Transformasi Sebuah Tradisi Intelektual Islam

Transformasi Sebuah Tradisi Intelektual Islam

Transformasi Sebuah Tradisi Intelektual Islam

Transformasi Sebuah Tradisi Intelektual Islam di sini mengacu pada langkah-langkah kaum Muslim dalam melembagakan usaha-usaha kependidikannya. Ide dasar yang melandasi gerakan ini adalah penegasan pentingnya literasi, yang secara literar dan semangatnya termuat pada al-Qur’an dan Sunnah yang sekaligus merupakan dua pilar utama penyangga Pendidikan Islam.[1] Sementara sebelum datangnya Islam, tradisi pendidikan bangsa Arab pagan pada dasarnya terbatas pada tradisi lisan, dimana pewarisan pengetahuan, nilai dan tradisi berlangsung dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi.[2] Walaupun (dalam jumlah yang sangat jarang), lembaga pendidikan dasar, kuttab, –kata jadian dari kataba (yang diperuntukkan sebagai tempat belajar tulis-menulis)—sudah dikenal pada zaman Jahiliyah.[3] Sedemikian jarang dan lambatnya perkambangan kuttab tersebut sehingga pada saat Islam hadir, orang Quraisy yang pandai tulis baca hanya 17 orang saja.[4]

Landasan teologis dari gerakan intelektualisme dalam Islam dapat dilacak pada antara lain Q.S. al-Baqarah (2): 31-33; Q.S. al-Mujadilah (58): 11; Q.S. al-‘Alaq (96): 1-5 dan lain-lain. 

            Pendidikan Islam tumbuh dan berkembang pada dasarnya seiring dengan kemunculan Islam itu sendiri. Dalam konteks masyarakat Arab, dimana Pendidikan Islam lahir dan pertama kali berkembang, kehadiran Islam dengan semangat dan usaha pendidikannya adalah merupakan transformasi besar, sebab masyarakat Arab pra-Islam memang tidak mengenal sistem pendidikan yang terorganisasi secara formal. Pada masa yang paling awal, perkembangan pendidikan Islam berlangsung secara informal di rumah, dan dalam konteks ini, yang paling terkenal adalah Dar al-Arqam, inipun lebih terkait dengan usaha-usaha dakwah penyebaran dasar-dasar keimanan dan ibadah. Nanti kemudian, “setelah masyarakat Islam terbentuk, baru pendidikan berlangsung dalam berbagai bentuk kelembagaan dengan beragam prosedur dan komposisi keilmuannya.”[5] 

            Setelah terbentuknya masyarakat Islam, opendidikan yang terlembaga mulai menampakkan urgensinya, guna percepatan penyebaran ajaran (dakwah) serta peningkatan dan estapeta generasi pendukung ajaran tersebut. Dalam kerangka itu, begitu Nabi sampai di Madinah, hal pertama yang dilakukan adalah pengikatan persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar serta mendirikan Masjid sebagai pusat pembinaan ummat. Sebelum sampai di Madinah lebih dulu untuk pertama kalinya dibangun Masjid QUba. Pada kedua Masjid yang didirikan sejak masa Nabi tersebut, telah berlangsung pembelajaran dalam bentuk halaqah (studi lingkaran) dimana Nabi mengajar para sahabat hal-hal yang berkenaan dengan keagamaan dan keduniaan.[6] Disamping itu, “lembaga yang memang telah terdapat sebelumnya yakni kuttab tetap dipelihara dalam fungsi yang sama.”[7] Kuttab, dalam fungsinya sejak awal yakni sebagai tempat belajar menulis dan membaca, dalam masyarakat Islam bertambah fungsi sebagai tempat belajar/mengajar al-Qur’an dan pokok-pokok ajaran agama, setelah kaum Muslim mulai ada yang bisa baca tulis dan hafal al-Qur’an. Dalam fungsinya yang pertama, dikarenakan masih langkanya orang yang bisa baca tulis maka yang mengajar pada umumnya non-muslim. Untuk mengantisipasi kondisi ini, Rasulullah Saw. –dalam/pasca perang Badar- memerintahakan para tawanan yang pandai baca tulis agar menebus dirinya dengan cara mengajarkan baca tulis.[8] Dalam pangkuan kaum Muslim, kuttab berkembang pesat. Setelah kaum Muslim mulai banyak yang pandai baca tulis dan menghafal al-Qur’an, pekerjaan mengajar di kuttab diambil alih. Dari yang pada mulanya hanya belasan murid, pada penghujung abad pertama hijrah sudah terdapat kuttab yang memiliki ribuan murid, seperti kuttab Abul Qasim al-Balkhi umpamanya.[9] Kuttab ini terus berkembang sampai masa abad pertengahan. Di Kairo ada beberapa kuttab yang menyediakan tempat tinggal bagi murid-muridnya, dan sebagiannya berafiliasi dengan lembaga pendidikan tinggi.[10] Tentang lokasi kuttab, dalam berbagai sumber disebutkan berbeda-beda. Ada yang menyatakan kuttab terdapat di rumah-rumah dimana guru mengumpulkan murid-muridnya di satu ruangan dalam rumah atau di tempat terbuka di luar rumah. Sumber lain mengatakan khususnya kuttab tempat belajar al-Qur’an dan pokok-pokok ajaran Agama diadakan di masjid. Disamping itu ada pula yang menyanggah bahwa karena anak-anak sulit menjaga kebersihan dan ketertiban, kegiatan tersebut tidak boleh di masjid.[11] 

              Transformasi Sebuah Tradisi Intelektual Islam – Transformasi institusional pendidikan Islam, menurut Peneliti Sejarah Pendididikan Islam terutama kalangan yang mengakui kuttab sebagai “elementary education” seperti Syalabi juga Makdisi, berlangsung mulai dari kuttab. Dari kuttab ke masjid, dari masjid ke masjid-khan (masjid inn-complex) dan dari masjid khan ke madrasah.[12] Tetapi di sisi lain Makdisi juga mengakui bahwa masjid merupakan lembaga pendidikan pertama dalam Islam.[13] Dalam hal ini bisa dipahami bahwa bagi anak-anak kuttab yang pertama sedangkan bagi orang dewasa yang pertama adalah masjid. Syalabi mengungkapkan tentang masjid yang multifungsi pada masyarakat Islam klasik, yakni sebagai tempat beribadah, member pelajaran, sebagai tempat peradilan, tentara berkumpul serta menerima duta-duta dari luar.[14] Masjid pada masa klasik terklasifikasi de dalam: masjid jami’ atau jami’ dan masjid non-jami’ atau masjid. Pada keduanya terdapat halaqah (study-cyrcles). Bedanya, pada jami’ terdapat kegiatan sholat berjama’ah, serta khutbah dan sholat Jum’at. Yang pertama diorganisasi sampai dengan urusan pendanaannya oleh penguasa, sedang yang kedua oleh jama’ahnya. Pada sebuah masjid bisa terdapat lebih dari satu halaqah, tergantung kebutuhan dan daya tampungnya.[15] Di antara sekian banyak jami’ atau masjid yang menggelar halaqah yang disebutkan sebagai model pembelajaran oleh Syalabi dan Makdisi adalah Jami’ al-Mansur di Baghdad, Jami’ Damaskus dan Jami’ Anas di Mesir.[16] 

Perkembangan lebih lanjut dari masjid dalam fungsinya sebagai lembaga pendidikan adalah munculnya masjid-masjid yang dilengkapi dengan sarana akomodasi bagi pihak yang belajar, yang kemudian dikenal dengan masjid-khan. Lembaga jenis ini pendanaannya didukung oleh waqaf, dan telah ditemukan pada awal abad ke-4/10 atah malah sebelumnya.[17] Bayard Dogde dan Makdisi sendiri menyatakan bahwa pendidikan yang berlangsung di masjid (jami’, non jami’, dan masjid-khan) adalah level pendidikan tinggi (higher learning) atau lembaganya sering disebut mosque-colleges early in Islam.[18] Di satu sisi Makdisi menyebut masjid sebagai institusi belajar yang pertama dan di sisi lain keberadaan masjid dinyatakannya sebagai college yang awal dalam Islam. Apakah karena materi-materi kajian dalam masjid itu adalah materi tingkat tinggi? Nampaknya ya, sebab di kuttab, anak-anak biasanya diajarkan menghafal hal-hal yang cenderung lebih praktis sesuai dengan tingkat perkembangan mereka. 

Tahap berikutnya dari perkembangan lembaga pendidikan tinggi Islam adalah dari masjid-khan ke madrasah.[19] Seperti dinyatakan Makdisi bahwa perkembangan lembaga pendidikan tinggi (the college) dalam Islam adalah dari masjid ke masjid (the masjid-inn complex), ke madrasah. Pada abad kedua/kedelapan, atau lebih awal, masjid telah menjadi lembaga pendidikan tinggi yang menyediakan gaji untuk stafnya, serta biaya pendidikan bagi mahasiswanya. Masjid-khan mengambil satu langkah maju dengan menyediakan akomodasi dan mungkin juga makanan. Akhirnya, madrasah menyediakan seluruh kebutuhan utama bagi mahasiswa dalam belajar.[20] Oleh Makdisi, madrasah disebut college, sebuah nama terbentuk dari “collegium” (Latin) yang berarti society yang merupakan representase dari lembaga pendidikan yang paling unggul pada masa pertengahan Islam, yang disebutnya par-exelence. Menurut pandangannya madrasah didominasi dengan materi kajian bidan hukum, sehingga ia menyebut madrasah dengan College of Law.[21]

Tapi mengapa halaqah bertransformasi ke madrasah? 

Transformasi Sebuah Tradisi Intelektual Islam – Hal ini disebabkan antara lain karena di banyak masjid, perkembangan halaqah, baik jumlah maupun pengikutnya berlangsung pesat, sehingga tidak lagi mampu mempertahankan kenyamanan di dalam masjid, baik bagi yang belajar maupun bagi jamaah yang hendak beribadah. Apalagi semakin lama metode yang diterapkan bukan sekedar penyampaian materi (ceramah) tapi juga tanya-jawab atau bahkan berdebat di dalam forum halaqah di masjid. Di samping itu banyak di antara yang terlibat dalam halaqah terutama shaikh-nya sudah mulai mengabaikan mata pencahariannya, sementara gaji mengajar di halaqah tidak mencukupi. Maka atas dasar itu dibuatlah proses belajar mengajar itu menjadi lebih teroganisir dan profesional, lalu dibentulah madrasah-madsarah.[22] Secara teknis, loncatan dari masjid-khan (the masjid in compex) nampaknya tinggal penyesuaian, locus belajar dibuat gedung tersendiri dan locus khan dibuat dalam bentuk asrama untuk mahasiswa. Awal munculnya madrasah, lazim dikaitkan oleh para peneliti sejarah pendidikan Islam, baik Syalabi, Stanton, maupun Nakosteen dengan Nizam al-Mulk (w. 485/1092) yang oleh Makdisi disebut a prime minister under two of the great saljuqs (yakni Idris Syah dan Alp Arsalan).[23] Kalangan ini memandang madrasah pertama kali didirikan oleh dan pada masa Nizam al-Mulk, bahkan kemudian madrasah dimaksud dinamakan dengan namyanya, Madrasah Nizamiyah. 

Padahal penelitian yang belakangan oleh Naji Ma’ruf, Abd. Al-‘Al ataupun Richard Bulliet mengungkapkan terdapatnya madrasah-madrasah hampir dua abad sebelum era Nizamiyah. Seperti madrasah Miyan Dahiya didirikan Abu Ishaq Ibrahim yang juga dikenal dengan al-Qattan sekitar tahun 270 di Nishapur, Madrasah al-Qushairi oleh Abu ‘Ali tahun 391. Madrasah al-Baihaqi oleh Abu al-Hasan al-Baihaqi (w. 414).[24] Walaupun memang –paling tidak dalam catatan sejarah- madrasah mulai fenomenal sejak masa Nizam al-Mulk yang dikenal dengan penguasa yang paling banyak membangun madrasah. Di antara madrasah-madrasah tersebut sebagiannya berkembang terus sampai masa pertengahan Islam. Dan di antaranya juga ada yang muncul dalam format al-Jamiah, bahkan mampu bertahan terus hingga masa modern Islam. Di antara al-Jamiah yang muncul paling awal dengan orientasi sebagai lembaga pendidikan tinggi adalah al-Azhar di Kairo, Zaituna di Tunis, dan Qurawiyin di Fez.[25] Al-Jamiah ini dapat dipandang merupakan perkembangan logis dari adanya kegiatan pembelajaran di masjid (Jami’), kurang lebih itu pula yang berkembang sampai ke Indonesia, dengan adanya madrasah dan lembaga pendidikan tinggi agama Islam yang pernah dikenal dengan al-Jamiah al-Islamiyah al-Hukumiyah, paling tidak dalam nama.

Institusi-institusi pendidikan non-formal yang turut mewarnai gerak intelektualisme dalam sejarah Islam,[26] antara lain Bayt al-Hikmah, Observatorium, rumah sakit, Dar al-Hikmah, Dar al-‘Ilm, Ikhwan al-Shafa, perpustakaan (umum/pribadi), toko/kios buku, salon sastra, serta lembaga-lembaga Sufi seperti Zawiyah, Ribat, Khanqah. Kesemua itu dalam skala dan kuasanya masing-masing, turut memberikan kontribusi dalam derap intelektualisme dalam sejarah Islam. 

Model Transformasi Sebuah Tradisi Intelektual Islam

Transformasi Sebuah Tradisi Intelektual Islam – Dimaksudkan dengan model intelektualisme Islam di sini adalah perubahan metode dalam tradisi keilmuan Islam. Tranformasi metodologis pertama dan strategis dengan kehadiran Islam adalah dari tradisi interaksi dengan bahasa lisan yang dilengkapi dengan baca dan tulis. Juga model bahasa yang digunakan sebagaimana dinyatakan Stanton: 

Transformasi bahasa puisi menjadi bahasa prosa yang mampu mengungkapkan abstraksi-abstraksi filosofis, teologis, dan scientific yang berawal dari usaha pengikut Muhammad untuk memahami al-Qur’an… Metode pengajaran yang paling utama adalah membaca dan menghafal al-Qur’an dan puisi-puisi kuno, pada awalnya siswa menuliskan pelajaran mereka dengan jari di atas pasir. Oleh karena latar belakang tradisi lisan yang panjang maka pendidikan mendorong mereka untuk menghafal al-Qur’an dan sebanyak mungkin pelajaran yang lain.[27] 

Pada masa-masa berikutnya, Tritton menggambarkan proses belajar mengajar itu berlangsung dalam empat tahapan: (1) The Teacher read tradition from a book or recited them from memory; (2) The Student read or recited to the teacher; (3) The Teacher allowed the student to copy a text; (4) The Teacher gave a licence to teach the text on his authority.[28] Munir ud-Din Ahmed mengungkapkan berbagai model/proses belajar sejak pra era madrasah yang ia sebut dengan halka (suatu situasi belajar di mana murid bertemu guru dalam bentuk lingkaran (cyrcle or ring)). Kemudian/majlis yang ia kategorikan ke dalam majlis al-Hadith, Majlis al-Tadris, Majlis al-Munazarah, Majlis al-Mudhakarah, Majlis al-Syu’ara, Majlis al-Fatwa dan al-Nazar. Di samping proses belajar mengajar, berlangsung dalam bentuk dimulai dengan penjelasan oleh guru dan murid mendengarkan (sama’i), tanya jawab dengan diskusi dan debat (disputation). Setelah masuk era madrasah, mulai digunakan [selain sama’ (to listen)] juga mencatat (to recite) dan imla’ (dictation).[29] 

Makdisi membicarakan metode belajar sejak masa awal sampai medieval education in Islam dalam bab khusus (Bab III) dengan judul The Methodology of Learning. Di situ, ia menjelaskan tentang menghafal, mengulang, memahami, mudzakarah, mencatat. Juga ada yang dikenal dengan ta’liqa suatu metode yang biasa diterapkan dalam pengajaran hukum di mana seseorang menyalin suatu materi kajian atau kitab kemudian melaporkannya kepada professor, sampai dengan metode debat dan saling adu pendapat/adu argument di hadapan forum/majlis terbuka.[30] Nakosteen, tentang metode pengajaran di abad pertengahan Islam, menyatakan:

Dosen mengajar secara formal dalam bentuk ceramah atau membaca dari manuskrip yang dipersiapkan dari teks, menjelaskan materi kuliah dan memberi pertanyaan-pertanyaan, serta mendiskusikan mata kuliah yang diberikan. Mahasiswa didorong untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang statemen guru mereka dan bahkan untuk berbeda pendapat dengannya, mereka mengajukan bukti-bukti yang mendukung pendapat mereka. Untuk berkata “saya tidak tahu” jika anda (memang) tidak tahu adalah bernilai setengah dari ilmu pengetahuan dan yang setengah lagi adalah yang terpenting.[31] 

Model lainnya dari belajar pada masa tengah, bahkan pada dasarnya sejak masa-masa generasi pertama muslim, adalah belajar individual, yang dalam terma Berkey adalah the personal conection –the educational model relying not simply on close study of a text, but on intensive, personal interaction with a shaykh- has always been central to Islamic education.[32] Lebih lanjut dinyatakannya bahwa mahasiswa dapat memilih sendiri mata kuliah dan professor yang diminati, model ini terus berlangsung hingga abad dua belas dan lima belas dengan sedikit penyesuaian.[33] Keahlian yang diperoleh melalui kontak personal dengan guru, menurut Ibnu Khaldun, biasanya lebih kuat dan lebih mengakar. Ia menyatakan bahwa:

Makin banyak guru yang dihubungi makin kuat dan dalam keahliannya… Oleh karena itu berperjalanan (rihlah) mencari ilmu adalah prasyarat untuk mendapat pengetahuan yang bermanfaat, di mana kesempurnaan dapat melalui tatap muka dengan para guru (Shaikh) yang terkemuka dan orang-orang yang berilmu dalam.[34] 

 Munir ud-Din Ahmed memahami rihlah sebagau journey to acquire knowledge di mana seorang mahasiswa berkelana dalam rihlah ini dari suatu centra keilmuan ke centra yang lainnya. Sedangkan menurut Syalabi bahwa perjalanan-perjalanan seperti itu (rihlah) telah dilakukan oleh umat Islam sejak masa-masa generasi pertama, di saat kawasan territorial Islam telah meluas. Pada saat itu juga para sahabat telah menyebar untuk mengajarkan al-Qur’an dan Agama serta meriwayatkan Hadis dan membuka pusat-pusat ilmu pengetahuan di mana masing-masing mereka berada.[35] 

Pada masa-masa selanjutnya, sampai masa modern, proses belajar mengajar dalam dunia pendidikan Islam, selain masih adanya kawasan yang mempertahankan pola lama, sudah mulai melakukan adaptasi (bahkan imitation?) dari system yang dikembangkan dalam dunia pendidikan modern Barat

Komposisi Bidang Kajian: Karakteristik Transformasi Sebuah Tradisi Intelektual Islam

Transformasi Sebuah Tradisi Intelektual Islam – Untuk memahami perubahan komposisi bidang kajian dan karakteristik intelektualisme Islam, kita perlu melihatnya dari awal. Pada masa-masa awal dari dunia pendidikan Islam, pada masa kehidupan Nabi Muhammad Saw., komposisi kajian didominasi oleh upaya melahirkan dan pembentukan masyarakat Islam. Masa ini berlangsung sepanjang prosese penerimaan wahyu dan pembudayaannya (sosialisasi wahyu) oleh Nabi Saw. dengan penekanan pada pendidikan ketauhidan dengan segala implikasinya dalam periode akkah dan pada pendidikan sosial politik dengan segala implikasinya dalam periode Madinah.[36] Pada awal elementary school, sebagai konsekuensi penekanan literasi sejak permulaan turunnya wahyu, lewat kuttab diusahakan pelajaran baca tulis dengan materi syair-syair/puisi-puisi terpilih, dengan tenaga guru dari kalangan non muslim. Nanti belakangan, setelah orang-orang Islam mulai ada yang bisa baca tulis di samping hafal al-Qur’an sebagai materi/kurikulum intinya di samping pokok-pokok agama Islam, sebelum itu anak-anak diajarkan al-Qur’an oleh orang tua masing-masing di rumah.[37] 

Pada masa khalifah Umar bin Khat{t{ab, bidang kajian untuk anak-anak meliputi: (a) berenang, (b) mengendarai kuda, (c) memanah, (d) membaca dan menghafal syair-syair mudah dan beribahasa. Sedangkan pada tingkat menengah dan tinggi (yang menurut sebagaian peneliti sejarah pendidikan Islam) terdapat pada halaqah di masjid-masjid, ilmu-ilmu yang diajarkan terdiri dari (a) al-Qur’an dan tafsirnya, (b) Hadis dan pengumpulannya, (c) Fiqh (tasyri’). Demikian keadaannya sampai akhir masa Umaiyah.[38] (makalah)

Untuk mendapatkan gambaran tentang isi kurikulum pendidikan Islam tingkat dasar pada masa Abbasiyah, bisa disimak pesan Harun al-Rasyid kepada Ahmar (guru sekolah istana), pendidik putranya/putra mahkota, Al-Amin, katanya: 

Aku serahkan kepadamu kehidupan jiwa dan buah hatiku; aku memberimu kekuasaan atasnya dan membuatnya patuh kepadamu. Karenanya kamu harus membuktikan diri sebagai orang yang layak menerima kedudukan ini. Ajarlah dia al-Qur’an, sejarah, puisi, hadis, dan penghargaan terhadap kefasihan bahasa. Cegah dia dari tertawa, kecuali pada kesempatan yang sesuai. Biasakan dia untuk menghormati para pemuka Bani Hasyim dan untuk memberikan tempat yang sesuai kepada pemimpin-pemimpin militer bila mereka menghadiri majelisnya. Jangan biarkan waktu berlalu tanpa pelajaran yang bermanfaat baginya, tetapi jangan buat ia sedih. Jangan terlalu baik padanya, sebab dengan begitu ia akan menjadi malas. Didiklah ia dengan lemah lembut, tetapi kalau itu tidak cukup, engkau boleh memakai kekuatan dan kekerasan.[39] 

Sepanjang masa Abbasiyah, di mana tumbuh berbagai lembaga pendidikan yang menggelar kajian-kajian tingkat tinggi, maka pertumbuhan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam menjadi makin pesat. 

Untuk sekadar menyebut contoh, agar kita dapat menangkap gambaran komposisi kajian sekaligus karakteristik intelektualisme Islam pada masa klasik, di sini disebut Bayt al-Hikmah. Dengan merujuk Ibnu Nadim dari al Fihris, Philip K. Hitti menyatakan: 

 Bayt al-Hikmah atau Rumah Kearifan atau House of Wisdom didirikan oleh Al-Makmun pada 830 (215 H), sebagai wujud ketertarikannya pada rasionalitas dan pengakuannya atas kesejalanan antara rasionalitas dengan ajaran agama. Bayt al-Hikmah yang didirikan di Baghdad merupakan perpaduan bentuk kelembagaan/institusi Akademi, Perpustakaan dan Biro Penerjemahan.[40] 

Bayt al-Hikmah yang didirikan Al-Makmun di istananya,[41] merupakan penggabungan fungsi perpustakaan, pusat pendidikan tinggi, sanggar sastra, lingkaran studi, dan observatorium sekaligus, kesemuanya di bawah pengawasan Khalifah. Berkat hubungan Khalifah Al-Makmun yang luas, maka didatangkanlah bahan-bahan terjemahan berupa buku, manuskrip-manuskrip filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya dari karya bangsa Yunani, baik dari Byzantium ataupun Jundi Shapur.[42] Untuk mengurusi perbendaharaan yang sedemikian banyak maka diangkatlah Sahl Ibnu Harun sebagai Sekretari Bayt al-Hikmah.[43] Sedangkan sebagai kepala Bayt al-Hikmah ditunjuk Yuhanna bin Musawaih pada tahun 830 (215 H) saat pendiriannya. Berkat pengalamannya mengelola lembaga pendidikan di Jundi Shapur, Yuhanna berhasil menjadikan Bayt al-Hikmah sebagai lembaga yang multifungsi.[44] 

Dalam statusnya sebagai lembaga penerjemah, Bayt al-Hikmah memiliki banyak penerjemah yang handal, walaupun pada masa-masa awalnya kebanyakan dari mereka adalah non-muslim. Hal ini dapat dipandang wajar, sebab penerjemahan memerlukan keterampilan penguasaan selain bahasa Arab, juga bahasa asli bahan yang diterjemahkan (Yunani, Persia dan Hebrew). 

Di antara buku yang diterjemahkan Hunain adalah karya-karya Galenus, Hypocrates, Dioscorides, Plato dan Aristoteles. Yang jelas, seluruh karya Galenus tentang anatomi tujuh jilid, dalam bahasa aslinya, Yunani, sudah hilang. Beruntung masih didapatkan dalam versi bahasa Arab.[45] 

 Dalam kedudukannya sebagai perpustakaan, Bayt al-Hikmah merupakan perpustakaan yang pertama kali didirikan di Dunia Islam untuk umum yang mempunyai kedudukan yang tinggi. Buku-buku yang didatangkan dari Yunani, diatur di Bayt al-Hikmah menurut bidangnya masing-masing. Penyalinan-penyalinan ke dalam bahasa Arab dipilih di antara orang yang mahir dalam masing-masing bidang itu, di samping menguasai bahasa Yunani dan Arab.[46] 

 Syalabi, seperti halnya Hitti, memandang Bayt al-Hikmah sebagai institusi multifungsi. Selain sebagai perpustakaan yang pertama, bahkan pembahasaannya diletakkan di bawah judul Jenis Perpustakaan Umum. Syalabi juga memandang Bayt al-Hikmah sebagai institusi pendidikan, seperti dinyatakannya:

Bayt al-Hikmah adalah universitas yang pertama kali sebagai tempat berkumpulnya ulama-ulama dan penyelidik-penyelidik ilmiah, pelajar-pelajar dan mahasiswa-mahasiswa. Dengan begitu, Bayt al-Hikmah adalah suatu “Pusat Ilmu Pengetahuan” yang pertama kali, yang telah menyumbangkan ilmu pengetahuan yang teramat banyak kepada penuntut-penuntutnya, terutama sekali dalam bidang kedokteran, filsafat dan hikmah, dll.[47] 

Kondisinya sebagai lembaga pendidikan tinggi, hanya dapat ditangkap lewat keterangan atau komentar yang sifatnya umum, seperti yang dikemukakan Stanton sebagai contohnya, bahwa:

Di bawah pimpinan Hunain dan anaknya, pusat penerjemahan itu (Bayt al-Hikmah) mengangkat sekelompok ilmuan yang brilian dengan diberikan hak untuk mengkaji dan mengajarkan manuskrip-manuskrip yang baru dan langka, begitu juga laboratorium perbintangan (observatorium) dengan perlengkapan yang baik. Di Bayt al-Hikmah itu, Al-Kindi mendirikan sekolah berbahasa Arab (yang mengajarkan) filsafat paripatetik yang kemudian dikembangkan oleh al-Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Rushd. Di tempat ini juga al-Khawarizmi tidak hanya memberikan sumbangan bagi filsafat, teologi dan matematika, tetapi juga malakukan penelitian laboratorium perbintangan.[48] 

Pada masa-masa tersebut, komposisi bidang kajian memang sangat luas sehingga secara umum menampakkan sifat pendidikan Islam yang konprehensif dan universal, mancakup ilmu-ilmu agama, umum dan filsafat. Nakosteen mencatat bahwa pada masa-masa itu:

Bukan suatu yang luar biasa menemukan pelajaran matematika (ajabar, trigonometri, dan geometri); sains (kimia, fisika dan astronomi); ilmu kedokteran (anatomi, pembedahan, farmasi); filsafat (logika, etika dan metafisika); kesusasteraan (filologi, tata bahasa, puisi dan ilmu persajakan); ilmu-ilmu sosial (sejarah, geografi, disiplin yang berhubungan dengan politik, hukum, sosiologi, psikologi dan jurisprudensi/fiqih); teologi (perbandingan agama, sejarah agama-agama); studi al-Qur’an, tradisi religius (hadis) dan topik-topik religius lain.[49]

Berkat daya dorong dari buah model komposisi kajian keilmuan yang komprehensif seperti itu, pendidikan Islam dan peradaban Islam mencapai titik puncak keemasannya pada akhir masa klasik.

Transformasi Sebuah Tradisi Intelektual Islam – Terlepas dari berbagai sebab, kemudian lepasnya ilmu pengetahuan dan filsafat dari tangan kaum muslimin,[50] Nakosteen mengkaim bahwa bencana terbesar yang menimpa ilmu pengetahuan muslim adalah bencana penyerbuan bangsa Mongol pada abad ketiga belas (1258, jatuhnya Baghdad). Tentara Mongol menghancurkan sangat banyak institusi-institusi ilmu pengetahuan terbesar di Khurasan dan Baghdad. Setelah itu universitas-universitas tidak pernah memperoleh kembali semangat dan keelokannya dahulu kala.[51] Suatu perkembangan besar yang efeknya sangat merugikan kualitas ilmu pengetahuan pada abad-abad pertengahan Islam adalah penggantian naskah-naskah mengenai teologi, filsafat, jurisprudensi dan sebagainya, sebagai materi-materi pengajaran tinggi, dengan komentar-komentar dan super-komentar (syarh).[52] Dibarengi dengan tekanan metodologis pada hafalan (memorize) daripada “ambisi pemahaman dan penyelidikan bebas”.[53] 

Gambaran karakteristik intelektualisme Islam zaman pertengahan (pasca rera klasik) dikemukakan Stanton sebagai berikut:

Dengan pengawasan lembaga-lembaga pendidikan di tangan kaum tradisionalis, ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial tidak berkembang maju. Ilmu pengetahuan dan teknologi dicurigai dan dianggap tidak perlu untuk mengarahkan kehidupan yang utuh dalam peradaban Islam. Tanpa keseriusan dalam mempelajari fenomena alam dan sosial yang terus menerus, pendidikan Islam kehilangan rangsangan untuk melakukan usaha intelektual dan (kehilangan) momentum untuk mendapatkan ilmu baru. Buah dari filsafat dan ilmuwan Islam yang brilian berpindah ke Eropa zaman pertengahan dan merangsang usaha pencarian ilmu pengetahuan… Disamping kehilangan nilai akademik untuk mempelajari ilmu pengetahuan pada semua bidang studi dan keilmuan, lembaga-lembaga pendidikan juga mengidap cirri-ciri kelembagaan yang menyebabkan hilangnya kreativitas intelektual mereka. Madrasah dan masjid-akademi kehilangan dukungan organisasi untuk melanjutkan independensi pembaharuan struktur dan fungsinya.[54] 

Lebih lanjut[55] diisyaratkan dalam sejarah bahwa system madrasah yang secara luas didasarkan pada sponsor dan kontrol Negara, umumnya telah dipandang sebagai sebab kemunduran dan kemacetan ilmu pengetahuan dan kesarjanaan Islam. Tetapi madrasah dengan kurikulumnya yang terbatas hanyalah gejala, bukan sebab sebenarnya dari kemunduran ini, walaupun, tentu saja, ia mempercepat dan melestarikan kemacetan tersebut. Tetapi sebab sebenarnya dari penurunan kualitas ilmu pengetahuan Islam adalah kekeringan yang gradual dari ilmu-ilmu keagamaan karena pengucilannya dari kehidupan intelektualisme sekuler yang juga kemudian mati. Dari penentangan mereka yang berhasil dari kaum Muktazilah dan Syi’ah, para ulama telah memperoleh pengalaman dalam mengembangkan ilmu-ilmu mereka sendiri dan mengajarkannya dengan cara sedemikian rupa yang bisa mengokohkan perkembangan ilmu-ilmu tersebut. Ini tidak hanya memperoleh hubungan dengan faktor yang relatif eksternal, yaitu system sekolah yang secara fisik jadi terisolir dari oposisi. Bahkan yang lebih penting lagi adalah cara dimana isi dari ilmu-ilmu ortodoks tersebut dikembangkan, hingga dapat diisolir dari kemungkinan tantangan dan oposisi.

Karena menyempitnya lapangan pengetahuan umum melalui tiadanya pemikiran umum dan sains-sains kealaman, maka kurikulum dengan sendirinya menjadi terbatas pada ilmu-ilmu keagamaan murni dengan gramatika dan kesusasteraan sebagai alat-alatnya yang memang diperlukan. 

Memasuki zaman modern, kecenderungan integratif antara ilmu-ilmu keagamaan dan ilmu-ilmu sekuler, kembali ditawarkan untuk mengantisipasi pembinaan dunia pendidikan Islam dalam menghadapi tantangan dan tuntutan zaman yang terus berubah dengan cepat. Tantangan dan tuntutan zaman yang terus berubah, tak ayal lagi memaksa masyarakat muslim menyesuaikan diri. Caranya, dengan mengadakan pembaharuan, terutama dalam bidang pendidikan. Sebab pendidikan memiliki posisi strategis dalam upaya pembaharuan, seperti ditegaskan Fazlur Rahman, “pembaharuan yang bagaimanapun yang mau dilakukan sekrang ini mestilah dimulai dengan pendidikan”.[56] Pembaharuan di segala bidang, baik menyangkut kelembagaan maupun isi/konten dan cita-cita dari pendidikan itu, yang dalam perspektif Fazlur Rahman disebutnya sebagai pembaharuan modernis praktis dan pertimbangan modernis teoretis.[57] Pembaharuan, sebelum di tempat lain, pada urutan pertama berlangsung di Turki menjelang pertengahan abad 19, kemudian meluas ke seluruh kekuasaan Turki Uthmani di Timur Tengah. Dan pembaharuan dalam pendidikan mulai digarap oleh Sultan Muhammad II (1808-1839 M) dengan memperkenalkan sekolah Rushdiyah yang sepenuhnya mengikuti system Eropa. Pengalaman yang sama juga ditempuh Mesir, dimulai oleh Muhammad Ali Pasha yang pada tahun 1833 mengeluarkan dekrit pembentukan sekolah dasar umum yang dalam perkembangannya hidup berdampingan dengan madrasah dan kuttab.[58] 

Dalam perkembangan lebih lanjut, pada paruh kedua abad 19, lima orang modernis muslim terkemuka muncul untuk memformulasikan dan menjelaskan sikap positif Islam terhadap sains dan pengembaraan intelektual terhadap alam secara bebas. Kelima tokoh tersebut Sayyid Ahmad Khan dan Sayyid Amir Ali dari India, Jamaluddin al-Afghani dan Namik Kemal dari Turki dan Shaikh Muhammad Abduh dari Mesir. Kelima modernis muslim tersebut hidup sezaman, namun yang menakjubkan adalah walaupun mereka tidak pernah berjumpa, kecuali al-Afghani dan Abduh, mereka memiliki kemiripan argumentasi dalam menunjang ide dan gagasan dan pembaharuan yang secara integral dapat disebut: 

(1)                bahwa suburnya perkembangan sains dan semangat ilmiah dari abad kesembilan hingga ketigabelas di kalangan muslim adalahbuah dari usaha memenuhi tuntutan al-Qur’an agar manusia mengkaji alam semesta karya Tuhan, yang telah diciptakan baginya; (2) bahwa pada abad-abad pertengahan yang akhir semangat penyelidikan ilmiah telah merosot dan karenanya masyarakat muslim lalu mengalami kemacetan dan kemerosotan; (3) bahwa Barat telah mengalahkan kajian-kajian ilmiah yang sebagian besarnya telah dipinjamnya dari kaum muslimin dan karena itu mereka memperoleh kemakmuran, bahkan menjajah negeri-negeri muslim sendiri; dan (4) bahwa karenanya kaum muslimin, dalam mempelajari sains dari Barat yang telah berkembang, akan berarti menemukan kembali masa lalu mereka dan memenuhi kembali perintah al-Qur’an yang terabaikan.[59]

Sejak itu, upaya-upaya pembaharuan pendidikan dalam sisi kelembagaan, cita-cita dan isi/konten maupun metode, terus bergulir dan meluar ke berbagai kawasan negeri muslim, seiring dengan bermunculannya tokoh-tokoh pembaharu yang lebih kemudian hingga abad kita ini.

Demikian ulasan singkat seputar Transformasi Sebuah Tradisi Intelektual Islam, semoga bermanfaat.

[1] Muhammad Akhlaq Ahmad, Traditional Education Among Muslim, (New Delhi: BR. Publishing Coorporation, 1985), 1.

[2] Hasan Asari, Menyingkap Zaman Keemasan Islam, (Bandung: Mizan, 1994), 16.

[3] Jawad ‘Ali, Al-Mufashshal fi Tarikh al-‘Arab Qabl al-Islam, (Baghdad: Dar al-Nahdlah, 1978), VII, 295. Juga Ahmad Syalabi, “Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyah”, terj. H. Muchtar Yahya dan M. Sanusi Latief, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), 33.

[4] Ahmad Syalabi, Ibid.

[5] Azyumardi Azra, Pendidikan Tinggi Islam dan Kemajuan Sains, pengantar dalam Charles Michael Stanton, ”Higher Learning in Islam: The Clasical Periode, A.D. 700-1.300”, terj. H. Afandi dan Hasan Asari, Pendidikan TInggi Islam, (Jakarta: Logos Publishing House, 1994), v.

[6] Ahmad Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam, 94.

[7] Mengenai lembaga pendidikan yang paling awal dalam masyarakat Islam, khususnya antara kuttab dan masjid nampaknya tidak terdapat kesepakatan di kalangan pemerhati sejarah pendidikan Islam. Dan pada umumnya dalam pembicaraan tentang kelembagaan awal tersebut tidak disertai dengan pencantuman “waktu” dimulai/didirikanya. Dari sisi urutan penulisan, juga terdapat perbedaan. Syalabi umpamanya mendahulukan menulis tentang kuttab baru kemudian tentang masjid. Lihat, Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam, 33, 92. Sama halnya dengan Munir-ud Dind Ahmed, lihat Munir-ud Din Ahmed, Muslim Education and The Scholars Social Status, (Zurich: Verlag Der-Islam, 1968), 40, 115. Juga Bayard Dogde, dalam membicarakan tentang pendidikan dasar ataupun pendidikan tinggi, hanya menyebut masjid dan madrasah, tidak menyebut kuttab. Lihat, Bayard Dogde, Muslim Education in Medieval Time, (Washington D.C. : The Mediebal East Institute, 1962), 3, 19, 24. Sedangkan George Makdisi menyebut masjid lebih dulu baru kuttab. Lihat, George Makdisi, The Rise of Colleges: Institution of Learning in Islam and the West, (Edinburg: Edinburg University Press, 1981), 10. Terlepas dari perbedaan tersebut yang tentunya memiliki pembenaran sendiri-sendiri, dalam tulisan ini kuttab disebut lebih dulu, dengan salah satu pertimbangan untuk memudahkan pembicaraan transformasi kelembagaan tersebut sampai ke madrasah, disamping memang secara kronologis kuttab tersebut lebih dulu adanya dari pembangunan masjid oleh Nabi Saw. bersama para pengikutnya. Namun demikian, bisa juga dipahami bahwa masjid sebagai tempat pendidikan pertama bagi orang dewasa, sedangkan kuttab bagi anak-anak.

[8] Ahmad Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam, 33-39.

[9] Ibid, 43

[10] Jonathan Berkey, The Transmission of Knowledge in Medieval Cairo: A Social History of Islamic Education, (Princeton NJ: Princeton University Press, t.th.), 28

[11] Charles Michael Stanton, Higher Learning in Islam The Classical Period, AD. 700-1.300, (Maryland: Rowman & Littlefield Publishing, 1990), 15

[12]George Makdisi, The Rise of Colleges, 19

[13] Dalam terma Makdisi disebutkan sebagai the mosque, masjid, was the first institution of learning in Islam. Lihat, Ibid, 10

[14] Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam, 92

[15] Makdisi, The Rise of Colleges, 12 dan Stanton, Higher Learning…, 29

[16] Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam, 96-105 dan Makdisi, The Rise of Colleges, 12-21.

[17] Makdisi, The Rise of Colleges, 23.

[18] Ibid, 21 dan Bayard Dogde, Muslim Education in Medieval Time, 24-26

[19] Para peneliti sejarah pendidikan Islam yang menulis dalam bahasa-bahasa Barat menerjemahkan madrasah secara bervariasi misalnya: schedule atau hoch schule (Jerman), school, college atau academy (Inggris). Tetapi tak satupun dari kata-kata ini yang benar-benar memadai untuk menggambarkan madrasah secara tepat. Lihat, Hasan Asari, Pendidikan TInggi Islam, 44.

[20] Makdisi, The Rise of Colleges, 32.

[21] George Makdisi, “Muslim Institution of Learning ini Elevan Century Baghdad”, dalam Bulletin of the School of Oriented and African Studies, xxiv, 1961, (1-59), 10, 14.

[22] Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam, 106-107.

[23] Makdisi, The Rise of Colleges, 32.

[24] Untuk madrasah yang didirikan sebelum era Nizamiyah dapat dilihat Appendix The Madrasa pada Richard Bulliet, The Patrician of Nishapur: A Study in Medieval Islamic Sosial History, (Cambridge: Harvard University Press, 1972), 251-255.

[25] Azyumadi Azra, Pendidikan Tinggi Islam dan Kemajuan Sains, vi.

[26] Untuk keterangan lebih rinci tentang lembaga pendidikan non formal ini, lihat, Stanton, Higher Learning in Islam The Classical Period, 121-142; Makdisi, The Rise of Colleges, 24-26; dan Nakosteen, 60-66, 93-96.

[27] Stanton, Higher Learning in Islam The Classical Period, 9, 17.

[28] A. S. Tritton, Materials on Muslim Education in the Middle Ages, (London: Luzak & Co. Ltd, 1957), 40.

[29] Munir ud-Din Ahmed, Muslim Education and The Scholars Social Status, 52-93.

[30] Makdisi, The Rise of Colleges, 99-153.

[31]Mehdi Nakosteen, “History of Islamic Origin of Western Education, AD. 800-1350; With an Introduction to Medieval Muslim Education”, terj. Joko S. Kahar dan S. Abdullah, Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat: Deskripsi Analisis Abad Keemasan Islam, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996), 78.

[32] Berkey, The Transmission of Knowledge in Medieval Cairo, 21.

[33] Ibid, 21-22.

[34] Abd. Al-Rahman Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, (Beirut-Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1992/1413), Jilid I, 626-627.

[35] Ahmed menjelaskan hal ini secara panjang lebar dalam pasal khusus tentang rihlah. Lihat, Ahmed, 100-111. Demikian pula Syalabi secara rinci menjelaskan mengenai rihlah ini lengkap dengan nama ulama masyhur di bidangnya masing-masing. Lihat, Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam, 321-332.

[36] Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1997), 14-33.

[37] Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam, 35 dan Stanton, Higher Learning in Islam The Classical Period, 15.

[38] H. Muhammad Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1990), 40.

[39] Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, 262; Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam, 51; A. S. Tritton, Materials on Muslim Education in the Middle Ages, 5 dan Stanton, Higher Learning in Islam The Classical Period, 16.

[40] Philip K. Hitti, History of the Arabs, (Mcmillan New York: St. Martin’s Press, 1968), 310. Juga, Bayard Dogde, Muslim Education in Medieval Time, 16., Transformasi Sebuah Tradisi Intelektual Islam.

[41] Stanton, Higher Learning in Islam The Classical Period, 83.

[42] Ibid, 164.

[43] Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam, 171.

[44] Tim Penulis IAIN Syahid, Ensiklopedi Islam, 160.

[45] Philip K. Hitti, History of the Arabs, 313.

[46] Syalabi, Loc.cit.

[47] Syalabi, Loc.cit., 172.

[48] Stanton, Higher Learning in Islam The Classical Period, 169.

[49] Nakosteen, Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat, 71; bandingkan dengan Stanton, Higher Learning in Islam The Classical Period, 45-46; Lihat juga Makdisi, The Rise of Colleges, 80-91; juga A. S. Tritton, Materials on Muslim Education in the Middle Ages, 130-139.

[50] Muhammad Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, 118-120. Juga Fazlur Rahman, Islam & Modernity, 33-35.

[51] Nakosteen, Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat, 72.

[52] Fazlur Rahman, Islam & Modernity, 43.

[53] Statement tersebut adalah dari Bassam Tibi dikutib dari Azra. Lihat Azra, Pendidikan Tinggi Islam dan Kemajuan Sains, xv.

[54] Stanton, Higher Learning in Islam The Classical Period, 232-233.

[55] Lebih rinci tentang karakteristik transformasi intelektualisme Islam zaman Tengah dapat dilihat pada Rahman, Islam & Modernity, 269-281.

[56] Ibid, 384.

[57] Fazlur Rahman, Islam & Modernity, 46, 59.

[58] Azyumadi Azra, “Pesantren: Kontinuitas dan Perubahan”, Pengantar dalam Nurcholis Majid, Bilik-bilik Pesantren, 123. Catatan lain menunjukkan bahwa pada 1899 berdiri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang oleh K.H. Hasyim Asy’ary sedangkan madrasahnya secara formal berdiri pada tahun 1919 bernama Salafiyah. Lihat, Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam, 144.

[59] Fazlur Rahman, Islam & Modernity, 50-51., Transformasi Sebuah Tradisi Intelektual Islam

Share This:

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *