ILMU PENGETAHUAN DAN MASYARAKAT

Ilmu Pengetahuan dan Masyarakat

Ilmu Pengetahuan dan Masyarakat

www.rangkumanmakalah.com

A.    Ilmu Pengetahuan

Ilmu Pengetahuan dan Masyarakat – Seringkali kita meletakkan Ilmu Pengetahuan sama dengan agama. Apa yang diperoleh dari ilmu pengetahuan kita langsung mencari justifikasinya dalam kredo keagamaan. Yang sesuai dengan informasi dari literatur keagamaan kita langsung menempatkannya sebagai suatu kebenaran, sementara yang tidak sesuai kita menganggapnya sebagai penyimpangan. 

Pengertian Ilmu Pengetahuan menurut beberpa ahli,antara lain :

  • Menurut Poedjawijatno ilmu adalah pengetahuan yang sadar menuntut kebenaran yang bermetode dan bersistem.[1]
  • Menurut Carles Siregar ilmu adalah proses yang membuat 6 pengetahuan[2]
  • Menurut Ashley Montagu ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal dari pengamatan, studi dan percobaan untuk menentukan hakikat prinsip tentang hal yang dikaji. 
  • Sedangkan The Liang Gie memberi pengertian ilmu adalah rangkaian aktivitas penelahaan yang mencari penjelasan suatu metode untuk memperoleh pemahaman secara rasional, empiris dan kese1uruhan pengetahuan sistematis yang menjelaskan berbagai gejala yang ingin dimengerti man usia.[3] 

Pengertian Ilmu Pengetahuan menurut Poedjawijatno sama dengan pengertian ilmu[4] Hal ini selaras dengan pendapat Endang Saifuddin Anshari, menurutnya salah satu corak pengetahuan adalah pengetahuan ilmiah, yang lazim disebut Ilmu Pengetahuan atau singkatnya ilmu[5]

Sedangkan menurut Achmad Baiquni[6] mendefinisikan sains sebagai himpunan pengetahuan manusia tentang alam yang diperoleh sebagai konsensus para pakar pada penyimpulan secara rasional mengenai hasil-hasil analisis yang kritis terhadap data-data pengukuran yang diperoleh dari observasi pada gejala-gejala alam.

Ilmu pengetahuan disepakati sebagai hasil kebudayaan manusia,  dimana pola pikir manusia sangat mempengaruhi perkembangannya. Ilmu pengetahuan menghasilkan suatu kebenaran ilmiah sebagai bukan suatu rumusan yang final. Kebenaran ilmu pengetahuan yang diperoleh sekarang merupakan suatu pengembangan dari kebenaran ilmu pengetahuan yang diperoleh sebelumnya. Pun kebenaran pengetahuan yang diperoleh sekarang merupakan sebuah langkah untuk menemukan kebenaran di masa datang. 

Dewasa ini perkembangan ilmu pengetahuan demikian dinamis, teori-teori lama banyak yang harus mengalami penyempurnaan dan revisi, atau kalau tidak menganggapnya batal. Adakalanya informasi yang diperoleh dari tafsiran literatur keagamaan mengalami suatu pembenaran, tetapi kadang penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan juga mendekonstruksi kebenaran lama yang berdasar pada suatu tafsiran literatur ‘keagamaan’ tertentu. Agama sendiri pun dapat menjadi suatu bentuk ilmu pengetahuan. Dalam hal ini Agama, dengan “A”, telah mengalami suatu proses sejarah yang mengikutkan pola pikir manusia yang terlibat dalam proses itu. Dalam perjalanannya sejarah seringkali merekonstruksi kebenaran agama (dengan “A”).[7] 

Bukan pada tempatnya membandingkan kebenaran ilmu pengetahuan dengan kebenaran yang diperoleh dari informasi agama. Pemeluk agama meyakini kebenaran agama sebagai kebenaran yang bersifat kekal, sementara kebenaran ilmu pengetahuan bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan kemampuan pola pikir manusia. Toh, Ilmu pengetahuan sendiri sebenarnya bisa menjadi bagian dari penafsiran nilai-nilai agama.[8]

Melalui proses pengkajian yang dapat diterima oleh akal, sains disusun atas dasar intizhar pada gejala-gejala alamiah yang dapat diperiksa berulang-ulang atau dapat diteliti ulang oleh orang lain dalam eksperimen laboratorium. Kata intizhar (nazhara) dapat berarti mengumpulkan pengetahuan melalui pengamatan atau observasi dan pengukuran atau pengumpulan data pada alam sekitar kita, baik yang hidup maupun yang tak bernyawa. 

2. Obyek IImu Pengetahuan

Ilmu Pengetahuan dan Masyarakat – Setiap ilmu pengetahuan ditentukan oleh obyeknya. Ada dua macam obyek ilmu pengetahuan, yaitu:[9] 

  1. Obyek Material (material object) adalah seluruh lapangan atau bahan yang dijadikan obyek penyelidikan suatu ilmu.
  2. Obyek Formal (formal object) adalah obyek material yang disoroti oleh suatu ilmu.

Pada garis besarnya obyek ilmu pengetahuan adalah alam dan manusia. Oleh karena itu sebagaian ah!i ada yang membagi ilmu pengetahuan menjadi dua, yaitu: ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan manusia. 

3.     Ciri-Ciri IImu Pengetahuan

Ilmu Pengetahuan dan Masyarakat – Menurut The Liang Gie, Ilmu Pengetahuan mempunyai 5 ciri pokok.[10] 

  1. Empiris, pengetahuan itu diperoleh berdasarkan pengamatan dan percobaan yang ada.
  2. Sistematis, berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu mempunyai hubungan ketergantungan dan teratur.

3        Obyektif, setiap ilmu itu bebas dari prasangka subyektif / perseorangan.

  1. Analitis, pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya kedalam bagian yang terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan dan periman dari bagian-bagian itu.
  2. Verifikatif, dapat diperiksa oleh siapapun juga

 B.     Pengertian Masyarakat

 “Masyarakat” yang berarti pergaulan hidup manusia sehimpun orang yang hidup bersama dalam sesuatu tempat dengan ikatan aturan tertentu, juga berarti orang, khalayak ramai”[11]. 

Menurut Hasan Sadily memberi pengertian bahwa masyarakat ialah “Kesatuan yang selalu berubah, yang hidup karena proses masyarakat yang menyebabkan terjadi proses perubahan itu”[12].

Sedangkan menurut Plato masyarakat ialah “merupakan refleksi dari manusia perorangan”. Suatu masyarakat akan mengalami keguncangan sebagaimana halnya manusia perorangan yang terganggu keseimbangan jiwanya yang terdiri dari tiga unsur yaitu nafsu, semangat dan intelegensia[13].

Dalam konsep an-Nas bahwa masyarakat adalah makhluk sosial. Manusia tidak dapat hidup sendiri dengan mengabaikan keterlibatannya dengan kepentingan pergaulan antara sesamanya dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam hubungan manusia dengan masyarakat terjadi interaksi aktif. Manusia dapat mengintervensi dengan masyarakat lingkungannya dan sebaliknya masyarakat pun dapat memberi pada manusia sebagai warganya. Oleh karena itu, dalam pandangan Islam, masyarakat memiliki karakteristik tertentu. 

Prinsip-prinsip ini harus dijadikan dasar pertimbangan dalam penyusunan sistem pendidikan Islam. Masyarakat merupakan lapangan pergaulan antara sesama manusia. pada kenyataannya masyarakat juga dinilai ikut memberi pengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan dan perilaku manusia yang menjadi anggota masyarakat tersebut. Atas dasar pertimbangan ini, maka pemikiran tentang masyarakat mengacu pada penilaian bahwa:

  1. Masyarakat merupakan kumpulan individu yang terikat oleh kesatuan dari berbagai aspek seperti latar belakang budaya, agama, tradisi kawasan lingkungan dan lain-lain. 
  2. Masyarakat terbentuk dalam keragaman adalah sebagai ketentuan dari Allah, agar dalam kehidupan terjadi dinamika kehidupan sosial, dalam interaksi antar sesama manusia yang menjadi warganya. 
  3. Setiap masyarakat memiliki identitas sendiri yang secara prinsip berbeda satu sama lain. 
  4. Masyarakat merupakan lingkungan yang dapat memberi pengaruh pada pengembangan potensi individu.[14] 

Dari beberapa penjelasan yang telah dijelaskan di atas, dapatlah diberi kesimpulan bahwa pengertian masyarakat yang penulis maksudkan ialah sekelompok manusia yang terdiri di dalamnya ada keluarga, masyarakat dan adat kebiasaan yang terikat dalam satu kesatuan aturan tertentu. 

2. Pola Hidup Masyarakat

Ilmu Pengetahuan dan Masyarakat – Dalam sub bab ini yang penulis maksudkan ialah pola hidup yang dilakukan berupa kebiasaan untuk mencari nafkah dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dalam kehidupan sehari-hari, seperti pertanian, perkebunan perdagangan dan lain-lain semacamnya, serta akibatnya bagi kelanjutan pendidikan anak-anak mereka. 

Dapat kita pula ketahui bahwa mayoritas  penduduk masyarakat di suatu desa diduduki oleh kaum petani yang merupakan pencaharian utama mereka dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari serta sebagian untuk kepentingan sosial. Lainnya, perlu juga di ketahui pula bahwa biasanya dalam suatu desa  pola hidup mereka selain dari petani tambak, petani sayur mayur, perkebunan dan sebagian sebagai seorang nelayan, pedagang, tukang kayu, tukang batu, buruh tani, dan pegawai. 

Dalam suatu desa dimana terlihat pada masyarakat masih  banyak membedakan nilai-nilai budaya antara orang kaya dengan orang miskin, antara masyarakat yang masih keturunan raja dengan masyarakat biasa. Perbedaan ini masih terdapatnya sistem perburuan bagi masyarakat jelata, misalnya bagi seorang kaya (mampu) masih banyak yang mempunyai buruh tani untuk mengerjakan sawah atau ladangnya, kemudian setelah berhasil di beri upah sebagai imbalan yang belum memadai jerih payah seorang petani dan lain-lain.

Dari uraian di atas, dapat dikategorikan bahwa yang terbanyak adalah masyarakat petani, hal ini merupakan standar, bahwa pola hidup di dalam masyarakat dalam mencari nafkah beranekaragam, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Di samping itu sebagian pula masyarakat masih membedakan nilai-nilai budaya diantara orang kaya dan orang miskin antara masyarakat keturunan raja dengan masyarakat biasa. 

B. Bentuk Pola Hidup Masyarakat

Ilmu Pengetahuan dan Masyarakat – Pola hidup masyarakat tidak hanya menyangkut lapangan pekerjaan pendidikan dan kehidupan keluarga belaka, tetapi jauh dari itu meliputi keorganisasian masyarakat sosial, upacara dan adat istiadat yang berlaku serta kehidupan keragamaan, namun dalam suatu masyarakat atau desa terdapat beberapa pola hidup, tapi dalam pembahasan ini penulis hanya mengambil salah satu diantaranya adalah masalah sosial. 

1. Proses Terjadinya Sosial

Para sosiolog memandang betapa pentingnya pengetahuan tentang proses sosial, mengingat bahwa pengetahuan perihal struktur masyarakat saja belum cukup untuk memperoleh gambaran yang nyata mengenai kehidupan bersama manusia. pengetahuan proses sosial memungkinkan seseorang  untuk memperoleh pengertian mengenai segi yang dinamis dari masyarakat atau gerak masyarakat. 

Pada pembahasan mengenai proses sosial mencakup ruang lingkup yang  luas merupakan serangkaian studi sosiologi, yakni interaksi sosial, stratifikasi sosial, dan sebagainya. bentuk  umum proses sosial adalah interaksi sosial yang juga dapat dinamakan proses sosial, oleh karena itu interaksi sosial, merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial.[15]

2. Klasifikasi Masalah Sosial

Masalah sosial timbul dari kekurangan-kekurangan dalam diri manusia atau kelompok sosial yang bersumber pada faktor-faktor ekonomi, biologis, biopsikologi, dan kebudayaan. Setiap masyarakat mempunyai norma yang bersangkut paut dengan kesejahteraan kebendaan, kesehatan fisik, kesehatan mental, serta menyesuaikan diri individu atau kelompok sosial. Penyimpangan-penyimpangan terhadap norma-norma tersebut merupakan gejala abnormal yang merupakan masalah sosial. Sesuai dengan sumber-sumbernya tersebut, maka masalah sosial dapat diklasifikasikan dalam empat kategori seperti di atas. problem-problem yang berasal dari faktor ekonomis antara lain kemiskinan, pengangguran dan sebagainya, penyakit, misalnya bersumber faktor biologis[16].

3. Perhatian Masyarakat dalam Sosial

Ilmu Pengetahuan dan Masyarakat – Suatu kajian yang merupakan masalah sosial belum tentu mendapat perhatian yang sepenuhnya dari masyarakat. Sebaliknya, suatu kejadian yang mendapat sorotan masyarakat, yang belum tentu merupakan masalah sosial. Angka tinggi pelanggaran lalu lintas, mungkin tidak terlalu diperhatikan masyarakat. Akan tetapi, suatu kecelakaan kereta api yang meminta korban banyak lebih mendapat sorotan masyarakat.

Suatu problem yang merupakan manifestasi social problem adalah kepincangan-kepincangan yang menuntut keyakinan masyarakat dapat diperbaiki dibatasi atau bahkan dihilangkan[17].

Dari uraian di atas bahwa bentuk pola hidup masyarakat yang penulis maksudkan dalam penelitian ini ialah mencakup tingkah laku dan hasil tingkah laku manusia, maka di sini akan dibatasi dengan menitikberatkan pada aspek-aspek kebudayaan yang menyangkut bidang-bidang tertentu seperti keagamaan, adat istiadat bagi masyarakat.

Pada umumnya pola hidup masyarakat Sulawesi Selatan yang didiami oleh tiga suku, yakni Bugis, Toraja dan Makassar, ketiganya ini mempunyai ciri-ciri persamaan dalam struktur sosial, namun dalam sistem sosial dan sistem budaya  mereka menampakkan perbedaan, bahkan perbedaan prinsipil disebabkan karena  perbedaan sejarah perkembangan lingkungan hidup dan perbedaan geografis. Adanya perbedaan tersebut merupakan hikmah dan kekayaan budaya bangsa yang mengundang kita untuk belajar dan mendalami, dan kriteria-kriteria  kehidupan yang mereka miliki. 

Sebagaimana  pola hidup masyarakat pada umumnya tentang masalah adat istiadat, kebudayaan ataupun upacara-upacara ritualnya adalah sama. misalnya  upacara perkawinan yang ditandai dengan sajian seorang laki-laki yang harus dapat memenuhi permintaan seorang isteri dan perkawinan tersebut harus sepadan dengan golongan yakni antara orang yang masih keturunan dengan orang yang masih keturunan pula, antara orang yang rendah dengan orang yang rendah atau masyarakat awam dengan masyarakat awam. Segala sesuatu yang mencakup kebutuhan seorang isteri harus terpenuhi sebelum upacara perkawinan dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan oleh kedua belah pihak. 

Contoh lain dari adat mereka, misalnya adat kematian yang masih mempunyai perbedaan di antara masyarakat biasa dengan masyarakat yang keturunan raja atau sederajat. Pada upacara pemakaman misalnya bagi masyarakat biasa atau non keturunan raja maka upacara pemakamannya dapat dilaksanakan dengan sangat sederhana. Sedang, sebaliknya bagi masyarakat yang keturunan raja maka upacara pemakamannya dapat dilaksanakan dengan meriah. 

Dari uraian yang telah dikemukakan di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa bentuk pola masyarakat pada umumnya yang ada di Indonesia khususnya Sulawesi Selatan mempunyai berbagai adat istiadat yang merupakan makna kebudayaan bagi bangsa Indonesia, seperti adat perkawinan, kematian, upacara-upacara ritual, yang mempunyai perbedaan bagi bangsa dan suku-suku lainnya. Namun bentuk pola hidup masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat, berkelompok, namun tidaklah mempengaruhi secara menyeluruh bagi kehidupan generasi yang ingin maju dan berkembang dalam pendidikan.

  1. C.    Hubungan Antara Ilmu Pengetahuan dan Masyarakat

Ilmu Pengetahuan dan Masyarakat – Perbedaan antara situasi ilmu pengetahuan dulu dan sekarang tentu tidak terbatas pada kesatuan lebih besar yang menandai ilmu pengetahuan di masa lampau. Terdapat juga perbedaan-perbedaan lain. Antara lain cukup menyolok mata bahwa tempat yang diduduki ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari dulu sama sekali berbeda, kalau dibandingkan dengan situasi sekarang. Dulu ilmu pengetahuan praktis tidak mempengaruhi hidup sehari-hari. Dan dianggap biasa saja, bila ilmu pengetahuan tidak mempunyai konsekuensi dalam kehidupan kemasyarakatan.

Dalam konteks ini terdapat perkataan Aristoteles yang cukup menarik, umat manusia menjamin urusannya untuk hidup sehari-hari barulah dapat diarahkan perhatiannya kepada ilmu pengetahuan. Jadi, rupanya kegiatan ilmiah tidak bertujuan mempermudah urusan ini atau meningkatkan taraf hidup jasmani. Apalagi, pada waktu itu tidak mungkin orang berpikir untuk meningkatkan taraf hidup, karena tingginya taraf hidup dianggap telah ditentukan oleh alam kodrat dan manusia tidak sanggup mengubah alam kodrat.
Dulu ilmu pengetahuan mempunyai tujuan yang sama sekali berbeda. Ilmu pengetahuan bertujuan memperingatkan manusia bahwa selain makhluk alamiah (makhluk yang tersimpul dalam tata susunan alam), ia masih merupakan sesuatu yang lain, yaitu makhluk yang mengetahui tentang dirinya dan dengan demikian juga tentang perbedaannya dengan alam. Ilmu pengetahuan bermaksud mendalami pengertian tentang diri manusia dan alam itu supaya secara rohani manusia dapat sampai pada inti dirinya. Karena itu ilmu pengetahuan tidak berguna dalam arti bahwa ilmu pengetahuan tidak berusaha mencapai sesuatu yang lain. Ilmu pengetahuan dipraktekkan untuk ilmu pengetahuan itu sendiri.
Kini fungsi kemasyarakatan dari ilmu pengetahuan telah berubah secara radikal. Bahwa ilmu pengetahuan sekarang ini melayani kehidupan sehari-hari masyarakat menurut segala aspeknya. Kegiatan ilmiah dewasa ini didasarkan pada dua keyakinan berikut:
1. Segala sesuatu dalam realitas dapat diselidiki secara ilmiah, bukan saja untuk mengerti realitas lebih baik, melainkan juga untuk menguasainya lebih mendalam menurut segala aspeknya.
2. Semua aspek relitas membutuhkan juga penyelidikan seperti itu. Kebutuhan-kebutuhan yang paling primer, seperti air, makanan, udara, cahaya, tempat tinggal tidak akan cukup tanpa penyelidikan secara ilmiah dan obyektif sehingga memahai secara benar dan tepat.
Tentu saja dapat dikatakan juga bahwa kita sekarang ini berada dalam semacam gerak spiral: di satu sisi kita harus menggunakan ilmu pengetahuan untuk menjamin kebutuhan-kebutuhan kita yang paling elementer dan di lain sisi keharusan itu sebagian disebabkan karena telah mempengaruhi dan mengubah keadaan hidup kita yang natural. Kita sendiri telah menciptakan suatu situasi dan keadaan (lingkungan) yang ganjil.
Lebih dahulu kita telah merusak lingkungan hidup yang natural (air, udara, tanah) dan kemudian kita harus membersihkan lagi lingkungan itu. Tidak alasan untuk membanggakan situasi seperti itu. Namun demikian, kita sepatutnya hati-hati dulu dan tidak terlanjur cepat melontarkan penilaian kita. Bagaimanapun juga dulu hanya sejumlah kecil orang sanggup memanfaatkan sumber-sumber alamiah dan dengan berbuat demikian mereka selalu merugikan serta mengorbankan orang lain. Bagi kita sekarang lebih penting adalah pertanyaan bagaimana sampai terjadi bahwa ilmu pengetahuan tidak saja menjadi berguna untuk kehidupan sehari-hari melainkan juga unsur yang tidak mungkin dilepaskan lagi dari hidup dan kehidupan manusia sebagai bagian dari masyarakat.
Gagasan Islam tentang ilmu pengetahuan menyatu dengan keinginan mencapai kebahagian akhirat, cita-cita akan manfaat bagi kemanusiaan, dan tanggung jawab dalam rangka mengejar dan atau meraih anugerah dan ridha Allah semata.
Ilmu Pengetahuan dan Masyarakat – Mengalir ke masa depan bak banjir cepat yang penuh kekuatan dan daya hidup, dan terkadang menyerupai taman mempesona, alam semesta ini seperti buku yang dipersembahkan kepada kita untuk dipelajari, sebuah pameran untuk disaksikan, dan sebuah amanah yang dipercayakan kepada kita dengan kebolehan mengambil manfaat darinya. Dengan mempelajari makna dan isi amanah ini, kita harus menggunakannya dengan cara yang bermanfaat bagi generasi masa depan serta generasi sekarang. Jika kita mau, kita dapat mengartikan ilmu pengetahuan sebagai hubungan sebagaimana diidamkan di atas antara manusia (dalam hal ini masyarakat) dan dunia ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan adalah warisan bersama umat manusia, bukan milik pribadi dari orang-orang tertentu. Permulaannya dimulai dengan permulaan umat manusia. Ketika budaya intelektual Eropa mencapai kedewasaan yang memadai, yang sebagian besarnya dicapai melalui prestasi negara-negara selain-Eropa lainnya, ilmu-ilmu eksperimental secara khusus telah matang bagi perkembangan baru menyeluruh melalui Renaissance, Abad Kebangkitan.
Jika ilmu pengetahuan sejati berarti mengarahkan kecerdasan menuju kebahagiaan akhirat tanpa mengharapkan keuntungan materi, melakukan pengkajian tak kenal lelah dan terperinci tentang alam semesta untuk menemukan kebenaran mutlak yang mendasarinya, dan mengikuti metoda yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu, maka ketiadaan hal-hal tersebut memiliki arti bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat memenuhi harapan kita.
Sebelum Kristen, Islam adalah pembawa obor pengetahuan ilmiah. Pemikiran agama yang memancar dari kebahagian akhirat, dan cinta serta semangat yang muncul dari pemikiran itu, yang disertai rasa kefakiran dan ketidakberdayaan di hadapan Pencipta Maha Kekal, berada di balik kemajuan ilmiah besar selama 500-tahun yang tersaksikan di dunia Islam hingga akhir abad kedua belas. Gagasan ilmu pengetahuan berdasarkan Wahyu Ilahi, yang mendorong penelitian ilmiah di dunia Islam, dipersembahkan nyaris sempurna oleh tokoh-tokoh terkemuka zaman itu, yang tenggelam dalam pikiran tentang kebahagiaan akhirat, meneliti alam semesta tanpa kenal lelah untuk mencapai kebahagiaan akhirat. Ketaatan mereka kepada Wahyu Ilahi menyebabkan kecerdasan yang berasal dari Wahyu itu memancarkan cahaya yang memunculkan gagasan baru ilmu pengetahuan di dalam jiwa manusia.
Jika gagasan ilmu pengetahuan, yang diterima dan dimanfaatkan oleh masyarakat seolah merupakan bagian dari risalah Ilahi, dan yang dipelajari dengan semangat ibadah, tidak pernah terkena serangan Mongol yang menghancurkan serta terpaan Perang Salib yang tak berbelas kasih dari Eropa, maka dunia hari ini akan lebih tercerahkan, memiliki kehidupan intelektual yang lebih kaya, teknologi yang lebih sehat, dan ilmu pengetahuan yang lebih menjanjikan. Saya katakan ini karena gagasan Islam tentang ilmu pengetahuan menyatu dengan keinginan mencapai kebahagian akhirat, cita-cita akan manfaat bagi kemanusiaan, dan tanggung jawab dalam rangka meraih anugerah dan ridha Allah.
Cinta akan kebenaran mengarahkan penelitian ilmiah sejati. Ini berarti mendekati alam semesta tanpa pertimbangan keuntungan materi dan balasan duniawi, dan mengamati dan mengenalinya sebagaimana kenyataan sebenarnya. Sementara mereka yang dilengkapi dengan cinta seperti itu dapat mencapai tujuan akhir dari penelitian mereka, mereka yang terkena syahwat duniawi, cita-cita materi, prasangka ideologis, dan taklid buta terhadapnya, serta tidak mampu mengembangkan rasa cinta akan kebenaran apa pun, akan gagal, atau lebih buruk lagi, mengalihkan jalannya penelitian ilmiah dan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai senjata mematikan untuk digunakan melawan kemampuan terbaik umat manusia atau masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian ulasan singkat seputar Ilmu Pengetahuan dan Masyarakat, semoga bermanfaat.

situs: www.rangkumanmakalah.com

Daftar Pustaka

  • Depag RI, Al-Qur,an dan Terjemahannya,Jakarta. 1971
  • Baiquni, Achmad, Al-Qur,an Ilmu Pengetahuan dan teknologi,PT. dana Bhakti    Prima Yasa. 1996
  • Ian G. Barbour, Menemukan Tuhan dalam Sains kontemporer dan Agama.bandung PT. Mizan Pustaka.2002
  • Rumadi, Masyarakat Post Teologi:wajah baru agama dan Demokratisasi Indonesia.Jakarta. PT. Gugus Press. 2002
  • The Liang Gie, Pengantar Filsafat ilmu.Yogyakarta, Liberty jogja. 2007
  • Asghar Ali Enginer,islam dan Pembebasan.
  • George Sarton, History of Science.Fodham University New York. 2002
  • Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, Raja Grafindo Persada. 2009
  • Henry Corbin,History of Islamic Philosophy, PaulKegan International. 2003
  • Poedjawijatno, Pembimbing kea rah Filsafat. Jakarta Rineka Cipta, 2005
  • Joshua Parent, an IslmicPhilosophyof virtuos Religions. States University of New York Press.2006
  • Shabbir Akhtar, The Qur,an and the Secural Mind,Routletge London and New York. 2008
  • Surajiyo, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya Di Indonesia. Jakarta bumi Aksara. 2008
  • Anshari, Endang Saifuddin, Ilmu Filsafat dan Agama. Surabaya Bina Ilmu, 2009
  • Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu; Sebuah pengantar popular. Jakarta, Pustaka sinar Harapan, 2003

[1] Amsal Bahtiar,Filsafat Ilmu (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009), 12

[2] Ibid,. 91

[3] Surajiyo, Filsafat dan Ilmu Perkembngannya di Indonesia (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), 56 atau lihat The Liang Gie, Pengantar Filsafat ilmu (Yogyakarta: Liberty jogja, 2007), 98

[4] Poedjawijatno, Pembimbing ke arah Alam Filsafat (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), 5

[5] Endang Saifuddin Anshari, Ilmu Filsafat dan Agama (Surabaya: Bina Ilmu, 2007), 47

[6]. Ahmad Baiquni, Al-Qur’an Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Jakarta : Dana Bhakti Prima Yasa, 1995), 55

[7] Ahmad baiquni, Al-Qur,an Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Jakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 1995), 119

[8] Ibid, 118

[9] Endang Saifuddin Anshari, Ilmu Filsafat dan Agama (Surabaya: Bina Ilmu, 2008), 47

[10] Surajiyo, Filsafat dan Ilmu Perkembngannya di Indonesia (Jakarta:Rineka Cipta, 2009), 59 atau lihat The Liang Gie, Pengantar Filsafat ilmu (Yogyakarta: Liberty Jogja, 2007), 87

[11] .J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: PN. Balai Pustaka, 1984), h. 186.

[12] Hassan Sadily, Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia (Cet. I; Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1993), h. 50.

[13] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (Cet. 33; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), h. 29.

[14] H. Jalaluddin, Teologi Pendidikan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), h. 86-87.

[15] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (Cet. 35; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), h. 59-61.

[16] Ibid., h. 360-361.

[17] Ibid., h. 364-365

[18]. Ahmad Baiquni, Al-Qur’an Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, (Jakarta : Dana Bhakti Prima Yasa, 1995), hlm., 55.

Share This:

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *