ISLAM DI SPANYOL

www.rangkumanmakalah.com

A. Latar Belakang

Tidak dimungkiri, dalam sejarah tercatat bahwa peradaban Islam pernah mencapai puncak kejayaan berkat ketekunan umatnya dalam mencari dan menyebarkan ilmu agama (Islam) dan pengetahuan. Hal demikian tidaklah menjadi suatu yang mengherankan, sebab ghirah semacam itu tidak lain dikarenakan adanya dorongan yang kuat dari ajaran Islam itu sendiri yang menstimulus pemeluknya untuk lebih giat dalam menggali dan menemukan sesuatu yang berguna bagi umat manusia. Dan inilah yang menjadikan ciri khas Islam dan umatnya, yang pada gilirannya secara dinamis menelurkan peradaban-peradabannya. Tidak terkecuali peradaban yang pernah atau turut mewarnai di dataran Eropa yakni tepatnya Andalusia atau Spayol.
Ketika Islam mencapai masa kejayaan atau keemasannya inilah, wilayah Spanyol kontan menjadi pusat peradaban Islam mewakili wilayah barat yang sangat diperhitungkan, hingga menyaingi Baghdad di timur. Pada waktu itu, orang Eropa berbondong untuk menimbah ilmu di perguruan tinggi Islam di sana. Islam menjadi “guru” bagi orang Eropa. Karena itu, kehadiran islam di Spanyol banyak menjadi pusat perhatian para sejarawan.
Akan tetapi, secara tidak disadari kemuculan dan pengaruh Islam di Spanyol justru menjadi bumerang. Masa ke-emaan dan kejayaan Islam ternyata menjadi tonggak dan bekal orang Eropa untuk bangkit dari keterpurukan atas kekuasaan (intervensi) Islam terhadap mereka. Lebih lanjut, penemuan benua Amerika oleh Christoper Columbus dan jalan ke Timur melalui Tanjung Harapan oleh Vasco De Gama, membuat Eropa mengalami kemajuan dalam perdagangan, sehingga bisa terlepas dari ketergantungan jalur lama yang dikuasai umat Islam. Inilah awal perputaran nasib yang maha hebat dalam sejarah peradaban manusia yang berimbas pada umat Islam khususnya. Di satu sisi Eropa mengalami kebangkitan, justru di sisi lain umat Islam terus mengalami kemunduran, hingga pada gilirannya istilah The Sick Man of Europe.
Perkembangan Islam sendiri di Spanyol berlangsung cukup lama terbentang lebih dari tujuh setengah abad. Di Spanyol Islam memainkan peranan yang sangat besar. Sejarah panjang yang dilalui umat Islam di Spanyol ini setidaknya terbagi menjadi enam periode, dimana tiap periode mempunyai corak pemerintahan dan dinamika masyarakat tersendiri. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir di sana.
Beberapa hal menarik yang perlu untuk digali informasinya tentang Islam di Spanyol antara lain, yakni proses awal yang melatari persinggungan Islam dengan Spanyol hingga akhirnya bisa menancapkan otoritas kekuasaan politiknya, yang secara otomatis menafikkan otoritas penguasa –kerajaan visigoth- sebelumnya. Serta reaksi dan kondisi masyarakat pribumi terhadap masuknya Islam di sana. Selain itu, informasi terkait pola pemerintahan seperti apa yang diterapkan oleh Islam di sana hingga bisa melanggengkan kekuasaanya hingga berlangsung selama tujuh aban lebih yang selanjutnya mengalami kemuduran dan kehancuran.
B. Pokok Bahasan
1. Drama Masuknya Islam di Spanyol
2. Dinamika Pemerintahan (politik) Islam di Spanyol

B. PEMBAHASAN

A. Drama Masuknya Islam di Spanyol

Benua Afrika, terutama Afrika Utara merupakan daerah yang penting dalam kaitannya dengan Andalusia dan juga penyebaran Islam di Eropa. Ia merupakan pintu gerbang utama masuknya Islam ke wilayah yang selama berabad-abad lamanya di bawah kekuasaan atau tirani Kristiani. Dalam proses penaklukan Spanyol ini terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa yaitu Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair.
Sebelum kedatangan umat Islam, semenanjung Iberia atau Andalusia merupakan kerajaan Hispania yang dikuasai oleh orang kristen Visigoth. Sebutan Andalusia berasal dari kata Vandalusia, artinya negeri bangsa Vandal, tidak lain disebabkan karena daerah selatan bagian semenanjung itu pernah dikuasai oleh bangsa Vandal sebelum akhirnya mereka diusir oleh bangsa Gothia Barat pada abad 5 masehi. Islam kali pertama masuk atau merebut wilayah Andalusia dari bangsa Gothia Barat pada masa khalifah al-Walid Ibnu Abd al-Malik (705-715 M.), salah seorang khalifah dari Bani Umayyah dengan pusat pemerintahan di Damaskus, di mana Umat Islam sebelumnya telah mengusai Afrika Utara, dengan Gubernurnya adalah Musa bin Nushair. Di masa pemerintahan al-Walid ini, Musa Ibnu Nushair diangkat sebagai Gubernur untuk wilayah Afrika Utara dan Barat yang berkedudukan di Qairawan.
Menjelang penakhlukan, pemerintahan Gothia Barat mengalami kemunduran akibat perpecahan elit politiknya. Pada saat itu, Musa Ibnu Nushair menerima delegasi yang datang dari kota Ceuta, Count Julian, -Gubernur Spanyol- yang terdiri dari Pangeran Julian dan keluarga raja Witiza yang memerintah Spanyol. Maksud kedatangan mereka ke Qairawan adalah untuk meminta bantuan guna menghalau Panglima Rodrick (Rodrigo) yang telah merampas kekuasaan dari Raja Gouthia pada 710 M. yang berkedudukan di Toledo.
Setelah memperoleh persetujuan khalifah al-Walid Ibnu Abdul Malik di Damaskus, maka dimulailah usaha menguasai Spanyol oleh Musa bin Nushair dengan mengirim 500 orang di bawah pimpinan Tharif Ibnu Malik pada tahun 710 M. Pasukan tentara ini menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh pangeran Julian. Ia dan pasukannya mendarat di pantai selatan Spanyol yang dikenal dengan nama Tarifana (Arab: Tharif). Tharif Ibnu Malik dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik. Dalam penyerbuan itu Tharif tidak mendapat perlawanan yang berarti. Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit jumlahnya.
Didorong oleh keberhasilan Tharif dan kemelut yang terjadi dalam tubuh kerajaan Visigoth sendiri yang berkuasa di Spanyol pada saat itu, Musa ibn Nushair pada 711 M. mengirim pasukan ke Spanyol sebanyak 7000 orang di bawah pimpinan Thariq Ibn Ziyad. Thariq ibn Ziyad lebih banyak dikenal sebagai penakluk Spanyol karena pasukannya yang lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Thariq bersama pasukannya menyeberang selat yang terletak antara Maroko dan benua Eropa, dan mendarat di suatu tempat yang kemudian dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Tariq). Terkait dengan berhasilnya penaklukan Spanyol, tidak lain karena kobaran semangat yang disulut oleh Thariq melalui pidatonya yang akhirnya mampu membakar semangat para pasukannya.
Dengan dikuasainya daerah ini, maka terbukalah pintu secara luas untuk memasuki Spanyol. Setelah mengalahkan Raja Roderick (Rodrigo), penguasa kerajaan Visigothik, dalam pertempuran di Sungai Barbate, Bakkah tahun 711, Thariq dan pasukannya terus menaklukkan kota-kota penting lainnya, seperti Cordova, Granada dan Toledo (ibu kota kerajaan Visogoth saat itu). Sebelum Thariq berhasil menaklukkan kota Toledo, ia meminta tambahan pasukan kepada Musa ibn Nushair di Afrika Utara. Musa Ibnu nushair mengirimkan tambahan pasukan sebanyak 5000 personel, sehingga jumlah pasukan Thariq seluruhnya 12.000 orang. Jumlah ini belum sebanding dengan pasukan Gothik yang jauh lebih besar, 100.000 orang. Untuk itu, Musa ibn Nushair merasa perlu melibatkan diri dalam gelanggang pertempuran dengan maksud membantu perjuangan Thariq.
Dengan suatu pasukan yang besar, Musa Ibn Nushair berangkat menyeberangi selat Gibraltar, dan satu persatu kota yang dilewatinya dapat ditaklukkannya. Setelah Musa Ibnu Nushair berhasil menaklukkan Sidonia, Karmona, Seville, dan Merida serta mengalahkan penguasa kerajaan Gothic, Theodomir di Orihuela, ia bergabung dengan Thariq di Toledo. Selanjutnya, keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya, mulai dari Saragosa sampai Navarre. Dilanjut gelombang kedua dari penyerbuan kaum Muslimin yang geraknya dimulai pada permulaan abad ke-8 M, telah menjangkau seluruh Spanyol dan melebar jauh menjangkau Perancis Tengah dan bagian-bagian penting dari Italia.

B. Dinamika Politik Islam Di Spanyol

Sejak menginjakkan kakinya di Spanyol hingga keruntuhannya, Islam memerankan peranan yang sangat penting dalam mewarnai kemajuan peradaban Spanyol. Sejarah panjang yang dilalui selama setengah abad yang dilalui umat Islam di Spanyol sedikitnya dapat klasifikaikan ke dalam enam periode, dengan rentang pemerintahan sebagai berikut:
1. Periode pertama (711-755 M.)
Dalam periode pertama ini, dapat dikatakan sebagai periode kekuasaan dinasti Umayyah awal dengan pemegang tampuk pemerintahan adalah wali atau gubernur yang ditunjuk dan diangkat oleh Khalifah bani Umayyah di Damaskus. Oleh khalifah Umayyah wilayah Andalusia ini dijadikan sebagai provinsi baru dan terlepas dari wilayah Afrika Utara yang berpusat Qairawan. Meskipun demikian kebijakannya, dalam awal periode ini masih menyisahkan konflik perebutan kekuasaan antara pihak kekhalifahan di Damaskus dengan elit pemerintah gubernuran di Qayrawan (Afrika Utara), yang pada titik kulminasinya menyebabkan ketidak-stabilan politik kegenaraan. Tercatat, bahwa antara khalifah di Damaskus dengan Gubernur di Afrika Utara, Qairawan, masing-masing mengklaim yang paling berhak menjadi penguasa atas daerah yang baru ditaklukkan tersebut. Sehingga, atas rangkaian konflik tersebut tidak kurang dari dua puluh tiga kali wilayah Islam baru itu mengalami pergantian gubernur (wali) dalam jangka waktu yang cukup singkat antara 732-755 oleh khalifah al-Walid. Andalusia menjadi menjadi salah satu provinsi dari Daulah Umayyah sampai pada tahun 132 H/750.
Dalam periode pertama ini, Andalusia masih terbilang kacau – belum kondusif-. Perang saudara kerap terjadi antara orang Arab Selatan (al-Yamaniyyun) dan orang Arab Utara (al-Qaysiyun). Sebagian besar orang al-Qays adalah berpaham Sunni, sedangkan orang al-Yaman adalah orang-orang Syi’ah. Ditambah orang Barbar sendiri yang menjadi musuh mereka semua karena berpaham Khawarij. Sedangkan di pihak orang Andalusia sendiri begitu menanti-nanti saat yang paling tepat untuk bisa melepaskan diri dari keterkungkungan mereka semua (orang-orang Islam).
Dan, ketika gerakan Abbasiyah berhasil melakukan pemberontakan terhadap Bani Umayyah pada 750 M, yang ditandai dengan pembantaian massal terhadap anggota keluarga Umayyah, maka berdirilah Khilafah Bani Abbas dengan mengambil Bagdad sebagai pusat pemerintahan. Serta sekaligus sebagai pertanda berakhirnya kekhalifahan Umayyah di Damaskus. Dengan keruntuhan Daulah Umayyah di Damaskus ini, Andalusia beralih menjadi salah satu provinsi dari Daulah Abbasiyah. Dengan Yusuf Ibn Abdurahhman Al-Fihri sebagai Gubernurnya.
2. Periode kedua (755-912 M.)
Dalam periode kedua ini, merupakan babak baru pemerintahan Islam di Spanyol dengan penguasa dari Dinasti Bani Umayyah yang dirintis oleh Abdurrahman, cucu Hisyam bin Abdul Malik, khalifah kesepuluh dari Bani Umayyah di Damaskus yang behasil melarikan diri dari kebrutalan rezim Abbasiyah pada waktu terjadi gerakan revolusi Abbasiyah.
Dilihat dari dinamika perpolitikannya, periode kedua ini dapat diklasifikasikan menjadi dua periode:
a. Periode keamiran (755 M-912 M)
Pada periode ini terdapat tujuh Amir yang tercatat pernah memegang tampuk keamiran di Andalusia, yaitu Abd al-Rahman al-Dakhil (756-788), Hisyam I (788-796), al-Hakam I (796-822), Abd al-Rahman II (822-852), Muhammad Ibn Muhammad (852-886), al-Munzir (886-888), dan Abdullah Ibn Muhammad (888-912).
Dengan dimulainya Abdurrahman sebagai Amir di Spanyol, sejak saat itu Spanyol tidak lagi menjadi bagian wilayah Khilafah Abbasiyah di Baghdad, yang saat itu dipimpin oleh khalifah Abu Ja’far al-Mansur, khalifah kedua Abbasiyah. Amir Abdurrahman yang dipanggil al-Dakhil (New Comer) menetapkan Cordova sebagai ibu kotanya.
Abd al-Rahman al-Dakhil berkuasa selama 32 tahun terhitung sejak 756-788 M. Di bawah kekuasaanya, Spanyol mulai bangkit. la mengangkat Gubernur-gubernur yang mampu dan jujur. la benahi kota tua Cordova dengan gedung-gedung dan taman-taman yang indah. Pada periode ini Abdurrahman berhasil mendirikan Masjid Cordova dan sekolah-sekolah di kota-kota besar Andalusia. Ia juga mengeluarkan kebijakan toleransi kepada rakyatnya. Penduduk Kristen diperbolehkan memiliki pengadilan sendiri sesuai dengan hukum Kristen. Dan, mereka juga tidak dihalangi bekerja sebagai pegawai pemerintahan atau menjadi karyawan pada instansi militer. Demikian penerusnya, Amir Hisyam I dan Amir Hakam juga merupakan sosok pemimpin yang terkenal baik dan disegani.
Meskipun demikian periode ini tidak lepas dari masalah. Pada pertengahan abad ke-9, stabilitas negara terganggu dengan munculnya gerakan Kristen Fanatik yang mencari Syahid (Martyrdom). Ditambah Khalifah Abbasiyah di Baghdad yang merasa tidak suka atas suksesnya Bani Umayyah di Spanyol, lalu mengirim gubernur Afrika Utara, al-‘Ala’ bin Mughith ke Andalusia dengan iringan 7000 tentara untuk memerangi Abdurrahman. Namun kemenangan ada dipihak Abdurrahman.
b. Periode Kekhalifahan (912 M-1009 M)
Periode ini berlangsung mulai dari pemerintahan Abdurrahman III yang bergelar An-Nasir. Pada periode ini Spanyol diperintah oleh penguasa dengan gelar khalifah. Penggunaan gelar khalifah tersebut bermula dari berita yang sampai kepada Abdurrahman III, bahwa Al-Muktadir, Khalifah daulah Bani Abbas di Baghdad terbunuh oleh pengawalnya sendiri. Sehingga moment itu merupakan saat yang paling tepat untuk memakai gelar khalifah yang telah hilang dari kekuasaan Bani Umayyah selama 150 tahun lebih. Selain itu, kelahiran Daulah Fatimiyah yang berpaham Syi’ah di Afrika Utara yang memakai gelar khalifah (909 M.), membuat Abdurrahman III berniat mengikutinya dengan memakai gelar Khalifah juga. Karena itulah, gelar ini dipakai Abdurrahman III sejak 929 M. Dan, pada masa itu dunia Islam mempunyai tiga Khalifah sekaligus, satu di Baghdad, satu di Afrika Utara dan satu lagi di Spanyol.
Setelah masa krisis selama 60 tahun, zaman baru dibangkitkan Abdurrahman al-Nashir (912-961 M), dan anaknya Hakam II al-Mustansir (961-976 M). Masa ini dianggap sebagai masa kegemilangan yang lebih tinggi dan mengagumkan dari masa sebelumnya.
Pada periode ini umat Islam Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan menyaingi kejayaan Daulah Abbasiyah di Baghdad. Abdurahman III membangun beberapa buah istana dan memajukan pertanian rakyat. la mewajibkan penguasa-penguasa Kristen membayar upeti ke Cordova.
Cordova saat itu menjadi pusat kebudayaan Islam yang penting di Barat sebagai tandingan Bagdad di Timur. Kalau di Bagdad ada Bait al-Hikmah serta Madrasah Nizamiah, dan Kairo ada al-Azhar serta Dar al-Hikmah, maka di Cordova ada universitas Cordova sebagai pusat ilmu pengetahuan yang telah berhasil dibangunnya.
Abdurrahman III dianggap sebagai sang penyelamat imperium muslim Spanyol. Dengan berbagai kebijakan dan kemampuan intelektualnya, maka stabilitas nasional terkendali serta dapat menarik masyarakat Spanyol dengan tidak menimbulkan jurang pemisah antara kelas dan golongan agama yang ada, sehingga benar-benar tercipta suatu imperium Umayyah yang damai dan kuat di Spanyol. Setelah memegang kekuasaan selama 27 tahun, ia meninggal dunia pada bulan Oktober 961 M.
Hakam II yang bergelar al-Muntasir billah melanjutkan ayahnya. Ia bekuasa selama 15 tahun. Meskipun ia pemimpin yang hebat dan terkenal namun tidak menandingi kebesaran ayahnya. Selama masa pemerintahannya tidak banyak terjadi penentangan hanya sekali saja yaitu oleh kerajaan Kristen di Leon, Castile dan Navarre. al-Hakam II lebih terfokus pada bidang pembangunan khususnya di bidang intelektual.
Dilanjutkan masa pemerintahan Hisyam II, mulai terdapat perubahan struktur politis. Hisyam II baru berusia 11 tahun ketika ia menduduki tahta. Karena usianya masih sangat muda, Ibunya yang bernama Sultanah Subh, dan sekretaris negara yang bernama muhammad Ibnu Abi Amir, mengambil alih tugas pemerintahan.
Menjelang tahun 981 M, Muhammad Ibnu Abi Amir yang ambisius menjadikan dirinya sebagai penguasa diktator. Pada tahun itu juga Muhammad Ibnu Abi Amir memakai gelar kehormatan al-Mansur Billah. la wafat pada 1002 M. Dan digantikan anaknya al-Muzaffar, yang masih dapat mempertahankan kerajaan.
Kedudukan Hisyam II tidak ubahnya seperti boneka. Hisyam II memang bukan orang yang cakap untuk mengatur negara, tindakannya menimbulkan kelemahan dalam negeri. Keadaan ini diperburuk dengan meninggalnya al-Muzaffar pada 1009 M. Akhirnya Hisyam II pun mema’zulkan diri sebagai khalifah pada tahun itu juga.
Beberapa orang yang mencoba untuk menduduki jabatan khalifah tidak ada yang sanggup memperbaiki keadaan. Akhirnya, pada 1013 M, Dewan Menteri yang memerintah Cordova menghapuskan jabatan khalifah. Ketika itu, Spanyol sudah terpecah dalam banyak sekali negara kecil yang berpusat di kota-kota tertentu. Inilah yang disebut al-Muluk al-Thawaif.
3. Periode ketiga (912-1013 M.)
Pada periode ini, Andalusia terpecah menjadi lebih dari tiga puluh negara kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan atau Al-Mulukuth Thawaif, yang berpusat di kota-kota tertentu seperti Seville, Cordova, Toledo, dan sebagainya. Kelompok terbesar diantaranya adalah Abbadiyah yang berpusat di Seville.
Adapun Dinasti yang tergabung dalam al-Muluk al-Thawaif, di antaranya adalah sebagai berikut :
a. Bani Hammud di Malaga dan Algecirus (400- 409 H/ 1010-1057 M).
b. Bani ‘Abbad di Seville (414- 484 H/ 1023-1091 M).
c. Bani Ziri di Granada (403- 483 H/ 1012-1090 M).
d. Bani Yahya di Neibla (414- 443 H/ 1023-1051 M).
e. Bani Muzayin di Silves, Algarve (419-444 H/ 1028-1053 M).
f. Bani Razin di Albarracin, La Sahla (402-500 H/ 1011- 1107 M).
g. Bani Qasim di Alpunte (420- 485 H/ 1029-1092 M).
h. Bani Jahwar di Cordova (442- 461 H/ 1031- 10691 M).
i. Bani Afthas atau bani Maslam di Badajoz (413-487 H/1022 -1094 M).
j. Bani Dzun Nuniyyah di Toledo (419- 478 H/ 1028- 1085 M).
k. Bani ‘Amir di Valencia (412- 469 H/ 1021- 1096 M).
l. Bani Shumadih di Almeria (430- 480 H / 1039- 1087 M).
m. Bani al-Tujbi dan kemudian Hudiyyah di Sarogossa, Lerida, Tudela, Calatayud, Denia dan Tortosa ( 410-536 H/ 1019-1142 M).
n. Banu Mujahid dan Banu Ghaniyah di Majorca (413- 601 H/ 1022-1205 M)
Kerapnya pertikaian antar suku dan pengkhianatan di antara satu dengan yang lain, menjadi faktor dari keruntuhan Muluk Thawaif sendiri. Selain itu serangan dari Dinasti Murabithun dan Muwahiddun juga menjadi faktor penting keruntuhan Dinasti ini. Dengan runtuhnya Muluk Thawaif, otomatis kepemimpinan umat Islam beralih ke tangan mereka.
4. Periode keempat 1013-1086 M.)
Pada periode ini Spanyol Islam meskipun masih terpecah dalam beberapa Negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang dominan, yaitu kekuasaan dinasti Murabithun (1086-1143) dan dinasti Muwahhidun (1146-1235).
a. Dinasti Murabbitun
Dinasti Murabbitun pada awalnya adalah gerakan dakwah yang didirikan oleh Yusuf Ibn Tasfin di Afrika Utara pada 1062. Ia berhasil mendirikan kerajaan yang berpusat di Marakesy. Ia masuk ke Spanyol atas undangan Al-Mu’tamid, penguasa Bani Abbas di Sivella yang sedang terancam oleh kekuasaan Kristen, untuk menghadapi Al-Fonso VI.
Dinasti Murabithun mengalami kemunduran ketika kepemimpinan Ibrahim bin Tasyfin dan Ishaq bin Tasyfin. Fanatisme para fuqaha’ menyebabkan penerapan ajaran agama menjadi kaku. Karangan Al Ghazali tercatat sebagai buku–buku yang dilarang untuk dibaca, lalu dibakar. Pada tahun 1118 M. Alfaso VI dari Aragon berhasil membunuh sejumlah besar tentara Murabithun yang pada akhirnya menyebabkan hancurnya pemerintahan Murabithun. Pada 1143, kekuasaan dinasti ini berakhir baik yang di Afrika Utara maupun Spanyol.
b. Dinasti Muwahhidun
Al–Muwahiddun pada awalnya adalah gerakan keagamaan yang kemudian merambah wilayah politik yang selanjutnya menggeser dinasti Murabithun. Ia didirikan oleh Ibnu Tumart. al–Muwahhidun lahir untuk memprotes madzhab Maliki, yang konservatif dan legalistik yang berkembang di Afrika Utara. Di samping itu dinasti ini muncul sebagai respon terhadap kekuasaan Murabithun.
Dinasti ini datang ke Spanyol dipimpin oleh Abdul Mun’im, sekitar 1114 dan 1154, dan berhasil menguasai kota-kota penting seperti Cordova, Almeria dan Granada. Dinasti ini dalam jangka beberapa dekade mengalami banyak kemajuuan. Kekuatan Kristen dapat dipukul mundur, akan tetapi tidak lama setelah itu Muwahhidun mengalami keruntuhan.
Kemunduran dinasti Muwahhidun disebabkan utamanya karena luas wilayah, sementara penduduknya sangat majemuk yang terdiri dari bangsa Berber yang keras dan bengis. Wilayah yang luas ini khusunya yang di Spanyol, sulit di kontrol oleh pemerintah pusat, sehingga akhirnya mudah dikuasai oleh tentara Kristen Spanyol yang belakangan mengalami kebangkitan politik.
5. Periode kelima (1248-1492 M.)
Pada periode ini Islam hanya berkuasa di daerah Granada, dibawah dinasti Bani Ahmar (1232-1492). Penguasanya ialah Muhammad bin Yusuf bin Nasr yang dikenal sebagai al-Ahmar. Pada mulanya ia berkuasa di Jaen. Ketika Jaen diserang tentara Kristen, dia terpaksa melarikan diri ke Garanada dan selanjutnya mendirikan kerajaanya di sana pada 1235 M.
Peradaban kembali mengalami kemajuan seperti pada masa Abdurrahman al-Nasir, akan tetapi secara politik dinasti ini hanya berkuasa di wilayah yang kecil. Dalam rentang 1344 -1396 M Bani al–Ahmar di Granada berhasil mendirikan istana Alhambra yang terindah di Spanyol yang melambangkan seni bangunan teragung di dunia.
Pada dekade terakhir abad XIV telah terjadi krisis dan perebutan kakuasaan di kalangan keluarga pemerintah. Abu Abdullah membuat rencana dalam bentuk kerjasama antara Raja Ferdinand untuk merampas takhta pemerintahan. Pengambil alihan itu berhasil dan Abu Abdullah dapat menduduki takhta tetapi untuk jangka waktu yang pendek, disebabkan tekanan dari Ferdinand yang menuntut penyerahan wilayah Granada kepadanya. Pada tahun 1492 M. kerajaan Islam Granada terpaksa mengaku kalah kepada pihak tentara Kristen. Penyerahan dalam bentuk perjanjian yang ditandantangani oleh pihak Islam dan Raja Kristian Spanyol yaitu Ferdinand dan Isabella. Namun perjanjian itu dilanggar oleh pihak Kristen. Dan umat Islam terus mendapat tekanan.
Setelah itu umat Islam dihadapkan kepada dua pilihan, masuk Kristen atau pergi meninggalkan Spanyol. Umat Islam pun terusir dengan pedihnya dari bumi Andalusia. Pada 2 Januari 1492, baik Cordova maupun Granada hancur lebur bersama kitab-kitabnya berikut peradabannya. Dan pada 1609 M, boleh dikatakan tidak ada lagi umat Islam di daerah ini.

C. Kesimpulan

Dari penjabaran dinamika pemerintahan atau politik Islam di Spanyol , setidaknya bisa diambil perasan ringkas sebagai benang simpulnya. Perdaban Islam di Andalusia mulai memasuki dataran ini sejak masa Khalifah Walid Ibn Abdul Malik dari bani Umayyah (705-715). Adapun tokoh sentral dalam keberhasilan masuknya Islam ke Andalusia tidak terlepas dari jasa tiga tokoh, antara lain: Tharif Ibn Malik yang bertindak sebagai perintis sekaligus penyidik dengan lima ratus tentaranya, Thariq Ibn Ziyad yang dikenal sebagai penakhluk Andalusia yang mampu menguasai Gibraltar yang merupakan pintu masuk ke daerah tersebut, dan Musa Ibn Nushair sebagai pemelancar usaha Thoriq.
Dengan masuknya Islam ke bumi Andalusia, maka dibentuklah sebuah pemerintahan Islam dengan dipegang oleh seorang Gubernur dari Umayyah di Damaskus. Kondisi ini tidak bertahan lama setelah keruntuhan Umayyah oleh pemberontakan Abbasiyah dengan tokohnya Abbas bin Abdullah. Namun sejak Abdurrahman Ad Dhakil hadir dan mampu menarik simpatisan Umayyah hingga akhirnya mendapat kepercayaan menjadi Gubernur (Amir) di sana. Maka, saat itu juga kebgnkitan Umayyah ke-dua telah dimulai dan sudah berdiri independent dari Daulah Abbas di Baghdad.
Dapat dipahami dinamika politik Islam Andalusia, mengalami sedikitnya lima periode kepemimpinan. Antara lain, periode pertama dapat disebut sebagai periode kegubernuran Daulah Umayyah, periode kedua adalah periode keamiran dan kekhalifahan, periode ketiga al-Muluk at-Thawaif, periode keempat adalah periode pemerintahan Afrika Utara, Murabbithun dan Muwahhidun, periode kelima adalah periode terakhir yang dikenal dengan periode Bani Ahmar.
Dengan berakhirnya periode Bani Ahmar, maka menjadi tonggak musnahnya peradaban Islam di bumi Andalusia.

BIBLIOGRAFI

Abidin, Zainal. Ilmu Politik Islam. jilid-IV. Jakarta: Bulan Bintang, 1978.
Abu Bakar, Istianah. Sejarah Peradaban Islam. Malang: UIN Malang Press, 2008.
Amin, Husayn Ahmad. Al-Mi’âh al-A’ẓâm fi Tarikh al-Isl̂am, Terj. Bahruddin Fannani. cet. III. Bandung: PT Rosdakarya, 1999
Arnold, Thomas W. Sejarah Da’wah Islam, Jakarta: Wijaya, 1983.
Bosworth, C.E. The Islamic Dynasties. terj. Ilyas Hasan. Bandung: Mizan, 1993.
Burhanuddin, Amany. Dunia Islam Bagian Barat; Ensiklopedi Tematis 2. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002.
Hakim, Moh. Nur. Sejarah Peradaban Islam. Malang: UMM Press, 2004.
Hamzah, Azam bin. “Perkembangan Ilmu Pengetahuan di Andalus pada Zaman Pemenrintahan Bani Umayyah”. Disertasi–UKM, Bangi, 1994.
Hitti, Philip K. History of The Arabs, Terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi. Jakarta: Serambi, 2010.
Lapidus, Ira M. Sejarah Sosial Ummat Islam, Bagian kesatu dan kedua. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1999.
Mahayuddin, Yahya. Sejarah Islam. cet. V. Selangor: Fajar Bakti Sdn, 1995.
Menocal, Maria Rosa. Ornament of The World: How Muslims, Jews, and Cristians Created a Culture of Tolerance in Medieval Spain, Terj. Nurasiah. Bandung: Mizan, 2006.
Sodiqin, Ali, dkk. Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern. Cet. II, Yogyakarta: LESFI, 2004.
Spuler, Bertold. The Muslem World: A Historical Survey. Eiden: E. J. Brill, 1960.
Syalabi, A. Sejarah dan Kebudayaan Islam Jilid 2. Jakarta: Pustaka al-Husna, 1983.
Syed Mahmudunnasir. Islam Its Concepts and History, New Delhi: Lahoti Fine Art Press, 1981.
Watt, W. Montgomery. Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Oreintalis. Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990.
Yatim, Badri. Sejarah Perabadan Islam. Cet. xiii, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003.
Zaidan, Jurji, Tarikh al-Tamaddun al-Islami. Juz III. Kairo: Dar Al-Hilal, tt.
Zanki, Abd al-Rahman. Gharnathah wa Atsaruha al-Fatinah. Kairo: al-Haiah al-Misriyahal-Ammah li al-Ta’lif, 1971.

Share This:

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *