Peristiwa Baiat Aqobah Satu dan Dua, Lengkap!

Peristiwa Baiat Aqobah Satu dan Dua
Peristiwa Baiat Aqobah Satu dan Dua
Saat ini, Belajar sejarah islam membahas tentang peristiwa baiat aqabah satu dan dua ini. sebagai tambahan berbagi wawasan kepada anda dan kelanjutan pembahasan [baca: Transformasi tradisi intelektual islam] sebagai berikut.

Peristiwa Baiat Aqobah Satu dan Dua

Pada tahun ke XI dari permulaan kenabian, merupakan suatu peristiwa yang tampaknya sederhana, tetapi yang merupakan titik awal lahirnya suatu era baru bagi Islam dan juga bagi dunia. Yaitu perjumpaan Rasulullah SAW dengan enam orang dari kabilah/suku Khazraj, Yatsrib (Madinah) di “Aqabah Mina” yang datang ke Makkah untuk ibadah haji. Secara bersama-sama mereka masuk ke “Aqabah Syi’ib” yang dekat dengan Aqabah Mina, dan sebagai hasil perjumpaan itu, enam tamu dari Yatsrib itu masuk Islam dengan memberikan kesaksian bahwa “Tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah”.
Sebab lain dari masuknya Islam kepada enam orang itu adalah sehubungan dengan mereka adalah penduduk Yatsrib, mereka bertetangga dengan orang-orang Yahudi yang kerap kali mereka menerangkan sifat-sifat Nabi terakhir yang akan datang. Kemudian mereka melihat sifat-sifat itu, akhlak yang terpuji dan selalu terpelihara serta menjadi panutan terbaik, serupa dengan sifat-sifat Nabi Muhammad SAW yang mereka temui.
Sementara itu kepada Nabi mereka menyatakan bahwa kehidupan di Yatsrib selalu dicekam oleh permasalahan yakni permusuhan antar golongan dan antarsuku khususnya Khazraj dengan suku Aus. Harapan meraka adalah semoga Allah mempersatukannya melalui Nabi, dan mereka juga berjanji kepada Nabi akan mengajak penduduk Yatsrib untuk masuk Islam.
Pada musim haji tahun berikutnya, tahun ke-12, dua belas orang laki-laki penduduk Yatsrib; 10 orang dari kabilah Khazraj dan 2 orang dari kjabilah Aus, datang menemui Nabi di tempat yanga sama di bukit Aqabah dan berkumpul di Aqabah Syi’ib. Mereka menerima dakwah Rasulullah Muhammad SAW.
Kemudian mereka berbai’at (berjanji kepada Nabi bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berbuat zina, tdak akan berbohong dan tidak akan mengkhianati Nabi serta menjauhi perbuatan kebathilan/ kemungkaran lainnya. Kedua belas orang yang masuk Islam ini adalah merupakan “Bibit Anshar”dan kemudian Rasulullah SAW mengatakan bahwa jika bai’at ini dilaksanakan maka surga sebagai imbalanya, dan jika mengingkarinya maka siksa neraka adalah balasannya dan apalagi Allah menghendaki memberikan ampunan niscayalah ysng diterima itu terlepas dari pada siksaan “Bai’at ini dikenal dalam sejarah sebagai “Bai’at Aqabah Pertama”.[1]

baiat aqabah dua dalam peristiwa baiat aqabah satu dan dua 

Kemudian pada tahun ke-13, musim haji berikutnya sebanyak 73 orang penduduk Yathrib ; 62 orang dari kabilah khazraj dan 11 Orang dari kabilah Aus yang diantaranya terdapat dua orang wanita dari Arab Madinah, yang sudah memeluk agama Islam berkunjung ke Makkah untuk ibadah haji. Di samping itu mereka semua mengundang Rasulullah untuk hijrah ke Yatsrib dan menyatakan lagi pengakuan mereka bahwa Rasulullah SAW adalah Nabi dan pemimpin mereka.
Nabi menemui tamu-tamunya itu ditempat yang sama dengan 2 tahun sebelumnya, Aqabah. Di tempat itu mereka mengucapkan bai’at bahwa mereka akan setia dan membela, melindungi Nabi sebagaimana mereka melindungi anak dan istrinya, ikut berjuang membela Islam dengan harta dan jiwanya, serta berusaha memajukan agama Islam dengan meyakinkan kepada kerabat-kerabatnya. Bai’at ini dikenal dengan “Bai’at Aqabah kedua ; Bai’at – Kubra”.[2]
Tekanan dari orang-orang kafir semakin keras terhadap gerakan dakwah Nabi Muhammad, terlebih setelah meninggalkan dua orang yang selalu melindungi dan menyokong Nabi Muhammad dari orang-orang kafir, yaitu Abu Thalib yang merupakan Paman beliau dan Istri beliau  bernama Khadijah. Tahun ini merupakan keseduan bagi Nabi sehingga dinamakan Amul Khuzn.[3]Peristiwa ini terjadi  pada tahun 619 M[4]dan bertepatan dengan tahun kesepuluh kenabian.
Karena mendapat berbagai tekanan, Rasulullah memutuskan untuk berdakwah ke Tha’if, daerah di luar Mekkah. Namun, yang diperoleh Nabi hanyalah penghinaan. Beliau dilempari batu kecil-kecil oleh penduduk setempat. Semua hal yang dialami Nabi dan kaumnya hampir membuat beliau putus asa. Untuk menguatkan hati beliau, Allah SWT mengisro’ mi’rajkan Nabi Muhammad.
Kemajuan dakwah Islam terjadi setelah peristiwa Isro’ Mi’roj. Hal ini ditandai dengan datangnya penduduk Yastrib (Madinah) untuk memeluk agama Islam. Satu persatu penduduk Yastrib berdatangan ke Mekkah. Mereka meminta Nabi agar berhijrah ke Yastrib, mereka akan membai’at Rasulullah sebagai pemimpin. Akhirnya Nabi Muhammad bersama kurang lebih 150 kaum muslimin hijrah ke Yastrib, yang kemudian nama daerah tersebut di ganti menjadi Madinah.[5]Peristiwa hijrahnya Nabi dari Mekkah ke Madinah di jadikan sebagai penanda awal dari kalender Islam, yakni tahun Hijriyah.[6]
Demikian dalam pembahasan peristiwa baiat aqabah satu dan dua ini, serta semoga bermanfaat.
[1] Munawir Sjadzali, Islam Dan Tata Negara, (Jakarta: PT. Rineka Cipta,1990), 92-93.
[2] Ibid., 94-95
[3] A. Syalabi, Sejarah & kebudayaan Islam (Jakarta: PT. Pustaka Al-Husna, 2003), 81.
[4] Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societies (New York: Cambridge University Press, 1988), 26
[5] Amin, Sejarah Peradaban, 68
[6] Glubb, A Short History, 34

Satu pemikiran pada “Peristiwa Baiat Aqobah Satu dan Dua, Lengkap!”

Tinggalkan komentar