Masyarakat Kosmopolitan Muslim dan Pusat Keilmuan

Masyarakat Kosmopolitan Muslim dan Pusat Keilmuan

Masyarakat Kosmopolitan Muslim dan Pusat Keilmuan

Masyarakat Kosmopolitan Muslim dan Pusat Keilmuan – Kata kosmopolitan berasal dari bahasa Inggris, yakni “cosmopolitan” yang berarti internasional, tersebar ke seluruh penjuru dunia.[2] Sedangkan dalam Kamus Umum Baku Bahasa Indonesia, kosmopolitan adalah kota dunia.[3] Dari dua buah pengertian tersebut diatas, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa masyarakat kosmopolitan muslim adalah sekumpulan masyarakat muslim yang tersebar ke seluruh kawasan penjuru dunia yang membentuk suatu komunitas. Dimana sekumpulan masyarakat tersebut tumbuh dan berkembang yang pada akhirnya mampu melahirkan sebuah kebudayaan dan peradaban Islam. Komunitas tersebut tidak hanya merepresentasikan nilai-nilai ajaran Islam dalam bentuk praktek ibadah sehari-hari, tetapi juga ide-ide dan pemikiran mereka aplikasikan dalam bentuk sebuah negara dan pemerintahan. 

  1. Masa Bani Umayyah

Masyarakat Kosmopolitan Muslim dan Pusat Keilmuan – Masa Kedaulatan Umayyah berlangsung selama lebih kurang 90 tahun. Beberapa orang Khalifah besar Bani Umayyah ini adalah Muawiyah bin Abi Sufyan (661-680 M), Abdul Malik bin Marwan (685- 705 M), Al-Walid bin Abdul Malik (705-715 M), Umar bin Abdul Aziz (717- 720 M) dan Hasyim bin Abdul Malik (724- 743 M). Awal berlangsungya periode Daulat Umayyah lebih memprioritaskan pada perluasan wilayah kekuasaan. Ekspansi wilayah yang sempat terhenti pada masa Khalifah Utsman dan Khalifah Ali dilanjutkan kembali oleh Daulat Umayyah[4].

Ekspansi ke Barat secara besar-besaran dilanjutkan pada zaman Al-Walid bin Abdul Malik. Masa pemerintahan Walid adalah masa ketenteraman, kemakmuran dan ketertiban, dimana umat Islam merasa hidup bahagia. Pada masa pemerintahannya yang berjalan kurang lebih sepuluh tahun, tercatat bahwa pada tahun 711 M merupakan suatu ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju wilayah Barat Daya, benua Eropa.

  1. Masa Bani Abbasiyah

Masyarakat Kosmopolitan Muslim dan Pusat Keilmuan – Tidak seperti pada periode Umayyah, Periode pertama Daulat Abbasiyah lebih memprioritaskan pada penekanan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. Fakta sejarah mencatat bahwa masa Kedaulatan Abbasiyah merupakan pencapaian cemerlang di dunia Islam pada bidang sains, teknologi dan filsafat. Pada saat itu dua pertiga bagian dunia dikuasai oleh Kekhilafahan Islam. Masa sepuluh Khalifah pertama dari Daulat Abbasiyah merupakan masa kejayaan (keemasan) peradaban Islam, dimana Baghdad mengalami kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat. Secara politis, para khalifah betul-betul merupakan tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus.

Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang. Pada masa sepuluh Khalifah pertama itu, puncak pencapaian kemajuan peradaban Islam terjadi pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid (786-809 M). Pada masa pemerintahannya dilakukan sebuah gerakan penerjemahan berbagai buku Yunani dengan menggaji para penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lainnya yang ahli.

B. Masyarakat Kosmopolitan Muslim Dan Budaya Islami

Masyarakat Kosmopolitan Muslim dan Pusat Keilmuan – Perkembangan ilmu paling pesat dalam Islam terjadi ketika kaum muslimin bertemu dengan kebudayaan dan peradaban yang telah maju dari bangsa-bangsa yang mereka taklukkan. Perkembang­an tersebut semakin jelas sejak permulaan kekuasaan Bani Abbas pada pertengahan abad ke-8. Pemindahan ibukota Damsyik (Damascus) yang terletak di lingkungan Arab ke Baghdad yang berada di lingkungan Persia yang telah memiliki budaya keilmuan yang tinggi dan sudah mengenal ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani, menjadi alat picu semaraknya semangat keilmuan yang telah dimiliki oleh kaum muslimin.

Pada masa ini umat islam telah banyak melakukan kajian kritis tentang ilmu pengetahuan sehingga ilmu pengetahuan baik aqli ( rasional ) maupun yang naqli mengalami kemajuan dengan sangat pesat. Proses pengalihan ilmu pengetahuan dilakukan dengan cara penerjemahan berbagai buku karangan bangsa-bangsa terdahulu, seperti bangsa yunani, romawi, dan persia, serta berbagai sumber naskah yang ada di timur tengah dan afrika, seperti mesopotamia dan mesir.

Secara umum terdapat dua bentuk keagamaan Islam dan perkembangan kultural yang mengekspresikan identitas dan produk yang berbeda, yakni : 

1. Islam Kalangan Elite Kerajaan

Masyarakat Kosmopolitan Muslim dan Pusat Keilmuan – Kelompok elite kerajaan atau elite politik adalah terdiri dari keluarga khalifah dan para pejabat yang menduduki jabatan dalam pemerintahan. Kelompok ini mengekspresikan identitas sebagai penguasa dan pelaku politik Islam yang kemudian menghasilkan beberapa produk-produk yang lebih menakankan pada penguatan kekuasaan, dan mengedepankan kemewahan serta kejeniusan[5]. Produk-produk keIslaman dan kebudayaan dari kelompok ini di antaranya :

a. Konsep khilafah/pemerintahan

Untuk mengkonsolidasikan rezimnya, Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah berusaha memberikan legitimasi kultural terhadap imperium Arab-muslim dan menyatukan berbagai unsur yang berbeda dari kelas pemerintahan-khalifah,keluarga, teman dekat, para jenderal, dan kepala kesukuan Arab, pasukan tentara Asia tengah, administrator Iran, kalangan pendeta kristen, dan ulama’ulama’ Islam-, menjadi kalangan kerajaan yang kohesif.

b. Seni, sastra Arab, dan arsitektur

Penerimaan identitas kebudayaan Islam kalangan kerajaan adalah menekankan pada karya-karya seni dan arsitektur yang banyak di ambil dari peradaban bangsa lain sebagai bentuk pemantapan otoritas rezim dan pengesahan terhadap kelas penguasa. Dinasti Ummayah mencakup kulturbudaya syair Arab pra Islam dan budaya lisan seta menggabungkan unsur artistik kesaastraan Byzantium dan Sasania, adapun pada arsitektur menekankan pada gabungan gaya kristen Byzantium dengan gaya Islam.

Pada dinasti Abbasiyyah memperluas kultur syaira Arab dengan penterjemahan kesastaraan Iran meliputi seluruh karya-karya sejarah, politik, fabel, persepsi politik dan mitos, serta karya-karya ilmiah dan mengenai Persia dan India. Masa Al Makmun mendirikan sebuah akademi dan observatori bayt al hikmah[6] untuk merangsang gerakan penterjemahan karya-karya logika, keilmuan dan filsafat kedalam bahasa Arab.

2. kosmopolitan Islam Kalangan Elite Agama

Masyarakat Kosmopolitan Muslim dan Pusat Keilmuan – Diantara banyak ahli yang berperan dalam proses perkembangan ilmu pengetahuan adalah kelompok Mawali atau orang-orang non arab, seperti orang persia. Pada masa itu, pusat kajian ilmiah bertempat di masjid-masjid, misalnya masjid Basrah. Di masjid ini terdapat kelompok studi yang disebut Halaqat Al Jadl, Halaqad Al Fiqh, Halaqad Al Tafsir wal Hadist, Halaqad Al Riyadiyat, Halaqad lil Syi’ri wal adab, dan lain-lain. Banyak orang dari berbagai suku bangsa yang datang ke pertemuan ini. Dengan demikian berkembanglah kebudayaan dan ilmu pengetahuan dalam islam. 

Beberapa disiplin ilmu yang sudah berkembang pada masa klasik Islam adalah: ilmu fikih, ilmu kalam, ilmu hadis, ilmu tafsir, ilmu usul fikih, ilmu tasawuf, yang biasa pula disebut sebagai bidang ilmu naqli, ilmu-ilmu yang bertolak dari nas-nas Al-Qur’an dan hadis. Adapun dalam bidang ilmu ‘aqli atau ilmu rasional, yang berkembang antara lain ilmu filsafat, ilmu kedokteran, ilmu farmasi, ilmu sejarah, ilmu astronomi dan falak, ilmu hitung, dan lain-lain. 

Pada masa ini dikenal banyak sekali pakar dari berbagai ilmu, baik orang Arab maupun muslim non-Arab. Sejarah juga mencatat, bahwa untuk pe­ngembangan ilmu-ilmu tersebut para pakar muslim bekerja sama dengan pakar-pakar lainnya yang ti­dak beragama Islam. Muhammad bin Ibrahim al-Fazari dipandang sebagai astronom Islam pertama. Muhammad bin Musa al-Khuwarizmi (wafat 847M) adalah salah seorang pakar matematika yang mashyur. Ali bin Rabban at-Tabari dikenal sebagai dokter pertama dalam Islam, di samping Abubakar Mu­hammad ar-Razi (wafat 925M) sebagai seorang dokter besar. Jabir bin Hayyan (wafat 812M) adalah “bapak” ilmu kimia dan ahli matematika. Abu Ali al-Hasan bin Haisam (wafat 1039M) adalah nama besar di bidang ilmu optik. Ibnu Wazih al-Yakubi, Abu Ali Hasan al-Mas’udi (wafat 956M), dan Yakut bin Abdillah al-Hamawi adalah nama-nama tenar untuk bidang ilmu bumi (geografi) Islam dan Ibnu Khaldun untuk kajian bidang ilmu sejarah. Disamping nama-nama besar diatas, masih banyak lagi pakar-pakar ilmu lainnya yang sangat besar peranannya dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

Besarnya pengaruh bidang keilmuan yang ditinggalkan kaum ilmuwan muslim pada abad-abad yang lampau tidak hanya tampak pada banyaknya nama-nama pakar muslim yang disebut dan ditulis dalam bahasa Eropa, tetapi juga pada pengakuan yang diberikan oleh dan dari berbagai kalangan ilmuwan. Zaman Kebangkitan atau Zaman Renaisans di Eropa, yang di zaman kita telah melahirkan ilmu pengetahuan yang canggih, tidak lahir tanpa andil yang sangat besar dari pemikiran dan khazanah ilmu dari ilmuwan muslim pada masa itu.

Literatur keagamaan dari kelompok :

a. Sunni

b. Teologi/Kalam

c. Mistik dan sufisme

d. Syi’ah[7]

Demikian ulasan singkat seputar Masyarakat Kosmopolitan Muslim dan Pusat Keilmuan, semoga bermnafaat

DAFTAR PUSTAKA

A., Idrus H., Kamus Umum Baku Bahasa Indonesia, (Surabaya: Bintang Usaha Jaya), 1996

Echols, John M. & Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta:PT. Gramedia Pustaka Utama),   2003

Hitti, Philip K., History Of The Arabs, from the earliest time to the present (terj).( Jakarta: PT. Serambi Ilmu semesta, 2010)

Lapidus, Ira M., A History of Islamic Society, penerjemah Ghufron A. Mas’adi (Jakarta:PT. RajaGrafindo Persada, 1999)

Nata, Abuddin, Sejarah Pendidikan Islam Pada Periode klasik dan Pertengahan, (Jakarta:PT. RajaGrafindo Persada, 2010)

Shalabi, Ahmad, A History of Moslem Education (terj), (Jakarta:Bulan Bintang, 1973)

Supriyadi, Dedi, Sejarah Peradaban Islam,(Bandung:Pustaka Setia, 2008)

Thohir, Ajid, dkk, Islam di Asia Selatan,(Bandung:Humaniora, 2006)

Zuhairi, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta:Bumi Aksara, 2008)

 [1]Ajid Thohir , dkk, Islam di Asia Selatan,(Bandung:Humaniora, 2006), 15

[2]John M. Echols & Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta:PT. Gramedia Pustaka Utama), 2003

[3]Idrus H. A; Kamus Umum Baku Bahasa Indonesia, (Surabaya: Bintang Usaha Jaya), 1996

[4] Philip K Hitti, History Of The Arabs, from the earliest time to the present (terj).( jakarta: PT. Serambi Ilmu semesta, 2010), 220.

[5][5]Ira M. Lapidus, A History of Islamic Society, penerjemah Ghufron A. Mas’adi (Jakarta:PT. RajaGrafindo Persada, 1999), 124

[6]Baitul Hikmah (Rumah Kebijakan) didirikan oleh khalifah al-Ma’mun (830 M) di Baghdad. Selain berfungsi sebagai biro penerjemahan, lembaga ini juga dikenal sebagai pusat kajian akademis dan perpustakaan umum,serta mempunyai observatorium. Pada saat itu, observatorium-observatorium yang banyak bermunculan juga berfungsi sebagai pusat-pusat pembelajaran astronomi. Fungsi lembaga ini persis sama dengan rumah sakit yang pada awal kemuculannya sekaligus berfungsi sebagai pusat pendidikan kedokteran. Lihat Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam,(Bandung:Pustaka Setia, 2008), 136

[7]Ira M. Lapidus, A History of ……………148

Share This:

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *