Kemajuan Kerajaan Turki Usmani, Lengkap!

Kerajaan Turki Usmani

Kerajaan Turki Usmani

 

  1. Sejarah berdirinya Turki Usmani

Kemajuan Kerajaan Turki Usmani – Nama kerajaan Turki Usmani diambil dan dibangsakan pada nenek moyang mereka yang pertama yaitu Sultan Usmani Ibn Sauji ibn Orthogol Ibn Sulaiman Shah Ibn Kia Alp, kepala kabilah Kab di Asia Tengah[1].

Usmani semula adalah keluarga kecil suku Ughu / Oghus yang kemudian bergabung dengan kerajaan Saljuk ketika terkena serangan tentara Mongol.

Pemerintahan Dinasti Usmani (1281-1924 M.) didirikan oleh Usman cucu Orthogol, bangsa Turki, dan kabilah Oghus yang berasal dari Mongol,[2].

Setelah Orthogol meninggal dunia pada tahun 1289 M, (atas penunjukan sultan Alauddin), kepemimpinan dilanjutkan oleh cucunya Usman. Cucu Ortoghol inilah yang kemudian dianggap sebagai pendiri kerajaan Usmani. Usman memerintah antara 1290-1326 M, ia sebagaimana eyangnya (Ortoghol), banyak berjasa pada Sultan Alauddin II (Sultan Saljuk Rum) dengan keberhasilannya menduduki benteng-benteng Bizantium yang berdekatan dan kota Broessa[3].

Pada tahun 1300 M, bangsa Mongol menyerang kerajaan Saljuk dan Sultan Alaudin II terbunuh. Kerajaan Saljuk Rum ini kemudian terpecah-pecah di dalam beberapa kerajaan. Usmani pun menyatakan kemerdekaannya dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya. Sejak itulah kerajaan Usmani dinyatakan berdiri. Penguasa pertamanya adalah Usman atau yang disebut Usman I.
Tahun demi tahun daerah kekuasaan Usmani terus meluas, kekuasaan dipegang oleh khalifah-khalifah yang banyak jumlahnya. Dimulai dari sang pendirinya yakni Usman I putra Sauji ibn Orthoghol (1281-1324 M) sampai pada khalifah terakhir Abdul Majid II (1922-1924 M)[4].Setelah Usman pengumumkan dirinya sebagai Padishah Ali Usman (Raja besar keluarga Usman) tahun 699 H (1300 M) setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat diperluasnya. Ia menyerang daerah perbatasan Bizantium dan menaklukkan kota Broessa pada tahun 1317 M, kemudian pada tahun 1326 M dijadikan sebagai ibu kota kerajaan.

Perkembangan wilayah dan pemerintahan Kerajaan Turki Usmani

Kerajaan Turki Usmani – Erthogrol adalah pemimpin Turki Usmani yang telah mendapat suatu daerah di bagianIskisyhar. Daerah ini mereka jadikan ibukota kerajaan untuk mengembangkan perjuangan umat Islam, khususnya di Turki Usmani.

Setelah Erthogrol meninggal dunia pada tahun 1289 M, kepemimpinan dilanjutkan oleh puteranya bernama Usman. Putra Erthogrol inilah yang dianggap sebagai pendiri kerajaan Usmani. Usman memerintah antara tahun 1290 M-1326 M. Sebagaimana ayahnya, ia banyak berjasa kepada Sultan Alaudin II dengan keberhasilannya menduduki benteng-benteng Bizantium yang berdekatan dengan kota Broessa.

Pada tahun 1300 M, bangsa Mongol menyerang kerajaan Saljuk sehingga Alauddin terbunuh. Kerajaan Saljuk ini kemudian terpecah-pecah dalam beberapakerajaan kecil. Usman pun menyatakan kemerdekaan dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya. Sejak itulah kerajaan Usman dinyatakan berdiri. Pengurus pertamanya adalah Usman yang sering juga disebut Usman I.

Setelah Usman I menyatakan dirinya sebagai Padisyah Al Usman (Raja besar keluarga Usman) tahun 699 H (1300 M) setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat diperluasnya. Ia menyerang daerah perbatasan Bizantium dan menaklukkan kota Broessa tahun 1317 M, kemudian pada tahun 1326 M dijadikan sebagai ibu kota kerajaan. Berikut perluasan wilayah kerajaan Turki Usmani :

  1. Sultan Ustman bin Urtoghal (699-726 H/ 1294-1326 M)

Kerajaan Turki Usmani – Ketika Usman sebagai pemimpin kerajaan Turki, dan sesaat setelah dia mengumumkan dirinya sebagai Padisyah al-Usman (raja besar keluarga Usman), pada tahun 1300 M. dia memulai mengembangkan wilayah Islam. Perluasan wilayah (ekspansi) para Sultan Utsmani menjadi model. Hal ini berlangsung paling tidak sampai dengan masa Pemerintahan Sulaiman I. untuk mendukung hal itu, Orkhan membentuk pasukan tangguh yang dikenal dengan Inkisyariyyah. Pasukan Inkisyariyah adalah tentara utama Dinasti Utsmani yang terdiri dari bangsa Georgia dan Armenia yang baru masuk Islam. Ternyata, dengan pasukan tersebut seolah-olah Dinasti Utsmani memiliki mesin perang yang paling kuat dan memberikan dorongan yang besar sekali bagi penaklukan negeri-negeri non Muslim. Maka pada masa orkhan I kerajaan Turki Utsmani dapat ditaklukkan Azmir (Asia kecil), tahun 1327, Thawasyani (1330), Uskandar (1338), Ankara (1354), dan Gholipolli (1356). Daerah Golipolli ini adalah bagian dunia Eropa yang pertama kali dapat dikuasai kerajaan Utsmani.[6]

  1. Sultan Urkhan bin Utsman (726-761 H/ 1326-1359 M)

Kerajaan Turki Usmani – Sultan Urkhan adalah putera Utsman I. sebelum urkhan ditetapkan menjadi raja, ia telah banyak membantu perjuangan ayahnya. Dia telah menjadikan Brousse sebagai ibu kota kerajaannya.[7]Pada masa pemerintahannya, dia berhsil mengalahkan dan menguasai sejumlah kota di selat Dardanil. Tentara baru yang dibentuk oleh Urkhan I diberi nama Inkisyaiah. Pasukan ini dilengkapi dengan persenjataan dan pakaian seragam. Di zaman inilah pertama kali dipergunakan senjata meriam.

  1. Sultan Murad I bin Urkhan (761-791 H/ 1359-1389 M)

Kerajaan Turki Usmani – Pengganti sultan Urkhan adalah Sultan Murad I. selain memantapkan keamanan di dalam negrinya, sultan juga meneruskan perjuangan dan menaklukkan beberapa daerah ke benua Eropa. Ia menaklukkan Adrianopel/ Edirne, yang kemudian dijadikan sebagai ibukota kerajaan yang baru serta membentuk pasukan berkuda (Kaveleri). Perjuangannya terus dilanjutkan dengan menaklukkan Macedonia, Shopia ibukota Bulgaria, dan seluruh wilayah bagian utara Yunani.Karena banyaknya kota-kota yang ditaklukkan oleh Murad I, pada waktu itu bangsa Eropa mulai cemas. Akhirnya raja-raja Kristen Balkan meminta bantuan Paus Urban II untuk mengusir kaum muslimin dari daratan Eropa. Maka peperangan antara pasukan Islam dan Kristen Eropa pada tahun 765 H (1362 M). Peperangan itu dimenangkan oleh pasukan Murad I, sehingga Balkan jatuh ke tangan umat Islam. Selanjutnya pasukan Murad I merayap terus menguasai Eropa Timur seperti Somakov, Sopia Monatsir, dan Saloniki.[8]

  1. Sultan Bayazid I bin Murad ( 791-805 H/ 1389-1403 M)

Kerajaan Turki Usmani – Bayazid adalah putra Murad I. Ia meneruskan perjuangan ayahnya dengan memperluas wilayahnya seperti Eiden, Sharukan, dan Mutasya di Asia Kecil dan Negeri-negeri bekas kekuasaan Bani saluki. Bayazid sangat besar pengaruhnya, sehingga mencemaskan Paus. Kemudian Paus Bonifacius mengadakan penyerangan terhadap pasukan Bayazid, dan peperangan inilah yang merupakan cikal bakal terjadinya Perang Salib.Tentara Salib ketika itu terdiri dari berbagai bangsa, namun dapat dilumpuhkan oleh pasukan Bayazid. Namun pada peperangan berikutnya ketika melawan Timur Lenk di Ankara, Bayazid dapat ditaklukkan, sehingga mengalami kekalahan dan ketika itu Bayazid bersama putranya Musa tertawan dan wafat dalam tahanan Timur Lenk pada tahun 1403 M. Kekalahan Bayazid di Ankara itu membawa akibat buruk bagi Turki Usmani, sehingga penguasa-penguasa Saljuk di Asia Kecil satu persatu melepaskan diri dari genggaman Turki Usmani. Hal ini berlangsung sampai pengganti Bayazid muncul.[9]

  1. Sultan Muhammad I bin Bayazid (816-824 H/ 1413-1421 M)

Kekalahan Bayazid membawa akibat buruk terhadap penguasa-penguasa Islam yang semula berada di bawah kekuasaan Turki Usmani, sebab satu sama lain berebutan, seperti wilayah Serbia, dan Bulgeria melepaskan diri dari Turki Usmani. Suasana buruk ini baru berakhir setelah Sultan Muhammad I putra Bayazid dapat mengatasinya. Sultan Muhammad I berusaha keras menyatukan kembali negaranya yang telah bercerai berai itu kepada keadaan semula. Berkat usahanya yang tidak mengenal lelah, Sultan Muhammad I dapat mengangkat citra Turki Usmani sehingga dapat bangkit kembali, yaitu dengan menyusun pemerintahan, memperkuat tentara dan memperbaiki kehidupan masyarakat. Akan tetapi saat rakyat sedang mengharapkan kepemimpinannya yang penuh kebijaksaan itu, pada tahun 824 H (1421 M) Sultan Muhammad I meninggal.[10]

  1. Sultan Murad II bin Muhammad ( 824-855 H/ 1421-1451 M)

Sepeninggalannya Sultan Muhammad I, pemerintahan diambil alih oleh Sultan Murad II. Cita-citanya adalah melanjutkan usaha perjuangan Muhammad I. Perjuangan yang dilaksanakannya adalah untuk menguasai kembali daerah-daerah yang terlepas dari kerajaan Turki Usmani sebelumnya. Daerah pertama yang dikuasainya adalah Asia Kecil, Salonika Albania, Falokh, dan Hongaria.Setelah bertambahnya beberapa daerah yang dapat dikuasai tentara Islam, Paus Egenius VI kembali menyerukan Perang Salib. Tentara Sultan Murad II menderita kekalahan dalam perang salib itu. Akan tetapi dengan bantuan putranya yang bernama Muhammad, perjuangan Murad II dapat dilanjutkan kenbali yang pada akhirnya Murad II kembali berjaya dan keadaan menjadi normal kembali sampai akhir kekuasaan diserahkan kepada putranya bernama Sultan Muhammad Al-Fatih.[11]

  1. Sultan Muhammad Al-Fatih (855-886 H/ 1451-1481 M)

Setelah Sultan Murad II meninggal dunia, pemerintahan kerajaan Turki Usmani dipimpin oleh putranya Muhammad II atau Muhammad Al-Fatih. Ia diberi gelar Al-fatih karena dapat menaklukkan Konstantinopel. Muhammad Al-Fatih berusaha membangkitkan kembali sejarah umat Islam sampai dapatmenaklukkan Konstantinopel sebagai ibukota Bizantium. Konstantinopel adalah kota yang sangat penting dan belum pernah dikuasai raja-raja Islam sebelumnya. Seperti halnya raja-raja dinasti Turki Usmani sebelumnya, Muhammad Al-Fatih dianggap sebagi pembuka pintu bagi perubahan dan perkembangan Islam yang dipimpin Muhammad.Tiga alasan Muhammad menaklukkan Konstantinopel, yaitu:

  1. Dorongan iman kepada Allah SWT, dan semangat perjuangan berdasarkan hadits Nabi Muhammad saw untuk menyebarkan ajaran Islam.
  2. Kota Konstantinopel sebagai pusat kemegahan bangsa Romawi.
  3. Negrinya sangat indah dan letaknya strategis untuk dijadikan pusat kerajaan atau perjuangan.[12]

Usaha mula-mula umat Islam untuk menguasai kota Konstantinopel dengan cara mendirikan benteng besar dipinggir Bosporus yang berhadapan dengan benteng yang didirikan Bayazid. Benteng Bosporus ini dikenal dengan nama Rumli Haisar (Benteng Rum).Benteng yang didirikan umat Islam pada zaman Muhammad Al-Fatih itu dijadikan sebagai pusat persediaan perang untuk menyerang kota Konstantinopel. Setelah segala sesuatunya dianggap cukup, dilakukan pengepungan selama 9 bulan. Akhirnya kota Konstantinopel jatuh ke tangan umat Islam ( 29 Mei 1453 M) dan Kaitsar Bizantium tewas bersama tentara Romawi Timur. Setelah memasuki Konstantinopel disana terdapat sebuah gereja Aya Sofia yang kemudian dijadikan masjid bagi umat Islam.

Setelah kota Konstantinopel dapat ditaklukkan, akhirnya kota itupun dijadikan sebagai ibukota kerajaan Turki Usmani dan namanya diganti menjadi Istanbul. Jatuhnya kota Konstantinopel ke tangan umat Islam, berturut-turut pula dapat dikuasai negri sekitarnya seperti Servia, Athena, Mora, Bosnia, dan Italia. Setelah pemerintahan Sultan Muhammad, berturut-turut kerajaan Islam dipimpin oleh beberapa Sultan, yaitu:

  1. Sultan Bayazid II (1481-1512 M)
  2. Sultan Salim I (918-926 H/ 1512-1520 M)
  3. Sultan Sulaiman (926-974 H/ 1520-1566 M)
  4. Sultan Salim II (974-1171 H/ 1566-1573 M)
  5. Sultan Murad III ( 1573-1596 M)

Setelah pemerintahan Sultan Murad III, dilanjutkan oleh 20 orang Sultan Turki Usmani sampai berdirinya Republik Islam Turki. Akan tetapi kekuasaan sultan-sultan tersebut tidak sebesar kerajaan-kerajaan sultan-sultan sebelumnya. Para sultan itu lebih suka bersenang-senang., sehingga melupakan kepentingan perjuangan umat Islam. Akibatnya, dinasti turki Usmani dapat diserang oleh tentara Eropa, seperti Inggris, Perancis, dan Rusia. Sehingga kekuasaan Turki Usmani semakin lemah dan berkurang karena beberapa negri kekuasaannya memisahkan diri,diantaranya adalah:

  1. Rumania melepaskan diri dari Turki Usmani pada bulan Maret 1877 M.
  2. Inggris diizinkan menduduki Siprus bulan April 1878 M.
  3. Bezarabia, Karus, Ardhan, dan Bathum dikuasai Rusia.
  4. Katur kemudian menjadi daerah kekeusaan Persia.

Dengan adanya berbagai ekspansi, menyebabkan ibukota Dinasti Utsmani berpindah-pindah. Sebagai contoh, sebelum Usman I memimpin Dinasti Utsmani, ia mengambil kota Sogud sebagai ibukotanya. Kemudian setelah penguasa Dinasti Utsmani dapat menaklukkan Broessa pada tahun 1317, maka pada tahun 1326 Broessa dijadikan ibukota pemerintahan. Hal ini berlangsung sampai pemerintahan Murad I. ternyata, di masa Murad I kota Adrianopel yang ditaklukkannya itu dijadikan sebagai ibukota pemerintahan. Sampai ditaklukkanya Constantinopel oleh Muhammad II, yang kemudian diganti namanya menjadi Istambul sebagai ibukota pemerintahan yang terakhir.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kesuksesan Dinasti Turki Utsmani dalam perluasan wilayah Islam, dan antara lain adalah:

  1. ke-mampuan orang-orang Turki dalam strategi perang terkombinasi dengan cita-cita memperoleh ghanimah, harta rampasan perang;
  2. sifat dan karakter orang Turki yang selalu ingin maju dan tidak pernah diam serta gaya hidupnya yang sederhana, sehingga memudahkan untuk tujuan penyerangan;
  3. semangat jihad dan ingin mengembangkan Islam;
  4. letak Istambul yang sangat strategis sebagai ibukota kerajaan juga sangat menunjang kesuksesan perluasan wilayah ke Eropa dan Asia. Istambul terletak antara dua benua dan dua selat (selat Bosphaoras dan selat Dardanala), dan pernah menjadi pusat kebudayaan dunia, baik kebudayaan Macedonia, kebudayaan Yunani maupun kebudayaan Romawi Timur;
  5. kondisi kerajaan-kerajaan di sekitarnya yang kacau memudahkan Dinasti Utsmani mengalahkannya

Demikian ulasan singkat seputar Kerajaan Turki Usmani, semoga bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003

Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2008.

Hamka, Sejarah Umat Islam III, Jakarta: Bulan Bintang, Tanpa Tahun

Ira Lapidus, Sejarah social Ummat Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999.

Mahayudin yahaya dan Ahmad Jaelani Halimi, Sejarah Islam, Selangor: Fajar Bakti, 1995.

Moh. Nurhakim, Sejarah dan Peradaban Islam, Malang: UMM Press, 2004.

Philip K. Hitti,History of The Arabs Trj.Cecep lukman dan Dedi slamet riyadi,History Of The arabs(jakarta :PT.Serambi Ilmu Semesta,2010)

Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam,Jakarta: Amzah, 2009.

Taufiqurrahman, sejarah Sosial Politik Masharakat Islam Daras Sejarah Peradaban Islam, Surabaya: CV Malowopati, 2003.

http://www.surgamakalah.com/2011/09/islam-di-turki-masa-lalu.html

[1] Didi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung : CV Pustaka Setia, 2008), h 248

[2] Taufiqurrahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam Daras Sejarah Peradaban Islam, (Surabaya : CV Malowopati, 2003), h 225

[3] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2003), h 130. Lihat, Hamka, Sejarah Umat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, tanpa tahun), h. 205.

[4] Moh Nurhakim, Sejarah dan Peradaban Islam, (Malang : UMM Press, 2004), h 132

[5] Di kutib dari buku Mahayuddin yahaya dan ahmad jeilani halimi, sejarah Islam, (Selangor, Fajar Bakti, 1993), h 396

[6]http://www.surgamakalah.com/2011/09/islam-di-turki-masa-lalu.html

[7]Philip K. Hitti,History of The Arabs Trj.Cecep lukman dan Dedi slamet riyadi,History Of The arabs(jakarta :PT.Serambi Ilmu Semesta,2010)h 905

[8]http://www.surgamakalah.com/2011/09/islam-di-turki-masa-lalu.html

[9]Ibid

[10]Ibid

[11]Ibid

[12]Ibid

Share This:

Comments
  1. Undi
    • admin _brow

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *