√ Ruang Lingkup dan Objek Penelitian Pendidikan, Kajian Lengkap!

ruang lingkup dan objek penelitian
ruang lingkup dan objek penelitian

ruang lingkup dan objek penelitian – Penelitian dalam bidang pendidikan banyak yang lebih diarahkan pada aplikasi dari pada konsep dan teori. Penelitian demikian ini dikelompokkan sebagai penelitian terapan (applied research). Disamping itu, penelitian dalam bidang pendidikan ini dilakukan untuk mengevaluasi pelaksanan atau keberhasilan suatu system pendidikan, ketepatan penggunaan system pendidikan, program, model, metode, media, instrumen, dan sebagainya. Ruang lingkup dan kajian pendidikan, di antaranya berupa komponen-komponen pendidikan yang meliputi: interaksi pendidikan,tujuan pendidkan,lingkungan pendidkan dan pergaulan pendidkan .

KOMPONEN-KOMPONEN PENDIDIKAN

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, komponen-komponen proses pendidikan termasuk salah satu bidang kajian dalam penelitian pendidikan. Berikut ini akan dibahas sejumlah komponen-komponen pendidikan tersebut antara lain:

a. Interaksi Pendidikan

Kegiatan pendidikan diarahkan kepada pencapaian tujuan-tujuan tertentu yang disebut tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan tersebut merupakan kegiatan mengoptimalkan perkembangan potensi, kecakapan, dan karakteristik pribadi peserta didik. Tujuan pendidikan minimal diarahkan kepada pencapaian empat sasaran, yaitu: (1) pengembangan segi-segi kepribadian, (2) pengembangan kemampuan kemasyarakatan, (3) pengembangan kemampuan melanjutkan studi, dan (4) pengembangan kecakapan dan kesiapan untuk bekerja. Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang berintikan interaksi antara peserta didik dengan para pendidik serta berbagai sumber pendidikan.

Interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber-sumber pendidikan tersebut dapat berlangsung dalam situasi pergaulan (pendidikan), pengajaran, latihan, serta bimbingan. Situasi pergaulan pendidikan tersebut biasa disebut pergaulan edukatif. Dalam pergaulan antara peserta didik dengan para pendidik yang dikembangkan terutama segi-segi afektif: nilai-nilai, sikap, minat, motivasi, disiplin diri, kebiasaan, dan lain-lain.Interaksi edukatif yang terjadi dalam proses pendidikan atau proses pembelajaran peserta didik sangat mempengaruhi proses pembelajaran untuk menjapai tujuan yang diharapkan. Dalam konteks proses belajar mengajar, interaksi edukatif ini ibarat jembatan bagi proses pembelajaran peserta didik. pencapaian tujuan pendidikan, terutama pencapaian tujuan pembelajaran.[4]

b. Tujuan Pendidikan

Perbuatan mendidik diarahkan pada pencapaian tujuan-tujuan tertentu, yaitu tujuan pendidikan. Tujuan-tujuan ini bisa menyangkut kepentingan peserta didik sendiri, kepentingan masyarakat dan tuntutan lapangan pekerjaan atau ketiga-tiganya, yakni peserta didik, masyarakat dan pekerja sekaligus.

Proses pendidikan terarah pada peningkatan penguasaan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, pengembangan sikap dan nilai-nilai dalam rangka pembentukan dan pengembangan diri peserta didik. Pengembangan diri ini dibutuhkan, untuk menghadapi tugas-tugas dalam kehidupannya sebagai pribadi, sebagai siswa, karyawan, professional maupun warga masyarakat. Sasaran dan perbuatan pendidikan selalu normatif, selalu terarah kepada yang baik.

Perbuatan pendidikan tidak mungkin dan tidak pernah diarahkan kepada pencapaian tujuan-tujuan yang merugikan atau bertentangan dengan kepentingan peserta didik ataupun masyarakat. Perbuatan pendidikan selalu diarahkan kepada kemaslahatan dan kesejahteraan peserta didik dan masyarakat. Karena tujuannya positif maka proses pendidikannya juga harus positif, konstruktif dan normatif. Tujuan yang normatif tidak mungkin dapat dicapai dengan perbuatan yang tidak normatif pula. Oleh karena itu kepada guru sebagai pendidik dituntut untuk selalu bersikap, berbuat, berperilaku, dan berpenampilan sesuai dengan norma-norma[5]

c. Lingkungan Pendidikan

ruang lingkup dan objek penelitian – Proses pendidikan selalu berlangsung dalam suatu lingkungan, yaitu lingkungan pendidikan. Lingkungan ini mencakup lingkungan fisik, sosial, politis, keagamaan, intelektual, dan nilai-nilai. Lingkungan fisik terdiri atas lingkungan alam dan lingkungan buatan manusia, yang merupakan tempat dan sekaligus memberikan dukungan kadang-kadang juga hambatan bagi berlangsungnya proses pendidikan. Proses pendidikan mendapatkan dukungan dari lingkungan fisik berupa sarana, prasarana serta fasilitas fisik dalam jenis dan kualitas yang memadai, akan sangat mendukung berlangsungnya proses pendidikan yang efektif. Kekurangan sarana, prasarana dan fasilitas fisik, akan menghambat proses pendidikan, dan menghambat pencapaian hasil yang maksimal.

Lingkungan sosial budaya merupakan lingkungan pergaulan antar manusia. Di lingkungan ini pendidik dan peserta didik serta orang-orang lainnya terlibat dalam pendidikan terjadinya kumunikasi dalam bentuk pergaulan pendidikan. Interaksi dalam proses pendidikan maupun pembelajaran antara pihak yang terlibat di dalamnya, biasa disebut interaksi pendidikan (interaksi edukatif) Interaksi edukatif dapat disebut “jembatan” dalam proses pendidikan atau pembelajaran untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Interaksi pendidikan dipengaruhi oleh karakteristik pribadi dan corak pergaulan antar orang-orang yang terlibat dalam interaksi tersebut, baik pihak peserta didik (siswa) maupun para pendidik (guru) dan pihak lainnya. Karakteristik pribadi misalnya, meliputi karakteristik fisik, seperti tinggi dan berat badan, nada suara, roman muka, gerak-gerik, dan lain-lain., dan karakteristik psihis seperti sifat sabar atau gampang marah (temperamental), sifat jujur, setia (watak) dan lain-lain, serta kemampuan intelektual seperti jenius, cerdas, bodoh dan lain-lain. Corak pergaulan dalam berbagai latar keragaman sosial dan budaya masyarakat turut memberikan warna pergaualan dan dalam melakukan pekerjaan atau kerja yang mempengaruhi sifat-sifat pribadi peserta didik. Corak pergaulan yang bersahabat akan memberikan warna sifat-sifat pribadi yang bersahabat.

sebaliknya corak pergaulan yang keras mendorong munculnya konflik sosial, dan bahkan mempengaruhi sifat-sifat pribadi. Sebagai makhluk yang berbudaya, manusia menciptakan budaya, hidup dan berkembang dalam lingkungan budaya tertentu. Dalam suatu lingkungan masyarakat suatu daerah tertentu memiliki budaya dengan nilai-nilai yang melekat dalam kehidupan pribadi atau kelompok masyarakat tertentu, misalnya kelompok, etnis, sebagi kelompok sosial memiliki budaya tertentu pula. Pola-pola perilaku, pergaulan maupun interaksi antara peserta didik dengan pendidik serta sumber pendidikan lainnya dipengaruhi oleh jenis-jenis budaya yang ada di lingkungannya.

Selain lingkungan masyarakat dengan budayanya, lingkungan intelektual sangat mempengaruhi pengembangan kemampuan peserta didik. Lingkungan intelektual ini merupakan kondisi dan iklim sekitar yang mendorong dan menunjang pengembangan kemampuan berpikir. Lingkungan ini mencakup perangkat lunak, seperti sistem dan program-program pengajaran, perangkat keras seperti media dan sumber belajar, serta aktivitas-aktivitas pengembangan dan penerapan kemampuan berpikir. Lingkungan pendidikan lain yang turut mempengaruhi pengembangan kemampuan peserta didik, para pendidik dan atau pelaku pendidikan yang terlibat dalam proses pendidikan adalah lingkungan keagamaan. Lingkungan keagamaan adalah lingkungan yang terkait dengan pola-pola kegiatan, perilaku manusia dalam melaksanakan kewajiban dan nilai-nilai keagamaan. Sedangkan lingkungan lainnya adalah lingkungan yang turut menata kehidupan nilai bagi individu, kelompok masyarakat, bangsa, yang disebut lingkungan nilai[6].

Yang termasuk lingkungan nilai misalnya, nilai kemasyarakatan, ekonomi, sosial, politik, estetika, etika maupun nilai keagamaan yang hidup dan dianut dalam suatu daerah atau kelompok tertentu. Lingkungan-lingkungan tersebut akan memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap proses dan hasil dari pendidikan. Interaksi pendidikan dapat berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat serta lingkungan-lingkungan kerja. Keluarga seringkali disebut sebagai lingkungan pertama dan utama, sebab dalam lingkungan inilah pertama-tama anak mendapatkan pendidikan, bimbingan, asuhan, pembiasaan,dan latihan.

Keluarga merupakan masyarakat kecil, bukan hanya menjadi tempat anak diasuh dan dibesarkan, tetapi juga tempat anak hidup dan dididik pertama kali. Apa yang diperolehnya dalam kehidupan keluarga, akan menjadi dasar dan dikembangkan pada kehidupan-kehidupan selanjutnya. Keluarga merupakan masyarakat kecil sebagai prototype masyarakat luas. Oleh karena itu, penyiapan pendidikan bagi anak dalam keluarga ibarat “sumber air”, yang akan mengalir ke masyarakat. Dari sumber air yang keruh akan mengalir air yang keruh, sebaliknya air dari sumber yang jernih akan mengeluarkan air yang jernih.

Di antara aspek-aspek kehidupan, sesungguhnya selalu ada dalam keluarga, seperti aspek ekonomi, sosial, politik, keamanan, kesehatan, agama, serta pendidikan, yang menempati kedudukan yang paling sentral dalam kehidupan keluarga. Hal ini diebabkan adanya kecenderungan yang sangat kuat pada manusia, bahwa mereka ingin melestarikan keturunannya, dan hal ini dapat dicapai melalui pendidikan. Dengan perkataan lain, cita-cita orangtua tentang anak-anak dan cucunya direalisasikan melalui pendidikan.Lingkungan kedua setelah keluarga adalah sekolah. Pendidikan di sekolah lebih bersifat formal, (sementara dalam keluarga bersifat informal).

Pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan yang diberikan di sekolah, merupakan kelanjutan dari apa yang diberikan di dalam keluarga, tetapi tingkatannya jauh lebih tinggi dan lebih kompleks, sesuai dengan tahap penjenjangannya. Pengetahuan tersebut bersumber dari disiplin-disiplin ilmu atau permasalahan-permasalahan yang berkembang dalam maSyarakat. yang bersumber dari bidang-bidang ilmu pendidikan. Selain dalam kedua lingkungan tersebut di atas, peserta didik juga mendapat pengaruh dan pendidikan dalam lingkungan masyarakat, yang merupakan lingkungan ketiga. Dalam masyarakat peserta didik menghadapi dan mempelajari hal-hal yang lebih nyata dan praktis, terutama yang berkaitan erat dengan problema-problemakehidupan.

Di masyarakat, para peserta didik juga dituntut dan berusaha menerapkan apa-apa yang telah mereka peroleh dari keluarga dan sekolah, tetapi setelah selesai masa pendidikan, maka mereka masuk ke masyarakat dengan status yang lain, yang menunjukkan tingkat kedewasaan dan kemandirian yang lebih tinggi. Dalam lingkungan masyarakat, pendidikanya lebih bersifat terbuka, artinya peserta didik menjumpai berbagai sumber dan bahan belajar yang mencakup aspek-aspek kehidupan. Bahan yang dipelajari tersebut berasal dari sumber belajarnya secara langsung maupun melalui media belajar yang ada dalamlingkungannya, baik media massa (media cetak dan media elektronika). Dalam lingkungan masyarakat, metode pembelajarannya mencakup semua bentuk interaksi dan komunikasi antar orang baik secara langsung atau tidak langsung, menggunakan media cetak, ataupun elektronika.

d. Pergaulan Pendidikan

ruang lingkup dan objek penelitian – Pendidikan bisa berlangsung dalam pergaulan hidup, dalam pergaulan ini para pendidik berusaha menjadi contoh dan memberikan perlakuan-perlakuan yang bersifat mendidik, oleh karena itu pergaulan ini disebut pergaulan pendidikan. Pergaulan pendidikan antara peserta didik dengan pendidik dapat berlangsung dalam kegiatan sehari-hari, dalam situasi pembelajaran, bimbingan dan latihan-latihan. Juga pergaulan pendidikan bisa berlangsung antara orangtua dengan anak-anaknya dalam kehidupan keluarga (pendidikan dan keluarga) dan antara orang dewasa dengan anak-anak dalam kehidupan masyarakat (pendidikan dalam masyarakat).

Dalam pergaulan pendidikan proses pengembangan berlangsung secara informal, alamiah, dan mungkin juga tidak disadari, walaupun dari sisi pendidik seharusnya selalu disadari mengatakan bahwa proses pendidikan dalam situasi pergaulan berlangsung melalui percontohan. Para pendidik dengan apa yang mereka perlihatkan, katakan, perbuat, berikan. Pendidikan diberikan dengan “seluruh penampilan pendidik”, dengan seluruh hal yang pendidik perlihatkan kepada para peserta didik, termasuk hal-hal kurang baik atau tidak mendidik. Inilah yang disebut kesalahan mendidik. Seharusnya dalam pergaulan pendidikan, para pendidik hanya memperlihatkan hal-hal positif, yang ingintumbuh dan berkembang ada peserta didik, karena dalam pergaulan pendidikan para pendidik menjadi model dan contoh dari konsep pendidikan yang dianutnya.[7]

Ruang lingkup penelitian pendidikan Pendapat para tokoh

Tyler

Disamping komponen pendidikan diatas, tyler merumuskan ruang lingkup penelitian pendidikan antara lain:

1. mata pelajaran

2. pelajar.

3. cara mengajar.

4. guru.

5. seklah sebagai lembaga sosial.

6. lingkungan kelurga (lingkungan rumah tangga)

7. lingkungan kawan sebaya (peer group)

8.lingkungan masyarakat(community)[8]

Muhammad ali

Sedangkan Muhammad ali merumuskan bahwa ruang lingkup penelitian pendidikan sebagai berikut:

1. lingkup penelitian pada tingkat kebijakan pendidikan

a. perumusan kebijakan tentang pendidikan yang dilakukan oleh MPR

b. kebijkan presiden dan DPR tentang pendidikan.

c.kebijakan MENDIKNAS tentang pendidikan

d.kebijkan DIRJEN,gubernur,bupati,walikota,Diknas tentang pendidikan.

e. implementasi kebijkan pendidikan.

f.output dan outcome kebijakan pendidikan.

2. lingkup penelitian pada tingkat manajerial

a.perencanaan pendidikan pada tingkat nasional,propinsi,kabupaten/kota dan lembaga

b.organisasi diknas,dinas propinsi,kabupaten /kota dan institusi pendidikan.

c.kepemimpinan pendidikan.

d.bangunan pendidikan,sarana dan prasarana pendidikan.

e.ekonomi pendidikan

f.hubungan kerja sama antar lembaga pendidikan

g.kordinasi pendidikan dari pusat ke daerah

h. SDM tenaga kependidikan

i. Evaluasi pendidikan

j. kearsipan, perpustakaan dan museum pendidikan

3. lingkup penelitian pada tingkat oprasional ruang lingkup dan objek penelitian

a. aspirasi masyarakat dalam memilih pendidikan

b. penmasaran lembaga pendidikan

c. system seleksi murid baru

d. kurikulum, silabi

e. tekhnologi pembelajaran

f. media pendidikan, buku ajar dll

g. penampilan mengajar guru

h. managemen kelas

i. system evaluasi belajar, system ujian akhir

j. kuantitas dan kualitas lulusan

k. unit produksi

l. perkembangan karir lulusan

m. pembiayaan pendidikan

n. profil pekerjaan dan tenaga kerja DUDI

o. kebutuhan masyarakat akan lulusan pendidikan[9].

KARAKTERISTIK PENELITIAN PENDIDIKAN dalam ruang lingkup dan objek penelitian

ruang lingkup dan objek penelitian – Sebagaimana telah dikemukakan bahwa cara mencari kebenaran yang dipandang ilmiah adalah melalui metode penelitian. Cara tersebut memungkinkan ditemukannya kebenaran yang obyektif, karena dibentengi dengan fakta-fakta sebagai bukti tentang adanya sesuatu dan mengapa adanya demikian atau apa sebab adanya demikian.Tujuan akhir suatu ilmu adalah mengembangkan dan menguji teori. Suatu teori dapat menjelaskan dan meramalkan fenomena-fenomena alamiah. Dari perilaku atau kegiatan-kegiatan terlepas yang dilakukan oleh siswa atau guru umpamanya, peneliti dapat memberikan penjelasan umum tentang hubungan di antara perilaku atau kegiatan pembelajaran. Tiap disiplin ilmu mempunyai cara pencarian sendiri yang sesuai dengan karakteristik disiplin ilmunya.

Sains (pengetahuan alam) umpamanya, banyak menggunakan metode eksperimen, sedang antropologi menggunakan metode kualitatif. Pendidikan kebanyakan menggunakan metode deskriptif, tetapi untuk hal-hal tertentu dapat menggunakan metode eksperimen, penelitian tindakan, penelitian dan pengembangan, dan juga kualitatif. Penelitian terhadap ilmu pendidikan mengkaji dasar-dasar, teori-teori dan konsep-konsep, termasuk sejarah perkembanganya. Penelitian dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan-metode kualitatif maupun kuantitatif. Pendekatan kuantitatif diarahkan pada analisis dasar filosofis, psikologis, sosiologis-antropologis, serta konsep dan analisis historis.

Dari penelitian demikian dapat dihasilkan penguatan terhadap proposisi dan asumsi yang ada, dan atau menghasilkan asumsi, proposisi dan hipotesis yang baru. Penelitian penelitian yang diarahkan pada perkembangan teori dan konsep digolongkan sebagai penelitian dasar (basic reseach). Penelitian dapat dilakukan dengan baik terhadap ilmu maupun terhadap praktik pendidikan. Ada tujuh karakteristik penelitian pendidikan menurut McMillan dan Schumacher (2001:11-13), yaitu: (1) Objectivity (objektivitas); (2) Precision (ketepatan); (3) Verification (verifikasi); (4) Parsimonious explanation (Penjelasan ringkas); (5) Empiricism (empiris); (6) Logical reasoning (pendapat logis); dan (7) Conditional conclutions (kesimpulan kondisional).[10] Karakteristik penelitian pendidikan tersebut, secara singkat akan dijelaskan sebagai berikut:

Objektivitas

Penelitian harus memiliki objektivitas (objectivity) baik dalam karakteristik maupun prosedurnya. Objektivitas dicapai melalui keterbukaan, terhindar dari bias dan subjektivitas. Dalam prosedurnya, penelitian menggunakan teknik pengumpulan dan analisis data yang memungkinkan dibuat interpretasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Objektivitas juga menunjukkan kualitas data yang dihasilkan dari prosedur yang digunakan, yang dikontrol dari bias dan subjektivitas.

Ketepatan

Penelitian juga harus memiliki tingkat ketepatan (precision), dalam arti bahwa secara teknis, instrumen pengumpulan datanya harus memiliki validitas dan realibilitas yang memadai, serta desain penelitian, pengambilan sampel dan teknik analisisnya tepat. Dalam penelitian kualitatif, hasilnya dapat diulang dan diperluas, dalam penelitian kualitatif memiliki sifat reflektif dan tingkat komparasi yang konstan.

Verifikasi

Penelitian dapat diverifikasi, dalam arti dikonfirmasikan, direvisi dan diulang dengan cara yang sama atau berbeda. Verifikasi dalam penelitian kualitatif berbeda dengan kuantitatif. Penelitian kualitatif memberikan interpretasi deskriptif, verifikasi berupa perluasan, pengembangan tetapi bukan pengulangan. Verifikasi juga bermakna memberikan sumbangan kepada ilmu atau studi lain.

Penjelasan Ringkas

Penelitian mencoba memberikan penjelasan tentang hubungan antar fenomena dan menyederhanakannya menjadi penjelasan yang ringkas. Tujuan akhir dari suatu penelitian adalah mereduksi realita yang kompleks ke dalam penjelasan yang singkat. Dalam penelitian kuantitatif penjelasan singkat tersebut berbentuk generalisasi, tetapi dalam penelitian kualitatif berbentuk deskripsi tentang hal-hal yang essensial atau pokok.

Empiris

Penelitian ditandai oleh sikap dan pendekatan empiris yang kuat. Secara umum empiris berarti berdasarkan pengalaman praktis. Dalam penelitian empiris kesimpulan didasarkan atas kenyataan-kenyataan yang diperoleh dengan menggunakan metode penelitian yang sistematik, bukan berdasarkan pendapat atau kekuasaan. Sikap empiris umumnya menuntut penghilangan pengalaman dan sikap pribadi. Kritis dalam penelitian berarti membuat interpretasi berdasarkan pada kenyataan dan nalar yang didasarkan atas kenyataan-kenyataan (evidensi). Evidensi adalah data yang diperoleh

dari penelitian, berdasarkan hasil analisis data tersebut interpretasi dibuat.Angka, print out, catatan lapangan, rekaman wawancara artifak dan dokumen sejarah adalah sejumlah contoh data dalam penelitian.

Penalaran Logis

Semua kegiatan penelitian menuntut penalaran logis. Penalarana merupakan proses berpikir, menggunakan prinsip-prinsip logika deduktif dan induktif. Penalaran deduktif aalah penarikan kesimpulan dari umum ke khusus. Dalam penalaran deduktif, bila premisnya benar, maka kesimpulan otomatis benar. Logika deduktif dapat mengidentifikasi hubungan-hubungan baru dalam pengetahuan (prinsip, kaidah) yang ada. Sementara itu, dalam penalaran induktif, peneliti menarik kesimpulan berdasarkan hasil sejumlah pengamatan kasus-kasus (individual, situasi, peristiwa), kemudian peneliti membuat kesimpulan yang bersifat umum. Kesimpulan dibatasi oleh jumlah dan karakteristik dari kasus yang diamati.[11]

Kesimpulan kondisional ruang lingkup dan objek penelitian

Setiap penelitian pada akhirnya memerlukan sebuah kesimpulan untuk memberikan gambaran akhir tentang data yang diteliti sehingga pembaca dapat memahami dengan jelas makksud dan tujuan dari penelitian yang dilakukan.

OBJEK PENELITIAN PENDIDIKAN Pada ruang lingkup dan objek penelitian

ruang lingkup dan objek penelitian – Adapun masalah-masalah pendidikan yang potensial dapat menjadi objek penelitian Adalah sebagai berikut:

  1. komponen raw input (karakteristik pribadi peserta didik, siswa, mahasiswa, seperti: kecerdasan, motivasi belajar, kemampuan berkonsentrasi dalam belajar, kebiasaan belajar, dan sikap belajar).
  2. komponen instrumental input (seperti karakteristik pribadi guru, kurikulum dan sumber belajar).
  3. environmental input (seperti iklim lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, kelompok teman sebaya, kehidupan beragama, fasilitas pembelajaran, dan kondisi kehidupan social-ekonomi-politik).
  4. komponen proses (seperti kualitas interaksi guru-siswa, penerapan metode-metode pembelajaran, dan pemanfaatan teknologi pendidikan dalam pembelajaran)[12].
  5. komponen output (seperti kualitas indek prestasi belajar, kualitas sikap dan prilaku dan keterampilan/kecakapan).

Masalah penelitian dapat bersumber dari hasil bacaan literature (buku, majalah, makalah), hasil seminar, hasil penelitian orang lain (laporan penelitian, skripsi, tesis atau disertasi), dan hasil pengamatan di lapangan (di lingkungan keluarga, sekolahkelas, dan lingkungan masyarakat).

Layak tidaknya masalah itu diteliti, pada umumnya ditinjau dari criteria:

a) bermanfaat bagi peningkatan mutu pendidikan, khususnya proses dan hasil pembelajaran.

b) mengandung nilai-nilai keilmuan atau pengetahuan ilmiah.

c) tersedianya data atau informasi di lapangan.

d) datanya mudah diukur, diolah dan ditafsirkan.

e) peneliti memiliki kemampuan untuk menelitinya

Demikian ulasan singkat seputar ruang lingkup dan objek penelitian, semoga bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad, Penelitian kependidikan, prosedur dan strategi, Bandung: Angkasa, 1993.

Amirman, I Ine, Yousda & Zainal Arifin, Penelitian & Statistik Pendidkan, Jakarta:Bumi Aksara,1993.

Margono,S, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta:Rineka Cipta,1997.

Rahman, Maman, Strategi Dan LangkahLangkah Penelitian Pendidikan, Semarang: Ikip Semarang Pers,1993.

Suharsimi Arikunto,Prosedur Penelitian Suatu Penedekatan Praktek Jakarta :PT Rineka Cipta,1998

Sumanto,metodologi penelitian sosial & pendidikan, Yogyakarta:Andi Offset,1990.

Syaodih,Nana, Sukmadinata,Metode Peinelitian Pendidikan, Jakarta:PT logos kencana,2005.


[1] Ine I.Amirman Yousda & Zainal Arifin, Penelitian & Statistik Pendidkan (Jakarta:Bumi Aksara,1993)hlm.6

[2] Suharsimi arikunto,Prosedur Penelitian Suatu Penedekatan Praktek (Jakarta :PT Rineka Cipta,1998) hlm.2

[3] S.margono, Metodologi Penelitian Pendidikan (Jakarta:Rineka Cipta,1997)hlm.16

[4] Nana Syaodih Sukmadinata,Metode Penelitian Pendidikan (Jakarta:PT logos kencana,2005)hlm.24

[5] Ibid. hlm.27

[6] Ibid hlm. 29.

[7] Ibid.hlm.30

[8] S. Margono,Metodologi Pienelitian Pendidikan (Jakarta :PT Rineka Cipta,1997)hlm.15

[9] Muhammad Ali, Penelitian kependidikan, prosedur dan strategi (Bandung: Angkasa, 1993)., hlm.15-16.

[10] Sumanto,metodologi penelitian sosial & pendidikan (Yogyakarta:Andi Offset,1990).hlm.13.

[11] Ibid.hlm.15.

[12] Maman Rahman,Strategi Dan LangkahLangkah Penelitian Pendidikan (Semarang: Ikip Semarang Pers,1993)hlm.17


Tinggalkan komentar

Jasa Optimasi Website
%d blogger menyukai ini: