MONOTEISME; ANTARA DOGMA DAN NALURI BERTUHAN MANUSIA

MONOTEISME; Antara Dogma dan Naluri Bertuhan Manusia

MONOTEISME

www.rangkumanmakalah.com

B.     Konsepsi Paham Monotesime

Monoteisme secara kebahasaan berasal dari bahasa Yunani Monos yang berarti tunggal dan Theos yang artinya dewa. Dalam Encyclopedia Britannica, Monoteisme dipahami sebagai sebuah kepercayaan akan adanya satu tuhan atau keesaan Tuhan.[3] The Oxford Dictionary of Gereja Kristen memberikan definisi yang lebih terbatas yakni sebagai sebuah kepercayaan pada satu (Tuhan) pribadi dan transenden, sebagai lawan dari politeisme[4] dan panteisme.[5] Selain itu ditemukan pula dalam kamus ilmiah populer istilah monoteisme yang diartikan sebagai keyakinan bahwa hanya ada satu Tuhan yang ada dan disembah, yaitu Tuhan yang menciptakan segenap alam dan yang beroperasi di dalamnya, yang dalam Islam dikenal dengan istilah ilmu Tauhid.[6] 

Monoteisme diduga berasal dari ibadah kepada tuhan yang tunggal di dalam suatu panteon[7] dan penghapusan tuhan-tuhan yang lain, seperti dalam kasus penyembahan Aten dalam pemerintahan Fira’un di Mesir Akhenaten, di bawah pengaruh istrinya yang berasal dari Timur, Nefertiti. Ikonoklasme pada masa pemerintahan firaun ini dianggap sebagai asal-usul utama penghancuran berhala-berhala dalam tradisi Abrahamik, yang didasarkan pada keyakinan bahwa tidak ada Tuhan lain di luar tuhan yang mereka akui atau sembah. Dengan demikian, sebetulnya di sini tergantung pengakuan dualistik dan diam-diam tentang keberadaan tuhan-tuhan yang lain, namun hanya sebagai lawan yang harus dihancurkan karena mereka mengalihkan perhatian dari tuhan utama mereka.

Monoteisme sebagaimana yang diwarisi oleh bangsa Israel dalam pengalaman Exodus di bawah pimpinan Musa, dianggap, oleh mereka yang berpendapat bahwa bangsa Israel ini adalah orang-orang Hiksos, sebagai pewaris kebijakan-kebijakan keagamaan Akhenaten, karena sebelumnya orang-orang Yahudi ini adalah politeis seperti halnya orang-orang Mesir. Masalah-masalah lain seperti Hak ilahi Raja juga muncul dari hukum-hukum Fira’un tentang penguasa sebagai demigod atau wakil-wakil dari Pencipta di muka bumi. Kuburan-kuburan yang besar di Piramida Mesir yang mengikuti observasi astronomis, menggambarkan hubungan antara Fira’un dengan langit atau surga dan karena itu kemudian diambil oleh para penguasa Kristen yang mengklaim bahwa mereka diberikan kekuasaan langsung oleh Allah.

Meskipun orang Kristen percaya akan satu Allah, mereka mengakui bahwa Allah ini, pada kenyataannya, mempunyai tiga pribadi: Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus (bersama-sama disebut Tritunggal),[8] Orang Kristen menekankan bahwa agama mereka bersifat monoteis. Biasanya teologi Kristen mengaku bahwa ketiga pribadi ini tidaklah independen melainkan ‘homoousios‘, artinya bersama-sama mereka mempunyai hakikat atau substansi ilahi yang sama.

Namun, sebagian sekte minoritas dari agama Kristen, seperti misalnya Saksi Yehuwa, menyangkal gagasan tentang Tritunggal, sementara yang lainnya, seperti sekte Mormonisme, menyembah hanya satu Allah, namun terbuka terhadap keberadaan yang lain-lainnya. Rastafarian, seperti banyak orang Kristen lainnya, percaya bahwa Allah adalah esa dan juga Tritunggal, dalam kasus mereka, Allah adalah Haile Selassie. 

C.    Ragam Paham Monoteisme

Dalam perjalanannya sebagai sebagai paham (kepercayaan), monoteisme boleh mengalami polarisasi dan terbagi kedalam beberapa jenis, antara lain : 

  1.  Teisme,[9] istilah yang mengacu kepada keyakinan akan tuhan yang ‘pribadi’, artinya satu tuhan dengan kepribadian yang khas, dan bukan sekadar suatu kekuatan ilahi saja. 
  2. Deisme adalah bentuk monoteisme yang meyakini bahwa tuhan itu ada. Namun demikian, seorang deis menolak gagasan bahwa tuhan ini ikut campur di dalam dunia. Jadi, deisme menolak wahyu yang khusus. Sifat tuhan ini hanya dapat dikenal melalui nalar dan pengamatan terhadap alam. Karena itu, seorang deis menolak hal-hal yang ajaib dan klaim bahwa suatu agama atau kitab suci memiliki pengenalan akan tuhan. Para penganut ajaran ini menyakini bahwa Tuhan hanya menciptakan alam dan kemudian membiarkannya berjalan menurut hukum-hukum yang telah ditentukan.[10]
  3. Teisme Monistik adalah suatu bentuk monoteisme yang ada dalam Hindu. Teisme seperti ini berbeda dengan agama-agama Semit karena ia mencakup panenteisme, monisme, dan pada saat yang sama juga mencakup konsep tentang Tuhan yang pribadi sebagai Yang Tertinggi, Mahakuasa, dan universal. Tipe-tipe monoteisme yang lainnya adalah monisme bersyarat, aliran Ramanuja atau Vishishtadvaita, yang mengakui bahwa alam adalah bagian dari Tuhan, atau Narayana, suatu bentuk panenteisme, namun di dalam Yang Mahatinggi ini ada pluralitas jiwa dan Dvaita, yang berbeda dalam arti bahwa ia bersifat dualistik, karena tuhan itu terpisah dan tidak bersifat panenteistik. 
  4. Panteisme berpendapat bahwa alam sendiri itulah Tuhan. Pemikiran ini menyangkal kehadiran Yang Mahatinggi yang transenden dan yang bukan merupakan bagian dari alam. Tergantung akan pemahamannya, pandangan ini dapat dibandingkan sepadan dengan ateisme, deisme atau teisme. 
  5. Panenteism adalah suatu bentuk teisme yang berkeyakinan bahwa alam adalah bagian dari tuhan,[11] tapi tuhan tidaklah identik dengan alam. Pandangan ini diikuti oleh teologi proses dan juga Hindu. Menurut Hindu, alam adalah bagian dari Tuhan, tetapi Tuhan tidak sama dengan alam melainkan mentransendensikannya. Akan tetapi, berbeda dengan teologi proses, Tuhan dalam Hinduisme itu Mahakuasa. Panenteisme dipahami sebagai “Tuhan ada di dalam alam sebagaimana jiwa berada di dalam tubuh”. Dengan penjelasan yang sama, panenteisme juga disebut teisme monistik di dalam Hinduisme. Namun karena teologi proses juga tercakup di dalam definisi yang luas dari panenteisme dan tidak menerima kehadiran Yang Mahatinggi dan Yang Mahakuasa, pandangan Hindu dapat disebut sebagai teisme yang monistik. 
  6. Monoteisme Substansi, ditemukan misalnya dalam sejumlah agama pribumi Afrika, yang berpendapat bahwa tuhan yang banyak itu adalah perwujudan dari substansi yang satu yang ada di belakangnya, dan bahwa substansi yang ada di belakangnya itulah Allah. Pandangan ini banyak miripnya dengan pandangan Tritunggal Kristen tentang tiga pribadi yang mempunyai hakikat yang sama (trinitas).
  7. Henoteisme melibatkan pengabdian kepada dewa tunggal sementara menerima keberadaan allah lain. Atau juga dapat dipahami sebagai sebuah keyakinan akan adanya satu tuhan namun tidak mengingkari adanya Dewa lain dan makhluk halus lainnya.[12] 
  8. D.    Satu Tuhan Banyak Nama

Sejarah mencatat, manusia menyebut Tuhan Yang Esa dan Mutlak itu dengan berbagai nama dan istilah, namun secara substansial, beragam nama itu menunjuk kepada Dzat yang sama. Tuhan sebagai wujud Absolut inilah yang dijadikan objek pujaan karena fungsi dan posisi-Nya yang diyakininya oleh manusia sebagai pencipta dan penguasa jagad semesta ini.[13] Karena maha Absolut, maka antara Tuhan dan manusia selalu terdapat “jarak” yang amat jauh sehingga manusia bersikap “paradoksal” dalam memposisikan Tuhan. Tuhan diyakini sebagai yang teramat jauh, bahkan tidak terjangkau (transendent), tetapi sekaligus juga berada bersama, bahkan di dalam diri kita (immanent). Sebagai akibatnya, maka Yang Satu dan Absolut –karena tidak mungkin “ditaklukkan” oleh kapasitas pemahaman nalar manusia –ditangkap kehadiran-Nya melalui simbol-simbol yang disakralkan sehingga di mata manusia lalu muncul bentuk tuhan-tuhan yang plural.[14] 

Dalam konteks penjelasan ini, dapatlah dikatakan bahwa setiap umat beragama yang beragam memiliki nama-nama khusus ketika menyebut-Nya atau menyeruh-Nya. Nama-nama yang dikenal umat manusia semisal God, Lord, Yahweh, Tuhan Bapa, Allah, Gusti, Sang Hyang Widi Wasa, Thian, Brahma, Tao dan lain-lain. Dari segi penunjukan esensi ini, nama-nama itu mengandung keesaan (ahadiyyah). Namun, sejauh (nama-nama itu) menunjukkan pengertian, kualitas atau reailitas masing-masing, maka nama-nama itu adalah banyak dan beraneka. Dari segi penunjukan makna dan kualitas yang berbeda-beda ini, nama-nama mengandung keanekaan (kathrah).[15] 

E.     Pengertian Tuhan dalam Perspektif Islam

Untuk mengetahui pengertian Tuhan dalam Islam, maka perlu dikaji rujukan dari al-Qur’an tentang kata-kata yang memiliki makna Tuhan. Dalam al-Qur’an, perkataan Tuhan dikenal dengan istilah Rabb, Maalik atau Malik dan Ilaah. Masing-masing istilah tersebut mempunyai tekanan arti sendiri-sendiri. 

1.    Rabb

Dalam al-Qur’an, perkataan Rabb sering dihubungkan dengan kata kerja seperti yang terdapat dalam firman Allah:[16] 

 “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” 

Perkataan ‘Rabb’ yang dihubungkan dengan kata kerja juga terdapat di dalam surah lain:[17] 

“Sucikanlah nama Tuhanmu yang Paling Tinggi, yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya) dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberikan petunjuk dan yang menumbuhkan rumput-rumputan, lalu dijadikan-Nya rumput itu kehitam-hitaman”. 

Dalam surat al-Alaq di atas dijumpai empat kata kerja, yaitu dua kata kerja ‘menciptakan’ dan dua kata kerja ‘mengajar’, sedangkan dalam surat al-A’la diatas terdapat pula kata kerja, antara lain: menciptakan, menentukan, memberi petunjuk, menumbuhkan dan menjadikan. Karena itu, Rabb mempunyai pengertian Tuhan yang berbuat aktif. Jadi, Dia hidup dan ada dengan sesungguhnya, bukan ada dalam pikiran saja.

Selanjutnya, kata Rabb dapat dipakai untuk menyebut selain Allah Swt., seperti yang terdapat dalam kalam Allah Swt. yang berbunyi :[18] 

 “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah Swt. dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, padahal mereka Hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” 

2.    Malik

Dalam al-Qur’an, kata Malik digunakan untuk menunjuk Tuhan yang berkuasa, mempunyai, memiliki atau merajai sesuatu. Al-Qur’an surat al-Fatihah ayat 4 menyebutkan, yang artinya ‘yang menguasai hari pembalasan’, sedangkan di dalam surat al-Nas ayat 2 menyebutkan yang artinya Raja manusia. 

Secara kronologis, kata Malik menduduki jabatan kedua setelah Rabb, artinya apabila Rabb itu menunjuk pada yang berbuat aktif, maka Malik menunjuk pada yang menguasai semua apa yang telah diperbuat-Nya tadi. Karena kedua kata itu ditujukan kepada Allah Swt., maka berarti bahwa Allah Swt. itu pencipta alam dan Dia pula yang menguasainya.

3.    Ilaah

Secara etimologis ‘Ilaah’ mempunyai arti sebagai yang disembah dengan sebenarnya atau tidak sebenarnya.[19] Apa saja yang disembah manusia, dia itu Ilaah namanya. Apabila manusia menyembah hawa nafsunya dalam arti selalu mengikuti jejaknya, maka hawa nafsu itulah Ilahnya atau Tuhannya yang disembah.

Dalam al-Qur’an telah disebutkan:[20]

“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” 

Meskipun segala sesuatu dapat disebut sebagai Ilaah, namun Ilaah yang sebenarnya ialah Ilaah yang mempunyai jabatan Robbun dan Malikun. Dengan kata lain, walaupun segala sesuatu dapat dipertuhan dan disembah manusia, namun Tuhan yang sebenarnya yang berhak disembah manusia ialah Tuhan pencipta dan penguasa alam semesta yaitu Allah SWT. 

Ibnu Jarir berpendapat sesungguhnya berdasarkan kepada apa-apa yang diriwayatkan kepada kami oleh Ibnu Abbas menyatakan bahwa Allah itu ialah Empunya Ketuhanan dan yang Empunya penyembahan wajib atas makhluk-Nya seluruhnya.[21] 

Sibawaih menyebutkan keterangan dari Khalil bahwa asal kata ‘Allah’ ialah Ilah, lalu ditambahkan alif menjadi Ilaah, sedangkan huruf lam di depannya sebagai ganti dari huruf hamzah. Acuan kata dari Ilaah adalah fi’aal. Begitu juga contoh lainnya adalah al-naasu asalnya dari unaasun.

Al-Kasa’i dan al-Farra berpendapat bahwa asal perkataan Allah itu dari kata al-Ilaah, lalu dibuang hamzah huruf ‘i’. Kemudian huruf ‘l’ (lam) pertama itu dimasukkan kepada huruf ‘l’ (lam) yang kedua, maka jadilah perkataan ‘Allah’. 

