SEJARAH MONGOLIA, LENGKAP!

mongolia

mongolia

  1. Bangsa Mongol berasal dari Asia bagian tengah. Bangsa Mongolia berada di wilayah pegunungan Mongolia, berbatasan dengan Cina di Selatan, Turkistan di Barat, Manchuria di Timur dan Siberia di sebelah Utara. Mongolia merupakan pusat Kekaisaran Mongol pada abad ke-13. Mongolia sendiri adalah kabilah-kabilah besar yang menyerupai sebuah bangsa pedalaman dan nomadik. Sebagian besar dari Bangsa Mongol bertempat tinggal di Padang Stepa yang membentang di antara pegunungan Ural sampai pegunungan Altai di Asia Tengah dan mendiami hutan Siberia dan Mongol di sekitar Danau Baikal. Mereka adalah pengembala yang hidup di dataran luas di Asia (dataran Mongolia yang luas memanjang dari Asia Tengah, Siberia Selatan, Tibet Utara dan Turkistan Timur.

 Orang Mongol yang terdiri dari kelompok-kelompok klan yang berdiri sendiri, pada awalnya hidup di dataran tinggi sebelah utara Gurun Gobi. Selama beberapa abad, Bangsa Mongolia hidup berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain yang membentang dari Manchuria sampai Turkistan. Mereka ditakuti oleh bangsa-bangsa sekitarnya karena serangan-serangannya yang dahsyat. Sesekali mereka menyerang Cina atau menjarah kafilah yang menyusuri jalur Sutera yang menghubungkan Cina, India dan Persia.

Sebagian besar Bangsa Mongol tidak terpengaruh oleh peradaban dan agama yang mengelilingi mereka. Mereka sangat patuh dan taat kepada pemimpinnya dalam agama Syamaniyah, yaitu kepercayaan menyembah bintang-bintang dan matahari terbit. Mereka memeluk agama nenek moyang dan menyembah Tuhan mereka, Tengri (Si Langit Biru yang kekal). Mereka mengakui adanya Yang Maha Kuasa, tetapi mereka tidak beribadah kepada-Nya, melainkan menyembah arwah, terutama roh jahat karena dipercaya mampu mendatangkan bencana sehingga merka memberikan sajian-sajian agar bencana itu tidak menimpa mereka.[2]Adapun agama-agama samawi yang sampai di tengah-tengah mereka karena factor invansi bangsa Mongol itu sendiri, Misalnya agama Islam pengaruh dari Persia dan daerah-daerah Golden Holde, agama Budha pengaruh dari Tibet dan Persia dan agama Kristen datang dari Eropa. 

Bangsa  hidup dari hasil perdagangan tradisional yaitu mempertukarkan Bangsa Turki dan Cina yang merupakan tetangga mereka. Sebagai bangsa nomaden, mereka mempunyai sifat kasar, suka berperang, berani mati dalam mewujudkan keinginan dan ambisi politiknya. Nenek moyang Bangsa Mongol adalah Alanja Khan yang dikaruniai putera kembar yaitu Mongol dan Tartar, yang mana dari kedua putera ini melahirkan dua keturunan bangsa yaitu Bangsa Mongolia dan Bangsa Tartar.[3] Pada masa kerajaan Mongol dipimpin oleh Ilkhan dan Tartar dipimpin oleh Sanja Khan terjadi perselisihan antara keduanya. Pada awalnya peperangan dimenangkan oleh Tartar tapi akhirnya Mongol berhasil menggulingkan kekuatan Tartar.

Pelopor Bangsa Mongol adalah Yesugei. Pada akhir abad ke-12 salah seorang pemimpinnya yang bernama Temujin, putra Yesugei berhasil menyatukan suku-suku Mongol di bawah kekuasaannya. Selanjutnya Temujin mendapat gelar “Jengiz Khan” yang berarti raja yang kuat dan perkasa. Jengiz Khan menetapkan Kota Karakoram yang terletak di sekitar sungai Arkhan sebagai ibu kota Negara yang didirikan atas dasar kekuatan militer yang tangguh pada tahun 603 H (1206 M). Perpaduan antara watak nomad dengan ketangkasan Bangsa Mongol menunggang kuda, serta keberaniannya melawan musuh mengantarkan Bangsa Mongol sebagai bangsa penakluk.[4] 

Setelah menyatukan suku-suku Mongol, Jengiz Khan melihat bahwa semua barang yang mereka punya bukan berasal dari Mongolia. Keramik dan sutra dari Cina, obat-obatan dari Korea dan kayu-kayu dari India. Jadi Jengiz Khan berencana untuk merebut tempat-tempat tersebut. Setelah membentuk tentara yang kuat, Jengiz Khan memulai invasi ke tempat yang terdekat yaitu Cina. Jengiz Khan memanfaatkan Jin untuk melemahkan sasarannya yaitu Dinasti Song yang menguasai Dataran Tengah yang subur di Cina. Sebelumnya Jengiz Khan menguasai Xia dan merebut sebagian Liao. Setelah Jin berhasil masuk ke Cina tengah, Jengis Khan menyerang Jin di Yajing (Bei Jing sekarang), Jengiz Khan melakukan ini dengan membantu Jin mengalahkan Song yang sudah terdesak di Selatan. [5]

Nenek moyang kerajaan Jin berasal dari suku Jurchen. Suku Jurchen berhasil menguasai wilayah utara Cina selama lebih dari 100 tahun. Kerajaan Jin memiliki jumlah pasukan yang hampir mendekati jutaan jiwa (lebih dari 10 kali lipat dari pasukan Jengis Khan pada waktu itu). Mereka hidup aman dibalik tembok kerajaan yang besar dan susah untuk diserang. Tetapi Jin yang diserang dan tidak siap, apalagi setelah 100.000 pasukan mongol melintasi Great Wall maka merekapun tidak bertahan lama, dalam waktu 2 tahun, Jin utara pun berhasil dikuasai. Para seniman , ahli senjata (terutama ahli senjata berat/siege weapon), dan barang berharga, semuanya dibawa kembali ke Mongolia sebagai budak dan rampasan perang.

  1. Serangan Mongol ke Dunia Islam

Serangan bangsa mongol yang paling besar dipimpin 3 pemimpin yang terkenal dalam sejarah yaitu Jengis Khan, Hulagu Khan dan Timur Lenk. Ketiga pimpinan mongol ini yang yang membawa invansi mongol ke dunia Islam sehingga Islam mengalami kemunduran yang sangat signifikan. 

  1. Serangan Mongolia oleh Jengis Khan

Setelah berhasil memimpin 13 kelompok Mongol dan Timujin yang mendapat gelar Jengis Khan, Raja Yang Perkasa, menetapkan suatu undang-undang yang disebut Alyasak atau Alyasah , untuk mengatur kehidupan rakyatnya. Wanita mempunyai kewajiban yang sama dengan laki-laki dalam kemiliteran. Pasukan perang dibagi dalam beberapa kelompok besar dan kecil, seribu, dua ratus, dan sepuluh orang. Tiap-tiap kelompok dipimpin oleh seorang komandan.[6] Dengan demikian bangsa Mongol mengalami kemajuan yang pesat pada bidang militer. 

Dengan modal pasukan perang yang telah terorganisasi dengan baik, Jengis Khan berusaha memperluas wilayah kekuasaanya dengan melakukan penaklukan terhadap daerah-daerah lain.Serangan pertama diarahkan ke Negara Cina. Ia berhasil menduduki Peking tahun 1215 M.[7] Sasaran selanjutnya adalah negeri-negeri Islam.

Ada beberapa alasan yang menjadi latar belakang Jengis Khan mengekspansi negeri-negeri Islam, yaitu :

  1. Alasan yang utama invansi mongol ke dunia Islam adalah penaklukan tersebut menurut mereka merupakan takdir yang dibebankan langit kepada dirinya tanpa disertai alasan yang jelas .
  2. Masalah ideologi. Orang-orang Mongol termasuk Jenghis Khan adalah penganut ajaran Syamaniah yang mempertahankan kepercayaan kuno terhadap kesucian berbagai peristiwa dan benda alam, diantaranya; air, api, hujan dan petir. Sementara umat Islam menggunakan benda-benda suci tersebut, dalam hal ini air, sebagai perantara dalam ritual ibadah dan Islampun memerangi keyakinan paganism dan animism yang masih dipercayai oleh orang-orang Mongolia. Hal ini memotivasi bangsa Mongol untuk memerangi Islam. 
  3. Penyerangannya dilatar belakangi keinginan untuk membalas dendam.Peristiwa Utrar pada tahu 1218, yaitu ketika gubenur Khawarism membunuh utusan Jenghis Khan yang disertai pula oleh para saudagar Mongol. Jengis Khan mengirim 50 orang saudagar Mongol untuk membeli barag dagangan di Bukhara. Atas perintas amir Bukhara Gayur Khan, mereka ditangkap dan dihukum mati. Penangkapan tersebut disebabkan para pedagang Mongol tersebut melakukan tindakan kasar yang merugikan pedagang setempat.Peristiwa itu menimbulkan reaksi yang cukup hebat bagi Jenghis Khan, sehingga menyebabkan Mongol menyerbu wilayah Islam dan dapat menaklukan Transoxiania yang merupakan wilayah Khawarism tahun 1219-1220.[8] 

Jengiz Khan memulai invasi ke Negara Islam di Negara Khawarizm Turkistan yang merupakan pemerintahan independen dari Khilafah Abbasiyah. Pasukan Mongol saat itu berjumlah 60.000 orang, ditambah sejumlah tentara yang direkrut dari rakyat yang ditaklukkan sepanjang perjalanan. Pasukan Khawarizm tidak bisa bertahan lama di hadapan pasukan Mongol. Karena tidak mempunyai pilihan lain, sultan Khawarirzm ‘Ala al-din melarikan diri ke sebuah pulau di Laut Kaspia, dan di tempat tersebut dia mati putus asa pada tahun 1220.
Jengiz Khan dan pasukannya bergegas melanjutkan serangan ke kota Bukhara kemudian membunuh penduduknya dan membakar madrasah-madrasah, masjid-masjid dan rumah-rumah. Tentara Mongol yang menunggangi kuda dan bersenjata busur-busur aneh menebar malapetaka dan kerusakan kemanapun mereka bergerak. Selanjutnya Jengiz Khan melakukan invasi ke Samarkand dan kota-kota lain dengan melakukan pembantaian brutal dan menghancurkan populasi di kota-kota tersebut.

Jengiz Khan juga mengutus anak-anaknya yaitu Tulii untuk menaklukkan Khurasan dan Juchi, dan Changhatai untuk menaklukkan wilayah Sri Darya bawah dan Khawarizmi. Jengiz Khan menghadapi Sultan Muhammad, yang memimpin orang-orang Turki. Ia adalah seorang sultan yang ambisius dan pada awalnya menganggap remeh kekuatan Jengiz Khan. Orang-orang Mongolia menghantam basis kekuatan Sultan Muhammad, menghancurkan pemukiman dan meruntuhkan kota di Transoxania, Khawarizm dan Khurasan. 

Strategi perang bangsa Mongol adalah menanamkan trauma dan rasa takut serta menjatuhkan mental hingga musuhnya tidak berani melawan. Bangsa Mongol membunuh 700.000 penduduk Kota Marw, membobol bendungan dekat Gurganj hingga penduduk kota tersebut mati tenggelam, menuangkan emas yang mencair panas ke tenggorokan gubernurnya. Selama hampir setahun berlalu (617 H/ 1220 M) akhirnya Turkistan jatuh ke tangan Jengiz Khan yang kemudian diikuti oleh Azerbaijan, Khurasan dan beberapa kota di Persia (618-619 H). [9]
Adapun akibat serangan Mongol tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pusat-pusat budaya Islam timur hampir-hampir disapu bersih, hancurnya istana-istana kerajaan dan perpustakaan.

2.   Banyaknya penduduk yang terbunuh. Penduduk Harat (Heart) yang semula berjumlah 100.000 jiwa menjadi 40.000 jiwa.

3.  Masjid-masjid Bukhara yang terkenal sebagai pusat ibadah dan pengetahuan dijadikan kandang kuda oleh pasukan Mongol

4.  Ribuan pengrajin muslim dibawa ke Mongolia untuk dijadikan budak.[10] 

Pada saat kondisi fisiknya mulai lemah, Jenghis Khan membagi wilayah kekuasaannya menjadi empat bagian kepada empat anaknya, yaitu Juchi, Chagatai, Ogotai, dan Toluy.[11]

Wilayah kekuasan Jenghis Khan yang luas itu dibagi kepada empat anaknya sebelum ia meninggal dunia tahun 624 H/1227 M. Pertama ,Juchi anaknya yang sulung mendapat wilayah Siberia bagian barat dan stepa Qipchaq yang membentang ke Rusia Selatan, didalamnya terdapat Khawarism. Namun, ia meninggal sebelum ayahnya, Jenghis Khan wafat dan wilayah warisannya diberikan kepada anaknya bernama Batu dan Orda.

Kedua, Chagatay mendapat wilayah yang membentang ke timur, mulai dari Transoxania hingga Turkistan timur atau Turkistan Cina.Ketiga, Ogotay adalah putra Jenghis Khan yang terpilih Dewan Pimpinan Mongolia untuk menggantikan ayahnya sebagai Khan Agung yang mempunyai wilayah di Pamirs dan Ti’en Syan. Akan tetapi, dua generasi kekhannan Tertinggi jatuh ketangan keturunan Toluy. Walupun demikian cucu Ogedey yang bernama Qaydu  dapat mempertahankan wilayahnya di Pamirs dan Ti’en Syan, mereka berperang melawan anak keturunan Chagatay dan Qubilay Khan, hingga ia meninggal dunia tahun 1301. 

Keempat, Toluy si bungsu mendapat bagian wilayah Mongolia sendiri. Anak-anaknya, yakni Mongke dan Qubilay menggantikan Ogedey sebagai Khan Agung.Adalah Hulagu Khan, saudara Mongke Khan dan Qubilay Khan yang menyerang wilayah-wilayah Islam sampai ke Baghdad.[12] 

  1. Serangan Mongol oleh Hulagu Khan

Setelah Jengiz Khan meninggal pada tahun 623 H (1227 M), ia digantikan oleh anaknya yang bernama Tulii. Pada tahun 1256 M, cucu Jengiz Khan, Hulagu Khan, memperbarui serangan ke pusat pemerintahan Islam. Meskipun Hulagu Khan menganut agama tradisi Mongol, permaisurinya adalah penganut Kristen Nestorian yang mungkin mempengaruhi Hulagu Khan untuk membenci Islam. Kekerasan dan tirani Hulagu Khan sama dengan kakeknya.
Balatentara Mongol menyeberangi pegunungan Zagros dan memasuki negeri Irak. Hulagu Khan bersama tentaranya melakukan pembunuhan berantai di Persia, Irak dan Syiria. Selama perjalanan menuju Baghdad, Hulagu Khan dan pasukannya menjarah dan membakar kota-kota dan desa-desa yang dilaluinya, menyerbu semua kerajaan kecil yang berusaha tumbuh di atas puing-puing imperium Syah Khawarizmi.

 Pada bulan September tahun 1257, tatkala Hulagu Khan dan tentaranya sampai di kota sebelum Baghdad, Hulagu mengirim ultimatum kepada Khalifah al-Musta’shim agar menyerah dan mendesak agar tembok kota bagian luar diruntuhkan, tetapi khalifah menolaknya dan memerintahkan komandannya untuk mempersiapkan perang. Dalam keadaan demikian, wazir Abbasiyah, Muayyid al-Din bin Muhammad bin Al-Alqami secara rahasia melakukan perlawanan terhadap khalifah, dan selanjutnya ditemukan bahwa ia bekerjasama dengan Mongol.[13]

Pada bulan Muharram 656 H (1258 M), Hulagu bersama kurang lebih 200 ribu pasukannya mengepung kota Baghdad. Pasukan Hulagu menggunakan pelempar batu dari arah barat dan timur untuk menghancurkan tembok ibu kota. Pada Januari 1258, tentara Mongol bergerak dengan efektif untuk meruntuhkan tembok tersebut. Tak lama kemudian salah satu menara benteng berhasil diruntuhkan.

Khalifah mengirim Ibn Al-Alqami untuk meminta perdamaian kepada Bangsa Mongol, tetapi Hulagu menolaknya. Mongol menyerang kota Baghdad pada tanggal 10 Februari 1258. Khalifah beserta 300 pejabat tinggi Negara menyerah tanpa syarat. Sepuluh hari kemudian, mereka dibunuh, termasuk sebagian besar keluarga khalifah dan penduduk yang tak bersalah.

Menurut beberapa sumber sejarah, kedatangan Hulagu ke Baghdad atas undangan Ibn Al-Alqami. Ia yakin bahwa Hulagu akan membunuh khalifah dan meninggalkan Baghdad. Dengan demikian Ibn Al-Alqami dapat memindahkan kekuasaan pemerintahan ke tangan orang-orang ‘Alawiyyin. Tapi menurut kenyataan setelah Mongol membunuh khalifah, mereka merampok semua yang terdapat di dalam istana dan membakar kota Baghdad. Akhirnya Mongol juga membunuh Ibn Al-Alqami. Hulagu dapat mengusai Persia, Irak, Caucasus dan Asia Kecil. Sebelum menaklukkan Baghdad, pada tahun 1256 M Hulagu telah menguasai pusat gerakan Syi’ah di Persia Utara.[14] 

Adapun akibat serangan Mongolia ke Baghdad yaitu:

  1. Hancurnya kota-kota dengan bangunan yang indah dan perpustakaan-perpustakaan.
  2. Pembunuhan terhadap umat Islam bukan hanya terjadi pada msa Hulagu yang membunuh Khalifah Abbasiyah dan keluarganya, tetapi pembunuhan dilakukan juga terhadap umat Islam lainnya.
  3. Timbul wabah penyakit pes akibat mayat-mayat yang bergelimpangan belum sempat dikebumikan.
  4. Hancurnya segala macam peradaban dan pusaka yang telah dibuat beratus-ratus tahun lamanya.
  5. Dihanyutkannya kitab-kitab yang dikarang oleh ahli ilmu pengetahuan ke dalam sungai Dajlah sehingga berubah warna airnya karena tinta yang larut
  6. Hancurnya Baghdad sebagai pusat Dinasti Abbasiyah yang di dalamya terdapat berbagai tempat belajar dengan fasilitas perpustakaan, hilang lenyap dibakar Hulagu.
  7. Turunnya posisi Baghdad menjadi ibukota provinsi dengan nama Iraq al-‘Arabi
  8. Runtuhnya kekuasaan Dinasti Abbasiyah dan mundurnya kekuatan

politik Islam.[15]

 Setelah menguasai Persia dan Irak, Hulagu bergerak untuk memerangi Syiria dan daerah-daerah lain yang berada di bawah kekuasaan Dinasti Mamluk. Hulagu sangat ingin merebut Mesir, tetapi pasukan Mamluk lebih kuat dan lebih cerdik. Ia pun mengurungkan niatnya untuk melangkahi Mesir. Ia sangat tertarik pada bangunan dan arsitektur yang indah dan filsafat. Atas saran Nasiruddin At-Tusi, seorang filosof muslim, ia membangun observatorium di Maragha pada tahun 1259.

 Pada bulan Shafar tahun 658 H, pasukan Mongol mengepung Aleppo untuk beberapa hari. Hulagu berjanji memberikan keamanan kepada penduduknya, akan tetapi itu hanya tipuan, setelah pintu kota terbuka, pasukan Mongol membunuh penduduknya dan menjarah harta mereka. Pada tahun 1260, pasukan Hulagu mengancam Syiria Utara. Selain merebut Aleppo, membantai 50.000 penduduknya, ia juga merebut Hamah dan Harim. [16]

Setelah dari Aleppo, Hulagu mengirim pasukan Mongol ke Damaskus di bawah pimpinan Kitbuqa. Tentara Mongol menduduki Damaskus pada bulan Shafar yang mana pada tanggal 10 Shafar Aleppo jatuh ke tangan Bangsa Mongol. Pasukan Mongol menghancurkan Benteng Aleppo, merusak beberapa istana dan masjid, merampok pemimpinnya Jamaluddin Al-Halabi. 

Di bawah pimpinan Hulagu, ekspansi Mongolia meluas sampai ke wilayah Gaza. Hulagu berniat menaklukkan Mesir dan Maghribi, yang merupakan kubu akhir yang terkuat bagi kaum muslimin. Hulagu berusaha mengintimidasi sultan Daulah Mamalik, Al Mudzaffar Saifuddin Qutuz. Pada tahun 1260, Hulagu mengirim utusan ke sultan Qutuz di Kairo, yang menuntutnya untuk menyerah. Qutuz menjawab dengan membunuh para utusan dan menggantung kepala mereka pada pintu Zuweila, salah satu pintu gerbang Kairo. Qutuz segera menggerakkan pasukannya dan memancing Mongol untuk bertempur di ‘Ain Jalut. 

Kekuatan dinamis Mongol berubah karena kematian Mongke Khan Agung. Hulagu dan pemimpin senior Mongol lainnya kembali ke Mongolia untuk memutuskan penggantinya. Sebagai pengganti Great Khan yang berpotensi, Hulagu membawa sebagian besar pasukannya dengan dia, dan meninggalkan kekuatan yang jauh lebih kecil, hanya sekitar 10.000-20.000 laki-laki di bawah pemimpin jendral terbaik, seorang Kristen Nestorian Turki yang bernama Kitbuqa.[17] 

Pada akhir Agustus, pasukan Kitbuqa melanjutkan perjalanan ke selatan dari basis mereka di Baalbek, melewati sebelah timur Danau Tiberias melalui Palestina. Sultan Mamluk, Qutuz pada waktu itu bersekutu dengan sesama Mamluk, Baibars, yang ingin membela Islam setelah Mongol menaklukan Damaskus dan sebagian besar Syiria. 

            Kedua belah pihak berkemah di Palestina pada bulan Juli 1260 dan akhirnya berhadapan di ‘Ain Jalut pada tanggal 3 September (25 Ramadhan tahun 658 H), dua tahun setelah Hulagu membumihanguskan Baghdad. Kekuatan pasukan Mongol dan Islam hampir sama yaitu kurang lebih 20.000 tentara. 

  Mamluk memiliki keuntungan pengetahuan tentang medan perang. Taktik yang dipakai oleh panglima Baibars adalah dengan memancing keluar pasukan berkuda Mongolia yang terkenal hebat sekaligus kejam ke arah lembah sempit sehingga terjebak, kemudian pasukan kuda mereka melakukan serangan balik dengan kekuatan penuh yang sebelumnya memang sudah bersembunyi di dekat lembah tersebut. Taktik ini menuai sukses besar. Pihak Mongol terpaksa mundur dalam kekacauan bahkan panglima perang mereka, Kitbuqa berhasil ditawan dan akhirnya dihukum mati.

  Pertempuran ini dianggap oleh banyak sejarawan akan sangat makro-historis penting, karena menandai titik balik penaklukan Mongol, dan pertama kalinya mereka pernah mutlak dikalahkan. Pertempuran Ain Jalut ini menjadi dasar bagi peperangan, di mana ledakan meriam tangan (midfa dalam bahasa Arab) pertama kali digunakan. Bahan peledak ini dibuat oleh Mamluk Mesir dalam rangka untuk menakut-nakuti kuda dan pasukan kavaleri Mongol dan menyebabkan gangguan dalam barisan mereka.

  Setelah Mongol kalah di ‘Ain Jalut, bersama Kubilai khan sebagai Khan Agung terakhir, Hulagu kembali ke Persia pada tahun 1262, mengumpulkan pasukannya untuk menyerang Mamluk dan membalaskan kekalahan ‘Ain Jalut. Namun, Berke Khan menantang Hulagu untuk bertempur di Kaukasus. Hulagu menderita kekalahan berat dalam pertempuran di sebuah sungai di utara Kaukasus pada 1263. Ini adalah perang terbuka pertama antar Mongol, dan menandai akhir dari kerajaan Mongol bersatu. Hulagu hanya mampu mengirim pasukan kecil untuk menyerang Mamluk setelah ‘Ain Jalut, dan itu pun gagal. Hulagu Khan meninggal pada tahun 1265 dan digantikan oleh putranya Abaqa.[18] 

  1. Serangan Mongol oleh Timur Lenk

Setelah lebih dari satu abad umat Islam menderita dan berusaha bangkit dari kehancuran akibat serangan bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan, malapetaka yang tidak kurang dahsyatnya datang kembali, yaitu serangan yang juga dari keturunan bangsa Mongol. Berbeda dari Hulagu Khan dan keturunannya pada dinasti Ilkhan, penyerang kali ini sudah masuk Islam, tetapi sisa-sisa kebiadaban dan kekejaman masih melekat kuat. Serangan itu dipimpin oleh Timur Lenk.

Timur Lenk dilahirkan di Kesh (kini bernama Shahr-i-Sabz, ‘kota hijau’), yang terletak sekitar 50 mil di sebelah selatan kota Samarkand di Uzbekistan pada tanggal 25 Sya’ban 736 H (8 April 1336 M). Timur Lenk, yang artinya Timur si Pincang, karena kaki kirinya yang pincang sejak lahir adalah seorang penakluk dan penguasa keturunan Turki-Mongol dari wilayah Asia Tengah.[19]Ayahnya bernama Taragai, kepala suku Barlas, keturunan Karachar Noyan yang menjadi menteri dan kerabat Jagatai, putera Jengis Khan. Suku Barlas mengikuti Jagatai mengembara ke arah barat dan menetap di Samarkand. Taragai menjadi gebernur Kesh. Keluarganya mengaku keturunan Jengis Khan sendiri. Ketika ayahnya wafat, Timur bergabung dengan pasukan Gubernur Transoxiana, Amir Qaghazan, sampai gubernur itu meninggal. Timur lalu bergabung sebagai tentara pada penguasa lokal, Amir Husein. Pada 1360 M, Timur telah menjadi seorang pemimpin militer termasyhur. Timur dikenal sebagai komandan yang gigih dalam mempertahankan wilayahnya dari ancaman Tughluq Timur Khan, penguasa Dinasti Chagatai.

Serbuan pasukan Tughluq Timur Khan melambungkan nama Timur Lenk. Ketangguhan dan kehebatannya membuat penguasa Dinasti Chagatai terkesan. Ia direkrut Tughluq menjadi pasukannya, namun kemudian memberontak setelah Tugluq mengangkat anaknya, Ilyas Khoja sebagai Gubernur Samarkand dan hanya menjadikan Timur sebagai wazir. Timur melakukan pemberontakan bersama dengan Amir Husain cucu Qaghazan, Tughulq dan Ilyas Khoja tewas dalam pertempuran. Kemudian Timur malah membunuh Amir Husain yang juga iparnya sendiri. Pada 10 April 1370, ia mengangkat dirinya sebagai penguasa tunggal. Semboyan Timur Lenk yaitu:
“Sebagaimana hanya ada satu Tuhan di alam ini, maka di bumi seharusnya hanya ada satu raja.”

Sejak itu, Timur Lenk menebar maut sebagaimana dilakukan Hulagu seabad sebelumnya. Timur Lenk menghabiskan waktunya selama 35 tahun dalam berbagai pertempuran dan ekspedisi. Didukung pasukan Turki yang loyalis, Timur Lenk melakukan perluasan kekuasaan. Dia melebarkan kekuasaannya ke wilayah barat dan barat laut meliputi Mongol, Laut Kaspia, Ural, dan Volga. Mulai tahun 782 H/ 1380 M Timur Lenk melakukan serangan ke Persia, Khurasan dan Azerbaijan dan berhasil mendudukinya dengan serangkaian pertempuran. Kemudian pada tahun 1393 Timur Lenk melakukan invasi ke Irak, melakukan pembunuhan dan penjarahan terutama di Baghdad dan Tikrit. Ekspedisi yang dilakukannya ke wilayah selatan dan barat daya mampu menaklukkan setiap provinsi di Persia, termasuk Baghdad, Karballa, dan Irak Utara. Tak heran, bila banyak kota dan daerah yang dikuasai dinasti lain berhasil dikuasai Timur Lenk. Salah satu lawan yang paling berat bagi Timur Lenk adalah Tokhtamysh. Timur Lenk membangun menara terbuat dari 2000 mayat dibalut dengan lumpur di Sabwazar, Afghanistan.[20] 

Pada 1395, Timur Lenk menyerbu Moskow. Kemudian ia ke Timur ke India, tempat di mana ia membantai 80 ribu tawanannya. Kebiadaban terus ditebarkan. Pusat-pusat peradaban Islam dihancurkannya kecuali Samarkand. Di tempat ini, ia malah membangun kota dengan mendatangkan batu dari Delhi, India, dengan diangkut oleh gajah. Timur Lenk membangun piramida dari sekitar 20.000 kepala manusia di Aleppo, Syria, membunuh 20.000 orang di Baghdad dan mengubur hidup-hidup 4000 tentara musuh di Armenia. Sekolah dan masjid-masjid di sekitar Irak dihancurkan.Timur juga menggempur dua kesultanan penting. Yakni kesultanan Usmani di Turki serta Mamluk di Mesir. Timur Lenk menyerang Syiria pada tahun 803 H (1401 M) dan memasuki Aleppo. Tiga hari lamanya Aleppo dihancurleburkan. Kepala dari 20.000 penduduk dibuat piramida setinggi 10 hasta dan kelilingnya 20 hasta dengan wajah mayat menghadap keluar. Banyak bangunan seperti sekolah dan masjid yang berasal dari zaman Nuruddin Zanki dan Ayyubi dihancurkan. Hamah, Horns dan Ba’labak berturut-turut jatuh ke tangannya. Pasukan Sultan Faraj dari Kerajaan Mamluk dapat dikalahkannya dalam suatu pertempuran dahsyat sehingga Damaskus jatuh ke tangan pasukan Timur lenk pada tahun 1401 M. [21]Akibat peperangan itu masjid Umayyah yang bersejarah rusak berat tinggal dinding-dindingnya saja yang masih tegak. Dari Damaskus para seniman ulung dan pekerja atau tukang yang ahli dibawanya ke Samarkand.

Dalam pertempuran melawan Timur Lenk, Usmani dipimpin sendiri oleh Sultan Bayazid I. Erthugul, anak Bayazid, tewas. Dalam pertempuran berikutnya, perang di Ankara tahun 1404, Bayazid bahkan tertawan dan meninggal sebagai tawanan. Di Takrit, kota kelahiran Salahuddin Al-Ayyubi-Timur Lenk juga membangun piramida manusia. Dinasti Mamluk di Mesir tak luput dari ancamannya. Apalagi Sultan Malik Zahir Barquq melindungi penguasa Baghdad yang melarikan diri, Sultan Ahmad Jalair. Namun, seperti menghadapi Hulagu sebelumnya, Mesir akhirnya luput dari serangan Timur. Serangan Timur Lenk benar-benar menghancurkan peradaban Islam. Praktis hanya Mesir yang selamat. Baghdad yang belum pulih akibat serangan Hulagu Khan dulu, kini remuk kembali. 

 Tak puas menjarah ke Barat, Timur Lenk kemudian mengincar Cina di timur. Padahal saat itu, ia telah berusia 71 tahun. Saat hendak melakukan invasi itu, Timur Lenk sakit dan meninggal pada 1405 . Dua orang anaknya, Muhammad Jehanekir dan Khalil bertempur hebat memperebutkan kursi sang ayah. Khalil (1404-1404) menang, namun dikudeta oleh saudaranya yang lain, Syakh Rukh (1405-1447). Syakh Rukh dan anaknya, Ulugh Bey (1447-1449) memimpin negaranya dengan baik. Ilmu pengetahuan kembali berkembang. Namun tidak lama. Pada 1469, kekuasaan keluarga Timur Lenk itu ambruk.

  1. Dinasti Islam dibawah kekuasaan Mongolia

Kekuasaan Mongol terhadap peradaban Islam sungguh terasa. Dampak negative tentunya lebih banyak jika dibandingkan dampak positifnya. Kehancuran tapak jelas dimana-mana dari serangan Mongol, sejak dari wilayah timur hingga ke barat. Kehancuran kota-kota dengan bangunan yang indah-indah dan perpustakaan-perpustakaan  yang mengoleksi banyak buku memperburuk situasi umat Islam.Pembunuhan terhadap umat Islam terjadi, bukan hanya pada masa Hulagu Khan yang membunuh khalifah Abbasiyah dan keluarganya, tetapi pembunuhan juga dilakukan terhadap umat Islam yang tidak berdosa. Seperti yang dilakukan oleh Arghun, Khan keempat pada Dinasti Ilkhan terhadap Takudar sebagai Khan ketiga yang dihukum mati karena masuk Islam.[22]Arghun membunuh umat Islam juga mencopot jabatan-jabatan penting Negara yang diemban seorang muslim. 

Ada pula dampak positifnya dengan berkuasanya dinasti Mongol ini setelah para pemimpinnya masuk Islam. Mereka dapat menerima dan masuk agama Islam, antara lain disebabkan mereka berasimilasi dan bergaul dengan masyarakat muslim dalam jangka waktu panjang. Sperti yang dilakukan oleh Ghazan Khan (1295-1304) yang menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaannya, walupun pada mulanya Bergama Budha.Rupanya ia mempelajari agama-agama sebelum memeluk agama Islam. Dan yang lebih mendorong ia masuk Islam karena pengaruh seorang menterinya, Rashiduddin yang terpelajar dan ahli sejarah yang terkemuka yang selalu berdialog dengannya, dan Nawruz, seorang gubenurnya untuk beberapa propinsi Syria.[23] Pada masa ini, Islam mengalami masa kejayaan, walaupun tidak seperti waku zaman kekhalifahan bani Abbasiyah, namun kemajuannnya cukup signifikan. Tetapi hal ini tidak berlangsung lama, karena ia wafat pada usia 32 tahun karena tekanan batin atas kekalahan pasukannya di Syria dan ia digantikan Uljaytu Khuda Banda ( 1305-1326)[24]

Pada masa kekuasaan Timur Lenk, Islam juga mengalami perkembangan. Sekalipun Timur Lenk terkenal sebagai penguasa yang ganas dan kejam terhadap penentangnya, sebagai seorang muslim Timur Lenk tetap memperhatikan pengembangan Islam. Konon ia adalah pengant Syiah yang taat dan menyukai tasawuf tarekat Naqsabandiyah.[25] 

Meskipun demikian, dalam hal pengembangan agama Islam, penguasa Mongol Islam memiliki andil yang cukup berarti bagi pengembangan masyarakat di wilayah Mongolia, Persia, dan sekitarnya. 

*situs: www.rangkumanmakalah.com

Daftar Pustaka

Ahmad Syalabi, Mausu’ah al-Tarikh al-Islami wa al-Hadharah al-Islamiyah, Juz VII, Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyah, 1979

Bertold Spuler, History of The Mongols, London: Routledge & Kegan Paul, 1972,

Carl Brockelmann, History of Islamic People, London : Routledge & Kegan Paul, 1980

David Morgan, The Mongols,  Cambridge : Black Well, 1990

Dr. Badri Yatim, MA, Sejarah Peradapan Islam , Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1997

Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam,  Bandung: Pustaka Setia : 2002

Drs. Samsul Munir Amin, MA, Sejarah Peradaban Islam,Jakarta : Amzah, 2013

First Encyclopedia Britannica, Vol. 7, London : E.J. Brill

Hamka,  Sejarah Umat Islam, III, Jakarta : Bulan Bintang, 1981

Hassan Ibrahim Hassan, Tarikh al-Islami,  Juz IV, Kairo : Maktabah al-Nahdhad al-Mishriyah, 1979

Jalal al-Din al-Sayuthi, Tarikh al-khulafa’,  Beirut :Dar al-Fikr

Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik (Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam), 2003, Jakarta: Prenada Media

Philip K. Hitti, History og the Arabs,  London : Macmillan Student Editions, 1974

Thomas W. Arnold, Sejarah Dakwah Islam (Terjemahan dari The Preaching of Islam ) Jakarta : Wijaya, 1981

 


[1] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik (Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam), 2003, Jakarta: Prenada Media, hal 102

[2] Thomas W. Arnold, Sejarah Dakwah Islam (Terjemahan dari The Preaching of Islam ) Jakarta : Wijaya, 1981, hal.193

[3]Ahmad Syalabi, Mausu’ah al-Tarikh al-Islami wa al-Hadharah al-Islamiyah, Juz VII, Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyah, 1979, hal 745

[4] Bertold Spuler, History of The Mongols, London: Routledge & Kegan Paul, 1972, hal. 26

[5] Hassan Ibrahim Hassan, Tarikh al-Islami,  Juz IV, Kairo : Maktabah al-Nahdhad al-Mishriyah, 1979, hal 142-143

[6] Bertold Spuler, ibid, hal 26

[7] Carl Brockelmann, History of Islamic People, London : Routledge & Kegan Paul, 1980, hal 246

[8] David Morgan, The Mongols,  Cambridge : Black Well, 1990, hal 35

[9] Jalal al-Din al-Sayuthi, Tarikh al-khulafa’,  Beirut :Dar al-Fikr, hal 433

[10] Hassan Ibrahim Hassan, op-cit , hal 142-143

[11] Dr. Badri Yatim, MA, Sejarah Peradapan Islam , Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1997, hal.113

[12] Brockelmann, opcit, hal 248-249

[13] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam,  Bandung: Pustaka Setia : 2002, hal 67

[14] Dr. Badri Yatim, op-cit, hal 114-115

[15] Dedi Supriyadi, op-cit, hal 89

[16] Hasan Ibrahim Hassan, op-cit, hal 151

[17] Bertold Spuler, op-cit, hal 78

[18] David Morgan, op-cit, hal 89

[19] First Encyclopedia Britannica, Vol. 7, London : E.J. Brill, hal.777

[20] Hamka,  Sejarah Umat Islam, III, Jakarta : Bulan Bintang, 1981, hal 53

[21]Philip K. Hitti, History og the Arabs,  London : Macmillan Student Editions, 1974, hal.699-670

[22] Drs. Samsul Munir Amin, MA, Sejarah Peradaban Islam,Jakarta : Amzah, 2013, hal 227

[23] Drs. Samsul Munir Amin, MA, Ibid, hal 228

[24] Hassan Ibrahim Hassan, opcit, hal 306

[25] Dr. Badri Yatim, Ma, op-cit, hal 122

Share This:

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *