Pengertian dan Konsep Kurikulum Dalam Pendidikan

pengertian dan konsep kurikulum dalam pendidikan di indonesiaPengertian dan Konsep Kurikulum Dalam Pendidikan, menarik untuk di bahas. Istilah kurikulum telah menjadi istilah lazim dunia pendidikan dalam bahasa Indonesia. Secara etimologis atau asal kata, istilah ini merupakan serapan dari bahasa Yunani. Yang awalnya digunakan untuk dalam dunia olah raga, berasal  dari  kata “curir“ artinya pelari . Sementara “curere“ artinya  ditempuh  atau  berpacu. Yaitu jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari.[1]  Konsep kurikulum sudah ada sejak zaman Yunani kuno, yakni kumpulan beberapa mata pelajaran yang harus disampaikan oleh guru dan dipelajari oleh siswa.

Mendasarkan pada makna yang terkandung dari beberapa uraian diatas, kurikulum sebagai  program pendidikan harus mencakup : (1) Sejumlah mata pelajaran atau organisasi pengetahuan; (2)  pengalaman  belajar  atau  kegiatan  belajar;  (3)  program  belajar (plan for  learning) untuk   siswa; (4)  hasil  belajar  yang  diharapkan.  Dari  rumusan  tersebut, kurikulum diartikan sebagai program  dan  pengalaman  belajar  serta  hasil-hasil  belajar  yang  diharapkan. Rumusan ini juga mengandaikan bahwa kurikulum diforrmulasikan melalui pengetahuan dan kegiatan yang tersusun secara sistematis yang diberikan kepada siswa di bawah tanggung jawab sekolah untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan pribadi dan kompetensi sosial siswa.[2]

Seiring dengan perubahan zaman, pengertian kurikulum berubah. Pandangan  lama,  atau  sering  juga  disebut  pandangan tradisional, merumuskan bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh  murid  untuk  memperoleh  ijazah.  Pengertian  tadi  mempunyai implikasi  sebagai  berikut:  (1)  kurikulum  terdiri  atas  sejumlah  mata pelajaran; (2) mata pelajaran adalah sejumlah informasi atau pengetahuan, sehingga  penyampaian  mata  pelajaran  pada  siswa  akan  membentuk mereka  menjadi manusia yang mempunyai kecerdasan berpikir; (3) mata pelajaran  menggambarkan  kebudayaan  masa  lampau; (4)  tujuan mempelajari  mata  pelajaran  adalah  untuk  memperoleh  ijazah; (5)  adanya aspek keharusan  bagi setiap siswa untuk mempelajari mata pelajaran  yang sama;  (6)  sistem  penyampaian  yang  digunakan  oleh  guru  adalah  sistem penuangan (imposisi).[3] Intinya, ruang lingkup kurikulum adalah berkisar pada rencana pembelajaran.

Berdasarkan definisi para ahli, berikut adalah beberapa definisi kurikulum yang mencerminkan perkembangan dari zaman ke zamanper definisi kurikulum.[4]

pengertian dan konsep kurikulum dalam pendidikan menurut para ahli

TAHUN PENGGAGAS DEFINISI KURIKULUM
1902 John Dewey

 

Curriculum is a continuous reconstruction, moving from the child’s present

experience out into that represented by the organized bodies of truth that

we call studies . . . the various studies . . . are themselves experience—

they are that of the race. (pp. 11–12)

1918 Franklin Bobbitt Curriculum is the entire range of experiences, both directed and

undirected, concerned in unfolding the abilities of the individual. (p. 43)

1927 Harold O. Rugg [The curriculum is] a succession of experiences and enterprises having a

maximum lifelikeness for the learner . . . giving the learner that

development most helpful in meeting and controlling life situations. (p. 8)

1935 Hollis Caswell in

Caswell & Campbell

 

The curriculum is composed of all the experiences children have under the

guidance of teachers. . . . Thus, curriculum considered as a field of study

represents no strictly limited body of content, but rather a process or

procedure. (pp. 66, 70)

1957 Ralph Tyler [The curriculum is] all the learning experiences planned and directed by

the school to attain its educational goals. (p. 79)

1967 Robert Gagne Curriculum is a sequence of content units arranged in such a way that the

learning of each unit may be accomplished as a single act, provided the

capabilities described by specified prior units (in the sequence) have

already been mastered by the learner. (p. 23)

1970 James Popham &

Eva Baker

[Curriculum is] all planned learning outcomes for which the school is

responsible. . . . Curriculum refers to the desired consequences of

instruction. (p. 48)

1974 Ronald C. Doll the commonly accepted definition of the curriculum has changed from content of courses of study and list of subjects and courses to all the experiences which are offered to learners under the auspices or direction of the school.

 

1976 George A. Beauchamp [Curriculum is] a set of related statements that gives meaning to a school’s curriculum by pointing up the relationship among its elements and by directing its developments, its use, and its evalution
1976 Zais [Curriculum includes] (1) the range of subject matters with which it is concerned (the substantive structure) (2) the procedures of inquiry and practice that is follows (the syntactical structure).
1997 J. L. McBrien &

R. Brandt

 

[Curriculum] refers to a written plan outlining what students will be

taught (a course of study). Curriculum may refer to all the courses offered

at a given school, or all the courses offered at a school in a particular

area of study.

2003 Nasution [kurikulum adalah] yang direncanakan sebagai pegangan guna mencapai tujuan pendidikan, apa yang direncanakan biasanya bersifat idea, suatu cita-cita tentang manusia atau warga negara yang akan dibentuk. Kurikulum ini lazim mengandung harapan-harapan yang sering berbunyi muluk-muluk.
2010 Indiana Department

of Education

 

Curriculum means the planned interaction of pupils with instructional

content, materials, resources, and processes for evaluating the attainment

of educational objectives. (n.p.)

 

pengertian dan Konsep Kurikulum Dalam Pendidikan

pengertian dan konsep kurikulum Dalam pandangan John Dewey, kurikulum merupakan rekonstruksi yang berkelanjutan. Dimulai dari pengalaman yang dimiliki murid kemudian direpresentasikan dalam pelajaran. Berdasar wawasan Dewey, bisa ditarik kesimpulan bahwa rujukan utama penyusunan kurikulum adalah berakar dari pengalaman masing-masing siswa. Pendapat John Dewey ini juga diamini oleh beberapa pakar hingga tahun 1957. Hampir semua pakar kurikulum sepakat bahwa sumber kurikulum adalah pada pengalaman siswa.

Pandangan baru mengenai kurikulum terliat dari pendapat Ronald C. Doll (1974) yang menyatakan bahwa ruang lingkup kurikulum semakin luas. Termasuk dalam hal isi dan proses kurikulum yang semakin melebar, pemaknaan tentang pengalaman siswa juga ikut melebar, yaitu mencakup pengalaman di sekolah, di rumah, atauapun di masyarakat. [5]

Berbeda dan lebih jauh daru ahlu di atas, Zais memberikan pandanganya tentang ruang lingkup kurikulum. Bahwa kurikulum mencakup dua hal. Yaitu materi pembelajaran dan prosedur dalam proses pembelajaran. Sehingga kurikulum sudah dianggap memiliki kedudukan sentral dalam proses pembelajaran.

Konsep kurikulum dalam arti luas atau modern tidak hanya mencakup tentang rencana pembelajaran saja. Akan tetapi juga mencakup tentang segala sesuatu yang nyata yang terjadi dalam proses pendidikan di sekolah, baik di dalam ataupun di luar kelas. Maka kurikulum bisa diartikan juga sebagai entitas pendidikan yang mengatur tentang kegiatan intrakulikuler dan ekstrakulikuler.[6]

Pengertian-pengertian dan gagasan-gagasan baru tentang kurikulum akan selalu muncul seiring perkembangan zaman. Teori-teori baru akan muncul karena manusia pemikir pendidikan memang tidak akan pernah merasa puas pada satu hakikat saja.Para ahli-ahli baru dalam bidang pendidikan akan muncul dan membawa serta teor-teori baru pendidikan.

Secara konseptual urikulum secara garis besar mempunyai tiga ranah, yaitu:kurikulum sebagai substansi, kurikulum sebagai sistem, dan kurikulum sebagai bidang studi.[7]

Pertama, kurikulum sebagai substansi, yaitu kurikulum dipandang sebagai rencana pendidikan di sekolah atau sebagai suatu perangkat tujuan yang ingin dicapai. Suatu kurikulum digambarkan sebagai dokumen tertulis yang berisi rumusan tentang tujuan, bahan ajar, kegiatan belajar-mengajar, jadwal, dan evaluasi yang telah disepakati dan di setujui bersama oleh para penyusun kurikulum dan pemangku kebijaksanaan dengan masyarakat.

Kedua, kurikulum sebagai sistem, yaitu sistem kurikulum merupakan bagian dari sistem sekolah, sistem pendidikan, dan sistem masyarakat. Hasil dari sistem kurikulum adalah tersusunnya suatu kurikulum. Kurikulum sebagai sistem mempunyai fungsi bagaiamana cara memelihara kurikulum agar tetap berjalan dinamis.

Ketiga, kurikulum sebagai suatu bidang studi, kurikulum disisni berfungsi sebagai suatu disiplin yang dikaji di lembaga pendidikan seperti perguruan tinggi. Tujuan kurikulum sebagai suatu bidang studi adalah untuk mengembangkan ilmu kurikulum dan sistem kurikulum. Mereka yang mendalami bidang kurikulum mempelajari tentang konsep dasar kurikulum, mereka juga melakukan kegiatan penelitian dan percobaan guna menemukan hal-hal baru yang dapat memperkuat dan memperkaya bidang studi kurikulum.

itulah sedikit informasi tentang Pengertian dan Konsep Kurikulum Dalam Pendidikan yang dapat www.rangkumanmakalah.com sampaikan, semoga bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

[1]Lias Hasibuan, Kurikulum dan Pemikiran Pendidikan (Jakarta: Gaung Persada, 2010), 2.

[2]I Made Kartikasari Pengertian Peranan dan Fungsi Kurikulum, 1.

[3] Juliper Simanjuntak, Pengertian Peranan dan Fungsi Kurikulum, 4.

[4]——————– Foundations of Curriculum, 3-4.

[5]Sukmadinata, Pengembangan, 4.

[6]Choirul Anam, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam (Sidoarjo: Qisthoh Digital Press, 2009), 2.

[7]Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP – UPI, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, Bagian I (Jakarta: PT Imperial Bhakti Utama, 2007), 94

Share This:

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *