Lompat ke konten
Home » √ SAINS, SOSIOLOGI DAN BUDAYA ISLAMI , Lengkap!

√ SAINS, SOSIOLOGI DAN BUDAYA ISLAMI , Lengkap!

Daftar Isi

budaya islami
budaya islami

www.rangkumanmakalah.com

A. Sains dalam Budaya Islami

Pengertian Sains

Ilmu alam (bahasa Inggris: natural science; atau ilmu pengetahuan alam) adalah istilah yang digunakan yang merujuk pada rumpun ilmu dimana obyeknya adalah benda-benda alam dengan hukum-hukum yang pasti dan umum, berlaku kapan pun dimana pun.

Sains (science) diambil dari kata latin scientia yang arti harfiahnya adalah pengetahuan. Sund dan Trowbribge merumuskan bahwa Sains merupakan kumpulan pengetahuan dan proses. Sedangkan Kuslan Stone menyebutkan bahwa Sains adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan itu. Sains merupakan produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan. “Real Science is both product and process, inseparably Joint” (Agus. S. 2003: 11). Tingkat kepastian ilmu alam relatif tinggi mengingat obyeknya yang kongkrit, karena hal ini ilmu alam lazim juga disebut ilmu pasti.

Matematika tidak dianggap sebagai ilmu alam, akan tetapi digunakan sebagai penyedia alat/perangkat dan kerangka kerja yang digunakan dalam ilmu-ilmu alam. Istilah ilmu alam juga digunakan untuk mengenali “ilmu” sebagai disiplin yang mengikuti metode ilmiah, berbeda dengan filsafat alam. Di sekolah, ilmu alam dipelajari secara umum di mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (biasa disingkat IPA).

Kedudukan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

Ilmu berkembang dengan pesat, yang pada dasarnya ilmu berkembang dari dua cabang utama yaitu filsafat alam yang kemudian menjadi rumpun ilmu-ilmu alam (the natural sciences) dan filsafat moral yang kemudian berkembang ke dalam ilmu-ilmu sosial (the social sciences). Ilmu-ilmu alam membagi menjadi dua kelompok yaitu ilmu alam (the physical sciences) dan ilmu hayat (the biological sciences) (Jujun. S. 2003). Ilmu alam ialah ilmu yang mempelajari zat yang membentuk alam semesta sedangkan ilmu hayat mempelajari makhluk hidup di dalamnya. Ilmu alam kemudian bercabang lagi menjadi fisika (mempelajari massa dan energi), kimia (mempelajari substansi zat), astronomi (mempelajari benda-benda langit dan ilmu bumi (the earth sciences) yang mempelajari bumi kita.

Sains Islam

Islam pernah mencatat pencapaian sains dan teknologi yang sangat mencengangkan. Masa keemasan itu ditandai oleh berkembangnya tradisi intelektual dan kuatnya spirit pencarian-pengembangan sains. Tapi, saat ini dunia Islam tertinggal jauh dari Barat. Data yang menyebutkan bahwa hanya sekitar 55 persen dari total umat Islam yang melek aksara sangatlah memalukan. Sungguh ironi bagi dunia Islam yang pernah menjadi raksasa sains sampai abad pertengahan.

Ketertinggalan sains-teknologi menyebabkan dunia Islam mudah ditipu dan dieksploitasi. Menurut ISESCO (Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization), 57 negara Islam yang tergabung dalam OKI (dengan 1,1 miliar penduduk dan wilayah seluas 26,6 juta kilometer) menyimpan 73 persen cadangan minyak dunia. Disebabkan problem di atas, gabungan negara-negara Islam itu hanya memiliki GNP sebesar 1,016 miliar dolar AS. Berbeda dengan Prancis (hanya penduduk 57,6 juta dan wilayah 0,552 juta kilometer) bisa memiliki GNP 1,293 miliar dolar AS.

Kemunduran Sains Islam

Sufisme sering dikambinghitamkan sebagai sebab kemunduran sains Islam. Dikatakan bahwa gerakan moral spiritual yang dipelopori kaum sufi saat itu telah mengkristal menjadi tarekat-tarekat yang kebanyakan diikuti orang awam. Popularisasi tasawuf dianggap bertanggung jawab melahirkan sufi-sufi palsu (pseudo-sufis) dan menumbuhkan irrasional di masyarakat. Tidak sedikit dari mereka yang lebih tertarik pada aspek mistik supranatural. Obsesi untuk memperoleh kesaktian dan sejenisnya telah menyuburkan berbagai bid’ah, tahyul dan khurafat. Akibatnya, perkembangan iptek disalib oleh ilmu sihir, pedukunan serta aneka pseudo-sains seperti astrologi, primbon dan perjimatan.

David Lindberg menyebutkan bahwa kemunduran sains Islam erat kaitannya dengan oposisi kaum konservatif, krisis ekonomi-politik dan keterasingan. Sains dan saintis pada masa itu sering ditentang dan disudutkan, misalnya dalam kasus pembakaran buku-buku sains dan filsafat di Cordoba. Krisis ekonomi, kekacauan politik dan keterasingan umat Islam memiliki sumbangan signifikan pada kejatuhan sains ini. Kehilangan dukungan pilar-pilar ini membuat perjalanan sains menjadi mandeg, bahkan berhenti.

Di samping faktor-faktor di atas dan faktor lainnya, kemunduran sains Islam jelas di awali dengan kehilangan spirit sains Islam itu sendiri. Para ilmuwan terkemuka zaman keemasan Islam senantiasa mengaitkan setiap aktifitas ilmiahnya dengan ajaran Islam. Mereka mendalami sains tidak semata-mata untuk menjadi saintis, tetapi menjadi hamba Allah yang menjalankan tugas kehambaannya dengan baik. Spirit seperti ini tidak hanya hilang dari saintis, tapi banyak pihak yang terkait dengan kebijakan sains, terutama pemerintah.

Agama dan Sains

Kesulitan dalam mendekati hubungan antara agama dan sains adalah bahwa uraiannya mensyaratkan agar kita mengingat dalam pikiran gagasan yang jelas tentang apa yang dimaksud dengan istilah ‘agama’ dan ‘sains’.

Suatu ketika seorang negarawan besar Inggris menasihati warga negaranya agar menggunakan map berukuran besar, sebagai pelindung terhadap ketakutan, kepanikan, dan kesalahpahaman umum tentang hubungan sejati antarbangsa-bangsa. Begitu juga dalam menangani benturan antara unsur permanen alam manusia, sebaiknya kita memetakan sejarah kita pada skala yang besar, dan menjauhkan diri kita dari tenggelam dalam konflik itu. Jika kita melakukan hal itu, kita segera mengungkap dua fakta besar. Pertama, selalu ada konflik antara agama dan sains; dan kedua, baik agama maupun sains selalu dalam kondisi perkembangan yang terus menerus.[1]

B. Sosiologi dalam Budaya Islami

Pengertian Sosiologi

Nama sosiologi pertama kali dikemukakan oleh seorang ahli filsafat Prancis bernama Auguste Comte (1798-1857). Kata sosiologi berasal dari bahasa Latin socius dan logos. Socius mengandung arti teman, sedangkan logos adalah berbicara, mengajar, ataupun ilmu. Sehingga secara etimologi, sosiologi mengandung arti ilmu tentang teman. Pengertian teman dalam hal ini mempunyai lingkup yang lebih luas daripada arti teman dalam kehidupan sehari-hari. Dalam salah satu karya Auguste Comte yang berjudul The Positive Philosophy (1830-1840), ia menyebut kata sosiologi untuk menguraikan suatu kajian tentang kehidupan sosial.[2]

Masyarakat adalah sekelompok individu yang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan memiliki budaya. Sosiologi hendak mempelajari masyarakat, perilaku masyarakat, dan perilaku sosial manusia dengan mengamati perilaku kelompok yang dibangunnya. Sebagai sebuah ilmu, sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran ilmiah dan dapat di kontrol secara kritis oleh orang lain atau umum. Kelompok tersebut mencakup keluarga, suku bangsa, negara, dan berbagai organisasi politik, ekonomi, sosial.

Penelitian Sosiologi

Dalam penelitian sosiologi, biasanya digunakan tiga bentuk metode penelitian, yaitu: deskriptif, komparatif, dan eksperimental.[3]

Metode deskritif

Suatu metode penelitian tentang dunia empiris yang terjadi pada masa sekarang. Tujuannya, untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, dan hubungan antarfenomena yang diselidiki.

Metode komparatif

Sejenis metode deskripsi yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab-akibat, dengan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya atau munculnya suatu fenomena. Jangkauan waktunya adalah masa sekarang. Jika jangkauan waktu terjadinya pada masa lampau, maka penelitian tersebut termasuk dalam metode sejarah.

Metode eksperimental

Suatu metode pengujian terhadap suatu teori yang telah mapan dengan suatu perlakuan baru. Pengujian suatu teori dari ilmuwan yang telah dibuktikan oleh beberapa kali pengujian bisa memperkuat atau memperlemah teori tersebut. Tetepi apabila teori itu ternyata dapat dibuktikan oleh suatu eksperimen baru, maka teori tersebut akan lebih menguat dan mungkin akan mencapai taraf hukum teori.

Sosiologi Pendidikan

Beberapa defenisi sosiologi pendidikan menurut beberapa ahli:

  1. Menurut F.G. Robbins, sosiologi pendidikan adalah sosiologi khusus yang tugasnya menyelidiki struktur dan dinamika proses pendidikan. Struktur mengandung pengertian teori dan filsafat pendidikan, sistem kebudayaan, struktur kepribadian dan hubungan kesemuanya dengantata sosial masyarakat. Sedangkan dinamika yakni proses sosial dan kultural, proses perkembangan kepribadian,dan hubungan kesemuanya dengan proses pendidikan.
  2. Menurut H.P. Fairchild dalam bukunya ”Dictionary of Sociology” dikatakan bahwa sosiologi pendidikan adalah sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental. Jadi ia tergolong applied sociology.
  3. Menurut Prof. DR S. Nasution,M.A., Sosiologi Pendidikana dalah ilmu yang berusaha untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk mengembangkan kepribadian individu agar lebih baik.
  4. Menurut F.G Robbins dan Brown, Sosiologi Pendidikan ialah ilmu yang membicarakan dan menjelaskan hubungan-hubungan sosial yang mempengaruhi individu untuk mendapatkan serta mengorganisasi pengalaman. Sosiologi pendidikan mempelajari kelakuan sosial serta prinsip-prinsip untuk mengontrolnya.
  5. Menurut E.G Payne, Sosiologi Pendidikan ialah studi yang komprehensif tentang segala aspek pendidikan dari segi ilmu sosiologi yang diterapkan.
  6. Menurut Drs. Ary H. Gunawan, Sosiologi Pendidikan ialah ilmu pengetahuan yang berusaha memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan analisis atau pendekatan sosiologis.

Dari beberapa defenisi di atas, dapat disimpulkan bahwa sosiologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari seluruh aspek pendidikan, baik itu struktur, dinamika, masalah-masalah pendidikan, ataupun aspek-aspek lainnya secara mendalam melalui analisis atau pendekatan sosiologis.

Hakikat dan Fungsi Sosiologi Agama

Menurut pandangan sosiolog, agama yang terwujud dalam kehidupan masyarakat adalah fakta sosial. Sosiologi agama adalah suatu cabang ilmu yang otonom, muncul setelah akhir abad ke-19. Pada prinsipnya, ilmu ini sama dengan sosiologi umum; yang membedakannya adalah objek materinya. Sosiologi umum membicarakan semua fenomena yang ada dalam masyarakat umum, sedangkan sosiologi agama membicarakan salah satu aspek dari berbagai fenomena sosial, yaitu agama dalam perwujudan sosial.[4]

Seorang ahli sosiologi agama di Indonesia, Hendropuspito, mengatakan: “Sosiologi agama ialah suatu cabang dari sosiologi umum yang mempelajari masyarakat agama secara sosiologis guna mencapai keterangan-keterangan ilmiah yang pasti demi kepentingan masyarakat agama itu sendiri dan masyarakat luas pada umumnya”.[5]

Dari definisi sosiologi agama di atas, dapat disimpulkan bahwa sosiologi agama sama dengan sosiologi pada umumnya; ia mempelajari masyarakat agama dengan pendekatan ilmu sosial, bukan teologis. Tetapi, tidak semua pernyataan dalam definisi tersebut dapat kita setujui, terutama dalam pernyataan bahwa sosiologi agama untuk kepentingan atau masyarakat umumnya.

Para ahli sosiologi agama memandang agama sebagai suatu pengertian yang luas dan universal, dari sudut pandang sosial dan bukan dari sudut pandang individual. Hal itu berarti sosiologi agama tidak melulu membicarakan suatu agama yang diteliti oleh para penganut agama tertentu, tetapi semua agama dan di semua daerah di dunia tanpa memihak dan memilah-milah.

C. Budaya Islami

Pengertian Budaya Islami

Seni budaya Islam, tentunya tidak bisa melepaskan diri begitu saja dari keberadaannya sebagai bagian dari seni budaya yang lebih luas dan umum. Dengan atribut “Islam” yang menempel dalam istilah seni budaya Islam, membuatnya kelihatan sedikit lebih eksklusif, meskipun sebenarnya hal itu juga bisa menjadi ‘beban’ dalam menuangkan segala bentuk kreatifitas seni budayanya.

Menurut Quthub, kesenian Islam tidak harus berbicara tentang Islam, dia tidak harus berupa nasehat langsung, atau anjuran berbuat kebaikan, bukan pula sekedar performance abstrak tentang akidah, tetapi seni yang Islami adalah seni yang menggambarkan suatu wujud dengan “bahasa” yang mudah serta sesuai dengan cetusan fitrah manusia.

Seni budaya Islam adalah ekspresi tentang keindahan wujud dari sisi pandang Islam tentang alam, hidup dan manusia yang mengantar menuju pertemuan sempurna antara kebenaran dan keindahan.

Mengingat lapangan seni budaya Islam itu sebenarnya sangat luas, yaitu meliputi semua wujud, maka diperlukan kecerdasan untuk menangkap sinyal-sinyal tersebut kemudian mengimplementasikannya dalam bentuk karya seni budaya yang dilandasi ketakwaan tanpa harus kehilangan kebebasan sebagai suatu proses kreatif.

Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia

Indonesia merupakan negara Muslim terbesar di seluruh dunia. Muslim di Indonesia juga dikenal dengan sifatnya yang moderat dan toleran. Sejarah awal penyebaran Islam di sejumlah daerah yang sekarang dikenal sebagai Indonesia sangatlah beragam. Penyebaran Islam di tanah Jawa sebagian besar dilakukan oleh walisongo (sembilan wali). Berikut ini adalah informasi singkat mengenai walisongo.

“Walisongo” berarti sembilan orang wali. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid.

Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan wali” ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.

Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai “tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai “paus dari Timur” hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa, yakni nuansa Hindu dan Budha.

Cara Menyikapi Akulturasi Budaya Antara Tradisi Lokal dengan Budaya Islami

Jika Anda hidup pada tahun-tahun awal setelah kedatangan Islam di Indonesia, maka Anda akan terlibat dalam proses akulturasi budaya secara langsung. Cara Menyikapi Akulturasi Budaya Antara Tradisi Lokal dengan Tradisi Islam, yaitu:

Tidak mengedepankan kekerasan

Jihad Islam merupakan jihad perdamaian, dan Islam sama sekali tidak mengajarkan bentuk kekerasan, alih-alih menyulut peperangan. Untuk menyeru pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, Islam memberikan tuntunan dengan cara:

1) Tangan atau kekuasaan. Jika Anda seorang pemimpin, maka sebaiknya pergunakan kekuasaan atau wibawa Anda.

2) Ucapan. Yakni dengan menegur, menasihati, atau memberikan hikmah kebajikan.

3) Hati. Yakni dengan mendoakan agar orang yang Anda maksudkan dapat melaksanakan kebaikan atau menjauhi kemungkaran. Hal ini merupakan selemah-lemahnya iman seorang muslim.

Memahami universalisme Islam

Selanjutnya, Anda perlu memahami betapa Islam itu memberikan nilai-nilai yang universal. Universal di sini memberikan arti bahwa Islam mengandung beberapa nilai yang memang berlaku pada segala jenis manusia, segala tempat, dan segala zaman. Oleh karena itu, wajar saja bila muncul perbedaan pendapat akibat dari usaha mengkontekstualisasikan atau menerapkan kembali nilai-nilai Islam pada masalah yang sedang terjadi.

Mempelajari makna di balik simbol-simbol

Dengan melakukan hal ini, tingkat toleransi Anda pun akan semakin melebar. Jika Anda tidak mengetahui makna dibalik simbol-simbol, khususnya pada yang berbau kejawen, maka Anda bisa serta merta menghukuminya dengan syirik atau apapun itu.

D. Rancangan Sains, Sosiologi, dan Budaya Islami

Rancangan bisa diartikan sebagai rekayasa. Sehingga apabila membahas tema rancangan sains, sosiologi, dan budaya Islami, maka kita akan disibukkan dengan cara merekayasa hubungan timbal balik antara sains, sosiologi, dan budaya Islami.

Di atas telah dibahas satu per satu yang menyangkut masing-masing sub tema. Sains yang berarti pengetahuan. Sosiologi secara etimologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang teman atau ilmu bermasyarakat. Sedangkan budaya Islami berarti ekspresi tentang keindahan wujud dari sisi pandang Islam tentang alam, hidup dan manusia yang mengantar menuju pertemuan sempurna antara kebenaran dan keindahan. Sehingga apabila dirancang atau direkayasa atau diangan-angan maka rancangan sains, sosiologi, dan budaya Islami akan menghasilkan suatu gagasan yang sangat baik bagi kehidupan sosial masyarakat.

Gagasan tersebut adalah kehidupan yang harmonis antar umat beragama di dalam masyarakat sosial yang heterogen yang mempunyai pengetahuan tentang tata cara berkehidupan sosial yang didapatnya sewaktu duduk di bangku sekolah dan mempunyai budaya masing-masing, baik dari nenek moyang (secara turun-temurun) atau dari agama masing-masing khususnya Islam, karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam yang harus dijaga bersama-sama. Sehingga tidak akan terjadi konflik internal masyarakat mengenai hal tersebut di kemudian hari.

situs: www.rangkumanmakalah.com

DAFTAR PUSTAKA

Hendropuspito. 1983. Sosiologi Agama. Yogyakarta: Kanisius

Kahmad, Dadang. 2006. Sosiologi Agama. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Rahmawati, Noviana dan Septina Damayanti. 2006. Sosiologi Xa. Klaten: Viva Pakarindo

Whitehead, Alfred North. 2005. Sains dan Dunia Modern. Bandung: Penerbit Nuansa


[1] Alfred North Whitehead, Sains dan Dunia Modern, (Bandung: Penerbit Nuansa), 2005, hal. 199

[2] Noviana Rahmawati dan Septina Damayanti, Sosiologi Xa, (Klaten: Viva Pakarindo), 2006, hal. 3

[3] Dadang Kahmad, Sosiologi Agama, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya), 2006, hal. 10

[4]Dadang Kahmad, Sosiologi Agama, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya), 2006, hal. 46

[5]Hendropuspito, Sosiologi Agama, (Yogyakarta: Kanisius), 1983, hal. 7


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *