Sistem Pendidikan Informal di Indonesia

sistem pendidikan informal di indonesiaMenurut Undang Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab 1 Pasal 13, Sistem Pendidkan Informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Pelaksanaan pendidikan berlangsung tidak dengan cara-cara artificial, melainkan secara alamiah atau berlangsung secara wajar, oleh sebab itu pendidikan dalam keluarga disebut pendidikan informal.

Bentuk dalam sistem pendidikan informal adalah keluarga.

Bentuk keluarga berdasarkan keanggotaannya, menurut Kamanto Sunarto dibedakan menjadi keluarga batih (nuclear family) dan keluarga luas (extended family). Keluarga batih adalah keluarga terkecil yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Sedangkan keluarga luas adalah keluarga yang terdiri atas beberapa keluarga batih.  Sebagai contoh, terpadat suatu sekolah alam yang bersifat tidak formal. Pendidikan ini berciri khas karena menggunakan konsep alam. Tempat belajarnya pun bukan di kelas ruangan melainkan di alam yang terbuka dan pelajarannya pun tidak teks book melainkan sebuah ketrampilan-ketrampilan yang dibekali dari tentor yang sudah mahir dengan alam. Selain ketrampilan yang diajarkan juga tedapat pendidikan yang bersifat etika dan tata krama guna memndidik para siswa agar dapat bersopan santun terhadap masyarakat disekelilingnya. Kemudian, pendidikan informal yang lainnya terkadang tidak kita sadari, tapi sebenarnya pendidikan informal kita dapatkan setiap saat. Misalkan pendidikan keluarga, tentunya kita semua punya keluarga dan disetiap keluarga pasti kita pernah dapat suatu nasehat dari orang tua kita atau dari sanak keluarga kita yang lain.

Tujuan sistem pendidikan informal di indonesia

Dalam hal ini Sekalipun tidak ada tujuan pendidikan dalam keluarga yang dirumuskan secara tersurat, tetapi secara tersirat dipahami bahwa tujuan pendidikan dalam keluarga pada umumnya adalah agar anak menjadi pribadi yang mantap, beragama, bermoral, dan menjadi anggota masyarakat yang baik. Fungsi pendidikan dalam keluarga menurut Wahyudin adalah (a) sebagai peletak dasar pendidikan anak, dan (b) sebagai persiapan ke arah kehidupan anak dalam masyarakatnya.

Karakteristik pendidikan informal di indonesia

terkait dengan karakteristik pendidikan formal di indonesia yaitu :
(a) tujuan pendidikan lebih menekankan pada pengembangan karakter; (b) peserta didiknya bersifat heterogen; (c) isi pendidikan tidak terprogram secara formal; (d) tidak berjenjang; (e) waktu pendidikan tidak terjadwal ketat, relatif lama; (f) cara pelaksanaan pendidikan bersifat wajar (g) evaluasi pendidikan tidak sistematis dan incidental; (h) credential tidak ada dan tidak penting. Menurut pemakalah Sebenarnya, pendidikan informal itu lebih menekankan kepada proses yang jauh lebih bermakna dibandingkan dengan pendidikan formal ataupun non formal. Hasil dari pendidikan informal juga bisa dijadikan sebagai bahan belajar yang baik dalam pendidikan formal maupun masih dalam lingkup pendidikan formal. Karena dari masyarakatlah kita dapat mengenal adat istiadat serta gotong royong.

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa pendidikan informal itu penting. Karena bukan hanya disekolah saja kita dapat belajar, tetapi di lingkungan keluarga dan masyarakat juga kita dapat belajar dan dapat mengambil berbagai pelajaran yang berharga. Pendidikan pertama kali yang kita dapatkan di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Seorang anak yang disayangi akan menyayangi keluarganya ,sehingga anak akan merasakan bahwa anak dibutuhkan dalam keluarga. Sebab merasa keluarga sebagai sumber kekuatan yang membangunya.Dengan demikian akan timbul suatu situasi yang saling membantu,saling menghargai,yang sangat mendukung perkembangan anak.

Dalam hal ini maka dapat di lihat bahwa yang namanya pendidikan informal adalah seperti bumbu dalam pendidikan formal yang mana menjadi pelengkap dari kemajuan sebuah pendidikan itu sendiri. Seyogyanya antara pendidikan formal dan juga informal bekerjasama dalam pembinaan peserta didik agar dapat menumbuh kembangkan sumber daya manusia yang berpotensi akademik dan juga berakhlak mulia yang mana sudah tercantumkan dalam tujuan system pendidikan nasional.

Share This:

Comments
  1. Pengayaan
    • admin _brow

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *