Lompat ke konten
Home » √ Sejarah Islam dan Peradaban Dunia, Pembahasan Lengkap!

√ Sejarah Islam dan Peradaban Dunia, Pembahasan Lengkap!

Daftar Isi

islam dan peradaban dunia
islam dan peradaban dunia

Konsep islam sebagai peradaban telah dimiliki oleh Islam saat diturunkan sebagai agama(din). Hal itu disebabkan,makna dari Din(agama) itu sendiri adalah struktur hukum dan susunan kekuasaan serta kecenderungan manusia untuk mencari pemerintah yang adil dan membentuk masyarakat yang patuh hukum . [5]

Konsep islam sebagai peradaban Dunia

Islam turun sebagai agama secara sempurna disebuah tempat dan terlaksana secara langsung tempat itu menjadi madinah yang sebelumnya adalah Yathrib.Maka terbentuklah akar kata yang baru,madana dari kata din dan madinah yang bermakna mendirikan kota,membangun,memajukan dan memurnikan serta menjunjung martabat. [6]Dari kata madana lahir kata benda tamaddun yang secara literal berarti peradaban (civilization) yang berarti kota yang berlandaskan kebudayaan.

Peradaban Islam merupakan terjemahan dari kata arab al-hadārah al-Isla>miyyah. Dalam bahasa Indonesia kata arab itu sering diterjemahkan dengan kebudayaan islam. Padahal, kebudayaan dalam bahasa Arab adalah “thaqa>fah”. Kebanyakan orang mensinonimkan dua kata “kebudayaan” (Arab,al-Thaqa>fah; Inggris, culture) dan “peradaban” (Arab, al-hadārah; Inggris civilization). Seiring berkembangnya ilmu antropologi dewasa ini,kedua istilah itu dibedakan. [7]

Peradaban dalam bahasa Arab juga disebut dengan “al-hadārah” atau “al-madaniyyah”. Akar kata al-hadārah adalah al-hadar, al-hadrah, al-hādirah yang berarti kota. Sedangkan al-madaniyyah itu berakar dari kata “al-madīnah” yang juga berarti kota.[8]

Dalam bahasa Inggris, kata peradaban identik dengan istilah civilization. Ada juga yang berpendapat bahwa kata civilization berasal dari kata “city” yang berarti kota. Sebagian lainnya berpandangan bahwa istilah tersebut adalah serapan dari bahasa Yunani dari kata civitas yang juga berarti kota.[9] Ada pula yang berpendapat kata zivilization pertama kali muncul dari bahasa Prancis pada tahun 1734 terbentuk dari kata civilise yang berarti bersifat perkotaan.[10]

Seiring berkembangnya ilmu antropologi dewasa ini,kedua istilah diatas,yaitu kebudayaan dan peradaban dibedakan.Kebudayaan adalah sebuah bentuk ungkapan mengenai semangat mendalam komunitas masyarakat. Sedangkan peradaban terkait dengan manifestasi-manifestasi kemajuan mekanis dan teknologis dalam masyarakat.Jika kebudayaan terrefleksi dalam agama,moral dan seni serta sastra,maka peradaban banyak direfleksikan dalam politik,ekonomi dan teknologi.[11]

Menurut Ibn Khaldun sebagaimana dikutip oleh Nasr Muhammad ‘a>rif dalam mendefinisikan peradaban secara etimologis sebagai al-H}ad{a>rah yang sama artinya dengan civilization mengenai perkembangan sebuah Negara dan masa pemerintahannya.[12]

Selain pemaknaan di atas, dalam perspektif yang berbeda, A.A.A. Fyze menjelaskan bahwa civilization berasal dari kata civies atau civil, yang mempunyai arti menjadi kewarganegaraan yang maju. Sehingga dalam hal ini, peradaban mempunyai dua makna, yaitu: proses menjadi beradab, dan suatu bentuk (tingkat) masyarakat yang sudah maju yang ditandai dengan gejala kemajuan di bidang sosial-politik, seni-budaya, dan teknologi .[13]

Tinjauan etimologis dari beberapa bahasa tersebut mengerucut pada makna yang sama yaitu “kota”. Hal ini menunjukkkan bahwa kota adalah pusat peradaban. Segala bentuk peradaban manusia umumnya lahir dan berkembang di tengah masyarakat perkotaan. Sebagaimana ditegaskan oleh Ibn Khouldun dalam karya monumentalnya berjudul al-Muqaddimah bahwa suatu peradaban terbangun dari berbagai kreasi, olah pikir, tradisi, hukum, politik, kegiatan ekonomi, gaya hidup, ilmu pengetahuan, seni dan interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat perkotaan dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka dan mencapai cita-cita sosial mereka.[14]

Dalam memaknai peradaban secara terminologis, pandangan para ilmuwan sangat beragam, sangat bergantung pada perspektif dan pendekatan masing-masing. Namun umumnya definisi peradaban selalu dikaitkan dengan kebudayaan. Sebagian peneliti menggunakan kedua istilah ini secara silih berganti dalam pengertian yang sama, namun sebagian besar yang lain memberi batasan-batasan tertentu sehingga secara implisit bisa dibedakan pengertian keduanya.

Menurut Durant, sebagaimana dikutip oleh Al-Tuwayjiriy berpandangan bahwa kebudayaan adalah bagian dari peradaban. Dalam bukunya Story of Civilization yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan judul Qis}s}ah at-Hadārah, ia mendefinisikan peradaban sebagai sistem yang membantu manusia untuk meningkatkan produktivitasnya di bidang kebudayaan. [15]

E.B. Taylor, sebagaimana dikutip oleh Hakim, lebih menempatkan peradaban dan kebudayaan dalam pengertian yang sama. Menurutnya peradaban atau kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks dari kehidupan masyarakat yang meliputi pengetahuan, dogma, seni, nilai-nilai, moral, tradisi sosial, dan semua kemampuan dan kebiasaan yang dimiliki oleh manusia sebagai anggota masyarakat.[16]

Sementara itu, Nur Hakim berpendapat bahwa peradaban adalah pengembangan dari kebudayaan. Menurutnya, peradaban adalah bentuk kebudayaan yang paling ideal dan puncak sehingga menunjukkan keadaban (madaniyah), kemajuan (taqaddum), dan kemakmuran (‘umrān) suatu masyarakat. Jika kebudayaan bersifat konsep-konsep abstrak seperti sains murni, maka peradaban lebih dari itu sebagai hasil penerapannya seperti teknologi dan produk-produknya.[17]

Senada dengan Hakim, Khoirul Adib berpandangan bahwa kebudayaan merupakan hasil olah akal budi, cipta rasa, karsa, dan karya manusia. Dan hasil olah akal, budi, rasa, dan karsa yang telah terseleksi oleh nilai-nilai kemanusiaan yang universal berkembang menjadi peradaban.[18]

Landasan Dan Aspek-Aspek Dalam islam dan peradaban dunia

Kebudayaan Islam adalah landasan dari peradaban islam,terutama wujud idealnya,sementara agama merupakan landasan kebudayaan islam. Jadi,dalam pandangan islam agama bukanlah kebudayaan akan tetapi agama dapat melahirkan kebudayaan,tidak seperti pada masyarakat yang menganut agama non samawi,agama bumi.[19]

Sejalan dengan teori modern bahwa pandangan hidup (worldview) merupakan asas bagi setiap peradaban dunia, apabila agama merupakan landasan peradaban yang membentuk cara pandang seseorang terhadap sesuatu, yang pada saatnya dapat mempengaruhi tindakan nyata atau manifestasi lahiriyahnya (outward manifestation) yang kemudian disebut sebagai peradaban. [20]

Dalam konteks Islam, tidak ada suatu rumusan yang definitif mengenai pengertian dan perbedaan peradaban dan kebudayaan. Hanya saja pada umumnya ketika berbicara dalam konteks Islam secara luas, para peneliti lebih cenderung menggunakan istilah peradaban Islam dari pada kebudayaan Islam. Hal ini mengingat Islam adalah agama universal yang heterogen yang dipeluk oleh berbagai masyarakat di seluruh dunia dengan berbagai latar belakang kebudayaan.

Berangkat dari paradigma tersebut, Hodgson mendefinisikan peradaban Islam sebagai gabungan dari berbagai kebudayaan para pemeluknya yang tersebar di berbagai wilayah di seluruh dunia yang satu sama lain saling berkaitan.[21] Senada dengan hal itu, al-Tuwayjiriy berpendapat bahwa peradaban adalah peradaban yang dihasilkan dari akulturasi berbagai kebudayaan masyarakat pemeluknya yang dipersatukan dalam keimanan dan kepatuhan dalam ajaran Islam.

Peradaban Islam Menurut Al-Tuwayjiri

Berdasarkan definisi di atas, al-Tuwayjiri lantas membagi peradaban Islam dalam dua aspek, yaitu:

Peradaban yang tercipta dan orisinal

Hadārah at-khalq wa at-ibdā’ (peradaban yang tercipta dan orisinal), yaitu peradaban yang murni bersumber dari ajaran Islam,

Peradaban kebangkitan dan pengembangan

Hadārah at-Ba’th wa at-Ih}yā’ (peradaban kebangkitan dan pengembangan), yaitu peradaban yang dihasilkan dari kreasi, pemikiran, dan penemuan umat Islam sebagai bentuk pengembangan dan kemajuan.[22]

Selain itu, menurut Durrant sebagaimana dikutip oleh Al-Tuwayjiriy, peradaban meliputi empat bagian pokok, yaitu sumber-sumber ekonomi, tatanan politik, tradisi moral dan khazanah ilmu dan seni.[23]

Peradaban Islam Menurut Syalabi

Sedikit berbeda dengan al-Tuwayjiri, menurut Syalabi sebagaimana dikutip oleh Ajid Tahir, ia lebih cenderung membagi peradaban Islam dalam tiga aspek,yaitu:

Peradaban Negara dan sejarah

Hadārah at-duwal wa at-tari>h} (peradaban Negara dan sejarah), yaitu pola peradaban yang mengembangkan bangunan suatu kenegaraan dan pemerintahan.

Peradaban eksperimentasi dan adopsi

H}adārah at-tajribiyyah wa at-muktasabah (peradaban eksperimentasi dan adopsi), yaitu pola pengadopsian berbagai peradaban luar Islam, yang telah ada sebelum Islam lahir, seperti dalam bidang filsafat, kedokteran, ilmu pasti, dan lain-lain.

Peradaban yang bersumber dan dibawa oleh kewahyuan Islam sendiri

Hadārah at-Isla>miyah al-Ashliyyah, yaitu peradaban yang bersumber dan dibawa oleh kewahyuan Islam sendiri. Peradaban orisinal ini, menurut Syalabi, meliputi aspek-aspek penting, diantaranya keimanan (akidah dan akhlak), politik (siyasah), ekonomi (iqtisad), kehidupan sosial (al-hayat al-ijtima’iyah), dan hubungan antarbangsa.[24]

Prinsip dan Karakteristik islam dan peradaban dunia

Para peneliti Barat mengakui, bahwa peradaban Islam merupakan peradaban yang paling lama bertahan. Belum ada peradaban yang dapat bertahan hingga 14 abad tanpa ada perubahan signifikan dalam asas-asas dan nilai-nilai dasarnya. Disamping itu, mereka juga membuktikan bahwa peradaban Islam merupakan peradaban dengan wilayah masyarakat yang terbesar, setidaknya ada 1,2 milyar manusia yang tersebar di berbagai benua hidup dalam peradaban Islam saat ini.

Meski bukan agama terbesar di dunia, namun sebagai agama yang memiliki peradaban yang orisinil dan manunggal di seluruh dunia, Islam adalah yang terbesar. Berbeda dengan Kristen, meski ia adalah agama yang terbesar pengikutnya, namun ia tidak memiliki peradaban yang manunggal. Peradaban umat Kristen di Barat sangat berbeda dengan yang hidup di belahan Timur, bahkan menurut Hodgson satu sama lain tidak saling terhubung [25]

Keunggulan peradaban tersebut sangat terkait dengan prinsip-prinsip dan beberapa karakter yang mendasarinya. Diantara prinsip-prinsip dan karakteristik tersebut adalah :

Tauhid

Prinsip utama yang juga menjadi inti dari peradaban Islam adalah Tauhid, yaitu pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Alloh SWT yang Maha Esa, Maha Pencipta, dan pusat dari seluruh kehidupan.[26] Ajaran Tauhid atau juga disebut Wahdaniyyah ini, menurut al-Siba’i, sebagaimana dikutip oleh Ismail Raji Al-Faruqi, sangat berpengaruh besar dalam mengangkat martabat manusia, meluruskan hubungan antara penguasa dan rakyat, dan mengarahkan pandangan hanya kepada Alloh SWT sebagai pencipta seluruh alam semesta dan kehidupan di dalamnya.

Humanis dan Kosmopolitan

Peradaban Islam bersifat humanis dan kosmopolitan. Humanis dalam arti Islam sangat menjaga hak-hak dan nilai-nilai kemanusiaan. Kosmopolitan berarti Islam sangat menghargai perbedaan dan keragaman manusia dan masyarakatnya. Kosmopolitanisme tersebut, menurut Abdurrahman Wahid, termanifestasikan dalam beberapa ajaran utama, seperti dihapuskannya batasan etnis, kuatnya pluralitas budaya, heterogenitas politik, dan lain-lain. Prinsip kosmopolitanisme itulah yang diakui oleh sejarawan besar, Arnold J. Toynbee, sebagaimana dikutip oleh Abdurrahman Wahid, menjadi salah satu faktor utama yang mengangkat peradaban Islam ke tingkat yang sangat tinggi.[27]

Moral

Peradaban sangat menjunjung tinggi prinsip moral (akhlaq). Dalam sistem dan interaksi sosial, dalam hukum dan perundang-undangan, pendidikan dan ilmu pengetahuan, dan lain-lain, moralitas selalu menjadi salah satu pondasi utama.[28] Tidak ada suatu sistem budaya yang lebih tinggi perhatiannya terhadap moralitas dari pada peradaban Islam. Karena, sebagaimana ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW, bahwa Islam lahir untuk tujuan memperbaiki moralitas manusia. Uniknya lagi, etika dan nilai-nilai moralitas yang diajarkan dan diteladankan oleh Nabi SAW hingga sekarang secara umum tetap diterapkan tanpa ada perubahan secara signifikan.

Pengembangan Ilmu Pengetahuan

Peradaban sangat mengedepankan pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam sejarah tercatat bahwa peradaban Islam mencapai golden age ketika berhasil mengembangkan sains dan ilmu pengetahuan jauh lebih tinggi daripada peradaban-peradaban lain. Sepanjang abad ke-8 hingga abad ke-13, muncul banyak ilmuwan besar Muslim dengan karya dan penemuan monumentalnya dalam berbagai bidang. Sejarah mencatat nama-nama ilmuwan besar Muslim yang memiliki peran besar dalam penemuan dan pengembangan ilmu pengetahuan, diantaranya dalam bidang Astronomi, terdapat ilmuwan besar seperti al-Biruni, al-Battani, al-Fazari dan Abu Ma’shar;

Dalam bidang matematika terdapat al-Khawarizmi, Omar Khayyam, dan al-Zarqali; dalam bidang kedokteran muncul al-Kindi, al-Razi, dan Ibn Sina; dalam bidang Kimia, lahir Jabir ibn Hayyan dan al-Razi; dalam bidang Geografi terdapat al-Idrisi dan al-Muqaddasi, dan lain-lain.[29] Bahkan dari pencapaian peradaban Islam dalam bidang ilmu pengetahuan itulah peradaban Barat banyak mengambil inspirasi dalam mengobarkan gerakan reformasi keagamaan di Eropa yang memuncak menjadi gerakan renaissance.

Adaptif dan Terbuka

Salah satu karakteristik unik dari peradaban adalah sifat adaptif dan terbuka dalam menyerap dan mengadopsi unsur-unsur peradaban besar dunia, seperti: Yunani, Persia, India, dan China. Peradaban serapan itu kemudian dikembangkan secara kreatif dan inovatif dengan menonjolkan unsur-unsur Islam. Proses penyerapan dan adopsi ini bersifat alamiah mengingat peradaban-peradaban besar dunia tersebut telah hidup selama ribuan tahun, jauh sebelum Islam mulai berkembang pada abad ke-7. Namun, justru dengan cara inilah peradaban Islam mengalami pencapaian yang gemilang di berbagai bidang termasuk filsafat, sains, teknologi, arsitektur, seni, dan lain-lain. [30]

Pluralistik dan Toleransi

Peradaban sangat memegang teguh sikap pluralistik dan toleransi antar umat beragama. Pengalaman ketika Islam memerintah di Spanyol merupakan contoh kongkrit bagaiamana Islam menghormati pluralitas sehingga hidup berdampingan dan saling toleran dengan pemeluk agama lain selama kurang lebih 700 tahun. Sikap dan prinsip ini diakui dan dipuji oleh Bertrand Russel, seorang sejarawan atheis-sekularis militan, dan menilainya sebagai keunggulan peradaban Islam sehingga dapat menguasai belahan luas dunia dalam waktu yang cukup lama.[31]

situs: www.rangkumanmakalah.com

DAFTAR PUSTAKA

’A>rif, Nas}r Muhammad. 1981. Al-H}ad}a>rah-Al-Thaqa>fah-Al-Madaniyyah Dira>sah Li S}i>rah Al-Mus{t{ala>h{ Wa Dala>lah Al-Mafhum, Herndon: Al-Ma’had Al-’Ilm Li Fikr Al-Islamiy.

Adib, Khoirul. 2010. Kebudayaan Islam dan Perkembangannya; dalam Tim Dosen PAI Universitas Negeri Malang. Aktualisasi Pendidikan Islam: Respons terhadap Problematika Kontemporer. Surabaya: Hilal Pustaka,

Ahmad, Ziauddin. 1996. Influence of Islam on World Civilization. New Delhi: Adam Publisher.

Al-Faruqi, Ismail Raji. 2001. Atlas Budaya Islam: Menjelajah Khasanah Peradaban Gemilang. Bandung: Mizan.

Al-Tuwaijiri, Abd al-Aziz ibn Utsman al-. Khasâis al-Hadârah al-Islâmiyah wa Afâq al-Mustaqbal. Ribath: Nasyr al-Mandhamah al-Islamiyah li al-Tarbiyah wa al-‘Ulum wa al-Tsaqafah wa Mandhamah al-Mu`tamar al-Islamy.

Hakim, Moh. Nur. 2004. Sejarah dan Peradaban Islam. Malang: UMM Press.

Hodgson, Marshall GS. 2002. The Venture of Islam. Buku Pertama. Jakarta: Paramadina.

Khauldun, Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn. tt. al-Muqaddimah. Beirut: Dar al-Jil.

Madjid, Nurcholis. 2000. Islam: Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina.

Muhammad, Nabilah Hasan, et. al. Fi Tarîkh al-Hadârah al-Islâmiyah. Iskandariyah: Dar al-Ma’rifah.

Qashash, Ahmad al-. tt. Nusyû’ al-Hadârah al-Islâmiyah. Maktabah Syamilah: al-Ishdar al-Tsani.

Siba’i, Musthafa Husni al-. Khazanah Peradaban Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Thohir, Ajid. 2004, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam. Jakarta: Grafindo Persada.

Wahid, Abdurrahman. 2007. Universalisme Islam dan Kosmopolitanisme Peradaban Islam; dalam Nurcholis Madjid. Islam Universal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Yatim, Badri. 2002. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada

Zarkashi , Hamid Fahmy Zarkashi,2010,”Ikhtiar membangun kembali peradaban islam yang bermatabat”dalam On Islamic Civilization, Semarang: Unissula Press


[1] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, ( Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2002), 2

[2] Marshall G.S. Hodgson, The Venture of Islam, Buku Pertama, (Jakarta: Paramadina,2002), 99.

[3] Hodgson, The Venture, 99.

[4] Moh. Nur Hakim, Sejarah dan Peradaban Islam ( Malang: UMM Press, 2004), 3.

[5] Al-Attas, islam, Religion and Morality,dalam prolegomena to the Metaphysics of islam, (istac: t.p, 1995),43.

[6] Ibn Mander, Lisin al-‘Arab al-Mulei (Beirut: Da>r al-Jayl,1988), 402.

[7] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1998) , 1.

[8] Hakim, Sejarah, 3.

[9] Nabilah Hasan Muhammad, Fi Tarîkh al-Hadârah al-Islâmiyah, (Iskandariyah: Da>r al-Ma’rifah), 8.

[10] Ahmad al-Qashash, Nusyû` al-Hadârah al-Islâmiyah, (t.t: Maktabah Syamilah, al-Ishdar al-Tsani), 11.

[11] Effat al-Sharqawi, Filsafat Kebudayaan Islam, (Bandung: Penerbit Pustaka, 1986), 5.

[12] Nas{r Muhammad ’A>rif, Al-H}ad}a>rah-Al-Thaqa>fah-Al-Madaniyyah Dira>sah Li S}i>rah Al-Mus{t{ala>h{ Wa Dala>lah Al-Mafhum (Herndon: Al-Ma’had Al-’Ilm Li Fikr Al-Islamiy, 1981),55.

[13] Khoirul Adib, Kebudayaan Islam dan Perkembangannya, dalam Tim Dosen PAI Universitas Negeri Malang, Aktualisasi Pendidikan Islam: Respons terhadap Problematika Kontemporer, (Surabaya: Hilal Pustaka, 2010), 192.

[14] Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khouldun, al-Muqaddimah, (Beirut: Dar al-Jil), 132.

[15] Abd al-Aziz ibn Utsman al-Tuwayjiri, Khas{a>ys} at-H}ad}ârah al-Islâmiyyah wa Afâq at-Mustaqbal, (Ribath: Nasyr al-Manz}amah al-Islamiyah li al-Tarbiyah wa al-‘Ulum wa al-Thaqa>fah wa Manz}amah at-Mu`tamar al-Islamy, t.th), 4.

[16] Hakim, Sejarah, 3.

[17] Ibid, 4.

[18] Adib, Kebudayaan, 192.

[19] Yatim, sejarah, 2.

[20] Hamid Fahmy Zarkashi,”Ikhtiar membangun kembali peradaban islam yang bermatabat”dalam On Islamic Civilization (Semarang: Unissula Press.2010),20.

[21] Hodgson, The Venture, 129.

[22] Al-Tuwayjiri, Khas}a>is}, 6.

[23] Ibid, 5.

[24] Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, (Jakarta: Grafindo Persada,2004), 18-20.

[25] Hodgson, The Venture, 134.

[26] Ismail Raji al-Faruqi, Atlas Budaya Islam: Menjelajah Khasanah Peradaban Gemilang, (Bandung: Mizan, 2001), 57.

[27] Abdurrahman Wahid, Universalisme Islam dan Kosmopolitanisme Peradaban islam dalam Nur KholisMadjid, Islam Universal, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2007), 2-7

[28] Mus{t{afa Husni al-Shiba’I, Khazanah Peradaban Islam, (Bandung: CV. Pustaka Setia), 35.

[29] Ziyauddin Ahmad , Influence of Islam on World Civilization, (New Delhi: Adam Publisher,1996), 99-209

[30] Adib, Kebudayaan, 201.

[31] Madjid, Islam: Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina,2000), 34-35.


2 tanggapan pada “√ Sejarah Islam dan Peradaban Dunia, Pembahasan Lengkap!”

  1. Pingback: Sejarah Peradilan Di Indonesia | indo advokat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *