Teknologi dalam Pendidikan Islam, Lengkap!

Teknologi dalam Pendidikan Islam

Teknologi dalam Pendidikan Islam

Pengertian Pendidikan Islam

Teknologi dalam Pendidikan Islam – Ada tiga istilah dalam bahasa Arab yang mempunyai arti pendidikan. Istilah-istilah yang dimaksud ialah tairbiyat, ta’lim dan ta’dib.[1] ‘Abd al-fatah Jalal berpendapat bahwa istilah ta’lim untuk makna pendidikan lebih tepat, karena istilah itu lebih luas dari pada yang lain.[2] Syed Muhammad al-Naqaib al-Attas memilih istilah ta’dib untuk arti pendidikan, karena istilah itu menunjukkan pendidikan bagi manusia saja, sedang tarbiyat untuk makhluk lain juga.[3] Akan tetapi, Abd al-Rahman al-Nahlawi tetap menyatakan bahwa istilah yang paling tepat untuk pendidikan adalah tarbiyat.[4] 

Istilah ta’lim berarti pengajaran, seperti dalam QS. al-Baqaarat (2) : 31, istilah ta’dib berarti pendidikan yang mempunyai arti khusus, yaitu sasaran-Nya hanyalah pada hati dan tingkah laku atau akhlak, sedang tarbiyat mempunyai arti pendidikan yang lebih luas dari pada ta’lim dan ta’dib, seperti dalam QS. al-Isra’ (17) : 24.[5] Al-Nahlawi mengatakan bahwa kata tarbiya-yarda dengan wazan (pola atau timbangan) khafiya-yakhfa, berarti menjadi besar. Ketiga, rabba-yarubbu dengan wazan madda-yamuddu yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga, dan memelihara.[6] Al-Raghib al-Asfahani mengatakan bahwa, makna asal al-rabb adalah al-tarbiyat yang berarti memelihara sesuatu sedikit demi sedikit hingga sempurna.

Berdasarkan ketiga kata yang menjadi asal kata tarbiyat di atas, maka ‘Abd al-rahman al-Bani membuat kesimpulan bahwa tarbiyat terdiri atas empat unsur.Pertama, menjaga dan memelihara fitrah anak menjelang dewasa (baligh). Kedua, mengembangkan seluruh potensi. Ketiga, mengarahkan seluruh fithrah dan potensi menuju kesempurnaan. Keempat, dilaksanakan secara bertahap. Melihat kesimpulan al-bani tersebut, maka al-Nahlawi dapat memahami tarbiyat sebagai berikut : pertama, pendidikan adalah proses yang mempunyai tujuan, sasaran, dan obyek. Kedua pendidik yang sebenarnya adalah Allah swt. Ketiga, pendidikan seharusnya dilakukan secara bertahap sesuai dengan urutan yang sitematis. Keempat, proses pendidikan harus mengikuti aturan penciptaan yang dilakukan oleh allah yang mengikuti syara’ dan din-Nya.[7] 

Kata tarbiyat, sebagaimana kata al-Asfihani, mempunyai dasar dalam al-Qur’an, karena kata tersebut menjadi asal makna kata al-rabb. Pembahasan masalah kata al-rabb yang mempunyai makna tarbiyat ini dapat dipahami dari QS. al-‘alaq (96) : 1-5 dan al-Fatihah (1) : 2. kata rabb dalam kedua surat tersebut, surat al-‘Alaq dan surat al-Fatihah sebenarnya berasal dari akar tarbiyat yang berarti pendidikan. Kata rabb terdiri dari ra dan ba yang mempunyai arti macam-macam antara lain berarti memperbaiki dan memelihara. Pada hakikatnya kata-kata yang bersumber dari akar kata tersebut akhirnya mengacu pada arti pengembangan, perbaikan, dan kelebihan.