Pendapat senada juga diungkapkan oleh Ibnu Abbas bahwa asalnya ialah al-Ilaahu artinya yang disembah, lalu dibuang hamzah yaitu huruf i, maka bertemulah huruf l (lam) dan huruf l (lam), berarti berkumpulnya huruf l (lam) pertama dan huruf yang l (lam) kedua menjadi dua huruf l (lam). Ucapannya disangatkan, dilisankan menjadi ‘Alloh’.[22] 

Karena Allah SWT adalah Tuhan yang sebenarnya yang berhak disembah manusia, dan Dia adalah Tuhan pencipta alam semesta serta penguasanya, maka manusia dilarang mengangkat sekutu bagi-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah (2) ayat 22: Artinya: “Janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui”.

Dari penjelasan ayat tersebut jelaslah bahwa Allah SWT melarang manusia mengangkat tandingan-tandingan yang menjadi sekutu bagi Allah. Maksudnya ada persamaan-persamaan dalam ibadah dan ketaatan. Padahal dia mengetahui bahwa amal perbuatan itu diperuntukkan kepada Allah saja bukan kepada lain-Nya, hanyalah Dia yang menjadi Tuhan mereka, Penciptanya dan Pencipta orang-orang sebelumnya. Pencipta bumi yang terhampar dan langit yang terbina. Dia yang menurunkan air dari langit, kemudian dengan itu pula Dia menyegarkan tumbuhnya bermacam-macam buah-buahan sebagai rezeki bagi mereka. Jadi, seseorang yang telah mengetahui yang demikian itu, tidak diperkenankan mengangkat sekutu-sekutu sebagai tandingan Allah.[23] 

Menurut riwayat Ibnu Abi Hatim bahwa syirik dapat menjelma dalam ungkapan-ungkapan kata seperti, “Demi Allah dan demi kehidupanmu hai Fulan, demi hidupku”, dan ucapan, “Kalau tidak ada anjing ini kita didatangi pencuri”, dan kalimat “Kalau tidak ada angsa kecil di rumah itu tentu akan didatangi oleh pencuri”. Demikian juga kata-kata seseorang kepada temannya, “Apa yang dikehendaki oleh Allah dan kehendakmu”, dan ucapan seseorang “Kalau bukan karena Allah dan Fulan”. Seseorang tidak diperkenankan mencantumkan di dalamnya kata-kata fulan karena inilah semuanya yang menyebabkan syirik. 

Atsar tersebut di atas, menurut Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab memiliki sanad yang baik, dan ia mengatakan bahwa kata-kata tersebut ialah yang lebih tersembunyi daripada semut halus di atas batu hitam di kegelapan malam. Artinya, perkara-perkara ini adalah syirik yang tersembunyi di kalangan manusia, tidak ada yang menyelidiki dan mengetahuinya kecuali sedikit dan dijadikan perumpamaan demikian karena tersembunyinya hal tersebut dengan selubung yang rapi.[24] 

Oleh karena itu, kita harus hati-hati dan selektif dalam berbuat dan berkata supaya terhindar dari syirik sebab perbuatan syirik sangat riskan, bisa membuat pelakunya menjadi kafir. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Maidah ayat 17 dan ayat 73 yang artinya: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah al-Masih putera Maryam. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga.” 

Amal orang-orang kafir tidak mendapatkan pahala di sisi Allah. Di dalam al-Qur’an digambarkan bahwa amal orang kafir seperti fatamorgana. Dari jauh kelihatan ada air, tetapi ketika didekati tidak ada apa-apa. Sebagaimana terdapat di dalam surat an-Nur ayat 39 yang artinya: “Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.” 

F.     Monoteisme Islam

Dalam al-Qur’an telah disebutkan:[25]

Artinya: “Dan kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Melalui ayat di atas, Islam menjelaskan monoteisme dalam caranya sendiri. Monoteisme dalam Islam lebih dikenal dengan istilah Tauhid. Tauhīd berarti satu (berasal dari kata wahid/ahad). Kata ini menyiratkan penyatuan, kesatuan atau mempertahankan sesuatu agar tetap satu. Syahadat (الشهادة), adalah pengakuan atau pernyataan percaya akan keesaan Allah dan bahwa Muhammad adalah nabinya. “Kalimat tauhīd” yang berbunyi: “Lȃ ilȃ ha Illa Allâh” yang berarti bahwa satu-satunya tuhan (ilah) yang pantas untuk diabdi, ditaati, disembah, diikuti ajarannya hanyalah Allah. 

Ajaran Tauhid Islam dibawa oleh seluruh Nabi dan Rasul tanpa terkecuali. Nabi-nabi sebelum nabi Muhammad Saw. diutus untuk umatnya masing-masing, sedangkan nabi Muhammad Saw. sebagai penutup para Nabi diutus untuk seluruh umat manusia hingga akhir zaman. Dan, selamanya Islam adalah agama yang mengakui paham monoteisme secara mutlak. Tuhan dalam Islam hanyalah Allah Swt., Pencipta dan Pengatur Alam Raya beserta isinya. 

Islam dikenal sebagai pengusung paham monoteisme murni yang ketat dan tidak kenal kompromi. Siapapun yang telah memutuskan untuk menjadi muslim haruslah dengan setulusnya melakukan ikrar yang diwujudkan dalam bentuk syahadat bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah Rasul Allah. Dan, hal ini sekaligus membantah teori yang mengatakan bahwa agama yang asli dan tertua adalah monoteism.[26] 

Akidah Islam sering disebut dengan tauhid, ajaran tauhid disebut pula sebagai ajaran monoteisme, akidah ini sudah ada sejak zaman Nabi Adam a.s. sebagai seorang Nabi dan Rasul, Adam telah membawa akidah ketauhidan tersebut, suatu akidah yang diberikan Allah kepada beliau. Karena itu, Umat Islam yakin, Nabi Adam menganut paham monoteisme dan tidak mungkin menganut paham politeisme/kemusyrikan (hypocrisy).[27] 

Dengan keyakinan bahwa Akidah ketauhidan sudah ada sejak Nabi Adam a.s. kontan umat Islam menolak teori Darwin dan pengikutnya mengenai evolusi tentang asal-usul agama. Hal itu sejalan dengan ajaran bahwa monoteisme merupakan dogma yang diutamakan dalam Islam. Monoteisme adalah percaya kepada Tuhan yang Maha Esa, dipandang sebagai jalan untuk menuju keselamatan manusia. Dalam al-Qur’an ayat 48 dan 116 surah al-Nisa’ menerangkan  bahwa Allah Swt. tidak mengampuni dosa orang yang mempersekutukan Tuhan tetapi mengampuni dosa selainya bagi barang siapa yang dikehendaki Allah. Kedua ayat ini mengandung arti bahwa dosa dapat diampuni Tuhan kecuali dosa sirik atau politeis. Inilah satu-satunya dosa yang tak dapat diampuni Tuhan. 

Demikian monoteisme yang berlaku pada nabi Ibrahim. Rasulullah Saw. dalam ajarannya selalu membimbing umatnya untuk menyembah hanya kepada Allah (tauhid uluhiyah), dan pada saat yang sama harus pula meyakini, Allah adalah Tuhan yang Maha Esa, bersifat mutlak, dan transendental (tauhid rububiyah). Keyakinan seperti itu menunjukkan, segala sesuatu yang selain Allah merupakan makhluk yang tidak memiliki hak sedikit pun untuk diperlakukan sebagai Tuhan atau disikapi seperti Tuhan. Pada saat yang sama, hal itu menggambarkan ketidakbolehan manusia untuk diperlakukan semena-mena atau direndahkan karena manusia di hadapan Tuhan adalah sederajat. 

Implikasi logis dari hal itu adalah munculnya tauhid sebagai nilai moral transformatif dalam kehidupan sosial. Ke-tauhid-an Islam adalah akidah yang menumbuhkan moralitas pembebasan manusia. Dengan demikian, ada hubungan tak terpisahkan antara ide monoteisme pada satu pihak, dan pengembangan moral kemanusiaan universal pada pihak lain. Kedua aspek itu merupakan dua sisi dari satu mata uang yang sama. Surat al-Mâ`ûn: 107, menggambarkan secara nyata nilai-nilai itu. Surat ini mengungkap dengan jelas, orang yang tidak memiliki solidaritas sosial dan nilai-nilai semacam itu, memiliki posisi yang sama seperti orang yang mendustakan agama. 

Khotbah Haji Wada’ yang disampaikan Rasulullah Saw. mengukuhkan hubungan itu. Dalam ibadah haji terakhir itu, Nabi menyatakan tentang keharusan manusia untuk menjaga hak dan kehormatan orang lain, serta memperlakukan manusia lain seperti memperlakukan diri sendiri. Khotbah Nabi itu merepresentasikan prinsip-prinsip yang harus menjadi intisari perkembangan yang mendasari gerakan Islam dalam kemajuannya yang aktual dan tujuan yang ingin dicapai. Prinsip itu adalah humanitarianisme,[28] egalitarianisme, keadilan sosial dan ekonomi, kebajikan, serta solidaritas sosial. Konkretnya, tauhid merupakan alfa dan omega Islam. Unity selain bersifat pernyataan metafisik tentang karakteristik zat yang absolut, juga merupakan suatu cara integrasi, wahana untuk menjadi utuh, dan sebagai realisasi kesatuan dalam semua eksistensi. Melalui prinsip-prinsip itu, umat Islam secara metafisik-vertikal harus meyakini keesaan Tuhan, dan pada saat yang sama mereka dituntut mengusung nilai-nilai itu ke ruang publik dalam bentuk pengembangan moralitas yang dapat mencerahkan kehidupan. 

G.    Kebenaran Dogma Monoteisme Islam

Segala sesuatu yang disembah dan dipuja oleh penganut agama disebut Tuhan. Untuk mengetahui Tuhan tentu harus mengetahuinya minimal melalui sifat wajib Allah Swt. yang berjumlah dua puluh yang dibagi menjadi empat kelompok, sebagai berikut:

  1. Sifat Nafsiyah

Sifat nafsiyah, yaitu sifat yang dengan sifat itu dapat membuktikan zat Allah Ta’ala. Yang dimaksud sifat nafsiyah adalah sifat wujud.

2. Sifat Salbiyah

Sifat salbiyah artinya yang menafikan. Sifat ini tidak menerima sifat-sifat yang tidak mungkin dan tidak layak bagi Tuhan. Yang termasuk sifat salbiyah adalah sifat qidam, baqa, mukhalafatu lil hawaditsi, qiyamuhu binafsihi dan wahdaniyah. 

3. Sifat Ma’ani

Sifat ma’ani adalah sifat yang memastikan bahwa yang disifati itu bersifat dengan sifat tersebut. Yang termasuk sifat ma’ani adalah sifat qudrat, iradat, ilmu, hayat, sama’, bashar dan kalam.

4. Sifat Ma’nawiyah

Sifat ma’nawiyah adalah sifat-sifat yang lazim atau memastikan sifat-sifat ma’ani. Setiap ada sifat ma’nawiyah pasti ada sifat ma’ani. Sifat ma’nawiyah ada tujuh yaitu: kaunuh qadiran, kaunuhu muridan, kaunuhu aliman, kaunuhu hayyan, kaunuhu samian, kaunuhu bashiran, dan kaunuhu mutakalliman.

Dari keempat kelompok sifat wajib Allah Swt. hanya sifat salbiyah yang memungkinkan untuk dijadikan bahan analisa. Selain itu, minimal tentu modal keyakinan akan ‘wujud’ dari Tuhan menjadi niscaya. 

Sebagaimana firman Allah dalam surat al-An’am ayat 103 :

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan dialah yang Maha halus lagi Maha Mengetahui.” 

Meskipun demikian, Tuhan dapat diketahui melalui matahati. Hal ini dapat dibuktikan dengan menggunakan dalil aqli maupun dalil naqli. Dalil aqli-nya adalah alam ini sebelum ada, ada dan tidak adanya sama saja, artinya ada boleh, tidak ada pun boleh. Karena alam ini barang mumkin. Jadi ada ya boleh, tidak ada ya boleh. Setelah alam ini ada, berarti adanya mengalahkan tidak adanya. Siapa yang mengalahkan tidak adanya oleh adanya? Jawabnya yang mengalahkan tidak adanya oleh adanya ialah suatu zat yang diberi nama dengan ismul a’dhom yaitu Allah. 

Adapun dalil naqli-nya terdapat,yakni:[29] 

“(yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, Maka sembahlah Dia; dan dia adalah pemelihara segala sesuatu.” 

Aplikasikan dari kelima sifat salbiyah di atas adalah sebagaimana berikut ini : 

  1. Suatu zat yang dianggap sebagai Tuhan memiliki sifat qidam yang artinya dahulu tanpa permulaan atau adanya tidak didahului dengan tidak ada. Kalau sesuai dengan sifat qidam, maka zat itu adalah Tuhan yang Haq, dan sebaliknya kalau tidak sesuai berarti Tuhan yang batal.
  2. Suatu zat yang dianggap sebagai Tuhan, memiliki sifat baqa yang artinya kekal atau tidak diakhiri dengan tidak ada. Kalau sesuai dengan sifat baqa, maka zat itu adalah Tuhan Haq, dan sebaliknya kalau tidak sesuai berarti Tuhan batal.
  3. Suatu zat yang dianggap Tuhan, memiliki sifat mukhalafatu lil hawaditsi yang artinya berbeda dengan segala yang baru (makhluk). Kalau sesuai dengan sifat tersebut, maka zat itu Tuhan Haq, dan sebaliknya kalau tidak sesuai berarti Tuhan batal.
  4. Suatu zat yang dianggap Tuhan, memiliki sifat qiyamuhu binafsihi yang artinya berdiri dengan sendirinya atau tidak membutuhkan kepada yang lain. Kalau sesuai dengan sifat tersebut, maka zat itu adalah Tuhan Haq, dan sebaliknya kalau tidak sesuai berarti Tuhan batal.  
  5. Suatu zat yang dianggap Tuhan, memiliki sifat wahdaniyah yang artinya Esa, baik Esa zat-Nya, sifat-Nya maupun perbuatan-Nya. Kalau sesuai dengan sifat tersebut, maka zat itu adalah Tuhan Haq, dan sebaliknya kalau tidak sesuai berarti Tuhan batal.

Formula tersebut seyogyanya  berlaku pada sesuatu atau zat yang dianggap Tuhan. Dalam “dinamisme” yang dianggap Tuhan adalah kekuatan gaib yang misterius, dalam “animisme” yang dianggap Tuhan adalah ruh, dan dalam politeisme yang dianggap Tuhan adalah dewa-dewa. 

Kekuatan gaib yang misterius, ruh dan dewa-dewa adalah sesuatu yang adanya didahului dengan tidak ada, atau memang tidak ada, atau adanya hanya diada-adakan saja. Kalau memang ada, maka adanya tidak kekal, artinya akan diakhiri dengan tidak ada. Mereka sama dengan makhluk, atau mereka memang makhluk. 

Oleh karena itu, mereka butuh kepada yang lain. Seperti kekuatan gaib butuh kepada benda untuk ditempati, ruh juga butuh benda untuk ditempati baik benda hidup maupun benda mati. Dewa-dewa juga butuh kepada dewa yang lain. Seperti dewa pencipta butuh kepada dewa pemelihara dan mereka berbilang. Jadi, yang dianggap Tuhan oleh dinamisme, animisme dan politeisme tidak sesuai dengan formula sifat salbiyah yang menunjukkan Tuhan Haq. Dengan demikian, Tuhan-Tuhan tersebut adalah Tuhan batal. 

Sekarang Tuhan Islam yaitu Allah Swt., di mana nama diri dari Tuhan Islam itu diperoleh melalui wahyu seperti firman-Nya:[30] 

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang Telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayam di atas ‘Arsy. dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” 

 Allah Swt.  telah melewati formula dari sifat salbiyah sebagaimana di atas, karena:

  1. Ada-Nya tidak didahului dengan tidak ada-Nya (qidam);
  2. Tidak diakhiri dengan tidak ada (baqa);
  3. Tidak sama dengan makhluk (mukhalafatu lil hawaditsi);
  4. Tidak butuh kepada yang lain (qiyamuhu binafsihi);
  5. Esa atau tidak berbilang dalam :
    1. Zat-Nya, artinya zat-Nya tidak tersusun dari bagian-bagian yang banyak. Dia tidak tersusun dari jasmani dan rohani; tidak tersusun dari kepala, tubuh dan anggota badan; dan tidak tersusun dari kulit, daging, darah dan tulang; 
    2. Sifat-Nya, artinya sifat-Nya tidak berbilang. Tidak ada dua qudrah atau lebih, dua ilmu atau lebih dan sebagainya. Maksudnya sebelum Allah mencipta, ketika Allah mencipta, dan setelah mencipta, Allah itu tahu dan sangat tahu; 
    3. Perbuatan-Nya, artinya semua perbuatan-Nya dilakukan sendiri tidak ada yang membantu.

Soal-soal ketuhanan mengandung dua pengertian yaitu: Pertama, Allah Ta’ala tidak menghajatkan kepada semua apa-apa yang selain Allah. Kedua, semua apa-apa yang selain Allah berhajat kepada Allah Ta’ala. Dari sinilah terdapat pengertian kalimat tauhid, artinya tidak ada yang dibutuhkan dari semua apa-apa yang selain Allah, kecuali hanya Allah Swt. 

Maka, wajib bagi Allah Swt. bersifat wujud, qidam, dan baqa. Karena itu, kalau tidak wajib sifat ini niscaya Dia butuh kepada yang mengadakan, sebab tidak adanya satu dari sifat-sifat ini mengharuskan (menetapkan) wujudnya bersifat baru, dan tiap-tiap yang baru itu membutuhkan kepada yang mengadakan.[31] 

Demikian ulasan singkat seputar MONOTEISME; Antara Dogma dan Naluri Bertuhan Manusia, semoga bermanfaat.

situs: www.rangkumanmakalah.com

DAFTAR PUSTAKA

 Abbagnano, Nicola, “Humanisme”, The  Encyclopedia of Philosophy, vol. 3, New York: Macmilan Publisher, 1967

 Al-Ghazali, Tahȃfut al-Falȃsifah, Kairo: Dar al-Ma’arif, 1968

al-Khaibawi, Ustman, Durratun Nasihin, terj. Abdullah Shonhaji, Semarang: al-Munawar, tt

Bahri, Media Zainul, Satu Tuhan Banyak Agama: Pandangan Sufistik Ibn ‘Arabi, Rumi dan Al Jili, Jakarta: Mizan Publika, 2011

Bakhtiar, Amsal, Filsafat Agama; Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia, Jakarta: Rajawali Pers, 2012

  Dhavamony,  Mariasusai, Phenomenology of Religion, terj. A. Sudiarja, dkk, Yogyakarta: Kanisius, 1995

Hadiwijono, Harun, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta: Kanisius, 1980

Hanafi, Hassan, “Morality and The Integrity of Society”, terj. Anang Rikza Masyhadi, Suara Muhammadiyah, (Edisi, 04, 2004)

Hidayat, Komaruddin dan Muhammad Wahyudi Nafis, Agama Masa Depan; Perspektif Filsafat Perennial, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2003

http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/ (04 Januari 2012).

Husaini, Adian, Pendidikan Islam: Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab, Jakarta: Program Studi Pendidikan Islam, Program Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun dan Cakrawala Publishing, 2010

Nasution, Harun, Falsafat Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 1973

Partanto, Pius A. dan M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya: Arkola, 2001

Sudjarwo, Dja’far, Ketuhanan Yang Maha Esa Menurut Islam, Surabaya: al-Ikhlas, tt.

Waggoner, E.J., Christ and His Righteousnes, terj. John Terinathe, Jakarta: Davidian MAHK, 1998

Yahya, Yunus, Asmau Allah Husna, Bandung: PT. Karya Nusantara, 1981


[1] Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama; Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), 76.

[2] Ibid., 77.

[4] Politeisme bisa dipahami dari fenomena kepercayaan oleh manusia kepada berbagai dewa (Tuhan, Pen.) personal, yang masing-masing memegang kekuasaan atas bidang kehidupan yang berlainan, dapat diterangkan dalam berbagai sudut pandang. Lihat, Mariasusai Dhavamony,  Phenomenology of Religion, terj. A. Sudiarja, dkk, (Yogyakarta: Kanisius, 1995), 140.

[5] Panteisme adalah paham yang meyakini bahwa segala sesuatu di alam ini adalah Tuhan dan Tuhan adalah seluruh alam ini.  Lihat, Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama; Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia, 94.

[6] Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola, 2001), 488.

[7] Para Dewa (yang dipuja), lihat, Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola, 2001), 573.

[8] Dalam teologi orang Kristiani konsep bertuhan seperti ini dikenal dengan istilah Trinitas, tiga dalam satu (tunggal). Dan, dalam tujuannya Kristus (Yesus) datang ke Bumi adalah untuk mengungkap Allah kepada manusia. Lihat, E.J. Waggoner, Christ and His Righteousnes, terj. John Terinathe, (Jakarta: Davidian MAHK, 1998), 12.

[9] Lebih lanjut Teisme dalam pandangan al-Ghazali, menurutnya Allah adalah Zat yang Esa Pencipta alam serta berperan aktif dalam mengendalikan alam. Allah menciptakan alam dari tidak ada (cretio exnihilo). Karena itu, menurut al-Ghazali mukjizat adalah suatu peristiwa yang wajar kerna Tuhan bisa mengubah hukum alam yang dianggap tidak bisa berubah. Al-Ghazali berpendapat, karena maha kuasa dan berkehendak mutlak, Tuhan mampu mengubah segala ciptaan-Nya sesuai dengan kehendak mutlak-Nya. Lihat dalam, Al-Ghazali, Tahȃfut al-Falȃsifah, (Kairo: Dar al-Ma’arif, 1968), 240.

[10] Harun Nasution, Falsafat Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), 36.

[11] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Yogyakarta: Kanisius, 1980), 101.

[12] http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/ (04 Januari 2012).

[13] Media Zainul Bahri, Satu Tuhan Banyak Agama: Pandangan Sufistik Ibn ‘Arabi, Rumi dan Al Jili, (Jakarta: Mizan Publika, 2011), 91.

[14] Komaruddin Hidayat dan Muhammad Wahyudi Nafis, Agama Masa Depan; Perspektif Filsafat Perennial, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2003), 69-70.

[15] Media Zainul Bahri, Satu Tuhan Banyak Agama: Pandangan Sufistik Ibn ‘Arabi, Rumi dan Al Jili, 97.

[16] QS. al-Alaq ayat 1-5

[17] QS. al-A’la ayat 1-5

[18] QS. al-Taubah ayat 31

[19] Yunus Yahya, Asmau Allah Husna, (Bandung: PT. Karya Nusantara, 1981), 10.

[20] QS. al-Furqon ayat 44

[21] Syeikh Sulaiman bin Abdullah bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahab, Taisirul Aziz al- Hamid fi Syarhi Kitab al-Tauhid, Terj. Dja’far Sudjarwo, Ketuhanan Yang Maha Esa Menurut Islam, (Surabaya: al-Ikhlas, tt.), 39.

[22] Ibid., 40.

[23] Ibid., 764.

[24] Ibid., 765.

[25] QS. al-Baqarah ayat 115

[26] Adian Husaini, Pendidikan Islam: Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab, (Jakarta: Program Studi Pendidikan Islam, Program Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun dan Cakrawala Publishing, 2010), 2.

[27] Hassan Hanafi, “Morality and The Integrity of Society”, terj. Anang Rikza Masyhadi, Suara Muhammadiyah, (Edisi, 04, 2004), 1.

[28] Prinsip yang mengedepankan rasa kemanusiaan dan yang berhubungan dengan kemanusiaan, pen. Bukan humanisme yang sebagaimana dipahami oleh Barat yang menilai bahwa manusia adalah ukuran segala sesuatu yang  dengan posisi itu ia kemudian bebas melakukan, memandang dan memilih sesuatu yang menurutnya terbaik. Lihat, Nicola Abbagnano, “Humanisme”, The  Encyclopedia of Philosophy, vol. 3, (New York: Macmilan Publisher. 1967), 70.

[29] QS. al-An’am ayat 102

[30] QS. al-A’raf ayat 54

[31] Ustman al-Khaibawi, Durratun Nasihin, terj. Abdullah Shonhaji , (Semarang: al-Munawar, tt), 273.

Share This:

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *