Arsitektur pada Zaman Muawiyah, Lengkap!

Arsitektur pada Zaman Muawiyah
Arsitektur pada Zaman Muawiyah
Dalam belajar sejarah islam ini saya akan menjelaskan tentang arsitektur pada zaman muawiyah. dan ini merupakan kelanjutan dari kehidupan intelektual di basrah dan irak peninggalan bani umaiyah  serta langsung saja. Seni bangunan (arsitektur) pada zaman ini bertumpu pada dua bagian yaitu bangunan sipil yang berupa kota-kota dan bangunan agama yang berupa masjid. Pada masa ini beberapa kota baru dan perbaikan kota lama telah dibangun dengan memadukan gaya Persia, Romawi dan Arab.

Arsitektur pada Zaman Muawiyah

Selama Awal pemerintahan bani Umayyah, Tidak ada pengembangan arsitektur yang mencolok.  Arsitektur islam masih bertahan sejak zamannya Islam yaitu pembangunan masjid yang menjadi tempat Ibadah bagi umat Islam. Bangunan masjid masih sederhana yang terdiri atas pelataran terbuka yang dikelilingi dinding-dinding dari tanah liat yang dijemur, atap terbuat dari daun kurma dan batang kurma berfungsi sebagai penyanggah.  Disana terdapat mimbar yang terbuat dari pohon kurma.
Pasca itu, masjid mulai berkembang dengan cara memadukan antara budaya Islam dengan budaya sekitarnya, yang mana daerah-daerah tersebut sudah ditaklukkan oleh Islam.
Masjid pertama yang didirikan di daerah taklukkan adalah masjid di Basrah yang dibangun oleh ‘Utbah ‘ibn Ghazwan (637/638), yang menjadikan kota itu sebagai markas pasukan di musim dingin. Tempat tersebut terdiri atas lokasi terbuka yang dikelilingi pagar rerumputan. Kemudian didirikan bangunandari tanah liat dan batubata yang dikeringkan dengan sinar matahari (Libn) oleh Abu Musa al_Asy’ary, pada  masa Umar masjid tersebut diberikan atap dari anyaman rumput.
Pada 638/639 M, jenderal pasukan Islam Sa’ad bin abi Waqqash, membangun masjid di kuffah dengan masjid sederhana sebagai pusatnya, di dekat masjid tersebut dibangun kediaman gubernur (dar al_Imarah). Seperti di Basrah masjid ini pada mulanya hanyalah lapangan terbuka yang berpagar rerumputan, kemudian diganti dengan pagar dari tanah liat dan batu bata yang dijemur. Kemudian Ziyad wakil dari Muawwiyah, merenovasi masjid tersebut dengn menambahkan beranda yang memakai arsitektur Sasaniyah. 
Masjid pertama kali di Afrika dibangun oleh ‘amr bin al_Ashdi Fustat (Kairo lama) pada tahun 642, dalam bentuk aslinya. Yaitu bangunan segi empat yang sederhana tanpa Mihrab untuk menunjukkan arah Shalat, Dan tanpa menara (Mi’dzanah). Sebagai tempat Ibadah, masjid ini juga berfungsi sebagai markas militer di Fustatyang ketiga di dalam pemerintahan bani Umayyah.
Masjid yang juga memegang peranan penting adalah masjid ‘Uqbah Ibn Nafi’ di Kairawan (670-675) yang, seperti Fusthat, juga merupakan markas militer ‘Uqbah pertama kali mendirikan masjid dan bangunan pemerintahan sebagai pusat markas dan membangun hunian penduduk sekelilingnya. Masjid tersebut sudah mengalami renovasi beberapa kali oleh para khalifah sesuadahnya, dan terakhir kali oleh Ziyadat Allah I (817-838) dari dinasti Aghlabiyah, yang sejak saat itu menjadi salah satu masjid terbesar umat Islam. Kairawan dibangun dengan gaya arsitektur Islam dan dilengkapi dengan berbagai gedung, masjid, taman rekreasi, pangkalan militer dan sebagainya.
   al_Walidmemerintahkan Umar bin Abdul al_Aziz(gubernur Madinah) untuk memperluas masjid Nabawi dan memasukkan rumah-rumah isteri Rasulullah ke dalam masjid. al_Walidjuga memberitahukan kaisar Romawi bahwa ia sedang merehabilitasi masjid Nabawi dan meminta bantuan kepadanya. Kaisar Romawi mengirimkam 100.000 misqal emas dan 100 pekerja dan 40 mozaik yang indah[3].
Inovasi sekuler di dalam Masjid adalah pembuatan Maqshurah, adalah ruangan berpagar yang ada didalam masjid sebagai tempat khusus untuk khalifah. Terdapat berbagai alasan mengapa ruangan khusus itu dibangun adalah untuk melindungi khalifah dari usaha pembunuhan oleh kelompok khawarij. Maqshurah biasa digunakan oleh para khalifah untuk mengasingkan diri dan beristirahat, dan untuk bermusyawarat.[4]
Pada masa bani Umayyah ini, menara diperkenalkan, diawali di Suriah dengan mengambil bentuk menara jam setempat, atau menara gereja, berbentuk segi empat. bentuk menara di Suriah kemudian dijadikan prototype menara-menara Masjid yang lainnya. Di mesir, menara masjid ‘amr diperkenalkan oleh gubernur Mu’awiyah, yang membangun menara di keempat sudut masjid ‘amr.  Di Irak, menara masjid Bashrah dilengkapi dengan Menara dari Batu.
Pembangunan Kubah batu juga merupakan peninggalan arsitektur pada khalifah Muawwiyah,  pengembangan dilakukan di seluruh kompleks bangunan suci yang terdiri atas kubah batu, makam-makam, Biara dan mata air umum. [5]
Pada 705, putra Abd Malik, Al_Walidmengambil alih kawasan gereja Romawi di Damaskus yang dibangun untuk Santo Yahya, pada mulanya adalah kuil Jupiter, dan membangunnya menjadi masjid besar yang diberi nama Umayyah[6].
Selain tempat-tempat Ibadah, Dinasti Umayyah hanya meninggalkan beberapa monumen arsitektur, bangunan-bangunan yang penting diantaranya adalah istana-istana padang pasir yang didirikan oleh para putra mahkota keluarga khalifah.  Sampai saat ini tidak ada peninggalan peninggalan arsitektur yang bisa dipelajari termasuk  bangunan megah Qoshr al_Khadra, istana raja yang terletak berdampingan dengan masjid besar, juga tidak ada bekas sama sekali dari kediaman al_Hajjaj di Wasit yang namanya identik dengan istana Khalifah al_Qubbah al_Khadra.[7] baca juga ( Sejarah aliran jabariah dan qodariah )
sekian dari belajar sejarah islam dengan judul, arsitektur pada zaman muawiyah. dan semoga bermanfaat.


[3] Shaykh Muhammad Khuḍari Bek, Muhāḍarat Tārīkh juz 2, (Mesir: Maktabah Tijariyyah, 1969),168.
[4]Phillip K Hitti, History of  the Arabs,327.
[5]Ibid, 330.
[6]Ibid,332.
[7]Ibid, 335.

Satu pemikiran pada “Arsitektur pada Zaman Muawiyah, Lengkap!”

Tinggalkan komentar