Kata rabb apabila berdiri sendiri artinya adalah Tuhan,. Hal ini demikian karena pada hakikatnya Allah melakukan pendidikan terhadap seluruh makhluknya. Pendidikan Tuhan tersebut berupa pengembangan, peningkatan, pemeliharaan, perbaikan dan sebagainya. Oleh sebab itu, pendidikan Islam adalah pendidikan yang bersifat rabbaniy, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran (4) : 79. yang dimaksud dengan rabbaniy dalam ayat tersebut ialah orang yang sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah yang mempunyai ciri antara lain mengajarkan kitab Allah, baik yang tertulis dalam Al-qur’an maupun yang tidak tertulis yang berada di alam raya ini dan terus menerus mempelajarinya.[8] 

Teknologi dalam Pendidikan Islam – Muhammad Athiat al-Abrasy, seorang ahli pendidikan menjelaskan bahwa istilah al-tarbiyat lebih tepat untuk arti pendidikan. Menurutnya, al-tarbiyat mempersiapkan seseorang dengan segala sarana yang bermacam–macam agar ia dapat hidup dan bermanfaat dalam masyarakatnya. Karena itu, al-tarbiyat mencakup berbagai macam pendidikan yaitu; wathaniyat, jasmaniyat, khuluqiyat, aqliyat, ijtima’iyat, ijmaliyat, dan wajdaniyat. Melalui al-tarbiyat dikembangkan potensi seseorang untuk mencapai tujuan yaitu “kesempurnaan”. Istilah al-ta’li lebih berfokus pada kegiatan penyampaian pengetahuan (transfer of knowledge) dan pemikiran-pemikiran saja. Pendapat yang senada dengan uraian Muhammad ‘Athiyat al-Abrasyi di atas ialah pendapat Shalih “abd al-‘Aziz. Menurutnya, al-tarbiyat mempersiapkan dan mengarahkan potensi seseorang agar dapat tumbuh dan berkembang. Al –tarbiyat mempunyai pengertian umum yang meliputi aspek pendidikan jasmaniyat. Khuluqiyat, dan ijtima’’iyat. Sementara, al-ta’lim dimaksudkan hanya memindahkan ilmu dari seorang guru kepada muridnya. Berdasarkan pertimbangan dan uraian di atas, maka penulis tetap memilih istilah al-tarbiyat untuk menunjukkan pengertian pendidikan.

Secara terminologis pendidikan Islam (al-tarbiyat al-islamiyat) didefinisikan oleh para ahli pendidikan Islam dengan formulasi redaksi yang berbeda-beda sebagai berikut : Zakiah Daradjat menyatakan bahwa, pendidikan Islam ialah pembentukan kepribadian muslim. Ahmad D. Marimba membuat definisi pendidikan Islam dengan suatu bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama atau kepribadian muslim. Sedangkan Muhammad Athiyat al-Abrasyi berpendapat bahwa, pendidikan Islam ialah mempersiapkan individu agar ia dapat hidup dengan kehidupan yang sempurna. Masih banyak lagi batasan-batasan yang diberikan oleh para ahli tentang pendidikan Islam, namun dalam tulisan ini dicukupkan hanya tiga saja.[9] 

Tiga definisi di atas meskipun secara redaksional berbeda, namun dari sisi isi yang dikandungnya relatif sama. Zakiah Daradjat dan Ahmad D. Marimba menyebutkan tujuan pendidikan Islam adalah pembentukan kepribadian muslim, sedangkan Muhammad ‘Athiyat al-Abrasyi mengatakan bahwa, pendidikan Islam itu suatu untuk mempersiapkan seseorang untuk dapat hidup yang sempurna. Menurut penulis, kehidupan yang sempurna, sebagai yang disebut al-Abrasyi itu akan muncul dari kepribadian yang sempurna atau kepribadian muslim. Dengan demikian, tiga definisi tersebut mempunyai makna yang sama. Pendidikan Islam, sebagai yang telah didefinisikan di atas, pada intinya adalah suatu proses bimbingan yang dilakukan oleh seseorang dengan penuh kesadaran terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik dalam rangka pembentukan kepribadian muslim. Pendidikan Islam berlangsung terus menerus sejak manusia itu lahir sampai meninggal dunia. Selain itu, pendidikan Islam diarahkan agar seseorang itu menjadi manusia yang bermanfaat baik pada dirinya sendiri maupun bagi umatnya. Serta dapat memperoleh kehidupan yang sempurna. 

Jenis-jenis Pendidikan Islam : informal, Non formal, dan Formal, tinjauan Teknologi dalam Pendidikan Islam

Teknologi dalam Pendidikan Islam – Adapun jenis-jenis Pendidikan islam baik Formal, Nonformal dan Informal. Pertama, Pendidikan formal adalah pendidikan yang biasa diselenggarakan dan dilaksanakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Untuk jalur pendidikan ini memiliki jenjang pendidikan yang sangat jelas, yang dimulai dari pendidikan tingkat dasar, pendidikan tingkat menengah, hingga pendidikan tinggi. Adapun definisi pendidikan formal : pendidikan formal adalah kegiatan yang sifatnya sistematis, juga berstruktur, bertingkat atau berjenjang yang dimulai dari pendidikan sekolah dasar sampai hingga perguruan tinggi atau yang setingkat dengan itu.[10] 

Kedua, Pendidikan nonformal. Umumnya pendidikan nonformal paling banyak pada saat usia dini, kemudian pendidikan dasar seperti misalnya TPA, atau Taman Pendidikan Al-Quran yang banyak dijumpai di masjid-masjid untuk yang beragama Islam dan Sekolah Minggu di gereja untuk yang beragama kristen atau katolik. Disamping hal tersebut di atas juga ada berbagai kursus seperti kursus musik, ada juga bimbingan belajar dll. Juga Program-program PNF atau Keaksaraan fungsional (KF), Pendidikan Kesetaraan (paket A, B, C) , Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Magang dan lain-lain. Sedangkan, definisi pendidikan non formal : adalah semua kegiatan yang telah terorganisasi dan sistematis dan kegiatan ini ada di luar sistem dari pendidikan sekolahan yang mapan, dikerjakan secara mandiri dan merupakan bagian yang amat penting dari kegiatan yang agak lebih luas, kegiatan ini sengaja dilakukan untuk melayani para peserta didik tertentu untuk mencapai tujuan belajarnya.[11] Ketiga, Pendidikan informal. Kalau pendidikan informal adalah suatu jalur pendidikan keluarga atau lingkungan yang berupa kegiatan belajar yang dilakukan secara mandiri dan dikerjakan secara sadar dan bertanggung jawab. Definisi pendidikan informal : adalah suatu proses pendidikan yang berlangsung sepanjang usia seseorang sehingga tiap orang akan memperoleh nilai, memiliki sikap, ketrampilan serta pengetahuan yang sumbernya berasal dari pengalaman hidup yang di alami sehari-hari, yang di peroleh dari pengaruh lingkungan yang termasuk disini adalah pengaruh dalam kehidupan keluarga, hubungan antar tetanga, hubungan dengan lingkungan pekerjaan, temen, lingkungan pasar, perpustakaan, serta media masa.[12] 

Landasan Filosofis Pendidikan Islam

Teknologi dalam Pendidikan Islam – Kendati dalam peta pemikiran Islam, upaya menghubungkan Islam dengan pendidikan masih diwarnai banyak perdebatan, namun yang pasti relasi Islam dengan pendidikan bagaikan dua sisi mata uang, mereka sejak awal mempunyai hubungan filosofis yang sangat mendasar, baik secara ontologis, epistimologis maupun aksiologis.[13] Yang dimaksud dengan pendidikan Islam disini adalah : pertama, ia merupakan suatu upaya atau proses yang dilakukan secara sadar dan terencana membantu peserta didik melalui pembinaan, asuhan, bimbingan dan pengembangan potensi mereka secara optimal, agar nantinya dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran islam sebagai keyakinan dan pandangan hidupnya demi keselamatan di dunia dan akherat. Kedua, merupakan usaha yang sistimatis, pragmatis dan metodologis dalam membimbing anak didik atau setiap individu dalam memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam secara utuh, demi terbentuknya kepribadian yang utama menurut ukuran Islam. Dan ketiga, merupakan segala upaya pembinaan dan pengembangan potensi anak didik untuk diarahkan mengikuti jalan yang Islami demi memperoleh keutamaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat. [14]

Menurut Fadlil Al-Jamali yang dikutip oleh Muzayyin Arifin, pendidikan Islam adalah proses yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik dan mengangkat derajat kemanusiaannya sesuai dengan kemampuan dasar (fitroh) dan kemampuan ajarnya. Maka dengan demikian, pendidikan Islam dari beberapa pengertian di atas penulis menyimpulkan, bahwa pendidikan Islam sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia, baik dari aspek rohaniah, jasmaniah, dan juga harus berlangsung secara hirarkis. oleh karena itu, pendidikan Islam merupakan suatu proses kematangan, perkembangan atau pertumbuhan baru dapat tercapai bilamana berlangsung melalui proses demi proses kearah tujuan transformatif dan inovatif. 

Pendidikan Islam sebagaimana rumusannya diatas, menurut Abd Halim Subahar memiliki beberapa prinsip yang membedakannya dengan pendidikan lainnya, antara lain : 1 ). Prinsip Tauhid 2). Prinsip Integrasi 3). Prinsip Keseimbangan 4). Prinsip persamaan 5). Prinsip pendidikan seumur hidup, dan 6). Prinsip keutamaan. Sedangkan tujuan pendidikan Islam dapat dirumuskan sebagai berikut: Untuk membentuk akhlakul karimah. Membantu peserta didik dalam mengembangkan kognisi, afeksi dan psikomotori guna memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam sebagai pedoman hidupnya sekaligus sebagai kontrol terhadap pola fikir, pola laku dan sikap mental. 

Membantu peserta didik mencapai kesejahteraan lahir batin dangan membentuk mereka menjadi manusia beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, memiliki pengetahuan dan keterampilan, berkepribadian integratif, mandiri dan menyadari sepenuhnya peranan dan tanggung jawab dirinya di muka bumi ini sebagai Abdulloh dan kholifatulloh. Dengan demikian, sesungguhnya pendidikan Islam tidak saja fokus pada education for the brain, tetapi juga pada education for the heart. Dalam pandangan Islam, karena salah satu misi utama pendidikan Islam adalah dalam rangka membantu peserta didik mencapai kesejahteraan lahir batin, maka ia harus seimbang, sebab bila ia hanya focus pada pengembangan kreatifiats rasional semata tanpa diimbangi oleh kecerdasan emosional, maka manusia tidak akan dapat menikmati nilai kemajuan itu sendiri, bahkan yang terjadi adalah demartabatisasi yang menyebabkan manusia kehilangan identitasnya dan mengalami kegersangan psikologis, dia hanya meraksasa dalam tehnik tapi merayap dalam etik.

Teknologi dalam Pendidikan Islam – Filsafat pendidikan Islam membincangkan filsafat tentang pendidikan bercorak Islam yang berisi perenungan-perenungan mengenai apa sesungguhnya pendidikan Islam itu dan bagaimana usaha-usaha pendidikan dilaksanakan agar berhasil sesuai dengan hukum-hukum Islam. Moh. Labib Al-Najihi, sebagaimana dikutip Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany, memahami filsafat pendidikan sebagai aktifitas pikiran yang teratur yang menjadikan filsafat itu sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan. Suatu filsafat pendidikan yang berdasar Islam tidak lain adalah pandangan dasar tentang pendidikan yang bersumberkan ajaran Islam dan yang orientasi pemikirannya berdasarkan ajaran tersebut. Dengan perkataan lain, filsafat pendidikan Islam adalah suatu analisis atau pemikiran rasional yang dilakukan secara kritis, radikal, sistematis dan metodologis untuk memperoleh pengetahuan mengenai hakikat pendidikan Islam. [15]

Al-Syaibany menandaskan bahwa filsafat pendidikan Islam harus mengandung unsur-unsur dan syarat-syarat sebagai berikut: (1) dalam segala prinsip, kepercayaan dan kandungannya sesuai dengan ruh (spirit) Islam; (2) berkaitan dengan realitas masyarakat dan kebudayaan serta sistem sosial, ekonomi, dan politiknya; (3) bersifat terbuka terhadap segala pengalaman yang baik (hikmah); (4) pembinaannya berdasarkan pengkajian yang mendalam dengan memperhatikan aspek-aspek yang melingkungi; (5) bersifat universal dengan standar keilmuan; (6) selektif, dipilih yang penting dan sesuai dengan ruh agama Islam; (7) bebas dari pertentangan dan persanggahan antara prinsip-prinsip dan kepercayaan yang menjadi dasarnya; dan (8) proses percobaan yang sungguh-sungguh terhadap pemikiran pendidikan yang sehat, mendalam dan jelas.[16] 

Objek kajian filsafat pendidikan Islam, menurut Abdul Munir Mulkhan, dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu obyek material dan obyek formal. Obyek material filsafat pendidikan Islam adalah bahan dasar yang dikaji dan dianalisis, sementara obyek formalnya adalah cara pendekatan atau sudut pandang terhadap bahan dasar tersebut. Dengan demikian, obyek material filsafat pendidikan Islam adalah segala hal yang berkaitan dengan usaha manusia secara sadar untuk menciptakan kondisi yang memberi peluang berkembangnya kecerdasan, pengetahuan dan kepribadian atau akhlak peserta didik melalui pendidikan. Sedangkan obyek formalnya adalah aspek khusus daripada usaha manusia secara sadar yaitu penciptaan kondisi yang memberi peluang pengembangan kecerdasan, pengetahuan dan kepribadian sehingga peserta didik memiliki kemampuan untuk menjalani dan menyelesaikan permasalahan hidupnya dengan menempatkan Islam sebagai hudan dan furqan. Sebagaimana dinyatakan Arifin, bahwa filsafat pendidikan Islam merupakan ilmu yang ekstensinya masih dalam kondisi permulaan perkembangan sebagai disiplin keilmuan pendidikan. Demikian pula sistematikanya, filsafat pendidikan Islam masih dalam proses penataan yang akan menjadi kompas bagi teorisasi pendidikan Islam.[17] 

Urgensi ilmu (teori) Pendidikan Islam

Teknologi dalam Pendidikan Islam – Urgensi ilmu pendidikan bagi pendidik juga dapat menghindari dari banyak kesukaran dan kesalahan dalam melaksanakan praktek pendidikan.[18] Untuk Pengembangan Individu. Pertama, Adanya kemampuan dan potensi dasar yang ada pada manusia, seperti intelek, imaginasi, fantasi, sikap, kehendak dan dorongan. Kedua, Adanya usaha pengembangan potensi, sehingga terwujud kemampuan yang nyata yang sudah dimiliki oleh kehidupan manusia dari generasi- kegenerasi. Ketiga, Atas dasar itu pendidikan merupakan suatu kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia, tidak mungkin dapat dijumpai suatu kehidupan masyarakat adanya kegiatan pendidikan.[19]

Sedangkan bagi Pendidik Pada Umumnya, dengan memahami pendidikan pedidik dapat memudahkan praktek pendidikan dengan bekal ilmu pendidikan sehingga praktek pendidikan dapat teratur dan sistematis menuju tujuan yang ditetapkan dan dengan rasa kecintaan pada diri pendidik terhadap tugasnya, terhadap anak didik dan terhadap kebenaran. Seorang tokoh dari Negeri Kincir Angin (Belanda) yang bernama Lingthart mengatakan : pendidikan adalah soal kecintaan, kebijaksanaan dan kesabaran. Kebijaksanaan dan kesabaran berkembang subur, apabila didukung oleh kecintaan.

Penggunaan Teknologi dalam Pendidikan Islam

Teknologi dalam Pendidikan Islam – Teknologi menurut Fischer (1975), adalah totalitas alat yang dikembangkan oleh masyarakat untuk memperoleh objek-objek materi bagi makanan dan kenyamanan manusia. Teknologi adalah ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri dalam upaya memecahkan masalah dalam kehidupan.[20] Teknologi pendidikan Islam membuat siswa mudah memahami sains dan ilmu-ilmu apapun, mampu menghubungkannya dengan Sang Pencipta dan menyadari apa tujuan diciptakannya alam serta bagaimana sains itu dapat dimanfaatkan secara syar’i. Dia akan menguasai sains dalam pandangan hidup Islam. Teknologi ini mengakselerasi siswa mendapatkan tujuan-tujuan pendidikan, sehingga membantu mengatasi keterbatasan kemampuan guru, sempitnya ruang kelas, kekurangan buku dan terbatasnya dana.

Bentuk-bentuk teknologi pendidikan secara umum akan optimal bila menggunakan seluruh aspek berpikir manusia. Manusia berpikir bila dia: (1) menerima informasi dunia realitas dari panca inderanya; (2) memasukkan informasi ke dalam otaknya; (3) mengolah / menghubungkan informasi itu dengan informasi yang tersimpan sebelumnya. Karena itu teknologi pendidikan yang baik akan menggunakan (1) sebanyak mungkin jalur indera, setidaknya tekstual, visual, dan akustikal, namun tentunya lebih optimal lagi kalau juga indera penciuman, perasaan maupun perabaan; (2) sebanyak mungkin bagian otak, baik otak kiri yang bersifat analitis rasional, otak kanan yang bersifat intuitif-kreatif-emosional maupun bagian otak yang disebut God-Spot yang bertanggung-jawab atas perasaan spiritual; (3) membantu menghubungkan dengan informasi yang tersimpan sebelumnya atau yang pernah dialami atau dipelajari siswa.[21] 

Teknologi dalam Pendidikan Islam – Konsep teknologi ini sebenarnya adalah bagaimana menyajikan infomasi dalam bentuk yang menarik, mudah dan interaktif bagi pemakainya. Penyampaian materi pelajaran dapat disesuaikan dan mengakomodir berbagai penentuan gaya belajar peserta didik, baik auditif, visual, maupun kinestetik dengan konsep pembelajran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM). Pembelajaran berbasis teknologi ICT bisa mengatasi pembelajaran konvensional yang cenderung monoton dan hanya sesuai untuk gaya belajar tertentu saja, seperti ceramah yang hanya sesuai bagi pembelajr yang memiliki gaya belajar auditif. Untuk menciptakan suatu komunikasi interaktif dari sebuah informasi, maka teknologi komputasi multimedia mengintegrasikan teks, grafik, suara, animasi dan video yang mampu mempengaruhi banyak indera yang dimiliki manusia seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan serta perbuatan. Bila teknologi multimedia ini diaplikasikan dalam pembelajaran, maka sistem pendidikan lewat Internet secara interaktif dan komprehensif dapat terlaksana. 

Para pakar pendidikan telah mencoba untuk mengadakan penelitian dengan mengadakan eksperimen untuk menciptakan metode belajar yang baru, sebut saja Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), Cara Belajar Siswa Mandiri (CBSM), Metode Belajar Kumon, Sempoa, Active Learning, PAIKEM, Quantum Learning, dan sebagainya. Semua usaha tersebut dirumuskan dengan tujuan agar pembelajar dapat lebih mudah dan sederhana untuk mencerna secara logis materi pendidikan yang sudah ditetapkan.

Melalui integrasi ICT dalam pembelajaran, corak pendidikan akan banyak berubah karena, teknologi yang terintegral mempunyai kelebihan menggabungkan visual realistik dengan teks dan suara. Melalui integrasi ICT beberapa perubahan pada pendekatan proses pembelajaran dapat dilaksanakan. Diantaranya perubahan fokus pembelajaran berpindah dari pengajaran berpusat pada pengajar (teacher centered) kepada pengajaran yang berpusatkan pada pembelajar (learners centered). Aktifitas pembelajaran terfokus pada aktifitas yang berorientasi pada proses pencarian dan penemuan berdasarkan pada teori belajar Construktivisme. Dalam teori belajar Construktivisme dipercayai bahwa belajar merupakan proses seseorang membentuk pengetahuan, apakah berdasarkan stimulus atau rasa ingin tahu yang kuat.

Holmes (1999), memberikan pandangan bahwa integrasi teknologi dalam pembelajaran memerlukan pengajar yang siap pakai serta fleksibel dalam menggunakan teknologi sesuai dengan jenis mata pelajaran yang diampu. Sekedar mempelajari bagaimana cara menggunakan komputer belum cukup untuk membuat seorang tenaga pengajar untuk mampu menggabungkan teknologi dalam pembelajaran. Elemen yang penting dalam pengintegrasian teknologi ialah pemahaman pengajar terhadap isi pengajaran dan implikasi yang berkaitan dengan teknologi. [22]

Demikian ulasan singkat seputar Teknologi dalam Pendidikan Islam yang dapat kita sampaikan, semoga bermanfaat. kunjungi situs: www.rangkumanmakalah.com

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu, dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan; Jakarta: Rineka Cipta, Jakarta, 2003.

al-Attas, Syeh Muhammad Naqaib, The Concept of Education in Islam A Frame Work for an Islamic Philosophy of Education. Diterjemahkan oleh Haidar Baqir dengan judul Konsep Pendidikan Dalam Islam: suatu rangka pikir pembinaan Filsafat Pendidikan Islam (Cet, III; Bandung : 1990)

Ali, Mohammad Pendidikan untuk Pembangunan Nasional, (Bandu ng : IMTIMA, 2009).

al-Nahlawi, ‘Abd al-Rahman, Ushul ual Tarbiyah al-Islamiyat wa Asalibuha (Damsyik ; Dar al-Fikr, 1979)

Arsyad,Azhar Media Pembelajaran, (yogyakarta: Rajawali Press, 2002).

Ashraf, Ali, Dkk. Pergulatan Ideologis Pendidikan Islam, (Malang: Madani Media, 2011).

Asy-Syaibani, Omar Muhammad at-Toumi, Falsafah at-Tarbiyah al-Islamiyah, (Tri-poli: asy-syirkah al-Ammah li an-Nasyr wa at-Tauzi’al-I’lam,tt).

Bawani, Imam, Tradisionalisme dalam Pendidikan Islam, (Surabaya: al-Ikhlas, 1993).

Faisal,M. SIM Sistem Informasi Manajeman, Jaringan (Malang: UIN Press, 2008).

Ilyas, Asnelly, Mendambakan anak saleh; prinsip-prinsip Pendidikan Anak dalam Islam (Cet. 1 Bandung al-bayan, 1995)

Jalal, ‘Abd al-Fatah, Min al-Ushul al-Tarbawiyah fi al – Islam; diterjemahkan oleh Harry Noer Ali dengan judul Azaz-azaz Pendidikan Islam (Cet, 1 : Bandung;Dipenogoro, 1988

Mulkhan, Abdul Munir, Nalar Spiritual Pendidikan, Solusi Problem Filosofis Pendidikan Islam, (Jogya : Tiara Wacana, 2003 ).

Roqib,Moh., Ilmu Pendidikan Islam, Pengembangan Pendididikan Integratif, di sekolah, Keluarga dan Masyarakat; (Jogjakarta : LKIS, 2011).

Suparlan, Membangun Sekolah Efektif, (Yogyakarta: Hikayat, 2008)

Sutrisno, Fazlur Rahman kajian terhadap metode, Epistomologi, dan Sistem Pendidikan: (Jokjakarta; Pustaka Pelajar, 2006).

[1] Imam Bawani, Tradisionalisme dalam Pendidikan Islam, (Surabaya: al-Ikhlas, 1993), hal. 60.

[2] Lihat ‘Abd al-Fatah Jalal, Min al-Ushul al-Tarbawiyah fi al – Islam; diterjemahkan oleh Harry Noer Ali dengan judul Azaz-azaz Pendidikan Islam (Cet, 1 : Bandung;Dipenogoro, 1988), h. 27

[3] Lihat Syeh Muhammad Naqaib al-Attas, The Concept of Education in Islam A Frame Work for an Islamic Philosophy of Education. Diterjemahkan oleh Haidar Baqir dengan judul Konsep Pendidikan Dalam Islam: suatu rangka pikir pembinaan Filsafat Pendidikan Islam (Cet, III; Bandung : 1990), h.75

[4] Lihat ‘Abd al-Rahman al-Nahlawi, Ushul ual Tarbiyah al-Islamiyat wa Asalibuha (Damsyik ; Dar al-Fikr, 1979),h. 11

[5] Lihat Asnelly Ilyas, Mendambakan anak saleh; prinsip-prinsip Pendidikan Anak dalam Islam (Cet. 1 Bandung al-bayan, 1995), h. 20-22

[6] Lihat ‘Abd al-Rahman al-Nahlawi, op., cit., h. 13

[7] Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam, Pengembangan Pendididikan Integratif, di sekolah, Keluarga dan Masyarakat; Jogjakarta : LKIS, 2011, hal. 27

[8] Abd. Haris, Remuhanisasi Pendidikan (Makalah Pribadi, Penubatan Guru Besar IAIN Sunan Ampel SBY)

[9] Sutrisno, Fazlur Rahman kajian terhadap metode, Epistomologi, dan Sistem Pendidikan: Jokjakarta; Pustaka Pelajar, 2006, hal. 170

[10] Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan; Jakarta: Rineka Cipta, Jakarta, 2003, hal.162

[11] Ibid, hal. 164

[12] Ibid, hal. 169

[13] Ali Ashraf, Dkk, Pergulatan Ideologis Pendidikan Islam, (Malang: Madani Media, 2011), hal. 173

[14] Abdul Munir Mulkhan, Nalar Spiritual Pendidikan, Solusi Problem Filosofis Pendidikan Islam, (Jogya : Tiara Wacana, 2003 ), 66

[15] Ibid, Moh. Rokib, Ilmu Pendidikan Islam, hal.17

[16] Omar Muhammad at-Toumi asy-Syaibani, Falsafah at-Tarbiyah al-Islamiyah, (Tri-poli: asy-syirkah al-Ammah li an-Nasyr wa at-Tauzi’al-I’lam,tt).

[17] Ibid, Abdul Munir Mulkhan, Nalar Spiritual Pendidikan, hal.92

[18] ibid, Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan, hal. 77

[19] ibid, Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan, hal.76

[20] Mohammad Ali, Pendidikan untuk Pembangunan Nasional, (Bandu ng : IMTIMA, 2009), hal. 157

[21] Ibid, hal 168

[22] M. Faisal, MT.SIM Sistem Informasi Manajeman, Jaringan (Malang: UIN Press, 2008) hal.45

Share This:

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *