MANUSIA DAN PENDIDIKAN

Manusia dan pendidikan

Manusia dan pendidikan

www.rangkumanmakalah.com

Pengantar

Manusia dan pendidikan bagai dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Manusia dimana pun ia berada, dipastikan akan butuh dengan pendidikan, hal ini disebabkan karena fungsi utama dari pendidikan adalah mengembangkan seluruh potensi manusia yang ada ke arah lebih baik atau ke arah yang menjadi cita-cita manusia.[1] Karenanya dapat dipastikan pendidikan tidak akan berjalan tanpa kehadiran manusia. Dalam pendidikan, manusia berperan sebagai subjek sekaligus objek pendidikan.

Sementara itu dalam dunia pendidikan, pemahaman tentang manusia sangatlah penting, As-Syaibani menyatakan bahwa penentuan sikap dan tanggapan tentang manusia sangat penting dan vital, tanpa sikap dan tanggapan yang jelas, pendidikan akan meraba-raba.[2] Apabila pemahaman tentang manusia tidak jelas, maka berakibat tidak baik pada proses pendidikan itu sendiri. 

Dasar yang melandasi pemikiran pendidikan Islam adalah konsep filsafat pendidikan yang menyatakan bahwa segala yang ada terwujud melalui proses penciptaan (creation ex nihilo) bukan terwujud dengan sendirinya. Konsep yang bersifat Antroporeligiocentris inilah yang mendasari konsep-konsep dasar pendidikan Islam lainnya, seperti tentang hakikat manusia, tujuan pendidikan yang kemudian akan mengarahkan kepada pelaksanaan pendidikan Islam. Memahami kondisi demikian, maka diperlukan konsep baru tentang manusia yang mempunyai landasan kuat dan jelas, sehingga manusia dipandang dan ditempatkan secara benar dalam arti sesungguhnya.

Fitrah Manusia ( Manusia dan pendidikan )

Salah satu dimensi kemanusiaan yang penting dikaji dalam konteks hubungannya dengan proses pendidikan adalah fitrah. Sebab pendidikan pada hakikatnya merupakan aktivitas dan usaha manusia untuk membina dan mengembangkan potensi-potensi pribadinya agar berkembang seoptimal mungkin. 

Secara etimologis, fitrah berasal dari kata fathara (فطر) yang berarti menjadikan. Hasan Langgulung mengartikan fitrah sebagai sebuah potensi yang baik.[3] Hal ini berdasarkan analisisnya terhadap hadith Nabi Saw. berikut ini: 

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

 “Semua anak dilahirkan dalam keadaan suci (dari segala dosa dan noda) dan pembawaan beragama tauhid, sehingga ia jelas bicaranya. Maka kedua orang tuanya lah yang menyebabkan anaknya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.”

(Al-Hadith). 

Makna ‘suci’ yang termaktub dalam hadits di atas bisa juga dimaknai  bahwa manusia itu beragama secara benar, beragama secara konsisten, beragama secara istiqomah, tidak menyembah Allah mengikuti kondisi, tapi tetap konsisten bertauhid secara murni kepada Allah Swt., tidak terkontaminasi dengan ajaran-ajaran yang datangnya bukan dari Allah Swt.[4] Oleh karena itu manusia yang suci itu adalah manusia yang belum pernah bersentuhan dengan perbuatan maksiat sedikit pun dan tidak ternoda oleh dosa sedikit pun. Dapat ditegaskan bahwa manusia yang baru lahir kedunia ini keadaanya adalah suci, terbebas dari noda dan dosa yang sering dimaknai sebagai manusia yang suci dari segala dosa. 

Kembali kepada fitrah, fitrah mempunyai arti sebagai sifat dasar manusia pada awal penciptaannya, sehingga dengan demikian fitrah bisa juga berarti agama, millah, dan sunnah.[5] Nurcholis Madjid dalam bukunya, Islam Doktrin dan Peradaban, mengatakan bahwa manusia menurut asal kejadiannya adalah makhluk fitrah yang suci dan baik, dan karenanya berpembawaan kesucian dan kebaikan. Karena kesucian dan kebaikan itu fitri, maka ia akan membawa rasa aman dan tentram padanya.[6]

Fitrah mencakup totalitas apa yang ada di dalam alam dan manusia. Fitrah yang berada di dalam manusia merupakan substansi yang memiliki organisasi konstitusi yang dikendalikan oleh sistem tertentu. Sistem yang dimaksud terstruktur dari komponen jasad dan ruh. Masing-masing komponen ini memiliki sifat dasar, nature, watak, dan cara kerja tersendiri. Semua komponen itu bersifat potensial yang diciptakan oleh Allah sejak awal penciptaannya. Aktualitas fitrah menimbulkan tingkah laku manusia yang disebut dengan “kepribadian”. Kepribadian inilah yang menjadi ciri unik manusia. 

Sebagai potensi dasar manusia, maka fitrah itu cenderung kepada potensi psikologis. Menurut al-Ghazali yang dikutip oleh Zainuddin komponen psikologis yang terkandung dalam fitrah mencakup: 1) Beriman kepada Allah Swt; 2) Kecenderungan untuk menerima kebenaran, kebaikan termasuk untuk menerima pendidikan dan pengajaran; 3) Dorongan ingin tahu untuk mencari hakikat kebenaran yang berwujud daya fikir; 4) Dorongan biologis yang berupa syahwat (sensual pleasure), ghadab dan tabiat (insting); 5) Kekuatan-kekuatan lain dan sifat-sifat manusia yang dikembangkan dan dapat disempurnakan; 6) Fitrah dalam arti al-Gharizah (insting) dan al-Munazzalah (wahyu dari Allah).

Pengertian fitrah seperti sebagaimana di atas merupakan interpretasi Ibn Taimiyah, dimana fitrah inheren dalam diri manusia yang memberikan daya akal (quwwah al-Aql), yang berguna untuk mengembangkan potensi dasar manusia. Sedangkan fitrah alMunazzalah merupakan fitrah luar yang masuk pada diri manusia, fitrah ini berupa petunjuk al-Qur’an dan Sunnah, yang digunakan sebagai kendali dan pembimbing bagi fitrah alGharizah. Untuk lebih jelasnya konsep fitrah menurut Ibn Taimiyah dapat dilihat pada tabel berikut:[7] 

Tabel 1.1 : Konsep Fitrah menurut Ibn Taimiyah

F

H

Fitrah Al-Munazzalah al-Qur’an dan Hadith Nabi

Dalam Diri (Fitrah Al Gharizah)

Afensif(Quwwah As-Syahwah)

Concupicible Power

Daya berpotensi untuk menginduksi diri dari segala yang menyenangkan dan berguna
Defensif(Quwwah Al-Ghadab)

The Responsive Faculty

Daya berpotensi untuk menghindarkan diri dari segala yang membahayakan
Intelek(Quwwah Al-Aql) An-Nadhar(Daya kognisi, persepsi & komprehensif ) Mengantarkan ke ma’rifatullah, menentukan iman dan kufur individu
Iradah (emosi dan daya menilai) Menentukan baik dan buruk individu
Kepribadian Manusia Nafsu Muthmainah (tentram); daya intelek menguasai daya lainnya.
Nafsu Ammarah (labil); semua daya sering berebutan dan saling mangalahkan.
Nafsu Ammarah Bis-su’ (hina); daya intelek terkalahkan dengan daya-daya yang lain.

Dari beberapa konsep fitrah tersebut di atas, maka bisa diambil kesimpulan bahwa fitrah adalah sifat dan kemampuan (potensi) dasar manusia yang memiliki kecenderungan kepada kesucian, kebenaran dan kebaikan (naluri beragama tauhid) dan merupakan kemampuan dasar yang secara otomatis dapat berkembang dan perlu diarahkan. 

Selanjutnya, fitrah manusia bukan satu-satunya potensi manusia yang dapat mencetak manusia sesuai dengan fungsinya, tetapi ada juga potensi lain yang menjadi kebalikan dari fitrah ini, yaitu nafs yang mempunyai kecenderungan pada keburukan dan kejahatan. 

Sebagai gambaran, fitrah mempunyai komponen-komponen psikologis seperti bagan berikut ini:[8]

Tabel 2.1: Komponen-komponen Fitrah Manusia

Potensi Manusia

Navs and Drives (nafsu dan dorongan-dorongannya)

Karakteristik (Watak Asli)

Hereditas

Insting (Naluri)

Bakat dan kecerdasan

Intuisi (Ilham)

Untuk mengaktualisasikan potensi-potensi tersebut, maka Allah Swt. telah melengkapi pada diri manusia dengan roh-Nya berbagai alat, baik jasmani maupun rohani, yang menunjang perkembangan potensi-potensi yang dimilikinya, sehingga diharapkan manusia dapat hidup dengan serasi dan seimbang.

Untuk mengembangkan atau mengarahkan fitrah yang dimiliki manusia maka diperlukan suatu proses. Proses itu tak lain adalah proses pendidikan dalam maknanya yang luas. Pendidikan merupakan suatu usaha untuk membina, mengembangkan, memberdayakan, dan mengarahkan potensi dasar insani agar sesuai dengan yang dikehendaki. Pendidikan hendak membawa fitrah manusia kepada tingkatan yang matang.[9] 

Salah satu bentuk konkret fitrah manusia adalah kebudayaan. Untuk dapat membangun kebudayaan yang sarat nilai, fitrah itu diuji dan dimatangkan lewat pendidikan. Pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan, dalam arti pendidikan merupakan alat untuk menanamkan kemampuan bersikap, bertingkah laku, di samping mengajarkan ketrampilan dan ilmu pengetahuan untuk bisa memainkan peranan sosial secara menyeluruh dan sesuai dengan tempat serta kedudukan individu dalam dunia luas.[10] 

Dari uraian di atas, dapat diambil suatu komprehensi (pemahaman) bahwa aktivitas pendidikan yang dilakukan manusia merupakan kegiatan yang terencana kepada tujuan tertentu yang sarat dengan muatan normatif serta didorong oleh potensi fitrahnya. 

Manusia Menurut Filsafat Pendidikan Islam ( manusia dan pendidikan )

Manusia adalah makhluk yang luar biasa. Karenanya, tidak mengherankan makhluk tersebut (baca: manusia) telah dijadikan objek studi dari semenjak awal kemunculannya hingga kini dan sangat mungkin berlangsung demikian sampai seterusnya. Dapat dilihat hampir semua lembaga pendidikan tinggi mengkaji manusia, karya dan dampak daripada karyanya terhadap masyarakat dan lingkungan hidupnya.

Para ahli telah mengkaji manusia menurut bidang studinya masing-masing. Ini terbukti dari banyaknya penamaan atau pengistilahan kepada ‘manusia’, Thomas Hobbes, seorang filsuf Inggris, menyatakan the whole of man in mechanical terms,[11] Hobbes cenderung memandang manusia sebagai seperangkat mekanik atau mesin, yang tunduk pada lingkungan alam. Berbeda misalnya dengan penyebutan manusia sebagai homo sapien (manusia berakal), Homo Economices (manusia ekonomi) yang kadangkala disebut Economical Animal (Binatang ekonomi). Dan, bila dilihat dari kapasitas dasar  kemampuan pendidikan (paedagogis), manusia disitilahkan sebagai Homo Edukandum (mahluk yang harus dididik) atau juga Animal Educabil (mahluk sejenis hewan yang dapat dididik).[12]

Dalam konteks filsafat pendidikan Islam, kedudukan manusia sebagaimana posisinya sebagai bagian integral kosmos (alam semesta), maka ia (manusia) pun tidak berbeda jauh dari cakupan lingkup ruang kajian seperti halnya, antologi, epistimologi, dan aksiologis yang pada gilirannya menjadi pengukuh bahwa keseluruhannya –tanpa terkecuali manusia- adalah sebagai mahluk ciptaan Tuhan,[13] Allah SWT. 

Perkembangan Manusia dalam korelasi tentang Manusia dan pendidikan

Dalam perkembangannya, manusia dalam hal memperoleh pengetahuan itu berjalan secara berjenjang dan bertahap (proses) melalui pengembangan potensinya, pengalaman dengan lingkungan serta bimbingan, didikan dari Tuhan (epistimologi), oleh karena itu hubungan antara alam lingkungan, manusia, semua makhluk ciptaan Allah dan hubungan dengan Allah sebagai pencipta seluruh alam raya itu harus berjalan bersama dan tidak bisa dipisahkan.[14] Adapun manusia sebagai makhluk dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya insaninya itu, manusia diikat oleh nilai-nilai illahi (aksiologi), sehingga dalam pandangan filsafat pendidikan islam, manusia merupakan makhluk alternatif (dapat memilih), tetapi ditawarkan kepadanya sebuah pilihan-pilihan yang terbaik yakni nilai illahiyat. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa manusia itu adalah mahluk alternatif (bebas) tetapi sekaligus terikat (tidak bebas nilai). 

Manusia adalah subyek pendidikan, sekaligus juga sebagai obyek pendidikan. Dalam kemunculan awalnya –kelahiran- manusia diringi dengan potensi kodratnya berupa cipta, rasa, dan karsa.[15] Ketiga kodrat manusia tersebut secara linier terkonstruk dan membentuk manusia dalam kapasitasnya untuk menjalani kehidupan sebagai khalifah, yang mana esensi seorang khalifah adalah kebebasan dan kreatifitas,[16] yang dengan bekal kodratnya tersebut seseorang rentan mengalami suatu keadaan tertentu, semisal, kebenaran, keindahan, dan kebaikan. 

Kemampuan Belajar Manusia dalam korelasi tentang Manusia dan pendidikan

Ada yang mengistilahkan manusia sebagai mahluk sosial (Homo Sosius), yang telah dibekali Tuhan, Allah SWT. dengan akal, di mana akal akan menjadikan manusia mengetahui segala sesuatu. Jika ditinjau secara filosofis, hal demikian akan menjadi fondasi untuk  membangun  kesadaran intelektual.[17] Maka tidak berlebihan jika manusia seharusnya memahami hakikat diri dan lingkungan dalam proses perubahan dalam kerangka sebagai peneguh atas kemampuan belajar manusia.

Kemampuan belajar manusia sangat berkaitan dengan kemampuan manusia untuk mengetahui dan mengenal objek-objek pengamatan melalui pancaindranya. Pengetahuan manusia terbentuk karena adanya realita sebagai objek pengamatan indra. Realita di sini tidak ada pembatasan, ia bisa datang dari manapun sejauh indra yang dimiliki seseorang dapat mengcover keseluruhannya. 

Manusia dengan ragam kemampuan dasar (fitrah) sebagaimana telah disinggung dalam pembahasan sebelumnya, seperti kemampuan dalam berfikir, berkreasi, beragama, beradaptasi dengan lingkungannya dan sebagainya. Dalam pengembangan potensi-potensi tersebut manusia membutuhkan adanya pihak luar –bantuan- dalam kerangka untuk membimbing, mendorong dan mengarahkan agar berbagai potensi tersebut dapat bertumbuh dan berkembang secara wajar dan secara optimal, sehingga kehidupan masa depanya bisa membawah kegunaan dan keberhasilan.[18] M. Arifin berpendapat, bahwa proses pendidikan pada akhirnya berlangsung pada titik kemampuan berkembangnya tiga hal: yaitu mencerdaskan otak yang ada dalam kepala (head); kedua, mendidik akhlak atau moralitas yang berkembang dalam hati (heart); dan ketiga, adalah mendidik kecakapan/ ketrampilan yang pada prinsipnya terletak pada kemampuan tangan (hand) selanjutnya populer dengan istilah 3 H’s.[19] Manusia memang makhluk yang misterius, karena ia adalah gabungan antara jasad dan ruh, entitas dipahami sebagai jati diri manusia itu sendiri.[20] Hal-hal potensial demikian ini tidak menutup kemungkinan pada masa selanjutnya, sasaran pokok proses kependidikan tersebut masih mengalami perubahan atau penanaman lagi. 

Dengan demikian menurut Sunnatullah manusia sangat terbuka kemungkinannya untuk mengembangkan segala potensi yang dia miliki melalui bimbingan dan tuntunan yang tearah, teratur serta berkesinambungan  yang semuanya merupakan proses dalam rangka penyempurnaan manusia (insan kamil) yang nantinya dapat memenuhi tugas dari kejadiannya yaitu sebagai khalifah Allah.[21] 

Fungsi Pendidikan dalam Kehidupan Manusia ( manusia dan pendidikan )

Pendidikan merupakan sistem untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dalam segala aspek kehidupan. Pendidikan dibutuhkan untuk menyiapkan generasi demi menunjang perannya di masa datang. Peranan pendidikan dalam hidup dan kehidupan manusia diakui sebagai satu kesatuan yang sangat penting. Selain itu, hubungan dan interaksi sosial yang terjadi dalam proses pendidikan di masyarakat juga turut mempengaruhi perkembangan kepribadian manusia. 

Pendidikan berkenaan dengan fungsi yang luas mengenai peliharaan dan perbaikan kehidupan masyarakat, terutama menyangkut masalah tanggung jawab bersama di dalam masyarakat. Pendidikan adalah proses yang lebih luas  dibanding yang berlangsung di dalam sekolah. Pendidikan adalah suatu aktifitas sosial yang memungkinkan masyarakat tetap ada dan berkembang. Di dalam masyarakat yang kompleks, fungsi pendidikan mengalami proses spesialisasi dan melembaga dalam pendidikan formal, yang senantiasa tetap berhubungan dengan proses pendidikan informal di luar sekolah.[22] Selain itu, pendidikan dibatasi pada fungsi tertentu dalam masyarakat yang terdiri atas penyerahan adat istiadat (tradisi) dengan latar belakang sosialnya dengan pandangan hidupnya dari masyarakat ke generasi berikutnya, dan demikian seterusnya. Selanjutnya, dalam praktiknya “pendidikan” identik dengan sekolah yaitu pengajaran formal dalam kondisi dan situasi yang diatur, yang hanya menyangkut pribadi yang secara suka rela mengikutinnya.[23]

Pendidikan dalam konteks budaya, merupakan proses untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia yang berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan selalu berkembang, dan selalu dihadapkan pada perubahan zaman. Untuk itu, mau tak mau pendidikan harus didisain mengikuti irama perubahan tersebut, apabila pendidikan tidak didisain mengikuti irama perubahan, maka pendidikan akan ketinggalan dengan lajunya perkembangan zaman itu sendiri. 

Bagi perkembangan manusia pendidikan dapat dipahami dalam beberapa hal: Pertama, transformasi budaya dari generasi ke generasi, mempertahankan unsur-unsur esensi dari kebudayaan dengan membuka diri pada usur positif dari luar. Kedua, pendidikan bertanggung jawab terhadap generasi masa kini, artinya pendidikan tidak boleh menutup mata terhadap pengangguran dan harus mewujudkan kesejahteraan dalam kehidupan. Ketiga, dalam tugas yang paling berat pendidikan adalah menyiapkan generasi masa depan dalam perkembangan kehidupan, yang dulu hidup dalam keadaan tradisional harus mempersiapkan generasi yang mampu menerobos kehidupan modern dan berperan aktif. 

Penutup

Manusia dan pendidikan adalah bentuk integrasi unik yang tiada padanannya di dunia ini. Dengan bermodal fitrah yang telah dipahami sebagai kemampuan (potensi) dasar manusia yang berkecenderungan kepada kesucian, kebenaran dan kebaikan (naluri beragama tauhid) dan merupakan kemampuan dasar yang secara otomatis dapat berkembang serta perlu untuk diarahkan. Maka pada gilirannya dalam proses perkembangan, manusia tertuntut –dipaksa- mau tidak mau harus bergumul dengan pendidikan. Konsekuensi logisnya, jika tidak mau berurusan dengan pendidikan, status kemanusiaan seseorang masih pada taraf diragukan. 

Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, Allah SWT. dalam perkembangannya manusia diikat oleh nilai-nilai illahi (aksiologi), sehingga dalam pandangan filsafat pendidikan Islam, manusia merupakan makhluk alternatif (dapat memilih), yang sekaligus disodori sebuah pilihan-pilihan terbaik berupa nilai illahiyat yang terkandung dalam ajaran-Nya. 

Urgensi pendidikan dapat terlihat dalam perananya sebagai sebuah instrumen untuk menyiapkan generasi demi menunjang peran kemanusiannya di masa yang mendatang. Pendidikan dalam hidup dan kehidupan manusia diakui sebagai satu kesatuan yang sangat penting, hubungan dan interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat, tidak akan bisa berlangsung dengan harmonis jika mengalpakan pendidikan sebagai salah satu unsur pokoknya. Serta tidak dimungkiri pula, bahwa proses pendidikan di masyarakat juga turut mempengaruhi perkembangan kepribadian manusia itu sendiri. Allahu’alam. 

Demikian ulasan singkat seputar Manusia dan pendidikan . semoga bermanfaat.

*situs: www.rangkumanmakalah.com 

Bibliografi

Al- Attas, Syed M., Naquib filsafat dan Praktik Pendidikan Islam, terj. M. Nor Wan Daud, Bandung: Mizan, 2003.

 Al-Syaibani, Omar Muhammad At-Toumi, Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.

 Arif, Arifuddin, Pengantar Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kultura, 2008.

 Arifin, H. M., Ilmu Pendidikan Islam; Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, Jakarta: Bumi Aksara, 1991.

Arifin, H. Muzayyin, Filsafat Pendidikan Islam, cet. IV, Jakarta: Bumi Aksara, 2009.

Arifin, H.M., Filsafat Pendidikan Islam, Cet., VI, Jakarta: Remaja Rosdakarya, 2000.

 Baharuddin dan Moh. Makin, Pendidikan Humanistik, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2006.

Daulay, Haidar Putra, Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia, Jakarta: Prenada Media, 2004.

 Jalaluddin, Teologi Pendidikan, cet. III, Jakarta: PT GrafindoPersada, 2003.

Langgulung, Hasan, Pendidikan dan Peradaban Islam, Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1995 .

 Lloyd, D.I., Philosophy and the Teacher, London: Routledge, 2005.

 Madjid, Nurcholis, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1992.

Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam,  Bandung: Trigenda, 1993.

Nata,  H. Abuddin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005.

 Rosyadi, Khoiron, Pendidikan Profetik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.

Setiawan, Benni, Manifesto Pendidikan di Indonesia, Jogjakarta: Ar-Ruzz, 2006.

Suhartono, Suparlan, Filsafat Pendidikan, cet., II, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007.

 Zuhairini, dkk., Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1991.

Penjelasan lanjut tentang Khalifah, lihat, Abdur Rahman Shalih Abdullah, Landasan dan Tujuan Pendidikan Menurut Al-Qur’an serta Implementasinya, Bandung: CV. Diponegoro, 1991.

Djumransjah, Pengantar Filsafat Pendidikan, Malang : Bayu Media, 2004.

Fuad, Hasan, Dasar-Dasar Kependidikan Jakarta: Renika Cipta, 1995.


[1] Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia, (Jakarta: Prenada Media, 2004), 3.

[2] Omar Muhammad At-Toumi Al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), 10.

[3] Hasan Langgulung, Pendidikan dan Peradaban Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1995), 214.

[4] H.M. Roem Rowi, Manusia Makhluk Fitri , http://www.masjidalakbar.com/khutbah1.php?no=23 diakses 17-04-2013, 08:48 Wib.

[5] Baharuddin dan Moh. Makin, Pendidikan Humanistik, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2006), 40.

[6] Nurcholis Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1992), 305.

[7] Arifuddin Arif, Pengantar Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kultura, 2008), 15. Lihat juga, Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: Trigenda, 1993), 22.

[8] H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam; Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), 100-103.

[9] Baharuddin, dan Moh. Makin, Pendidikan Humanistik, 41.

[10] Khoiron Rosyadi, Pendidikan Profetik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. 39.

[11] D.I.Lloyd, Philosophy and the Teacher, (London: Routledge, 2005), 31.

[12] H. Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, cet. IV, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), 54.

[13] Lihat, Jalaluddin, Teologi Pendidikan, cet. III, (Jakarta: PT GrafindoPersada, 2003), 32.

[14] Ibid., 33.

[15] Suparlan Suhartono, Filsafat Pendidikan, cet., II, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), 53.

[16] H. Abuddin Nata, MA., Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005), 93.

[17] Benni Setiawan, Manifesto Pendidikan di Indonesia, (Jogjakarta: Ar-Ruzz, 2006), 19.

[18] Zuhairini, dkk., Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), 94.

[19] H.M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, Cet., VI, (Jakarta: Remaja Rosdakarya, 2000), 57.

[20] Syed M. Naquib Al- Attas, filsafat dan Praktik Pendidikan Islam, terj. M. Nor Wan Daud, (Bandung: Mizan, 2003), 94.

[21] Penjelasan lanjut tentang Khalifah, lihat, Abdur Rahman Shalih Abdullah, Landasan dan Tujuan Pendidikan Menurut Al-Qur’an serta Implementasinya, (Bandung: CV. Diponegoro, 1991), 69.

[22] Djumransjah, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Malang : Bayu Media, 2004), 141.

[23] Hasan Fuad, Dasar-Dasar Kependidikan (Jakarta: Renika Cipta, 1995), 17.

Share This:

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *