Pembahasan Tipologi Tarekat, Lengkap!

Tipologi Tarekat

Tipologi Tarekat

A. Pengertian Tipologi Tarekat

Tarekat berasal dari bahasa Arab, ‘thariqah’, jamaknya ‘tara’iq’, secara etimologi berarti (1) jalan, cara (al-kaifiyyah); (2) metode, sistem (al-uslub); (3) madzhab, aliran, haluan (al-madzhab); (4) keadaan (al-halah); (5) pohon kurma yang tinggi (an-nakhlah ath-thawilah); (6) tiang tempat berteduh, tongkat payung (‘amud al-mizallah); (7) yang mulia, terkemuka dari kaum (syarif al-qaum); dan (8) goresan/garis pada sesuatu (al-khathth fi asy-syay’).. [1]

Tarekat adalah jalan yang ditempuh para sufi, dan dapat digambarkan sebagai jalan yang berpangkal dari syariat. Sebab jalan utama disebut syar’, sedangkan anak jalan disebut thariq.

Kata turunan ini menunjukkan bahwa menurut anggapan para sufi, pendidikan mistik merupakan cabang dari jalan utama yang terdiri dari hukum Ilahi, tempat berpijak bagi setiap muslim. Tak mungkin ada anak jalan tanpa jalan utama tempat berpangkal; pengalaman mistik tak mungkin diperoeh bila perintah syari’at yang mengikat itu tidak di taati terlebih dahulu dengan seksama. [2]

Dengan kata lain, tarekat adalah perjalanan seorang salik (pengikut tarekat) menuju tuhan dengan cara menyucikan diri atau perjalanan yang harus ditempuh oleh seseorang untuk mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Tuhan.

Megenai pengertian diatas, Asy-Shaikh Muhammad Amin Al-Kurdiy megemukakan bahwa ada tiga macam penegrtian atau definisi,tentang tarekat yaitu:[3]
الطريقة هي العمل بالشريعة والأخذ بعزائمها والبعد عن التساهل فيما لاينبغى التساهل فيه
Tarekat adalah mengamalkan syariat, melaksanakan beban ibadah (dengan tekun) dan menjauhkan (diri) dari (sikap) mempermudah (ibadah), yang sebenarnya memang tidak boleh dipermudah.
الطريقة هي اجتناب المنهيات ظاهرا وباطنا وامتثال الأوامر الإلهية بقدر الطاقة
Tarekat adalah menjauhi larangan dan melakukan perintah Tuhan sesuai dengan kesanggupan, baik larangan dan perintah yang nyata maupun yang tidak(batin).
Sementara itu, Harun Nasution menyatakan bahwa tarekat berasal dari kata ‘thariqah’, yaitu jalan yang harus ditempuh oleh seorang calon sufi dalam tujuannya berada sedekat mungkin dengan Allah. [4]

Tipologi Tarekat kemudian mengandung arti organisasi (tarekat). Setiap tarekat mempunyai sekh, upacara ritual, dan bentuk zikir sendiri. Sejalan dengan ini, Martin van Bruinessen menyatakan istilah tarekat, paling tidak dipakai untuk dua hal, yang secara konseptual berbeda. Makna yang asli merupakan paduan yang khas dari doktrin, metode, dan ritual. Akan tetapi, istiah ini pun sering dipakai untuk mengacu pada organisasi yang menyatukan pengikut-pengikut jalan tertentu.

Di Timur Tengah, istilah ‘ta’ifah’ terkadang lebih disukai untuk organisasi sehingga lebih mudah membedakan antara yang satu dengan yang lain. Akan tetapi di Indonesia, kata ‘tarekat’ mengacu pada keduanya.L. Massignon, salah seorang peneliti tasawuf di beberapa Negara Muslim, berkesimpulan bahwa istiah tarekat mempunyai dua Tipologi Tarekat yaitu.[5]

Pertama, tarekat merupakan pendidikan kerohanian yang sering dilakukan oleh orang-orang yang menempuh kehidupan tasawuf, untuk mencapai suatu tingkatan kerahanian, yang disebut al-maqamat dan al-akhwal. Pengertian seperti ini menonjol sekitar abad ke-9 dan ke-10 Masehi.
       Kedua, tarekat merupakan perkumpulan yang didirikan menurut aturan yang telah dibuat oleh seorang shaikh yang meganut suatu aliran tarekat tertentu. Dalam perkumpulan itulah, seorang shaikh yang menganut suatu aliran tarekat yang dianutnya, lalu mengamalkan aliran tersebut bersama dengan murid-muridnya.

Pengertian dan definisi ini menonjol sesudah abad ke-9 Masehi.
Dengan demikian tarekat memiliki dua pegertian. Pertama, tarekat berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adanya lembaga formal, seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah.[6]

Sejarah Munculnya Tarekat dalam kajian Tipologi Tarekat

Tipologi Tarekat – Latar belakang lahirnya tarekat (thariqah) pada abad 3 dan 4 H, saat Baghdad makmur adalah pada saat itu kehidupan dunia lebih mencolok dari kehidupan ukhrowi, sehingga banyak terjadi dekadensi moral. Para ulama berusaha mengembalikan moral kepada moral Islami, dengan cara mengajar dan melatih syariat Islam dan mencoba meresapkannya ke dalam lubuk sanubari melalui jalan “tarekat” yang selanjutnya tarekat menjadi semacam perkumpulan amal yang dipimpin oleh seorang mursyid atau guru atau Shaikh dalam sebuah ribath atau zawiyah(pondokan).
Pada mulanya tarekat dilalui oleh seorang sufi secara individual. Tetapi dalam perjalanannya kemudian tarekat diajarkan kepada orang lain baik secara individual maupun kolektif. Pengajaran tarekat pada orang lain ini sudah dimulai sejak zaman Al Hallaj (858 – 922 M). Selanjutnya praktek-praktek pengajaran semacam ini dilakukan pula oleh sufi-sufi besar lainnya. [7]

Dengan demikian timbullah dalam sejarah Islam kumpulan-kumpulan sufi yang mempunyai sufi tertentu sebagai shaikh-nya dengan tarekat tertentu sebagai amalannya, juga pengikut-pengikut atau murid-murid. Kemudian dalam perjalanannya yang lebih lanjut kumpulan-kumpulan orang ini mengambil bentuk organisasi-organisasi yang mempunyai corak dan peraturan sendiri-sendiri.
Ditinjau dari segi historisnya, kapan dan tarekat mana yang mula-mula timbul sebagai suatu lembaga, sulit diketahui dengan pasti. Namun, Harun Nasution menyatakan bahwa setelah al-Ghazali (w.505/1111) menghalalkan tasawuf yang sebelumnya dikatakan sesat, tasawuf berkembang di dunia Islam, tetapi perkembangannya terjadi melalui tarekat. Tarekat adalah organisasi dari pengikut sufi-sufi besar. Mereka mendirikan oraganisasi-organisasi untuk melestarikan ajaran-ajaran-tasawuf-gurunya[8].

Macam-Macam Tipologi Tarekat
Dari sekian banyak tarekat yang perah muncul sejak abad ke-12 (abad ke-6 H) adalah:
1. Tarekat Qadariyah (dihubungkan kepada Shaikh Abdul Qadir Al-Jailani, yang wafat di Irak pada 1161/561 H), yang mempunyai peganut di Irak, Turki,Turketan,Sudan,Cina,India,dan,Indonesia.
2. Tarekat Rifa’iyah (dihubungkan kepada Shaikh Ahmad Ar-Rifa’I, yang wafat di Irak pada 1182 M/578 H), yang mempunyaipengikut di Irak dan Mesir.
3. Tarekat Syadziliyah (duhubungkan kepada syeikh Ahmad Asy-Syadzili, yang wafat di Mesir pada 1258 M/658 H), yang mempuyai pengikut di Mesir, Afrika Utara,Syiria,dan, negeri Arab-lainnya.
4. Tarekat Maulawiyah (dihubungkan kepada Shaikh Maulana Jalaluddin Rumi, yang wafat di Konya (Turki) pada 1273 m/672 H), yang berpengaruh pada masyarakatTurki.
5. Tarekat Naqsabandiyah (dihubungkan kepada Shaikh Bahauddin Naqsabandi yang wafat di Bukhara pada 1389 M/791 H), yang mempuyai pegikut di Asia Tengah,Turki,India,Cina,dan,Indonesia.
6. Tarekat Syattariyah (dihubungkan kepada Shaikh Abdullah Asy-Syattari yang wafat di India pada 1236 M/633 h), yang mempunyai pegikut di India dan Indonesia

Daftar Pustaka

[1]Aziz masyhuri, Ensiklopedi Aliran Tarekat,(Surabaya: Imtiyaz, 2011) hal. 2

[2] Ibid, hal. 3

[3] Ibid, hal. 4

[4]Simuh, Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996).

[5] Ibid, hal 80

[6] Ibid, hal. 81

[7]Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam: Melacak   Akar-     akar Sosial, Politik dan Budaya Umat Islam (Penerbit: Rajawali Pers 2004)

[8] Aziz Masyhuri, Ensiklopedi Aliran Tarekat, hal. 26

Share This:

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *