Lompat ke konten
Home » √ Psikologi Transpersonal dalam tinjauan Ontology, Epistemologi & Aksiologi

√ Psikologi Transpersonal dalam tinjauan Ontology, Epistemologi & Aksiologi

Daftar Isi

Psikologi Transpersonal dalam tinjauan Ontology, Epistemologi dan Aksiologi – Kajian filosofis tentang psikologi transpersonal merupakan sebuah langkah untuk mengetahui bagaimana ilmu ini dapat dikembangkan dalam kebutuhan pengetahuan serta dampak yang diakibatkan dari psikologi transpersonal ini. maka dari itu sama halnya dengan mengkaji dalam aspek ontologi, epistemologi dan aksiologi. sehingga tulisan ini saya beri judul psikologi transpersonal dalam tinjauan ontologi, epistemologi dan aksiologi. untuk mengetahui lebih lanjut, maka perhatikan uraian dibawah ini

Psokologi Transpersonal

Psikologi Transpersonal dalam tinjauan Ontology, Epistemologi dan Aksiologi

Tinjauan Epistemologi psikologi transpersonal

Dalam hal ini, ontology dimaknai sebagai hal yang mendasar dari sebuah objek kajian ilmu pengetahuan. Jika objek kajian di sini adalah psikologi transpersonal maka langkah selanjutnya adalah mendeskribsikan tentang hal mendasar dari psikologi transpersonal. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya adalah psikologi tanspersonal merupakan ilmu tentang jiwa yang objek kajiannya adalah sesuatu yang mendalam yang berada di luar dirinya. Sehingga, hal-hal yang bersifat adi kodrati memiliki perhatian yang besar dalam konsentrasi kajian psikologi ini.

Dalam ranah modern saat ini Masyarakat Barat yang relatif lebih rasional, sehingga menafikan dunia dalam (batin, spiritual) manusia dalam kehidupannya. Mereka lebih melihat secara obyektif – empiris terhadap fenomena baik sosial apalagi fenomena fisis. Karenanya kebanyakan mereka tidak mau melihat fenomena meta fisis atau unrealism dan spiritual Data dan fenomena moral – etis dan transrasional – meta fisis kurang mendapat perhatian serius.

Seperti yang sudah disinggung di awal oleh penulis berkaitan dengan krisis filosofi kehidupan karena selama ini yang digunakan sebagai pandangan hidup adalah positivisme-materialisme[1] dengan gaya hidup ekonomi kapitalistik menjadikan hidup di dunia ini seolah-olah sebagai surga yang harus diperjuangkan. Siapa yang kaya dan kuat itu yang akan menjadi pemenang dalam kontes kehidupan bermasyarakat. Seperti kejadian pada era modern dewasa ini. Arus globalisasi memberikan pengaruh besar terhadap kemapanan orang-orang yang berpaham materialism.

Arus pemahaman di atas berpengaruh terhadap dunia ilmu pengetahuan di kemudian hari. Sebagai contoh ilmu psikologi muncul untuk mengkaji persoalan pengetahuan (Psiko-Kognitif) dan sikap (Psiko Humanistik). Namun pada akhirnya banyak ilmuan yang penulis anggap sadar bahwa ternyata solusi dalam problematika kehidupan tidak lantas lari ke persoalan rasionalitas (apriori) atau ke hal-hal yang konkrit (aposteriori). Namun juga harus kembali ke kodrat manusia sebagai mahluk bertuhan.

Seperti yang telah disampaikan oleh para filosof barat dan timur yang konsentrasi dalam objek kajiannya adalah persoalan dialektika antara hal yang fisik dan yang metafisik, hel yang menjadi dan hal yang ada, dan perdebatan tersebut sampai dengan saat ini. Seperti dalam pemikiran plato adalah berkenaan dengan dunia ide dan dunia bayang-bayang. Dunia ide yang dianggap sebagai dunia yang sebenarnya yang dalam sejarah selanjutnya dikembangkan oleh neo platonisme tentang panteismenya dan kemudian dikembangkan oleh para filosof islam tentang teori emanasi – pancara tuhan.[2] Kemudian dunia baying-bayang merupakan hal yang semu dan tidak dapat dijadikan sebagai landasan untuk mencari sebuah kebenaran.

Disisi lain, unsur dasar yang berada di diri manusia adalah badan jiwa dan ruh. Seperti yang telah disampaikan dalam bukunya. Bahwa ketiga nya merupakan unsur yang berada di dalam diri manusia. Sebagai analogi untuk membedakan hal tersebut adalah kita umpamakan sebagai televise, badan itu televisinya, kemudian gambar yang ada di TV itu merupakan jiwanya dan yang terakhir aliran listrik sebagai sumber -Kehidupan- TV adalah ruh nya.

Sehingga hemat penulis bahwa, untuk mencapai ketenangan dan kenyamanan hidup tidak lantas badan saja yang dipenuhi kebutuhannya melainkan juga jiwa dan ruhnya dengan cara meditasi, dzikir, yoga dan lain sebagainya. Karena pada dasarnya kegiatan tersebut menjadikan seseorang akan dekat kepada tuhan yang maha kuasa karena melakukan konsentrasi dan penghayatan diri akan keterbatasan daya hidup manusia.

Psikologi transpersonal memberikan porsi yang lebih terhadap sesuatu yang abstrak yang berada di dalam dirinya namun dengan mempercayai kekuatan besar yang berada di luar dirinya. Dengan pendekatan melalui penghayatan akan pengalaman religiusitas atau dengan istilah yang lain, irfani yaitu mengedepankan pemenuhan kebutuhan hati melalui ketenangan dan kenyamanan demi memperoleh solusi dalam problematika hidup. Baca juga: ontologi Ilmu Pengetahuan.

Tinjauan Epistemologi Psokologi Transpersonal

Psikologi transpersonal adalah nama yang diberikan kepada kekuatan yang baru timbul dalam bidang psikologi, dibentuk oleh sejumlah psikolog, ahli – ahli yang mempunyai perhatian terhadap kemampuan – kemampuan dan kesanggupan – kesanggupan tertinggi manusia yang selama ini tidak dipelajari secara sistematis oleh psikologi perilaku atau teori-teori psikoanalisis yang klasik maupun yang oleh psikologi humanistik. Psikologi transpersonal secara khusus memberikan perhatian kepada studi ilmiah yang empiris dan kepada implementasi yang bertanggung jawab dari penemuan-penemuan yang relevan bagi pengaktualisasian diri, transendensi diri, kesadaran kosmis, fenomena – fenomena transendental yang terjadi pada (atau dialami oleh) perorangan-perorangan atau sekelompok orang.[3]

Obyek psikologi pada garis besarnya hanya seputar psikofisik manusia, psikokognitif dan psikohumanistik manusia. Kecenderungan penggalian terhadap dimensi transpersonal dari pribadi yang “terdalam” dalam diri manusia kurang atau bahkan tidak mendapat porsi dalam kajian psikologi pada umumnya. Pada decade tahun 1980- an istilah EQ (Emotional Question) sangat populer. Dan pada decade Tahun 2000 muncul istilah SQ (spiritual Question) yang dikenalkan oleh Ramachandran dan Ian Marshal. Maka psikologi transpersonal sebenarnya ingin melihat potensi manusia secara utuh, menyeluruh dan menggali potensi manusia yang terdalam, salah satunya adalah Spiritual Question (SQ).[4] Penggalian dan pengembangan manusia secara utuh sebagai pribadi, dalam segala dimensi dan kompleksitasnya. Jangan hanya pertumbuhan sebagai realisasi yang terfokus pada yang simpel tentang aspek fisik/emosi atau intelektual dari pribadi dengan meninggalkan lebih banyak alam ke-dalam-an yang tak tergali, dan karenanya tak terealisasikan. [5] Di bawah ini menggambarkan sebuah pandangan multi dimensi dari kemanusiaan, sebagai pandangan manusia menurut psikologi transpersonal.

Fisik – Emosi – Intelektual – Integritas Personal – Intuisi – Psikis spiritual – Mistik – Integritas Transpersonal

Gambar 1: Tingkat kesadaran dan fungsi manusia

Dalam diagram ini : lingkaran 1 mewakili dimensi fisik dari energi manusia, lingkaran 2 emosi, lingkaran 3 intelektual, gambar 1, 2 dan 3 mewakili kekuatan mental dari manusia lingkaran 4 mewakili integrasi dari 1,2, dan 3 dalam proses fungsi harmonisasi dari tingkat pribadi. Lingkaran 5 mewakili dimensi instuisi, yang samar-samar, pengalaman cepat dari persepsi trans-sensasi, mulai datang ke kesadaran, lingkaran 6 kemudian mewakili dimensi psikis-spiritual, sebagai pengalaman individu yang jelas tentang dirinya. Yang melebihi kesadaran sensasi, dan secara serempak merealisasikan integrasi dengan lapangan energi yang lebih luas, seperti kemanusiaan. Lingkaran 7 mewakili cara pribadi merasakan pengalaman yang tertinggi, penyatuan mistik, pencerahan diri melebihi dan bergabung dengan semuanya pada tingkat tujuh yang disebutkan ada tingkat yang lebih jauh menyatukan pribadi dari segala dimensi yang dialami secara serempak. Melewati ketujuh tingkat atau lapisan yang disebutkan itu, dikatakatannya ada lagi tingkat pengembangan potensial dimana semua tingkat atau lapis dihayati secara simultan, maka terjadilah pengintregasian antara yang personal dengan yang transpersonal.

Dengan demikian spektrum / dimensi komponen kesadaran manusia tidak terbatas hanya psiko-fisik, psiko-kognitif dan psikohumanis, namun ada dimensi yang lebih dalam dari sekedar itu semua, yaitu kesadaran batin, dimensi mistis manusia dan atau lebih terkenalnya sebagai dimensi spiritual kesadaran manusia. Kemudian, Di bawah ini penulis sajikan table diskripsi tingkat kesadaran manusia.

Table 1: Deskribsi tingkat Kesadaran Manusia[6]

Fenomena Data Kebenaran Proses Penemuan Tingkat Kesadaran Bidang Filsafat Aliran Psikologi
Sensoris Sensual Empiris-fakta (indra) Eksperimen empiris Kesadaran Ontologi psiko analisis Behaviorisme
Rasional Logis Logik Verifikasi-logis (otak) Kesadaran rasional Epistimologi Psikolog kognitif
Moral Baik-buruk Etik Adat-Mores commonsense Kesadaran Etik Aksiologi Psikologi humanisme
Meta Fisis Traspersonal / Transrasional Transensden (Transpersonal) Meditasi,Yoga ESP-instuisi (Hati) Kesadaran Spiritual Psikologi Transpersonal

Table di atas menunjukkan bahwa, Psikologi Behavioristik hanya mengakui fenomena psikis manusia yang empiristik saja sifatnya. Fenomena kesadaran apalagi kesadaran spiritual adalah hal yang sangat ditentang oleh psikologi behavioristik, menjadikan manusia tak ubahnya sebagai seonggok daging yang kerjanya ditentukan oleh stimulus dari luar. Manusia oleh karenanya kehilangan elan spiritualnya, dan karenanya pula manusia sangat kering jiwanya sehingga dalam tahapan tertentu sudah kehilangan jiwa dan ruh yang selama ini mengilhami eksistensi dirinya. Psikologi Humanistik kadang terjebak pada kerja – kerja humanistic – kognitif, belum mengungkap potensi terdalam manusia.

Namun hal yang berbeda di tunjukkan pada deskribsi di atas bahwa ranah psikologi transpersonal memberikan ruang baru terhadap sesuatu yang berada di luar dirinya. Sebenarnya hal tersebut merupakan kekuatan besar dalam beberapa pendapat dijelaskan bahwa kekuatan di luar dirinya ini memberikan rasa kenyamanan dan ketenangan. Seperti yang dapat dilihat dalam fenomena metafisis di atas.

Table 2: Beberapa Metode Pengembangan Diri: Personal Dan Transpersonal[7]

JUDUL URAIAN METODE
Fisik Personal Cinta, Marah, Sedih,

Gembira, Dan lain-lain

Kesadaran sensoris,menari, diet,

olahraga, pijat, latihan, terapi polaritas,

Hatha Yoga, teknik Alexander

Emosi Intelek, Wacana Pemikiran Psikoterapi, Musik, Seni, Analisis

transaksiona, Terapi bermain,

Bioenergik, Psiko drama,gestalt dan bantuan konseling

Mental Kemampuan untuk mengisi

kehidupan luar, dunia

Riset Empiris,Rist Ilmiah, Matematiaka,

Bahasa dan Filsafat

Integritas Personal Empati, ESP, dan Imajinasi Psikoanalisis, Psikosintetis, Terapi

Eksistensi, Terapi Keputusan

Langsung, Modifikasi perilaku

Intuisi Transpersonal Empati, ESP, dan Imajinasi Imajinasi lntas, Visualisasi, Analisis

Psikologi, Petunjuk fantasi, analisis

mimpi, hipnosis diri

Psikis-spritual Gejala Parapsikologi Latihan Biofeedback, Sceintologi,

psikodeliks, meditasi langsung, Yoga, Latihan psikis, Astrologi dan Tarot

Mistik Pengalaman den Yang

Esa, Kesatuan

Menari,asketisme,sembayang,Bakti

Yoga, Meditasi ketenagan,Meditasi

dalam tindakan

Integrasi

Tranpersonal/

personal

Pengalaman Serentak dari

seluruh dimensi

Latihan Arika, Metode Gurdjeiff,

Psikologi Analisis Zen, Psikosintesis,

Yoga, sufisme, dan Budisme+

McWaters juga mengusulkan serta membahas tentang metode-metode untuk mengembangkan dimensi-dimensi yang disebutkan di atas. Pada gambar 1, tentunya hanya mewakili satu peta dari daerah yang begitu luas yang belum tergali yang ada pada diri manusia. Oleh karenanya, masih sering terjadi over acting atau malah ada yang tak disebutkan pada tabel 2 ia mencoba menghubungkan skema yang telah didiskusikan di atas dengan berbagai metode latihan yang luas pada saat ini banyak dikembangkan baik di masyarakat barat maupun di masyarakat timur.[8]

Menurutnya intuisi (jalur lingkaran 5 seseorang umpanya dapat dikembangkan melalui khayalan-khayalan yang spontan, dengan visualisasi, juga bisa dengan hipnotis diri . Demikian juga lajur lingkaran 8 bisa dikembangkan dengan metode Zen, psikosintesis, Yoga, sufisme dan budisme (lebih jelas lihat tabel 2). Makanya, terbukti bahwa: “Kecenderungan metode yang berbeda akan memberi tekanan pengembangan yang berbeda dari aspek-aspek potensial manusia.

Bagaimanapun lebih sering terjadi ketidakjelasan dalam literatur tentang metode khusus yang ditawarkan untuk mengembangkan potensi manusia dari pada petunjuk umum tentang pertumbuhan. Bagan itu terbagi atas dua kategori utama : personal dan transpersonal. Pengembangan pada level personal menunjuk pada harmonisasi dari energi-energi perluasan kesadaran dalam individu sebagai entitas yang terpisah dari alam dan lainnya : misal saya lemah, kamu kuat, saya manusia, ini pohon, saya realitas , ini bukan realitas dan sebagainya. Kebanyakan psikologi barat terfokus pada dimensi personal dari manusia bukan dimensi transpersonal.[9]

Secara epistemology dijelaskan bahwa kerangka bangunan pengetahuan dalam pembentukan psikologi transpersonal melaluli beberapa metode yang biasanya dipergunakan oleh para ahli yaitu dengan cara meditasa atau penghayatan akan keterbatasan kemampuan manusia karena sebenarnya ada kekuatan besar yang berada di luar dirinya sehingga hal ini dapat dipergunakan untuk menenagkan jiwa seseorang yang terkena stress. Dalam ranah konkrit, melakukan yoga, meditasi, duduk iktikaf di masjid dapat dijadikan salah satu cara untuk mencapai ketenangan jiwa tersebut.

Tinjauan Aksiologi Psokologi Transpersonal

Penerapan ilmu Psikologi dapat merealisasikan kedamaian di atas bumi dan dalam diri mereka sendiri. Dan bahkan bergin menyatakan bahwa ada kecenderungan yang semakin meningkat dalam bidang psikologi dan psikoterapi pada khususnya, terutama kesadaran tentang pentingnya peranan religious dalam keberhasilan suatu terapi Pada kenyataannya banyak psikoterapi Barat (termasuk psikonalisasi, dan aliran behavior) telah membuang dimensi transpersonal ke fantasi atau psikosis, yang sekarang dirasa kurang tepat dan ternyata dengan metode penyembuhan dan metode pengembangan diri yang lebih memakai transpersonal gejala-gejala yang dulu dianggap fantasi atau gejala psikosis, terpecahkan dan mempunyai aktualisasi diri yang lebih baik. Sebenarnya aliran ini sudah berkembang atau setidaknya disinggung misalnya oleh William James[10] dan tokoh-tokoh lainnya hanya karena pengaruh pengetahuan alam lintasan fenomena itu tidak mendapat porsi pembahasan yang memadai.

Dalam hasil penelitian yang dilakukan oleh William G. Brand ( Institute of Transpersonal Psychology Palo Alto CA) menjelaskan bahwa Psikologi transpersonal itu berguna untuk bisa melihat sesuatu yang dibalik pola dan pendekatan yang ada / nampak, dan untuk mengenal lawan dan pasangan dari setiap benda.[11] untuk lebih jelasnya penulias berikan beberapa kegunaan dari psikologi transpersonal, sebagai berikut:

Fungsi Psikologi Transpersonal

  1. Untuk memperoleh pemahaman gejala-gejala jiwa dan pengertian yang lebih sempurna tentang tingkah laku sesama manusia pada umumnya dan anak-anak khususnya.
  2. Untuk mengetahui perbuatan- perbuatan jiwa serta kemampuan jiwa sebagai sarana untuk mengenal tingkah laku manusia.
  3. Untuk mengetahui cara penyelenggaraan pendidikan dengan baik.
  4. Untuk mengetahui perilaku manusia sebagai upaya menyesuaikan diri dan berhubungan dengan orang lain, sehingga memudahkan memahami mengapa mereka berpikir, berperasaan dan berbuat menurut cara mereka sendiri.
  5. Dalam rangka mengatasi permasalahan social, psikologi dapat mengurai pangkal masalah, setidaknya mengurangi problem sosial.
  6. Kita bisa peka terhadap perasaan orang lain.
  7. Mampu mencapai kualitas hidup yang lebih baik.
  8. Mampu memaksimalkan potensi diri sendiri maupun orang lain dengan cara yang tepat.
  9. Hidup menjadi lebih sehat. Karena psikologi merupakan ilmu yang mempelajari jiwa tentunya tidak terpisahkan dari jasmani. Dengan bantuan cara berfikir positif maka dapat menjadikan kita lebih sehat.
  10. Dapat memperkaya gaya kepemimpinan. Tentunya dengan banyak teori yang ada dapat kita terapkan sebagai salah satu cara memimpin yang sesuai dengan situasi yang ada.

Dalam agama Islam dikenal istilah zikir sebagai suatu teknik terapi. Zikir artinya ingat hati kepada Allah (dzikrullah). Dalam konteks spiritualitas Islam, zikrullah merupakan kunci membuka hijab dari kegelapan menuju cahaya Ilahi. Dzikrullah merupakan sarana pembangkitan kesadaran diri yang tenggelam, oleh sebab itu dzikir lebih komprehensif dan umum dari berpikir. Karena dzikir melahirkan pikir serta kecerdasan jiwa yang luas, maka dzikrullah bukan hanya sekedar menyebut nama Allah di dalam lisan atau di dalam pikiran dan hati. Akan tetapi, dzikir kepada Allah ialah ingat kepada asma, zat, sifat dan af’al-Nya.

Kemudian mepasrahkan kepada-Nya hidup dan mati kita, sehingga tidak akan ada lagi rasa khawatir dan takut maupun gentar dalam menghadapi segala macam mara bahaya dan problem kehidupan. Kematian baginya merupakan pertemuan dan kembalinya roh kepada raja diraja Yang Maha Kuasa. Mustahil orang dikatakan berdzikir kepada Allah yang sangat dekat, bila ternyata hatinya masih resah dan takut, berbohong, tidak patuh terhadap perintah-Nya dan lain-lain. Konkretnya berdzikir kepada Allah adalah merasakan keberadaan Allah itu sangat dekat, sehingga mustahil kita berlaku tidak senonoh di hadapan-Nya, berbuat curang, dan tidak mengindahkan perintahnya.

Fote Note

[1] Materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi Pada dasarnya semua hal terdiri atas materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Materi adalah satu-satunya substansi. Lihat: http://id.wikipedia.org/wiki/ Materialisme, di akses (pada tanggal 01 januari 2015)

[2] Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: PT Al Ma’arif, 1962), 12

[3] Mujidin, Garis Besar Psikologi Transpersonal; Pandangan Tentang Manusia Dan Metode Penggalian Transpersonal Serta Aplikasinya Dalam Dunia Pendidikan (fakultas psikologi universitas ahmad dahlan,….), 56

[4] Jalaluddin Rahmat, “SQ: Psikologi dan Agama”, dalam Zohar, Danah & Ian Marshall, SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan, (Bandung: Mizan, 2000), 34

[5] Ibid, 56

[6] Mujidin, Garis Besar Psikologi Transpersonal; Pandangan Tentang Manusia Dan Metode Penggalian Transpersonal Serta Aplikasinya Dalam Dunia Pendidikan, …. 57-58

[7] Ibid, 58-59

[8] Ibid, 59

[9] Ibid, 60

[10] Salah satu karya William james yang penting dalam bidang psikologi agama the varienties of religious experience. Buku ini membahas tentang pengalamanya dalam kacamata pragmatisme. Pengalaman religious tentang pragmatismenya itu benar-benar sangat cerdas. Ia mengungkapkan bahwa sejauh manusia berhubungan dengan alam semesta, ia hanya berhubungan dengan simbol-simbol realitas, tetapi dalam pengalaman religious yang sangat pribadi, dirinya benar-benar dibawa masuk dalam realitas tersebut secara utuh. Lihat: Ujam Jaenudin, Psikologi Transpersonal,…….85

[11] Mujidin, Garis Besar Psikologi Transpersonal; Pandangan Tentang Manusia Dan Metode Penggalian Transpersonal Serta Aplikasinya Dalam Dunia Pendidikan, ….61


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *