Lompat ke konten
Home » √ Asumsi Dasar Proses Keilmuan Manusia (Rasionalisme dan Empirisme)

√ Asumsi Dasar Proses Keilmuan Manusia (Rasionalisme dan Empirisme)

Daftar Isi

Asumsi dasar proses keilmuan manusia baik dengan pandangan rasionalisme maupun empirisme. Terjadinya sebuah ilmu pengetahuan tas lepas dari asumsi dari setiap objek pengamatan. Agar anda lebih dapat mendalami terkait asumsi dasar ini, dan agar tidak lama – lama dalam pembahasan pengantar maka perhatikan ulasan kami berikut ini.

Asumsi Dasar Proses Keilmuan Manusia

Ada dua kajian dalam pemahasan kali ini, yaitu melalui pandangan Rasionalisme dan empirisme. Berikut kajian lengkapnya;

1. Rasionalisme dan keilmuan

asumsi dasar proses keilmuan manusia
asumsi dasar proses keilmuan manusia

Asumsi Dasar Proses Keilmuan – Secara etimologis Rasionalisme berasal dari kata bahasaInggrisrationalism. Kata ini berakar dari kata bahasa Latin ratio yang berarti “akal”.A.R.Lacey menambahkan bahwa berdasarkan akar katanya Rasionalisme adalah sebuah pandangan yang berpegangan bahwa akal merupakan sumber bagi pengetahuan dan pembenaran[1].

Sedangkan secara terminologis ialah paham yang mengatakan bahwa akal adalah alat pencari dan pengukur pengetahuan.Pengetahuan dicari dengan akal ,temuannya diukur dengan akal pula[2].

Aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan.Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal.Manusia memperoleh pengetahuan melalui kegiatan menangkap objek[3].Diperoleh dengan akal ialah diperoleh dengan cara berpikir logis,diukur dengan akal artinya diuji apakah temuan itu logis atau tidak.Jika logis berarti benar,dan jika tidak logis berarti salah.

Rasionalisme tidak mengingkari nilai pengalaman atau kegunaan indera dalam memperoleh pengetahuan,melainkan pengalaman indera hanya dipandang sebagai sejenis perangsang bagi akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja,tetapi sampainya manusia kepada kebenaran adalah semata-mata karena akal.Akal mengatur dan mengolah bahan atau data yang dihasilkan oleh indera sehingga bisa terbentuk pengetahuan yang benar.Jadi fungsi panca-indera hanyalah untuk memperoleh data-data dari alam nyata sedangkan akal menghubungkan data-data itu satu dengan yang lain.

Asumsi Dasar Proses Keilmuan – Descartes,seorang pelopor rasionalisme yang telah memberikan dasar pijakan yang kuat bagi rasionalisme[4],untuk meyakinkan orang bahwa dasar filsafat haruslah akal,ia menyusun argumentasinya dalam sebuah metode yang sering disebut cogito Descartes,atau metode cogito saja.Metode tersebut dikenal juga dengan metode keraguan Descartes (Cartesian Doubt)[5].Pertama-tama ia mulai meragukan hal-hal yang berkaitan dengan panca indera. Ia meragukan adanya badannya sendiri. Keraguan itu dimungkinkan karena pada pengalaman mimpi,halusinasi, ilusi dan pengalaman tentang roh halus,ada yang sebenarnya itu tidak jelas.Pada keempat keadaan itu seseorang dapat mengalami sesuatu seolah-olah dalam keadaan yang sesungguhnya.Di dalam mimpi,seolah-olah seseorang mengalami sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi, persis seperti tidak mimpi.Begitu pula pada pengalaman halusinasi, ilusi dan hal gaib.Tidak ada batas yang tegas antara mimpi dan jaga.

Pada langkah pertama ini Descartes berhasil meragukan semua benda yang dapat diindera.Kemudian sampailah ia pada langkah selanjutnya yaitu satu-satunya hal yang tak dapat ia ragukan adalah eksistensi dirinya sendiri yang sedang ragu-ragu.Mengenai satu hal ini tidak ada satu manusia pun yang dapat menipunya.Bahkan jika kemudian ia disesatkan dalam berpikir bahwa dia ada,maka penyesatan itu pun bagi Descartes merupakan bukti bahwa ada seseorang yang sedang disesatkan.Ini bukan khayalan melainkan kenyataan.Kepastian Descartes ini diekspresikan dalam bahasa latin cogito ergo sum (saya berpikir, karena itu saya ada).

Untuk menguatkan gagasannya ia berusaha menemukan suatu kebenaran yang tidak bisa diragukan lagi atau yang dikenal dengan ide bawaan (innate ideas).Ada tiga ide bawaan yang diajarkan Descartes, yaitu: (a) Pemikiran. Saya memahami diri saya sebagai makhluk yang berpikir,maka harus diterima juga bahwa pemikiran merupakan hakikat saya,(b) Tuhan sebagai wujud yang sama sekali sempurna.Karena saya mempunyai ide ‘sempurna’,mesti ada sesuatu penyebab sempurna untuk ide itu, karena suatu akibat tidak bisa melebihi penyebabnya.Wujud yang sempurna itu tidak bisa lain dari pada Tuhan,(c) Keluasaan.Saya mengerti materi sebagai keluasaan atau ekstensi (extention).[6]

Kaum rasionalis mempergunakan metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya.Premis yang digunakan dalam penalarannya didapatkan dari ide-ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima .Ide ini menurut mereka bukanlah ciptaan manusia.Prinsip itu sendiri sudah ada jauh sebelum manusia berusaha memikirkannya.Fungsi pikiran manusia di sini hanyalah untuk mengenali prinsip-prinsip tersebut yang lalu menjadi pengetahuannya.Prinsip itu sendiri sudah ada dan bersifat apriori dan dapat diketahui oleh manusia lewat kemampuan berpikir rasionalnya dan dengan mengetahui prinsip itulah maka kita dapat mengerti kejadian-kejadian yang berlaku dalam alam sekitar kita.[7]

Kaum rasionalis berdalil bahwa karena pikiran dapat memahami prinsip,maka prinsip itu harus ada,artinya prinsip itu harus benar dan nyata.Jika prinsip itu tidak ada,orang tidak mungkin akan dapat menggambarkannya.Prinsip dianggap sebagai sesuatu yang apriori,dan karenanya prinsip tidak dikembangkan dari pengalaman.bahkan sebaliknya pengalaman hanya dapat dimengerti bila ditinjau dari prinsip tersebut[8].

Spinoza dianggap sebagai orang yang tepat dalam memberikan gambaran tentang apa yang dipikirkan oleh penganut rasionalisme.Ia berusaha menyusun sebuah sistem rasionalisme atas dasar ilmu ukur.Menurutnya,dalil ilmu ukur merupakan dalil kebenaran yang tidak perlu untuk dibuktikan lagi.Dia meyakini bahwa jika seseorang memahami makna yang dikandung oleh kata-kata yang dipergunakan dalam ilmu ukur,maka ia pasti akan memahami makna yang terkandung dalam pernyataan “sebuah garis lurus merupakan jarak terdekat diantara dua buah titik”.Maka seseorang mau tidak mau mengakui kebenaran pernyataan itu.Menurutnya tidak perlu ada bukti-bukti yang lain[9].

Asumsi Dasar Proses Keilmuan – Tetapi rasionalisme juga meiliki kelemahan-kelemahan,diantaranya adalah mengenai kriteria untuk mengetahui akan kebenaran dari suatu ide yang menurut seseorang adalah jelas dan dapat dipercaya tetapi menurut orang lain tidak.Jadi masalah utama kaum rasionalis adalah evaluasi dari kebenaran premis-premis yang dipakainya penalaran deduktif.Karena premis-premis ini bersumber pada penalaran rasional yang abstrak dan terbebas dari pengalaman maka evaluasi semacam ini tidak bisa dilakukan.Oleh sebab itu maka lewat penalaran rasional akan didapatkan bermacam-macam pengetahuan mengenai satu obyek tertentu tanpa adanya suatu konsensus yang dapat diterima oleh semua pihak[10].

Sebagai contoh misalnya,orang-orang sophis pada zaman Yunani Kuno dapat membuktikan bahwa bergerak sama dengan diam,kedua-duanya sama logisnya.Apakah anak panah yang melesat dari busurnya bergerak atau diam?Dua-duanya benar.Apa itu bergerak?Bergerak ialah bila sesuatu pindah tempat.Anak panah itu pindah dari busur ke sasaran,jadi anak panah itu bergerak.Anak panah itu dapat juga dibuktikan diam. Diam ialah bila sesuatu pada sesuatu waktu berada pada suatu tempat.Anak panah itu setiap saat berada di suatu tempat.Jadi anak panah itu diam.Ini pun benar,karena argumennya juga logis.Jadi berpikir logis tidak menjamin diperolehnya kebenaran yang disepakati[11].

Demikianlah rasionalisme menganggap sumber pengetahuan manusia itu adalah rasio. Rasio itu berpikir. Berpikir inilah yang membentuk pengetahuan.Karena hanya manusia yang berpikirlah yang memiliki pengetahuan.Berdasarkan pengetahuan inilah manusia berbuat dan mementukan tindakannya.Berbeda pengetahuan,maka akan berbeda pula laku-perbuatan dan tindakannya.Tumbuhan dan binatang tidak berpikir,maka mereka tidak berpengetahuan.Laku-perbuatan dan tindakan makhluk-makhluk yang tidak punya rasio,sangat ditentukan oleh naluri,yang dibawanya sejak lahir.Tumbuhan dan binatang memperoleh pengalaman seperti manusia.Namun demikian tidak mungkin mereka membentuk pengetahuan dari pengalamannya.Oleh karenanya pengetahuan hanya dibangun oleh manusia dengan rasionya.

2. Empirisme Asumsi Dasar Proses Keilmuan

Asumsi Dasar Proses Keilmuan – Secara etimologis kata empirisme berasal dari kata Yunani empeiria atau empeirikos yang berarti pengalaman.Selanjutnya secara terminologis terdapat beberapa definisi mengenai empirisme,di antaranya adalah doktrin bahwa sumber seluruh pengetahuan harus dicari dalam pengalaman, pandangan bahwa semua ide merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami,pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan,dan bukan akal[12].

Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya.Dan bila dikembalikan kepada kata Yunaninya,pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman inderawi[13].Pengalaman inderawi bersifat parsial. Hal itu disebabkan karena perbedaan indera yang satu dengan yang lainnya.Masing-masing indera menangkap aspek yang berbeda mengenai sesuatu yang menjadi obyeknya.Hal ini dapat dilihat bila kita memperhatikan pertanyaan seperti: “Bagaimana orang mengetahui es itu dingin?” Seorang empiris akan mengatakan,”karena saya merasakan hal itu atau karena seorang ilmuwan telah merasakan seperti itu”.Dalam pernyataan tersebut terdapat tiga unsur yaitu yang mengetahui (subyek),yang diketahui (obyek),dan cara dia mengetahui es itu dingin.Bagaimana dia mengetahui es itu dingin?Dengan menyentuh langsung lewat alat peraba.Dengan kata lain,seorang empiris akan mengatakan bahwa pengetahuan itu diperoleh lewat pengalaman-pengalaman inderawi yang sesuai[14].

John Locke (1632-1704) bapak empiris britania mengemukakan teori tabula rasa (sejenis buku catatan kosong).Menurutnya,pada waktu manusia dilahirkan akalnya atau pikirannya merupakan sejenis buku catatan yang kosong.Di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi.Seluruh pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta membandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama dan sederhana.Locke menekankan bahwa satu-satunya yang dapat kita tangkap adalah penginderaan sederhana.Ketika kita makan apel misalnya,kita tidak merasakan seluruh apel itu dalam satu penginderaan saja.Sebenarnya, kita menerima serangkaian penginderaan sederhana,yaitu apel itu berwarna hijau,rasanya segar,baunya segar dan sebagainya.Setelah kita makan apel berkali-kali,kita akan berpikir bahwa kita sedang makan apel.

Pemikiran kita tentang apel inilah yang kemudian disebut Locke sebagai gagasan yang rumit.Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa semua bahan dari pengetahuan kita tentang dunia didapatkan melalui penginderaan.Ia menentang teori rasionalisme mengenai idea-idea dan asas-asas pertama yang dipandang sebagai bawaan manusia. Menurut dia,segala pengetahuan datang dari pengalaman dan tidak lebih dari itu.Peran akal adalah pasif pada waktu pengetahuan didapatkan. Oleh karena itu akal tidak melahirkan pengetahuan dari dirinya sendiri[15].

David Hume,salah satu tokoh empiris terkemuka mengatakan bahwa manusia tidak membawa pengetahuan bawaan dalam hidupnya.seperti tokoh empiris lainnya dia berpendapat bahwa seluruh isi pemikiran berasal dari pengamatan.Menurut dia pengamatan ini memberikan dua hal yaitu kesan-kesan (impressions) dan ide-ide atau gagasan (ideas).Yang dimaksud kesan-kesan adalah pengamatan langsung yang diterima dari pengalaman,seperti merasakan tangan terbakar.Sedangkan yang dimaksud dengan ide adalah gambaran kabur tentang pengamatan yang terefleksikan dalam kesan-kesan yang diterima dari pengalaman.Gagasan bisa diartikan cerminan dari kesan-kesan; “kerja” kesannya adalah mendahului gagasan. Yang pertama bisa disebut pengalaman indrawi dan yang kedua merupakan konsep atau makna.Jika saya melihat seekor kuda, maka saya punya kesan tertentu (tentang yang saya lihat); jika saya memikirkan tentang seekor kuda, saya memanggil suatu gagasan, yang merupakan makna bagi saya dari sebuah istilah “kuda”[16].

Kaum empiris menekankan bahwa pengetahuan manusia itu tidak didapatkan lewat penalaran rasional yang abstrak namun lewat pengalaman yang kongkret.Gejala-gejala alamiah menurut mereka adalah bersifat kongkret dan dapat dinyatakan lewat tangkapan panca indera manusia.Gejala itu mempunyai beberapa karakteristik tertentu umpamanya terdapat pola yang teratur mengenai suatu kejadian tertentu.Langit mendung diikuti dengan turun hujan.Selain itu terdapat karakteristik lain yakni adanya kesamaan dan pengulangan misalnya saja bermacam-macam logam kalau dipanaskan akan memanjang.Hal ini memungkinkan kita untuk melakukan generalisasi dari berbagai kasus yang telah terjadi.Dengan menggunakan metode induktif,dapat disusun suatu pengetahuan yang berlaku secara umum lewat pengamatan terhadap gejala-gejala fisik yang bersifat individual[17].

Asumsi Dasar Proses Keilmuan – Dalam teori ini kaum empiris menganggap akal hanya sebagai pengelola konsep gagasan inderawi dan sebagai sejenis tempat penampungan yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut.Akal berfungsi untuk memastikan hubungan urutan-urutan peristiwa tersebut padahal hubungan yang demikian itu bersifat kemungkinan belaka dan pengetahuan kita tentang hubungan peristiwa tersebut sesungguhnya berasal dari pengalaman.Jadi,dalam empirisme sumber utama untuk memperoleh pengetahuan adalah data empiris yang diperoleh dari panca indera.Akal tidak berfungsi banyak,kalaupun ada itupun sebatas ide yang kabur.

Seperti halnya rasionalisme,empirisme juga memiliki kelemahan-kelemahan.Di antaranya,empirisme didasarkan pada pengalaman.Tetapi apa yang dimaksud dengan pengalaman?Pada satu waktu ia hanya berarti sebagai rangsangan pancaindera,di lain waktu ia berarti sebagai sebuah sensasi,dan di lain waktu ia berarti sebagai persepsi.Sekiranya kita mendasarkan diri kepada pancaindera sebagai alat dalam menangkap gejala fisik yang nyata maka seberapa jauh kita dapat mengandalkan pancaindera tersebut?Ternyata kaum empiris tidak bisa memberikan jawaban yang meyakinkan mengenai hakikat pengalaman itu sendiri[18].

Di samping itu terdapat kelemahan lain yaitu terletak pada pancaindera manusia[19].Pancaindera manusia terbatas,benda yang jauh kelihatan kecil.Apakah ia benar-benar kecil? Ternyata tidak.Keterbatasan inderalah yang menggambarkan seperti itu,dari sini akan terbentuk pengetahuan yang salah.Indera bisa menipu,pada orang yang sakit malaria gula terasa pahit.Obyek yang menipu,contohnya fatamorgana.Indera dan obyek bisa sama-saman menipu,misalnya indera (mata) tidak dapat melihat kerbau secara keseluruhan,dan kerbau juga tidak dapa memperlihatkan badannya secara keseluruhan. Kesimpulannya adalah bahwa empirisme lemah karena keterbatasan indera manusia.

Demikian ulasan singkat Asumsi Dasar Proses Keilmuan Manusia (Rasionalisme dan Empirisme), semoga bermanfaat

DAFTAR PUSTAKA

Bakhtiar, Amsal, Filsafat Ilmu (Jakarta: RajaGrafindo Persada,2008).

Tafsir, Ahmad, Filsafat IlmuMengurai Ontologi,Epistemologi,dan Aksiologi Pengetahuan,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2004).

Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1998).

Suriasumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,1993).

Muslih, Mohammad, Filsafat Ilmu Kajian Atas Asumsi Dasar,Paradigma dan Kerangka Dalam Teori Ilmu Pengetahuan.

Al Munier,M,Ied., Tinjauan Terhadap Metode Empirisme dan Rasionalisme.

Hadiwijono, Harun., Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Yogyakarta, Kanisius, 1980).

[1] M.Ied Al Munier Tinjauan Terhadap Metode Empirisme dan Rasionalisme 234

[2]Ahmad Tafsir,Filsafat Ilmu Mengurai Ontologi,Epistemologi,dan Aksiologi Pengetahuan,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2004) 30

[3]Amsal Bakhtiar,Filsafat Ilmu, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2008) 102

[4] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2,(Yogyakarta, Kanisius ,1980) 18

[5] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya 1998) 112-113

[6] Mohammad Muslih Filsafat Ilmu Kajian Atas Asumsi Dasar,Paradigma dan Kerangka Dalam Teori Ilmu Pengetahuan 3

[7] Jujun S.Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,1993) 51

[8] M.Ied al-Munier Tinjauan Terhadap Metode Empirisme dan Rasionalisme 236

[9] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu 105

[10] Jujun Suriasumantri, Filsafat 51

[11] Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu 31

[12] Al Munier, Empirisme dan Rasionalisme 236

[13] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu 98

[14] Ibid., hal 99

[15] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat 36

[16] Muslih, Filsafat 8

[17] Jujun Suriasumantri, Filsafat 51

[18] Al Munier, Empirisme dan Rasionalisme 243

[19] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu 102


2 tanggapan pada “√ Asumsi Dasar Proses Keilmuan Manusia (Rasionalisme dan Empirisme)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *