomi); sistem organisasi sosial; sistem pengetahuan; sistem kesenian; sistem religi; dan sistem bahasa. [21]

ilmu, teknologi dan kebudayaan – Selanjutnya, setiap unsur universal dapat dipisahkan lagi menjadi tiga bagian yang disebut kerangka kebudayaan. Kerangka ini terdiri atas: sistem budaya (ide, gagasan); sistem sosial (aktivitas, organisasi); dan sistem kebendaan (kebudayaan fisik).[22] Kerangka ini diibaratkan bawang yang berlapis sebagaimana ada lingkaran-lingkaran yang mewakili sistem berbeda ini. Mulai di tengah bawang (lingkaran besar ini) adalah sistem budaya yang terselubung oleh lapisan sistem sosial dan ini juga terselubung oleh lapisan sistem kebendaan sehingga sistem kebendaan adalah lingkaran luar. Ini menyoroti proses berjenjang dimana pertama, ide atau gagasan mulai di hati atau pikiran orang-(orang). Ide ini kalau manfaat untuk masyarakat dan identitas yang disampaikan kepadanya kemudian bentuk organisasi atau struktur. Dari organisasinya akan muncul benda-benda agar idenya ditetapkan dan ditaati masyarakat dalam hidup sehari-harinya.

Kalau ‘sistem budaya’ atau konsep-konsep akan pergaulan antar manusia dan pandangan dunia yang muncul dari masyarakat-masyarakat, kemudian organisasi atau benda yang akan muncul dikarenakan olehnya, diselidiki lebih dalam lagi dan dari pandangan lain, konsep-konsep kebudayaan ini dapat dibaratkan akar-akar dari pohon.[23] Sesuai dengan akar sejati, akar pohon kebudayaan ini juga memiliki ciri-ciri yang sama dengan akar-akar sejati. Yang pertama, seperti akar pohon sejati yang memberikan kehidupan pada semua pohon, akar pohon kebudayaan memberikan kehidupan kepada kebudayaan melalui munculnya pikiran, gagasan, ide, atau konsep baru maupun lama atau apapun yang menyediakan stimulus pertumbuhan dan ketetapan dalam kebudayaan itu. Yang kedua, seperti kebanyakan akar dari pohon sejati di bawah tanah dan tersembunyi dari penglihatan, juga akar pohon kebudayaan biasanya terpendam dalam hati dan pikiran pribadi-pribadi di masyarakat.

Pengertian ilmu budaya dalam tinjauan ilmu, teknologi dan kebudayaan

ilmu, teknologi dan kebudayaan – Secara sederhana ilmu budaya ialah pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan sumbangsih pengetahuan dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. 

Sedangkan Istilah ilmu budaya dikembangkan di Indonesia sebagai pengganti dari istilah Humanitiesm yang berasal dari istilah bahasa inggris “The Humanities”. Adapun istilah Humanities itu sendiri berasal dari bahasa latin humanus yang bias diartikan manusia, berbudaya dan halul. Dengan mempelajari the humanities diandaikan seseorang akan bias menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa the humanities berkaitan dengan nilai-nilai yaitu nilai-nilai manusia sebagai homo humanus atau manusia berbudaya.[24] Agar supaya manusia bisa menjadi humanus, mereka harus mempelajari ilmu yaitu the humanities disamping tidak meninggalkan tanggung jawabnya yang lain sebagai manusia itu sendiri. 

Untuk mengetahui bahwa ilmu budaya termasuk kelompok pengetahuan budaya, lebih dahulu perlu diketahui pengelompokan ilmu pengetahuan. Prof. Dr. Harsya Bachtiar mengemukakan bahwa ilmu dan pengetahuan dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yaitu:

Ilmu-ilmu Amaliah (natural science)

Ilmu-ilmu amaliah bertujuan mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam alam semesta. Untuk mengkaji hal itu digunakan metode ilmiah. Caranya ialah dengan menentukan hukum yang berlaku mengenai keteraturan-keteraturan itu, lalu dibuat analisis untuk menentukan suatu kualitas. Hasil analisis itu kemudian digeneralisasikan. Atas dasar itu lalu dibuat prediksi. Hasil penelitiannya 100 % benar dan 100 % salah. Yang termasuk kelompok ilmu-ilmu alamiah antara lain ialah astronomi, fisika, kimia, biologi, kedokteran dan mekanika. 

Ilmu-ilmu social (social science)

Ilmu-ilmu sosial bertujuan untuk mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan antar manusia. Untuk mengkaji hal itu digunakan metode ilmiah sebagai pinjaman dari ilmu-ilmu alamiah. Tetapi hasil penelitiannya tidak mungkin 100 % benar, hanya mendekati kebenaran.[25] Sebabnya ialah keteraturan dalam hubungan antar manusia itu tidak dapat berubah dari saat ke saat. Yang termasuk kelompok ilmu-ilmu sosial antara lain ilmu ekonomi, sosiologi, poliik, demografi, psikologi, antropologi sosial, sosiologi hukum, dsb. 

Pengetahuan budaya (the humanities)

Pengetahuan budaya bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi. Untuk mengkaji hal itu digunakan metode pengungkapan peristiwa-peristiwa dan pernyataan-pernyataan yang bersifat unik, kemudian diberi arti. Peristiwa-peristiwa dan pernyataan-pernyataan itu pada umumnya terdapat dalam tulisan-tulisan. Metode ini tidak ada sangkut pautnya dengan metode ilmiah, hanya mungkin ada pengaruh dari metode ilmiah. 

Pengetahuan budaya (the humanities) dibatasi sebagai pengetahuan yang mencakup keahlian seni dan filsafat. Keahlian inipun dapat dibagi-bagi lagi ke dalam berbagai bidang keahlian lain. Seperti seni tari, seni rupa, seni musik, dll. Sedang ilmu budaya adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Dengan perkataan lain ilmu budaya menggunakan pengertian-pengertian yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan budaya untuk mengembangkan wawasan pemikiran dan kepekaan dalam mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. 

Hubungan ilmu, teknologi dan kebudayaan

ilmu, teknologi dan kebudayaan – Dalam hal ini penulis dapat menyimpulkan beberapa hubungan dan perbedaan ilmu, teknologi dan kebudayaan sebagai berikut:

  1. Ilmu dan teknologi merupakan bagian dari kebudayaan.
  2. Kebudayaan terdiri atas banyak nilai yakni sosial, politik, ekonomi, religi, ilmu dan teknologi. 
  3. Ketiganya memiliki hubungan dialektis yang sangat kuat.

Adapun Perbedaan ilmu dan teknologi adalah:

1)      Ilmu bertujuan untuk menambah pemahaman manusia terhadap fenomena alam, sedangkan Teknologi bertujuan untuk memberikan kepraktisan bagi manusia

2)      Input ilmu adalah ilmu yang sudah ada sebelumnya, sedangkan Input teknologi adalah teori ditambah dengan SDA dan SDM 

3)      Karena input ini, ilmu bersifat supranasional, maka Teknologi terbatas pada lingkungan tertentu 

4)      Output ilmu adalah ilmu baru, sedangkan Output teknologi adalah produk 3-D

 Pengaruh ilmu, teknologi dalam kehidupan berbudaya

ilmu, teknologi dan kebudayaan – Ilmu pengetahuan dan teknologi sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan berbudaya. Teknologi sendiri dapat muncul dari ilmu pengetahuan yang selalu berkembang dari zaman ke zaman.

Namun, pengaruh Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dalam pembentukan budaya mempunyai dampak positf dan negatif. dampak positif pada pembentukan kebudayaan salah satunya adalah semakin berkembangnya daya pikir individu dalam suatu bidang, baik itu dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan, dan lain sebagainya. selain itu, kemampuan individu dalam mencari informasi atau mengumpulkan data untuk bahan diskusi dapat mereka dapatkan dengan cepat dan akurat melalui media yang berbasis teknologi. Dari kedua hal di atas, pengaruh dalam pembentukan kebudayaan akan dengan sendirinya muncul di dalam lingkungan masyarakat sebagai masyarakat modern. 

Adapun dampak negatifnya seperti penyalahgunaan media teknologi sebagai sarana pencarian hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan ilmu pengetahuan. Hal itu dapat membentuk kebudayaan yang rendah akan moral dan sumber daya manusia yang bobrok tak berkualitas sedikitpun.

Dari 2 dampak di atas, dapat di simpulkan bahwa pengaruh IPTEK pada pembentukan kebudayaan tergantung dari kemampuan individu dalam menilai dampak yang di timbulkan pada dirinya sendiri maupun dalam masyarakat. Jika seseorang dapat mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi dengan sebaik-baiknya, maka kebudayaan yang terbentuk juga akan menjadi kebudayaan yang maju dan berdasarkan aturan dan moral yang ada. 

Keterkaitan antara ilmu dan teknologi dengan budaya

ilmu, teknologi dan kebudayaan – Ilmu atau pengetahuan yang tergolong sebagai science terkait erat dengan upaya untuk memahami struktur fenomena yang dijumpai dalam kehidupan.[26] Upaya semacam itu tentunya dilakukan oleh sesuatu masyarakat bila didalam tatanan nilai budayanya sebagai upaya untuk memahami struktur fenomena yang dijumpai dalam kehidupan dipandang penting dan karenanya merupakan upaya yang berharga ataupun dihargai.

            Didalam proses untuk memahami sesuatu fenomena, serentetan pertanyaan dimunculkan, dan jawaban-jawaban disusun. Setiap jawaban ditelaah, dan karenanya diuji kebenaran dan keabsahannya. Artinya dipertanyakan terlebih dahulu kebenaran dan keabsahannya sebelum diakui sebagai jawaban yang tepat.

Bila dalam budaya masyarakat dijumpai informasi yang mengarahkan masyarakat untuk lebih intensif di dalam mengupayakan kejelasan fenomena-fenomena yang dilihat atau dialami atau dirasakan, maka intensitas upaya semacam itu di dalam kehidupan masyarakat tersebut akan tinggi, dan budayanya akan diperkaya dengan informasi ilmiah, dan hal ini akan terungkapkan pada pola laku masyarakatnya.[27] Bila intensitas pengupayaan untuk menghasilkan penjelasan dari fenomena-fenomena yang dijumpai makin tinggi, maka masyarakat tersebut makin tinggi tingkat budaya ilmiahnya. Dengan perkataan lain, kadar informasi ilmiah di dalam himpunan informasi yang menjadi budayanya makin tinggi.

Makin kaya khazanah informasi ilmiah dalam suatu masyarakat, makin banyak fenomena yang difahami dan makin mendalam pemahaman masyarakat tersebut akan terstruktur sebuah perilaku dari gejala-gejala yang dijumpainya dalam kehidupan, baik gejala alam maupun gejala sosial. 

Upaya-upaya teknologis, yaitu upaya-upaya untuk menciptakan sistem-sistem, memerlukan pemahaman akan sistem-sistem yang telah ada, karena sistem ciptaan orang (anggota masyarakat) hanya dapat dibentuk dengan mengubah atau mensintesa struktur sistem-sistem yang telah ada. Oleh karena itu, hasil dari upaya-upaya ilmiah sangat penting di dalam menyediakan basis informasi bagi upaya-upaya teknologis. 

Beberapa kesimpulan dapat ditarik dari uraian dan pembahasan yang telah diberikan diatas, yang dapat dijadikan landasan di dalam menelaah masalah-masalah penting di dalam memfungsikan teknologi, menggariskan upaya industrialisasi, dan di dalam upaya merumuskan pilihan alur pendekatan di dalam melaksanakan industrialisasi:

  1. Suatu masyarakat mampu melaksanakan industrialisasi hanya bila masyarakat tersebut mampu memilih dan mengoperasikan teknologi secara tepat, di dalam sistem-sistem produksi yang dimiliki dan dikembangkannya.[28] Yang dimaksud dengan tepat adalah bahwa teknologinya bersesuaian dengan kepentingannya dan kemampuan yang dimiliki masyarakatnya untuk menggunakan dan memelihara teknologi tersebut. 
  2. Makin tinggi kadar teknologi yang dibentuk sendiri di dalam himpunan teknologi yang difungsikan di sistem industrinya, makin baik kinerja pengoperasian sistem industrinya, dan makin leluasa masyarakat tersebut di dalam mempolakan dan mengarahkan perkembangan sistem teknologi dan industrinya, yang berarti makin memiliki kemerdekaan di dalam berteknologi dan berindustri, dan hal-hal lain yang terkait dengan hal itu. 
  3. Pengalihan dan penggunaan teknologi yang berasal dari masyarakat lain harus dilakukan dengan persiapan yang seksama, agar isyarat-isyarat yang terkandung di dalam teknologi yang dialihkan sesempurna mungkin difahami, sehingga terhindar terjadinya degradasi kinerja dan risiko pengoperasian yang besar, serta meminimumkan ketergantungan teknologis. kesemuanya dapat berakibat meningkatnya biaya-biaya dalam pengoperasiannya dan menurunkan daya saing produk teknologis yang dihasilkan, serta hal-hal lain yang merugikan.
  4. Kemampuan suatu masyarakat di dalam membentuk teknologi berbanding langsung dengan kemampuan masyarakat tersebut di dalam menghasilkan informasi ilmiah dan di dalam mengupayakan kegunaan informasi ilmiah. 
  5. Tata-nilai budaya suatu masyarakat merupakan landasan penentu kemampuan masyarakat dalam berilmu pengetahuan dan berteknologi; cirri-ciri penting tata nilai budaya masyarakat yang mendukung kesuburan pengembangan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah:

a)      Menyenangi dan menghargai upaya untuk memperoleh kejelasan akan fenomena-fenomena yang dijumpai dalam kehidupannya; 

b)      Menyenangi dan menghargai upaya-upaya memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki untuk membentuk sistem-sistem baru; 

c)      Memiliki patokan-patokan yang mampu membedakan dan memilih upaya-upaya ilmiah dan teknologis yang membawa kepada terwujudnya tata kehidupan yang lebih baik; 

d)     Memiliki patokan-patokan yang memungkinkan terwujudnya hubungan sosial yang lebih terbuka, serta mengendalikan pertumbuhan dari institusi-institusi yang tidak mempunyai daya tanggap terhadap isyarat-isyarat lingkungannya. 

Demikian ulasan singkat seputar ilmu, teknologi dan kebudayaan semoga bermanfaat.

situs: www.rangkumanmakalah.com

 DAFTAR PUSTAKA

Al Qardawi, Yusuf. al aqlu wal ilmu fi alquran alkarim. Maktabah Wahbah, Kairo, cet 1996.

Ar Razi, Ibnu muhammad, tahrir al qawaid al mantiqiyah. Maktabah Mustofa Halabi, Kairo

Botroe, Emil, al ilmu wa ad din fi al falsafah al muashirah. Terjemahan Ahmad Fuad Al

Ahwani, Kairo: Al Hai’ah Al Misriyah

Gie, The Liang, pengantar filsafat ilmu, Liberty, Yogyakarta. 1991

Hanafi , Hasan, dirasat falsafiyah, kairo. 1987

Hanafi , Hasan, ad din wa ats tsaqafah wa as siyasah fi al watan al arabi. Kairo. 1998

Hoesada , Jan, peranan bahasa dalam konteks sejarah penelitian dan karya ilmiah.

Heppell, Daniel Justin, Penyebab dan Akibat Perubahan Kebudayaan Jawa di Yogyakarta. Universitas Muhammadiyah Malang: 2004.

Ja’far , Muhammad Yusri, al akidah wa falsafat al ilmi. Kairo: Al Azhar University, cet: 2000.

Jauhari , Muhammad Rabi’ Muhammad, dlawabit al fikri. Kairo, 2002

Sasmojo, Saswinadi, ‘Science, Teknologi, Masyarakat dan Pembangunan’. Bab III,

Soemitro , Ronny Hanitijo, Hukum dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Di dalam masyarakat

Suriasumantri, Jujun S., filsafat ilmu sebuah pengantar populer, Jakarta: Sinar Harapan. 2003.

……………, Tinjauan tentang ilmu budaya dasar

……………., Dinamika Masyarakat Indonesia, PT Genesindo, Bandung, 2004


[1] Emil botroe, al ilmu wa ad din fi al falsafah al muashirah. Terjemahan ahmad fuad al ahwani, Kairo: al hai’ah al misriyah. P. 7

[2] Ibid. p. 4

[3] Hasan Hanafi, dirasat falsafiyah, kairo. 9

[4] Muhammad Yusri Ja’far, al akidah wa falsafat al ilmi. Kairo: Al Azhar University, cet: 2000. P. 86-87

[5] Yusuf alQardawi, al aqlu wal ilmu fi alquran alkarim. Kairo: Maktabah Wahbah, , cet 1996. P. 71

[6] Muhammad Rabi’ Muhammad Jauhari, dlawabit al fikri. Kairo, 2002. P. 12

[7] Ibid. 14

[8] Pembagian ini adalah pembagian ilmu menurut ulama’ mantiq. Lih. Ibnu muhammad ar razi, tahrir al qawaid al mantiqiyah. Maktabah Mustofa Halabi, kairo. P.  7

[9] Yusuf alQardawi, al aqlu wal ilmu fi alquran alkarim……73

[10] The liang gie, pengantar filsafat ilmu. Liberty, Yogyakarta, 1991. P. 89

[11]Ronny Hanitijo Soemitro, Hukum dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dalam masyarakat. Yang Diucapkan pada Upacara Peresmian Penerimaan Jabatan Guru Besar Tetap pada Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang,6 Desember 1990. P. 5

[12] Wikipedia bahasa Indonesia tentang definisi Teknologi

[13] Definisi-definisi teknologi penulis mengutip dari Ronny Hanitijo Soemitro, Hukum dan perkembangan ilmu pengetahuan….10-12

[14] Jujun S. suriasumantri, filsafat ilmu sebuah pengantar populer, Jakarta: Sinar Harapan. 2003. P.261

[15] E.B. taylor, Primitive Culture (London: John Murray, 1871). 21 yang mana dikutip oleh Jujun S. suriasumantri, filsafat………..261

[17] Dinamika Masyarakat Indonesia, PT Genesindo, Bandung, 2004, p. 124

[19] Daniel Justin Heppell, Penyebab dan Akibat Perubahan Kebudayaan Jawa di Yogyakarta. Universitas Muhammadiyah Malang: 2004. P. 14

[20] Dinamika Masyarakat Indonesia…… p. 132

[21] ibid p. 134

[22] ibid p. 134

[23] Daniel Justin Heppell, Penyebab dan Akibat Perubahan…….. P. 15

[24] Tinjauan tentang ilmu budaya dasar. Bab I. P. 4

[25] Ibid. 4

[26] Saswinadi Sasmojo, ‘Science, Teknologi, Masyarakat dan Pembangunan’. Bab III, p. 3

[27] Ibid. 4

[28] Ibid. 7

[29] Jan Hoesada, peranan bahasa dalam konteks sejarah penelitian dan karya ilmiah. P. 5

[30] Jujun S. suriasumantri, filsafat ilmu sebuah pengantar……..229

[31] Hasan Hanafi, ad din wa ats tsaqafah wa as siyasah fi al watan al arabi. Kairo. 1998. 213

[32] Jujun S. suriasumantri, filsafat ilmu sebuah pengantar……..262 ilmu, teknologi dan kebudayaan

Share This:

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *