Kurikulum Berbasis Pendidikan Karakter, Lengkap!

Kurikulum Berbasis Pendidikan Karakter

Kurikulum Berbasis Pendidikan Karakter

www.rangkumanmakalah.com

Definisi

Kurikulum Berbasis Pendidikan Karakter – Kata karakter berasal dari bahasa yunani: charas sein, yang berarti (pada awalnya) coretan, atau goresan. Kemudian berarti stempel atau gambaran yang ditinggalkan oleh stempel itu.[1]Adapun pengertian secara istilah, Sujanto mendefinisikan karakter sebagai pribadi jiwa yang menyatakan dirinya dalam segala tindakan dan pernyataan, dalam hubungannya dengan bakat, pendidikan, pengalaman, dan alam sekitarnya.[2]Purwanto  mengartikan watak/ karakter  lebih umum dari pada sikap, sifat, dan tempramen. Ia menyimpulkan bahwa sikap, sifat, dan tempramen termasuk ke dalam watak/karakter.[3]Lebih lanjut, Purwanto  menampilkan beberapa pendapat para ahli psikologi, di antaranya;[4]

a)      I.R Pedjawijatna mengatakan bahwa watak atau karakter adalah seluruh aku yang ternyata dalam tindakannya (insani, jadi dengan pilihan) terlibat dalam situasi, jadi memang di bawah pengaruh dari pihak bakat, tempramen, keadaan tubuh, dan lain sebagainya.

Selanjutnya ia mengatakan bahwa watak/karakter dapat dipengaruhi dan dididik.

b)      Valentino mengemukakan tentang watak yang hubungannya dengan “the self” seperti berikut:

“the  more a man ceases to be the creature of varying and often conflicting impulses, or to be dominated by the influence of person with him at the moment, anthe more he builds up a few main sentiments his condut and nearer be comes to controlling all his actions by some ideal of conduct or ideal of his own “self” in short, the more stable and consistent he becomes, the more he reveals what we usually call character. This term implies essntially something relatively permanent: the organization of the self as revealed in conduct whether that conduct be on the whole morally good or bad ”.

Melihat kedua definisi di atas, penulis menyimpulkan bahwa karakter adalah struktur batin manusia yang nampak dalam tindakan tertentu dan tetap, baik tindakan itu baik ataupun buruk. Lebih dari tempramen, yang sangat dipengaruhi oleh konstitusi tubuh dan pembawaan lainnya, maka watak/ karakter lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan seperti pengalaman, pendidikan, intelejensi, dan kemauan.

Kurikulum Berbasis Pendidikan Karakter di indonesia

Kurikulum Berbasis Pendidikan Karakter – Setelah melihat definisi karakter, sempat disimpulkan definisi tersebut bahwa karakter adalah struktur batin manusia yang bisa dilihat dengan melihat tindakannya sehari-hari. Struktur tersebut dapat dipengaruh oleh lingkungan,pengalaman, pendidikan, intelejensi, dan kemauan.

Berangkat dari pandangan bahwa karakter dapat dipengaruhi oleh pendidikan, maka pendidikan karakter dimunculkan untuk mencetak karakter manusia yang sesuai dengan keinginan dan cita-cita Negara dan agama.

Pendidikan karakter adalah suatu usaha untuk membentuk anak didik yang memiliki karakter yang telah di rumuskan oleh setiap lembaga pendidikan. Langkah untuk menuju ke sana memerlukan beberapa proses yang harus dilalui, diantaranya dengan pemahaman nilai-nilai dalam karakter serta metodologi pendidikan karakter. Kedua hal terebut akan dibahas dalam pembahasan selanjutnya.

 Urgensi Pendidikan Karakter

Kurikulum Berbasis Pendidikan Karakter – Brooks dan Goble menyatakan bahwa” pendidikan karakter yang secara sistematik diterapkan dalam pendidikan dasar dan menengah merupakan sebuah daya tawar berharga tinggi bagi seluruh komunitas.[5] Para siswa memperoleh keuntungan dengan memperoleh perilaku dan kebiasaan positif yang mampu meningkatkan rasa percaya dalam diri mereka, membuat hidup mereka lebih bahagia dan lebih produktif.

Tugas-tugas guru menjadi lebih ringan dan lebih memberikan kepuasan ketika para siswa memiliki disiplin yang lebih besar dalam kelas. Orang tua bergembira ketika anak-anak mereka belajar untuk menjadi lebih sopan, memiliki rasa hormat dan produktif. Para pengelola sekolah akan menyaksikan berbagai macam perbaikan dalam hal disiplin, kehadiran, pengamalan nilai-nilai moral bagi siswa maupun guru, demikian juga berkurangnya tindakan vandalism di dalam sekolah”.

  1. Pendidikan Karakter di Sekolah

Kurikulum Berbasis Pendidikan Karakter – Sebagaimana kesepakatan awal tentang karakter, bahwa karakter adalah sesuatu yang dapat dididik dan dirubah, maka dalam upanya pembentukan karakter, lembaga pendidikan juga berperan dalam pembentukan karakter manusia melalui adanya program pendidikan karakter di sekolah.

Terdapat beberapa hal yang mencakup dalam pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah, antara lain:

a)    Prinsip-prinsip pendidikan karakter di sekolah

Pendidikan karakter di sekolah memerlukan prinsip-prinsip dasar yang mudah dimengeri dan dipahami oleh siswa dan setiap individu yang bekerja dalam lingkup pendidikan itu sendiri. Koesoema menyebutkan beberapa prinsip yang bisa dijadikan pedoman dalam pendidikan karakter di sekolah, antara lain;[6]

1)        Karaktermu ditentukan oleh apa yang kamu lakukan, bukan apa yang kamu katakana atau kamu yakini.

2)        Setiap keputusan yang kamu ambil menentukan akan menjadi orang macam apa dirimu.

3)        Karakter yang baik mengandaikan bahwa hal yang baik itu dilakukan dengan cara-cara yang baik, bahkan seandainya pun kamu harus membayarnya dengan mahal, sebab mengandung resiko.

4)        Jangan pernah mengambil perilaku buruk yang dilakukan oleh orang lain sebagai patokan bagi dirimu, sebab dirimu dapat mengambil Patokan yang lebih baik dari mereka.

5)        Apa yang kamu lakukan itu mempunyai makna dan transformatif, ingat bahwa individu bisa merubah dunia.

6)        Bayaran bagi mereka yang berkarakter baik adalah bahwa kamu menjadi pribadi yang lebih baik. Dan ini akan membuat dunia menjadi tenpat yang lebih baik untuk dihuni.

b)   Nilai-nilai dalam pendidikan karakter

Nilai menurut Rokeach yang dikutip oleh Supratik merupakan suatu kepercayaan (belief) yang bersifat preskriptif atau sebaliknya proskriptif. Artinya, kepercayaan bahwa sesuatu hal adalah benar atau seyogyanya dilakukan, dikejar, atau dimiliki (preskriptif).[7] Bisa pula sabaliknya, keperyaan bahwa sesuatu hal adalah tidak benar atau seyogyanya tidak dilakukan, tidak dikejar atau tidak dimiliki (proskriptif)

Nilai–nilai yang akan disebutkan di bawah ini adalah nilai-nilai -baik yang preskriptif maupun yang proskriptif- yang akan berusaha ditanamkan kepada peserta didik sebagai pendidikan yang akan membentuk karakter mereka. Berikut beberapa nilai-nilai menurut Koesoema:

1)      Nilai keutamaan

Manusia memiliki nilai keutamaan kalau ia menghayati dan melaksanakan tindakan-tindakan utama yang membawa kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain.

2)      Nilai keindahan

Keindahan biasa ditafsirkan  sebagai keindahan fisik, berupa hasil karya seni, patung, bengunan, sastra, dll.

3)      Nilai kerja

Untuk menjadi manusia yang utama diperlukan adanya kinerja konkrit dalam bentuk riil yaitu amal pekerjaan. Untuk itu diperlukanlah kesabaran, ketekunan, dan jerih payah.

4)      Nilai cinta tanah air

Nilai ini haruslah ada pada diri peserta didik. Karena sebagai warga Negara yang dilahirkan di tanah Indonesia, sepatutnya mereka mencintai tanah tumpah darah mereka sendiri. Rasa cinta mereka dapat ditunjukkan dengan rasa nasionalisme tinggi, mematuhi peraturan Negara, meningkatkan SDM demi kemajuan bangsa Indonesia, dan lain-lain.

5)      Nilai demokrasi

Negara kita, Indonesia adalah Negara yang menganut paham demokrasi, untuk merealisasikan bentuk praktek demokrasi di seluruh bumi Indonesia dan pada seluruh kalangan, tua, muda, kaya, miskin, dan sebagainya, maka menjadi sebuah keharusan bagai sekolah untuk memberikan pengetahuan  tentang demokrasi yang selanjutnya akan diperaktekkan oleh anak didik baik dalam  proses belajar maupun dalam interaksi keseharian mereka dengan masyarakat.

6)      Nilai kesatuan

Kesatuan adalah sebuah konsep di mana seorang dituntut bersatu, kompak, dan tidak bercerai berai meskipun terdapat perbedaan baik dalam suku, etnis, budaya, agama, dan sebagainya. Nilai dari kesatuan itulah yang harus dimiliki oleh peserta didik agar dalam hidupnya mereka senang dan cinta persatuan dan benci serta mencela perpecahan.

Nilai kesatuan sangatlah penting pada saat-saat seperti ini di tengah semakin banyaknya aliran-aliran separatism yang mulai bergejolak. Maka untuk itu, perserta didik yang akan melanjutkan perjuangan bangsa Indonesia diharapkan dapat memiliki dan menghayati nilai kesatuan tersebut.

7)      Nilai moral

Sangat jelas sekali urgensi dari moral, bahwa adalah suatu hal yang mutlak diperlukan untuk proses interaksi sesama manusia. Bagaimana manusia dapat berinteraksi sesama dengan lancar dan baik tanpa mengganggu dan mengusik kehidupan orang lain adalah salah satu hal yang terdapat dalam moral. [8]

Semua agama di dunia ini sejatinya mempunyai ajaran yang sama tentang moral. Islam melarang penganutnya untuk berbuat sesuatu yang dapat merugikan orang lain, seperti mencuri, merampok, menipu dan sebagainya. Begitupun di Kristen dan agama yang lain. Ini berarti bahwa dalam konsep moral artinya interaksi antar sesama manusia, sejatinya tidak ada perbedaan antar agama. Inilah yang kita kenal dengan hukum positif.

Nilai-nilai tersebut merupakan bagian integral yang bisa dikembangkan dalam pembuatan proyek pendidikan karakter di sekolah.

c)    Metodologi pendidikan karakter

Koesoema (2007:  212-217) merumuskan metodologi pendidikan karakter sebagaimana berikut;

1)   Mengajarkan

Untuk melakukan yang baik, yang adil, dan yang bernilai, tentu pertama-tama perlu mengetahui dengan jernih apa itu kebikan, keadilan, dan nilai. Pendidikan karakter berusaha memberi pemahaman secara komprehensif tentang hal-hal di atas kepada peserta didik serta meyakinkan mereka bahwa hal-hal tersebut dapat berimplikasi positif baik terhadap dirinya sendirinya maupun orang lain.

2)   Keteladanan

Usaha memberikan pemahaman serta meyakinkan anak didik tentang implikasi positif dari hal tesebut akan terlihat pincang ketika tidak dibarengi dengan adanya keteladanan dari pendidik atau bisa disebut guru dalam konteks lembaga pendidikan.

Arti guru secara etimologi adalah digugu dan ditiru. Oleh sebab itu guru sepatutnya memberikan teladan yang yang baik terhadap anak didiknya, tidak hanya mengajarkan mereka tentang kebaikan, tetapi harus dibarengi dengan teladan dalam mengaplikasikan kebaikan tersebut.

3)   Menentukan prioritas

Lembaga pendidikan  seharusnya menentukan standar atas karakter yang akan ditawarkan kepada peserta didik sebagai bagian dari kinerja kelembagaan mereka. Standar prioritas tersebut yang harus diketahui oleh peserta didik yang kemudian akan diaplikasikan baik dalam lingkungan sekolah maupun ketika anak didik berinteraksi dengan masyarakat luas.

4)   Praksis prioritas

Setelah ditentukan prioritas nilai-nilai yang menjadi target program pendidikan karakter, maka dalam tahap ini, niai-nilai yang telah dirumuskan harus dilaksanakan dan diterapkan kepada anak didik.

Hal penting yang harus diperhatikan oleh lembaga pendidikan yang akan menerapkan pendidikan karakter adalah membuat verifikasi sejauh mana visi sekolah berupa pendidikan tersebut terealisasi. Inilah yang akan menjadi bahan evaluasi pada tahap akhir dari metodologi pendidikan karakter.

5)   Refleksi

Karakter yang ingin dibentuk oleh lembaga pendidikan melalui berbagai macam program dan kebijakan harus senantiasa dievaluasi dan direfleksikan secara berkesinambungan dan kritis. Dengan ini dapat diketahui sejauh mana pendidikan karakter yang telah diterapkan dapat terealisasi. Selain itu juga dapat diidentifikasi hambatan-hambatan dalam proses pendidikan karakter tersebut, sehingga hal tersebut dapat menjadi PR dan masukan untuk pendidikan karakter tahap berikutnya, demikian seterunya.

Kelima hal di atas merupakan unsur-unsur yang bisa menjadi pedoman dan patokan dalam menghayati dan mencoba menghidupi pendidikan karakter di dalam setiap lembaga pendidikan. Lima hal tersebut bisa dikatakan sebagai lingkaran dinamis dialektis yang senantiasa berputar semakin maju.

Urgensi Kurikulum Berbasis Pendidikan Karakter

Kurikulum berbasis pendidikan karakter – Kesadaran akan pentingnya pengembangan karakter terinspirasi oleh banyaknya sebuah penyimpanngan dan bahkan dalam beberapa indicator menjadi sebuah kejahatan, yang dilakukan oleh bebberapa orang yang berpendidikan. Para birokrat yang korupsi adalah mereka yang menenyam pendidikan tinggi. Pada setiap jenjanng pendidikan yang meekatempuh, memperoleh pendidikan Agama, sesuai dengan agama masing-masing, selain itu meek juga memperoleh pendidikan Kewarganegaraan. Akan tetapi, mereka sama sekali tidak  mencerminkan sebagai oran anng berpendidikan. Ha demikian dapat ditunjukkan denan berbagai kasus di Negara ini yang merisaukan dan bahkan merugikan Negara.

Oleh karena itulah, Kementrian Koordinator Kesejahteran Rakyat pada bulan juli 2010 mengeluarkkan kebijakan nasional pembanunan karakter bangsa (KNPKB) yang diikuti dengan terbitnya Disain Induk Pendidikan Karakter (DIPK) dari Kementrian Pendidikan Nssional. Dalam kebijakan nasional tersebut ditegaskan bahwa pembanunan karakter berfungsi:[9]

a)      Pembentukan dan penembangan potensi, yakni bahwa pembinaan karakter bangsa berfungsi membentuk dan mengembankan potensi bangsa agar berfikir baik,  memiliki cita rasa yang baik  dan berperilaku baik.

b)      Perbaikan dan penguatan; yakni bahwa pembinaan karakter bangsa berfungsi memperbaiki karakter yang salah dan bertentanan dengan fiosofi bangsa serta berbagai aturn yang menatur kehidupan bangsa ini, serta memperkuat nilai-nilai yang dimiliki dan dijadikan cuan dalam berfikir, berccita rasa, dan bertindak.

c)      Penyaringan; yakni bahwa pendidikan karakter bangsa berfungsi sebagai penyarin nilai-nilai luar yang masuk pada masyarakat Indonesia, yang bertentangang dengan nilai-nilai luhur pancasila.

Berbagai nilai yang sudah dirumuskan dalam Disain Induk Pendidikan Krakter yang dikeluarkan oleh Kementrian Pendidikan Nasional sebagai berikut;[10]

NO NILAI DESKRIPSI
1 Religius Sikap perilaku yang patuhh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukunn dengan pemeluk agama lain
2 Jujur Perilaku  yang didsarkkan pada upaya menjaadikan dirinya sebagai orang yang dapat dipercaya dalam pektaan, tindakan, dan pekejaaan.
3 Tolerans Sikap dan tindakan yang menghargai pebedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang bebeda dengan dirinya.
4 Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5 Kerja Keras Perilaku yang menunjukkan upaya sunguh-sunguh dalam mengatasi bebagai hambatan belajar dan tugas, serta melakukan tugas sebaik-baiknya.
6 Kreatif Berfikir dan melakukan sesuatu untuk menghhasilkan cara atau hasil dari sesuatu yang telah dimiliki.
7 Mandiri Sikap dan perilaku yanngg tidak mudah tergantunn pada orang lain dalam menyelesikan tugas-tugas.
8 demokratis Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9 Rasa Ingin Tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk menetahui lebih mendalam dan meluas dari seuatu yang dipelajarinya,  dilihat, dan didengar.
10 Semangat Kebangsaan Cara berfikir, bertindak, dn berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan Negara di atas kepentingan kelompoknya.
11 Cinta Tanah Air Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian dan penghargaan  yang tinnggi terhadap bahasa, lingkungan, fisik sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
12 Menghargai Prestasi Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk mmenggasilkan sesuatu yang berguna untuk  masyarakat, dan mengakui serta menhhomati  keberhasilan oran lain.
13 Bersahabat/Komunnikatif Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, begaul, dan bekeja sama dengan oang lain.
14 Cinta Damai Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan oang lain merasa senang dan aman atas kehadirannya.
15 Gemar membaca Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinnya.
16 Peduli Lingkunan Sikap dan perilaku yang berupaya mencegah  kerusakan pada lingkungan alam sekitarnya, dan mengembankan upaya-upaya untuk mempebaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17 Peduli Sosial Sikap dan perilaku yan selalu ingin member bantuan pada oran lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18 Tanggung Jawab sikap dan perilaku seseoran untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan terhadap diri sendiri, masyarakat, linkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa

Karena beragamnya nilai yang harus dikembangkan dalam pendidikan karakter, maka pemerintah mengeluarkan kebijakan agar pendidikan karakter tersebut menjadi tanggung jawab bersama. Unsur-unsur yang ikut bertanggunn jawab  dalam pendidikan karakter adalah: (1) keluarga: yakni bahwa keluargaharus mampu mengembangkan nilai-nilai yan baik, yang akan tertransformassikan  pada anak-anak. (2), satuan pendidikan; sekolah/ madrasah harus berusha memasukkan nilai-nilai karakter tersebut secara kulikuler, baik  pada mata pelajaran Pendidikan Agama, pendidikan kewarganegaraan atau lainnya, serta menciptakan budaya sekolah yang dapat menumbuhkan cara berfikir, becita rasa dan beepeilaku yang mendukunng proses pembinaan karakter pada siswanya.

(3), Pemerintahan; pemerintah baik pusat atau daerah harus memperlihatkan cara befikir, becita rasa dan berperilaku yang menunjukkan karakter  kebangsaan  yang baik, sehingga dapat dicontoh oleh siswa. (4), Masyarakat sipil; yaitu anggota masyarakat yang berada dilingkungan yang terakses oleh siswa yang mencerminkan karakter yang baik. (5), masyarakat politik; yaitu para aktifis partai politik harus memperlihatkan cara berfikir, bercita rasa dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai karakter bangsa.

(6), dunia usaha; yaitu para usaha harus mampu memperlihatkan tindakan-tindakan usaha yan beretika dan memiliki tanggung jawab serta integritas kebangsaan. (7), media masa; yaitu media cetak dan elektronik diharapkan tidak mengekpoitasi kasus-kasus amoral dan kejahatan aagar tidak menginspirasikan anak-anak untuk hal yang sama.

Demikian ulasan singkat seputar kurikulum berbasis pendidikan karakter, semoga bermanfaat.

Daftar pustaka

[1]. Abu Ahmadi,  Ilmu Pendidikan, Jakarta, rineka Cipta, 2001, h, 239.

[2]. AgusSujanto, Psikologi Umum, Jakarta, Bumi Aksara, 2008, h, 102.

[3]. NgalimPurwanto, Psikologi Pendidikan, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 2004, h, 144.

[4]. Ibid, h, 145.

[5].  Brooks, B.D., & Goble, F.G., The Case of Character Education, the role of school in theaching values and virtue, North Ridge, CA, Studio Production, 1997, h, 103.

[6]. Doni A. Koesoema, Pendidikan Karakter, strategi mendidik anak di zaman global, Jakarta, PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 2007, h, 218-220

[7]. A Supratik, Menggugat Sekolah (kumpulan esai tentang psikologi dan pendidikan), Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma, 2006, h, 3.

[8]. Doni A. Koesoema, h, 208-212

[9]. Kementrian Koordinator Kesejahteran Rakyat, kebijakan nasional pembanunan karakter bangsa, Jakarta: Kementrian Koordinator Kesejahteran Rakyat, 2010, h, 4.

[10]. Pusat kurikulum, pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa, jakarta: Badan Litbang, Kementrin Pendidikan Nasional, 2010, h, 9-10.

Share This:

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *