Gerakan Oposisi Terhadap Bani Umayyah, Lengkap!

Gerakan Oposisi Terhadap Bani Umayyah
Gerakan Oposisi Terhadap Bani Umayyah
BELAJAR SEJARAH ISLAM – Gerakan Oposisi Terhadap Bani Umayyah – Pada akhir-akhir masa jatuhnya Bani Umayyah, telah muncul gerakan-gerakan penentang terhadap dinasti ini, sehingga memperkeruh kondisi dinasti(kerajaan) ini pada saat itu.

Gerakan Oposisi Terhadap Bani Umayyah

Di antaranya adalah gerakan-gerakan yang digencarkan oleh kelompok-kelompok sebagai berikut :
a.       Kelompok Syi’ah, seperti yang kita ketahui bersama bahwa Syi’ah adalah orang-orang yang yang mendukung Sayidina Ali(pengikut Sayidina Ali). Mereka menganggap Dinasti Umayah ini perebut kekuasaan dari keturunan Sayidina Ali. Pengabdian dan ketaatan mereka yang tulus terhadap keturunan Nabi berhasil menarik simpati publik. Mereka mendapat dukungan dari orang-orang disekelilingnya yang tidak puas terhadap pemerintahan Dinasti Umayyah, baik dari sisi politik, ekonomi, maupun sosial.
b.      Kelompok Sunni, Di kelompok Sunni, sekalipun orang yang paling Saleh di antara mereka, mengecam akhlak para Khalifah karena mereka mementingkan kehidupan duniawi, serta mengabaikan hukum Al-Qur’an dan Hadith, di mana-mana mereka telah siaga penuh untuk menjatuhkan sanksi keagamaan terhadap segala bentuk penentangan yang mungkin muncul.
c.       Keluarga ‘Abbas, para keturunan Paman Nabi, al-‘Abbas ibn ‘Abd al-Muththalib ibn Hasyim, mulai menegaskan tuntutan mereka untuk menduduki pemerintahan.

Gerakan Oposisi Terhadap Bani Umayyah yang lain

Di samping ada gerakan-gerakan yang menentang terhadap Dinasti Umayah ini, ada faktor utama yang melatar belakangi runtuhnya Dinasti ini. Faktor itu adalah munculnya perpecahan antara suku, etnis, dan kelompok politik yang tumbuh semakin kuat, sehigga terjadi gejolak politik dan kekacauan yang menganggustabilitas negara.
Ketika kita melihat ke belakang, sebenarnya para khalifah pada masa akhir periode Umayyah lebih merupakan pemimpin kelompok tertentu, bukan pemegang kedaulatan atas sebuah kerajaan yang utuh. Hal ini dapat dilihat dari putranya Mu’awiyah sebagai penerus menjadi khalifah, Yazid, yang telah lahir dari seorang Ibu yang berasal dari suku Kalb Yaman, yang bernama Maysun, menikah dengan seorang wanita suku Kalb. Suku Qays yang merasa iri tidak mau mengakui penerusnya, Muawiyah II, dan mengangkat baru, Ibn Zubayr. Kemenangan suku Kalb yang menentukan atas suku Qays di Marja Rahit (684) berhasil mengamankan kekuasaan Marwan, bapak keluarga Marwan dalam Dinasti Umayyah. Di bawah kepemimpinan al-Walid I, kekuasaan suku Qays mencapai puncak kejayaannya pada masa al-Hajjaj dan saudara sepupunya, Muhammad, penakluk India, dan pada masa Qutaybah, penakluk Asia Tengah. Saudara al-Walid, Sulayman, memberi dukungan kepada orang Yaman. Namun Yazid II, karena pengaruh Ibunya yang berasal dari keluarga Mudhar, mendukung orang Qays, seperti halnya al-Walid II; Yazid III mengandalkan pasukan Yaman untuk merebut kekuasaan dari tangan pendahulunya, al-Walid II.
Menurut analisis penulis, bahwa pada masa menjelang runtuhnya Dinasti Umayyah ini sudah terjadi perebutan kekuasaan, siapa yang kuat dan mempunyai pengaruh yang luas dihadapan rakyat maka itulah yang berpotensi menjadi khalifah. Jiwa persaudaraan dan persatuan pada saat itu sudah meluntur dibandingkan semangat para khalifah dan gubernur sebelum-belumnya. Inilah sekilas gambaran politik Dinasti Bani Umayyah pada saat itu.
Faktor lain yang memicu runtuhnya Dinasti Umayyah ini adanya rasa kekecewaan dari orang Islam non Arab, karena mereka merasa dianak tirikan oleh penguasa. Mereka tidak memperoleh kesetaraan ekonomi dan sosial yang sama dengan orang Islam Arab, secara umum mereka diposisikan sebagai kalangan mawla(mantan budak), dan tidak selalu bebas dari kewajiban membayar pajak kepala yang biasa dikenakan terhadap nonmuslim. Hal lain yang semakin menegaskan kekecewaan mereka adalah kesadaran bahwa mereka memiliki budaya yang lebih tinggi dan lebih tua, kenyataan ini bahkan diakui oleh orang Arab sendiri.
Adanya koalisi antara kekuatan Syiah, Khurasan, dan Abbasiyah, yang dimanfaatkan kelompok Abbasiyah untuk kepentingan mereka sendiri merupakan tanda-tanda semakin dekatnya jatuhnya Dinasti Umayyah. Koalisi ini dipimpin oleh Abu al-Abbas, cicit al-Abbas, paman Nabi. Di bawah kepemimpinannya, Islam revolusionar bangkit menentang tatanan yang ada dengan menawarkan gagasan teokrasi, dan janji untuk kembali kepada tatanan ortodoksi.Pemberontakan dimulai ketika seorang pendukung Abbasiyah, Abu Muslim, seorang budak Persia yang telah dimerdekakan, mengibarkan bendera hitam, yang pada awalnya merupakan warna bendera Muhammad, tapi kini menjadi lambang Abbasiyah.Peristiwa ini terjadi pada 9 Juni 747.
Di dalam referensi yang berbeda, penyebab utama keruntuhan Dinasti Umayyah ini disebabkan dua faktor. Pertama, faktor intern, yaitu adanya persaingan dan perebutan kekuasaan di antara para keluarga khalifah. Kedua, faktor ekstern, yaitu adanya perselisihan dan perebutan pengaruh yang cenderung mengarah pada fanatisme golongan antara orang Arab Mudariyah di Utara dan Yamaniyah di Selatan. Begitu juga ketidaksenangan rakyat atas perilaku para khalifah dan keluarganya, terutama empat khalifah terakhir (al Walid II, Yazid III, Ibrahim dan Marwan II) yang cenderung mengabaikan nasib rakyat. Apalagi kaum Syi’ah dan pendukung keluarga Nabi dan keturunan Ali mulai bangkit menentang perlakuan Pemerintah yang selama ini menekan dan  menghinakan mereka.[1]
itulah informasi tentang Gerakan Oposisi Terhadap Bani Umayyah yang dapat saya sampaikan. baca juga akhir kekuasaan bani umayyah semoga bermanfaat..


[1] Tim Penyusun Studi Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya, Pengantar Studi Islam (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, 2007), 134.


Tinggalkan komentar