KHALIFAH ABDUL MALIK BIN MARWAN DAN AL WALID

Khalifah Abdul Malik bin Marwan

Khalifah Abdul Malik bin Marwan

www.rangkumanmakalah.com

Masa ekspansi dapat dikatakan sebagai masa kemajuan, integrasi dan keemasan Islam. Ekspansi dimulai dari masa Nabi Muhammad, di mana sebelum beliau wafat (632 M), seluruh semenanjung Arabia berada dibawah kekuasaan Islam. Diteruskan oleh Abu Bakr al-Shiddiq (kholifah pertama) sampai pada ekspansi ke daerah-daerah. Masa ekspansi dibagi menjadi 3 bagian, masa Khulafa’ al-Rasyidin, masa Bani Umayyah dan masa Bani ‘Abbasiyah[1].        Pada masa Mu’awiyah, ‘Uqbah ibn Nafi’ menguasai Tunis dan disana dia mendirikan kota Qairawan (670 M). Yang kemudian menjadi salah satu pusat kebudayaan Islam. Daerah kekuasaan sampai Oxus dan Afghanistan sampai ke kabul dikuasai. Angkatan lautnya mengadakan serangan-serangan ke ibu kota Bizantium, konstantinopel. 

          Ekspansi berikutnya dilakukan ke Timur dan ke Barat. Ekspansi ke Timur dilakukan pada masa ‘Abd al-Malik, yang akhirnya menundukkan Balkh, Bukhara, khawarizm, Farghahah, Samarkhand, Balukhistan, Sind, Punjab dan Multan. 

        Ekspansi ke Barat terjadi di zaman al-Walid. Beberapa tempat yang ditundukkan adalah Maroko dan Spanyol. Ekspansi ke Prancis sebenarnya juga dilakukan, akan tetapi upaya ini tidak berhasil

       Sehingga daerah-daerah yang dikuasai  Islam pada masa dinasti ini adalah spanyol, Afrika Utara, Suriah, Palestina, semenanjung Arabia, Irak, sebagian dari Asia Kecil, Afghanistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Turkmenia, Uzbek dan Kirghis (di asia Tengah)[2]. 

       Muawiyah dan keturunannya telah meluaskan daerah Islam, sehingga kurang dari satu abad setelah Nabi Muhammad wafat, Muawiyah dan keturunannya telah menjadi pemimpin yang sukses. Islam telah tersebar ke Barat sampai ke Spanyol/Prancis, ke selatan sampai ke Sudan/Ethopia, ke Timur sampai ke India dan ke Utara sampai ke Rusia/danau Oral[3].

       Pada Masa pemerintahan Bani Umayyah terkenal sebagai suatu era agresif, dimana perhatian tertumpu kepada usaha perluasan wilayah dan penaklukan, yang terhenti sejak zaman kedua Khulafaurrasyidin terakhir. Hanya dalam waktu kurang lebih 90 tahun, banyak bangsa diempat penjuru mata angin beramai-ramai masuk kedalam kekuasaan Islam[4].

B.  PEMBAHASAN

Dinasti Umaiyah berkuasa hampir satu abad, tepatnya selama 90 tahun, dengan 14 orang khalifah. Dimulai oleh Muawiyah ibn Abi Sufyan dan ditutup oleh Marwan ibn Muhammad. Diantara mereka ada pemimpin-pemimpin besar yang berjasa di dalam berbagai bidang sesuai dengan kehendak zamannya. Empat orang khalifah memegang kekuasaan sepanjang 70 tahun, yaitu Muawiyah, Abdul Malik, al-Walid I dan Hisyam. Sedangkan sepuluh khalifah sisanya hanya memerintah dalam jangka waktu 20 tahun saja. Para pencatat sejarah umumnya sependapat bahwa khalifah-khalifah terbesar mereka ialah: Muawiyah, Abdul Malik dan Umar ibn Abdul Aziz[5].

Kita akan membahas sebagian dari kholifah dinasty Umaiyah diantaranya Abdul Malik ibn Marwan dan al-Walid. 

1.      ABDUL MALIK BIN MARWAN (65-86 H/685-705 M)

Dia adalah Abdul Malik bin Marwan bin Al-Hakam bin Abu Al ‘Ash bin Umayah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf. Ibunya adalah Aisyah binti Muawiyah bin Al Mughirah bin Abu Al ‘Ash bin Umayah. Silsilah ayah dan ibunya bertemu pada Abu Al ‘Ash. Ibunya terkenal sebagai orang yang sangat baik perilakunya dan sifat-sifatnya. 

Abdul Malik bin Marwan lahir di Madinah pada tahun 26 H, pada masa pemerintahan Utsman bin Affan. Tercatat, bahwa ia tumbuh dengan sangat cepat dan terkenal sebagai pemberani serta suka menolong. Begitu juga ia dikenal sebagai seorang penasihat, pujangga, bersifat spontan dan vokal dalam hak, yakni tidak merasa takut dicerca. Dia pun dikenal sebagai orang yang hafal Al-Qur’an dan tercatat bahwa ia belajar ilmu-ilmu  agama yakni fiqih, tafsir, dan hadits kepada para guru dari kalangan para ulama Hijaz yang ada di Madinah

Ibnu Sa’d telah meriwayatkan, bahwa penduduk Madinah berkata: Abdul Malik belajar menghafal Al-Qur’an dari Utsman bin Affan dan mendengar (belajar) hadits dari Abu Hurairah, Abu Sa’id Al-Khudri, Jabir bin Abdullah, dan dari para sahabat Rasulullah s.a.w yang lain. Dengan demikian tidaklah mengherankan, bilamana dia dikenal sebagai orang yang ahli fiqih dan seorang ahli ilmu yang sangat mencintai ilmu. Begitu juga, ia pun seorang pujangga dan seorang kritikus syair yang ahli dalam membedakan syair yang baik dan yang jelek, kemudian diapun terkenal sebagai seorang yang memiliki klub tempat bertemu dan berdiskusi bersama para penyair dan pujangga untuk membahas tentang buku-buku kesusasteraan, seperti kitab Al-Kamil karangan Al-Mubarrad, kitab Al Amali karangan  Abu Ali, dan buku-buku kumpulan sastra yang lain[6].

2.      AL WALID BIN ABDUL MALIK (86-96 H/705-715 M)

Ketika Abdul Malik bin Marwan meninggal dunia pada tahun 86 H. Lalu puteranya, Al Walid, naik tahta menjadi khalifah. Tercatat, bahwa al-Walid menduduki kursi khalifah selama sepuluh tahun. Masa pemerintahan al-Walid adalah masa-masa penaklukan di samping masa-masa damai dan tentram. Pada masa pemerintahannya wilayah pemerintahan bertambah luas, baik di barat maupun di timur, sebagaimana kehidupan yang sejahtera bagi mayoritas kaum muslimin pun dapat diwujudkan.

Hidup yang sejahtera ini terwujud, antara lain: berkat sifat kasih sang khalifah kepada kaum fakir miskin, berkat perhatiannya yang besar terhadap keadaan dan kepentingan masyarakat luas sehingga ia sering tidak tidur sepanjang malam karenanya, kemudian berkat usaha-usaha yang dilakukannya dalam meringankan beban para pasien yang sedang menderita sakit, dan berkat santunannya yang bersifat khusus bagi para penderita kusta karena mereka tidak diperbolehkan meminta-minta kepada orang lain, sebagaimana ia juga secara khusus menyediakan pembantu bagi para manula yang ditugaskan untuk melayani kepentingan mereka dan sebagaimana ia pun secara khusus menyediakan pembantu bagi para tuna netra yang ditugaskan untuk menjadi penuntun yang setia menemani[7].

3.      Ekspansi Kekuasaan Pada Masa Khalifah Abdul Malik Bin Marwan

Perluasan wilayah (ekspansi) politik Islam diluar semenanjung Arabia yang terhenti dimasa khalifah Ali, kini diteruskan oleh dinasti bani umayyah, terutama dimasa khalifah  Abdul Malik bin Marwan dan al-Walid bin Abdul Malik. Ekspansi pada masa ini terbagi kepada dua arah, ke barat yang meliputi wilayah Afrika Utara, Spanyol dan Perancis. Dan ke timur yang meliputi wilayah Asia Tengah dan India.

Ekspansi ke barat telah dimulai sejak masa pemerintahan Muawiyah. Ia mengutus Uqbah bin Nafi’ untuk menaklukkan daerah-daerah Afrika utara yang telah lama dikuasai romawi. Ia berhasil mengusai tunisia, dan di tahun 670 M. Ia menjadikan kota Qairuwan sebagai ibu kota dan pusat kebudayaan Islam. Namun, wilayah itu kemudian kembali dikuasai  bangsa barbar, baru pada masa Abdul Malik bin Marwan berhasil dikuasai kembali berkat pasukan yang dipimpin Hasan bin Nu’man. Setelah Hasan meninggal pada 708 M, jabatan gubernur digantikan oleh panglima Musa bin Nusair. Ia meluaskan kekuasaannya dengan menaklukkan Aljazair, Maroko, sampai ke pantai samudra Atlantik. Ekspedesinya juga berhasil merebut pulau Majorka, Minorka, dan Ivoka[8]

Penaklukan militer di zaman Umaiyah mencakup tiga front penting yaitu : 

Pertama, front melawanbangsa Romawi di Asia kecil dengan sasaran utama pengepungan ke ibu kota Konstantinopel, dan penyerangan ke pulau-pulau di Laut Tengah. Kedua, front Afrika Utara. Selain menundukkan daerah hitam Afrika, pasukan muslim juga menyeberangi selat Gibraltar, lalu masuk ke Spanyol. Ketiga, front timur menghadapi wilayah yang amat luas, sehingga operasi ke jalur ini dibagi menjadi dua arah. Yang satu menuju utara ke daerah-daerah di seberang sungai Jihun (Amu Dariyah). Sedangkan yang lainnya ke arah selatan menyusuru Sind, wilayah india bagian barat[9]

Pada masa pemerintahan Muawiyah diraih kemajuan besar dalam perluasan wilayah, meskipun pada beberapa tempat masih bersifat rintisan. Peristiwa paling mencolok keberaniannya mengepung kota Konstantinopel melalui suatu ekspedisi yang dipusatkan di kota pelabuhan Dardanela, setelah terlebih dahulu menduduki pulau-pulau di Laut Tengah seperti Rodhes, Kreta, Cyprus, Sicilia dan sebuah pulau yang bernama award, tidak jauh dari ibu kota Romawi Timur itu. Di belahan timur, Muawiyah berhasil menaklukan Khurrasan sampai ke sungai Oxus dan Afganistan. 

Ekspansi ke timur yang telah dirintis oleh Muawiyah, lalu disempurnakan oleh khalifah Abdul Malik bin Marwan. Dibawah komando Gubernur Irak Hajjaj ibn Yusuf, tentara kaum muslimin menyeberangi sungai Ammu Darya dan menundukkan Balkh, Bukhara, Khawarizm, Fergana dan Samarkand. Pasukan islam juga melalui Makran masuk ke Balukhistan, Sind dan Punjab sampai ke Multan, pada waktu itu Islam menancapkan kakinya untuk [pertama kalinya di bumi India[10].

4.      Ekspansi Kekuasaan Pada Masa Khalifah Al Walid

Dinasti Umayyah di Damaskus mencapai puncak kekuasaan dan kejayaannya selama pemerintahan al-Walid dan Hisyam, imperium Islam berhasil memperluas wilayah sampai batas-batas yang terjauh, membentang dari pantai lautan Atlantik hingga ke indus sampai perbatasan Cina. Perluasan yang hampir tak tertandingi sejak masa klasik. Pada masa kejayaan tersebut[11]

Berkat kondisi damai yang tercipta di seluruh wilayah pemerintahannya, maka al-Walid berhasil menyempurnakan penaklukan wilayah-wilayah yang telah dirintis oleh para khalifah pendahulunya sehingga wilayah kedaulatan pemerintahannya bertambah luas, baik di barat maupun di timur. Pada masa pemerintahannya terkenal tiga panglima yang sangat berjasa dalam melakukan penaklukan. Mereka adalah : Qutaibah bin Muslim Al Bahili, Muhammad bin Al Qasim bin Muhammad Ats Tsaqafi, dan Musa bin Nushair[12].

a.      Upaya Menaklukan Negeri China

Pada masa pemerintahan al-Walid bin Abdul Malik kita menemukan seorang panglima Arab terkenal yang bernama Qutaibah bin Muslim sebagai seorang panglima yang tidak merasa cukup dengan sukses yang dicapainya. Sehingga oleh karena itu pada tahun 96 H ia melakukan perjalan ke perbatasan Cina dengan membawa pasukan tentara yang sangat banyak. Alkisah, saat itu ditengah perjalanan menuju sana sampailah kepadanya berita tentang kematian al-Walid  bin Abdul Malik. Tapi berita tersebut tidak membuat ia surut dari rencananya sehingga perjalanan ke sana tetap dilanjutkan sampai akhirnya ia tiba di negeri Cina. 

Sesudah itu, ia mengutus delegasi yang dipimpin oleh Hubairah bin Al Musyamraj Al-Kilabi untuk menemui kaisar Cina. Setelah terjadi beberapa koresponden antara kaisar cina dengan delegasi Arab, berkatalah kaisar cina kepada mereka: kembalilah kalian kepada pimpinan kalian dan katakanlah kepadanya agar kembali ketempat semula. Sebab aku telah mengetahui bahwa pimpinan kalian hanya bermotifkan duniawi dan jumlah pasukannya juga hanya sedikit sehingga bilamana tidak mengindahkan petunjuk ini aku akan mengutus pasukan  yang akan membinasakan kalian dan membinasakan dia[13].

Maka Hubairah menjawab pernyataan tersebut : bagaimana pimpinan kami dianggap hanya memiliki sedikit pasukan, padahal pasukan kudanya berderet sejak dari negeri engkau  sampai ke perkebunan zaitun? Bagaimana pimpinan kami dianggap hanya bermotifkan duniawi, padahal ia sangat kaya dan mampu memerangi engkau? Sedangkan sikap engkau yang menakut-nakuti hendak membunuh kami, sesungguhnya kami mempunyai ajal yang telah digariskan sehingga saat tiba waktunya kami pun memuliakannya dengan kematian. Sungguh kami tidak akan mundur[14].

b.      Penaklukan India

Rangkaian ekspansi kaum Muslimin ke India terpaut pada masa yang sangat jauh ke belakang. Tercatat, bahwa ekspansi pertama yang dilakukan mereka kesana terjadi pada tahun kelima belas setelah Rasulullah meninggal dunia. Sejak itu ekspansi bangsa Arab ke India terjadi secara berkelanjutan sampai abad kedelapan belas Miladi dan ekspansi tersebut dilakukan dari Barat Laut. Sebagian diantara mereka lalu ada yang menetap di India dan menjadi para raja yang sangat berjasa bagi kemajuan kebudayaan Islam.

Ketika Al Walid bin Abdul Malik menjadi khalifah, Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi telah menginstruksikan Muhammad bin Al Qasim agar memerangi India. Maka pada tahun 89 H. Muhammad bergerak menuju India dan mengadakan pengepungan terhadap wilayah yang berbatasan dengan Daibal lalu setelah melalui peperangan  yang dahsyat wilayah tersebut berhasil ditaklukkan dan didirikanlah disana sebuah masjid. Selanjutnya ia bergerak menuju Bairun. Sesampainya disana, Muhammad disambut dengan sambutan yang sangat ramah oleh penduduk setempat dan dipersilahkan memasuki kota mereka dengan disertai janji bahwa mereka akan menepati perjanjian damai. 

Muhammad bin al-Qasim terus berlanjut malakukan penaklukan di negeri tersebut sehingga sampai disungai Sind yang dikenal waktu itu dengan sebutan sungai Nahran. Di sini ia berhadapan dengan Dahir, raja Sind. Alkisah, bahwa sang Raja bersama pasukan tentaranya pada waktu itu berperang dengan mengendarai gajah. Perang pun terjadi dengan dahsyat yang berakhir dengan terbunuhnya Dahir dan dengan terpukul mundur para tentaranya. al Madaini menyebutkan, bahwa yang berhasil membunuh Dahir adalah seorang tentara dari kalangan Bani Kilab. 

Dengan demikian Muhammad bin al Qasim berhasil memperluas penaklukannya meliputi seluruh wilayah Sind. Hanya saja bekal kaum muslimin saat itu hampir habis sehingga mereka pun hampir binasa karena kelaparan dan kehausan. Oleh karena itu, terpaksa mereka memakan daging hewan tunggangan. Dalam peristiwa penaklukan Maltan, Muhammad bin Qasim telah menghancurkan tempat peribadatan penduduk setempat (pura). Tempat peribadatan di Maltan adalah merupakan tempat mempersembahkan harta kekayaan dan tempat melakukan segala nadzar serta tempat penduduk Sind melakukan ibadah semacam ibadah haji bagi kaum muslimin[15]

c.       Penaklukan Andalus

Musa bin Nushair menilai bahwa dirinya tidak harus terlebih dahulu untuk meminta izin kepada Khalifah al-Walid yang pada mulanya bersikap ragu-ragu agar dirinya diperkenankan menaklukan Andalus. Namun demikian, ternyata khalifah al-Walid mengintruksikan agar ia mencari informasi sehingga dapat dipastikan bahwa Julian tidak punya maksud hendak menjebak kaum Muslimin. Dengan demikian, pada tahun 91 H (710M) Musa bin Nushair mengutus Thuraif bin Malik seorang berkebangsaan Barbar dan karena jasanya sehingga pulau yang berhasil ditaklukkan olehnya dinamai dengan pulau Thuraif untuk menyerang Spanyol.

Dalam tugasnya ini Thuraif disertai oleh lima ratus tentara yang terdiri dari empat ratus pasukan pejalan kaki dan seratus pasukan berkuda. Mereka diberangkatkan  dengan empat kapal milik Julian. Dalam misinya ini, Thuraif bersama pasukan tentaranya yang dibantu oleh Julian berhasil menyerang dan menaklukkan sebagian perbatasan Andalus Selatan. Kemudian setelah dipastikan bahwa di Spanyol tidak ditemukan berbagai sarana pertahanan maka ia pun kembali ke markas dengan membawa bermacam-macam ghanimah.

Sukses yang dibawa pulang oleh Thuraif telah membangkitkan semangat Musa bin Nushair untuk menaklukkan Spanyol. Untuk cita-cita yang sangat berbahaya ini lalu ia mengintruksikan budaknya, Thariq bin Ziyad, yang telah diangkat sebagai panglima pasukan tentara dan penguasa di Thanjah untuk menyerang Spanyol. Dikatakan, bahwa pengangkatan Thariq bin Ziyad adalah untuk misi yang sama seperti yang diemban oleh Thuraif sebelumnya[16].

situs: www.rangkumanmakalah.com

DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun. Dirasat Islamiyah. Surabaya : Anika Bahagia Offset, 1995.

Asmuni, Yusran. Dirasah Islamiyah II. Pengantar Studi Sejarah Kebudayaan Islam dan Pemikiran. Jakarta : RajaGrafindo Persada, 1996.

Ali Mufrodi. Islam Di Kawasan Kebudayaan Arab. Ciputat : Logos Wacana Ilmu, 1999 .

Hasan Ibrahim Hasan. Sejarah dan Kebudayaan Islam 2. Jakarta : Kalam Mulia, 2006 .

Moh. Nurhakim. Sejarah dan Peradaban Islam. Malang : Universitas Muhammadiyah Malang, 2004.

Philip K Hitti, History of The Arabs, Terjemahan R. Cecep Lukman Yasin dan dedi Slamet Riyadi  ( Jakarta : PT Serambi Ilmu, 2010 ), 255.


[1] Tim Penyusun, Dirasat Islamiyah, ( Surabaya : Anika Bahagia Offset, 1995 ), 97.

[2] Ibid., 99

[3] Yusran Asmuni, Dirasah Islamiyah II, Pengantar Studi Sejarah Kebudayaan Islam dan Pemikiran, (Jakarta : RajaGrafindo Persada, 1996 ), 8.

[4] Ali Mufrodi, Islam Di Kawasan Kebudayaan Arab, ( Ciputat : Logos Wacana Ilmu, 1999 ), 80.

[5] Ibid., 72.

[6] Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam 2, ( Jakarta : Kalam Mulia, 2006 ), 28.

[7] Ibid., 43.

[8] Moh. Nurhakim, Sejarah dan Peradaban Islam, ( Malang : Universitas Muhammadiyah Malang, 2004 ), 54.

[9] Ali Mufrodi, Islam Dikawasan Kebudayaan Arab, 80.

[10] Ibid., 81

[11] Philip K Hitti, History of The Arabs, diterjemahkan oleh R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi  ( Jakarta : PT Serambi Ilmu, 2010 ), 255.

[12] Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam 2, 44

[13] Ibid., 53

[14] Ibid., 53

[15] Ibid., 56

[16] Ibid., 65.

 

Share This:

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *