Konsep Pendidikan Menurut Al Ghazali, Lengkap 100%

adsense-fallback

Konsep Pendidikan Menurut Al Ghazali – Pentingnya motivasi tidak lepas dari pandangan tokoh islam, hal ini telah dibahas oleh al-Ghazali melalui pendekatan tasawufnya banyak mengungkap hakikat dan perilaku manusia. Karya keilmuan Al Ghazali dapat dikonstruksikan sebagai sebuah proses teorisasi ilmu yang memiliki karakter ilmiah, bukan sebagai wacana agama, etika dan tasawuf belaka, karena karya-karya Al Ghazali bisa diinterpretasikan dan diaktualkan untuk kepentingan yang lebih luas. Hal demikian termasuk dalam kepentingan manajemen, khususnya ketika memahami teori motivasi dalam manajemen smber daya manusia.

Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad at-Thuzi al-Ghazali dilahirkan pada 450 H/ 1058 M di Thus, Khurasan. Beliau adalah salah seorang ilmuwan muslim yang termasyhur sebagai tokoh muslim dari kelompok Ahlu Sunnah, yang juga dikenal sebagai Hujjatul Islam.[1]

Gejala sosial dan individu yang dicermati dalam sebuah sistem sosial atau organisasi melahirkan sebuah studi tentang prilaku organisasi. Bila dilihat dari perspektif ini, peran lingkungan dalam mengkondusifkan organisasi menjadi penting untuk dirumuskan sebagai sebuah mekanisme organisasi yang sistematis. Dalam pemahaman seperti inilah Imam Al Ghazali memandang proses pemotivasian seseorang sehingga mampu meningkatkan prestasi kerjanya.

adsense-fallback

Motivasi adalah dorongan sadar maka dapat dijelaskan tinggi rendahnya suatu keinginan yang ingin dicapai akan sangat menentukan terhada usaha untuk menggapainya, sebagaimana konsep yang ditawarka al-Ghazali dalam pendapatnya demikan: menurut al-Ghazali motif sebagai eksistensi iradat yang timbul dari daya pendorong (al-ba’isat)dari jiwa sensitive yaitu keinginan yang kuat (al-quwwat al-nuzu’iyat wa al syawqiyat). Kemudian beliau menjelaskan bahwa keinginan menjadi dua , yaitu keinginan (al-nuzu’) memilih perintah akal dan meninggalkan (al-tark) tuntutan badan. Yang pertama menurut al-Ghazali adalah perbuatan Tuhan (fi’il Allah ta’ala) dan yang kedua adalah dari manusia.[2]

Konsep Pendidikan Menurut Al Ghazali

[huge_it_share]Konsep Pendidikan Menurut Al Ghazali

Konsep Pendidikan Menurut Al Ghazali –  Menurut al Ghazali struktur jiwa manusia terbagi menjadi tiga dimensi yaitu dimensi materi, dimensi nabati,dimensi hewani, dan dimensi kemanusiaan. Dalam dimensi tersebutstruktur jiwa manusia terdiri dari al-qalb, al-ruh, al-nafs dan al-aql. Pada esensinya konsep motivasi al-Ghazali mencakup tiga dimensi. Dalam ihya’ al-Ghazali menyebutnya al-junud al-qalb, dalam mizan disebutnya an-nafs al-hayaliyah, dan dalam misykat disebutnya al-arwah al-basyariyah.[3]

Sumber Motivasi Menurut al-Ghazali

Konsep Pendidikan Menurut Al Ghazali – Al-QALB. Kalbu mengandung kepribadian mutmainnah yang mengandung potensi-potensi Iman, Islam dan Ihsan yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia agar bisa berbuat sesuai tuntutan robbani yaitu manusia sebagai hamba Allah. Al-Ghazali menjelaskan mengenai hati dengan dua cara pandang, pertama diartikan sebagai fisik yaitu sepotong hati. Kedua, diartikan sebagai sesuatu yang halus (lathifah) , yaitu suatu hakikat dasar manusia yang bersifat perasa, mengetahui dan mengenal (haqiqat al-insani al-mudrik al ilm). Pengertian yang kedua menurut al-Ghazali mengandung unsur kualitas ketuhanan (rabbaniyah) bersifat kerohaniahan (ruhaniyyah) dan mempunyai unsur pengetahuan (‘aqliyah).[4]

Al-ghazali melahirkan suatu motif-motif tertentu yang meliputi tiga hal. Pertama, Iradah (kehendak) yang berfungsi sebagai pembangkit dan pendorong baik untuk mendatangkan sesuatu yang bermanfaat. Seperti naluri syahwat ataupun untuk menolak sesuatu yang berbahaya dan merugikan seperti emosi dan amarah. Kedua, al-qudrah (kemampuan) yang berfungsi sebagai penggerak anggota tubuh demi mencapai berbagai macam tujuan yang terbesar di seluruh tubuh terutama dalam otot-otot dan urat-urat. Ketga, al-ilm (ilmu pengetahuan) dan al-idrak (daya gerak dan daya penyerap). Ini berfungsi sebagai instrument yang menerima rangsangan seperti panca indra. Diantaranya: indra perasa, pencium, pendengar dan alat peraa yang semuanya tersebar diseluruh tubuh bagian luar dan dalam.[5]

Dalam kitab ringkasan ihya’ ulumuddin al-Ghazali menjelaskan tentang motivasi yang lahir dari potensi qalb. Beliau menjelaskan sebagai berikut: “telah jelas bagimu bahwa perumpamaan hati yakni bisikan Rabbani adalah seperti raja, dan badannya seperti kekuasaan, keuatan aqliyyahnya yang berpikir adalah para menterinya dan sifat-sifat trcela seperti polisi. Selama hati dapat sanggup menggunakan petunjuk para menteri dan bertindak dalam kerajaan seperti petunjuk akal, maka iapun bersikap lurus dalam kekuasaannya.[6]

Dari uraian tersebut menggambarkan bahwa motivasi pendidikan al-Ghazali menamkan prinsip I’tidal (keseimbangan) jasmani dan rohani untuk meletakkan pendidikan akhlak yang pada akhirnya pendidikan diharapkan bisa melahirkan manusia yang berilmu pengetahuan dan bisa diamalkan dalam kemaslahatan umat manusia. Motivasi al-Ghazali pada hakiatnya merupakan gagasan pendidikan jiwa denganharapan agar setiap orang mampu mendidik jiwanya (termasuk disini potensi emosi) untuk tujuan kebaikan dengan lahirnya keutamaan-keutamaan dari jiwa tersebut.

Konsep Pendidikan Menurut Al Ghazali – AL-AQL. Akal mengandung potensi sosialitas, moralitas dan rasional. Hal tersesbut jika dimaknai dalam kehidupan mengandung nilai-nilai peradaban manusia baik secara habluminallah dan habluminannas.

   Al-Ghazali menjelaskan akal sebagai berikut: “ bahwa akal merupakan potensi yang disiapkan untuk menerima ilmu pengetahuan. Menurutnya ada beberapa pengertian tentang akal, pertama, akal sebagai suatu sifat yang membeakan manusia dengan hewan dan merupakan potensi yang dapat menerima dan memahami pengetahuan yang berdasarkan ilmu nadlari. Kedua, akal diartikan sebagai pengetahuan yang telah tersimpan dalam diri anak yang mumayyiz. Ketiga, akal adalah pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman manusia. Keempat, akal adalah gharizah (naluri) yang telah tertanam dalam diri pribadi manusia dan mampu memperhitungkan akibat yang akan timbul dari segala sesuatunya dan mampu menundukkan serta mengalahkan hawa nafsu yang mengajak pada kesenangan sesaat.[7]

   AR-RUH. Al-Ghazali mengartikan kata ruh kealam dua pengertian. Pertama, secara biologis, ruh adalah sesuatu yang abstrak yang bersemayam dalam rongga hati biologis dan mengalir melalui urat-urat dan pembuluh –pembuluh keseluruh anggota tubuh. Kedua, secra medis yakni bagian dari manusia yang berupa sesuatu zat yang halus (lathifah) dan mempunyai kemampuan untuk mengetahui, memiliki dan berpersepsi.[8]

   Persepsi untuk menjelaskan sumber motivasi dalam masalah ruh dapat diasumsikan hanyalah semata-mata untuk memperoleh ilmu pengetahuan dalam pengalaman menghidupkan agama. Tiga komponen yang menjadi landasan dasar merupakan sebagai input dan output yang merupakan motif dari dalam potensi fitrah maupun dorongan pengaruh dari luar diri manusia.

   Mengenai konsep sumber motivasi ini dapat disimpulkan bahwa semua komponen kejiwaan tidak bisa dipisahkan antara satu sama lain, baik yang bersifat kognitif, empiris, intuitif dan spiritual. Karena semuanya merupkan komponen-komponen yang bisa menyerap pengetahuan melalui indra yang bersifat eksternal kedalam yang bersifat internal.

  Konsep Pendidikan Menurut Al Ghazali dan motivasinya

 Konsep Pendidikan Menurut Al Ghazali –  Prinsip tentang motivasi ilmu yang harus diamalkan. Yakni seorang guru muslim berkewajiban untuk mengamalkan lmunya. Muhammad Jawwad Ridho menjelaskan dari kutipan kitab ihya’ ulumuddin, bahwa seorang muallim harus menyatukan antara ucapan dan perbuatan, karena amal perbuatan diketahui dan disaksikan dengan mata lahir, sementara orang bertumpu pada mata lahirnya itu lebih banyak, sehingga bila amal perbuatan guru itu bertentangan dengan ilmu yang dimiliki, maka ia berarti telah mengabaikan misi mendakwahkan kebenaran kepada oranglain.[9]

   Sehingga jika dimaknai dalam peran motivasi , konsep yang demikian adalah suatu upaya untuk menumbuhkan sifat-sifat yang meliputi keteladan, nasehat, hukuman, cerita, dan pembiasaan dalam bakat anak yang juga perlu digali dan disalurkan dengan berbagai kegiatan agar waktu-waktu kosong menjadi bermanfaat. Peran motivasi yaitu untuk menumbuhkan semangat keagamaan agar manusia bisa menjadi hamba Allah yang bisa menggunakan semua potensinya dalam jalan beribadah kepadaNya, sedangkan dalam pandangan social kemanusiaan untuk mnciptakan peradaban dan keteladanan.

   Hakikat tujuan motivasi adalah untuk menyeimbangkan potensi-potensi fitrah yang telah tertanam dalam jiwa manusia mulai sejak lahir, yang oleh al-Ghazali dijelaskan bahwa jiwa manusia mempunyai sifat-sifat tercela yang harus dibersihkan. [10]

Demikian ulasan singkat seputar Konsep pendidikan menurut Al Ghozali. Anda dapat menemukan artikel ini dengan kata kunci yang berbeda seperti definisi pendidikan menurut al-ghazali, metode pendidikan menurut al ghazali, tujuan pendidikan menurut al ghazali, pendidikan al ghazali kohler, makalah pemikiran pendidikan al ghazali, pemikiran al ghazali tentang filsafat.

Baca juga: Filsafat Etika al ghazali

[1] Sibawaihi, Eskatologi al-Ghazali dan Fazlur Rahman Studi komparatif Epistemologi klasik dan Kontemporer (Yogyakarta: Islamika, 2004), 35.

[2] Al-Ghazali. Ma’arij al-Quds fi Ma’darij Ma’rifat al-Nafs (Kairo: Maktabah al-Jundi, 1968), 30.

[3] Ahmad Ali Riadi. Psikologi Sufi al-Ghazali (Yogyakarta: Panji Pustaka, 2008),38.

[4] Ibid,. 116.

[5] Ibid,. 65.

[6][6] Al-Ghazali, Ringkasan Ihya’ Ulumuddin, 225.

[7][7] Ibid,. 85.

[8] Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin Terj. Moh. Zuhri dkk. Jilid III (Semarang: As-Syifa, 2003), 4.

[9] Muhammad Jawad Ridlo, Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam (Yogya: PT. Tiara Wacana. Anggota IKAPI), 67.

[10] A.Malik Fadjar,dkk. Horison Baru Pengembangan Pendidikan Agama Islam Upaya Merespon Dinamika Masyarakat Global (Yogyakarta: Aditia Media Yogyakarta bekerhasama dengan UIN Press, 2004), 237.


adsense-fallback