Lompat ke konten
Home » √ Lembaga Informal Pendidikan Tinggi Islam, Kajian Kritis Sejarah!

√ Lembaga Informal Pendidikan Tinggi Islam, Kajian Kritis Sejarah!

Daftar Isi

lembaga informal pendidikan tinggi
lembaga informal pendidikan tinggi

Ada beberapa lembaga informal pendidikan tinggi pada zaman klasik yang berkembangan menjadi lingkungan intelektual, adapun lembaga informal pendidikan tinggi itu antara lain:

Lembaga informal pendidikan tinggi berupa Halaqah

a. Konsep dasar halaqah

lembaga informal pendidikan tinggi – Halaqahbermakna lingkaran. Artinya proses belajar mengajar disini dilaksanakan dimana murid-murid melingkari gurunya[1]. Seorang guru biasanya duduk dilantai, menerangkan, membacakan karangannya atau memberikan komentar atas karya pemikiran orang lain. Kegiatan dihalaqah ini tidak khusus untuk mengajarkan atau mendiskusikan ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan umum termasuk filsafat. Oleh karena itu, halaqah ini dikelompokkan kedalam lembaga pedidikan yang terbuka terhadap ilmu pengetahuan umum. Dilihat dari segi ini, halaqah dikategorikan kedalam lembaga pendidikan tingkat lanjutan yang setingkat dengan college[2].

Dari sistem halaqah ini kita mendapatkan gambaran tentang bagaimana Ibn sina menyelenggarakan halaqahnya mulai saat fajar dan berdiskusi serta membaca dihalaqah itu hingga pertengahan waktu pagi. Al-Ghazali juga digambarkan sebagai seorang yang telah mengucilkan diri dari kehidupan masyarakat umum, mendirikan sebuah lingkaran para ilmuan dirumahnya yang memperoleh perhatian secara pribadi[3]. Jelas, reputasi seorang syaikh (guru) sangat menentukan kemampuannya untuk menarik para murid dan popularitas intelektual dari lingkarannya sendiri.

b. Metode dan kurikulum halaqah dalam lembaga informal pendidikan tinggi

Metode yang digunakan dalam sistem halaqah adalah metode diskusi. Seorang syaikh atau guru merangsang diskusi diantara pelajar dan mendorong mereka untuk saling menantang termsuk menantang dirinya, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kritis, bahkan para pendengar (tamu) yang hadir juga dirangsang untuk terlibat dalam proses perdebatan yang juga merupakan metode pengajaran di halaqah dan tidak jarang diskusi menjadi memanas diantara para pelajar dan syaikh. atau guru.

Adapun kurikulum lingkaran studi sejalan dengan pengetahuan dan minat seorang syaikh dan tergantung pada pengalaman dan keahliannya. Namun, kajian filsafat yang tidak memperoleh tempat pijakan dalam standar kurikulum dilembaga-lembaga pendidikan formal, maka kajian filsafat mendapatkan tempatnya pada lingkaran studi informal. Dari forum ini, kemudian studi filsafat mempengaruhi kehidupan intelektual dalam peradaban islam. Sebuah kelas pengajaran tingkat permulaan didalam halaqah barang kali diawali dengan buku “isagoge” dan komentar tentang karya-karya aristoteles dan berlanjut dengan sejumlah manuskrip terjemahan karya-karya filsafat bangsa yunani yang dimiliki seorang pembimbing[4].

Apabila seorang syaikh atau guru dalam halaqah ini seorang multidisipliner sejati yang sangat pandai dalam semua lapangan ilmu pengetahuan, pengajaran boleh jadi mencakup unsur-unsur ilmu pengetahuan alam dan kedokteran. Setiap syaikh memiliki kecendrungan sendiri dalam hal ilmu-ilmu Non- islam (ilmu-ilmu asing) dan mungkin dia sudah terkenal keterampilannya dalam mengajarkan mata pelajaran tertentu, tanpa harus mengabaikan mata pelajaran yang lain.

Semua lingkaran studi yang berlangsung dirumah sakit dan observatori cenderung menekankan pengajarannya pada ilmu-ilmu alam dan seni pengobatan. Lingkaran-lingkaran studi juga menyediakan tempat bagi para ilmuan muda untuk belajar keterampilan berdebat secara filosofis dan penggunaan logika dan penyanggahan untuk mempertahankan tesis-tesisnya sekaligus menguji atau menantang tesis-tesis orang lain.

c. Peran halaqah dalam perekembangan ilmu pengetahuan

Lingkungan studi mengurai akar dalam islam dan berkembang dinegara-negara islam sampai sekarang, dengan munculnya gerakan tradisionalis dan penolakan yang perlahan-lahan terhadap filsafat dan teologi, lingkaran studi dirumah-rumah pribadi menjadi media utama bagi para ilmuan muda untuk mengenal bidang-bidang kajian bangsa yunani dan memindahkan warisan kebudayaan itu kepada bangsa Eropa abad pertengahan. Tanpa halaqah tidaklah mungkin karya-karya Al-kindi, ibn sina, Al- Farobi dan ibn Rusyd tersebar begitu luas keseluruh penjuru wilayah kekuasaan islam[5]

Lembaga informal pendidikan tinggi berupa Perpustakaan

a. Latar belakang berdirinya perpustakaan masa keemasan islam

Seiring dengan perkembangan berbagai cabang ilmu pengetahuan dan munculnya karya tulis para sarjana, berkembang pula produksi kertas yang tersebar luas diseluruh wilayah Islam hal ini kemudian memberikan dorongan besar tidak saja bagi gerakan penulisan, penerjemahan dan pengajaran, akan tetapi juga berpengaruh pada gerakan pengumpulan naskah. Keadaan ini berlangsung ketika seluruh peradaban muslim dilanda debad hebat dan buku menjadi kunci utama untuk menyamapikan gagasan. Kebutuhan akan buku menyebabkan merebaknya perpustakaan diberbagai penjuru dunia islam. Mereka berlomba untuk membeli karangan-karangan ilmiah dari para penulisnya begitu selesai ditulis. Sangatlah jarang istana, masjid-masjid dan madrasah tidak memiliki perpustakaan termasuk para hartawan dan ulama yang cinta akan ilmu pengetahuan, hampir semuanya pada memiliki perpustakaan[6].

Disisi yang lain, adanya minat yang besar akan ilmu pengetahuan dari para pemimpin ulama dan kaum intelektual terutama pada dinasti abbasiyah pada kepemimpinan khalifah Abu ja’far Al-Mansyur, khalifah Harun al-Rasyid dan Abdullah Al-Makmun. Khalifah-khalifah tersebut sangat menjaga dan memelihara buku-buku, baik yang bernuansa agama atau bernuansa umum baik karya ilmuan muslim atau non- muslim, baik karya-karya ilmuan yang semasanya atau pendahulunya. Ini terlihat jelas dari sikap para khalifah, seperti pesannya Harun Al-Rasyid kepada para tentaranya untuk tidak merusak kitab apapun yang ditemukan dalam medan perang. Begitu juga khalifah Al-Makmun yang menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan agama Kristen dan yang lainnya untuk menerjemahkan buku-buku yunani, sampai pada akhirnya Baghdad menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

b. Macam-macam perpustakaan

Adapun jenis-jenis perpustakaan pada masa keemasan islam terdapat dua macam, yaitu perpustakaan umum dan perpustakaan pribadi.

1. Perpustakaan umum

Yang dimaksud dengan perpustakaan umum adalah perpustakaan yang diselenggarakan atas swadaya masyarakat dan dibuka untuk memberikan layanan informasi bagi seluruh lapisan masyarakat secara mutlak.

Perpustakaan umum didirikan oleh para khalifah, Amir dan hartawan. Untuk perpustakaan tersebut, mereka mendirikan bangunan-bangunan khusus dan terkadang digabung dengan masjid-masjid atau madrasah-madrasah.

Adapun perpustakaan umum pada masa keemasan islam antara lain:

a) Perpustakaan umum yang paling terkenal di Baghdad selama masa kepemimpinan Al-Makmun adalah Bayt alHikmah[7]. Lembaga ini menggabungkan perpustakaan, sanggar sastra, lingkaran studi dan observatorium. Pada umumnya para sejarawan mengaitkan pendirinya dengan khalifah Al-Makmun,tetapi Ahmad salabi mengatakan lain, bahwa lemabaga itu sudah berjalan semasa pemerintahan pendahulu Al-Makmun yakni khalifah harun Ar-Rasyid. Yang pasti Bait alHikmah mencapai puncaknya dalam kegiatan intelektual dimasa khalifah Al-Makmun.

Para khalifah selama periode ini bersungguh-sungguh dalam mempelajari manuskrip-manuskrip karya Bangsa yunani, baik dari Bayzantium ataupun dari terjemahan jundisapur, Bait alHikmah menjadi pusat utama penerjemahan yang dimiliki umat islam dipimpin oleh Hunain bin ishak dan anaknya. pusat penerjemahan itu mengangkat sekelompok ilmuan yang brilian dengan diberikan hak-hak untuk mempelajari manuskrip-manuskrip yang baru dan yang lama.

Di Bait alHikmah itu, Al-kindi mendirikan sekolah berbahasa arab yang mengajarkan filsafat parepatik yang kemudian dikembangkan oleh Al-Farobi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd. Ditempat ini juga Al-khawarizmi tidak hanya memberi sumbangan bagi filsafat, teologi dan matematika tetapi juga melakukan penelitian di laboraturium perbintangan. Peran penting Bait alHikmah merosot setelah masa tekanan pemberantasan atas gerakan Rasional mu’tazilah. Posisi tradisional yang diambil oleh khalifah setelah Al-Mutawakkil memperlemah dukungan intelektual Bait alHikmah, dan lembaga itu tidak pernah lagi mencapai tingkat yang sama dalam hal keterbukaan dan kesungguhan intelektual[8].

b) Perpustakaan Dar alHikmah di kairo, didirikan pada tahun 1004 dibawah dukungan dinasti fatimiyah. Dar alHikmah mempunyai pengakuan khusus karena perlengkapannya yang luar biasa. Para pendukungnya yang kaya menyediakan tinta, kertas, meja-meja dan ruang belajar bagi para ilmuan dan para pelajar. Dar alHikmah berjalan selama lebih dari satu abad sebagai pusat utama pendidikan tinggi di mesir sampai Sultan Malik Al-Afdhal kemudian menutupnya pada tahun 1122, ketika dia mengetahui bahwa dua orang ilmuan tamu telah menyampaikan kuliah mengenai ajaran-ajaran yang menyeleweng (heretic) dalam bagian-bagiannya yang tertentu. Para penerus sultan Al-Afdhal kemudian membuka kembali Dar alHikmah itu, tetapi menetapkan bahwa hanya bacaan dan khutbah yang dinilai benar-benar ortodoks saja yang dapat disampaikan dalam kelas-kelas perkuliahannya[9].

c) Perpustakaan dinasti Fatimiyah kedua, Al-Aziz (975 samapi 996). Dalam perpustakaa ini ada 100 karya mengenai leksikografi, yaitu jamhara karya ibn Durayd, yang secara keseluruhan ada empat puluh koleksi buku diperpustakaan istana yang masing-masing koleksi terdapat disatu ruangan, berarti diperpustkaan tersebut terdapat 40 ruangan yang penuh buku, adapun ilmu-ilmu kuno yaitu ilmu alam dan filsafat hellenistik yang ada diperpustakaan tersebut berjumlah 18000 buku.

Dalam penelitian Michael Stanton, perpustakaan-perpustakaan yang dibangun untuk umum terdiri dari ruangan-ruangan yang dilengkapi dengan karpet-karpet dan meja-meja yang mewah dengan tinta dan kertas yang tersedia bagi para ilmuan dan mahasiswa. Dibeberapa perpustakaan besar, khususnya di Baghdad dan kairo sebanyak 40 samapai dengan 50 ruangan dibangun untuk menyimpan buku-buku dan untuk menyediakan ruang belajar bagi para ilmuan dan mahasiswa. Manuskrip-manuskrip ditata dirak-rak dan dibuatkan katalog sehingg seorang pengunjung dapat dengan mudah menemukannya.

Dengan memperhatikan uraian diatas, tampaknya perpustakaan umum didunia islam masa keemasan itu lebih merupakan dari sebuah universitas karena disamping terdapat kitab-kitab untuk dibaca atau diterjemahkan, disana juga diperbolehkan berdiskusi.

2. Perpustakaan pribadi dalam lembaga informal pendidikan tinggi

lembaga informal pendidikan tinggi – Yang dimaksud dengan perpustakaan pribadi adalah perpustakaan yang diselenggarakan atas pribadi seseorang bukan atas swadaya masyarakat dan pada umumnya hanya dimanfaatkan oleh pribadinya saja tidak buka untuk umum.

Banyak diantara bangsawan yang dekat dengan golongan Abbasiyah yang mempunyai perpustakaan. Berikut ini penulis kemukakan beberpa perpustakaan pribadi yang ada pada masa keemasan islam anatara lain:

a) Dikalangan Buwahiyah, Adhud Al-Daula yang merupakan ayah Baha Al-Daula dan anggota terpenting dalam kelompok itu, telah mendirikan perpustakaan di syiraz yang menurut penilaian Al-Maqrizi berukuran sangat besar, adapun nama perpustakaan itu adalah Khizanatul Kutub[10]. Al Maqrizi menggambarkan perpustakaan tersebut berdiri disuatu komplek yang dikelilingi oleh taman, danau dan aliran air. Bangunannya diberi kubah dibagian atasnya dan memiliki ruang sebnyak 300 ruangan.

b) Ibnu sawwar, seorang laki-laki yang kalau bukan karena mendirikan Dar alilm di Basroh, namanya tidak dikenal orang. Ia membangun perpustakaan didalamnya yang besar dan disediakannya beasiswa bagi orang-orang yang datang kesana untuk belajar dan menyalin buku-buku. Ia juga membangun perpustakaan lain yang sedikit lebih kecil di ramhurmuz. Ramhurmuz merupakan suatu tempat disekitar Persia[11].

c) Yakut dalam bukunya Al-Mu’jam menjelaskan bahwa di karkar disekitar Al-Qansh terdapat sepetak tanah yang berharga kepunyaan Ali Bin Yahya. Ia membangun untuknya sebuah perpustakaan yang tersohor karena keagungannya dan ukurannya. Ali bin yahya ini yang mempunyai nama samaran Al-Munajjil yang artinya “Ahli Astronomi” adalah orang kaya yang mempunyai sebuah istana dipinggir kota Baghdad. Ditempat ini ia mendirikan sebuah perpustakaan besar yang menghususkan pada ilmu-ilmu alam, terutama astronomi. Ia membuka pintunya lebar-lebar bagi setiap orang untuk menerima kunjungan dari seluruh dunia islam dan menjamu tamu-tamu secara Cuma-Cuma kalau mereka datang untuk belajar. Adapun nama perpustakaannya adalah Khizanatul Hikmah (Gedung Hikmah).

d) Perpustakaan Khazain Al-Qusu di kairo menyimpan lebih dari 1,6 juta naskah dalam 40 ruangan yang dibangun untuk hal itu. Seluruh perpustakaan mempunyai ruangan terpisah untuk para penyalin dan penerjemah serta pustakawan. Semua perpustakaan muslim dirancang sedemikian rupa sehingga seluruh ruang perpustakaan dapat dilihat dari satu titik pusat dan dilengkapi dengan sebuah rak terbuka yang dekat dengan penyimpanan buku.

Observatorium dan lembaga informal

Observatorium juga berperan penting dalam tranmsisi keilmuan, sebab di observatorium itu sering diadakan kajian-kajian terhadap ilmu pengetahuan. Khalifah Al-Hakim pernah membangun observatorium di Dar Al-Hikmah, penguasa dinasti hamadan juga pernah membangun observatorium dengan mengangkat Ibn sina untuk mengelolanya.

Disamping itu khalifah Al-Makmun mendirikan laboraturium perbintangan dan pada tahun 828 mengangkat seorang ahli matematika yang brilian, Al-khawarizmi untuk mengarahkan studi dan penelitian diobservatorium tersebut. Setelah abad ke 10 observatori-observatori memperoleh dukungan dari para penguasa yang membangun lembaga-lembaga itu untuk penjelajahan dunia angkasa yang lebih jauh.

Pada sekitar tahun 1023 Ratu Al-Daulah di Hamadan, Persia membiayai pembangunan laboratorium bagi ibn sina[12]. Juga para penguasa pemerintahan Bani saljuq di Baghdad membangun sebuah observatori besar bagi Umar Al-khayyam dan teman-temannya dengan sebuah kepercayaan bagi mereka untuk menyusun sistem penanggalan yang lebih tepat. Hal ini mereka kerjakan pada sekitar tahun 1100.

Laboraturium yang paling terkenal dalam wilayah pemerintahan islam berdiri di kota maraghah, Persia pada tahun 1261. Anehnya pembangunannya telah dilakukan atas perintah Hulagu yang merupakan cucu raja Jengiskan dan memimpin pasukan mongol yang telah menghancurkan kota-kota penting diwilayah pemerintahan Islam di bagaian timur, termsuk baghdad. Observatori ini menyimpan perlengkapan yang paling maju untuk penelitian perbintangan yang kemudian terkenal dan ditempatkan dibawah pengaturan seorang multi disipliner besar, Al-Tusi.

Observatori itu terkenal karena ketepatan quadrantnya dengan radius 430 cm. ukuran terbesar yang dikenal pada saat itu. perlengkapan observatori itu antara lain meliputi armillary sphers, solstitial armilla, equinoctial armilla dan azimuth rings yang semuanya sangat penting untuk pemetaan perputaran benda-benda angkasa, perpustakaan yang digabungkan dengan laboratorium itu menyimpan sekitar 400.000 volume mencakup semua bidang ilmu pengetahuan.

Demikian ulasan singkat seputar lembaga informal pendidikan tinggi, semoga bermanfaat. situs: www.rangkumanmakalah.com

DAFTAR PUSTAKA

Asrohah, Hanun, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta:Logos Wacana Ilmu,1999.

Mansyur dan Mahfud Junaidi, Rekonstruksi sejarah Pendidikan di Indonesia, Jakarta: Departemen Agama RI, 2005.

Nata, Abuddin, sejarah Pendidikan Islam Pada Periode klasik pertengahan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004.

Stanton,Charles Michael,Higher Learning In Islam:The Classical Period,A.D.700-1300. (Terj) Afandi & Hasan Asari, Pendidikan Tinggi dalam Islam: sejarah dan peranannya dalam kemajuan ilmu penegetahuan. Jakarta: Logos Publising house, 1994.

Suwito, Sejarah Sosial Pendidikan Islam, Jakarta: Prenada Media, 2005.

Shalaby, Ahmad, History Of Muslim Education.Bairut:Dar Al-Kash-Shaf,1954.

Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1992.


[1] Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Logos Wacana Ilmu,1999).hlm.49

[2] Abuddin Nata, sejarah Pendidikan Islam Pada Periode klasik pertengahan (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004)., hlm.35.

[3] Ahmad Shalaby,History Of Muslim Education (Bairut:Dar al-kash-shaf,1954).hlm.31

[4]Charles michael Stanton,Higher learning in islam:The Classical periode,A.D.700-1300.(terj) Afandi & Hasan Asari, Pendidikan Tinggi dalam Islam:sejarah dan peranannya dalam kemajuan ilmu pengetahuan (Jakarta: Logos Publising house, 1994).,hlm.159.

[5]Ibid, hlm.,159.

[6] Suwito, Sejarah Sosial Pendidikan Islam (Jakarta: Prenada Media, 2005).hlm.,36.

[7]Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1992).hlm.,98.

[8]Charles Micahel Stanton, Pendidikan tinggi dalam Islam, hlm.,169.

[9] Ibid, hlm.,170.

[10]Suwito, sejarah sosial Pendidikan Islam, hlm.,42.

[11] Ibid.,hlm.43.

[12]Mansyur dan Mahfud Junaidi, Rekonstruksi sejarah Pendidikan di Indonesia (Jakarta: departemen Agama RI, 2005).hlm.,40.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *