KHALIFAH USMAN BIN AFFAN

khalifah usman bin affan

khalifah usman bin affan

www.rangkumanmakalah.com

A.    Latar Belakang Masalah

Nabi Muhammad SAW dalam membangun peradaban dunia kemudian di tambah dengan kegemilangan generasi para sahabat di dalam memegang tongkat kepemimpinan setelahnya merupakan sejarah yang patut di catat dengan tinta emas, Khulafaur Rasyidin adalah bukti dari suksesnya pewarisan sistem dan nilai luhur yang di bangun oleh Nabi kita Muhammad SAW. Wafatnya  Nabi SAW tidak serta merta menjadikan Islam kehilangan mercusuar peradabannya, kita sebagai seorang muslim sudah seharusnya mengetahui sejarah Nabi SAW dan sahabat – sahabat nya seperti khalifah usman bin affan. Ironisnya umat Islam pada saat sekarang ini lebih banyak mengenal figur – figur yang sebenarnya tidak pantas untuk di contoh bahkan mereka sama sekali buta akan sejarah dan kepribadian akan kehidupan Nabi Muhammad dan para sahabat – sahabatnya. Hal inilah yang menjadi latar belakang penulis menulis makalah, selain itu saya menulis makalah ini dalam rangka pembelaan terhadap perisai agama yang di perankan oleh para sahabat Rasulullah SAW, sesungguhnya diantara prinsip Ahlussunnah wal jama’ah adalah selamatnya hati dan lisan mereka terhadap para sahabat Rasulullah SAW, sebagaimana yang telah Allah sifati mereka dalam firmannya :

والدين جاءو من بعدهم يقولون ربنا اغفرلنا ولاخواننا الدين سبقونا بالايمان ولا تجعل في قلوبنا غلاللدين ءامنوا ربنا انك رءوف رحيم .

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Tuhankami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, danjanganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hatikami terhadap orang – orang yang beriman; Ya Tuhankami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.” [QS. Al-Hasyr : 10]

  1. B.     Tujuan

Sejarah yang kita selami ini adalah tapak perjalanan pribadi agung yang langsung berinteraksi dengan Rasullullah SAW. Mereka adalah orang – orang yang pertama kali merasakan manisnya hidayah. Nabi SAW bersabda tentang mereka (para sahabat) : “Sebaik-baik umatku adalah generasi yang saya diutus kepada mereka” (HR. Muslim 4 / 1963 – 1964) .Orang-orang orientalis berusaha untuk menyebarkan riwayat-riwayat yang batil yang merendahkan martabat para sahabat yang mulia dan mengotori sejarah umat Islam yang berharga. Mereka menggambarkan sejarah para sahabat itu penuh dengan perebutan kekuasaandan kepemimpinan. Oleh karenanya, wajib untuk kita berhati-hati dari setiap orientalis yang hasad, sekuler yang ingkar dan setiap yang berjalan diatas jalan mereka.Maka wajib untuk ditegakkan pembelaan terhadap sejarah kita ini dan bantahan terhadap metode para penyeleweng. Bantahan ini tentunya dengan panah-panah kebenaran yang ilmiyah yang dipenuhi dengan bukti-bukti yang jelas serta dalil-dalil yang kuat. 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Biografi Singkat khalifah Usman Bin Affan

Nama khalifah usman bin affan adalah Usman bin Affan bin Abil’Ash bin Umayyah bin Abdisy Syams bin Abdi Manaf bin Qusyai bin Kilab bin Murroh bin Ka’ab bin Luay bin Gholib. Nasab beliau bertemu dengan Rosulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam pada kakek ke lima yaitu Abdul Manaf dari jalur ayahnya. Beliau menisbatkan dirinya kepada bani Umayyah, salah satu kabilah Quraisy[1]. Beliau dilahirkan di Thoif, sebagian pendapat ada yang mengatakan di Mekah. Beliau lahir pada tahun 567 M, yakni enam tahun setelah tahun gajah, beliau lebih muda dari Rosul SAW selisih enam tahun. Ibu beliau bernama Arwa binti Kuraiz bin Robi’ah bin Hubaib bin ‘Abdi syams bin ‘Abdi Manaf . Beliau tumbuh diatas akhlak yang mulia dan perangai yang baik. Beliau sangat pemalu, bersih jiwa dan suci lisannya, sangat sopan santun, pendiam dan tidak pernah menyakiti orang lain. Beliau suka ketenangan dan tidak suka keramaian, kegaduhan, perselisihan, teriakan keras. Dan beliau rela mengorbankan nyawanya demi untuk menjauhi hal-hal tersebut. Dan karena kebaikan akhlak dan mu’amalahnya, beliau dicintai oleh Quraisy, Nama panggilannya Abu Abdullah dan diberi gelar Dzunnurrain (yang mempunyai dua cahaya). Sebab digelari Dzunnuraian karena beliau menikahi dua putri rasulullah yaitu: Roqqoyah dan Ummu Kultsum[2]. Ketika Ummu Kultsum wafat,[3] Rasulullah berkata ; Sekiranya kami punya anak perempuan yang ketiga, niscaya aku nikahkan denganmu. Dari pernikahannya dengan Ruqoyyah lahirlah anak laki-laki. Tapi tidak sampai besar anaknya meninggal ketika berumur 6 tahun pada tahun 4 Hijriah. Beliau wafat pada tahun 35 Hijriah berumur 82 tahun. Menjabat sebagai khalifah ketiga selama 12 tahun.

khalifah usman bin affan mempunyai 9 anak laki-laki yaitu Abdullah al-Akbar, Abdullah al-Ashgar, Amru, Umar, Kholid, al-Walid, Uban, Said dan Abdul Muluk dan 6 anak perempuan[4]. Utsman bin’Affan Radhiyallahu‘anhu hidup ditengah orang-orang musyrikin Quraisy yang menyembah berhala-berhala, namun beliau tidak menyukai kesyirikan, animisme dinamisme serta adat istiadat yang kotor. Beliau menjauhi segala bentuk kotoron jahiliyah yang mereka lakukan, beliau tidak pernah berzina, membunuh, ataupun meminum khamer. Perjuangannya dalam membela Islam tidak hanya dengan hartanya saja. Tapi juga raga dan nyawanya. Beliau sangat senang mengeluarkan hartanya demi kepentingan Islam. Hingga pernah mengirimkan setengah pasukan ke medan perang dengan hartanya. Pernah mendermakan 300 unta dan 50 kuda tunggangan[5]. Begitu juga mendermakan 1000 dinar yang diserahkan langsung kepada Rasulullah. Rasulullah pun berkata; “Apa yang diperbuat pada hari ini, Utsman tidak akan merugi (di akhirat)” (HR.Tirmidhi). Pada waktu orang-orang membutuhkan air untuk keperluan dirinya dan hewan ternaknya, Utsman membeli sumber mata air dari Raimah[6], seorang Yahudi, untuk diwakafkan kepada umum. Mengenai kedermawannya, Abu Hurairah berkata; “Utsman bin Affan sudah membeli surga dari Rasulullah dua kali; pertama ketika mendermakan hartanya untuk mengirimkan pasukan ke medan perang. Kedua ketika membeli sumber air (dari Raimah)” (HR.Tirmidhi).

khalifah usman bin affan termasuk 10 orang yang dikabarkan akan masuk surga. Dalam menjalani hidupnya, beliau sangat takut dengan azab dan siksa Allah. Hingga suatu ketika berkata; Sekiranya diriku berada di antara surga dan neraka dan saya tidak tahu mana diantara dua itu saya akan masuk, niscaya saya akan pilih menjadi abu sebelum aku tahu ke mana saya dimasukkan. Rasulullah pernah mengkabarkan bahwa dirinya termasuk ahli surga karena sabar dan tawakal menghadapi cobaan dan derita dari Allah. Begitu fitnah yang menimpa dirinya hingga akhirnya terbunuh secara kejam dan dholim. Pada waktu perang Uhud, beliau berdiri bersama Rasulullah, Abu Bakar dan Umar. Tiba-tiba gunung itu bergetar, kemudian Rasulullah berkata; Mohon jangan lari, tetap berada di Uhud. Jangan takut, kamu bersama nabi, Abu Bakar dan dua orang syahid (HR.Bukhori).

B.     khalifah Usman bin Affan ketika di Makkah

Ketika Allah memerintahkan Rasul SAW untuk berdakwah di jalan Allah, dan Abu Bakar sudah masuk Islam, beliau pun pergi mendatangi Utsman  mengajaknya masuk Islam. khalifah usman bin affan pun seketika itu langsung menerima ajakan untuk masuk Islam dan beliau mengucapkan dua kalimat syahadat. Hal ini dikarenakan, agama ini mengajak kepada tauhid, membasmi kesyirikan, didalamnya terdapat seruan untuk berakhlak yang mulia dan berperangai yang baik. Utsman akhirnya beriman kepada agama yang lurus ini dan beriman kepada Rasul-Nya SAW, karena beliau mengenal betul kejujuran, amanah, dan kemuliaan akhlak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Beliaupun menjadi orang-orang yang pertama masuk Islam. Akan tetapi, kaum beliau tidak membiarkan begitu saja, bahkan mereka menyakiti dan menyiksa beliau bersama orang-orang beriman lainnya. Orang orang Quraisy mengancam dan menguji (kekuatan) agama mereka, untuk mengembalikan mereka dari menyembah Allah kepada penyembahan berhal-berhala. Ketika bertambah penyiksaan, penganiayaan dan gangguan mereka serta usaha mereka untuk menghalangi mereka dari Islam, maka mereka pun hijrah ke negeri Habasyah (Ethopia).[7] Dan diantara pelopor hijrah tersebut adalah Utsman bin’Affan Radhiyallahu ‘anhu dan istri beliau yaitu Ruqayyah Radhiyallahu ‘anha binti Nabi MuhammadShallallahu ‘alaihi wa Sallam. Beliaupun terhitung sebagai orang pertama yang berhijrah dari umat Islam ini. Al quran telah mengkisahkan hal tersebut pada surat An – Nahl. Allah SWT berfirman :

والدين هاجروا من بعد ما ظلموا لنبوئنهم في الدنيا حسنة ولأجر الأخرة أكبر لو كانوا يعلمون .

“Dan orang – orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui “.” [QS. An – Nahl : 41] 

khalifah usman bin affan hijrah dan meninggalkan negeri serta keluarganya demi berpegang dengan agama dan aqidahnya. Hal ini menunjukkan akan kuatnya keimanan, keyakinan dan keterikatan beliau dengan Allah SWT serta hari akhir. Beliau rela hidup dalam keterasingan, kehilangan mata pencaharian (perdagangan), kedudukan ditengah masyarakat serta kewibawaan. Beliau pindah kenegri orang lain demi Allah dan dijalan Allah, bukan untuk berdagang dan mendapatkan keuntungan materi, namun semuanya untuk perdagangan akhirat serta meraih surga dan diselamatkan dari api neraka. Kemudian ketika tersebar berita akan Islamnya penduduk Mekkah dan sampai berita ini kepada mereka di Habasyah, mereka pun kembali hingga ketika telah mendekat ke kota Mekkah, mereka akhirnya sadar bahwa berita tersebut tidaklah benar. Tapi, mereka tetap masuk kota Mekkah dengan jaminan keamanan dari sebagian penduduk Mekkah. Diantara yang kembali tersebut adalah Utsman bin Affan dan istri beliau Ruqayyah Radhiyallahu ‘anha. Utsman kembali menetap di Mekkah dan kembali mendapatkan gangguan dan penganiayaan dari orang-orang Mekkah. Tapi hal tersebut tidak membuatnya lari dari agamanya, hingga Nabi SAW berhijrah ke kota Madinah bersama para sahabatnya dan beliau pun ikut serta berhijrah. Usman termasuk orang yang berhijrah dua kali. Hal ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya[8].

C.    khalifah Usman bin Affan ketika di Madinah

khalifah usman bin affan kembali menetap di Mekkah dan kembali mendapatkan gangguan dan penganiayaan dari orang-orang Mekkah. Tapi hal tersebut tidak membuatnya lari dari agamanya, hingga Nabi SAW berhijrah ke kota Madinah bersama para sahabatnya dan beliau pun ikut serta berhijrah. Di kota Madinah mereka di sambut baik oleh penduduknya. Rosul SAW mempersaudarakan mereka dengan kaum Anshor yang mana sahabat utsman mendapat bagian dengan Aus bin Tsabit, Rosul SAW sebelum shulhul hudaibyyah mengutus beliau ke Makkah, kemudian datang kabar atas terbunuhnya beliau oleh penduduk Makkah, pada saat itu Rosul SAW meminta para sahabat untuk berbai’at yang di kenal dengan Ba’iatur Ridwan ,Rosul SAW juga membangun masjid quba’, dan beliaulah yang pertama kali melakukan perluasan masjid tersebut karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima ( haji ).

D.    Awal kekholifahan Usman bin Affan

khalifah usman bin affan menjabat kholifah setelah wafatnya sahabat Umar RA bulan Muharrom tahun 24 H ketika itu sahabat Umar RA berusia 68 menurut hitungan masehi atau 70 menurut hitungan hijriyyah[9]. Awal masa kekhalifahan Utsman dilakukan dengan majelis syuro, atas usulan Umar yang pada mulanya ia ragu, namun setelah di fikir matang-matang, bahwa kalau dibiarkan begitu saja keadaan akan kacau. Oleh karena itu, umar membentuk majelis syura, menjelang wafat Umar bin Khattab berpesan selama tiga hari, imam masjid hendaknya diserahkan pada Suhaib al-Rumi. Namun pada hari keempat hendaknya telah dipilih seorang pemimpin penggantinya. Umar memberikan enam nama. Mereka adalah Ali bin Abu Thalib, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqas, Abdurrahman bin Auf dan Thalhah bin Ubaidillah. Keenam orang itu berkumpul. Abdurrahman bin Auf memulai pembicaraan dengan mengatakan siapa diantara mereka yang bersedia mengundurkan diri. Ia lalu menyatakan dirinya mundur dari pencalonan. Tiga orang lainnya menyusul. Tinggallah Utsman, dan Ali, maka Abdurrahman ditunjuk menjadi penentu. Ia lalu menemui banyak orang meminta pendapat mereka. Namun pendapat masyarakat pun terbelah. Imar anak Yasir mengusulkan Ali. Begitu pula Mikdad. Sedangkan Abdullah bin Abu Sarah berkampanye keras untuk Utsman. Abdullah dulu masuk Islam, lalu balik menjadi kafir kembali sehingga dijatuhi hukuman mati oleh Rasul. Atas jaminan Utsman hukuman tersebut tidak dilaksanakan. Abdullah dan Utsman adalah “saudara susu”. Disebutkan bahwa, sebagian besar warga memang cenderung memilih Utsman. Saat itu, kehidupan ekonomi Madinah sangat baik. Abdurrahman -yang juga sangat kaya– pun memutuskan Ustman sebagai khalifah. Abdurrahman adalah ipar Ustman. Mereka sama-sama keluarga Umayah. Pada saat diangkat, ia telah berusia 70 tahun.

E.  Prestasi-prestasi Yang Pernah diraih Pada Masa khalifah usman bin affan

Masa kekhalifahan Usman bin Affan merupakan masa yang paling makmur dan sejahtera. Ada yang menyebutkan dalam ceritanya sampai rakyatnya melakuakan haji berkali-kali. Bahkan seorang budak dijual sesuai berdasarkan berat timbangannya. Beliau adalah khalifah yang pertama kali melakukan perluasan masjid al-Haram (Mekkah) dan masjid Nabawi (Madinah) karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima (haji). Beliau mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya, membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan mengadili perkara. Hal ini belum pernah dilakukan oleh khalifah sebelumnya. Abu Bakar dan Umar bin Khotthob biasanya mengadili suatu perkara di masjid. Pada masa Utsman khutbah Idul fitri dan idul adha didahulukan sebelum sholat. Begitu juga adzhan pertama pada sholat Jum’at. Beliau memerintahkan umat Islam pada waktu itu untuk menghidupkan kembali tanah-tanah yang kosong untuk kepentingan pertanian. Pada masa Utsman juga, kekuatan Islam melebarkan ekspansi. Untuk pertama kalinya, Islam mempunnyai armada laut yang tangguh. Muawiyah bin Abu Sofyan yang menguasai wilayah Syria, Palestina dan Libanon membangun armada itu. Sekitar 1.700 kapal dipakai untuk mengembangkan wilayah ke pulau-pulau di Laut Tengah. 

Adapun prestasi yang diperoleh selama beliau menjadi Khalifah antara lain bagai berikut[10]:

  1. Perluasan wilayah Islam

Perlu diketahui bahwa setelah Kholifah Umar RA wafat ada beberapa daerah yang membelot terhadap pemerintahan Islam. Sebagaimana yang di lakukan oleh Yazdigard yang berusaha menghasut kembali masyarakat Persia agar melakukan perlawanan terhadap penguasa Islam, akan tetapi pemerintah Islam berhasil memusnahkan gerakan pemberontakan sekaligus melanjutkan perluasan ke negeri – negeri Persi lainnya, sehingga beberapa kota besar seperti Hisrof, Kabul, Turkistan jatuh pada kekuasaan Islam. Juga terdapat daerah lain yang membelot dari pemerintahan Islam, seperti Khurosan dan Iskandaria, adapun Iskandaria bermula dari kedatangan kaisar Konstan II dari Roma Timur atau Bizantium yang menyerang Iskandaria dengan mendadak, sehingga pasukan Islam tidak dapat menguasai serangan . Panglima Abdullah bin Abi Sarroh yang menjadi wali di daerah tersebut meminta pada kholifah Utsman untuk mengangkat kembali panglima ‘Amru bin ‘ash yang telah di berhentikan untuk menangani masalah di Iskandaria. Dan permohonan tersebut di kabulkan, selain itu ,kholifah Utsman bin ‘Affan juga mengutus Salman Robi’ah Al – Baini untuk berdakwah ke Armenia. Ia berhasil mengajak kerjasama penduduk Armenia. Perluasan Islam memasuki Tunisia ( Afrika Utara ) di pimpin oleh Abdullah bin Sa’ad bin Abi Zarrah, yang mana Tunisia sudah lama sebelumnya di kuasai Romawi. Tidak hanya itu saja pada saat Syiria bergubernurkan Mu’awiyah, ia berhasil menguasai Asia kecil dan Cyprus. Dimasa pemerintahan Utsman, negeri – negeri yang telah masuk ke dalam kekuasaan Islam antara lain : Barqoh, Tripoli Barat, bagian selatan negeri Nubah, Armenia dan beberapa bagian Thabaristan bahkan telah melampui sungai Jihun ( Amu Daria ), negeri Balkh ( Baktaria ) Hara, Kabul, Gaznah di Turkistan.

  1. Pembentukan Armada laut Islam

Pembangunan angkatan laut bermula dari adanya rencana khalifah usman bin affan untuk mengirim pasukan ke Afrika, Mesir, Cyprus. Untuk sampai ke daerah tersebut harus melalui lautan. Pada saat itu, Muawiyah, gubernur di Syiria harus menghadapi serangan angkatan laut Romawi di daerah pesisir provinsinya. Untuk itu, ia mengajukan permohonan kepada khalifah Utsman untuk membangun angkatan laut dan di kabulkan oleh kholifah. Itulah pembangunan armada yang pertama dalam sejarah Dunia Islam. Selain itu, keberangkatan pasukan ke Cyprus yang melalui lautan, juga ummat Islam agar membangun armada angkatan laut. Pada saat itu pasukan di pimpin oleh Abdullah bin Qusay Al – Harisi yang di tunjuk sebagai Amirul Bahr atau panglima angkatan laut. Di samping itu, serangan yang di lakukan oleh bangsa Romawi ke Mesir melalui laut, juga memaksa ummat Islam agar segera mendirikan angkatan laut. Bahkan pada tahun 646 M, bangsa Romawi telah menduduki Alexandria dengan penyerangan dari laut. Atas perintah kholifah ‘Utsman, Amr bin Ash dapat mengalahkan bala tentara bangsa Romawi dengan armada laut yang besar pada tahun 651 M di Mesir.

  1. Kodifikasi al – Qur’an

Pemerintahan Islam semakin meluas, beberapa negara telah di taklukkan dan para Qori’ pun tersebar di berbagai daerah, sehingga perbedaan bacaan pun terjadi yang di akibatkan berbedanya qiro’at dari qori’ yang sampai pada mereka. Sebagian kaum muslimin tidak mempermasalahkan perbedaan tersebut, karena perbedaan – perbedaan tersebut di sandarkan pada Rasul SAW. Sebagian yang lain khawatir akan menimbulkan keraguan pada generasi berikutnya yang tidak langsung bertemu Rasul SAW. Ketika terjadi peperangan di Armenia dan Azarbaijan dengan penduduk Irak, Hudzaifah melihat banyak perbedaan dalam bacaan al – Qur’an. Melihat hal tersebut beliau melaporkannya kepada kholifah Utsman. Para sahabat khawatir kalau perbedaan tersebut akan membawa perpecahan pada kaum muslimin. Mereka sepakat menyalin lembaran pertama yang telah di lakukan oleh kholifah Abu Bakar yang di simpan oleh istri Rosul SAW, sayyidah Hafshoh RA. Dan menyatukan umat Islam dengan satu bacaan. Selanjutnya Kholifah ‘Utsman mengirim surat pada Sayyidah Hafsoh agar mengirimkan lembaran – lembaran yang bertuliskan al – Qur’an, kemudian Sayyidah Hafshoh mengirimkannya kepada kholifah Utsma. Kholifah ‘Utsman memerintahkan para sahabat antara lain ; Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair,  Sa’ad bin Al – ‘Ash, dan Abdurrohman bin Harits bin Hisyam,untuk menyalin mushaf . Kholifah ‘Utsman berpesan bila anda berbeda pendapat tentang hal al – Qur’an maka tulislah dengan ucapan lisan Quraisy karena al – Qur’an diturunkan di Quraisy. Setelah mereka menyalin ke dalam beberapa mushaf , kholifah ‘Utsman mengembalikan lembaran mushaf asli kepada Sayyidah Hafshoh.Selanjutnya ia menyebarkan mushaf yang telah di salinnya ke seluruh daerah dan memerintahkan agar semua bentuk lembaran mushaf yang lain di bakar. Mushaf ditulis sebanyak lima buah, empat buah di kirimkan ke daerah – daerah Islam supaya di salin kembali , satu buah di simpan di Madinah untuk Kholifah ‘Utsman sendiri dan mushaf ini di sebut mushaf al – Imam atau mushaf ‘Utsmani.

Dengan demikian dapat di simpulkan bahwa motif pengumpulan mushaf oleh Kholifah Abu Bakar dan khalifah usman bin affan berbeda. Pengumpulan mushaf yang di lakukan oleh Kholifah Abu Bakar dikarenakan danya kekhawatiran akan hilangnya al – Qur’an karena banyak huffadz yang meninggal pada peperangan, sedangkan motif pengumpulan mushaf oleh Kholifah ‘Utsman dikarenakan banyaknya perbedaan bacaan yang di khawatirkan timbulnya perpecahan. 

F.     Sebab-sebab Berakhirnya kekhalifahan Usman bin Affan RA.[11]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengetahui akan terjadinya fitnah di masa pemerintahan kholifah ‘Utsman RA – dengan kabar dari Allah SWT kepada beliau – dan karena kecintaan beliau kepada Utsman Radhiyallahu ‘anhu serta antusias beliau untuk memberikan kemaslahatan bagi umat ini setelah beliau, beliaupun mendo’akan Utsman dan mengabarkan kepadanya dengan hal-hal yang berkaitan dengan fitnah ini yang berakhir dengan terbunuhnya beliau. Dan Nabi SAW bersemangat untuk merahasiakan kabar ini, hingga hal tersebut tidak sampai kepada kita melainkan apa yang telah dikatakan oleh Utsman Radhiyallahu ‘anhu ketika terjadi fitnah, ketika dikatakan kepadanya : Mengapa engkau tidak memerangi? Beliau mengatakan : Tidak, sesungguhnya Rasulullah SAW telah mengambil sumpah dariku dan sesungguhnya aku bersabar atas hal ini.[12] 

Pada mulanya pemerintahan khalifah usman bin affan berjalan lancar. Hanya saja seorang Gubernur Kufah, yang bernama Mughirah bin Syu’bah dipecat oleh Khalifah Utsman dan diganti oleh Sa’ad bin Abi Waqas, atas dasar wasiat khalifah Umar bin Khatab. Kemudian beliau memecat pula sebagian pejabat tinggi dan pembesar yang kurang baik, untuk mempermudah pengaturan, lowongan kursi para pejabat dan pembesar itu diisi dan diganti dengan famili-famili beliau yang kredibel (mempunyai kemampuan) dalam bidang tersebut. Adapun pejabat – pejabat yang di angkat kholifah ‘utsman antara lain :

  1. Abdullah bin   Sa’ad ( saudara susuan kholifah ‘Utsman RA) sebagai wali Mesir menggantikan Amru bin ‘Ash .
  2. Abdullah bin Amir bin Khuraiz sebagai wali Bashroh menggantikan Abu Musa al – Asy’ari.
  3. Walid bin ‘Uqbah bin Muis ( saudara susuan kholifah ‘Utsman RA ) sebagai wali Kufah menggantikan Sa’ad bin Abi Waqos.
  4. Marwan bin Hakam ( keluarga kholifah ‘utsman ) sebagai sekretaris  kholifah ‘Utsman. 

Tindakan khalifah usman bin affan yang terkesan nepotisme ini merupakan salah satu kekurangan kekhalifahan pada masa Utsman Bin Affan RA dan mengundang protes dari orang-orang yang dipecat, walaupun tuduhan tersebut tidaklah beralasan karena pribadi kholifah ‘Utsman RA bersih. Pengangkatan kerabat oleh kholifah ‘Utsman bukan tanpa pertimbangan. Hal ini di tunjukkan oleh jasa yang di buat oleh Abdullah bin Sa’ad dalam melawan Romawi di Afrika Utara dan juga keberhasilannya dalam mendirikan angkatan laut. maka datanglah gerombolan yang dipimpim oleh Abdulah bin Saba’ yang menuntut agar pejabat-pejabat dan para pembesar yang diangkat oleh Khalifah Utsman ini dipecat pula. Usulan-usulan Abdullah bin Saba’ ini ditolak oleh khalifah Utsman. Posisi-posisi penting diserahkan Kholifah Utsman pada keluarganya Bani Umayyah. Yang paling kontroversial adalah pengangkatan Marwan bin Hakam sebagai sekretaris negara. Banyak yang curiga, Marwan-lah yang sebenarnya memegang kendali kekuasaan di masa Ustman.

Di masa itu, posisi Muawiyah anak Abu Sofyan mulai menjulang menyingkirkan nama besar seperti Khalid bin Walid. Amr bin Ash yang sukses menjadi Gubernur Mesir, diberhentikan dan diganti dengan Abdullah bin Abu Sarah keluarga yang paling aktif berkampanye untuk kholifah Ustman dulu. Kholifah Usman minta bantuan Amr kembali begitu Abdullah menghadapi kesulitan. Kholifah Ustman mengangkat saudaranya seibu, Walid bin Ukbah menggantikan tokoh besar Saad bin Abi Waqas. Namun Walid tak mampu menjalankan pemerintahan secara baik. Ketidakpuasan menjalar ke seluruh masyarakat.

 Pada masa kekhalifahan Usman bin Affan-lah aliran Syiah lahir dan Abdullah Bin Sab’ disebut sebagai pencetus aliran Syi‟ah tersebut. Karena merasa sakit hati, Abdullah bin Saba’ kemudian membuat propoganda yang hebat dalam bentuk semboyan anti Bani Umayah, termasuk Utsman bin Affan. Seterusnya penduduk setempat banyak yang termakan hasutan Abdullah bin Saba’. Sebagai akibatnya, datanglah sejumlah besar (ribuan) penduduk daerah ke madinah yang menuntut kepada Khalifah Utsman, tuntutan dari banyak daerah ini tidak dikabulkan oleh khalifah, kecuali tuntutan dari Mesir, yaitu agar Utsman memecat Gubernur Mesir, Abdullah bin Abi Sarah, dan menggantinya dengan Muhammad bin Abi Bakar Karena tuntutan orang mesir itu telah dikabulkan oleh khalifah, maka mereka kembali ke mesir, tetapi sebelum mereka kembali ke mesir, mereka bertemu dengan seseorang yang ternyata diketahui membawa surat yang mengatasnamakan Utsman bin Affan. Isinya adalah perintah agar Gubernur Mesir yang lama yaitu Abdulah bin Abi sarah membunuh Gubernur Muhammad Abi Bakar (Gubernur baru) Karena itu, mereka kembali lagi ke madinah untuk meminta tekad akan membunuh Khalifah karena merasa dipermainkan. Setelah surat diperiksa, terungkap bahwa yang membuat surat itu adalah Marwan bin Hakam. Tetapi mereka melakukan pengepungan terhadap khalifah dan menuntut dua hal :

1. Supaya Marwan bin Hakam di qishas (hukuman bunuh karena membunuh orang).

2. Supaya Khalifah Utsman meletakan jabatan sebagai Khalifah.

          khalifah usman bin affan tidak mengabulkan permohonannya dengan alasan karena Marwan baru berencana membunuh dan belum benar-benar membunuh. Sedangkan tuntutan kedua, beliau berpegang pada pesan Rasullulah SAW; “Bahwasanya engkau Utsman akan mengenakan baju kebesaran. Apabila engkau telah mengenakan baju itu, janganlah engkau lepaskan”. Setelah mengetahui bahwa khalifah Utsman tidak mau mengabulkan tuntutan mereka, maka mereka melanjutkan pengepungan atas beliau sampai empat puluh hari. Ketika Utsman Radhiyallahu ‘anhu melihat bahwa ajakan untuk berdamai dengan mereka tidak berhasil, bahkan pengepungan mereka terhadapnya semakin menjadi-jadi, beliaupun bermusyawarah dengan Abdullah bin Salam. Abdullah bin Salam pun memberikan isyarat agar beliau menahan diri dari memerangi mereka, agar hal tersebut semakin bisa menjadi hujjah bagi beliau di sisi Allah kelak. Abdullah bin Salam berkata kepada beliau : “Tahan dan tahanlah, karena hal itu akan menjadi hujjah bagimu[13]“. Situasi dari hari kehari semakin memburuk. Rumah beliau dijaga ketat oleh sahabat-sahabat beliau, Ali bin Thalib, Zubair bin Awwam, Muhammad bin Thalhah, Hasan dan Husein bin Ali bin Abu Thalib. Karena kelembutan dan kasih sayangnya, beliau menanggapi pengepung-pengepung itu dengan sabar dan tutur kata yang santun. Hingga suatu hari, tanpa diketahui oleh pengawal-pengawal rumah beliau, masuklah kepala gerombolan yaitu Muhammad bin Abu Bakar (Gubernur Mesir yang Baru) dan membunuh Utsman bin Affan yang sedang membaca al-Qur‟an. Dalam riwayat lain, disebutkan yang membunuh adalah Aswadan bin Hamrab dari Tujib, Mesir. Riwayat lain menyebutkan pembunuhnya adalah al Ghafiki dan Sudan bin Hamran. Beliau wafat pada bulan haji tahun 35 H. dalam usia 82 tahun setelah menjabat sebagai Khalifah selama 12 tahun. 

G.    Akibat buruk pasca terbunuhnya Utsman

Sungguh tragedi pembunuhan terhadap khalifah usman bin affan merupakan sebab terjadinya banyak fitnah. Tragedi tersebut merupakan awal munculnya fitnah ditengah umat ini, hingga berubahlah hati-hati manusia, nampak kedustaan dimana-mana, mulainya penyimpangan dari Islam baik dalam aqidah, dan syariat. Sungguh pembunuhan terhadap Utsman merupakan sebab utama terjadinya banyak fitnah dan karenanya umat ini terpecah belah hingga hari ini.[14] Dari Abu Utsman An-Nahdhi bahwasanya Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu berkata :“Seandainya pembunuhan terhadap Utsman itu benar maka umat ini akan memeras susu, akan tetapi hal itu adalah kesesatan, oleh karena itu umat Islam memeras darah”[15] Ibnu Asaakir meriwayatkan dengan sanad kepada Samurah bin Jundub Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata : “Sesungguhnya Islam dahulu dalam benteng yang kokoh, akan tetapi mereka melubangi benteng Islam tersebut dengan pembunuhan terhadap Utsman. Mereka menggoreskan goresan dan tidak dapat menutupnya kembali sampai hari kiamat. Dan penduduk Madinah dahulu memiliki kekhalifahan, tapi mereka mengeluarkannya, dan tidak akan mungkin kembali lagi kepada mereka[16]

BAB III

PENUTUP

Nabi SAW bersabda : “Janganlah kalian mencaci para sahabatku. Demi jiwaku yang ada ditangan-Nya, seandainya seseorang diantara kalian menginfakkan satu gunung Uhud emas, hal itu tidak sebanding dengan satu mud atau bahkan setengah mud mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim) Khalifah Utsman adalah orang yang berhati mulia, sabar dan dermawan terutama untuk kepentingan jihad Islam. Usaha khalifah Utsman dalam meluaskan wilayah Islam sangatlah banyak, diantaranya merebut daerah Iskandaria dan Khurosan sehingga muncullah suatu usaha untuk membuat armada laut. Hal lain yang berhasil di lakukan oleh kholifah Utsman bin Affan dan sangat bermanfaat bagi umat Islam sepanjang masa adalah menyusun mushaf al – Qur’an yang di kumpulkannya dari istri Rosul SAW sayyidah Hafshoh RA . Yang kemudian mengirimkannya agar di perbanyak ke berbagai daerah otonomnya. Kepemimpinan khalifah usman bin affan sangat produktif. Banyak hal yang telah dicapai dengan gemilang dengan usia beliau RA yang sudah tua yakni 70 tahun diawal menjabat hingga 82 tahun ketika beliau wafat. Betapa usia tak menyurutkan niat beliau untuk mengabdi demi  tegaknya bendera Islam. Allah SWT berfirman :”Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang – orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku` dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat – sifat mereka dalam Taurat dan sifat – sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya,  tanaman itu menyenangkan hati penanam – penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yangberiman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” [QS. Al-Fath: 29] .Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda tentang mereka (para sahabat) : “Sebaik-baik umatku adalah generasi yang saya diutus kepada mereka” (Imam Muslim Bin Hajjaj, Shohih Muslim, ( Dar Thoyyibah, 2008 ) 4/1963-1964) 

 

*situs: www.rangkumanmakalah.com

. Daftar Pustaka

  1. Al – Qur’an Al karim.
  2. Amin. al – Khulafaurrosyidin, A’mal wa Ahdats, Dar Furqon 2004 M.
  3. Hitti, Philip K. Makers of Arab History, London: 1968.
  4. Hakim, Moh Nur. .sejarah peradaban Islam. Jakarta :  2004.
  5. Ibnu Hajar al – ‘Askolani . Fathul Bari, Bairut : Dar al Ma’rifah 1379 H.
  6. Ibnu Sa’ad . Attobaqot Al – Kubro, Maktabah al Khonji, 2008.
  7. Jalaluddin Suyuthi. Tarikh Khulafa’, Http./// Islam House. Com 2013.
  8. Lapidus, History of Islamic Societies. New York : Cambridge University Press, 1988.
  9. Mufrodi, Ali. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Jakarta : Logos,1997.
  10. Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2008.
  11. Sami bin Abdillah al – Malghuts. Ahammul Ahdats at Tarikhiyyah fi ‘ahdi al – Khulafaurrosyidin, Riyad : Obekan, 1426           H.
  12. Sami bin Abdillah al – Malghuts. Atlas at Tarikh Li siroh ar – Rosul, Riyad : Malik Fahd Al wathoniyyah, 1426 H.
  13. Shodiq Ibrohim. Utsman bin Affan, Dar Sa’udiyyah,1981 M.
  14. Syalabi, A., Sejarah dan kebudayaan Islam, Jakarta :PT. Pustaka Al – Husna, 2003.
  15. Yatim, Badri.Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : Grafindo Persada 2002.

 


[1] Jalaluddin al-Suyuthi, Tarikh al-Khulafa’, (Dar al-Fikr) 138.

[2] Ruqoyyah adalah putri Rosul SAW, ibunya bernama Khodijah binti Khuwailid, Rosul SAW sebelumnya telah menikahkannya dengan ‘Utbah bin Abi Lahab, dan menikahkan saudarinya dengan ‘Utaibah bin Abi Lahab, ketika turun surat Al – Masad, Abu Lahab dan istrinya Ummu Jamil menyuruh menceraikannya, kemudian keduanya menceraikannya sebelum dukhul , kemudian sahabat Utsman menikahinya. Lihat: Sami bin Abdillah bin Ahmad, Silsilah Atlas Tarikh Khulafaurosyidin, ( Maktabah Obekan, 2006 ) 13.

[3] Sayyidah Ruqoyyah wafat di bulan Romadlon tahun 2 H bertepatan dengan tahun perang badar, sedangkan sayyidah Ummu kultsum wafat di bulan sya’ban tahun 9 H. Ibid, 14.

[4] Ibid, 13.

[5] Muhammad Yusuf, Hayat al-Shohabah, (Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah) 131-132.

[6] Abu Ja’far, Tarikh at – Thabari, ( kairo: Dar al – Ma’arif, 1973 ) Jil. IV , 124.

[7] Ketika itu mereka yang berhijrah berjumlah 12 laki – laki, 4 wanita. Diantara sahabat yang ikut hijrah bersamanya  adalah Zubair, Abdurrohman Bin ‘Auf, Ibnu Mas’ud, Abu salamah dan istrinya. Mereka hijrah di bulan rajab, dan tinggal di Ethopia bulan sya’ban dan romadlon,kemudian kembali ke Makkah di bulan Syawwal. Lihat: Sami bin Abdillah bin Ahmad, Silsilah Atlas Tarikh Khulafaurosyidin, ( Maktabah Obekan, 2006 ) 20.

[8]  Ahmad Bin ‘Ali Bin Hajar Abu al Fadlol al ‘Asqolani, Fathul Bari, (Dar al Ma’rifah Bairut, 1379 H )  7/363.

[9] Philip K Hitti, History Of The Arabs ( Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2010), 230

[10] Ibid, 135

[11] Abu Ja’far, Tarikh at – Thobari ( Kairo: Dar al – Ma’arif, 1973), Jil. IV, 130

[12] HR. Ahmad

[13] HR.Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 15/203, Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqaat 3/71 dan sanadnya hasan.

[14] Muhammad Amahzun, Tahqiq Mawaqifish shahabah fil fitnah ( Dar as – Salam, 2010 M) 1/483

[15]Ibid,  2/31.

[16] Ibid, 32..

Share This:

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *