Sebab Musabab Perang Jamal, Lengkap!

Sebab Perang jamal – Kedahsyatan Perang Jamal pada saat khalifah ali bin abi thalib memimpin pemerintahan umat islam pada saat itu. Dinamakan perang Jamal, karena dalam peristiwa tersebut, Ummul Mukminin, Aisyah ikut dalam peperangan dengan mengendarai unta. Perang ini berlangsung pada lima hari terakhir Rabi’ul Akhir tahun 36H/657M. Ikut terjunnya Aisyah memerangi Ali sebagai khalifah dipandang sebagai hal yang luar biasa, sehingga orang menghubungkan perang ini dengan Aisyah dan untanya, walaupun menurut sementara ahli sejarah peranan yang dipegang Aisyah tidak begitu dominan.

Penyebab Perang Jamal

Sebab Perang Jamal
Sebab Perang Jamal
Keterlibatan Aisyah pada perang jamal pada mulanya menuntut atas kematian Utsman bin Affan terhadap Ali, sama seperti yang dituntut Thalhah dan Zubair ketika mengangkat bai’at pada Ali. Setelah itu Aisyah pergi ke Mekkah kemudian disusul oleh Thalhah dan Zubair. Ketiga tokoh ini nampaknya mempunyai harapan tipis bahwa hukum akan ditegakkan. Karena menurut ketiganya, Ali sudah menetapkan kebijakan sendiri karena ia didukung oleh kaum perusuh. Kemudian mereka dengan dukungan dari keluarga Umayah menuntut balas atas kematian Utsman. Akhirnya mereka pergi ke Basrah untuk menghimpun kekuatan dan di sana mereka mendapat dukungan masyarakat setempat.[1]
Ali beserta pasukannya yang sudah berada di Kufah telah mendengar kabar bahwa di Syria (Syam) Muawiyah telah bersiap-siap dengan pasukannya untuk menghadapi Ali. Ali segera memimpin dan menyiapkan pasukannya untuk memerangi Mu’awiyah. Namun sebelum rencana tersebut terlaksana, tiga orang tokoh terkenal yaitu Aisyah tokoh terkenal Aisyah, Thalhah, dan Zubair beserta para pengikutnya di Basrah telah siap untuk memberontak kepada Ali. Ali pun mengalihkan pasukannya ke Basrah untuk memadamkan pemberontakan tersebut.
Kemudian Ali datang dengan balatentara yang banyak jumlahnya. Pertama-tama diusahakannnya, supaya Aisyah dan pengikut-pengikutnya mengurungkan maksud mereka. Dan kepada beberapa orang di antara mereka diperingatkan Ali akan bai’ah dan sumpah setia yang telah diberikan mereka.
Nasehat Ali termakan oleh meraka. Diadakan perundingan yang hampir berhasil, kaum muslimin akan terhindar dari bahaya perang. Tetapi pengikut-pengikut Abdullah Ibnu Saba’ lantas menjalanka royalnya. Mereka tak ingin kedua golongan mereka berdamai. Golongan ini mengakibatkan batang  leher mereka akan dipenggal. Golongan ini membulatkan tekad akan memulai pertempuran; karena jalan inilah satu-satunya yang memungkinkan melepaskan mereka dari tiang gantungan. Tanpa mendapat izin dari Ali, malah tidak setahunya, pengikut-pengikut  Abdullah bin Saba’ memancing perkelahian dan dibalas oleh pengikut-pengikut Aisyah, maka terjadilah pertempuran antara dua golongan kaum muslin, pengikut Ali dan pengikut Aisyah.[2] Baca juga: Kemajuan Pemerintaahn Ali binabi thalib.
Aisyah ikut berperang melawan Ali alasannya bukan semata menuntut balas atas kematian Utsman, akan tetapi ada semacam dendam pribadi antara dirinya dengan Ali. Dia masih teringat terhadap peristiwa tuduhan selingkuh terhadap dirinya (hadits al-ifk), dimana pada waktu itu Ali memberatkan dirinya. Faktor lain adalah persaingan dalam pemilihan jabatan khalifah dengan ayahnya, Abu Bakar, yang kemudian disusul dengan sikap Ali yang tidak segera membai’at Abu Bakar, dan yang terakhir ada faktor Abdullah bin Zubair, kemenakannya, yang berambisi untuk menjadi khalifah, yang terus mendesak dan memprovokasi Aisyah agar memberontak terhadap Ali.[3]
Seperti dikutip oleh Syalabi dari Ath-Thabari bahwa Pertempuran dalam peperangan Jamal ini terjadi amat sengitnya, sehingga Zubai melarikan diri dan dikejar oleh beberapa orang yang benci kepadanya dan menewaskannya. Begitu juga Thalhah telah terbunuh pada permulaan perang ini, sehingga perlawanan ini hanya dipimpin Aisyah hingga akhirnya ontanya dapat dibunuh maka berhentilah peperangan setelah itu. Ali tidak mengusik-usik Aisyah bahkan dia menghormatinya dan mengembalikannya ke Mekkah dengan penuh kehormatan dan kemuliaan.[4]
Menurut Thabari peperangan jamal disebabkan oleh karena kenigninan dan nafsu perseorangan yang timbul pada diri Abdullah bin Zubair dan Thalhah, dan oleh perasaan benci Aisyah terhadap Ali. Abdullah bin Zubair bernafsu besar untuk menduduki kursi khalifah dan kemudian menghasut Aisyah sebagai Ummul Mukminin untuk segera memberontak terhadap Ali bin Abi Thalib.[5]
Dalam pemerintahannya Ali ingin menerapkan aturan-aturan pokok untuk kepentingan umat Islam secara keseluruhan. Aturan ini jelas bertentangan dengan mereka yang ingin mengumpulkan kekayaaan termasuk Zubair dan Thalhah. Terlebih lagi Ali sangat berhati-hati dalam pembagian rampasan perang. Ia memberi bagian yang sama kepada semua orang tanpa memandang status, suku dan asal-usul mereka. [6] Baca juga: Kronologi perang siffin


[1] Sou’yb Jousouf, Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin, (Jakarta, Bulan Bintang, 1979), 471.
[2] A. Syalabi, Sejarah Kebudayaan Islam, 251-252.
[3] Ibid, 288-289
[4] Ibid, h.292-293
[5] Ibid, h. 296-297
[6] Asghar Ali Engineer, Asal-Usul dan Perkembangan Islam, 260-262. 

Tinggalkan komentar