PARADIGMA PENELITIAN KEPENDIDIKAN

paradigma penelitian kependidikan

paradigma penelitian kependidikan

paradigma penelitian kependidikan – Bogdan dan Biklen mendefinisikan paradigma itu adalah kumpulan longgar dari sejumlah asumsi yang dipegang bersama, konsep atau proposisi yang mengarahkan cara berfikir dan penelitian. Paradigma merupkan pola atau model tentang bagaimana sesuatu distruktur (bagian dan hubungannya) atau bagaimana bagian-bagiannya berfungsi (prilaku yang didalamnya ada konteks khusus atau dimensi waktu)[5] paradigma itu memberikan panduan bagi praktisi pendidikan tentang apa yang penting dan masuk akal. Penelitian (research) dapat diartikan sebagai upaya atau cara kerja yang sistematik untuk menjawab permasalahan atau pertanyaan dengan jalan mengumpulkan data dan merumuskan generalisasi berdasarkan data tersebut. Diartikan juga sebagai proses pemecahan masalah dan menemukan serta mengembangkan batang tubuh pengetahuan yang terorganisasikan melalui metode ilmiah. 

Berdasarkan pengertian di atas, maka penelitian pendidikan dapat diartikan sebagai proses yang sistematis untuk memperoleh pengetahuan (to discover knowledge) dan pemecahan masalah (problem solving) pendidikan melalui metode ilmiah, baik dalam pengumpulan maupun analisis datanya, serta membuat rumusan generalisasi berdasarkan penafsiran data tersebut.

Yang dimaksud dengan metode ilmiah di sini adalah metode yang menggunakan prinsip-prinsip science, yaitu sistematis, empiris dan objektif. Untuk memecahkan masalah dapat juga dilakukan Pendekatan non-ilmiah, yaitu menggunakan cara-cara (a) dogmatis, berdasarkan kepercayaan atau keyakinan tertentu; (b) intuitif, berdasarkan pengetahuan yang diperoleh secara tidak disadari atau tidak dipikirkan terlebh dahulu; (c) spekulatif, coba-coba, atau trial and error, cara terkaan, untung-untungan, yang temuannya bersifat kebetulan; dan (d) otoritas ilmiah, yaitu berdasarkan pendapat atau pemikiran logis para ahli dalam bidang tertentu. 

Selain pengertian diatas paradigma juga disebut sebagai sebuah sistem kepercayaan dasar atas asumsi ontology, epistemology dan metodologis. ada beberapa persoalan utamanya dalam kaitannya dengan paradigma keilmuan, yaitu: 

  1. Persoalan ontologis, apakah hakikat alam dan sifat dasar kenyataan. Lalu apa yang dapat diketahui manusia tentang kenyataan. 
  2. Persolan epiostemologis, berkenaan dengan hubungan antar yang mengetahui (knower) dan yang diketahui (known), dan bagaimanakah sesuatu itu dapat diketahui manusia. 
  3. Persoalan metodologis, berkenaan dengan masalah bagaimanakah peneliti dapat mengetahui sesuatu melalui penemuan dan kegiatan penelitian.
  4. Bagaimana sesuatu yang dapat diperoleh sebagi suatu kebenaran, bagaiman kenyataan yang dipahami menjadi pengetahuan yang objektif, atau kenyataan sebagai kebenaran.
    atau bagaiman kenyataan yang dipahami menjadi pengetahuan yang objektif, atau kenyataan sebagi kebenaran yang terpercaya. 

Sehingga dalam penelitian kependidikan dapat kita simpulkan bahwa ada 3 paradikma pendidikan yang diantaranya adalah: 

  1. Paradigma Penelitian kwantitatif atau kita istilahkan dengan Positivistik.
  2. Paradigma Penelitian Kwalitatif atau kita istilahkan dengan Post positivist
  3. Paradigma Penelitian campuran yaitu campuran positivist dan post positivist

 B.     Sejarah paradigma penelitian kependidikan

paradigma penelitian kependidikan – Penelitian pendidikan sebagai suatu disiplin ilmu yang tergolong masih muda dan usianya masih kurang dari 100 tahunan baru pada sekitar abad ke 19 ilmu pendidikan mulai menggunakan metodologi imu, keterlambatan munculnya pendidikan sebagai ilmu disebabkan oleh lambatnya kemajuan pengembangan alat-alat pengamatan dan pengukuran, serta oleh peliknya gejala yang diselidiki. 

  1. Awal penelitian pendidikan

Pada awal 1897, Joseph M.Rice yang dikenal sebagai perintis dalam gerakan penelitian pendidikan, menerbitkan dua artikel yang melaporkan hasil penyelidikan tentang hasil belajar mengajar anak-anak sekolah di Amerika serikat. Penelitian ini menunjukkan bahwa metode pengajaran mengeja, yang menggunakan drill sebagian besar tidak efektif, disini ia dan penentang-penentangnya menetapkan pada pentingnya penelitian dan menyarankan kearah perbaikan pada system pendidikan tersebut[6].

  1. Periode perintisan 1900-1920

Para ahli pendidikan sepakat bahwa tahun 1900 adalah saat dimulainya era ilmiah di bidang pendidikan. Periode tahun 1900 – 1920 adalah masa eksplorasi dan pengembangan alat pengukur yang diperluka oleh para peneliti .Alfred Binet ,pada tahun 1905 ,menerbitkan skala kecerdasan praktis yang dibutuhkan di negaranya pada saat itu.

Pada tahun 1920 telah didapat diperoleh tes-tes individu dan kelompok untuk mengukur kecerdasan verbal amupun non verbal penelitian manggunakan statistika mulai bermunculan yang mana studi statistika yang pertamakali dilakukan oleh Thorndake pada tahun 1901 tentang kemajuan anak-anak disekolah. Berkah penelitiannya maka norma-norma hsil belajar bagi semua tingkatan kelas dapat ditetapkan, serta kemajuan anak-anak berdasarkan norma-norma ini dapat dievaluasi.[7] 

  1. Periode perluasan 1920-1945

Jumlah alat pengukur bagi para peneliti bertambah pesat khususnya bagi para peneliti pendidikan diperguruan tinggi, penelitian pendidikan ditetapkan sebagai suatu bidang studi, sebagai mata kuliah wajib bagi para sarjana dibidang pendidikan. 

Dengan dikembangkannya prosedur dan tehnik penelitian, maka jumlah penelitianpun semakin banyak, eksperimentasi menjadi semkain popular sehingga berakibat kepada banyaknya jurnal-jurnal yang dirancang untuk menyebarkan hasil-hasil penelitian pendidikan sehingga usaha-usaha untuk mengenbangkan penelitianpun semakin meluas.

Periode penelitian secara kritis 1945 sampai sekarang

Pada sekitar tahun 1945 usaha-usaha dilakukan re-evaluasi penelitian pendidikan berdasarkan perbaikan-perbaikan yang diakibatkan oleh penelitian terhadap proses penelitian. 

Adanya penelitian kritis sangat memperkuat kedudukan penelitian dibidang pendidikan. Padahal pada ranah sebelumnya banyak study dibidang pendidikan sangat lemah ketika ditinjau dari segi desain dan metodologinya. Kini metode dan prosedur telah diperhalus dengan tujuan untuk memperoleh informasi yang lebih dipercaya. Prosedur statistika yang lebih sempurna telah memungkinkan pemecahan masalah pendidikan secara lebih realistis, optimisme terhadap penggunaan penelitian untuk memecahkan persoalan pendidikan telah tumbuh. Seiring dengan hal itu, optimisme diikuti oleh sebuah kekecewaan karena seringkali pengetahuan yang diperoleh tidak secara langsung dapat memecahkan masalah yang mendesak yang kini tampak menuju kearah pandangan yang seimbang terhadap penelitian pendidikan. 

Selain itu, penelitian dilihat sebagai suatu kegiatan untuk memperkaya pengetahuan yang dapat mengakibatkan terhadap prosedur dan lembaga pendidikan. Dilain pihak penelitan pendidikan diharapkan dapat memecahkan masalah-masalah pendidikan namun disadari bahwa penelitian terhadap pendidikan tidakah begitu dramatis seperti bidang kedokteran atau medis yang bersifat lebih bertahap[8].

C.    Ruang lingkup paradigma penelitian kependidikan

paradigma penelitian kependidikan – Hasrat keingintahuan yang melekat pada diri manusia bisa mengantarkan kepada persoalan-persoalan yang perlu dipecahkan, namun manusia makin berusaha untuk memecahkan persoalan itu makan semakin banyak pula persoalan yang belum bisa dipecahkan dan ini merupakan tantangan bagi peneliti. 

Begitu juga dalam dunia pendidikan, masih banyak sekali persoalan kependidikan yang belum bisa dipecahkan sehingga Tyler[9] mengingatkan bahwa factor-faktor yang terlibat dalam penelitian kependidikan dan merupakan peta ruang lingkup penelitian kependidikan yang  diantaranya adalah:

  1. Mata pelajaran
  2. Pelajar (kegiatan dan intelegensi mereka)
  3. Cara mengajar
  4. Guru
  5. Sekolah sebagai lembaga sosial
  6. Lingkungan keluarga (lingkungan rumah tangga)
  7. Lingkungan kawan sebayanya (Peer Group)
  8. Lingkungan masyarakat (Community)[10].

Kendati demikian, ruang lingkup masalah penelitian ini sangat komplek dan luas, namun usaha untuk mencari jawaban dari berbagai problematika pendidikan ini harus tetap digalakkan sehingga pembaharuan dan pengembangan pendidikan dapat dilaksanakan dengan tuntas. 

D.    Tujuan dan Fungsi paradigma penelitian kependidikan

paradigma penelitian kependidikan – Efektif dalam MBS. Contoh lainnya adalah penelitian yang menghasilkan suatu metode baru pembelajaran matematika yang menyenangkan siswa. 

Tujuan Verifikatif, penelitian dilaksanakan untuk menguji kebenaran dari sesuatu (ilmu pengetahuan) yang telah ada. Data penelitian yang diperoleh digunakan untuk membuktikan adanya keraguan terhadap infromasi atau ilmu pengetahuan tertentu. Misalnya, suatu penelitian dilakukan untuk membuktian adanya pengaruh kecerdasan emosional terhadap gaya kepemimpinan. Contoh lainnya adalah penelitian yang dilakukan untuk menguji efektivitas metode pembelajaran yang telah dikembangkan di luar negeri jika diterapkan di Indonesia.

Tujuan Pengembangan, penelitian dilaksanakan untuk mengembangkan sesuatu (ilmu pengetahuan) yang telah ada. Penelitian dilakukan untuk mengembangkan atau memperdalam ilmu pegetahuan yang telah ada. Misalnya penelitian tentang implementasi metode inquiry dalam pembelajaran IPS yang sebelumnya telah digunakan dalam pembelajaran IPA. 

Contoh lainnya adalah penelitian tentang sistem penjaminan mutu (Quality Assurannce) dalam organisasi/satuan pendidikan yang sebelumnya telah berhasil diterpakan dalam organisasi bisnis/perusahaan. Tujuan dalam penelitian memegang peranan yang sangat pentig, karena merupakan arah dan sasaran yang harus dicapai, oleh karena itu tujuan penelitian harus dirumuskan dengan jelas, tegas dan rinci dalam bentuk pernyataan-pernyataan (statement). 

Pauline V.Young, dalam bukunya Sciencetific Sosial Surveys and Reasearch mengemukakan bahwa tujuan umum penelitian adalah: 

  1. Discover new facts or verify and test old facts. (menemukan fakta-fakta baru atau memverifikasi dan menguji fakta-fakta lama)
  2. Analyze their sequences, interrelation ship, and causal explanations wich derived within an appropriate theoretical frame of references. (meneliti urutan mereka, hubungan, dan yang penjelasan yang menyebabkan telah diperoleh di dalam suatu kerangka acuan teoritis) 
  3. Develop new scientific tools, consept, and theories which would facilitate reliable and valid study of human behavior[11]. (mengembangkan perangkat ilmiah baru, consept, dan teori yang akan memudahkan untuk mempelajari tingkah laku manusia yang dapat dipercaya.) 

Sehingga berdasarkan pendapat diatas, maka dapat dikemukakan bahwa tujuan umum dari penelitian pendidikan adalah untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu pengetahuan, konsep, prinsip dan generalisasi tentang pendidikan. 

paradigma penelitian kependidikan – Menemukan berarti mencari sesuatu yang baru, sedangkan mengembangkan berarti memperluas dan menggali lebih jauh tentang apa yang ada, sedangkan menguji kebenaran dilakukan jika masih meragukan apa yang ada. Sedangkan fungsi penelitian pendidikan menurut Ine Amir Yousda dan zainal Arifin mengemukakan bahwa fungsi pendidikan mencakup dual yang diantaranya adalah:

  1. Fungsi pengembangan ilmu
  2. Fungsi pemecahan masalah-masalah praktis[12].

Dan Tyler mengemukakan bahwa penelitian pendidikan itu mempunyai lima fungsi yang diantaranya adalah:

  1. Menunjukkan isi dan cara mengajar serta mengorganisasikan dan menjalankan sekolah
  2. Menilai program, prosedur dan bahan-bahan untuk menunjukkan hasil pendidikan yang telah dicapai, biaya dalam ukuran waktu, usaha dan bahan-bahan, dan keadaan hasil-hasil yang dicapai
  3. Membentuk suatu badan informasi tentang usaha pendidikan yang bermanfaat dalam penyusunan kebijakan dan pengambilan keputusan
  4. Menyediakan pandangan, rangsangan dan penyuluhan yang berhasil untuk pembaharuan pendidikan
  5. Mengembangkan teori yang lebih memadai dan sahih (valid) tentang proses pendidikan serta pengoprasian usaha[13].
 E.     Pendekatan dalam paradigma penelitian kependidikan

Dalam penelitian sebagaimana kita kenal terdapat dua jenis pendekatan pokok yang diantaranya adalah pendekatan positivistic[14] dan pendekatan naturalistic[15]. Dan kedua pendekatan tersebut dapat   kita uraikan sebagai berikut: 

  1. Pendekatan positivistic

Teori ini memandang bahwa kenyataan (realitas) sebagai suatu yang berdimensi tunggal, fragmental dan cendrung bersifat tetap (Fixed), karena itu sebelum dilakukan penelitian perlu dilakukan penyusunan rancangan yang terinci dan tidak berubah-ubah selama penelitian berlangsung, peneliti dan objek yang diteliti terpisah satu sama yang lain, karena itu proses penelitian dilakukan dari “luar” melalui pengukuran-pengukuran dengan menggunakan bantuan cara atau alat-alat yang objektif dan baku.

Objek penelitian yang dikaji lepas dari konteks waktu dan situasi sehingga penelitian cendrung berlangsung dalam setting/lingkungan buatan (artifisial) seperti dalam keadaan laboraturium yang bersifat “antiseptic” dan hasil penelitian merupakan generalisasi dan prediksi berdasarkan hasil pengukuran-pengukuran dan kebenaran hasil yang diperoleh didukung oleh validitas cara atau alat yang digunakan. Penggunaan pengukran ini desertai dengan analisis secara statistic dan didalam penelitian mengimplikasikan bahwa penelitian ini menggunakan metode kuantitatif[16].

  1. Pendekatan naturalistic

Penelitian ini memandang bahwa keadaan sebagai sesuatu yang berdimensi jamak, utuh atau merupakan kesatuan dan berubah. Karena itu tidak mungkin disusun rancangan penelitian yang terinci dan tetap sebelumnya, rancangan penelitian berkembang selama penelitian ini sedang berlangsung. 

Peneliti dan objek yang diteliti saling berinteraksi dimana proses penelitian sedang dilakukan, dalam pelaksanaannya peneliti juga berfungsisebagai alat penelitian yang tentunya tidak bisa melepaskan diri sepenuhnya dari unsure subjectivitas, dengan kata lain dalam penelitian ini tadak ada alat yang baku yang telah disiapkan sebelumnya.

Hasil penelitian ini lebih merupakan deskriptif da interpretasi yang bersifat tentative dalam konteks waktu dan situasi tertentu, kebenaran dari hasil penelitian ini lebih banyak didukung melalui kepercayaan (trusworthiness) berdasarkan konfiramasi hasil oleh pihak-pihak yang diteliti. Sehingga dalam penelitian ini mengimplikasikan bahwa metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif[17].

F.     Metode paradigma penelitian kependidikan

paradigma penelitian kependidikan – Dalam penelitian umum termasuk juga penelitian pendidikan kita kenal dengan tiga jenis metode yang sering digunakan yang diantaranya adalah:

  1. Penelitian historis (Sejarah).

Metode historis ini dilakukan jika peneliti ingin menjawab persoalan-persoalan tentang peristiwa atau perkembangan yang terjadi dimasa lampau. Dan sumberdata yang digunakan dalam penelitian ini digolongkan kedalam dua kelompok besar yaitu sumber primer dan sumber skunder.

Yang dimaksud dengan sumber primer adalah sumber data yang berupa saksi “tangan pertama” maupun objek-objek nyata peninggalan masa lampau seperti candi, istana, senjata dsb. Sedangkan yang dimaksud dengan sumberskunder adalah sumberdata yang berupa informasi dari pihak-pihak  yang bukan merukan saksi “tangan pertama” yang dapat diperoleh dari bahan-bahan seperti dokumen tertulis, buku-buku dan lain sebagainya. 

Dan untuk menjamin kebenaran informasi yang ada, terutama yang terkandung dalam sumber skunder, perlu diadakan external criticsm[18] maupun internal criticsm[19].

  1. Penelitian Deskriptif

Penelitian ini dilakukan jika peneliti ingin menjawab persoalan-persoalan fenomena yang ada sekarang. Ini mencakup baik studi tentang fenomena sebagaimana adanya maupun pengkajian hubungan antara berbagai vareabel dalam fenomena yang diteliti, dan pola penelitian yang sering digunakan dalam penelitan deskripsi ini antara laian adalah:

  1. Survie
  2. Case study
  3. Causal comparative
  4. Correlational
  5. Developmental, dsb.
  6. Penelitian ekperimental

Penelitian dengan menggunakan metode ekperimental dilakukan jika peneliti ingin mengkaji sebab akibat dari suatu peristiwa. Dan pola yang biasa digunakan dalam ekperimen ini antara lain: a).One-group experiment, b).Control-goup experiment.

G.    Masalah-masalah paradigma penelitian kependidikan

paradigma penelitian kependidikan – Apabila terjadi kesenjangan Antara harapan (sesuatu yang diinginkan, yang bersifat dassolen) tentang sesuatu dengan kenyataan (dassein) Apabila cara-cara berpikir yang berbeda  enghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang berlawanan. Apabila terjadi peristiwa-peristiwa yang mengancam seperti epidemic, banjir, longsor, dekadensi moral, dsb. 

Adapun masalah-masalah pendidikan yang potensial dapat menjadi objek penelitian adalah:

  1. komponen raw input

(karakteristik pribadi peserta didik, siswa, mahasiswa, seperti: kecerdasan, motivasi belajar, kemampuan berkonsentrasi dalam belajar, kebiasaan belajar, dan sikap belajar).

  1. komponen instrumental input

(seperti karakteristik pribadi guru, kurikulum dan sumber belajar).

environmental input

(seperti iklim lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, kelompok teman sebaya, kehidupan beragama, fasilitas pembelajaran, dan kondisi kehidupan social-ekonomi-politik). 

komponen proses

(seperti kualitas interaksi guru-siswa, penerapan metode-metode pembelajaran, dan pemanfaatan teknologi pendidikan dalam pembelajaran).

dan komponen output

(seperti kualitas indek prestasi belajar, kualitas sikap dan prilaku dan keterampilan/kecakapan). Masalah penelitian dapat bersumber dari hasil bacaan literature (buku, majalah, makalah), hasil seminar, hasil penelitian orang lain (laporan penelitian, skripsi, tesis atau disertasi), dan hasil pengamatan di lapangan (di lingkungan keluarga, sekolahkelas, dan lingkungan masyarakat). 

Layak atau tidaknya masalah itu untuk diteliti, pada umumnya ditinjau dari criteria sebagai berikut:

  1. bermanfaat bagi peningkatan mutu pendidikan, khususnya proses dan hasil pembelajaran.
  2. mengandung nilai-nilai keilmuan atau pengetahuan ilmiah.
  3. tersedianya data atau informasi di lapangan.
  4. datanya mudah diukur, diolah dan ditafsirkan, dan
  5. peneliti memiliki kemampuan untuk menelitinya. 

 H.    Karakteristik Paradigma Penelitian Kependidikan

paradigma penelitian kependidikan itu jika ditinjau dari beberapa aspek dapat tergolong kedalam beberapa karakteristik yang diantaranya adalah: 

1. Penelitian merupakan Proses yang Sistematik

Hal ini dapat dilihat dari keteraturan, keruntunan dan keterkaitan antara komponen yang satu dengan yang lainnya. Keteraturan seperti dalam penemuan masalah, penyusunan rancangan penelitian, pengumpulan data, pengolahan data, dan penafsiran data. 

2. Penelitian Bersifat Logis

Dalam penelitian dituntut prosedur pembuatan kesimpulan yang cermat. Untuk itu diperlukan kemampuan logika yang memadai. 

3. Penelitian Bersifat Empirik

Penelitian harus didasarkan kepada data (fenomena atau peristiwa) empirik, yang dapat diamati (observeable). 

4. Penelitian Bersifat Reduktif

Untuk mengambil generalisasi, dalam penelitian perlu dilakukan reduksi ciri-ciri khusus dari fakta atau hal-hal yang bersifat individual menjadi yang bersifat umum. Reduksi diartikan juga sebagai proses menterjemahkan kenyataan ke dalam konsep.

5. Penelitian Bersifat Replikatif (dapat diulangi) dan Transmitable (dapat dialihkan)

Hasil penelitian, pada umumnya dicatat secara lengkap, baik masalah, prosedur, maupun hasilnya. Oleh karena itu, penelitian dapat dikaji ulang, baik oleh peneliti yang sama maupun oleh peneliti yang lain. 

6. Penelitian Bersifat Objetif

Maksudnya adalah bahwa peneliti harus berusaha menghilangkan pengaruh subjektif (prasangka, atau emosi pribadi) dalam mengambil kesimpulan atau generalisasi.

Demikian ulasan singkat seputar paradigma penelitian kependidikan yang dapat kita sampaikan, semoga bermanfaat.

situs: www.rangkumanmakalah.com

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian, suatu pendekatan praktek Revisi IV, Jakarta: reneka Cipta,1998.

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian, suatu pendekatan praktek Revisi VI, Jakarta: reneka Cipta,1998.

Bakker, Anton, Achmad Charris Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat, Yogyakarta:Penerbit Kanisius, 1990.

Moleong, Lexy J, Metodologi Penelitai kualitatif; Edisi Revisi, Bandung: PT Rosda Karya,2008.

Margono,S, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: Reneka Cipta,1997.

Rahman, Maman, Strategi dan langkah-langkah penelitian pendidikan, Semarang, IKIP semarang pers, 1993.

I Amirman, Ine dan Zainal Arifin, Penelitian dan statistic pendidikan, Bandung: Bumi Aksara, 1992.


[1]Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, suatu pendekatan praktek Revisi IV (Jakarta: reneka Cipta,1998).hlm.1.

[2]Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, suatu pendekatan praktek Revisi VI (Jakarta: reneka Cipta,1998).hlm.1.

[3]Anton Bakker, Achmad Charris Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat, (Yogyakarta:Penerbit Kanisius, 1990), hlm. 11

[4]Van Peusen, Sebagaimana dikutip oleh Anton Baker dan Achmad Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat.hlm.,12.

[5]Lexy J Moleong, Metodologi Penelitai kualitatif; Edisi Revisi (Bandung: PT Rosda Karya,2008).hlm.,49.

[6] S.Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan (Jakarta: Reneka Cipta,1997).hlm.,20.

[7]Ucapan thorndake “kalau sesuatu itu ada, maka ia ada dalam jumlah tertentu, oleh karena itu, ia dapat diukur” ungkapan ini menjadi perangsang bagi tumbuhnya gerakan pendidikan yang mulai naik bintangnya, para peneliti terdorong untuk menggunakan metode kuantitatif guna memperoleh data yang diperlukan tentang berbagai aspek pendidikan.

[8]Maman rahman, Strategi dan langkah-langkah penelitian pendidikan (Semarang, IKIP semarang pers, 1993) hal, 17

[9]Sebagaimana dikutib oleh Dali,S.Naga.Tyler,The Field of educational Reasearch.

[10] S.Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan (Jakarta: Reneka Cipta,1997).hlm.,15.

[11] Sebagaimana dikutib oleh Ine I Amirman dan Zainal Arifin, Penelitian dan statistic pendidikan (Bandung: Bumi Aksara, 1992).hlm.,15.

[12] Ibid.hlm.16

[13]S.Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan (Jakarta: Reneka Cipta,1997).hlm.,16-17.

[14]Adalah pendekatan didalam menjawab permasalahan yang memerlukan pengukuran yang cermat terhadap vareabel-vareabel tertentu dari objek yang diteliti, untuk menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang dapat digeneralisasikan, lepas dari konteks waktu dan situasi. Oleh karena itu jenis pendekatan ini sering digunakan dalam penelitian dibidang ilmu-ilmu kealaman dan sebagian dibidang ilmu-ilmu sosial, terutama dalam rangka pengembangan konsep teori.

[15]Adalah pendekatan yang banyak digunakan dalam menjawab permasalahan yang memerlukan pemahaman secara mendalam dan menyeluruh mengenai objek yang diteliti guna menghasilkan kesimpulan-kesimpulan tentang permasalahan tersebut dalam konteks waktu dan situasi yang bersangkutan, oleh karena itu pendekatan ini sering digunakan dalam penelitian-penelitian ilmu-ilmu sosial-budaya serta penelitian-penelitian terapan untuk memecahakan masalah-masalah praktis.

[16]Baca  Ine I Amirman dan Zainal Arifin, Penelitian dan statistic pendidikan (Bandung: Bumi Aksara, 1992).hlm.,18.

[17]Ibid.hlm.19.

[18]Dalam ekternal criticsm dikaji misalnya kapan dokumen itu dibuat, siapa pengarangnya, apakah dokumen tersebut merupakan naskah asli dan seterusnya.

[19]Dalam internal criticsm dikaji misalnya apa yang dimaksud oleh pengarang dalam pernyataan-pernyataannya, apakah penyataan tersebut cukup dipercaya, apakah terlihat konsisten antara pernyataan yangsau dengan pernyataan yang lain dan lain sebagainya.

Share This:

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *