Lompat ke konten
Home » √ Ilmu Pengetahuan dan Filsafat dalam Kehidupan, LENGKAP!

√ Ilmu Pengetahuan dan Filsafat dalam Kehidupan, LENGKAP!

Daftar Isi

Ilmu Pengetahuan dan Filsafat
Ilmu Pengetahuan dan Filsafat

A. Definisi dan Geneologi Ilmu Pengetahuan

Ilmu Pengetahuan dan Filsafat – Manusia merupakan mahkluk tuhan yang senantiasa selalu berfikir, sejak lahir sampai masuk liang lahat manusia tidak pernah berhenti berfikir, hampir semua masalah yang bersinggungan dengan peri kehidupan ini tidak bisa lepas dari jangkauan fikiran manusia, sehingga dalam proses berfikir inilah manusia akan menghasilkan pengetahuan.

Ilmu brasal dari bahasa dasar dari kata tahu/pengetahuan dalam kamus bahasa Indonesia,diterjemahkan sebagai pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara sistematis menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk mernerangkan gejala-gejala tertentu pula. Kamus ini juga menerangkan bahwa ilmu dapat diartikan sebagai pengetahuan atau kepandaian tentang soal duniawi,akhirat,lahir dan batin.[1]

Penggunaan kata ilmu dalam proposisi bahasa Indonesia sering disejajarkan dengan kata science dalam bahsa inggris kata science itu sendiri memang bukan bahasa asli inggris,tetapi merupakan serapan dari bahsa latin,scio scire yang arti dasarnya pengetahuan. Ada juga yang menyatakan bahwa science berasal dari kata scientia yang berarti pengetahuan,scientia bersumber dari bahasa latin scire yang artinya mengetahui. Terlepas dari berbgai macam asal kata,jika benar ilmu disejajarkan dengan kata science dalam bahasa inggris, maka pengertiannya adalah pengetahuan.

Secara pengertian dari kata “tahu” ini menandakan adanya suatu pengetahuan yang didasarkan atas pengalaman dan pemahaman tertentu yang dimiliki seorang.

dalam Ilmu Pengetahuan dan Filsafat, kita belajar terlebih dahulu tentang pengetahuan” karena ditipologikan menjadi empat[2]. Yaitu:

a. pengetahuan biasa, yaitu pengetahuan tentang hal-hal biasa, yang sehari-hari, yang selanjutnya kita sebut pengetahuan;

b. pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang mempunyai sistema dan metode tertentu, yang selanjutnya kita sebut: ilmu pengetahuan;

c. pengetahuan filosofis, yaitu semacam “ilmu” yang istimewa, yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak terjawab oleh ilmu-ilmu biasa; yang selanjutnya kita sebut: filsafat.

d. pengetahuan theologies, yaitu pengetahuan keagamaan, pengetahuan tentang agama, pengetahuan tentang pemberitahuan dari Tuhan.

Stewart Ricards mendifinisikan ilmu sebagai pengetahuan tentang realitas yang nyata yang dipastikan oleh pengamatan,pengujian kritis dan pengklasifikasikan sistematis dibawah prinsip- prinsip umum. Pengetahuan juga mampu menjelaskan penemuan – penemuan masa lalu dan mampu membuat prediksi untuk masa depan melalui pengalaman kausalitas. Ilmu pengetahuan juga harus bersifat universal tidak terikat oleh ruang dan waktu,dapat dinyatakan dengan tegas dan dapat dipahami, mempunyai keterkaitan empiris yang bisa diuji persesuaian antara teori dan implikasi praktisnya.[3]

Menurut bahm definisi ilmu pengetahuan melibatkan paling tidak enam komponen, masalah (problem), sikap (attitude),metode (method), aktivitas(activity),kesimpulan(conclution) dan pengaruh (effects).

Masalah (problem)

Tiga karekteristik yang menunjukkan masalah yang bersifat scientific, yaitu : communicability ( sesuatu yang patut dikomunikasikan), the scientific attitude meliputi karakteristik curiosity, spekulativeness, willingness to suspend judgement dan tentativity.the scientific method (masalah dapat diuji/testable)

Sikap (attitude )

Karakteristik yang harus dipenuhi antara lain:curiosity (raa ingin tahu),spekulativeness (mempunyai hasrat memecahkan masalah melalui hipotesis)willingness to be objective (hasrat bertindak objektif) willingness to suspend judgement dan tentativity.sabar dalam observasi dan bersikap bijak dalam menentukan kebijakan berdsarkan bukti – bukti yang dikumpulkan karena apa yang ditemukan masih bersifat tentatife.

Metode (method)

Essensi dari sains adalah metode-nya,akan tetapi para scientist tidak memiliki metode yang pasti yang dapt di tunjukkan sebagai sesuatu yang absolute/mutlak.

Aktivitas(activity)

Sain adalah lahan yang dikerjakan para scientist melalui apa yang disebut scientivic research.

Kesimpulan(conclution)

Sains lebih dipahami sebagai batang tubuh pengetahuan dan kesimpulan merupakan pemahaman yang dicapai sebagai Hasil pemecahan masalah.

Pengaruh (effects)

Apa yang dihasilkan science pada akhirnya pada akhirnya memberikan pengaruh.pertama pengaruh ilmu terhadap ekologi melalui apa yang disebut dengan applied science,dan kedua pengaruh ilmu terhadap apa atau dalam masyarakat serta membudayakannya menjadi berbagai macam nilai.[4]

Setiap ilmu bersumber di dalam kesatuan objeknya,ilmu tidak memerlukan kepastian lengkap berkenaan dengan penalaran masing – masing orang. Ilmu akan memuat sendiri hipotesis – hipotesis dan teori teori yang sebelumnya belum n. di mantapkan. Oleh karena itu,ilmu membuthklan metodologi,sebab dan kaitan secara logis. Ilmu menuntut pengamatan dan kerangka berfikir metodek serta tertata rapi. Alat bantu metodologis yang penting dalam konteks ilmun adalah terminology ilmiah.

B. Posisi Ilmu Pengetahuan dan filsafat Dalam Kehidupan Manusia

Tak dapat disangkal lagi bahwa ilmu telah banyak mengubah dunia dalam memberantas penyakit,kelaparan,kemiskinan,dan berbagai wajah kehidupan lainnya namun sebenarnya tidak selalu demikian,ilmu tidak selalu merupakan berkat bagi manusia,kadang justru menjadi mala petaka bagi manusia.

Dengan mempelajari nuklir manusia bisa mempelajari wujud nuklir sebagai maslahat bagi manusia, tetapi disatu sisi bisa jadi hal itu menjadi mala petaka. Disinilah kita perlu tahu filsafat ilmu karna dalam filsafat ilmu kita akan menemukan hubungan antara indrawi dan akal namun pembahasan yang lebih mendalam akan hal ini akan dibahas oleh pemakalah berikutnya,

Pembahasan teori pengetahuan ini sudah dimulai sejak masa-masa filusuf yunani. Dasar mereka berfilsafat adalah mereka sudah tidak lagi percaya terhadap pengetahuan indrawi. Diantaran mereka ada yang lebih mengutamakan unsur akal,ada Juga yang menggabungkan antara indrawi dan akal. Namun saat ini kajian yang mengenai teori pengetahuan ini telah menjadi kajian yang berdiri sendiri (independen) berdiri sendiri, jadi tidak heran kalau saat ini ada kajian tersendiri mengenai statistic,metodologi penelitian dan lain-lain.

Pendiri sebenarnya teori pengetahuan sebagai kajian yang independen adalah john locke (1632-1704M)[5].locke telah mempertanyakan tentang asal usul,esensi,batasan, dan tingkat keyakinan sejak lama,meskipun terbatas dengan pengetahuan yang bersifat indrawi. Oleh karena itu locke lebih dikenal sebagai tokoh Emperism. Locke pernah mengatakan tidak ada sesuatu sesuatu dalam akal jika sebelumnya jika sebelumnya tidak ada sesuatu yang di tangkap oleh pancra indra[6].

Sedangkan yang dianggap sebagai tokoh terpenting yang telah merumuskan teori pengetahuan setelah locke ad lah Immanuel Kant (1723-1804). Kant telah mempelajari hubungan antara hal –hal yang bersifat indrawi dan hal- hal yang bersifat rasional[7].

Sampailah kepada sebuah pertanyaan apa posisi ilmu itu dalam kehidupan manusia,pertanyaan ini merupakan nilai tertinggi dari ilmu. Yaitu nilai – nilai yang dianggap sebagai “tujuan utama”. Nilai ini antara lain al-haq (kebenaran),kebaikan dan keindahan. Oleh karena itu nilai ini di bagi dalam tiga cabang:[8]

  1. Logika, yang membahas tentang nilai kebenaran dan menjauhi kesalahan,serta menerangkan bagaimana seharusnya berfikir secara benar.
  2. Etika, yang membahas nilai kebaikan dan berusaha membantu kita dalam mengarahkan prilaku. Ia mengarahkan kita pada apa yang seharusnya dilakukan membatasi makna kebaikan,keburukan,kewajiban,perasaan serta tanggung jawab moral.
  3. Ilmu Estetika, yang membahas nilai keindahan dab berusaha membantu kita dalam meningkatkan rasa keindahan dengan membatasi tingkatan –tingkatan yang menjadi standar dari suatu keindahan.

(rangkuman)Jelaslah posisi ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia sangat penting karna penulis melihat bahwa ilmu pengetahuan berusaha menyingkap kebenaran dan realitas.

C. Tujuan Ilmu Pengetahuan dan filsafat

Menurut imam al- Ghazali,ilmu itu terdiri dari tiga jenis, yaitu ilmu sebagai proses, yakni ilmu yang ditangkap oleh pancaindra; ilmu akal dan ilmu ladunni. Yang di maksud dengan ilmu sebagai proses adalah bahwa ilmu senantiasa dicapai melalui pengalaman panca indra, tetapi hasilnya sangat objektif. Subjektivitas tersebut semakin kuat setelah subjektifitas tersebut tersimpan dalam pikiran manusia dan di gagas kembali menjadi gambaran – gambaran mengenai realitas. Sehingga pengalaman hanyalah perangsang akal untuk berfikir,tetapi semuanya tidak dapat menemukan hakikat ilmu yang sesungguhnya. Oleh karena itu,perlu dibantu oleh ilmu yang datangnya dari tuhan yang brupa wahyu kekuatan dan hati,ilmu ini disebut ilmu ladunni.

Proses akumulasi ilmu pengetahuan dalam fikiran manusia yang dikuatkan oleh kekuatan hati,akan menghasilkan ilmu yaqini,yaitu ilmu yang kebenarannya tidak dapat diutik lagi. Ilmu Yaqini,ilmu yang lurus yang tidak menimbulkan keraguan,oleh karena itu,tidak akan mengenal kata salah atau sesat.[9]

Pandangan imam Al-Ghazali tentang kedudukan ilmu bagi kehidupan manusia, berbeda dengan pandangan barat dngan paradigm humanistiknya,imam Al-Ghazali berpandangan bahwa ilmu pada esensinya alat untuk mengetahui kebesaran tuhan(ma’rifatullah), sehingga pengakuan manusia yang ditunjukkan dengan keyakinan yang imanen dan trasenden kepada Tuhan menjadi keyakinan yang rasional dan serasi dengan ilmu-ilmu ilahiah. Adapun ilmu dalam paradigma barat ditemukan dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk memprmudah manusia mempermudah manusia dalam melakukan kepentingann dan memenuhi kebutuhannya.[10]

Manusia sangat dipermudah bahkan dimuliakan dengan penemuan-penemuannya sendiri. Para petani masa kini sudah memanfaatkan traktor untuk menggarap sawah,sehingga dalam menggarap sawah petani tidak terlalu mengeluarkan tenaga dan aktivitas fisiknya .

Ilmu pengetahuan terbukti telah membedakan martabat manusia dan derajatnya dimata tuhan. Bagi orang islam,tuhan akan mengangkat derajat orang –orang yang beriman dan berilmu dengan beberapa derajat. Itu artinya, ilmu pengetahuan benar-benar akan membedakan yang bodoh dengan yang pintar. hajat manusia akan ilmu disebabkan oleh dua hal mendasar,yaitu:

  1. Ilmu sebagai penunjuk ke jalan lebih baik dalam kehidupan manusia di segala sector dan aspek;dan
  2. Ilmu sebagai alat untuk mempermudah jalan hidup manusia dalam menghadapi masalah .[11]

Jadi semakin jelas bahwa ilmu pengetahuan yang diberikan tuhan marilah kita pergunakan sebaik baiknya agar kita mendapat derajat yang lebih tinggi baik di mata tuhan maupun sesama ciptaannya.

Sesungguhnya ilmu yang dimiliki oleh seseorang akan selalu mendorong pribadi lebih dinamis, lebih energik berusaha menjelajahi”lautan ilmu yang tak terbatas” itu, seakan akan semakin berilmu seseorang pribadi semakin haus,semakin tahu manusia,semakin manusia itu semakin bodoh. Dengan demikian ilmu itu mempunyai watak dinamis progresif,menjadi asas Pembina kepribadian[12].

Jika dihubungkan filsafat dengan ilmu pengetahuan memiliki persamaan serta perbedaan namun pemakalah tidak membahas secara dalam mengenai filsafat,kajian ini selengkapnya akan dibahas oleh pemakalah selanjutnya, Namun penulis sedikit mengutarakan asas asas filsafat. Dalam hal ini dikaji beberapa bidang utama filsafat seperti: metafisika, epistemology dan aksiologi.[13] Ketiga bidang ini dapat dipandang sebagai pilar utama suatu bangunan filsafat manakala kita ingin memahami visi filsafat seorang atau suatu aliran.

Ilmu kajiannya menghasilkan fakta sedangkan filsafat kajiannya dibatasi logika walaupun demikian antara ilmu dan filsafat sama – sama membutuhkan jawaban. Jadi antara filsafat dan ilmu sangatlah membantu manusia dalam menjelaskan,meramal dan mengontrol gejala- gejala alam.

Demikian ulasan singkat seputar Ilmu pengetahuan dan filsafat dalam kehidupan, semoga bermanfaat.

situs: www.rangkumanmakalah.com

DAFTAR PUSTAKA

Pusat pembinaan dan pengembangan bahasa, Kamus Besar Indonesia,(Jakarta:balai pustaka,1997)

Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama; Pendahuluan Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi(Surabaya: Bina Ilmu, 2009)

Steward Ricard,An introduction to :philosophy of sociology of sience, ( oxfor,tj press, 1983)

Drs.Surajiyo,Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, (Jakarta:bumi aksara,2008) Fuad Farid Ismail,Abdul Hamid Mutawali, Cepat Menguasai Ilmu Filsafat (Yogyakarta:IRCISod,2003)

Ali’Abdu al-‘Azim,Falsafah al-ma’rifah fi> al-Qur’a>n al-kari>m (Kairo:Al-hai’ah al-‘amniay lial- shu’uni al-mat}obi’I al-amiriyyah,1973M/3290)

Beni Ahmad Saebani,filsafat ilmu( Bandung: Pustaka Setia,2009 )

Mohammad Nor Syam,Filsafat Pendidikan Dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila,(Surabaya: usaha-nasional.1983)

Rizal Mustansyr,Misnal Munir, filsafat ilmu, ( Yogyakarta: pustaka pelajar,2007)


[1] Pusat pembinaan dan pengembangan bahasa, Kamus Besar Indonesia,(Jakarta:balai pustaka,1997), 371

[2]Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama; Pendahuluan Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi(Surabaya: Bina Ilmu, 2009), 43.

[3] Steward Ricard,An introduction to :philosophy of sociology of sience, ( oxfor,tj press, 1983),28

[4] Drs.Surajiyo,Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, (Jakarta:bumi aksara,2008),58.

[5]Fuad Farid Ismail,Abdul Hamid Mutawali, Cepat Menguasai Ilmu Filsafat (Yogyakarta:IRCISod,2003),. 48

[6]Ali’Abdu al-‘Azim,Falsafah al-ma’rifah fi> al-Qur’a>n al-kari>m (Kairo:Al-hai’ah al-‘amniay lial- shu’uni al-mat}obi’I al-amiriyyah,1973M/3290), 20

[7] Fuad Farid Isma’il,Cepat Menguasai.,49

[8] Ibid,50

[9] Beni Ahmad Saebani,filsafat ilmu( Bandung: Pustaka Setia,2009 ),171

[10] Ibid,171

[11] Ibid,172

[12] Mohammad Nor Syam,Filsafat Pendidikan Dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila,(Surabaya: usaha-nasional.1983), 108-109

[13] Rizal Mustansyr,Misnal Munir, filsafat ilmu, ( Yogyakarta: pustaka pelajar,2007),9


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *