INILAH TEORI RASIONALISME YANG JARANG DISENTUH

rasionalisme

rasionalisme

A.      Pengertian Rasionalisme

Rasionalisme adalah aliran filsafat ilmu yang berpandangan bahwa otoritas rasio (akal) adalah sumber dari segala pengetahuan.[1] Dengan demikian, kriteria kebenaran berbasis pada intelektualitas. Jadi strategi pengembangan ilmu menurut paham rasionalisme adalah mengekplorasi gagasan-gagasan dengan menggunakan kemampuan intelektual manusia.

Rasionalisme adalah faham atau aliran yang berdasar rasio, ide-ide yang masuk akal. Selain itu, tidak ada sumber kebenaran yang hakiki. Zaman rasionalisme berlangsung dari pertengahan abad ke-XVII sampai akhir abad ke-XVIII. Pada zaman ini yang khas bagi ilmu pengetahuan adalah penggunaan yang eksklusif daya akal budi (ratio) untuk menemukan kebenaran.[2]

Rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting dalam memperoleh pengetahuan dan mengetes pengatahuan.[3] Jika empiris mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dengan alam mengalami objek empiris, maka rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara berfikir. Alat dalam berpikir itu ialah kaidah-kaidah logis atau kaidah-kaidah logika.

Dengan demikian, rasionalisme memerupakan suatu aliran epistimologi yang menjadikan akal (rasio) sebagai sumber dari segala pengetahuan. Menurut aliran ini,  suatu pengetahuan diperoleh dengan cara berfikir. Selain menjadi sumber pengetahuan, akal juga digunakan untuk mengetes pengetahuan. Dalam hal ini akal akan menyeleksi apa sesuatu bias dikatakan suatu pengetahuan atau tidak. 

Dengan kekuasaan akal tersebut, orang berharap akan lahir suatu dunia baru yang lebih sempurna, dipimpin dan dikendalikan oleh akal sehat manusia.

B.       Ajaran-ajaran Rasionalisme

Dalam pembahasan mengenai teori pengetahuan, Rasionalisme menempati posisi yang penting dalam teori pengetahuan. Biasanya paham ini dikaitkan dengan kaum rasionalis abad ke-17 dan ke-18. Wakil – wakil terkemuka kaum itu ialah Descartes, Leibiniz, Spinoza danWollff. 

Paham ini beranggapan, ada prinsip – prinsip dasar dunia tertentu, yang diakui benar oleh budi manusia. Dari prinsip-prinsip ini diperoleh pengetahuan deduksi yang ketat tentang dunia. Prinsip-prinsip pertama ini bersumber dalam budi manusia dan tidak dijabarkan dari pengalaman.

Aliran ini menekankan bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mengetahui dengan pasti tentang berbagai perkara sejak lahir (fitrah). Aliran rasionalisme juga meyakini bahwa akal sebagai sumber kebenaran satu-satunya. Para penganut rasionalis meyakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak dalam ide kita. Jika kebenaran mengandung makna adanya kesesuaian antara ide dengan kenyataan, maka kebenaran baru dikatakan benar jika ada didalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh melalui akal.[4] 

Sebagai lawan empirisme, rasionalisme berpendapat bahwa sebagian dan  bagian penting pengetahuan datang dari penemuan akal. Contoh yang paling jelas ialah pemahaman kita tentang logika dan matematika. 

Penemuan-penemuan logika dan matematika begitu pasti. Kita tidak hanya melihatnya sebagai benar, tetapi lebih dari itu kita melihatnya sebagai kebenaran yang tidak mungkin salah, kebenarannya universal.[5] 

Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indera dalam memperoleh pengetahuan. Pengalaman indera digunakan untuk merangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja. Akan tetapi, akal juga dapat menghasilkan pengetahuan yang tidak didasarkan bahan indera sama sekali.jadi akal dapat juga menghasilkan pengetahuan tentang obyek yang betul-betul abstrak.[6] 

C.      Tokoh-tokoh Rasionalisme

  1. Rene Descartes (1596-1650)

Menurut catatan, Descrates adalah orang Inggris. Ayahnya anggota parlemen Inggris. Pada tahun 1612 M Descrates pergi ke Prancis. Ia taat mengerjakan ibadah menurut ajaran agama Katholik, tetapi ia juga menganut Galileo yang pada waktu itu masih ditentang oleh tokoh-tokoh Gereja. Dari tahun 1629 M sampai tahun 1649 M ia menetap di Belanda.[7]

Untuk menentukan basis yang kuat bagi filsafat, ia meragukan (lebih dahulu) segala sesuatu yang dapat diragukan. Mula-mula ia mencoba meragukan semua yang dapat diindera, objek yang sebenarnya tidak mungkin diragukan. Oleh karena itu, Descartes berkata, “Aku yang sedang ragu itu disebabkan oleh aku berfikir. Kalau begitu aku berfikir pasti ada dan benar.”[8]

Inti  dari filsafat Descartes secara sederhana bisa dikemukakan sebagai imbauan untuk mencari kebenaran yang menghadirkan kenyataan yang tak tergoyahkan,yang benar-benar tak bias di ragukan lagi. 

Descartes mengajak kita untuk mencari kenyataan yang terang dan jelas pada akal budi,yang tak teragukan lagi. Carany[9]a: 

a)        Tidak menerima sesuatu sebagai benar,kecuali terbukti benar

b)        Untuk membuktikan kebenaran suatu hal,kita harus:

  • Menghindari kesimpulan yang tergesa-gesa
  • Menghindari dugaan terhadap suatu hal

c)        Kenyataan terbukti benar adalah “apa yang dating secara terang dan jelas pada akal budi”, sesuatu yang tak mungkin lagi dapat kita ragukan. 

 B. De Spinoza (1632-1677)

Nama aslinya Baruch Spinoza. Setelah ia mengucilkan diri dari agama Yahudi ia mengubah namanya menjadi Benedictus De Spinoza. Ia hidup dipinggiran kota Amsterdam. (Solomon, 1981: 71)

Spinoza berhasil menyusun sebuah sistem filsafat yang menyerupai ilmu ukur. Seperti halnya orang-orang Yunani, Spinoza mengatakan dalil-dalil ilmu merupakan kebenaran-kebenaran yang tidak perlu dibuktikan lagi. Artinya jika seseorang memahami makna yang dikandung oleh kata-kata yang dipergunakan dalam dalil-dalil ilmu ukur, maka ia akan memahami kebenaran dalil-dalil tersebut. Misalnya, ia kn yakin jika kita memahami makna yang dikandung oleh pernyataan “sebuah garis lurus merupakan jarak terdekat diantara dua titik”, maka kita dapat mengakui kebenaran pernyataan tersebut.[10]

Secara umum, Spinoza menggunakan metode Cartesian dan berusaha membuat hipotesis mengenai kehidupan ini bahwa ada dan hanya satu subtansi dengan banyak sifat yang tak terbatas jumlahnya. Dalam konteks ini manusia dan Tuhan adalah satu substansi meski berbeda.[11]

 G. W. Leibniz (1646-1716)

Dia filosof Jerman matimatikawan, fisikawan, dan sejarahwan. Dia dikenal sebagai penemu kalkulus bersama Newton. Ia adalah seorang sarjana ensiklopedis yang menguasai seluruh lapangan pengetahuan yang dikenal waktu itu.[12] 

Pusat metafisikanya adalah idea tentang substansi yang dikembangkan dalam konsep monad. Metafisika Leibniz sama memusatkan perhatian pada substansi. Bagi spinoza alam semesta ini mekanistis dan keseluruhannya bergantung pada sebab. Sementara substansi Leibniz adalah hidup, dan setiap sesuatu terjadi untuk suatu tujuan. Penuntun prinsip filsafatnya adalah prinsip akal yang mencukupi yang secara sederhana dapat dirumuskan “sesuatu harus mempunyai alasan”. Bahkan Tuhan juga harus mempunyai alasan untuk setiap yang diciptakan-Nya.[13]

Situs: www.rangkumanmakalah.com

DAFTAR PUSTAKA

Kattsouff, Louis O. 1996. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana

Maksum, Ali. 2011. Pengantar Filsafat: Dari Masa Klasik Hingga Postmodernisme. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media

Q-Anees, Bambang. 2003. Filsafat untuk Umum. Jakarta: Prenada Media

Syadali, Ahmad. 1997. Filsafat Umum. Bandung: CV Pustaka Setia

Tafsir, Ahmad. 2007.  Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Warsito, Loeskisno Choiril dkk. 2012. Pengantar Filsafat. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press

 


[1] Louis O. Kattsouff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1996), hal. 135-136

[2] Ali Maksum, Pengantar Filsafat: Dari Masa Klasik Hingga Postmodernisme (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hal. 358

[3] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), hal. 127

[4] Loeskisno Choiril Warsito dkk, Pengantar Filsafat (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, 2012), hal. 110

[5]Ibid,. hal. 127

[6]Ali Maksum, Pengantar Filsafat: Dari Masa Klasik Hingga Postmodernisme (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hal. 359

[7] Ahmad Syadali, Filsafat Umum (Bandung: CV Pustaka Setia, 1997), hal. 106

[8] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), hal. 128

[9] Bambang Q-Anees, Filsafat untuk Umum (Jakarta: Prenada Media, 2003), hal. 322

[10] Bambang Q-Anees, Filsafat untuk Umum (Jakarta: Prenada Media, 2003), hal. 328

[11] Ali Maksum, Pengantar Filsafat: Dari Masa Klasik Hingga Postmodernisme (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hal. 130

[12] Ibid,. hal. 131

[13] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), hal. 138-139

Share This:

Comments
  1. baju muslimah modern
  2. tati
  3. ain

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *