Seni Rupa dan Musik pada Zaman Umaiyah, Lengkap!

Belajar sejarah islam, saat ini kita membahas tentang seni rupa dan musik pada zaman umaiyah. dan ini merupakan kelanjutan dari pembahasan arsitektur pada zaman muawiyah maka sebagai berikut. Zaman bani Umayyah kebanyakan teolog Islam menyatakan bahwa melukiskan manusia dan hewan  merupakan hak prerogratif Tuhan,  dan menganggap orang yang melakukan batasan itu sebagai penghina Agama, dan larangan untuk menyembah berhala.

Seni Rupa dan Musik pada Zaman Umaiyah
Seni Rupa dan Musik pada Zaman Umaiyah

Karena hal tersebut, tidak ada  satupun gambar manusia yang ditemukan di dalam masjid, tapi di dalam beberapa kesempatan kita bisa menemukannya di dalam sebuah istana dan beberapa karya tulis. Hampir semua motif hiasan dalam Islam menggunakan motif tanaman atau garis-garis geometris.

Seni Rupa dan Musik pada Zaman Umaiyah

Apa yang kita sebut sebagai seni rupa Islam adalah unsur gabungan dari berbagai sumber, motif dan gaya, yang kebanyakan merupakan hasil kejeniusan artistik masyarakat taklukan yang berkembang  di bawah kekuasaan Islam, dan disesuaikan dengan tuntutan agama Islam.

Gambaran Paling awal dari seni Rupa Islam adalah lukisan di Qushayr ‘amrah, yang menampilkan karya para pelukis kristen. Pada dinding-dinding tempat peristirahatan dan pemandian Al Walid I di Transyordania.[1]

Mengenai perkembangan lagu dan Nyanyian, bisa dikatakan bahwa pada Masa Pra Islam, orang Arab memilki beragam jenis lagu : kemenangan, perang, keagamaan,  dan cinta. Jejak-jejak hymne keagamaan primitif masih terlihat dalam talbiyyahritual haji. Insyad, atau mendendangkan puisi, terlihat dalam melagukan (Tajwid) Al_Qur’an. Namun lagu kafilah, Huda, merupakan lagu yang paling disukai dan, menurur mereka , merupakan jenis lagu yang pertama kali muncul.

Generasi pertama Biduan Islam dipelopori oleh Thuways,  terdiri atas orang-oranf permisif. Tuways memiliki banyak murid, yang paling terkenal diantaranya Ibn Surayj (634-726), yang dipandang sebagai salah satu penyanyi terbesar Islam. Sa’id, musisi pertama makkah dan mungkin yang terbesar pada dinasti umayyah, diriwayatkan telah melakukan perjalanan ke suriah dan persia, dan menjadi orang pertama yang menerjemahkan lagu-lagu bizantium dan persia ke bahasa Arab. Ia juga merupakan orang pertama yang menyusun secara sistematis teori dan musik Arab pada masa-masa klasik. Selain itu ada dua orang pemain perkusi Arab yang  sangat terkenal yaitu ibn Muhriz (w. 715) dan Ma’bad (w.743).[2]

Konser-konser dan pementasan musik glamor yang diadakan di rumah-rumah istri para bangsawan telah menarik banyak peminat seni.  Di masa ini berbagai alat musik model lama sudah digantikan alat-alat yang lebih maju.

Di masa Umayyah ini ada satu kitab bait-bait lagu  yang paling di kenal yaitu kitab Agh>ani>, yang selalu dinyanyikan dengan disertai dengan iringan musik. [3]

Dengan demikian, pada masa dinasti umayyah, mekkah lebih khusus lagi di Madinah, merupakan tempat kondusif bagi perkembangan lagu dan musik. Kedua kota ini melahirkan generasi-generasi biduan baru yang terus meningkat, dan meneruskan karier mereka di ibukota kerajaan, Damaskus. Golongan konservatif dan para ulama’ mengemukakan keberatan mereka, namun tidak membuahkan hasil.[4]

Khalifah yang mempelopori perkembangan musik adalah khalifah Umayyah kedua, Yazid, beliau adalah penulis lagu dan yang memperkenalkan nyanyian dan alat-alat musik ke istana Damaskus. Ia memulai praktik-praktik penyelenggaran  festival besar di istana yang menyuguhkan minuman anggur dan nyanyian, yang sejak saat itu tidak bisa dipisahkan dari pesta-pesta kerajaan.[5]

   Pada masa khalifah Abdul Malik mulai dirintis pembuatan tiraz (semacam bordiran), yakni cap resmi yang dicetak pada pakaian khalifah dan para pembesar pemerintahan. Format Tirazyang mula-mula merupakan terjemahan dari rumus Kristen, kemudian oleh Abdul Aziz (Gubernur Mesir) diganti dengan rumus Islam, lafaz “La ilaha illa Allah” guna memperlancar produktivitas pakaian resmi kerajaan, maka Abdul malik mendirikan pabrik-pabrik kain. Setiap pabrik diawasi oleh “Sahib al_Tiraz”, yang bertujuan mengawasi tukang emas dan penjahit, menyelidiki hasil karya dan membayar gaji mereka.[6]

Salah satu ciri dan karakteristik seni islam adalah seni menulis Indah /kaligrafi islam, Sejarah kaligrafi pada masa Umayyah tidak memiliki dokumentasi yang lengkap karena beberapa khalifah Abbasiyah yang menggantikannya dengan menghancur leburkannya. Namun ada seorang Arab yang telah membuat catatan  terbesar sepanjang peride pertumbuhan kaligrafi pada masa tersebut. Ia adalah Qutbah al_Muharrir, kaligrafi umayyah pertama yang paling lama bertahan dengan kecakapan luar biasa. Qutbah punya nama terhormat dalam banyak literature Arab, karena berhasil mewariskan 4 jenis kaligrafi penting, yaitu Thumar, Jalil, Nishf, dan Tsuluts. Dia juga dikenal menulis sejarah dan bunga rampai Arab dan sangat masyhur terutama karena menghias mihArab Masjid Nabawi dengan beragam ayat Al_Quran  yang ditulis dengan fan Jalil yang indah.

Selain Qutbah, para kaligrafer kenamaan lainnya adalah Khalid ibn al_Hayyaj, Khasynam dan Malik ibn Katsir. Khalid ibn Hayyajsangat terkenal sebagai kaligrafer resmi Khalifah al_Walid ibn Abdil Malikyang telah menulis banyak mushaf Al_Quran  berukuran besar dengan fan Thumar dan Jalil.

Khalifah Abdul Malik ibn Marwanadalah tokoh utama yang mula-mula mencanangkan Dekrit Arabisasidi segala bidang. Ia memerintahkan pemberlakuan penggunaan kaligrafi Arab untuk kantor-kantor dan segenap pemakaian alat tulis Negara.

Abdul Malik digantikan oleh putranya al_Walidyang dianggap sebagai Bapak pelindung dan Pembinaseni kaligrafi yang mula-mula dalam sejarah Islam. Minatnya sangat tinggi dalam memperkenalkan khat Jalil dan Thumar pada penulisan mushaf-mushaf Al_Quran .

sekian dari belajar sejarah islam dengan judul seni rupa dan musik pada zaman umaiyah. semoga bermanfaat, dan baca juga ( kehidupan di basrah dan irak peninggalan bani umaiyah)


Satu pemikiran pada “Seni Rupa dan Musik pada Zaman Umaiyah, Lengkap!”

Tinggalkan komentar