Macam – Macam Strategi Pembelajaran (Pengertian & Ruang Lingkup)!

adsense-fallback

Macam – Macam Strategi Pembelajaran

PENDAHULUAN

Macam – Macam Strategi Pembelajaran – Pada mulanya istilah strategi digunakan dalam dunia militer yang diartikan sebagai cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk memenangkan suatu peperangan.[1] Seseorang yang berperan dalam mengatur strategi, untuk memenangkan serangan sebelum melakukan tindakan, ia akan menimbang bagaimana kekuatan pasukan yang dimilikinya baik dilihat dari segi kuantitas maupun kualitas; misalnya kemampuan setiap personal, jumlah dan kekuatan persenjataan, motivasi pasukannya, dan lain sebagainya. Setelah semuanya diketahui, baru kemudian ia akan menyusun tindakan apa yang harus dilakukannya, baik tentang siasat peperangan yang harus dilakukan, taktik dan teknik peperangan, maupun waktu yang pas untuk melakukan suatu serangan, dan lain sebagainya. Dengan demikian dalam menyusun strategi perlu memperhitungkan berbagai factor, baik ke dalam maupun ke luar.

Dalam dunia pendidikan, Strategi diartikan sebagai  a plan, method or series of activities designed to achieves a particular educational goal.[2] Jadi, dengan demikian strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tetentu.

adsense-fallback

Ada dua hal yang patut kita cermati dari pengertian di atas. Pertama, strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran. Ini berarti penyusunan suatu strategi baru sampai pada proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. Kedua, strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya, arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan. Dengan demikian, penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas dan sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya mencapai tujuan. Oleh sebab itu, sebelum menentukan strategi, perlu dirumuskan tujuan yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya, sebab tujuan adalah rohnya dalam implementasi suatu strategi.

Istilah lain yang mempunyai kemiripan dengan kata strategi, yaitu metode, pendekatan, teknik dan taktik. Semua istilah ini terkadang dalam realitasnya masih banyak ditemui kesalahan pengertian. Metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi.

Pendekatan (approach), dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Roy Killen, mencatat ada dua pendekatan dalam pembelajaran , yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centered approaches) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student-centered approaches).[3]  Dengan demikian pendekatan merupakan paradigma yang diambil dalam melaksanakan strategi pembelajaran. Secara lebih lengkap, pembelajaran adalah  melihat pembelajaran sebagai proses belajar siswa yang sedang berkembang untuk mencapai perkembangannya. Atau Pendekatan suatu rangkaian tindakan yg terpola/terorganisir  berdasarkan prinsip tertentu ( filosofis, psikhologis, didaktis, ekologis) yg terarah secara sistematis pada tujuan yang hendak di capai.[4]

Strategi , sering kali diartikan juga sebagai taktik atau teknik. Teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode . Sedangkan taktik adalah gaya sseorang dalam melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu.[5]

Dari penejlasan di atas, maka dapat ditentukan bahwa suatu strategi pembelajaran yang diterapkan guru akan tergantung pada pendekatan yang digunakan; sedangkan bagaimana menjalankan strategi itu dapat ditetapkan berbagai metode pembelajaran. Dalam menjalankan metode pembelajaran guru dapat menentukan pendekatan apa yang digunakan, untuk selanjutnya ditentukan teknik dan taktik pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam pembelajaran. Secara lebih jelasnya hubungan antara strategi, metode, pendekatan, model dan teknik serta taktik dalam pembelajaran digambarkan dalam grafik dan tabel berikut :

Strategi Pembelajaran

Strategi Model Pendekatan Metode Teknik Taktik
Pengelolaan Kelas Kooperatif Kelompok Jigsaw 1.      Demonstrasi

2.      Ceramah

Permainan
Pengelolaan Kelas CTL Kelompok Inkuiri 1.       Penugasan

2.       Tanya jawab

Role playing

Gambar 2. Tabel contoh penggunaan Strategi, model, pendekatan, metode, teknik dan taktik dalam pembelajaran.

Pemakaian suatu strategi pembelajaran dalam kelas harus memperhatikan berbagai pertimbangan antara lain :[6]

  1. Tujuan yang akan dicapai

Karena strategi adalah sebuah cara dalam mencapai tujuan, dalam hal ini adalah tujuan pembelajaran, maka tujuan yang akan dicapai harus di rumuskan dengan jelas berserta indikator keberhasilan yang dapat diukur.

  1. Bahan atau materi pembelajaran

Bahan atau materi pembelajaran sangat mempengaruhi penggunaan strategi pembelajaran. Hal ini dikarenakan bahan atau materi yang akan disampaikan harus mampu tersampaikan dengan jelas kepada peserta didik sesuai denga tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

  1. Siswa serta kesiapan guru

Sebagai subyek dan obyek dari pembelajaran, siswa dan guru juga harus dipertimbangkan tingkat kesiapannya dalam menggunakan strategi pembelajaran agar keberhasilan strategi ini dapat maksimal sesuai dengan tujuan yang diinginkan dalam pembelajaran.

Setelah mengetahui pengertian dari strategi pembelajaran, selanjutkan kita akan membahas tentang macam-macam strategi pembelajaran sebagai pokok bahasan dari makalah ini, dimana meliputi strategi  quantum learning, ekspositori, inkuiri, problem based instruction  dan  contextual teaching and learning.

A. Strategi Pembelajaran Quantum Learning

Quantum teaching dapat mengidentifikasi strategi pembelajaran yang kompetibel dengan otak, yang melibatkan dan mendukung guru maupun siswa dalam proses pembelajaran. Formatnya mudah dimengerti, memberikan pembelajaran yang baik, meletakkan dasar untuk pembelajaran yang efektif dan prima.

Quantum learning memberikan kiat-kiat, petunjuk, strategi dan swluruh proses belajar yang dapat menghemat waktu, mempertajam pemahaman dan daya ingat bahkan membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat.[7]

Prinsip dari Quantum Teaching, yaitu:

1) Segalanya berbicara, lingkungan kelas, bahasa tubuh, dan bahan pelajaran semuanya menyampaikan pesan tentang belajar.

2) Segalanya bertujuan, siswa diberi tahu apa tujuan mereka mempelajari materi yang kita ajarkan.

3) Pengalaman sebelum konsep, dari pengalaman guru dan siswa diperoleh banyak konsep.

4) Akui setiap usaha, menghargai usaha siswa sekecil apa pun.

5) Jika layak dipelajari, layak pula dirayakan, kita harus memberi pujian pada siswa yang terlibat aktif pada pelajaran kita. Misalnya saja dengan memberi tepuk tangan, berkata: bagus!, baik!, dll.
F. Kerangka Rancangan Belajar Quantum Teaching yang dikenal sebagai TANDUR

1) TUMBUHKAN. Tumbuhkan minat dengan memuaskan “Apakah Manfaat Bagiku ” (AMBAK), dan manfaatkan kehidupan pelajar.

2) ALAMI. Ciptakan atau datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua pelajar.

3) NAMAI. Sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi sebuah “masukan”.

4) DEMONSTRASIKAN. Sediakan kesempatan bagi pelajar untuk ‘menunjukkan bahwa mereka tahu”.

5) ULANGI. Tunjukkan pelajar cara-cara mengulang materi dan menegaskan , “Aku tahu dan memang tahu ini”.

6) RAYAKAN. Pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi, dan pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan

Prinsip dapat berarti:

1) aturan aksi atau perbuatan yang diterima atau dikenal

2) sebuah hukum, aksioma, atau doktrin fundamental. Pembelajaran juga dibangun di atas aturan aksi, hukum, aksioma, dan atau doktrin fundamental mengenai dengan pembelajaran dan pembelajar. Setidak-tidaknya ada tiga macam prinsip utama yang membangun sosok pembelajaran . Ketiga prinsip utama yang dimaksud sebagai berikut.

  1. Prinsip utama pembelajaran berbunyi: Bawalah Dunia Mereka (Pembelajar) ke dalam Dunia Kita (Pengajar), dan Antarkan Dunia Kita (Pengajar) ke dalam Dunia Mereka (Pembelajar). Setiap bentuk interaksi dengan pembelajar, setiap rancangan kurikulum, dan setiap metode pembelajaran harus dibangun di atas prinsip utama tersebut. Prinsip tersebut menuntut pengajar untuk memasuki dunia pembelajar sebagai langkah pertama pembelajaran selain juga mengharuskan pengajar untuk membangun jembatan otentik memasuki kehidupan pembelajar. Untuk itu, pengajar dapat memanfaatkan pengalaman-pengalaman yang dimiliki pembelajar sebagai titik tolaknya. Dengan jalan ini pengajar akan mudah membelajarkan pembelajar baik dalam bentuk memimpin, mendampingi, dan memudahkan pembelajar menuju kesadaran dan ilmu yang lebih luas. Jika hal tersebut dapat dilaksanakan, maka baik pembelajar maupun pembelajar akan memperoleh pemahaman baru. Di samping berarti dunia pembelajar diperluas, hal ini juga berarti dunia pengajar diperluas. Di sinilah Dunia Kita menjadi dunia bersama pengajar dan pembelajar. Inilah dinamika pembelajaran manusia selaku pembelajar.
  2. Dalam pembelajaran juga berlaku prinsip bahwa proses pembelajaran merupakan permainan orkestra simfoni. Selain memiliki lagu atau partitur, pemainan simfoni ini memiliki struktur dasar chord. Struktur dasar chord ini dapat disebut prinsip-prinsip dasar pembelajaran . Prinsip-prinsip dasar ini ada lima macam berikut ini.
  3. Ketahuilah bahwa Segalanya Berbicara Dalam pembelajaran quantum, segala sesuatu mulai lingkungan pembelajaran sampai dengan bahasa tubuh pengajar, penataan ruang sampai sikap guru, mulai kertas yang dibagikan oleh pengajar sampai dengan rancangan pembelajaran, semuanya mengirim pesan tentang pembelajaran.
  4. Ketahuilah bahwa Segalanya Betujuan Semua yang terjadi dalam proses pengubahan energi menjadi cahaya mempunyai tujuan. Tidak ada kejadian yang tidak bertujuan. Baik pembelajar maupun pengajar harus menyadari bahwa kejadian yang dibuatnya selalu bertujuan.
  5. Sadarilah bahwa Pengalaman Mendahului Penamaan Proses pembelajaan paling baik terjadi ketika pembelajar telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari. Dikatakan demikian karena otak manusia berkembang pesat dengan adanya stimulan yang kompleks, yang selanjutnya akan menggerakkan rasa ingin tahu.
  6. Akuilah Setiap Usaha yang Dilakukan dalam Pembelajaran Pembelajaran atau belajar selalu mengandung risiko besar. Dikatakan demikian karena pembelajaran berarti melangkah keluar dari kenyamanan dan kemapanan di samping berarti membongkar pengetahuan sebelumnya. Pada waktu pembelajar melakukan langkah keluar ini, mereka patut memperoleh pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka. Bahkan sekalipun mereka berbuat kesalahan, perlu diberi pengakuan atas usaha yang mereka lakukan.
  7. Sadarilah bahwa Sesuatu yang Layak Dipelajari Layak Pula Dirayakan Segala sesuatu yang layak dipelajari oleh pembelajar sudah pasti layak pula dirayakan keberhasilannya. Perayaaan atas apa yang telah dipelajari dapat memberikan balikan mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan pembelajaran.

3) Dalam pembelajaran juga berlaku prinsip bahwa pembelajaran harus berdampak bagi terbentuknya keunggulan. Dengan kata lain, pembelajaran perlu diartikan sebagai pembentukan keunggulan. Oleh karena itu, keunggulan ini bahkan telah dipandang sebagai jantung fondasi pembelajaran .

Ada delapan prinsip keunggulan yang juga disebut delapan kunci keunggulan yang diyakini dalam pembelajaran . Delapan kunci keunggulan itu sebagai berikut.

  1. Terapkanlah Hidup dalam Integritas

Dalam pembelajaran, bersikaplah apa adanya, tulus, dan menyeluruh yang lahir ketika nilai-nilai dan perilaku kita menyatu. Hal ini dapat meningkatkan motivasi belajar yang pada gilirannya mencapai tujuan belajar. Dengan kata lain, integritas dapat membuka pintu jalan menuju prestasi puncak

  1. Akuilah Kegagalan Dapat Membawa Kesuksesan

Dalam pembelajaran, kita harus mengerti dan mengakui bahwa kesalahan atau kegagalan dapat memberikan informasi kepada kita yang diperlukan untuk belajar lebih lanjut sehingga kita dapat berhasil. Kegagalan janganlah membuat cemas terus menerus dan diberi hukuman karena kegagalan merupakan tanda bahwa seseorang telah belajar.

  1. Berbicaralah dengan Niat Baik

Dalam pembelajaran, perlu dikembangkan keterampilan berbicara dalam arti positif dan bertanggung jawab atas komunikasi yang jujur dan langsung. Niat baik berbicara dapat meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi belajar pembelajar.

  1. Tegaskanlah Komitmen

Dalam pembelajaran, baik pengajar maupun pembelajar harus mengikuti visi-misi tanpa ragu-ragu, tetap pada rel yang telah ditetapkan. Untuk itu, mereka perlu melakukan apa saja untuk menyelesaikan pekerjaan. Di sinilah perlu dikembangkan slogan: Saya harus menyelesaikan pekerjaan yang memang harus saya selesaikan, bukan yang hanya saya senangi.

  1. Jadilah Pemilik

Dalam pembelajaran harus ada tanggung jawab. Tanpa tanggung jawab tidak mungkin terjadi pembelajaran yang bermakna dan bermutu. Karena itu, pengajar dan pembelajar harus bertanggung jawab atas apa yang menjadi tugas mereka. Mereka hendaklah menjadi manusia yang dapat diandalkan, seseorang yang bertanggung jawab.

  1. Tetaplah Lentur

Dalam pembelajaran, pertahankan kemampuan untuk mengubah yang sedang dilakukan untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Pembelajar, lebih-lebih pengajar, harus pandai-pandai membaca lingkungan dan suasana, dan harus pandai-pandai mengubah lingkungan dan suasana bilamana diperlukan. Misalnya, di kelas guru dapat saja mengubah rencana pembelajaran bilamana diperlukan demi keberhasilan siswa-siswanya; jangan mati-matian mempertahankan rencana pembelajaran yang telah dibuat.

  1. Pertahankanlah Keseimbangan

Dalam pembelajaran, pertahankan jiwa, tubuh, emosi, dan semangat dalam satu kesatuan dan kesejajaran agar proses dan hasil pembelajaran efektif dan optimal. Tetap dalam keseimbangan merupakan proses berjalan yang membutuhkan penyesuaian terus-menerus sehingga diperlukan sikap dan tindakan cermat dari pembelajar dan pengajar.

B. Strategi Pembelajaran quantum Learning

Teknologi baru terutama multimedia mempunyai peranan semakin penting dalam pembelajaran. Banyak orang percaya bahwa multimedia akan dapat membawa kita kepada situasi belajar dimana learning with effort akan dapat digantikan dengan learning with fun. Apalagi dalam pembelajaran orang dewasa, learning with effort menjadi hal yang cukup menyulitkan untuk dilaksanakan karena berbagai faktor pembatas, seperti kemauan berusaha, mudah bosan dll. Jadi proses pembelajaran yang menyenangkan, kreatif, tidak membosankan menjadi pilihan para guru/fasilitator. Jika situasi belajar seperti ini tidak tercipta, paling tidak multimedia dapat membuat belajar lebih efektif menurut pendapat beberapa pengajar. Sedangkan Strategi pembelajaran yang lain, Seperti:

  1. Teori otak kanan/kiri
  2. Teori otak triune (3 in 1)
  3. Pilihan modalitas (visual, auditorial, dan kinestetik)
  4. Teori kecerdasan ganda
  5. Pendidikan holistik (menyeluruh)
  6. Belajar berdasarkan pengalaman
  7. Belajar dengan symbol
  8. Simulasi/permainan
  9. Strategi ekspositori

Strategi pembelajaran ekspositori  adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pembelajaran secara optimal.[8]

Menurut Roy Allen, strategi ini dinamakan juga strategi pembelajaran langsung (direct instruction), karena guru secara langsung menyampaikan materi pelajaran kepada siswa.[9]

Dengan demikian dapat diagi mbil sebuah kesimpulan bahwa strategi pembelajaran ekspositori  adalah strategi pembelajaran langsung yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan procedural yang terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah.

Ciri-ciri pembelajaran langsung yang akan menggunakan strategi pembelajaran ekspositori adalah sebagai berikut :

  1. Adanya tujuan pembelajaran dan pengaruh model pada siswa termasuk prosedur penilaian belajar
  2. Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran
  3. Sistem pengolahan dan lingkungan belajar model yang diperlukan agar kegiatan pembelajaran tertentu dapat berlangsung dengan berhasil.[10]

Sedangkan cirri utama dari strategi ekspositori adalah :

  1. Penyampaian secara verbal dimana proses bertutur secara lisan merupakan alat utama dalam melakukan strategi ini
  2. Materi pelajarannya sudah jadi seperti data atau fakta
  3. Strategi pembelajaran ini berorientasi kepada guru (teacher centered) , melalui strategi ini guru menyampaikan materi pelajaran dengan baik dengan harapan siswa akan mampu menguasai pelajaran tersebut.[11]

Prinsip-prinsip penggunaan  strategi ekspositori  harus diperhatikan oleh setiap guru agar dalam pelaksanaannya berjalan efektif. Prinsip- prinsip tersebut adalah :

  1. Berorientasi tujuan
  2. Prinsip komunikasi
  3. Prinsip kesiapan
  4. Prinsip berkelajutan[12]

Melalui prinsip-prinsip ini, kegiatan pembelajaran dengan menggunakan strategi ekspositori mampu mendorong siswa untuk mencari dan menemukan  atau menambah wawasan melalui proses belajar mandiri. Langkah-langkah yang dilakukan pada strategi ekspositori adalah sebagai berikut :

  1. Preparasi, guru menyiapkan bahan/ materi pembelajaran
  2. Apersepsi diperlukan untuk penyegaran
  3. Presentasi (penyajian) materi pembelajaran
  4. Resitasi, pengulangan pada bagian yang menjadi kata kunci kompetensi atau materi pembelajaran.[13]

C. Strategi Pembelajaran inkuiri

                  Strategi Pembelajaran Inquiry (SPI) adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berfikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawabannya dari suatu masalah yang ditanyakan.[1]

Ada beberapa hal yang menjadi utama strategi pembelajaran inquiry:

a)  Menekankan kepada aktifitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi inquiry menempatkan siswa sebagai objek belajar.

b)  Jika bahan pelajaran yang akan diajarkan tidak berbentuk atau konsep yang sudah jadi, akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu pembuktian.

c)  Jika proses pembelajaran berangkat dari rasa ingin tahu siswa terhadap sesuatu.

d)  Jika guru akan mengajar pada sekelompok siswa rata-rata memilki kemauan dan kemampuan berpikir, atrategi ini akan kurang berhasil diterapkan kepada siswa yang kurang memiliki kemampuan untuk berpikir.

e)  Jika jumlah siswa yang belajar tak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru.

f)   Jika guru memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa.[2]

SPI merupakan strategi yang menekankan kepada pembangunan intelektual anak. Perkembangan mental (intelektual) itu menurut Piaget dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu maturation, physical experience, social experience, dan equilibration.

a)  Berorientasi pada Pengembanagan Intelektual

Tujuan utama dari strategi ini adalah pengembanagan kemampuan berpikir.

  1. Prinsip Interaksi

Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun dengan guru, bahkan interaksi antara siswa dengan lingkungan.

  1. Prinsip Bertanya

Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunakan SPI adalah guru sebagai penanya. Sebab, kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berpikir.

  1. Prinsip Belajar untuk Berpikir

Belajar bukan, hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berpikir (learning how to think).

  1. Prinsip Keterbukaan

Belajar adalah suatu proses mencoba berbagai kemungkinan. Segala sesuatu mungkin saja terjadi. Oleh karena itu, anak perlu diberikan kebebasan untuk mencoba sesuai dengan perkembangan kemampuan logika dan nalarnya.[3]

3)  Langkah Pelaksanaan  SPI

Secara umum proses pembelajaran dengan menggunakan SPI dapat mengikuti langkah-langkah sebagaia berikut:

a)  Orientasi

b)  Merumuskan masalah

c)  Mengajukan hipotesis

d)  Mengumpulkan data

e)  Menguji hipotesis

f)   Merumuskan kesimpulan[4]

Pada awalnya strategi pembelajaran inquiry banyak diterapkan dalam ilmu-ilmu alam (natural science).

Menurut Bruce Joyce, inquiry sosial merupakan strategi pembelajaran dari kelompok sosial (social family) subkelompok konsep masyarakat (concept of society).[5]

1)   Kesulitan-kesulitan Implementasi SPI

Pertama, SPI merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses berpikir yang bersandarkan kepada dua sayap yang sama pentingnya, yaitu proses belajar dan hasil belajar. Selama ini guru yang sudah terbiasa dengan pola pembelajaran sebagai proses menyampaikan informasi yang lebih menekankan kepada hasil belajar, banyak yang merasa keberatan untuk mengubah pola mengajarnya.

Kedua, sejak lama tertanam dalam budaya belajar siswa bahwa belajar pada dasarnya adalah menerima materi pelajaran dari guru dengan demikian, bagi mereka guru adalah sumber belajar yang utama. Karena budaya belajar semacam ini sudah terbentuk dan menjadi kebiasaan, maka akan sulit mengubah pola mengajarnya mereka dengan menjadikan belajar sebagai proses berpikir.

Ketiga, berhubungan dengan system pendidikan kita yang dianggap tidak konsisten. Misalnya, system pendidikan menganjurkan bahwa proses pembelajaran sebaiknya menggunakan pola pembelajran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir melalui pendekatan Student Active Learning atau yang sering kita kenal dengan CBSA, atau melalui anjuran penggunaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), namun dilain pihak sIstem evaluasi yang masih digunakan misalnya system Ujian Akhir Nasional (UAN) berorientasi pada pengembangan aspek kognitif.

2)  Keunggulan dan Kelemahan SPI

Keunggulan

SPI merupakan strategi pembelajaran yang banyak dianjurkan karena, strategi ini memiliki beberapa keunggulan yakni:

a)  SPI merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara seimbang sehingga, pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.

b)  SPI dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.

c)  SPI merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.

d)  Keuntungan lain adalah strategi ini dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan diatas rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.

Kelemahan

Disamping memilki keunggulan, SPI juga mempunyai kelemahan yakni sebagai berikut:

a)  Jika SPI digunakan sebagai strategi pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.

b)  Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran Karen, terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.

c)  Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga, sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukam.

d)  Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran maka, SPI akan sulit diimplementasikan oleh setiap guru.

D. Strategi pembelajaran problem based instruction

              Model pembelajaran Problem Based Introduction (PBI) disebut juga Pembelajaran Berdasarkan Masalah. Model pembelajaran ini mengangkat satu masalah aktual sebagai satu pembelajaran yang menantang dan menarik. Peserta didik diharapkan dapat belajar memecahkan masalah tersebut secara adil dan obyektif.
Adapun langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut :

  1. Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai dan menyebutkan sarana atau alat pendukung yang dibutuhkan.
  2. Guru memotivasi siswa untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang telah dipilih.
  3. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
  4. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis dan pemecahan masalah
  5. Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya.
  6. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap eksperimen mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
  7. Kesimpulan/Penutup.[6]

Demikianlah, mudah-mudahan sekilas postingan ini dapat menambah khasanah pembelajaran kita sehingga pembelajaran yang dirancang Bapak/Ibu Guru dapat lebih bervariatif, lebih bermakna, menantang sekaligus menyenangkan.

E. Strategi pembelajaran contextual teaching and learning

Contextual teaching and learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.[7]

Untuk memahami secara lebih mendalam konsep pembelajaran kontexstual, SOR (Center Fol Occupational Research) di Amerika menjabarkannya menjadi lima konsep bawahan yang disingkat REACT(Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, dan Transfering).

1)    Relating adalah bentuk belajar dalam konteks kehidupan nyata atau pengalaman nyata.

2)  Experiencing adalah belajar dalam konteks ekplorasi, penemuan, dan penciptaan.

3)  Applying adalah belajar dalam bentuk penerapan hasil belajar ke dalam penggunaan dan kebutuhan praktis.

4)  Cooperating adalah belajar dalam bentuk berbagi informasi dan pengalaman, saling merespon, dan saling berkomunikasi.

5)  Transfering adalah kegiatan belajar dalam bentuk memanfaatkan  pengetahuan dan pengalaman berdasarkan konteks baru untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman belajar yang baru.

Karakteristik pembelajaran kontekstual

1)   Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks autentik

2)  Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna (meaningful learning).

3)  Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa (learning by doing).

4)  Pemebelajran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling mngoreksi antar teman (learning in a group).

5)  Pembelajaran memberikan kesempatan untuk menciptakan rasa kebersamaan, bekerja sama, dan saling memahami antara satu dengan yang lain secara mendalam (learning to know each other deeply).

6)  Pemebelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif, dan mementingkan kerja sama (learning to ask, to inquiry, to work together).

7)  Pembelajaran dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan (learning ask an enjoy activity).

Komponen pembelajaran kontekstual

1)   Constructivism (kontruktivisme, membangun, membentuk)

2)  Questioning (bertanya)

3)  Inquiry (menyelidiki, menemukan)

4)  Learning community (masyarakat belajar)

5)  Modeling (pemodelan)

6)  Reflection (refleksi atau umpan balik)

7)  Authentic assessment (penilaian yang sebenarnya)

Apabila ketujuh komponen ini diterapkan dalam pembelajaran, terlihat pada realitas berikut:

1)   Kegiatan yang mengembangkan pemikiran bahwa pembelajaran akan lebih bermakna apabila siswa bekerja sendiri

2)  Kegiatan belajar yang mendorong sikap keingintauan siswa lewat bertanya tentang topik atau permasalahan yang akan dipelajari.

3)  Kegiatan belajar yang bias mengondisikan siswa untuk mengamati.

4)  Kegiatan belajar yang bisa menciptakan suasana belajar bersama atau kelompok sehingga ia bisa berdiskusi.

5)  Kegiatan belajar yang bisa menunjukkan model yang bisa dipakai rujukan atau panutan siswa dalam bentuk penampilan tokoh.

6)  Kegiatan belajar yang memberikan refleksi atau umpan balik dalam bentuk tanya jawab dengan siswa tentang kesulitan yang dihadapi dan pemecahannya.

7)  Kegiatan belajar yang bisa diamati secra periodik perkembangan kompetensi siswa melalui kegiatan-kegiatan nyata ketika pembelajaran berlangsung.

Prinsip Dasar setiap komponen Utama CTL

1)   Konstruktivisme

Prinsip dasar konstruktivisme yang dalam praktik pembelajaran harus dipegang guru adalah sebagai berikut:

o   Proses pembelajaran lebih utama daripada hasil pembelajaran

o   Informasi bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata siswa lebih penting daripada informasi verbalistis

o   Siswa mendapatkan kesempatan seluas-luasnya untuk menemukan dan menerapkan idenya sendiri dalam belajar.

o   Siswa diberikan kebebasan untuk menerapkan strateginya sendiri dalam belajar

o   Pengetahuan siswa tumbuh dan berkembang melalui pengalaman sendiri

o   Pemahaman siswa akan berkembang semakin dalam dan semakin kuat apabila diuji dengan pengalaman baru.

o   Pengalaman siswa dibangun secara asimilasi (yaitu pengetahuan baru dibangun dari struktur pengetahuan yang sudah ada) maupun akomodasi (struktur pengetahuan yang sudah ada di modifikasi untuk menampung/menyesuaikan hadirnya pengalaman baru). baca juga: Sistem pendidikan formal di indonesia.

2)  Bertanya (Questioning)

Prinsip-prisnsip yang perlu diperhatikan guru dalam pembelajaran berkaitan dengan komponen bertanya adalah sebagai berikut:

o   Penggalian informasi lebih efektif apabila dilakukan melalui bertanya

o   Konfirmasi terhadap apa yang sudah diketahui lebih efektif melalui tanya jawab

o   Dalam rangka penambahan atau pemantapan pemahaman lebih efektif dilakukan lewat diskusi (baik kelompok maupun kelas).

o   Bagi guru, bertanya pada sisawa bisa mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa.

o   Dalam pembelajaran yang produktif.

3)  Menemukan (inquiry)

Prinsip-prinsip yang bisa dipegang guru ketika menerapkan komponen inquiry dalam pembelajaran adalah sebagai berikut

o   Pengetahuan dan ketrampilan akan lebih lama diingat apabila siswa menemukan sendiri.

o   Informasi yang diperoleh siswa akan lebih mantap apabila diikuti dengan bukti-bukti atau data yang ditemukan sendiri oleh siswa.

o   Siklus inkuiri adalah observasi, bertanya, mengajukan dugaan, pengumpulan data, dan penyimpulan.

4)  Masyarakat belajar (learning community)

Prinsip-prinsip yang bisa diperhatikan guru ketika menerapkan pembelajaranyang berkonsentrasi pada komponen learning community.

o   Pada dasarnya hasil belajar diperoleh dari kerja sama atau sharing dengan pihak lain.

o   Sharing terjadi apabila ada pihak yang saling memberi dan saling menerima informasi.

o   Sharing terjadi apabila ada komunikasi dua atau multi arah.

o   Masyarakat belajar terjadi apabila masing-masing pihak yang terlibat di dalamnya sadar bahwa pengetahuan, pengalaman, dan ketrampilan yang dimilikinya bermanfaat bagi yang lain.

o   Yang trelibat dalam masyarakat belajar pada dasarnya bisa menjadi sumber belajar.

5)  Pemodelan (modeling)

Prinsip-prinsip komponen modeling yang bisa diperhatikan guru ketika melaksanakn pembelajaran adalah sebagi berikut:

o   Pengetahuan dan ketrampilan diperoleh dengan mantap, apabila ada model atau contoh yang bisa ditiru.

o   Model atau contoh bisa diperoleh langsung dari yang berkompeten atau dari ahlinya.

o   Model atau contoh bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, contoh hasil karya, atau model penampilan.

6)  Refleksi (reflection)

Prinsip-prinsip dasar yang perlu diperhatikan guru dalam rangka penerapan komponen refleksi adalah sebagai berikut:

o  Perenungan atas sesuatu pengetahuan yang baru diperoleh merupakan pengayaan atas pengetahuan sebelumnya.

o  Perenungan merupakan respons atau keajaiban, aktivitas atau pengetahuan yang baru diperolehnya.

o  Perenungan bisa berupa menyampaikan penilaian atas pengetahuan yang baru diterima, membuat catatan singkat, diskusi dengan sejawat, atau untuk kerja.

7)              Penilaian autentik (authentic assessment)

Prinsip dasar yang perlu menjadi perhatian guru ketika menerapkan komponen penilaian autantik dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:

o   Penilaian autentik buka menghakimi siswa, tetapi untuk mengetahui perkembangan pengalaman belajar siswa.

o   Penilaian dilakukan secara kompherensif dan seimbang antara penilaian proses dan hasil.

o   Guru menjadi penilai yang konstruktif.

o   Penilaian autantik memberikan kesempatan siswa untuk dapat mengembangkan penilaian diri dan penilaian sesama.

Bertolak dari prinsip-prinsip dasar pada setiap komponen pada pendekatan CTL tersebut, kata-kata kunci yang dapat dipakai sebagai pengingat guru ketika melaksanakan pembelajaran berbasis CTL adalah sebagai berikut.

a)  Belajar pada hakikatnya adalah belajar dari kenyataan yang bisa di amati, dipraktikkan, dirasakan, dan di uji coba.

b)  Belajar adalah mengutamakan pengalaman nyata

c)  Belajar adalah berpikir tingkat tinggi

d)  Kegiatan pembelajaran berpusat pada siswa

e)  Kegiatan pembelajaran memberikan kesempatan siswa untuk aktif, kritis dan kreatif

f)   Menghasilkan pengetahuan yang bermakna dalam kehidupan siswag)  Harus dekat dengan kehidupan nyata

h)  Harus bisa menunjukkan perubahan perilaku siswa

i)   Diarahkan pada siswa praktik,bukan menghafal

j)   Menciptakan siswa belajar, bukan guru belajar

Senada dengan hal tersebut, University of Washington (2001) mendeskripsikan enam unsur penting yang harus diperhatikan dalam pendekatan kontekstual, yaitu sebagai berikut.

a)  Pembelajaran bermakna: pemahaman, relevansi, dan penghargaan siswa.

b)  Penerapan pengetahuan: kemampuan untuk melihat bagaimana dan apa yang dipelajari diterapkan dalam tatanan-tatanan lain dan berfungsi pada masa sekarang dan akan dating.

c)  Berpikit tingkat tinggi: siswa dilatih untuk berpikir kritis dan kreatif.

d)  Kurikulum yang dikembangkan berdsarkan standar: materi atau isi pembelajaran berhubungan dengan suatu rentang dan beragam standar lokal.

e)  Responsive terhadap budaya: pendidik harus memahami dan menghormati nilai, keyakinan dan kebiasaan siswa.

f)   Penialaian autentik: penggunaan berbagai macam strategi penulaian yang secara valid mencerminkan hasil belajar sesungguhnya yang diharapakan siswa.

KESIMPULAN

Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Pemilihan strategi prmbelajaran yang tepat akan berdampak pada keberhasilan suatu proses pembelajaran. Dan sebaliknya pemilihan strategi pembelajaran yang kurang tepat tentu akan berdampak pada kurang efektif dan kondusif suatu pembelajaran yang dilaksanakan. Hal ini bergantung pada guru, karena guru mempunyai hak sepenuhnya untuk menentukan strategi atau metode pembelajaran yang akan dilaksanakan.

Dalam pembelajaran aktif atau student centered ( pembelajaran terpusat pada siswa ), tidak terlepas dari peranan seorang pendidik sebagai fasilitator dan sekaligus pengelola pembelajaran di dalam kelas. Berhasil atau tidaknya kegiatan belajar di kelas salah satunya adalah faktor dari seorang pendidik, bagaimana dia mengelola kelas dan menciptakan kegiatan belajar mengajar menjadi kondusif dan berarti bagi siswa. Proses pembelajaran yang baik adalah proses pembelajaran yang memungkinkan para pembelajar aktif melibatkan diri dalam keseluruhan proses baik secara mental maupun secara fisik. Diantara srtategi pembelajaran yang berpusat pada siswa antara lain yaitu:

Macam-macam strategi pembelajaran meliputi :

  1. Strategi Pembelajaran Quantum Learning
  2. Strategi Pembelajaran Ekspatori
  3. Strategi Pembelajaran Inquiri
  4. Strategi pembelajaran Problem Based Instruction
  5. Strategi Pembelajaran Contextual Teaching and Learning.

Demikian ulasan sigkat seputar Macam – Macam Strategi Pembelajaran yang dapat kita sampaikan, semoga bermanfaat. Baca juga: Tinjauan Umum tentang teknologi modern.

DAFTAR PUSTAKA

Bruce Joyce dan M. Weil, 1980, Models of Teaching,  New Jersey :Prentice-Hall Inc

Bobbi De Potter and Mike Hernacki,2001,  Quantum Learning, New York: Dell Publishing, 200

Departemen Pendidikan Nasional, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, 2002,  Pendektaan Kontekstual ( Contextual Teaching And Learning (CTL)), Jakarta : Depdiknas

Evi Fatimatur Rusydiyah,2002,  Media dan Teknologi Pembelajaran (Teori dan Praktek dalam Pembelajaran Pendidikan Islam), Surabaya: PMN & IAIN Press Sunan Ampel Surabaya

  1. Nur & S. Kasdi, 2002, Pengajaran Langsung, Surabaya: University Press

Robert M. Gagne dan Leslie J. Briggs,1979,  Principles of Instructional Design, New York : Holt Rinehart & Winston

Roy Killen, 1998, Effective Teaching Strategies: Lesson From Research and Practice, Second Edition, Australia: Social Science Press

Trianto, 2007,  Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruksivistik,(Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher

Wina Sanjaya, 2007, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta : Kencana Prenada Media Group

[1] Evi Fatimatur Rusydiah, Ibid., 178

[2] Trianto, Ibid.,135

[3] M. Nur & S. Kasdi, Ibid., 87

[4] Wina Sanjaya, Ibid.,201

[5] Bruce Joyce dan M. Weil, Models of Teaching, ( New Jersey :Prentice-Hall Inc, 1980), 95

[6] Trianto, Ibid.,73

[7] WIna Sanjaya, Ibid., 255

[1] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan,  (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2007), 125

[2] Robert M. Gagne dan Leslie J. Briggs,  Principles of Instructional Design, (New York : Holt Rinehart & Winston, 1979), 2

[3] Roy Killen, Effective Teaching Strategies: Lesson From Research and Practice, Second Edition, ( Australia: Social Science Press, 1998), 15

[4]Departemen Pendidikan Nasional, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama,  Pendektaan Kontekstual ( Contextual Teaching And Learning (CTL)), (Jakarta : Depdiknas, 2002), 1

[5] Wina Sanjaya, Ibid., 127

[6] Evi Fatimatur Rusydiyah, Media dan Teknologi Pembelajaran (Teori dan Praktek dalam Pembelajaran Pendidikan Islam), (Surabaya: PMN & IAIN Press Sunan Ampel Surabaya, 2002), 174

[7]  Bobbi De Potter and Mike Hernacki, Quantum Learning,( New York: Dell Publishing, 2001), 5

[8] Wina sanjaya, Op-cit., 179

[9] Roy Killen,  Op-cit., 15

[10] M. Nur & S. Kasdi,  Pengajaran Langsung, (Surabaya: University Press, 2000), 3

[11] Trianto,  Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruksivistik, (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2007), 29

[12] Wina Sanjaya, op-cit., 181-183

[13] Evi Fatimatur Rusydiah, Op-cit., 176


adsense-fallback