Perkembangan Gerakan Keagamaan Pada Dinasti Umayyah, Lengkap!

Perkembangan Gerakan Keagamaan Pada Dinasti Umayyah
Perkembangan Gerakan Keagamaan Pada Dinasti Umayyah
Perkembangan Gerakan Keagamaan Pada Dinasti Umyyah – Pada masa Dinasti Umayyah, kita temukan cikal bakal gerakan-gerakan filosofis keagamaan yang berusaha menggoyahkan fondasi agama Islam. Pada paruh pertama abad ke-8, di Bashrah hidup  seorang tokoh terkenal bernama Washil ibn Atha’ (w. 748), pendiri mazhab rasionalisme kondang yang disebut Muktazilah. Orang Muktazilah (pembelot, penentang) mendapat sebutan ini karenamendakwahkan ajaran bahwa siapa pun yang melakukan dosa besar dianggap telah keluar dari barisan orang beriman, tapi tidak menjadikannya kafir, dalam hal ini orang semacam itu berada dalam kondisi pertengahan antara kedua status itu.[1] 

Kemajuan Gerakan Keagamaan Pada Dinasti Umayyah

Muktazilah memiliki lima ajaran dasar yang disebut Al-Ushul Al-Khamsah, yaitu at-Tauhid (pengesaan Tuhan), al-‘adl (keadilan Tuhan), al-wa’ad wa al-wa’id (janji dan ancaman Tuhan), al-manzilah bain al-manzilatain (posisi di antara dua posisi), dan al-amr bi al-ma’ruf wa al- nahy an al-munkar (menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran).[2]
Gerakan keagamaan lainnya adalah Qadariyah, orang Qadariyah ini adalah mazhab filsafat Islam paling awal, dan besarnya pengaruh pemikiran mereka bisa disimpulkan dari kenyataan bahwa dua khalifah Umayyah, Mu’awiyah II, dan Yazid III, merupakan pengikut Qadariyah. Qadariyah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan. Salah satu doktrin mazhab Qadariyah ini adalah percaya bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mewujudkan tindakan tanpa campur tangan Tuhan. Dalam hal ini dapat difahami bahwa segala tingkah laku manusia dilakukan atas dasar kehendaknya sendiri. Manusia mempunyai kewenangan untuk melakukan segala perbuatan atas kehendaknya sendiri, baik berbuat baik ataupun berbuat jahat.
Sekte keagamaan lain yang tumbuh berkembang adalah Khawarij. Namun, jika Muktazilah memelopori gerakan rasionalisme, khawarij menjadi pendukung utama puritanisme Islam. Jika Qadariyah dikenal sebagai mazhab pemikiran filosofis paling awal dalam Islam, khawarij merupakan sekte politik keagamaan paling awal. Penentang ‘Ali yang paling berbahaya, berulang kali melancarkan pemberontakan bersenjata untuk menuntut hak istimewa orang Qurays untuk menduduki jabatan kekhalifahan.
Sekte lainnya, adalah Murji’ah, yang mengandung doktrin irja’, yaitu penagguhan hukuman terhadap orang beriman yang melakukan dosa, dan mereka tetap dianggap muslim. Secara umum, ajaran pokok Murji’ah berkisar pada toleransi. Representasi paling nyata dari sayap moderat mazhab ini adalah Abu Hanifah (w. 767), yang merupakan pendiri pertama dari empat mazhab hukum Islam sunni.
Kelompok lainnya, yaitu Syi’ah, merupakan salah satu kubu Islam pertama yang berbeda pendapat dalam persoalan kekhalifahan. Para pengikut Ali ini membentuk kelompok yang solid pada masa Dinasti Umayyah. Sistem Imamah menjadi unsur pembeda antara kaum Sunni dan kaum Syi’ah hingga saat ini. Kegigihan kaum Syi’ah dengan keyakinan utama mereka terhadap ‘Ali dan putra-putranya, yang diklaim sebagai imam sejati, yang berbeda dengan keyakinan Gereja Katolik Romawi tentang Peter dan para penerusnya.
Jika pendiri Islam menjadikan wahyu, al-qur’an, sebagai media penghubung antara Tuhan dan manusia, maka orang Syiah menjadikan manusia, yaitu para imam sebagai penghubung. Orang Syiah menambahkan satu rukun iman yaitu “Saya percaya bahwa imam yang dipilih secara khusus oleh Allah sebagai pembawa ruh Tuhan adalah pemimpin yang akan membebaskan”.
     Institusi imamah merupakan bentuk penentangan teoritis terhadap konsep sekuler tentang kekuasaan. Menurut teori imamah, yang berbeda dengan pandangan sunni, seorang imam merupakan pemimpin komunitas Islam satu-satunya yang sah, dan ditunjuk oleh Tuhan untuk memegang kekuasaan tertinggi. Ia memiliki jalur keturunan langsung dari Muhammad melalui Fathimah dan ‘Ali. Seorang imam adalah pemimpin agama dan spiritual, sekaligus sebagai pemimpin dalam urusan dunia. Ia dianugerahi kekuatan terembunyi yang diwariskan oleh pendahulunya. Dengan demikian, kedudukannya jauh lebih tinggi daripada manusia biasa, dan terbebas dari kesalahan (‘ishmah). Kelompok ekstrem Syi’ah bahkan berpendapat dengan mengatakan bahwa para imam, karena memiliki hakikat Ilahi dan kecerdasan yang tinggi, merupakan inkarnasi Tuhan. Menurut mereka, ‘Ali, dan para imam keturunannya merupakan wahyu Tuhan yang turun dalam wujud manusia. Kelompok ultra Syi’ah pada masa belakangan bahkan berpandangan bahwa Jibril keliru menyampaikan wahyu kepada Muhammad, yang seharusnya kepada ‘Ali. Dalam semua ini, doktrin kelompok Syi’ah berseberangan dengan doktrin Sunni.[3]
itulah Perkembangan Gerakan Keagamaan Pada Dinasti Umyyah, semoga bermanfaat dan untuk mengetahui informasi yang lain, 
 

[1]   Ibid, 306
[2]   Abdul Rozak, Rosihon Anwar, Ilmu Kalam untuk UIN, STAIN, PTAIS (Bandung: CV Pustaka Setia, 2007) 80.
[3] Philip K. Hitti, History Of the Arabs, (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2013) hal. 309-311.

Tinggalkan komentar