ONTOLOGI ILMU PENGETAHUAN, Lengkap!

ontologi ilmu pengetahuan

ontologi ilmu pengetahuan

www.rangkumanmakalah.com

A. Pengertian Ontologi

ontologi ilmu pengetahuan – Ontologi dalam bahasa Inggris “ontology”; dari bahasa Yunani on, ontos (ada, keberadaan) dan logos (studi, ilmu tentang). Ada beberapa pengertian dasar mengenai apa itu “ontology[3]. 

Ontologi merupakan studi tentang ciri-ciri “esensial” dari ‘Yang Ada’ dalam dirinya sendiri yang berbeda dari studi tentang hal-hal yang ada secara khusus. Dalam mempelajari ‘Yang Ada’ dalam bentuknya yang sangat abstrak studi tersebut melontarkan pertanyaan seperti “Apa itu Ada dalam dirinya sendiri?” 

Ontologi termasuk cabang Filsafat yang membahas mengenai sifat (wujud) atau lebih sempit lagi sifat fenomena yang ingin kita ketahui.[4] Juga, Ontologi bisa mengandung pengertian sebuah cabang filsafat yang menggeluti tata dan struktur realitas dalam arti seluas mungkin, yang menggunakan katagori-katagori seperti: ada atau menjadi, aktualitas atau potensialitas, esensi, keniscayaan dasar, Yang Ada sebagai Yang Ada.

Ontologi mencoba melukiskan hakikat Ada yang terakhir, ini menunjukan bahwa segala hal tergantung padanya bagi eksistensinya. Ontologi juga mengandung pengertian sebagai cabang filsafat yang melontarkan pertanyaan, apa arti Ada dan Berada dan juga menganalisis bermacam-macam makna yang memungkinkan hal-hal dapat dikatakan Ada. 

Dari beberapa pengertian ontologi di atas, maka dapat diperoleh gambaran yang lebih jelas, apa yang disebut dengan ontologi. Ontologi juga mengandung pengertian sebuah cabang filsafat yang menyelidiki realitas yang menentukan apa yang kita sebut realitas. Dari beberapa pengertian dasar tersebut bisa disimpulkan bahwa ontologi mengandung pengertian “pengetahuan tentang yang Ada”.[5] 

Pun, dapat dikatakan bahwa antologi merupakan bagian dari filsafat ilmu yang membahas pandangan terhadap hakikat ilmu atau pengetahuan ilmiah, termasuk pandangan terhadap sifat ilmu itu sendiri.[6]

Istilah ontologi muncul sekitar pertengahan abad ke-17. Pada waktu itu ungkapan filsafat mengenai yang ada (philosophia entis) digunakan untuk hal yang sama. Menurut akar kata Yunani, ontologi berarti ‘teori mengenai ada yang berada’[7]. Oleh sebab itu, orang bisa menggunakan ontologi dengan filsafat pertama Aristoteles, yang kemudian disebut sebagai metafisika. Namun pada kenyataannya, ontologi hanya merupakan bagian pertama metafisika, yakni teori mengenai yang ada, yang berada secara terbatas sebagaimana adanya dan apa yang secara hakiki dan secara langsung termasuk ada tersebut. 

B. Dasar Ontologi Ilmu Pengetahuan

Berbeda dengan agama atau bentuk pengetahuan yang lainnya, maka ilmu membatasi diri hanya kepada kejadian yang bersifat empiris. Secara sederhana, objek kajian ilmu ada dalam jangkauan pengalaman manusia. Objek kajian ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera manusia. Dalam batas-batas tersebut, maka ilmu mempelajari objek-objek empiris, seperti batu-batuan, binatang, tumbuh-tumbuhan, hewan atau manusia itu sendiri. Berdasarkan hal itu, maka ilmu-ilmu dapat disebut sebagai suatu pengetahuan empiris, di mana objek-objek yang berbeda di luar jangkaun manusia tidak termasuk di dalam bidang penelaahan keilmuan tersebut. 

Untuk mendapatkan pengetahuan ini, ilmu membuat beberapa asumsi mengenai objek-objek empiris. Sebuah pengetahuan baru dianggap benar selama kita bisa menerima asumsi yang dikemukakannya.

Secara lebih terperinci ilmu mempunyai tiga asumsi yang dasar, yaitu: 

1.   Menganggap objek-objek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain, umpamanya dalam hal bentuk, struktur, sifat dan sebagainya.

2.   Menganggap bahwa suatu benda tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu . Kegiatan keilmuan bertujuan mempelajari tingkah laku suatu objek dalam suatu keadaan tertentu.

3.   Menganggap bahwa tiap gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan.[8] 

Tiap gejala mempunyai suatu hubungan pola-pola tertentu yang bersifat tetap dengan urutan kejadian yang sama. Dalam pengertian ini, ilmu mempunyai sifat deterministik.

C. Pengertian Ilmu Pengetahuan

ontologi ilmu pengetahuan – Agar kita mendapatkan pengertian tentang ilmu pengetahuan yang luas, maka didalam mengkaji masalah tersebut menjadi: 

  1. Pengertian Ilmu

Ilmu berasal dari bahasa arab yaitu alimaya’lamu–‘ilman dengan wazan fa’alayaf’alufi’lan yang berarti mengerti, memahami benar-benar. Ilmu dalam kamus Indonesia adalah pengetahuan suatu bidang yang disusun secara konsisten menurut metode-metode tertentu, juga dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu.[9] 

Al-Quran menggunakan kata ‘ilm dalam berbagai bentuk dan artinya sebanyak 854 kali. Antara lain sebagai “proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan” (QS 2:31-32) Pembicaraan tentang ilmu mengantarkan kita kepada pembicaraan tentang sumber-sumber ilmu di samping klasifikasi dan ragam disiplinnya. 

Ilmu dalam bahasa Inggris ‘science’, dari bahasa Latin ‘scientia’ (pengetahuan). Sinonim yang paling akurat dalam bahasa Yunani adalah ‘ episteme’. Pada prinsipnya ‘ilmu’ merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Meskipun secara metodologis ilmu tidak membedakan antara ilmu sosial dan ilmu alam, karena permasalahan-permasalahan teknis yang bersifat khas, maka filsafat ilmu sering dibagi menjadi ‘filsafat ilmu alam’ dan filsafat ilmu sosial.[10]

Ilmu merupakan terjemahan dari kata science, yaitu pengetahuan yang rasional dan didukung dengan bukti empiris, dalam bentuk yang baku. Dari segi maknanya, pengertian ilmu sepanjang yang terbaca dalam pustaka menunjuk sekurang-kurangnya tiga hal, yakni pengetahuan, aktivitas dan metode. Diantara para filsuf dari berbagi aliran terdapat pemahaman umum bahwa ilmu adalah sesuatu kumpulan yang sistematis dari pengetahuan (any systematic body of knowledge)[11]. 

Porf. Dr. Ashley Montagu, guru besar Antropologi pada Rutgers University menyimpulkan: “Science is a systemized knowledge derived from observation, study and experimentation curried on order to determine the nature of principles of what being studied.” 

Ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu diperoleh dari keterbatasannya. 

Dari beberapa pengertian ilmu yang di kemukakan, maka dapat diperoleh gambaran yang lebih jelas, apa yang disebut dengan ilmu. Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense, suatu pengamatan dalam kehidupan sehari-hari, namun dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode. 

  1. Pengertian pengetahuan pada ontologi ilmu pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu. Drs. Sidi Gazalba, mengemukakan bahwa pengetahuan ialah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari pada: kenal, sadar, insaf, mengerti dan pandai. Pengertian itu semua milik atau isi pikiran.

Pengetahuan adalah suatu istilah yang digunakan untuk menuturkan apabila sesorang mengenal tentang sesuatu. Suatu hal yang menjadi pengetahuannya adalah selalu terdiri dari unsur yang mengetahui dan yang diketahui serta kesadaran mengenai hal yang ingin diketahuinya itu. Oleh karena itu, pengetahuan selalu menuntut tentang sesuatu dan obyek yang merupakan sesuatu yang dihadapinya sebagai hal yang ingin diketahuinya. Jadi, bisa dikatakan pengetahuan adalah hasil tahu manusia terhadap sesuatu, atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek tertentu.[12]

D. Sumber-sumber Ontologi Ilmu Pengetahuan

Setelah pengetahuan itu sesuatu yang mungkin dan realistis, masalah yang dibahas dalam literatur-literatur epistimologi Islam adalah masalah yang berkaitan dengan sumber dan alat pengetahuan. Para filusuf  Islam menyebutkan beberapa sumber dan sekaligus alat pengetahuan, yaitu: 

1.    Alam tabi’at atau alam fisik

ontologi ilmu pengetahuan – Contoh yang paling konkrit dari hubungan dengan materi dengan cara yang sifatnya materi pula adalah aktivitas keseharian manusia di dunia ini, seperti makan, minum, hubungan suami istri dan lain sebagianya. Dengan demikian, alam tabi’at yang materi merupakan sumber pengetahuan yang “barangkali” paling awal dan indra merupakan alat untuk berpengetahuan yang sumbernya tabi’at. 

Pandangan Sensualisme (al-hissiyyin)

Kaum sensualisme, khususnya John Locke, menganggap bahwa pengetahuan yang sah dan benar hanya lewat indra saja. Mereka mengatakan bahwa otak manusia ketika lahir dalam keadaan kosong dari segala bentuk pengetahuan, kemudian melalui indra realita-realita di luar tertanam dalam benak. Peranan akal hanya dua saja yaitu, menyusun dan memilah serta meng-generalisasi.[13]

Jadi yang paling berperan adalah indra. Pengetahuan yang murni lewat akal tanpa indra tidak ada. Konskuensi dari pandangan ini adalah bahwa realita yang bukan materi atau yang tidak dapat bersentuhan dengan indra, maka tidak dapat diketahui, sehingga pada gilirannya mereka mengingkari hal-hal yang metafisik seperti Tuhan. 

2. Alam Akal

Kaum Rasionalis, selain alam tabi’at atau alam fisika, meyakini bahwa akal merupakan sumber pengetahuan yang kedua dan sekaligus juga sebagai alat pengetahuan. Mereka menganggap akal-lah yang sebenarnya menjadi alat pengetahuan sedangkan indra hanya pembantu saja.

Aktivitas-aktivitas Akal:

1.   Menarik kesimpulan. Yang dimaksud dengan menarik kesimpulan adalah mengambil sebuah hukum atas sebuah kasus tertentu dari hukum yang general. Aktivitas ini dalam istilah logika disebut silogisme kategoris demonstratif. 

2.   Mengetahui konsep-konsep yang general. Ada dua teori yang menjelaskan aktivitas akal ini, Pertama, teori yang mengatakan bahwa akal terlebih dahulu menghilangkan ciri-ciri yang khas dari beberapa person dan membiarkan titik-titik kesamaan mereka. Teori ini disebut dengan teori tajrid dan intiza’. Kedua, teori yang mangatakan bahwa pengetahuan akal tentang konsep yang general melalui tiga tahapan, yaitu persentuhan indra dengan materi, perekaman benak, dan generalisasi.

3.   Pengelompokan Wujud. Akal mempunyai kemampuan mengelompokkan segala yang ada di alam realita ke beberapa kelompok.

4.   Pemilahan dan Penguraian.

5.   Penggabungan dan Penyusunan.

6.   Kreativitas.[14]

3.   Analogi (Tamtsil)

Termasuk alat pengetahuan manusia adalah analogi yang dalam terminologi fiqih disebut qiyas. Analogi ialah menetapkan hukum (baca; predikat) atas sesuatu dengan hukum yang telah ada pada sesuatu yang lain karena adanya kesamaan antara dua sesuatu itu. 

Analogi tersusun dari beberapa unsur:

1)      Asal, yaitu kasus parsial yang telah diketahui hukumnya.

2)      Cabang, yaitu kasus parsial yang hendak diketahui hukumnya,

3)      Titik kesamaan antara asal dan cabang, dan

4)      Hukum yang sudah ditetapkan atas asal.[15] 

4. Hati dan Ilham (Wahyu)

Kaum empiris yang memandang bahwa ada sama dengan materi sehingga sesuatu yang inmateri adalah tidak ada, maka pengetahuan tentang in materi tidak mungkin ada. Sebaliknya kaum Ilahi (theosopi) yang meyakini bahwa ada lebih luas dari sekedar materi, mereka mayakini keberadaan hal-hal yang inmateri. Pengetahuan tentangnya tidak mungkin lewat indra tetapi lewat akal atau hati. 

Tentu yang dimaksud dengan pengetahuan lewat hati di sini adalah penngetahuan tentang realita inmateri eksternal, kalau yang internal seperti rasa sakit, sedih, senang, lapar, haus dan hal-hal yang iintuitif lainnya diyakini keberadaannya oleh semua orang tanpa kecuali. 

Pengetahuan tentang alam gaib yang dicapai manusia lewat hati jika berkenaan dengan pribadi seseorang saja disebut ilham atau isyraq, dan jika berkaitan dengan bimbingan umat manusia dan penyempurnaan jiwa mereka dengan syariat disebut wahyu.[16] 

E. Ruang Lingkup Ontologi Ilmu Pengetahuan

Secara ontologis, ilmu membatasi lingkup penelaah keilmuannya hanya pada daerah-daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia. Ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia. Ilmu tidak mempelajari ikhwal surga dan neraka. Sebab, ikhwal surga dan neraka berada diluar jangkauan pengalaman manusia. Ilmu tidak mempelajari sebab musabab terciptanya manusia sebab kejadian itu terjadi diluar jangkauan pengalamann manusia. Baik hal-hal yang terjadi sebelum hidup kita, maupun hal-hal yang terjadi setelah kematian manusia, semua itu berada di luar penjelajahan ilmu. 

Ilmu hanya membatasi daripada hal-hal yang berbeda dalam batas pengalaman kita karena fungsi ilmu sendiri dalam hidup manusia yaitu sebagai alat bantu manusia dalam menanggulangi masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. Persoalan mengenai hari kemudian tidak akan kita tanyakan pada ilmu, melainkan kepada agama. Sebab agamalah pengetahuan yang mengkaji masalah-masalah seperti itu. Metode yang dipergunakan dalam menyusun ilmu telah teruji kebenarannya secara empiris[17]. Dalam perkembangannya kemudian maka muncul banyak cabang ilmu yang diakibatkan karena proses kemajuan dan penjelajahan ilmu yang tidak pernah berhenti. Dari sinilah kemudian lahir konsep “kemajuan” dan “modernisme” sebagai anak kandung dari cara kerja berpikir keilmuan[18].

F. Kriteria Ontologi Ilmu Pengetahuan

Dari definisi yang diungkapkan di atas, kita dapat melihat bahwa sifat-sifat ilmu merupakan kumpulan pengetahuan mengenai suatu bidang tertentu yakni:

  1. Berdiri secara satu kesatuan.
  2. Tersusun secara sistematis.
  3. Ada dasar pembenarannya (ada penjelasan yang dapat dipertanggung jawabkan disertai sebab-sebabnya yang meliputi fakta dan data).
  4. Mendapat legalitas bahwa ilmu tersebut hasil pengkajian atau riset.
  5. Communicable, ilmu dapat ditransfer kepada orang lain sehingga dapat dimengerti dan dipahami maknanya. 
  6. Universal, ilmu tidak terbatas ruang dan waktu sehingga dapat berlaku di mana saja dan kapan saja di seluruh alam semesta ini.
  7. Berkembang, ilmu sebaiknya mampu mendorong pengetahuan-pengatahuan dan penemuan-penemuan baru. Sehingga, manusia mampu menciptakan pemikiran-pemikiran yang lebih berkembang dari sebelumnya.[19] 

Demikian ulasan singkat seputar ontologi ilmu pengetahuan, semoga bermanfaat.

situs: www.rangkumanmakalah.com

DAFTAR PUSTAKA

Bustanuddin, Agus, Pengembangan IlmuIlmu Sosial: Studi Banding Antara Pandangan

Ilmiah Dan Ajaran Islam, Jakarta: Lintas Pustaka, 1999.

Jaharuddin, Filsafat Ilmu Dan Pengetahuan http://referensiagama.blogspot.com, 2011.

_________, Epistemologi dan Ontologi, dalam http://.blogspot.com, 2008.

Kiftiah, Mariatul. Dasar Ontologi Ilmu Pengetahuan. http://mariatulkiftiah.blogspot.com, 2011.

Langeveld, M.J, Menuju Kepimikiran Filsafat. Jakarta: Putra Sarjana, 2001.

Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996.

Louis O Kattsouff, Pengantar filsafat. Yogjakarta: Tiara Wacana, 2004.

Suriasumantri, Jujun S. Ilmu dalam perspektif . Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003.

Yusuf, Akhyar, Pengantar : Pengertian Epistemologi, Logika, Metodologi. Diktat Kuliah

2002.

Zainuddin, Filsafat Ilmu Perspektif Pemikiran Islam. Malang, Lintas Pustaka, 2006.


[1] Akhyar, Yusuf,  Pengantar : Pengertian Epistemologi, Logika, Metodologi (Diktat Kuliah PKTTI UI, 2002),7.

[2] Zainuddin, Filsafat Ilmu Perspektif Pemikiran Islam (Malang, Lintas Pustaka, 2006), 24.

[3] Bagus Lorens Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996), 746 – 747.

[4] Jaharuddin, “Epistemologi dan Ontologi”, dalam http://.blogspot.com (2008/05), 3.

[5] Mariatul Kiftiah, “Dasar Ontologi Ilmu Pengetahuan”, dalam http://mariatulkiftiah.blogspot.com (04 Oktober 2011)

[6] Bustanuddin Agus, Pengembangan IlmuIlmu Sosial: Studi Banding Antara Pandangan Ilmiah Dan Ajaran Islam, (Lintas Pustaka, 1999), 23.

[7] Bagus, Lorens op. Cit., 746 – 748.

[8] Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam perspektif ( Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003), 35.

[9] Jaharuddin,“Filsafat-Ilmu-Dan-Pengetahuan” http://referensiagama.blogspot.com/makalah (01 Januari 2011), 5.

[10] Jujun S. Suriasumantri, Op., Cit., 36.

[11] Jaharuddin, Op.Cit., 3.

[12] Louis O Kattsouff, Pengantar filsafat (Yogjakarta: Tiara Wacana, 2004), 21.

[13] Ibid, 23.

[14] Jaharuddin, Op.Cit., 5.

[15] Mariatul Kiftiah. Op. Cit, 5.

[16] Ibid, 6.

[17] Jujun S. Suriasumantri, Op., Cit., 10.

[18] Langeveld, M.J, Menuju Kepimikiran Filsafat (Jakarta: Putra Sarjana, 2001), 104.

[19] Mariatul Kiftiah, Op. Cit., 6.

Share This:

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *