Kajian Kritis Aliran Filsafat Pendidikan Perenialisme, Lengkap!

adsense-fallback

Aliran Filsafat Pendidikan Perenialisme

Pengertian Perenialisme

Aliran Filsafat Pendidikan Perenialisme – Secara etimologis, perenialisme diambil dari kata perenial dengan mendapat tambahan –isme, perenial berasal dari bahasa Latin yaitu perennis, yang kemudian diadopsi ke dalam bahasa Inggris, berarti kekal, selama-lamanya atau abadi.[1] Sedang tambahan –isme dibelakang mengandung pengertian aliran atau paham.[2] Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary Of Current Englis perenialisme diartikan sebagai ”continuing throughout the whole year” atau “lasting for a very long time” yang berarti abadi atau kekal.[3] Jadi perenial-isme bisa didefinisikan sebagai aliran atau paham kekekalan.[4]

adsense-fallback

Istilah philosophia perennis (filsafat keabadian) barangkali digunakan untuk pertama kalinya di dunia Barat oleh Augustinus Steuchus sebagai judul karyanya De Perenni Philosophia yang diterbitkan pada tahun 1540. Istilah tersebut dimasyhurkan oleh Leibniz dalam sepucuk surat yang ditulis pada 1715 yang menegaskan pencarian jejak-jejak kebenaran di kalangan para filosof kuno. dan tentang pemisahan yang terang dari yang gelap, sebenarnya itulah yang dimaksud dengan filsafat perenial. [5]

Sebagaimana diungkapkan oleh Leibniz filsafat perenial merupakan metafisika yang mengakui realitas ilahi yang substansial bagi dunia benda-benda, hidup dan pikiran; merupakan psikologi yang menemukan sesuatu yang sama di dalam jiwa dan bahkan identik dengan realitas ilahi. Unsur-unsur filsafat perenial dapat ditemukan pada tradisi bangsa primitif dalam setiap agama dunia dan pada bentuk-bentuk yang berkembang secara penuh pada setiap hal dari agama-agama yang lebih tinggi.[6]

Istilah perenial biasanya muncul dalam wacana filsafat agama dimana agenda yang dibicarakan adalah pertama, tentang Tuhan, wujud yang absolut, sumber dari sagala sumber. Kedua, membahas fenomena pluralisme agama secara kritis dan kontemplatif. Ketiga, berusaha menelusuri akar-akar religiusitas seseorang atau kelompok melalui simbol-simbol serta pengalaman keberagamaan.[7]

Dalam konteks saat ini, Perenialisme melihat bahwa akibat dari kehidupan zaman modern telah menimbulkan krisis di berbagai bidang kehidupan umat manusia. Mengatasi krisis ini perenialisme memberikan jalan keluar berupa “kembali kepada kebudayaan masa lampau” (regresive road to culture). Oleh sebab itu perenialisme memandang penting peranan pendidikan dalam proses mengembalikan keadaan manusia zaman modern ini kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal yang telah teruji ketangguhannya.

Asas yang dianut perenialisme bersumber pada filsafat kebudayaan yang terkiblat dua, yaitu: (1) perenialisme yang theologis-bernaung dibawah supremasi gereja katolik. Dengan orientasi pada ajaran dan tafsir Thomas Aquinas-dan (2) perenialisme sekuler berpegang pada ide dan cita Plato dan Aristoteles.[8]

Sejarah Perkembangan Filsafat Pendidikan Perenialisme

Filsafat Pendidikan Perenialisme lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia, yang dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio-kultural. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan terpuji. Beberapa tokoh pendukung gagasan ini adalah Robert Maynard Hutchins dan ortimer Adler.[9]

Perenialisme lahir pada tahun 1930-an sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Perenialisme menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan suatu yang baru. Perenialisme memandang situasi didunia ini penuh kekecewaan, ketidakpastian dan ketidakteraturan, terutama pada kehidupan moral, intelektual dan sosial kultural. Maka perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan ini.

Teori atau konsep pendidikan perenialisme dilatarbelakangi oleh filsafat Plato yang merupakan Bapak Idealisme klasik, filsafat Aristoteles sebagai Bapak Realisme klasik dan filsafat Thomas Aquinas yang mencoba memadukan antara filsafat Aristoteles dengan ajaran (filsafat) gereja katolik yang tumbuh pada zamannya (abad pertengahan).

Kira-kira abad ke-6 hingga abad ke-15 merupakan abad kejayaan dan keemasan filsafat perenialisme. Namun, mungkin kita bisa saja dengan terburu-buru melihat perkembangan filsafat perenial ini hanya dalam kerangka sejalan pemikiran barat saja, melainkan juga terjadi di wilayah lainnya dan memang harus tetap diakui bahwasanya jejak perkembangan filsafat perenial jauh lebih tampak dalam konteks sejarah perkembangan intelektual barat, apalagi sebagai jenis filsafat khusus, filsafat ini mendapat elaborasi sistem dari perenialis barat, seperti Agostino Steunco. Namun, filsafat perenial atau sering disebut sebagai kebijaksanaan universal, disebabkan oleh beberapa alasan yang kompleks secara berangsur-angsur mulai menjelang akhir abad ke-16. Salah satu alasan yang paling dominan adalah perkembangan yang pesat dari filsafat materialisme.

Filsafat materialisme ini membawa perubahan yang radikal terhadap paradigma hidup dan pemikiran manusia pada saat itu. Memasuki abad ke-18, karena pengaruh filsafat materialis, banyak aspek realita yang diabaikan, dan yang tinggal hanyalah mekanistik belaka. Filsafat materialis ini begitu kuat mempengaruhi pola pikir manusia abad modern yang merentang sejak abad ke-16 hingga akhir abad ke-20. Memasuki akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, sehingga pada tiap-tiap bentuk pemikiran baru yang muncul hingga pada zaman kotemporer. Dan zaman kotemporer inilah dapat dikatakan zaman kebangkitan filsafat perenialisme.[10]

Tokoh-tokoh Filsafat Pendidikan Perenialisme

Filsafat Pendidikan Perenialisme bukan merupakan suatu aliran baru dalam filsafat, dalam arti, perenialisme bukanlah merupakan suatu bangunan pengetahuan yang menyusun filsafat baru, yang berbeda dengan filsafat yang telah ada. Berikut merupakan beberapa teori atau konsep perenialis menurut Plato, Aristoteles, dan Thomas Aquina.

Plato

Filsafat Pendidikan Perenialisme – Plato (427-347 SM), hidup pada zaman kebudayaan yang sarat akan ketidakpastian, yaitu filsafat sofisme. Ukuran kebenaran dan ukuran moral menurut sofisme adalah manusia secara pribadi, sehingga pada zaman itu tidak ada kepastian dalam moral dan kebenaran, tergantung pada masing-masing individu.

Plato berpandangan bahwa realitas yang hakiki itu tetap tidak berubah. Realitas atau kenyataan-kenyataan itu telah ada pada diri manusia sejak dari asalnya, yang berasal dari realitas yang hakiki. Menurut Plato, “dunia idea”, bersumber dari ide mutlak, yaitu Tuhan. Kebenaran, pengetahuan, dan nilai sudah ada sebelum manusia lahir yang semuanya bersumber dari ide yang mutlak tadi. Manusia tidak mengusahakan dalam arti menciptakan kebenaran, pengetahuan, dan nilai moral, melainkan bagaimana manusia menemukan semuanya itu. Dengan menggunakan akal atau rasio, semuanya itu dapat ditemukan kembali oleh manusia.

Kebenaran itu ada, yaitu kebenaran yang utuh dan bulat. Manusia dapat memperoleh kebenaran tersebut dengan jalan berpikir, bukan dengan pengamatan indera, karena dengan berpikir itulah manusi dapat mengetahui hakikat kebenaran dan pengetahuan. Dengan indera, manusia hanya sampai pada memperkirakan. Manusia hendaknya memikirkan, menyelidiki, dan mempelajari dirinya sendiri dan keseluruhan alam semesta.

Aristoteles

Filsafat Pendidikan Perenialisme – Aristoteles (384-322 SM) adalah murid Plato, namun dalam pemikirannya ia mereaksi terhadap filsafat gurunya, yaitu idealism. Hasil pemikirannya disebut filsafat realism (realism klasik). Cara berpikir Aristoteles berbeda dengan gurunya, Plato yang menekankan berpikir rasional spekulatif. Aristoteles mengambil cara berpikir rasional empiris realistis. Ia mengajarkan cara berpikir atas prinsip realistis, yang lebih dekat pada alam kehidupan manusia sehari-hari.[11]

Aristoteles hidup pada abad keempat sebelum Masehi, namun dia dinyatakan sebagai pemikir abad pertengahan. Karya-karya Aristoteles merupakan dasar berpikir abad pertengahan yang melahirkan renaissance. Sikap positifnya terhadap inkuiri menyebabkan ia mendapatkan sebutan sebagai Bapak Sains Modern. Kebajikan akan menghasilkan kebahagiaan dan kebaikan, bukanlah pernyataan pemikiran atau perenungan pasif, melainkan merupakan sikap kemauan yang baik dari manusia.

Menurut Aristoteles, manusia adalah makhluk materi dan rohani sekaligus. Sebagai materi, ia menyadari bahwa manusia dalam hidupnya berada dalam kondisi alam materi dan sosial. Sebagai makhluk rohani manusia sadar ia akan menuju pada proses yang lebih tinggi yang menuju kepada manusia ideal, manusia sempurna. Manusia sebagai hewan rasional memiliki kesadaran  intelektual dan spiritual, ia hidup dalam alam materi sehingga akan menuju pada derajat yang lebih tinggi, yaitu kehidupan yang abadi, alam supernatural.

Thomas Aquina

Filsafat Pendidikan Perenialisme – Thomas Aquina mencoba mempertemukan suatu pertentangan yang muncul pada waktu itu, yaitu antara kajian Kristen dan filsafat (sebetulnya dengan filsafat Aristoteles, sebab pada waktu itu yang dijadikan dasar pemikir logis adalah filsafat neoplatonisme dari Plotinus yang dikembangkan oleh St. Agustinus). Menurut Aquina, tidak dapat pertentangan antara filsafat (khususnya filsafat Aristoteles) dengan ajaran agama (Kristen). Keduanya dapat berjalan dalam lapangannya masing-masing. Thomas Aquina secara terus terang dan tanpa ragu-ragu mendasarkan filsafatnya kepada filsafat Aristoteles.

Pandangan tentang realitas, ia mengemukakan, bahwa segala sesuatu yang ada, adanya itu karena diciptakan oleh Tuhan, dan tergantung kepeda-Nya. Ia mempertahankan bahwa Tuhan bagaikan air yang mengalir dari sumbernya, seperti halnya yang dipikirkan oleh Thomas Aquina menekankan dua hal dalam pemikiran tentang realitasnya, yaitu: 1) dunia tidak diadakan dari semacam bahan dasar, dan 2) penciptaan tidak terbatas pada satu saat saja, demikian menuurut Bertens (1979).

Dalam masalah pengetahuan, Thomas Aquina mengemukakan bahwa pengetahuan itu diperoleh sebagai persentuhan dunia luar dan/oleh akal budi, menjadi pengetahuan. selain pengetahuan manusia yang bersumber dari wahyu, manusia dapat memperoleh pengetahuan melalui pengalaman dan rasionya, disinilah ia mempertemukan pandangan filsafat idealism, realism, dan ajaran gereja). Filsafat Thomas Aquina disebut tomisme. Kadang-kadang orang tidak membedakan antara perenialisme dengan neotomisme. Perenialisme adalah sama dengan neotomisme dalam pendidikan.

Prinsip-prinsip Filsafat Pendidikan Perenialisme

Dibidang pendidikan, Filsafat Pendidikan Perenialisme sangat dipengaruhi oleh tokoh tokohnya: Plato, Aristoteles dan Thomas Aquinas. Dalam hal ini pokok pikiran Plato tentang ilmu pengetahuan dan nilai-nilai adalah manifestasi dari pada hukum universal yang abadi dan sempurna, yakni ideal, sehingga ketertiban sosial hanya akan mungkin bila ide itu menjadi ukuran asas normatif dalam tata pemerintahan. Maka tujuan utama pendidikan adalah “membina pemimpin yang sadar dan mempraktekkan asas-asas normatif itu dalam semua aspek kehidupan”. Menurut Plato, manusia secara kodrati memiliki tiga potensi, yaitu: nafsu, kemauan dan pikiran. Pendidikan hendaknya berorientasi pada potensi itu dan kepada masyarakat, supaya kebutuhan yang ada disetiap lapisan masyarakat bisa terpenuhi. Ide-ide Plato itu dikembangkan oleh Aristoteles dengan lebih mendekat pada dunia kenyataan. Bagi Aristoteles, tujuan pendidikan adalah “kebahagiaan”.[12]

Untuk mencapai tujuan pendidikan itu, maka aspek jasmani, emosi yang intelek harus dikembangkan secara seimbang. Seperti halnya prinsip-prinsip Plato dan Aristoteles, pendidikan yang dimaui oleh Thomas Aquinas adalah sebagai ”Usaha mewujudkan kapasitas yang ada dalam individu agar menjadi aktualitas” aktif dan nyata. Dalam hal ini peranan guru adalah mengajar – memberi bantuan pada anak didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada padanya.

Prinsip-prinsip pendidikan perenialisme tersebut perkembangannya telah mempengaruhi sistem pendidikan modern, seperti pembagian kurikulum untuk sekolah dasar, menengah perguruan tinggi dan pendidikan orang dewasa.[13]

Pandangan Pandangan Filsafat Pendidikan Perenialisme

Pandangan tentang realita (ontologis)

Filsafat Pendidikan Perenialisme memandang bahwa realita itu bersifat universal dan ada dimana saja, juga sama disetiap waktu. Inilah jaminan yang dapat dipenuhi dengan jalan mengerti wujud harmoni bentuk-bentuk realita, meskipun tersembunyi dalam satu wujud materi atau peristiwa-peristiwa yang berubah, atau pun didalam ide-de yang berenang.[14]

Relitas bersumber dan bertujan akhir kepada relitas supranatural/Tuhan (asas supernatural). Relitas mempunyai watak bertujuan (asas teleologis). Substansi realitas adalah bentuk dan materi (hylemorphisme). Dalam pengalaman, kita menemukan individual ting. Contohnya, batu, rumput, orang, sapi, dalam bentuk, ukuran, warna dan aktivitas tertentu. Didalam individual ting tersebut, kita menemukan hal-hal yang kebetulan (accident). Contohnya, batu yang kasar atau halus, sapi yang gemuk, orang berbakat olahraga. Akan tetapi, di dalam realitas tersebut terdapat sifat asasi sebagai identitasnya (esensi), yaitu wujud suatu realita yang membedakan dia dari jenis yang lainnya. Contohnya, orang atau Ahmad adalah mahluk berfikir. Esensi tersebut membedakan Ahmad sebangai manusia dari benda-benda, tumbuhan dan hewan. Inilah yang universal dimana pun ada dan sama disetiap waktu.[15]

Ontologi Filsafat Pendidikan Perenialisme terdiri dari pengertian-pengertian seperti benda individual, esensi, aksiden dan substansi. Perenialisme membedakan suatu realita dalam aspek-aspek perwujudannya menurut istilah ini. Benda individual disini adalah benda sebagaimana nampak dihadapan manusia dan yang ditangkap dengan panca indera seperti batu, lembu, rumput, orang dalam bentuk, ukuran, warna dan aktifitas tertentu. Misalnya bila manusia ditinjau dari esensinya adalah makhluk berpikir. Adapun aksiden adalah keadaan-keadaan khusus yang dapat berubah-ubah dan yang sifatnya kurang penting dibandingkan dengan esensial, misalnya orang suka bermain sepatu roda, atau suka berpakaian bagus, sedangkan substansi adalah kesatuan dari tiap-tiap individu, misalnya partikular dan universal, material dan spiritual.[16]

Pandangan tentang pengetahuan (Epistimologi)

Filsafat Pendidikan Perenialisme berpendapat bahwa segala sesuatu yang dapat diketahui dan merupakan kenyataan adalah apa yang terlindung pada kepercayaan. Kebenaran adalah sesuatu yang menunjukkan kesesuaian an tara pikir dengan benda-benda. Benda-benda disini maksudnya adalah hal-hal yang adanya bersendikan atas prinsipprinsip keabadian. lni berarti bahwa perhatian mengenai kebenaran adalah perhatian mengenai esensi dari sesuatu. Kepercayaan terhadap kebenaran itu akan terlindung apabila segala sesuatu dapat diketahui dan nyata. Jelaslah bahwa pengetahuan itu merupakan hal yang sangat penting karena ia merupakan pengolahan akal pikiran yang konsekuen.

Menurut perenialisme filsafat yang tertinggi adalah ilmu metafisika. Sebab science sebagai ilmu pengetahuan menggunakan metode induktif yang bersifat analisa empiris kebenarannya terbatas, relatif atau kebenaran probability. Tetapi filsafat dengan metode deduktif bersifat anological analysis, kebenaran yang dihasilkannya bersifat self evidence universal, hakiki dan berjalan dengan hukumhukum berpikir sendiri yang berpangkal pada hukum pertama, bahwa kesimpulannya bersifat mutlak asasi.Oleh karena itu, menurut perenialisme perlu adanya dalil-dalil yang logis, nalar, sehingga sulit untuk diubah atau ditolak kebenarannya. Seperti pada prinsip-prinsip yang di kemukakan oleh Aristoteles diatas.[17]

Pandangan tentang nilai (Aksiologi)

Pandangan tentang hakikat nilai menurut perenialisme adalah pandangan mengenai hal-hal yang bersifat spiritual. Hal yang absolut atau ideal (Tuhan) adalah sumber nilai dan oleh karena itu nilai selalu bersifat teologis. Menurut perenialisme, hakikat manusia juga menentukan hakikat perbuatannya, sedangkan hakikat manusia pertama-tama tergantung pada jiwanya. Jadi persoalan nilai berarti juga persoalan spiritual. Hakikat manusia adalah emansipasi (pancaran) yang potensial langsung yang berasal dari dan dipimpin oleh Tuhan, dan atas dasar inilah tujuan baik buruk itu dilakukan. Berarti dasar-dasar yang didukung haruslah teologis.[18]

Pandangan tentang pendidikan

Filsafat Pendidikan Perenialisme – Dalam pendidikan, kaum perenialisme berpandangan bahwa dalam dunia yang tidak menentu dan penuh kekacauan serta membahayakan, seperti kita rasakan dewasa ini, tidak ada satu pun yang lebih bermanfaat daripada kestabilan dalam perilaku pendidik. Perenialisme memandang education as cultural regresion: pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan masa lampau yang dianggap sebagai kebudayaan yang ideal. Tugas pendidikan adalah memberikan pengetahuan tentang nilai-nilai kebenaran yang pasti, absolut, dan abadi yang terdapat dalam kebudayaan masa lampau yang dipandang kebudayaan ideal tersebut. Sejalan dengan hal diatas, perenialis percaya bahwa prinsip-prinsip pendidikan juga bersifat universal dan abadi. Robert M. Hutchins mengemukakan ”Pendidikan mengimplikasikan pengajaran. Pengajaran mengiplikasikan pengetahuan. Pengetahuan adalah kebenaran. Kebenaran dimana pun dan kapan pun adalah sama”. Selain itu, pendidikan dipandang sebagai suatu persiapan untuk hidup, bukan hidup itu sendiri.

  • Tujuan pendidikan

Filsafat Pendidikan Perenialisme – Bagi perenialis bahwa nilai-nilai kebenaran bersifat universal dan abadi, inilah yang harus menjadi tujuan pendidikan yang sejati. Sebab itu, tujuan pendidikannya adalah membantu peserta didik menyingkapkan dan menginternalisasikan nila-nilai kebenaran yang abadi agar mencapai kebijakan dan kebaikan dalam hidup.

  • Sekolah

Sekolah merupakan lembaga tempat latihan elite intelektual yang mengetahui kebenaran dan suatu waktu akan meneruskannya kepada generasi pelajar yang baru. Sekolah adalah lembaga yang berperan mempersiapkan peserta didik atau orang muda untuk terjun kedalam kehidupan. Sekolah bagi perenialis merupakan peraturan-peraturan yang artificial dimana peserta didik berkenalan dengan hasil yang paling baik dari warisan sosial budaya.

  • Kurikulum

Kurikulum pendidikan bersifat subject centered berpusat pada materi pelajaran. Materi pelajaran harus bersifat uniform, universal dan abadi. Selain itu materi pelajaran terutama harus terarah kepada pembentukan rasionalitas manusia, sebab demikianlah hakikat manusia. Mata pelajaran yang mempunyai status tertinggi adalah mata pelajaran yang mempunyai “rational content” yang lebih besar.

  • Metode

            Metode pendidikan atau metode belajar utama yang digunakan oleh perenialis adalah membaca dan diskusi, yaitu membaca dan mendikusikan karya-karya besar yang tertuang dalam The great books dalam rangka mendisiplinkan pikiran.

  • Peranan guru dan peserta didik

Filsafat Pendidikan Perenialisme – Peran guru bukan sebagai perantara antara dunia dengan jiwa anak, melainkan guru juga sebagai “murid” yang mengalami proses belajar serta mengajar. Guru mengembangkan potensi-potensi self-discovery, dan ia melakukan moral authority (otoritas moral) atas murid-muridnya karena ia seorang propesional yang qualifiet dan superior dibandingkan muridnya. Guru harus mempunyai aktualitas yang lebih, dan perfect knowladge.[19]

 Ciri Guru Perenialisme

Filsafat Pendidikan Perenialisme – Guru perenialisme memiliki kewenangan yang luas untuk mendidik anak di sekolah, sebagai orang tua di sekolah. Tidak ada yang namanya orang tua melaporkan guru anaknya. Orang tua dan guru bisa berhubungan dengan harmonis dengan orang tua anak didik. Ketika pulang ke rumah, orang tua bisa menjadi guru yang baik bagi anaknya, masyarakat mampu mengajarkan nilai kehidupan. Di antara ciri-ciri guru perenialisme adalah sebagai berikut:

  • Cara Mengajar

Filsafat Pendidikan Perenialisme – Cara mengajar yang diterapkan oleh guru perenialisme umumnya adalah dengan menggunakan penjelasan yang bertele-tele, yang sepertinya setiap kata yang ada di buku itu dibaca. Dengan metode ini, pengetahuan yang diterima siswa hanya bersumber dari sang guru saja, Sedangkan guru sekarang lebih sering hanya menjelaskan secara singkat materinya, lalu mempersilahkan para siswa untuk bertanya apabila ada kesulitan. Dengan cara ini, siswa jadi terpacu untuk mengembangkan pengetahuannya di luar sekolah. Misalnya dengan browsing di Internet, mengikuti kursus, dan lain sebagainya. Pengetahuan yang didapat pun akan semakin banyak.

  • Cara Menasihati Siswa

Filsafat Pendidikan Perenialisme – Cara menasihati siswa yang dilakukan oleh guru-guru perenialisme adalah dengan kalimat- kalimat yang biasanya kasar. Seperti menyinggung kondisi ekonomi keluarganya, penampilannya, dan lain sebagainya. Hal ini akan membuat para siswa saat itu menjadi berfikir keras agar tidak akan diledek oleh guru-guru mereka. Perlakuan berbeda dilakukan guru sekarang. Mereka biasanya menasihati para murid hanya dengan nasihat-nasihat yang halus dan tidak sampai menyinggung perasaan murid tersebut. Cara ini kurang efektif karena murid kadang-kadang hanya mendengarkan di telinga kanan dan keluar di telinga kiri.

  • Cara Berinteraksi Di luar Kelas

Filsafat Pendidikan Perenialisme – Guru-guru perenialisme dengan gaya mengajarnya kaku, diluar kelas apabila disapa oleh muridnya, mereka hanya tersenyum lalu berlalu begitu saja. Karena dalam diri mereka, ada suatu doktrin yang menjelaskan bahwa ada garis pemisah antara guru dan murid. Jadi, sang murid harus sangat menghormati gurunya, sedangkan guru sekarang lebih luwes dalam berinteraksi diluar kelas. Misalkan saja ada murid-muridnya yang menyapa, mereka akan tersenyum lepas dan kadang-kadang justru bercanda dengan murid-muridnya itu. Seakan akan tidak ada garis batas antara murid dan guru. Guru pun bisa dijadikan tempat untuk mencurahkan segala isi hati kita (curhat) tentang sekolah maupun kehidupan sehari-hari kita.

  • Penggunaan Teknologi

Filsafat Pendidikan Perenialisme – Saat teknologi belum secanggih sekarang ini, seorang guru apabila ingin menjelaskan materinya, hanya dengan menggunakan kapur dan papan tulis kayu saja. Atau bila dengan alat bantu, paling jauh hanya menggunakan peta untuk pelajaran geografi. Hal yang sangat berbeda dilakukan oleh guru sekarang. Guru sekarang lebih senang menuliskan materi ajarnya di sebuah file presentasi yang nanti hasilnya bisa ditampilkan di layar menggunakan LCD proyektor. Disamping lebih praktis, cara ini bisa membantu para siswa untuk mengetahui lebih detail suatu gambar/objek/benda.

  • Pemberian Nilai

Filsafat Pendidikan Perenialisme – Pemberian nilai yang dilakukan oleh guru perenialisme adalah selain nilai asli, ada nilai yang diambil secara subyektif oleh guru tersebut. Hal-hal yang dinilai antara lain adalah kesopanan, etika, dan keantusiasan siswa tersebut dalam mendalami materi yang diajarkan guru tersebut. Sehingga dengan cara itu, nilai siswa benar-benar asli sesuai dengan kenyataan yang ada pada siswa tersebut. Berbeda dengan guru sekarang. Kebanyakan guru sekarang hanya mengisi kolom nilai seorang murid hanya dari hasil rata-rata ulangan ditambah tugas, dan keaktifannya dalam bertanya ataupun menjawab. Sehingga tidak jarang nilai yang muncul di rapor tidak mencerminkan kemampuan sebenarnya dari murid tersebut.
Guru perenialisme dan guru sekarang ternyata memiliki perbedaan yang sangat menonjol, dan ini menunjukkan ciri khas masing-masing guru.

Potret Guru Perenialisme

Filsafat Pendidikan Perenialisme – Guru sebagai orang yang memiliki otoritas keilmuan tertentu yang siap membimbing dan mengarahkan kemampuan intelektual dan spiritual anak didik. Ny. Berstein mengajar Bahasa Inggris di SMU sejak pertengahan tahun 1960-an. Di antara para siswa dan juga para guru, ia memiliki suatu reputasi sebagai orang yang banyak menuntut. Selama pertengahan 1970-an, ia memiliki waktu yang sulit untuk berhubungan dengan siswa yang secara agresif menuntut diajar pelajaran-pelajaran yang “relevan”. Sebagai seorang lulusan universitas top di Timur Amerika dimana ia menerima suatu pendidikan klasik dan liberal, Nyonya Berstein menolak untuk memperlonggar penekanan pada karya-karya besar kesusastraan di kelasnya yang ia rasa perlu diketahui oleh para siswanya, seperti Beowulf, Chaucer, Dickens, dan Shakespeare. Baca juga: Fungsi guru dalam pembelajaran.

Ny. Berstein yakin bahwa kerja dan usaha keras itu penting jika seseorang ingin memperoleh pendidikan yang baik. Akibatnya, ia memberi siswa kesempatan yang sangat sedikit untuk berbuat/bertindak salah, dan ia tampak tahan dengan keluhan siswa yang dilakukan secara terbuka mengenai beban belajarnya. Ia sangat bersemangat ketika ia berbicara mengenai nilai karya klasik pada para siswa yang sedang bersiap-siap hidup sebagai orang dewasa di abad kedua puluh satu.

Demikian ulasan singkat seputar Aliran Filsafat Pendidikan Perenialisme yang dapat kita sampaikan, semoga bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat. Komarudin dan Wahyuni Nafis. Muhammad, Agama Masa Depan Perspektif Filsafat Perenial, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2003

Gunawan. Adi, Kamus Ilmiah Popoler, Surabaya : Kartika, tt

Daradjat. Zakiah, Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 2001

Kuswanjono. Arqom, Ketuhanan Dalam Telaah Filsafat Perenial Perenial: Refleksi Pluralisme Agama Di Indonesia, Yogyakarta : Badan Penerbitan Filsafat UGM, 2006

Zuhairi, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2008

Mudyahardjo, Redjo. 2002. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,, 2002

Abidin. Zainal, Pengantar Filsafat Barat, Jakarta: Rajawali Pers, 2011

Alwasiah. A. Chaedra, Filsafat Bahasa dan Pendidikan, Bandung: Pt Remaja Rosdakarya, 2008

Amri. Amsal, studi filsafat pendidikan, Banda Aceh: yayasan Pena, 2009

Wahyudin. Dinn, dkk, pengantar pendidikan, Jakarta: Universitas Terbuka, 2010

Parasetya, filsafat pendidikan, Bandung: Pustaka Setia, 2002

Bernadib. Imam,  filsafat pendidikan: Sistem dan Metode, Yogyakarta: Andi Yogayakarta, 2011

http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/2011/12/23/filsafat-pendidikan/ di Akses pada tanggal, 9 Mei 2015.

[1] Komaruddin hidayat dan Muhammad Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan Perspektif Filsafat Perenial (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2003) 39

[2] Adi Gunawan, Kamus Ilmiah Popoler, (Surabaya : Kartika, tt) 175

[3] Zuhairi, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1991) 27

[4] Zakiah Daradjat, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 2001) 51

[5] Komaruddin hidayat dan Muhammad Wahyuni Nafis, …. 40

[6] Arqom Kuswanjono, Ketuhanan Dalam Telaah Filsafat Perenial Perenial: Refleksi Pluralisme Agama Di Indonesia, (Yogyakarta : Badan Penerbitan Filsafat UGM, 2006)  10

[7] Komaruddin hidayat dan Muhammad Wahyuni Nafis, …. 40

[8] Zuhairi, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008) 28

[9] http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/2011/12/23/filsafat-pendidikan/ di Akses pada tanggal, 9 Mei 2015.

[10] Mudyahardjo, Redjo. 2002. Pengantar Pendidikan. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,, 2002) 17

[11] Zainal Abidin, Pengantar Filsafat Barat, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), 57

[12] A. Chaedra Alwasiah, Filsafat Bahasa dan Pendidikan, (Bandung: Pt Remaja Rosdakarya, 2008) 102

[13] Zuhairini, dkk, filsafat pendidikan islam, …, 28 – 29.

[14] Amsal Amri, studi filsafat pendidikan, (Banda Aceh: yayasan Pena, 2009), 72.

[15] Dinn Wahyudin, dkk, pengantar pendidikan, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2010), 28.

[16] Parasetya, filsafat pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 2002), 85

[17]Bernadib, Imam, filsafat pendidikan: Sistem dan Metode, (Yogyakarta: Andi Yogayakarta, 2011). 50

[18] Amsal Amri, studi filsafat pendidikan, … hal 74.

[19] Dinn Wahyudin, dkk, pengantar pendidikan, … hal 4.20 – 4.21.

Pencarian Lainnya:

  • contoh aliran perenialisme
  • peranan dan fungsi aliran perenialisme
  • kelebihan dan kekurangan aliran perenialisme
  • munculnya aliran perenialisme
  • pertanyaan tentang perenialisme

adsense-fallback